I LOVE YOU [PART 1]

Author: SofianiTaengo

Cast:

– Cho Kyuhyun

– Choi Minji

– lee Donghae

– all Suju member

Genre: Friendship, Love

Buat yang belum liat Prolougnya ini dia

Prolog ]

Part 1

 Choi Minji POV

“Minji ah! ppali!” teriak eomma dari bawah. Aku yang sedang merapikan rambutku dan memakai pelembap bibir mendecak kesal. Perlukah eomma berteriak sekencang itu. akukan tidak tuli.

“ne!” teriakku tidak kalah keras. Lalu aku mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Ini dia. Ini pasti dia. Lalu beberapa detik kemudian pintu di buka lebar dengan keras. Seorang namja berdiri sambil memandangku. Dia memegang tas dipundaknya. Aku yang sedang mengikat rambutku ke belakang menatapnya.

“mwo?” tanyaku santai dan memasukan beberapa buku ke dalam tas.

“dangsin…lama sekali! apa kau tidak tau jam berapa ini?” tanya namja itu marah dan keras sekali suaranya. Padahal jarak kami tidak lebih dari 3 meter.

“yak! Suaramu itu kecilkan sedikit babo! Berisik sekali!” ujarku sambil mengambil hp dan tasku lalu mendorongnya keluar dan turun.

“kau tidak tau ini jam berapa?” tanyanya sambil mengapitku. Hal yang biasa dia lakukan kalau berjalan disampingku. Dan aku tidak pernah protes. Dia bilang dia takut aku hilang atau tersesat. Alasan yang sungguh bodoh.

“ne ajusshi. Ppali! Siwon oppa sudah menunggu kita!” ujarku keras dan menariknya menuju keluar.

“Kau tidak makan dulu Minji,Kyu?” tanya eomma pada kami berdua.

“Ani!” teriak kami serentak.

“Pergi dulu eomma! Annyeong!” ujarku dari luar dan segera masuk ke dalam mobil yang dikendarai Siwon oppa.

“mianhae menunggu lama oppa.” Ujarku sopan.

“aish! Kapan sih kalian akan bertindak cepat? Kajja!” ujarnya sambil memasang sabuk pengaman. Aku memasang sabuk pengamanku dan memeriksa barang-barangku. Tidak ada yang ketinggalan. Syukurlah. Hari ini adalah hari pertama masuk ke SMA yang baru. Namaku Choi MinJi. Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Dan saat ini yang sedang mengendarai mobil adalah oppa kandungku. Choi Siwon,salah satu member boyband ternama Super Junior-05. Appaku adalah seorang bisnisman yang sukses. Beliau pemilik Hyundai Departmentstore. Supermarket terbesar di korea. Dan beliau juga mempunyai saham di salah satu brand ternama SPAO dan Ellesse. Eomma hanya ibu rumah tangga biasa. Dulu beliau adalah model, tapi sekarang tidak setelah beliau mempunyai anak. Dan anak yang ada di sebelahku yang sedang bermain PSP ini adalah Cho Kyuhyun. Dia adalah teman masa kecilku sejak kami berumur 5 tahun. Dia jahil. Sangat! Dan gila games! Dia selalu saja memaksaku bertanding games padahal aku sama sekali tidak bisa. Eomma selalu memarahinya karena membawaku dalam pergaulan lelaki. Tapi dia tidak mau mendengar sama sekali dan suka diam-diam mengajakku main games.

“ngomong-ngomong mulai sekarang kalian akan masuk ke SMA. Apa kalian akan sekelas nanti?” tanya siwon oppa memecah keheningan.

“aku tidak tau. Pembagian kelas diumumkan hari ini. di pasangan di papan pengumuman sekolah.” Ujarku. Kyuhyun hanya diam sambil sibuk bermain psp. Aish! Dia ini! padahal sekarang umurnya sudah 17 tahun. Masa dia tidak bisa melepaskan pspnya untuk sekali saja.

“Semoga saja kalian sekelas.” Ujar siwon oppa.

“waeyo?” tanyaku heran.

“Kalau ada Kyu aku merasa aman memasukanmu ke sekolah biasa seperti ini. masalahnya kau ditawari masuk ke SMA yang elite tidak mau.”

“Sekolah elite? Shireo! Apa itu, siswinya benar-benar sombong. Padahal isi otak mereka tidak ada apa-apanya.” Ujarku sinis.

“jangan bilang begitu. tau darimana kau mereka bodoh?”

“Di komik. Biasanya begitu. wanita sombong kaya dan centil biasanya akan bersikap sok padahal otak mereka sebesar otak ayam.” Ujarku. Kyuhyun yang mendengarkan tertawa kecil.

“kau masih hidup? Kukira sudah tenggelam bersama PSPmu itu.” ujarku sinis. Dia hanya menatapku sinis dan kembali bermain. Saat sampai di depan gerbang, kami langsung turun. Aku harus menarik Kyuhyun keras karena dia susah bangun dari pspnya itu.

