Only When I Sleep

Disclaimer : everything is mine except the casts. they’re God’s. di post juga di wordpress saya specialshin.wordpress.com

Heechul memandang sendu gundukan tanah di hadapannya, dengan nama yang terukir indah di batu nisan di atasnya. Bukan namanya yang terukir indah, bukan itu. Namanya memang indah. Setidaknya menurut Heechul.

Choi Sang Kyo (5 Juni 1989 – 29 September 2011)

Heechul meraba lagi tulisan cetak miring di nisan Sang Kyo, kata kata yang dipilihnya sendiri. ‘we let you go peacefully, but please keep appearing in our dreams’

 

Heechul memandang lagi gundukan tanah merah itu sampai puas, sebelum akhirnya ia meletakkan mawar putih yang dibawanya diatas makam gadis itu.

“Kyo… kau selalu takut sendiri. Sekarang aku datang menemanimu,” katanya dengan ketenangan yang dipaksa. Senyum terpaksa itu sudah terasa familiar di bibirnya belakangan ini. Dengan pekerjaan yang menuntut full senyum dari wajahnya mana mungkin dia sempat berkeluh kesah?

 

Heechul memandang sekali lagi tempat dimana gadis itu dimakamkan sebelum kemudian ia bangkit dan menghembuskan nafas pedihnya. Satu minggu sudah berlalu tanpa senyum cerianya dan itu bukan hal mudah.

“Kyo-ya… kalau kau datang ke mimpiku, aku berjanji tidak akan pernah bangun lagi,” ucap Heechul pahit, masih berusaha menahan semua emosi dan tekanan yang ia rasakan semenjak menerima telepon yang mengabarkan gadis itu telah menghembuskan nafas terakhirnya.

 

Choi Sang Kyo… Choi Sang Kyo.. . nama itu terus menetes netes begitu saja seperti air. Tidak bisa dihentikan. Bagaimana tetesan itu tetap berlanjut padahal sang pemilik nama telah pergi selamanya? Heechul menundukkan kepalanya berusaha menutup kedua telinga denggan telapak kanannya.

Ternyata panggilan itu datang dari hatinya.  Nama itu seakan memanggil manggil tidak berhenti, dan orang itu tidak kunjung datang juga. Jadi panggilan itu terus bergaung di telinganya.

 

Heechul menarik nafas panjang lalu berbalik, menekan tombol kunci mobil disusul dengan suara ‘bip’ keras dan suara kunci terbuka dari dalam. Ia memasuki mobilnya lalu memacu kendaraan itu kembali ke rumahnya.

Langkah demi langkah diambilnya memasuki jalan setapak menuju pintu rumahnya. Rumah ini terlalu penuh kenangan keceriaan. Heechul membuka pintu pelan pelan mempertahankan keheningan yang sekarang dibutuhkannya. Ia menapak mengendap menuju kamarnya, melepas asal sepatu dan jaketnya lalu membaringkan dirinya di atas kasur king size tersebut.

Heechul mengucapkan permohonannya, dan merasa bodoh karena yakin tidak akan ada yang bisa mendengarkan ucapan itu.

“Choi Sang Kyo, kalau kau tidak datang ke dalam mimpiku biar aku saja yang menyusulmu,”

-oOo-

Heechul membuka matanya di sebuah dimensi yang berbeda. Ia memperhatikan suasana di sekelilingnya dan berandai andai. Apakah ini langit? Sebab langit dalam bayangannya saat memandang dari bumi yang ia pijak selalu seperti ini. Hanya saja awan yang ditapakinya terasa seperti kapas. Padahal, kata orang orang awan itu tidak padat.

Heechul memberanikan diri melangkah dengan takut takut, mencoba coba apakah ia akan anjlok ke bumi karena menginjak gas putih tersebut. Tetapi ia salah, ia merasa seperti melangkah diatas kapas lembut yang menggelitik kakinya. Tetapi… menggelitik kaki?

Heechul menunduk melihat sepasang telapak kakinya. Baru ia sadari ia tidak mengenakan sepatu sama sekali. Bertelanjang kaki. Dan setelah ia menyadari itu, ia merasa udara dingin menyelimuti kakinya.

Heechul melangkah lagi, mencoba mengabaikan rasa dingin yang ditiup angin bersuhu minus derajat. Pria itu masih menebak nebak dimana dirinya sekarang. Dan yang paling penting adalah apakah ini kenyataan atau mimpi.

Sekelebat cahaya melewatinya seperti kunang kunang, tetapi secepat jet. Heechul mencoba mengikuti cahaya yang berputar putar itu. Entah kenapa benda kecil bersinar itu menarik perhatiannya secara berlebihan sehingga Heechul melupakan dingin yang menyelimuti kakinya.

Kunang kunang cepat itu melesat menembus kabut awan putih. Heechul tidak takut akan tirai kabut itu. Entah mengapa instingnya menuntunnya untuk terus melangkah, berpandu pada kunang kunang ajaib tersebut yang entah mengapa mulai melambatkan gerakannya.

Kunang kunang itu berhenti dan berputar putar diatas kepala seorang gadis yang sedang bertengger diatas batang pohon tipis. Entah bagaimana batang tipis itu bisa menyangga berat tubuhnya tetapi kelihatannya gadis itu nyaman nyaman saja. Ia bahkan bersiul mengulurkan tangannya membiarkan kunang kunang itu hinggap di ujung jarinya.

Seperti ada bongkahan es besar menimpa tenggorokannya Heechul terkesiap. “Sang…. Kyo?” panggilnya pelan membuat gadis peri itu menoleh dan tersenyum cerah menatapnya. “Heechul Oppa kau sudah datang? Kukira cocchi salah alamat,” katanya ceria dan melompat seringan bulu ke kapas awan di bawahnya.

“Cocchi?” Heechul memiringkan kepalanya dan Sang Kyo mengangguk bersemangat mengulurkan tangannya dan membiarkan kunang kunang itu pergi. “Annyeooong. Gomawo Cocchi,” katanya dan Heechul berani bersumpah kunang kunang itu berkedip.

“Sang Kyo bagaimana aku… bisa… kau…” Heechul terbata melihat keajaiban dihadapannya. Tidak dikiranya ia bisa melihat gadis ini lagi. kali ini dalam wujud peri.

Sang Kyo menaruh telunjuknya di depan bibirnya. “Ssst… jangan tanya kenapa Oppa. Karena kau juga bingung cara menjelaskannya,” kata Sang Kyo. Heechul mengabaikannya lalu maju dengan cepat dan menarik Sang Kyo kedalam pelukannya. Terasa dingin, sensasinya aneh. Seperti bukan memeluk manusia.

