The One I Love

The one i love… it’s you

author : nadia noviarty

Author pov

Sesosok yeoja berjalan menenteng gitarnya. Dia berhenti di bangku bawah pohon yang menghadap langsung kesungai Han.

Diletakkannya gitar itu dan dia membuka tas penutupnya. Tas gitar itu diletakkan terbuka di depannya. Dia mulai memainkan gitarnya.

han namjaga geudaereul saranghamnida

(aku hanya mencintai satu lelaki)

geu namjaneun yeolsimhi saranghamnida

(aku mencintainya sepenuh hati)

maeil geurimjacheoreom geudaereul ttaradanimyeo

(aku mengikutinya seperti bayangan setiap hari)

geu namjaneun useumyeo ulgo isseoyo

(laki-laki itu tertawa dan menangis)

 

eolmana eolmana deo neoreul

(berapa banyak lagi aku harus)

ireoke baraman bomyeo honja

(menatapmu sendirian)

i baram gateun sarang i geoji gateun sarang

(cinta ini datang seperti angin, seperti pengemis cinta ini)

gyesokhaeya nega nareul sarang hagenni

(jika aku terus seperti ini, akankah kau mencintaiku?)

 

jogeumman gakkai wa jogeumman

(datanglah sedikit lebih dekat)

hanbal dagagamyeon du bal domangganeun

(satu langkah lebih dekat tapi berlari dengan kedua kaki)

neol saranghaneun nan jigeumdo yeope isseo

(aku yang mencintaimu, sekarang disampingmu)

geu namjan umnida

(laki-laki itu yang datang) Hyun Bin – That Man

 

Prok prok prok

Suara tepuk tangan terdengar riuh. Yeoja itu tersenyum senang karena banyak yang menikmati nyanyiannya. Para penonton mendekat dan memasukkan sebagian uang mereka ke tas gitar itu.

“Gamsahamnida” dia membungkuk dan mengucapkan kata-kata itu berkali-kali.

Lama kelamaan, keramaian mulai berkurang karena pertunjukan sudah berakhir.

Dia mengambil tas gitar dan mengambil uang didalamnya kemudian meletakkannya kedalam saku.

Yeoja itu duduk menatap langit sambil memeluk gitarnya.

“Ga in-ah!!! Lee ga in!!!”

 

Ga in pov

“Ga in-ah!!! Lee ga in!!!” Siapa yang berteriak di tempat ramai seperti ini?

Aku menoleh ke arah suara berasal.

“Ya, changmin oppa, kenapa kau harus berteriak memanggilku?” protesku kepada namja yang sekarang ada didepanku.

“Ani ga in-ah. Sepertinya kau sedang tertidur, jadi aku ingin membangunkanmu.” Jawabnya polos sambil duduk disampingku.

Aku membuka mulutku, sedikit kaget dengan jawabannya. Apa dia bilang? Tidur?

“Tidur? Kenapa kau bisa berpikir kalau aku tidur?” tanyaku

“Hmmm… firasatku mengatakan bahwa kau sedang tidur. Kau tidak bergerak dan kepalamu menghadap keatas seperti kebiasaanmu saat sedang tidur. Benar bukan?” katanya

“YA OPPA!!! Kenapa kau bisa berkata seperti itu kepadaku?” protesku lagi. Aku mengubah posisi dudukku menjadi memunggunginya.

“Ga in-ah, apa dugaanku salah?” dia masih menanyakan hal ini? astaga…

“Aissh… salah seratus persen. Sangat salah.” Jawabku ketus. Aku kembali menghadapnya dan memanyunkan bibirku.

“Aaa… jadi aku salah ya?”

Aku hanya diam.

“Ga in-ah, ayo berangkat! Sekarang  sudah waktunya.” Ajak changmin oppa

“Kajja”

 

Kim Jongwoon pov

“Kita sudah sampai jongwoon-ah”

“Ne, gomawo hyung”

“Lakukanlah yang terbaik untuk show kali ini”

“Arasso”

“Aku akan menunggumu disini. Pergilah!”

“Aku pergi dulu hyung. Doakan aku”

Aku meninggalkannya sendirian karena sebentar lagi, show akan dimulai. Aku adalah penyanyi solo yang belum lama merintis karir tapi sudah tergolong pendatang baru yang cukup sukses. Mereka mengatakan bahwa aku memiliki suara khas yang sangat indah, jarang orang yang memiliki suara sepertiku.

Show kali ini banyak mendatangkan artis terkenal dan banyak penyanyi cafe yang cukup dikenal dan aku menjadi salah satu guest star di show kali ini.

Aku berada di backstage menunggu giliran tampil, kemudian mataku menangkap sesosok yeoja yang sepertinya aku pernah kenal di masa lalu. Tapi apakah benar dia orangnya?