“Joh-a. Semoga hari kalian menyenangkan! Annyeong!” ujar Siwon oppa melesat pergi. aku melambaikan tanganku dan menatap Kyuhyun yang masih memelototi pspnya itu.

“kasihan.” Ujarku pelan.

“mwo?” tanyanya.

“yeoja chingumu nanti. Mereka diduakan oleh pspmu itu. kalau aku jadi pacarmu sudah aku buang pspmu jauh-jauh.” Ujarku mulai berjalan.

“jangan harap! Kau bukan tipeku.”

“memangnya kau tipeku? Maniak games sepertimu? Aku bisa benar-benar gila berpacaran denganmu.” Ujarku bohong. Sebenarnya aku memiliki perasaan sedikit padanya waktu kecil. Dan entah kenapa seiring kami tumbuh perasaan itu makin meluap-luap. Aku jadi benar-benar menyukainya. Aku berjalan sambil memegangi tasnya. Takut-takut dia menabrak tiang gara-gara salah jalan. Lalu menggiringnya ke papan pengumuman. Selama kami berjalan beberapa yeoja melihat kyuhyun dengan air liur menetes. Kyuhyun memang tampan. Ralat. Sangat tampan! Sayangnya badannya sangat kurus. Kalau saja dia segiat siwon oppa. Mungkin badannya bisa menjadi kotak-kotak.

“hei kyu.” Bisikku.

“mwo?”

“kau sadar tidak sih? Semua yeoja memperhatikanmu.” Ujarku sambil melirik ke arah sunbae-sunbaeku yang melirik kyuhyun dengan pandangan mau pingsan.

“jinjjayo? Kalau begitu aku sudah terkenal di hari pertama.” Ujarnya mematikan pspnya dan memasukannya dalam tas.

“jangan sampai.”

“waeyo? Kau tidak senang kalau temanmu ini terkenal? Ah! kau takut kehilanganku ya?” tanyanya percaya diri sambil merangkulku. Aku menatapnya sinis.

“aniyo. Nanti sikap sok selebmu akan kambuh lagi. Dan itu amat sangat menyebalkan!” ujarku dingin. Dia menjitak kepalaku pelan.

“sembarangan! Aku memang akan menjadi seleb! Aku mau mengikuti audisi SM 3 hari lagi!” ujarnya. Aku menatapnya.

“jinjja?! Kalau kau masuk jangan lupa temanmu ini. apalagi kalau kau sudah terkenal. Awas saja kalau kau lupa.” Ancamku. Dia hanya nyengir dan melangkah menuju papan yang dipadati anak-anak. Aku menatap keatas. Tidak terlihat apa-apa. Aku memang pendek. Paling sengsara kalau ada yang seperti ininih.

“tidak terlihat.” Ujarku pelan.

“dasar pendek. Awas! Biar aku yang lihat.” Ujarnya sambil menerobos kerumunan. Bisa aku lihat beberapa yeoja terpana menatapnya. Cih! Norak sekali. memangnya kyuhyun artis apa? Beberapa saat kemudian dia keluar dengan tatapan santai.

“sayangnya kita tidak sekelas.” Ujarnya santai. Aku melotot.

“mworago?!” ujarku keras. Dia hanya berjalan mendahuluiku.

“aku duluan. Kelasmu kelas 1-3.” Ujarnya. Aku menatap punggungnya yang menghilang dibalik kerumunan yeoja. Aku menghembuskan nafas. Padahal aku sudah benar-benar berharap akan terus bersamanya. Sayang sekali. saat aku sedang berjalan lunglai menuju kelasku aku menabrak seseorang yang tergesa-gesa.

“mianhae.” Ujar orang itu. aku terduduk di tanah dengan luka lecet di lutut. Aish! Apa orang ini buta? Aku hendak marah-marah saat melihat orang itu. tampan! Aigo! Tampan sekali!

“gwenchana?” tanyanya. Aku segera mengembalikan arwahku yang terbang akibat melihat wajahnya. Aku mengangguk.

“ne. Sedikit.” Ujarku pelan. Lalu meringis menahan sakit di lututku.

“mianhae. Aku benar-benar sedang terburu-buru.” Ujarnya sambil membungkuk dan memberikan plester padaku.

“ne. Gwenchanayo.” Ujarku lembut dan tersenyum. Lalu aku memasangkan plester itu. aigo! Coraknya… love dengan backgroung warna putih. lelaki yang manis sekali suka dengan corak seperti ini.

“siapa namamu?” tanyanya.

“Choi Minji.” Ujarku sambil bangkit.

“ah..annyeong. Lee Donghaw Imnida.” Ujarnya mengulurkan tangan. Aku membalasnya. Getaran mulai merambat di seluruh tubuhku saat menyentuh kulitnya.

“apa kau anak baru?” tanyanya lagi.

“ah, ne.”