Sang Kyo mendorong Heechul dengan tenanga yang mengejutkan. “Jangan sentuh aku Oppa… aku lemah kalau kau melakukannya.” Katanya sambil terengah. Heechul toh tidak mengerti akan apa yang dikatakan Sang Kyo tetapi dilihatnya bibir gadis itu memutih pucat dan terlihat lelah.

“Mianhae Kyo… aku…” Heechul terbata sendiri. Keberadaannya disini saja masih membuatnya bingung, ditambah fakta bahwa ia bisa melihat orang yang sudah meninggal. Kunang kunang berkedip. Dan keajaiban lainnya.

Sang Kyo memejamkan matanya dan terlihat menarik nafas pelan seperti menenangkan diri. Warna wajahnya perlahan kembali seperti semula. Heechul menghembuskan nafasnya lega walaupun sekarang harus ditahannya keinginan untuk memeluk gadis itu.

“Kyo-ya… bogoshipta,” kata Heechul, melakukan satu satunya hal yang ia bisa untuk mengungkapkan kerinduannya. “Aku juga,” kata Sang Kyo tersenyum manis. Ia memejamkan matanya lagi, mencoba memberikan energi tambahan pada tubuhnya lalu mendekat mencium pipi Heechul pelan.

Bibir itu terasa dingin tetapi ciumannya hangat. Membuat Heechul merasakan lagi kerinduan yang dipendamnya beberapa hari terakhir. Sang Kyo terlihat sedikit lemah setelah melakukan itu tetapi ia bisa mengontrol dirinya lagi sekarang.

“Ayo Oppa, kukenalkan kau pada dunia ini,” kata Sang Kyo berbalik menatap kabut di belakangnya. Kabut putih yang tadi Heechul tembus dengan bantuan Chocci. “Dibalik kabut ini tempatnya indah. Semua yang kukhayalkan selama di dunia ada disana,” jelas Sang Kyo.

“Kajja,” ajak Sang Kyo lagi membuyarkan Heechul yang masih mencoba mencerna perkataan gadis itu. Heechul mengulurkan tangannya bermaksud untuk menggandeng Sang Kyo tetapi gadis itu tersenyum menyesal dan tidak menjawab uluran tangannya.

Heechul teringat fakta bahwa mereka tidak boleh berkontak fisik. “Arasseo. Ayo,” katanya akhirnya. Seperti merasa dibutuhkan, Chocci muncul lagi dan berjalan di hadapan mereka, menembus kabut tebal tersebut. Sang Kyo dan Heechul mengikuti Chocci dari belakang.

Sang Kyo terlihat tidak sabar. “Ah, begini tidak praktis,” katanya. Ia memejamkan matanya kemudian Heechul merasa tubuhnya dan tubuh gadis itu terangkat begitu saja. Heechul masih takjub melihat kakinya yang tidak memijak awan kapas tersebut ketika ia merasa seperti dihembus angin, mengikuti kemanapun Chocci membawa mereka. Oh ya, saat Heechul melirik Sang Kyo dia juga baru sadar kalau gadis itu sekarang bersayap.

Heechul jadi berandai andai sendiri dalam hati. Apakah dia malaikat sekarang?

Mereka mendarat di sebuah dimensi yang sama dengan suasana yang jauh berbeda. ‘seperti film animasi’ begitu Heechul menyebutnya. Heechul berjalan mengikuti Sang Kyo yang menyusuri ‘animasi hidup’ dihadapannya. “Ini dimana Kyo?” tanya Heechul akhirnya.

Sang Kyo hanya tersenyum tipis. “Jangan tanyakan itu juga. Aku tidak bisa menjawab. Yang jelas, surga bukan disini,” jawab Sang Kyo gamblang. Heechul memasang tampang tidak mengertinya membuat Sang Kyo mengeluarkan tawanya yang terdengar seperti lonceng.

“Jadi gini loh, Oppa. Disini itu menurutku seperti tempat perhentian. Kau tahu… semacam transit,” jelas Sang Kyo. Heechul memandang gadis itu semakin tidak mengerti. “Ya… kau tahu ada tempat yang namanya surga dan neraka kan. nah sebelum kesana, aku masih harus berada disini karena alasan alasan tertentu,” kata Sang Kyo.

“….Alasan?” Heechul menyernyitkan keningnya. “Ya… banyak hal yang belum ku selesaikan. Kalau keselesaikan hal hal tersebut, baru aku bisa kembali dengan tenang kesana…” jelas Sang Kyo lagi. Heechul menelengkan kepalanya tidak mengerti. “Kesana?”

“Surga…. Atau neraka~” ujar Sang Kyo seringan bulu.

Sang Kyo mengajak Heechul lagi menapakkan kakinya di atas awan kapas tersebut, lalu tiba tiba mereka sampai di sebuah telaga kecil dengan pelangi melingkar masuk ke dasarnya. Sang Kyo mendekati pelangi tersebut dan menyentuhnya seakan benda itu padat. Membuat benda itu memercikkan cahaya cahaya kecil, seperti ribuan kunang kunang dilepas ke udara.

“Wow…” hanya itu yang bisa dikatakan Heechul. Benar benar full-magic. Tempat ini terlalu seperti kota impian. “Ayolah, Oppa. Gunakan semua imajinasimu mumpung kau berada disini,” kata Sang Kyo lagi. “Tempat ini mewujudkan apapun yang kau inginkan untuk terjadi,” lanjutnya.

“Ya! Tetapi aku menginginkan hal hal normal yang bisa kudapatkan di dunia sana. Aku bukan pecinta dongeng sepertimu,” balas Heechul. Sang Kyo memiringkan kepalanya memandang Heechul seolah dia gila. “Kau tidak ingin terbang?” kata Sang Kyo.

Gadis itu kemudian melesat tinggi sempai ke udara lalu terbang cepat seperti meteor kesana kemari. Kadang kadang ia melakukan adu cepat dengan Chocci yang tentu saja dimenangkan oleh kunang kunang kecil itu.

Heechul merasa jantungnya hampir copot ketika Sang Kyo tiba tiba menukik cepat menuju kearahnya. Pria itu melindungi wajahnya untuk menghindari tabrakan keras yang mungkin terjadi setelah menyadari bahwa setelah beberapa detik tidak terjadi apa apa dan Sang Kyo sudah mendarat dengan manis di hadapannya seolah gambaran akan dirinya yang terbang tadi itu adalah mimpi.