Aku terus menatapnya. Dia berjalan melewatiku yang sedang duduk. Aku mendengar satu kata.

“Ga in-ah…”

Kata ini cukup membuatku bergerak meraih tangannya.

“Ga in-ah? Lee ga in?” kataku

“Nugu?” nampak ekspresi kebingungan diwajahnya.

“Dia adalah yesung, salah satu penyanyi solo pendatang baru yang langsung sukses itu. Kau tidak tahu?” jelas namja disampingnya.

Siapa namja itu?

“Ah, mianhae. Aku tidak tahu kalau kau orang yang bernama yesung. Mianhae, aku tidak tahu.” Jawabnya.

Aku menatapnya. Wajah cantiknya dulu kian bertambah. Rambutnya yang tidak terlalu panjang dan lurus itu menjuntai dengan indah. Meskipun warna kulitnya tak seperti orang korea kebanyakkan, tapi itu malah membuatnya nampak lebih cantik.

“Ga in-ah, kau lupa padaku?”

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” apa dia sudah melupakanku?

“Aku kim jongwoon. Kau ingat?” aku harap dia mengingat nama itu

“Kim jongwoon? Kau kim jongwoon?”

 

Ga in pov

“Kim jongwoon? Kau kim jongwoon?”

Benarkah dia itu kim jongwoon? Teman masa kecilku… sahabat baikku…

“Tentu saja. Kau lupa padaku? Tega sekali kau. Padahal aku sangat merindukanmu.”

“Hwaaaa… jongwoon-ah!!!” ucapku. Aku memeluknya dan dalam hitungan detik aku melepaskannya.

“Kau merindukanku?” tanyanya. Dia menatapku usil

“Ya! Tentu saja. Kita sudah lama tidak bertemu, bodoh” ucapku sambil memukul kepalanya

“YA! APPO!!! Kau berani memukul seorang artis hah?”

Reaksinya lucu sekali. Aku merindukan semua yang ada padanya.

Aku hanya tertawa, lama kelamaan, dia juga ikut tertawa denganku dan sesekali mengacak-acak rambutku.

***

Seusai show, dia mengajakku pergi.

“Benar kau tidak ada acara setelah ini?” tanyaku

“Ne. Aku tidak ada acara. Aku sudah mengatakan hal ini dengan hyung dan dia mengijinkannya.”

“Baiklah.” Jawabku sambil tersenyum

“Kajja”

Dia menarik tanganku menuju mobil hyundai berwarna hitam dan nampak sangat mewah. Aku hanya terperangah melihatnya.

“I.. ni…” aku menunjuk kearah mobil

“Waeyo? Naiklah. Ini mobilku, bukan milik orang lain. Tenang saja.” Dia membukakan pintu untukku dan tersenyum manis.

“Silahkan masuk nyonya!” ucapnya. Aku masuk dan menahan tawa karena dia menirukan gaya seorang pelayan yang biasanya membukakan pintu mobil.

Dengan segera, dia menuju ke kursi pengemudi.

“Kita mau kemana?” tanyaku

“Hmm… aku juga belum tahu kita akan kemana” jawabnya dengan wajah tanpa dosa

“MWO??!? Bagaimana bisa?”

“Aku hanya ingin mengajakmu pergi, tapi aku juga belum tahu ingin pergi kemana.”

Aku memandang kearah lain dan mengerucutkan bibir.

“Ayo kita ke sungai han!”

“Terserah kau saja”

 

Jongwoon pov

Kami duduk di salah satu bangku kosong disini. Tak lupa, aku mengenakan alat penyamaranku. Meskipun aku pendatang baru, tapi fansku sudah banyak. Mungkin karena wajahku yang tampan ini. Hahaha…

“Cita-citamu sejak dulu sudah terwujud. Chukae…” kata yeoja yang saat ini duduk disampingku. Dia tersenyum manis.

“Bukankah kau yang mendorongku untuk menjadi seorang penyanyi?” aku masih ingat jelas bahwa dia yang memintaku untuk menjadi penyanyi.

Flash back

“Jongwoon oppa” panggil seorang yeoja yang menginjak remaja sambil menghampiri seorang namja yang lebih tua darinya.

Namja itu tersenyum menatap yeoja yang sekarang berada di sampingnya.

“Oppa, menyanyilah untukku!”

Kemudian namja itu menyanyi. Yeoja itu menutup mata dan tersenyum manis.

“Bagaimana? Kau senang?” kata namja itu setelah lagu berakhir

“Tentu saja. Oppa, jadilah penyanyi. Pasti menyenangkan bila orang lain juga mengetahui tentang suaramu ini.”

Namja itu diam dan menatap yeoja disampingnya.

“Baiklah, tapi….”