“Palli Oppa, ikuti aku,” Sang Kyo berjalan di depan Heechul dan berdiri di tepi telaga tersebut. Sang Kyo berjalan ke tengah tengah telaga, diatas air seakan akan itu kaca. Sang Kyo menoleh dan mengulurkan tangannya pada Heechul. “Ayo, Kau harus lihat ini,” Heechul menatap air dihadadpannya dengan ragu ragu.

Sang Kyo tersenyum menenangkan. “Tidak akan terjadi apa apa, gunakan saja imajinasimu,” katanya. Heechul melangkahkan kakinya ragu ragu dan antipati, lalu merasa terkejut ketika ia merasa kakinya menginjak permukaan kaca mulus. Padahal itu adalah air. “Wah…” gumamnya kagum untuk kesekian kalinya hari ini.

Heechul akhirnya sampai ke tempat dimana Sang Kyo sudah menunggunya. “Disini kau bisa melihat apa saja yang kau mau Oppa. Seperti replay dari semua masa lalumu,” kata Sang Kyo.

Gadis itu menatap dalam pada kejernihan air di bawahnya dan berkonsentrasi sekaran memikirkan sesuatu. Tiba tiba permukaan air di depannya memvisualisasikan sesuatu seperti film. Heechul tersenyum kecil ketika melihat adegan di dasar telaga itu. Adegan yang diingatnya.

FLASHBACK : ON

“Er…. A… aku,” Sang Kyo dengan bibir bergetar berdiri di depan meja seorang pria yang diam serius dengan bukunya. Pria dingin, dengan label arogan menempel di keningnya. Ditakuti semua siswa maupun siswi. Tidak ada yang berani mengajaknya bicara, apalagi mengganggunya dan membuat masalah.

Kim Heechul, beberapa tahun yang lalu.

Sang Kyo ingin mengatakan sesuatu tetapi lidahnya kelu karena gugup. “Em… s-sebenarnya,” Sang Kyo mencoba untuk melanjutkan kalimatnya tetapi karena alasan alasan tertentu kata kata itu tak kunjung keluar dari bibirnya.

BRAK!!

Suara meja dipukul dengan keras membuatnya terkesiap kaget. Sang Kyo menahan nafasnya masih dengan kaki  bergetar. Bukan takut. Ia tidak menemukan alasan apapun untuk takut pada pria ini. Tetapi karena gugup berlebihan yang menyerangnya.

“Kalau kau tidak mau mengatakan sesuatu yang penting lebih baik kau menyingkir,” gumam Heechul pelan tapi dalam. Tidak ada kontak mata diantara mereka tetapi Sang Kyo merasa tubuhnya dihujami berbilah bilah pisau dingin tepat di jantungnya.

Sang Kyo mengumpulkan kembali kepingan nyalinya yang mulai ciut tadi. “T-tapi aku punya hal untuk dikatakan,” kata Sang Kyo dengan menahan bibirnya untuk tidak bergetar, takut takut kalau itu akan mempengaruhi suaranya.

“Er… Aku….aku…” Sang Kyo mencoba untuk mengeluarkan apa yang ia maksudkan tetapi tatapan tajam dan nada dingin Heechul benar benar mengunci nyalinya untuk berbicara.

Heechul mendecak tak sabar membuat Sang Kyo nyaris memundurkan langkahnya ke belakang karena ciut oleh ekspresinya. “Kau… Kau orang baik, Sunbaenim,” kata Sang Kyo. Heechul menatapnya seakan gadis itu gila. Pandangannya begitu meremehkan tetapi Sang Kyo tetap mencoba untuk tidak gentar melawannya.

Heechul berdiri, menempatkan wajahnya diatas wajah Sang Kyo yang menengadah membalas tatapannya, membuat gadis itu berdebar debar gugup. “Kau…. Anak baru kemarin. Tidak usah sok sok tahu tentang aku,” katanya singkat tetapi cukup untuk menancapkan pisau dingin tersebut ke lubuk hati Sang Kyo.

Choi Sang Kyo, dilahirkan dengan mental yang kuat. Broken Home adalah dasar mental bajanya. Karena itu ia merasa mengerti keadaan Heechul, yang berasal dari kondisi yang sama. Dan gadis itu sekarang sedang berusaha melawan ketakutannya.

Sang Kyo semakin menengadahkan kepalanya memandang pria itu berani, walaupun kakinya gemetar tak karuan. “Aku mengerti perasaanmu kok, Sunbaenim. Aku juga berasal dari latar belakang yang sama denganmu. Aku… Ak…”

BRAK!!!

Masih dengan tatapan tajam dingin yang menghujam pada mata Sang Kyo, Heechul lagi lagi menggebrak meja kayu dibawahnya. Dan lagi lagi Sang Kyo memejamkan matanya rapat rapat mendengarnya. Ada trauma sendiri pada masa kecilnya, mendengar suara suara seperti itu.

Heechul melemparkan tatapan bengis terakhirnya sebelum meninggalkan Sang Kyo sendiri dalam ruangan itu. Sang Kyo berlari melewati pintu kelas dan menemukan heechul masih menyusuri koridor.

Sang Kyo menyuntikkan keberanian pada suaranya sebelum berteriak. “Sunbaenim! Namaku Choi Sang Kyo!” serunya keras. Heechul menoleh dan menatapnya sinis seakan akan ada kata kata transparan ‘Tidak ada yang bertanya padamu’ tertulis besar besar di keningnya.

Heechul membuang muka dan melanjutkan langkahnya. “SUNBAENIM NAMAMU SIAPA?” teriak Sang Kyo lagi dengan suara yang berlebihan. Mungkin dipengaruhi gugup oleh suaranya. Heechul menghentikan langkahnya sebentar terlihat berpikir kemudian ia memutuskan bahwa menjawabnya bukanlah hal yang penting lalu melanjutkan langkahnya.

Sang Kyo memutar matanya putus asa lalu menaruh tangannya lagi di depan mulutnya agar suaranya tedengar lebih keras. “ARASSEO ARASSEO SUNBAENIM AKU SEBENARNYA TAHU NAMAMU KIM HEECHUL,” katanya. Heechul hanya menggelengkan kepala dan pergi tanpa menghentikan langkahnya.

FLASHBACK OFF

Heechul mendengus pelan melihat cuplikan dihadapannya tadi. Benar benar seperti menonton film yang bintangnya adalah dirinya sendiri. Lucu sekali membayangkanya.

Heechul memandang Sang Kyo lucu. “Sepertinya kau menemukan impianmu. Disini memang full magic.” Katanya sementara Sang Kyo hanya mengangguk bersemangat. “Aku sering mengkhayalkan banyak hal dulu. Sepertinya ini memang duniaku,” katanya menatap atmosfer sekelilingnya. “Kau tinggal mengkhayal disini. Semua akan jadi kenyataan,” katanya.

“Pantas saja. Pasti kau lebih memilih untuk hidup disini selamanya daripada harus di dunia bersamaku,” canda Heechul yang dianggap tidak lucu oleh Sang Kyo. Ia melemparkan pandangan sedih pada  Heechul. “tentu saja tidak,” katanya meraih tangan pria itu dan beberapa detik kemudia buru buru dilepasnya.

Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Heechul yakin wajahnya menjadi pucat karena sentuhan tadi. Sang Kyo mengangkat wajahnya yang sudah lumayan berwarna sementara Heechul sibuk memperhatikannya dengan heran.

“Memangnya mengapa kau jadi seperti itu setiap bersentuhan denganku?” tanya Heechul heran memandang gadis itu.

“Karena kita ini sebenarnya sudah berbeda. Kau itu manusia. Aku…. Yah aku tidak tahu aku ini apa, tetapi kita berbeda,” kata Sang Kyo membuat Heechul memandangnya seakan gadis itu gila. Mana ada makhluk yang tidak mengetahui apa dia sebenarnya?

“Ya.. yang jelas kita sekarang bukan dari dunia yang sama. Bahkan sebenarnya berbicara begini denganmu saja sudah merupakan keajaiban untukku. Semuanya sudah melanggar aturan. Bersentuhan denganmu juga melanggar batas akal sehat,” kata gadis itu. Sebenarnya Heechul juga tidak terlalu mengerti penjelasannya tetapi ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh. Waktu mereka saat ini terlalu berharga untuk dibuang begitu saja.

Heechul melangkah meninggalkan Sang Kyo, perlahan tapi pasti berjalan ke tepi telaga. Sekarang ia sudah terbiasa berada di dunia aneh ini. Jadi ia bisa berjalan di atas permukaan air dengan tenang tanpa harus kuatir akan tiba tiba tenggelam atau air itu tiba tiba menyedotnya kedalam, kecuali Sang Kyo mengerjainya.

Sang Kyo berlari kecil menyusul Heechul yang sudah berada di tepi danau. “Mau kemana?” tanyanya terengah. “Aku lelah berdiri, ayo cari tempat duduk,” kata Heechul berbalik dan berjalan sambil melihat kanan kiri mencari benda yang bisa ia jadikan tempat duduk.

Terlalu banyak hal yang tidak penting bertebaran di sekitarnya. ‘Pasti dunia ini di desain oleh Sang Kyo,’ pikirnya dan ia tidak salah. Sang Kyo menerapkan semua imajinasinya menjadi dunianya sendiri. Tiba tiba sebuah sofa hijau besar meletup tepat di depan Heechul. Muncul tiba tiba, tidak bisa dijelaskan asal muasalnya.

Heechul menoleh heran ke arah Sang Kyo dan gadis itu hanya menjawabnya dengan senyuman manis.

Heechul membanting tubuhnya dengan nyaman di atas sofa tersebut. “Katanya negeri impian, kenapa aku masih bisa lelah?” protes Heechul. Sang Kyo duduk tepat di sebelah Heechul, sedikit menjaga jarak agar mereka tidak bersentuhan. “Kau kan masih manusia,” jawab Sang Kyo.

“Jadi…” Heechul memulai pembicaraan sambil menahan diri untuk tidak meraih gadis yang duduk disebelahnya tersebut. “Jelas sekali aku menolak berbicara denganmu waktu itu kan?” Kata Heechul, membahas perkenalan pertama mereka.

“Aku bahkan membentakmu dan memukul meja kan?” Sambung Heechul lagi sementara Sang Kyo hanya mengangguk ringan. “Jadi mengapa kau begitu keras kepala dan memberanikan diri tetap mendekatiku? Hanya kau yang berani lancang melakukan itu,” sambung pria dingin itu.

Sang Kyo terlihat memikirkan matang matang jawabannya. “Kau tahu, aku benar benar ingin mengenalmu waktu itu. Kau adalah Sunbae yang terkenal kasar dan dingin. Tetapi kalau aku menyerah waktu itu apakah aku akan bisa mengenalmu?” Kata Sang Kyo terdengar bijak. Hal yang jarang sekali bisa didengar darinya.

Sang Kyo tersenyum lagi. “Jadi.. bagaimana sekarang hubunganmu dengan ibumu, Oppa?” tanya gadis itu. Heechul tersenyum miris mendengarnya. “Sama seperti dulu. Aku tetap tidak bisa memaafkannya,” kata Heechul menenggelamkan wajah pada kedua tangannya. Sang Kyo ingin sekali memeluknya kalau itu memungkinkan.

“Oppa sudahlah… lihat aku. Aku mencoba  menerima keputusan orang tuaku. Kau harus bisa Oppa, kau kan tetap anaknya,” nasihat Sang Kyo. Heechul mengacak rambutnya frustasi. “aish! Kalau tidak karena perselingkuhannya mungkin keluargaku masih utuh sekarang,” rutuk Heechul penuh sesal.

“Aku hanya… hanya tidak percaya kalau seseorang yang seharusnya aku jadikan panutan dengan mudahnya melakukan hal semurahan itu,” rutuk Heechul lagi. “Heechul Oppa! Dia itu ibumu!” seru Sang Kyo memperingatkan, mendengar kekasaran omongan Heechul.

Heechul menatap kosong kedepan seolah menerawang. “Semenjang perceraian mereka berdua, aku tidak punya ayah. Ibu juga tidak.” Katanya, seolah keputusannya itu sudah benar benar bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi. “Heechul Oppa. Siapa lagi yang kau punya? Aku bahkan sudah pergi. Mulailah hal baru Oppa.

Heechul memandang Sang Kyo seakan gadis itu gila. “Hal baru? Bagaimana mungkin aku berbaikan dengan wanita itu? Penyebab hancurnya keluargaku?” protes Heechul. Sang Kyo menarik napas beratnya. “Dia tetap ibumu, Oppa. Dan yang paling penting, dia mencintaimu,”

Heechul merenungkan kata kata polos Sang Kyo barusan. “Dia mencintaiku. Kau yakin? Dia mencintaiku?” Heechul lebih mirip seperti seseorang yang sedang berbicara pada dirinya sendiri, dibandingkan dengan seseorang yang sedang bertanya.

“Tentu. Dia ibumu.” Sang Kyo meyakinkan.

Heechul lagi lagi menaruh wajahnya di kedua telapak tangannya frustasi. Sang Kyo menahan diri untuk tidak menyandarkan kepala namja itu padanya. “Oppa.. aku mengerti perasaanmu.” Katanya.