Flash back end

Aku tersenyum mengingat hal ini. Beberapa minggu setelah itu, dia memutuskan untuk memanggilku tanpa embel-embel oppa meskipun aku lebih tua darinya.

“Benarkah?” MWO??!? Apa dia tidak ingat?

“Kau lupa?” tanyaku

“Sepertinya iya. Bukankah kau tahu kalau aku memiliki ingatan yang buruk”

Benar juga. Dia ini adalah seorang pelupa.

“Sudahlah. Sepertinya kau tidak ingat. Lalu, bagaimana kau bisa sampai di seoul?” tanyaku. Dulu kami sama-sama dari cheonan.

“Aku dan sungmin oppa memilih untuk pergi ke seoul. Eomma dan appa tetap di cheonan. Sekarang sungmin oppa sedang tidak di seoul, jadi aku sendirian.”

“Kau sendirian? Tinggallah dirumahku.” Tawarku. Aku khawatir dengannya.

“Tenang saja, aku bisa jaga diri.” Katanya sambil tersenyum, tapi aku tetap merasa khawatir.

“Lalu, bagaimana kau bisa muncul di show tadi?” tanyaku

“Aku juga jadi guest star, tapi bukan guest star yang spesial. Aku hanya penyanyi cafe.”

“Kau juga menjadi penyanyi?” aku senang saat melihatnya menyanyi dulu.

“Ne. Bukankah kau tahu kalau aku suka musik? Semakin lama, aku juga menyukai menyanyi. Rasanya menyenangkan.”

“Bisakah aku mendengarnya sekarang?” pintaku

“Jika ada waktu luang, datanglah ke cafe.

“Pasti”

 

Ga in pov

Tiba-tiba terdengar lagu it has to be you dan kemudian jongwoon merogoh saku celananya. Ternyata suara itu berasal dari handphonenya.

“Yeoboseo”

Aku terdiam. Tidak ingin mengganggunya.

“Aaa… arasso. Aku akan segera kesana”

“Ga in-ah, aku harus segera pergi. Mianhae, tidak bisa lebih lama lagi bersamamu. Padahal aku masih ingin mengobrol denganmu.”

“Sepertinya kau lah yang sangat merindukanku” godaku

“Ya! Kau tidak merindukanku? Apakah salah jika merindukan sahabat lama yang bertahun-tahun tidak berjumpa?”

“Bukankah kita sekarang ada di kota yang sama. Kita masih bisa bertemu lain waktu. Pergilah! Kau itu orang sibuk. Pergi!”

“Kau mengusirku? Kejam sekali” dia memanyunkan bibirnya

“Hahahaha… kita pasti bisa bertemu lagi jongwoon-ah. Bukankah kau akan melihatku tampil? Jika kau ada waktu luang, hubungi aku, ara?”

“Arasso. Aku pergi dulu. Ayo aku antar sampai rumahmu!”

“Tidak usah. Kau pergilah. Aku masih bisa naik bus. Tenang saja”

“Ga in-ah aku pergi.”

Aku tersenyum memandangnya mulai menjauh.

***

Beberapa hari setelah pertemuan itu, kami belum saling bertemu kembali namun saling memberi kabar melalui pesan. Akhir pekan ini, kami berencana bertemu kembali di sungai han.

“Ga in-ah, kau mau kemana?” tanya changmin oppa kepadaku. Aku memang sedang di cafe sekarang. Meskipun aku tidak ada jadwal menyanyi, aku tetap suka mampir kesini kecuali satu hari khusus. Tempatnya sangat nyaman.

“Aku akan bertemu dengan jongwoon. Hari ini bukan jadwal menyanyiku kan?” tanyaku

“Hari ini kyuhyun yang akan menyanyi. Boleh aku bertanya satu hal?”

“Apa oppa?” kenapa wajahnya serius sekali? Apa yang akan dia tanyakan?

“Apa hubunganmu dengannya?” ternyata dia menanyakan hal itu.

“Dia sahabatku oppa. Kami adalah tetangga di cheonan. Kenapa oppa?”

“Hanya ingin tahu” katanya sambil tersenyum. Aneh sekali.

“Oppa, aku pergi dulu”

 

Author pov

Ga in segera menuju ke bangku yang masih kosong. Dia duduk dan meletakkan gitarnya. Dia memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu yang dinyanyikannya dengan cara berdehem.

Tak lama kemudian, seorang namja datang menghampirinya.

“Sudah lama menunggu?”

Gadis itu mendongak menatap namja itu.

“Jongwoon-ah, kau sudah datang. Aku baru saja sampai”

Jongwoon duduk disamping ga in.

“Sudah berapa hari kita tidak bertemu?” kata jongwoon

“Baru beberapa hari. Kita bahkan pernah tidak bertemu beberapa tahun kan?” sahut ga in sambil tersenyum

Jongwoon membalas senyumannya.