‘aku mengerti perasaanmu. Kalimat itu membangkitkan kenangan Heechul akan masa masa dimana seorang Choi Sang Kyo sukses menjadi seorang gadis yang sangat sering ia khawatirkan.

FLASHBACK ON

PLAK!

Terdengar tamparan keras yang dilayangkan seorang pria berperawakan kurus namun tegap. Kerutan sudah mulai terlihat di dekat matanya. Wajahnya serius, bibirnya mengatup marah dan sementara wanita yang ia tampar itu, istrinya, hanya bisa meringkuk ketakutan di pojok ruangan, menerima apapun yang dilakukan suaminya.

“APPA! APPA HENTIKAAN!” Sang Kyo yang saat itu hanya berumur 17 tahun, meringkuk pada tembok menutup telinganya rapat rapat menghalau suara tamparan dan pukulan yang dilayangkan oleh ayahnya, pada orang yang paling berarti untuk gadis itu, ibunya.

Ayah Sang Kyo seperti kesetanan, tidak mendengar apa apa lagi. “Dasar wanita bodoh! Lemah! Mengurus anak saja tidak bisa! Lihat Sang Kyo saja bisa sakit begitu! Apa yang kau lakukan selama di rumah hah?” seru ayah Sang Kyo membuat Sang Kyo yang mendengarnya menutup matanya rapat rapat tidak mau mendengarkan.

“APPA! Aku lagi sakit! Tega teganya menyiksa Eomma di depanku sekarang!” teriak Sang Kyo berlinang air mata. “Kau tidak usah ikut campur! Kembali ke kamarmu!” teriak sang ayah keras. Sang Kyo memberanikan diri menatap mata ayahnya. “KAU TIDAK MENYALAHKAN EOMMA KARENA AKU SAKIT! KAU MEMANG MEMBENCI DIA! BAHKAN KALAUPUN AKU TIDAK SAKIT JUGA KAU AKAN TETAP MEMUKULNYA!” Sang Kyo berteriak menggelegar. Emosinya sudah sampai ke ubun ubun sekarang.

“KAU DIAM!” Ayah Sang Kyo sudah mengangkat tangannya hendak memukul anaknya tersebut ketika snag Ibu tiba tiba melemparkan diri ke tengah tengah sehingga dialah yang harus menerima pukulan itu. “Sudah… cukup aku saja, jangan sentuh anak kita,” mohon Ibu Sang Kyo.

Sang Kyo yang sudah tidak tahan melihat pemandangan nista di depannya itu hanya berlari ke luar rumah dan menerobos hujan.

“CHOI SANG KYO! KEMBALI KAU!” Teriak ayah Sang Kyo yang diabaikan oleh putrinya tersebut. Sang Kyo terus berlari dan berlari tanpa mempedulikan ancaman dan sumpah serapah yang diucapkan ayah di belakangnya. Diabaikannya hujan yang terus mengguyur dan terus mengikuti arah kakinya yang tidak bertujuan itu.

Sang Kyo menghentikan larinya. Tangannya bertumpu pada kedua lututnya, menahan lelah. Ia terengah engah dan menyadari bahwa sekarang ia berada tepat di depan gedung sekolahnya. Jadi ternyata kakinya membawanya kesini. Sang Kyo berjalan terseok seok ke pos penjaga yang jaraknya dekat darinya. Kebetulan pos itu kosong karena hari sudah mulai petang.

Sang Kyo bersandar pada tembok. Punggungnya kemudian merosot kebawah karena terlalu lelah. Ia menutupi wajah dengan telapak tangannya dan mulai menangis terisak isak. “Eomma…. Eomma” pangggilnya. Kenangan berkelibatan di otaknya. Memorinya sejak kecil, yang mayoritas adalah mimpi buruk. Bayangan ayah yang selalu menyiksa ibunya berlalu lalang di pikirannya.

Sang Kyo merasakan ada yang menyentuh pungungnya sehingga membuatnya menoleh. Ia terkejut mengetahui masih ada siswa berkeliaran di sekolah jam segini, tetapi ia lebih terkejut lagi mengetahui bahwa siswa itu ternyata Kim Heechul.

Di situasi normal, Sang Kyo akan melompat kegirangan mengetahui Heechul menyapanya dengan cara unik seperti tadi. Tetapi tidak sekarang. Tidak disaat ia baru melihat ibunya sendiri dipukul karena membelanya.

“Pergilah, Sunbaenim. Jangan marahi aku sekarang. Lain kali saja,” kata Sang Kyo masih dengan kepala ditelungkupkan, menyembunyikan kelemahannya. “Shireo,” ucap Heechul pelan lalu duduk dalam diam, tepat di sebelah Sang Kyo.

“Tetapi aku tidak mau kau melihatku dalam keadaan selemah ini,” ujar Sang Kyo. Heechul menoleh menatapnya tak putus, dan gadis itu membuang muka lalu menelungkupkannya lagi.

Heechul terus menatap Sang Kyo, gadis yang kerap mengganggunya beberapa minggu terakhir ini. Belakangan ia ketahui bahwa gadis itu juga dilatar belakangi dengan broken home. Gadis kuat ini, membuatnya merasa menjadi pria paling lemah dan pengecut yang pernah ada. Dan itu jarang terjadi. Jarang ada orang yang bisa merubah presepsinya tentang dirinya sendiri.

“Pergilah Oppa. Jangan lihat aku dalam keadaan lemah seperti ini,” mohon Sang Kyo. “Memang kenapa?” Tanya Heechul sementara Sang Kyo hanya diam. Bulir bulir air mata mengalir turun di pipinya yang sudah basah.

Sang Kyo tidak menjawab Heechul. Ia sebenarnya hanya takut bahwa Heechul melihat sisi rapuhnya tersebut. Ia takut bahwa dimata Heechul, Choi Sang Kyo adalah seorang gadis lemah. Ia tidak mau kenangan tentangnya yang ada di memori Heechul adalah saat ia menangis.

Heechul menatap Sang Kyo seakan akan bisa mendengar suara hati gadis itu. “Kau tetap gadis tegar di mataku, Kyo.” Ucapnya pelan namun Sang Kyo menoleh padanya cepat. Kim Heechul? Mengatakan itu?

Heechul, pria dingin yang terkenal arogan tersebut, tanpa diperkirakan mengulurkan tangannya, menyandarkan Sang Kyo pada bahunya membiarkan gadis itu meneteskan air mata disana. “Aku mengerti perasaanmu,” katanya singkat tapi mampu membuat tangis gadis itu menjadi jadi.

Heechul mengankat tangannya yang satu lagi lalu memeluk tubuh ringkih itu hangat.