Mereka mengobrol lama. Terkadang salah satu dari mereka memanyunkan bibir dan yang satunya menertawakan. Terkadang nampak serius kemudian suara tawa terdengar.

Tiba-tiba suara handphone membuat mereka harus menghentikan obrolan sementara. Ga in meraih handphonenya.

“Yeoboseo”

“Aaa.. changmin oppa.”

“Sekarang? Baiklah”

Jongwoon mengerutkan kening.

“Siapa?”

“Changmin oppa”

“Siapa dia?”

“Dia sama sepertiku. Dia juga penyanyi”

Wajah sebal nampak di wajah jongwoon.

“Sepertinya dia dekat denganmu”

“Tentu saja. Kami sering berduet. Dia juga sering menemaniku jika aku kesepian karena sungmin oppa tidak disini”

“Aissh… benarkah?”

“Ya! Kenapa dengan wajahmu ini? kau marah?” tanya ga in

“Tentu saja. Posisiku digantikan olehnya” aku jongwoon

“Hahaha… tenang saja. Sekarang kita sudah bertemu dan posisimu tidak akan pernah terganti. Kau tetap sahabat terbaikku”

Jongwoon memanyunkan bibirnya. Kurang puas dengan jawaban ga in.

“Kau juga memanggilnya oppa. Kenapa kau tidak mau memanggilku oppa?” protes jongwoon

“Karena aku malas memanggilmu oppa. Aku pergi dulu. Kapan-kapan kita bertemu lagi” kata ga in sambil membereskan gitarnya dan kemudian pergi meninggalkan jongwoon.

Jongwoon hanya mendesah menahan kesal.

***

Sesampainya di cafe, dia langsung menghampiri changmin.

“Oppa, ada apa?” tanya ga in

“Kau berduet dengan kyuhyun sekarang. Beberapa dari tamu yang datang, meminta lagu duet” jelas changmin

“Baiklah”

 

Yesung pov

Siapa dia? Sepertinya dekat sekali dengan ga in.

Pikiranku masih tetap melayang saat aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur.

Tunggu… apa aku cemburu?

***

Satu minggu kemudian, ternyata kami akan bertemu kembali di show yang sama seperti waktu pertama kali bertemu dengannya. Aku menunggunya di backstage.

“Jongwoon-ah!!!” panggilnya. Aku tersenyum. Kemudian senyumku berubah ketika mengetahui dia datang bersama seorang namja. Apakah dia yang bernama changmin? Namja itu tinggi dan dia sangat tampan. Aku yakin para yeoja pasti sangat menyukainya. Apakah ga in juga menyukainya?

Aku dan ga in berpelukan sebentar.

Aku memperhatikan namja yang sekarang berada disampingnya. Sepertinya ga in memperhatikan arah pandangku.

“Aa… jongwoon-ah, dia changmin oppa. Oppa, kau sudah mengenal dia kan?”

“Senang bertemu denganmu. Kau sahabat ga in kan?” katanya. Aku merasakan ada penekanan kata ‘sahabat’ saat dia berbicara.

Aku hanya tersenyum

“Jadi kau yang bernama changmin” kataku pelan

Dia hanya tersenyum dan aku tidak menyukai senyumnya itu.

“Jongwoon-ah, sekarang giliranmu” kata salah satu panitia acara

Aku berjalan meninggalkan mereka berdua tanpa kata.

***

Setelah giliranku selesai, aku langsung kembali ke backstage. Aku melihatnya disana. Kali ini dia sendirian.

“Kau keren sekali. Akhirnya aku bisa melihatmu tampil secara langsung”

Aku tersenyum mendengar kata-katanya.

“Jongwoon hyung!!!” panggil seseorang

“Ya! Wookie” ternyata ryeowook yang memanggilku. Dia sudah seperti dongsaengku sendiri

“Selamat atas penampilan hebatmu tadi. Keren sekali hyung” pujinya

“Gomawo”

“Hyung, dia yeojachingu-mu?”

“Bukan. Dia sahabatku”

 

Ga in pov

“Hyung, dia yeojachingu-mu?”

“Bukan. Dia sahabatku”

DEG

Kenapa rasanya sakit sekali mendengarnya berkata seperti itu? Kenapa denganku? Bukankah itu memang kenyataan? Aku memang sahabatnya. Tapi kenapa rasanya sakit? Kenapa?

“Hyung, dia itu cantik. Kenapa tak kau jadikan saja sebagai yeojachingu-mu?”

“Ya! Wookie. Kenapa kau mengatakan hal ini hah?”

“Aku hanya ingin mengatakan apa yang ingin aku katakan. Kalian cocok sekali. Kalau kau tidak mau, berikan dia padaku.”

“Ya! Wookie, kau mau mati hah?” jongwoon menatap namja yang dipanggil wookie itu. Wajahnya langsung berubah.

“Hyu… hyung… a… aku… hanya… bercanda. Aku… pergi dulu… hyung” kata namja itu lari terbirit-birit.

Hahaha… orang ini hebat juga. Hanya dengan tatapan, sudah bisa mengusir orang.

“Siapa dia?” tanyaku

“Ryeowook”

“Aaa… dia tampan juga. Berapa usianya?”

Dia menoleh kepadaku dan menatapku tajam. Omo… dia menakutkan.

“Ya!!! Kenapa… kau… menatapku… s… seperti… itu?” aku tergagap

Dia mendekatkan wajahnya.

“Kau tertarik dengannya?” tanyanya

“A… ani”

“Katakan sekali lagi”

“Aku… tidak tertarik… dengannya”

Aura menyeramkan itu tiba-tiba hilang dan berganti dengan senyumnya yang menawan. Dia aneh sekali.

“Baguslah” katanya yang kemudian mulai menjauhkan wajahnya keposisi semula dengan senyum yang masih menempel.

***

Berkat kata-kata kemarin, setiap kali aku melihatnya bersama seorang yeoja di televisi, moodku langsung berubah. Menyebalkan. Kenapa jadi begini? Apakah aku cemburu? Apakah aku menyukainya?

***

Aku sedang dalam perjalanan menuju ke cafe. Aku melihat seorang namja yang ku kenal bersama seorang yeoja cantik. Dia kim jongwoon. Aku melihatnya tersenyum manis kepada yeoja itu. Dia memperlihatkan senyum manis yang biasanya ditunjukan kepadaku.

Hatiku sakit. Aku menyadari satu hal. Sepertinya aku menyukainya. Sahabatku…

Kami adalah sahabat. Dan sekarang aku menginginkan lebih. Bolehkah?

 

Jongwoon pov

Kali ini, aku akan pergi ke cafe. Aku ingin melihatnya. Aku ingin mendengarnya bernyanyi.

Aku menuju ke sebuah cafe. Cafe tempat dimana dia bekerja sebagai penyanyi. Aku duduk di kursi yang sedikit tersembunyi sehingga dia tidak bisa melihatku dengan jelas tapi aku bisa melihatnya.

Dia sedang di panggung, bersiap untuk bernyanyi. Dia bersama dengan changmin. Sepertinya mereka akan berduet.

“Annyeong haseyo”

Perhatian para pengunjung tamu kemudian terpusat ke panggung.

“Aku ingin menyanyikan lagu tentang perasaanku sendiri. Semoga kalian suka”

Perasaannya? Untuk siapa?

Musik mulai mengalun lembut.

neo mu man i pyeon hae jyeot na bwa

(kita pasti terlalu  nyaman)

oo rin neo mu chin hae jyeot na bwa

(kita pasti terlalu dekat)

na eui pum e han gyeol nun mul heul lyeo do

(saat kau menangis di bahuku)

na reul chin gu ro man saeng gak ha neun neo e ge jak eun bi mil i it sseo

(aku punya rahasia darimu, yang hanya berpikir tentang aku sebagai teman)

 

na reul yeo ja ro an bo neun ji

(bukankah kau melihatku sebagai seorang gadis?)

nae ga neo mu pyeon hae jyeot neun ji

(apakah kau terlalu nyaman bersamaku?)

neo eui eo ggae e nun mul dak geul dae

(saat aku menghapus air mataku di bahumu)

na reul chin gu ro man saeng gak ha neun neo e ge jak eun bi mil i it sseo

(aku punya rahasia darimu, yang hanya berpikir tentang aku sebagai teman)

 

ha ru man dan ha ru man

(satu hari, hanya satu hari)

neo eui chin gu a nin neo eui nam ja ro man nat seu myeon

(aku ingin bertemu denganmu sebagai lelakimu bukan temanmu)

sa shil oo jeong gat teun geon nae gen gwan shim eob seo

(sejujurnya, aku tidak tertarik pada persahabatan)

Just for one day

(hanya untuk satu hari)

 

sa rang bo da gip eun oo jeong i nam a

(persahabatan datang lebih dalam daripada cinta)

gam chul su bak ge eob neun nae sa rang eul

(cintaku yang harus aku sembunyikan)

neo eui chin gu ra neun i reum eu ro maem dol da ji chyeo

(aku lelah berada didalam lingkaran dengan nama persahabatan)

neo reul no a jul gga bwa du ryeo wo

(aku takut mungkin aku membiarkanmu pergi)