“Jadilah tegar, Choi Sang Kyo… Jadilah kuat…”

FLASHBACK OFF

Heechul tersadar dari lamunannya dan mendapatkan Sang Kyo memandangnya sambil tersenyum. “Jadi? Sudah mengingat adegan dramatisnya?” Tanya Sang Kyo. Heechul menatapnya terkejut. “Kau tahu?” Tanyanya singkat.

Sang Kyo tersenyum misterius. “Disini aku bisa jadi mind reader kalau aku mau,” katanya. Heechul terperangah kali ini. Bukan karena lagi lagi ia melihat sebuah keajaiban, tetapi karena betapa dunia itu mirip sekali dengan semua khayalan seoran Choi Sang Kyo selama ia masih hidup. “Ya… Memang disini sesuai denan keinginanku,” kata Sang Kyo sambil melihat sekelilingnya.

Tidak ada satu orangpun yang berbicara setelah itu. Mereka sama sama memilih diam, anehnya mereka menikmati keheningan itu seperti bisa mendengar detak jantung satu sama lain. Heechul mengunci mulutnya rapat rapat. Ingin rasanya ia menatakan pada gadis ini kalau ia mencintainya. Tetapi entah di dunia nyata atau di dunia-entah-dimana ini, ia tetap tidak bisa mengatakan apa apa.

“Jadi… Bagaimana ibumu? Apakah ia menemukan pengganti?” Tanya Sang Kyo memecah keheningan. Heechul terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab. “Tidak. Ia menyibukkan diri dengan bekerja sampai malam. Kupikir dia menyesal atas kesalahannya. Kupikir sebenarnya dia baru sadar bahwa ia….. Masih mencintai Appa,” desah Heechul lelah.

Sang Kyo tersenyum prihatin. Ada sesuatu yang mengelus lengan Heechul, menguatkan. Ternyata itu adalah sebuah sayap. Heechul hampir melupakan bahwa Sang Kyo sekarang bersayap. Benar benar persis malaikat. Heechul tersenyum melihat Sang Kyo. Akhirnya gadis itu menemukannya. Dream worldnya. Tempat dimana dia bisa bahagia.

“Appamu bagaimana sekarang? Dia baik baik saja?” Tanya Sang Kyo lagi. “Tidak ada bedanya dengan Eomma. Dia juga hidup sendiri. Jadi workaholic sekarang,” paparnya. Sang Kyo mendengarkan dengan sabar. Itulah salah satu poin mengapa seorang Kim Heechul akhirnya membuka hati pada gadis yang hampir senasib dengannya tersebut. Gadis itu adalah pendengar yang setia.

Tiba tiba Heechul merasa sekelilinnya berubah menjadi sedikit lebih gelap. Heechul melirik ke sekelilingnya. Suasana sudah semakin gelap disekitarnya. Heechul melempar pandangan bertanya pada gadis malaikat itu. “Disini ada malam juga? Bukankah kau tidak suka gelap?” Tanyanya.

Sang Kyo memperhatikan langit, terlihat murung untuk pertama kalinya hari ini. “Ini bukan malam. Dimensiku ini akan berakhir, waktuku tinggal sedikit,” katanya. “Waktumu?” tanya Heechul bingung. Waktu apa lagi yang dibutuhkan Choi Sang Kyo? Tidakkah dimensinya ini terlalu sempurna?

Sang Kyo mengulurkan tangannya merasakan air merintik dari atas. Hujan. “Hal hal seperti ini terjadi untuk mendorongku kembali ‘kesana’” katanya. “Tapi aku tidak bisa, aku disini karena ada hal hal yang harus kulakukan sebelum semuanya berakhir,” katanya murung.

Heechul juga menoleh keatas saat menyadari bahwa rintik rintik air mulai menetes di kepalanya. Sang Kyo mengembangkan sayapnya lebih lebar, melindungi mereka berdua. Gerimis pun akhirnya berhenti walaupun langit tetap terlihat mendung.

“Memang apa yang bisa kau lakukan?” Tanya Heechul mengernyitkan keningnya heran. “Aku tidak ingin melakukan sesuatu. Lebih tepatnya aku ingin mendengar sesuatu. Sayangnya hampir mustahil membuat orang itu mengatakan apa yang ingin kudengar,” katanya murung.

Sang Kyo menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Heechul cepat. Wajahnya menunjukkan seakan akan ia baru mendapatkan pencerahan. “Oppa, berdoalah,” katanya bersemangat sementara Heechul mengernyitkan dahinya heran. “Berdoa?”

Sang Kyo menangguk bersemangat. “Berdoalah untuk ibumu,” ujarnya bersemangat. “Tempat ini dekat sekali dengan surga. Mungkin malaikat bisa mendengarnya lebih jelas dari sini,” lanjutnya.

Heechul melempar pandangan aneh pada gadis itu. “Kau lupa aku atheis? Aku tidak percaya Tuhan, apalagi malaikat.” Katanya pelan. Sang Kyo menggeleng kuat “tidak. Justru karena itu, cobalah sekarang. Kalau Tuhan tidak mengabulkan doamu toh kau tidak dipaksa untuk terus berharap,” ujar Sang Kyo gamblang.

Heechul terlihat tidak yakin. “Aku…. Tidak tahu caranya berdoa,” katanya ragu.

Sang Kyo memutar matanya sebal. “Kau katupkan saja tanganmu seperti ini,” katanya sambil mempertemukan kedua telapak tangannya sementara Heechul menirukan dengan ragu ragu. “Lalu pejamkan mata,” Sang Kyo menutup matanya diikuti oleh Heechul.

“Sebut saja doamu,” kata Sang Kyo lagi. Heechul membuka matanya. “Keras keras?” Katanya heran. Sang Kyo memutar matanya lagi entah yang keberapa kali. “Dalam hati juga bisa,” jelasnya singkat kemudian memejamkan matanya lagi dan berdoa dengan khusyuk.

Heechul memejamkan mata, dan mengatakan doa pertamanya.

‘Untuk Eomma… Berikan dia kebahagian. Dan untuk Sang Kyo… Tuhan, kalau kau benar ada terima dia di Surga’

Heechul membuka mata dan menghadapi Sang Kyo yang menatapnya tersenyum. Seakan menunggunya selesai berdoa. “Mengapa menatapku begitu?” Heechul mengedipkan kepalanya. “Kau terlihat berdoa dengan tulus. Apa yang kau katakan?” Tanyanya penasaran.

Heechul mengeluarkan smirk khasnya. “Katanya kau bisa membaca suara hati?” Godanya membuat Sang Kyo memasang wajah kesalnya. “Tetapi aku tidak bisa mendengar doa. itu kan Khusus untuk Tuhan,” jawab Sang Kyo membuat Heechul nyengir lebar untuk pertama kalinya hari ini. Tadinya ia sudah deg degan takut gadis ini bangga kalau Heechul menyebut namanya di doa pertamanya.