 

neo eui yeop e an jeul ddae ma da ni gyeot e man but eo it da myeo

(ketika aku duduk disampingmu, teman-teman berkata aku terjebak olehmu)

chin gu deul e eui shim ha neun nun bit do

(mereka melirik dengan tatapan curiga)

cheom en nat seol eot ji man sol jik hi na e gen cham gi bbeum i eot sseo

(itu cukup aneh pada awalnya, tapi sejujurnya, itu kesenangan terdalamku)

 

neo eui gyeot e an jeul ddae ma da

(setiap kali aku duduk disampingmu)

neo mu dul i eo ul rin da myeo chin gu deul eui jang nan seu reon nun bit do

(teman-temanku mengatakan kita sangat cocok, dengan permainan lirikan mereka)

sa shil bul an haet ji man na e gen jak eun ba raem i eot sseo

(sejujurnya, itu cukup tidak mudah, tapi itu adalah harapan kecilku)

 

ha ru man (ha ru man) dan ha ru man (dan ha ru man)

(satu hari, hanya satu hari)

neo eui chin gu a nin neo eui yeo ja ro man nat seu myeon

(aku ingin bertemu denganmu sebagai gadismu bukan temanmu)

sa shil oo jeong gat teun geon nae gen gwan shim eob seo

(sejujurnya, aku tidak tertarik pada persahabatan)

Just for one day

(hanya untuk satu hari)

 

sa rang bo da gip eun oo jeong i nam a

(persahabatan datang lebih dalam daripada cinta)

gam chul su bak ge eob neun nae sa rang eul

(cintaku yang harus aku sembunyikan)

neo eui chin gu ra neun i reum eu ro maem dol da ji chyeo

(aku lelah berada didalam lingkaran dengan nama persahabatan)

neo reul no a jul gga bwa du ryeo wo

(aku takut mungkin aku membiarkanmu pergi)

 

yeon in a nin chin gu sa i ro nam eul gga bwa mam e eob neun mal deul man haet ji

(aku mengucapkan kata-kata yang bukan aku maksud karena kita mungkin dikenal sebagai teman, bukan kekasih)

ha ru man nae ge bil lyeo jwo neo eui mam gga ji mo du da

(berikan aku kesempatan membawa hatimu satu hari saja)

All I want is just to be with you

(semua yang aku ingin hanyalah bersamamu)

 

sa rang bo da gip eun oo jeong i nam a

(persahabatan datang lebih dalam daripada cinta)

ha ru ra do sa rang hal su eob so deo

(jika aku tidak bisa mencintaimu dalam satu hari)

neo eui chin gu ra neun i reum eu ro maem dol da ji chyeo

(aku lelah berada didalam lingkaran dengan nama persahabatan)

 

ham gge hal sun it get ji man

(meskipun aku yakin kita akan selalu bersama)

pyeong saeng neo reul sok il su bak ge eob seo

(aku tidak punya pilihan selain membohongimu selamannya)

neo reul il ge dwel gga bwa du ryeo wo

(karena aku takut kehilanganmu) The Grace feat Kyuhyun (Suju) – Just for one day

 

Author pov

Jongwoon terpaku menatap ga in. Setelah mereka selesai menyanyi, seorang namja menggantikan mereka berada di panggung.

“Aissh… Kemana mereka pergi?”

Jongwoon mencari ga in dan changmin.

Sesampainya diluar cafe, dia melihat ga in yang tangannya digenggam erat oleh changmin. Raut muka jongwoon berubah.

Changmin menarik tangan ga in menuju taman yang ada di cafe dan jongwoon mengamati mereka dengan seksama dan mengikuti mereka, berusaha untuk mencari tahu apa yang akan mereka lakukan.

“Oppa, ada apa? Kenapa kau menarikku?” tanya ga in kepada changmin

“Kau tahu kenapa aku mau menyanyikan lagu itu bersamamu? Karena aku ingin menyanyikan lagu itu untukmu. Lagu itu mewakili perasaanku kepadamu” aku changmin

Ga in hanya terdiam menatap wajah serius changmin kemudian dia menatap kearah lain. Menghindari tatapan mata changmin.

Changmin mulai sebal karena ga in tidak mau menatapnya. Dia memegang dagu ga in dan mengalihkan pandangan ga in ke wajahnya.

Mereka bertatapan lama, hanya saling menatap.

Yesung mulai gerah dengan apa yang dilihatnya. Dia berdiri dan memutuskan untuk meninggalkan tempat itu segera.

Changmin mulai mendekatkan wajahnya.

“Oppa, jangan lakukan itu padaku” bisik ga in

Satu kata itu membuat changmin berhenti bergerak.

“Oppa, aku menyayangimu sebagai kakak. Kau yang menemaniku saat aku kesepian karena sungmin-oppa. Kau adalah kakak yang aku sayangi sama seperti sungmin-oppa. Jadi, aku mohon jangan lakukan ini padaku”

Changmin mengembalikan wajahnya keposisi semula. Dia tersenyum pahit.

“Kau menyukainya?”

“Siapa yang kau maksud, oppa?”

“Si yesung itu. Kau menyukainya kan?”

Ga in tidak menjawab. Dia menunduk. Changmin bisa melihat ada rona merah diwajah ga in meskipun dia menunduk.

Changmin kemudian menarik ga in kedalam pelukkannya.

“Aku tahu kau menyukainya, tapi aku berusaha mengingkari perasaan itu. Mianhae”

Hening sejenak.

“Aku akan menjadi kakak yang lebih baik untukmu”

Ga in mendongak menatap changmin yang jauh lebih tinggi darinya. Dia tersenyum.

“Gomawo oppa” ga in membalas pelukan changmin.

Dari kejauhan, sepasang mata menatap mereka tajam. Ternyata jongwoon waktu itu memutuskan untuk kembali dan mendapati mereka sedang berpelukkan. Dan dia memutuskan untuk pergi dan tak akan kembali lagi.

***

Setelah melihat kejadian itu, sikap jongwoon yang aneh berubah menjadi lebih aneh. Setiap kegiatan yang dia lakukan, pasti akan mengingatkannya kepada ga in dan changmin.

Handphone jongwoon berbunyi. Panggilan dari nomor yang tidak ada di kontak jongwoon.

“Yeoboseo”

“Ini changmin. Aku ingin bertemu denganmu” ujar suara dari ujung telepon

 

Jongwoon pov

“Ini changmin”

Changmin? Untuk apa dia meneleponku? Belum puaskah dia mendapatkan apa yang dia mau? Belum puas dia mendapatkan ga in?

“Untuk apa kau meneleponku?” tanyaku ketus

“Kita harus bicara”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan”

“Aku harus mengatakan sesuatu kepadamu”

“Katakan sekarang!” paksaku

“Kita harus bertemu”

Sial! Menyebalkan sekali orang ini.

“Baiklah”

“Temui aku di cafe. Hari ini ga in tidak ada disini. Kita bisa bebas berbicara”

“Aku akan segera kesana”

***

Aku melihatnya duduk disalah satu kursi tamu. Dia menatap ke arah panggung dimana seorang namja sedang menyanyikan sebuah lagu dengan merdunya.

Aku menghampirinya.

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Ikut aku”

Dia mengajakku ketaman kemarin. Dia ingin menceritakan rincian kisah cinta mereka? Tanganku rasanya gatal ingin segera menghajarnya.

“Kau menyukai ga in?”

Aku meliriknya.

“Untuk apa kau tanyakan itu?”

“Dia juga menyukaimu”

Aku benar-benar terkejut mendengar apa yang dia katakan. Jadi, dia menyukaiku? Apakah lagu kemarin dia tujukan kepadaku?

“Benarkah?”

“Aku tidak berbohong kali ini. Aku berbicara sebagai orang yang dihargainya sebagai kakak. Jika kau mencintainya, kejar dia. Jika tidak, lepaskan dia dan pergilah menjauh.”

“Bisa bantu aku?”

 

Ga in pov

Changmin oppa memintaku datang ke cafe. Sepertinya aku memang tidak ada jadwal menyanyi, tapi ini hari selasa. Aku tidak pernah mendapat jadwal menyanyi hari selasa, dan aku belum pernah datang ke cafe hari selasa. Terdengar aneh memang, tapi itulah kenyataannya.

Aku mulai memasuki cafe. Kenapa sepi sekali?

Tiba-tiba lampu di cafe padam dan lampu utama di panggung menyala. Aku melihat sosok namja disana. Aku hanya melihat punggungnya saja. Kemudian dia berbalik. Dia… jongwoon…

Terdengar musik. Dia mulai menyanyi.

manil geudereul jinachyogatdamyon

(mungkin jika aku punya lebih darimu)

iron nunmul nan ama mollasseulgoya

(mungkin aku tidak akan tahu seperti apa air mata)

saranghebwatdon gaseumirajiman

(hatiku pernah mencintai)

ibyolmankeumeun mudyojijiana

(tapi perpisahan membuatnya tak tenang lagi)

dasi oji an-getjyo michildeut sarang haneun il

(satu-satunya yang aku cintai tidak akan kembali lagi)

noro gudojin ne gaseumeun

(hatiku hanya setia untukmu)

gidarimi jonbuin-gabwa

(menunggu adalah yang bisa kulakukan)

 

noreul saranghago bamse jiugo

(aku mencintaimu dan sepanjang malam, aku berusaha menghapusmu dari pikiranku)

ape dugo dagasol su opgo

(kau didepanku, namun aku tidak bisa menggapaimu)

nol mosijoso niga geuriwoso

(aku tidak bisa melupakanmu, aku merindukanmu)

sumeul swineun-ge jugeumgata

(apa yang aku hirup adalah seperti kematian)

cham duryowojyo

(aku teralu takut)

 

Musik berhenti. Dia mendekatiku. Membawa kotak dan dia membukanya. Cincin emas putih dengan berlian terlihat. Cincin itu cantik sekali.