“Kau tidak perlu tahu,” Heechul menyembunyikan senyum misteriusnya. “Kan kau sendiri yang bilang, itu khusus untuk Tuhan. Lagi pula apa untungnya untukku memberi tahumu? Toh kau tidak berwenang mengabulkannya,” canda Heechul jenaka.

Suara geraman Guntur terdengar pelan dan langit kembali berwarna gelap. “Kali ini apa?” Heechul memasukan tangan ke sakunya dan memperhatikan langit yang lagi lagi ‘berulah’ diatasnya. “Waktuku semakin sempit,” jawab Sang Kyo sedih mengulurkan tangannya menampung tetes tetes gerimis yang lagi lagi muncul.

Heechul menatap kesedihan gadis itu. “Ayo, kita jalan jalan lagi,” katanya berjalan mendahului Sang Kyo. Sang Kyo berlari lari kecil menyusulnya. “Hei. Sejak kapan kau bisa jalan di depan? Ini dimensiku,” kata Sang Kyo mempercepat langkahnya lalu berjalan beberapa meter di depan Heechul.

Heechul memperhatikan gadis itu berjalan. Semuanya, gesturenya masih sama dengan dulu, hanya saja sekarang dibingkai kostum yang berbeda. Sayap putih menghiasi punggungnya dengan indah. Gadis itu tiba tiba menghentikan langkahnya lalu menoleh kepada Heechul.

“Menurutmu apakah aku akan ke surga? Atau neraka?” tanya Sang Kyo. Heechul mengatupkan bibirnya, tidak tahu harus menjawab apa. Kalau mereka di dunia, mungkin mudah saja baginya mengatakan ‘surga’. Tetapi sekarang tempat itu dekat. Bukan saatnya untuk berbohong.

“Surga,” jawab Heechul mantap membuat Sang Kyo mengedikkan kepalanya. “Bagaimana kau bisa yakin?” tanyanya penasaran membuat Heechul melempar senyum manisnya.”Lihat saja. Tuhanmu itu sudah mendesainmu seperti malaikat,” jawabnya membuat Sang Kyo mengalihkan perhatiannya pada sayap di punggungnya.

“Dan terlebih… aku mendoakanmu tadi,” kata Heechul membuat Sang Kyo melesat cepat ke arahnya. “Benarkah?” katanya berbinar binar. “Kau mendoakanku?” tanyanya bersemangat sementara sudah terlambat bagi Heechul untuk menarik kembali kata katanya.

“Mengapa kau melakukannya?” tanya Sang Kyo penasaran. Heechul heran dengan betapa cepatnya mood gadis ini berubah ubah. “Maksudmu?” Heechul bertanya balik.

“Sekian banyak hal yang penting untuk kau doakan mengapa kau mendoakanku yang jelas jelas akan segera lenyap dalam hitungan jam?” tanya Sang Kyo sementara Heechul seperti biasa langsung memasang Smirknya lagi. “Apa untungnya untukku memberitahumu?” tanya Heechul membuat Sang Kyo menggembungkan pipinya lagi.

Langit berubah semakin gelap. Hampir hitam kali ini sementara di ujung jalan yang mereka tapaki ini muncul secercah cahaya kecil dari langit. Entah mengapa Heechul takut melihatnya. Entah mengapa yang ingin dilakukannya sekarang adalah meraih tangan Sang Kyo dan membawa gadis itu kabur.

‘Kita tidak bisa lari dari Tuhan,’ Heechul ingat betul kata kata gadis itu dulu. Walaupun ia tidak percaya akan adanya Tuhan, tetapi ia selalu percaya kata kata seorang Choi Sang Kyo.

Sang Kyo menoleh dan menampakkan ekspresi sedihnya. Air mata tertahan di pelupuknya. Saat itulah Heechul menemukan persepsi barunya. ‘Bahkan malaikat bisa menangis,’

Sang Kyo menatap Heechul tepat di mata. “Terima kasih, Kim Heechul Oppa. Untuk hal hal yang tidak bisa kusebutkan satu persatu,” ujarnya menahan getaran pada suaranya. Gadis itu berbalik guna menyembunyikan air matanya.

“Dan terima kasih untuk menyebut namaku di doa pertamamu,” ujarnya lagi.

Heechul menatap gadis itu kehabisan akal. Bagaimana mungkin gadis itu belum menyadarinya juga? Tetapi toh Heechul tidak bisa mengatakannya. Ia hanya bisa menyebutkan kata kata itu dalam hati.

‘karena aku mencintaimu,Choi Sang Kyo,’

Ucapannya tersebut membuat Sang Kyo menoleh cepat bak kilat. Heechul merutuki dirinya yang melupakan fakta bahwa Sang Kyo bisa mendengarkan suara hatinya. Tetapi itu tidak penting lagi sekarang. Ia lega Sang Kyo sudah tahu segalanya.

Sang Kyo berjalan mendekatinya dengan wajah menahan tangis. “Bodoh… bilang saja dari tadi. Itu kata kata yang kutunggu!” ucap Sang Kyo terbata bata.

Sang Kyo maju dan memeluk Heechul yang kaget setengah mati. “Kyo.. bukankah kau akan lemah kalau melakukan ini?” tanyanya. Sang Kyo hanya menggeleng pelan. “Toh sebentar lagi mereka menarikku pergi,” katanya. Heechul dapat melihat wajahnya memucat dan ia kehilangan warna bibirnya.

Tetapi gadis itu tetap berjinjit dan menciumnya lembut dengan bibir tanpa warna itu. Sang Kyo mulai melemah dan Heechul menahan tubuhnya. Dibalasnya ciuman gadis itu dalam. ciuman perpisahan mereka.

Sang Kyo jatuh terpuruk di tanah. Baru Heechul sadari sayapnya lenyap. Ia berlutut menahan gadis itu, memeluknya.

“Aku juga mencintaimu, Kim Heechul.” Ucap Sang Kyo singkat. Tetapi hanya itulah yang ia butuhkan sekarang. Paling tidak ia tahu, kalau mereka saling mencintai.

Heechul mencium puncak kepala Sang Kyo penuh emosi. “Kau tahu? Kau satu satunya orang yang berhasil mengubah hidupku,” ucap Heechul sedikit bergetar. Sang Kyo mengagguk singkat dan tersenyum lembut. “Kalau begitu teruslah hidup seperti itu,” katanya.