“Ga in-ah, maukah kau menjadi pasangan duet hidupku?”

DEG

Apakah aku tidak salah dengar? Benarkah dia mengatakan itu?

“Apa telingaku sedang tidak normal?” kataku

“Ga in-ah, kenapa kau merusak suasana lamaranku ini?” katanya pelan.

Tunggu, ‘lamaran’? dia melamarku? Aku tidak bermimpi kan?

Aku memberanikan diri untuk berkata sesuatu

“Aku bersedia menjadi pasangan duetmu. Berikan microphone-nya!”

“Jawabanmu benar-benar tidak romantis ga in-ah” katanya sambil memakaikanku cincin dan memberiku microphone.

“Gomawo sudah menerimaku” katanya sambil mengecup pipiku pelan.

Musik kembali terdengar, aku melihat sosok changmin oppa disana. Jadi dia ikut membantu? Gomawo oppa…

manil geudega ne harul bondamyon

(jika kau melihat kedalam pikiranku)

maeumi apa gogel ttolgulji molla

(aku akan menundukan kepalaku karena hatiku sangat terluka)

myotbon-ye gyejol gochigo gochyoya

(berapa banyak musim yang aku lewati)

seulpeun kkumeso jamkkelsu itnayo

(bagaimana aku bisa bangun dari mimpi yang menyedihkan ini?)

das irorireun opgetjyo

(ini tidak akan terjadi lagi)

bogosipo nunmul jitneun il

(untung menangis karena kau mencintaimu)

gobi manajin ne gaseumeun dareun sarang mot hal got gata

(hatiku yang takut, tidak mau jatuh cinta lagi)
noreul saranghago bamse jiugo

(aku mencintaimu dan sepanjang malam, aku berusaha menghapusmu dari pikiranku)

ape dugo dagasol su opgo

(kau didepanku, namun aku tidak bisa menggapaimu)

nol mosijoso niga geuriwoso

(aku tidak bisa melupakanmu, aku merindukanmu)

sumeul swineun-ge jugeumgata

(apa yang aku hirup adalah seperti kematian)

duryowojyo
(aku teralu takut)

 

gidarilge noryokhebolkke

(aku akan menunggu, aku akan mencoba)

nal wihe ttonagandan mal hajima

(jangan katakan kau meninggalkanku demi aku)

saranghandamyon gateun mamiramyon

(jika kau mencintaiku, jika kita berbagi pikiran yang sama)

gyote issojwo ne simjangi ttwilttekkaji

(tetaplah dihatiku sampai berdetak) Yesung feat Luna – And I Love You

 

Lagu berakhir. Dia memelukku erat. Jongwoon kemudian melepaskan pelukkannya. Kemudian wajahnya mendekat dan tak lama kemudian bibirnya menyentuh bibirku lembut.

Flash back

“Jongwoon oppa” panggil seorang yeoja yang menginjak remaja sambil menghampiri seorang namja yang lebih tua darinya.

Namja itu tersenyum menatap yeoja yang sekarang berada di sampingnya.

“Oppa, menyanyilah untukku!”

Kemudian namja itu menyanyi. Yeoja itu menutup mata dan tersenyum manis.

“Bagaimana? Kau senang?” kata namja itu setelah lagu berakhir

“Tentu saja. Oppa, jadilah penyanyi. Pasti menyenangkan bila orang lain juga mengetahui tentang suaramu ini.”

Namja itu diam dan menatap yeoja disampingnya.

“Baiklah, tapi kau harus janji padaku”

“Janji apa oppa?”

“Berjanjilah kau untuk bersamaku selamanya. Kau harus menjadi pasangan duet dihidupku sampai kita mati” kata namja itu.

Yeoja itu tersenyum

“Aku janji”

Flash back end

 

18 thoughts on “The One I Love

  1. Aigo…romantis sekali…! Plgi pas ga in – yesung nyanyi ‘and i love you’ beuh merindinglah.. Daebak author

  2. sweeeetttttt
    romantis
    crta ttg persahabatan jadi cinta pasti sll bikin galau kekekeke
    ngebayangin yeppa nyanyi didepan aq
    wuaaaaa pasti qu bakal senyum truz
    author keren neh^^

  3. bagus bagus ..
    bener,, sifatnya udah aneh tambah jadi aneh lagi ..
    hahahaha ..
    aq suka si yesung disiniii ,,
    gimana gituuu(?) ?
    wuiih,, langsung ngelamar aja ?!!
    suka suka

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s