Sang Kyo membuka matanya yang terpejam, menatap Heechul lembut. “Sampai jumpa lagi, Kim Heechul. Mereka memanggilku. Panggilannya indah. Sepertinya itu surga. Pikirkan saja cara menyusulku ke tempat itu,” Sang Kyo masih sempat bergurau di saat saat seperti ini.

“Ini semua bukan mimpi kan?” tanya Heechul. Sang Kyo menggeleng lembut. “Tentu saja ini nyata. Kau memelukku, menciumku dan mengatakan kau mencintaiku. Aku hampir menganggap ini mimpi dan betapa senangnya aku menyadari kalau ini benar benar terjadi,” gumam Sang Kyo dengan sisa sisa lemah suaranya.

Heechul menunduk dan mengecup bibir Sang Kyo lagi, singkat. “Saranghae,” ucapnya. Sang Kyo melambaikan tangan kirinya yang lemah dan Heechul merasa tertarik ke belakang. Terus tertarik ke belakang seperti dipaksa kembali ke dimensinya.

-oOo-

Heechul terbangun, dan mendapati dirinya tertidur di atas tempat tidurnya. Yang pertama ada di otaknya adalah seorang Choi Sang Kyo. Ia menoleh ke samping dimana pigura fotonya dan Sang Kyo dipajang. Baru beberapa menit yang lalu mereka bersama dan Heechul sudah merindukannya.

Heechul bangun dan berjalan keluar kamarnya, bertepatan dengan ibunya yang baru saja masuk ke rumah. Heechul melirik jam diding, pukul setengah dua belas malam. Sudah biasa seperti ini, pikirnya. Semenjak hubungannya dan ibunya merenggang, ibunya itu mulai sering bekerja sampai larut.

Tapi ini berbeda. Muka ibunya itu merona merah karena bahagia yang memancing penasaran Heechul juga. “Ada apa tadi?” tanyanya cuek. Ibunya tersenyum lebar “Appamu datang ke kantor Eomma. Hari ini kami menghabiskan waktu seharian. Entah mukjizat apa yang membuat kami seperti ini,” katanya membuat Heechul terperangah. Belum sampai beberapa jam ia menyampaikan doa itu. Apakah Tuhan yang dimaksudkan Sang Kyo itu benar benar ada?

Heechul tadinya berniat pergi saja dan mengabaikan ibunya. Tetapi hal pertama yang diingatnya adalah wajah seorang Choi Sang Kyo. “Eommonim… maafkan ketidak dewasaanku selama ini. Aku tidak akan menyalahkan apa apa padamu lagi. Entah apapun yang akan terjadi denganmu dan Appa… entah kembali bersama atau keluarga kita tetap seperti ini… mari kita mulai dari awal lagi,” kata Heechul diluar dugaan membuat Ibunya berlinang air mata.

“Uri Adeul….” Bisiknya serak menarik Heechul dalam pelukannya. Dan Heechulpun akhirnya merasakannya. Pelukan seorang ibu yang sudah lama tidak dirasakannya.

Mata Heechul menangkap sebuah kunang kunang melayang seakan akan menunggunya di depan jendela rumah. Heechul melepas pelukan ibunya dan berlari ke luar, mengikuti kunang kunang kecil itu. Tidak dipedulikannya ibunya yang terkejut dan memanggilnya.

Kunang kunang itu melesat perlahan tetapi Heechul tetap berlari di belakangnya. Tanpa Heechul sadar, makhluk itu berhenti di depan jendela luar kamarnya, dimana terletak sebuah pohon besar, dan di dahannya terdapat rumah pohon yang dibangun ayahnya saat ia masih kecil. Dan Choi Sang Kyo adalah satu satunya orang selain dirinya dan ayahnya yang bisa memasuki rumah pohon itu.

Kunang kunang itu melayang layang diatas rumah pohon tersebut. Heechul menaiki tangga demi tangga dengan lihai. Saat ia mulai sampai di puncak kunang kunang itu masuk ke dalam melalui jendela rumah pohon sehingga Heechul dengan cepat masuk kedalam tempat kenangan itu.

Makhluk itu berputar putar teratur dia atas lantai, lokasi dimana ia tahu lantainya bisa dibuka dan menjadi tempat penyimpanan rahasia. Heechul membuka tempat itu dan menemukan kotak pink lucu berhiaskan Teddy Bear mini terelief di tutupnya.

Heechul membukanya dan menemukan banyak sketsa berantakan milik anak sekolah dasar. Milik Sang Kyo, tentu saja. Dan imajinasi masa kecilnya. Heechul menangkap gambar sebuah negri dimana lantainya terbuat dari awan dan akan terasa seperti kapas bila dipijak.

Heechul tersenyum, mengenang saat saat bersama Sang Kyo dalam dimensi ajaib gadis itu.

Pria itu lanjut membuka gambar selanjutnya. Dan sketsa kekanak kanakan itu dapat ia kenali sepenuhnya. Gadis bersayap, danau cermin, berjalan diatas air, bahkan kunang kunang dengan sebelah mata berkedip. Tetapi Heechul tersenyum kecil saat ia menemukan gambar sketsa rapi yang mungkin dibuat beberapa bulan terakhir. Sketsa itu menggambarkan dunia dimana Choi Sang Kyo, dan Kim Heechul berpelukan.

Heechul tersenyum mengetahui betapa gadis itu mencintainya, dan bersyukur karena gadis itu tahu bahwa ia mencintainya juga.

Dengan rapi diletakkannya semua dalam kotak pink itu, lalu ditutupnya benda itu dan dikembalikan ketempat semula. Biarlah beda itu aman disitu selamanya.

Heechul menoleh pada kunang kunang di sebelahnya. “Sampaikan salamku pada Sang Kyo…” gumamnya. Dan entah bagaimana ia tahu kalau kunang kunang itu mengerti. Kunang kunang itu mundur perlahan,menjauhi Heechul dan kembali ke dunia dimana ia seharusnya berada.

“Gomawo Chocci,” gumamnya. Dan ia bersumpah kunang kunang itu menjawabnya dengan kedipan.

FIN

nothin important to say just my deepest appology for the late update.

as always, RCL greatly appreciated xD enjoy~

 

20 thoughts on “Only When I Sleep

  1. Can’t stop crying. Kenapa harus sebagus ini T_______T. Aku bener-bener bisa bayangin dunia yang diimajinasikan sama Kyo dan ini bagus banget ;____;

  2. huaah, keren author .. Suka cerita’a , hehe ada lucu” juga ..
    Widihh keren ya dunia imajinasi .. Hehe :D
    Yaah tpi kasian sang kyo udah meninggal . :(

    Tpi gpp deh tetep bagus hehe :D

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s