“selamat datang kalau begitu. aku sunbaemu. Aku sudah kelas 2.” Ujarnya. Aku tersenyum.

“ne oppa. Ah! mianhae oppa, aku harus pergi. aku hampir terlambat untuk kelas pertamaku.” Ujarku. Dia melepaskan tangannya dan mengangguk.

“ne. Mianhae untuk lukamu. Annyeong.” Ujarnya. Aku mengangguk dan beberapa saat memandang punggungnya yang berjalan menjauh.

“Sedang apa kau disitu? Dan tutup mulutmu atau bisa-bisa kau tidak sadar ada lalat masuk kedalam mulutmu.”  Ujar seseorang mengagetkanku dan aku langsung menatapnya sinis.

“Aish! kau mengganggu khayalanku kyu! Lagipula, apa yang sedang kau lakukan disini? Bukannya kau beda kelas denganku?” tanyaku sinis.

“Kau tidak sadar semua peserta didik baru disuruh ke aula? Kemana saja kau?” tanyanya dengan nada mengejek. Aku menginjak kakinya keras.

“Yak! Babo! Sakit!” ujarnya mengerang. Aku hanya menjulurkan lidahku dan pergi meninggalkannya menuju aula.

***

“Annyeong haseyo. Choi Minji imnida.” Ujarku pada seluruh kelas dan kembali duduk. Saat ini aku sudah berada di kelas dan kami masing-masing disuruh memperkenalkan diri kami.

Entah perasaanku saat aku memperkenalkan diri semua orang mulai berbisik-bisik ribut. Ada apa?

“Annyeong Minji-ssi. Han Hanna imnida.” Ujar seorang gadis tiba-tiba. Aku memandangnya. Dia sangat cantik! Rambutnya pirang dan di kepang satu ke belakang. Kulitnya benar-benar putih dan aku bisa melihat pipinya merona merah. Bukan kerena blush on, tapi memang pipinya merah. Apa dia bukan berasal dari korea? Karena menurutku wajahnnya lebih mirip orang amerika daripada asia.

“Annyeong.” Ujarku terlihat gugup. Bukannya apa-apa, aku merasa sedikit tersaingi melihat wajahnya. Aku melihat saat tangan kami saling berjabat, aku bisa melihat perbedaan jelas. Antara kopi dan susu.Kyuhyun selalu mengajakku bermain keluar saat aku kecil dulu. Dan dia yang menyebabkan kulitku menjadi agak hitam karena terbakar matahari.

“wae? Kau sepertinya tidak suka berkenalan denganku?” tanyanya terlihat sedih.

“Aniyo. Bukan begitu. hanya saja..”

“Ah! kau pasti heran mengapa wajahku tidak menampakan seperti orang korea biasanyakan?” tanyanya. Aku hanya mengangguk. Apa anak ini keturunan dukun? Kenapa dia bisa tau pikiranku?

“Aku memang bukan orang korea asli. Aku blasteran. Ayahku adalah orang perancis dan ibuku adalah orang Jepang. Aku pindah ke korea 5 tahun yang lalu.” Jelasnya. Aku hanya mengangguk-angguk mengerti. Itu alasannya dia begitu berbeda dengan orang korea lainnya.

“Ah..begitu ternyata.” Ujarku.

***

Aku sedang istirahat bersama Hanna di kantin saat Kyuhyun datang dengan seenaknya dan duduk di sebelahku.

“Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau sudah istirahat?” tanyanya.

“Kupikir kau sudah mendapat teman baru dan sudah pergi duluan kesini. Lagipula, bukannya tadi aku sudah mengirimmu pesan?” ujarku sambil memandangnya. Dia mengeluarkan hpnya dan sepertinya sedang menge chek saat Hanna menyenggolku.

“Nugu?” tanyanya berbisik.

“Ah, teman masa kecilku.” Ujarku pelan juga.

“Dia tampan.”

“Mwo?!” tanyaku kaget. Tapi Hanna keburu pindah tempat duduk ke sebelah Kyuhyun dan berusaha mengajak namja itu mengobrol.

“Annyeong haseyo. Han hanna imnida.” Ujarnya. Kyuhyun memandangnya sekilas dan tersenyum.

“Cho Kyuhyun imnida.” Ujarnya dan kembali menekuni ponselnya. Haha rasakan! Sulit sekali kan berbicara dengan namja setan itu? Tapi walaupun Kyuhyun menanggapinya dengan tidak berminat, Hanna sepertinya pantang menyerah. Dia terus menggeser posisi duduknya agar merapat dengan Kyuhyun.

“Aku dengar kau teman masa kecil Minji, bagaimana sikapnya ketika masih kecil?” tanya Hanna basa basi. Mwo?! Dia memakai namaku untuk dekat dengan namja itu?

“Biasa saja.” ujar Kyuhyun masih memainkan ponselnya. Aneh. Tidak biasanya Kyuhyun begitu lama memandangi ponselnya. Biasanya seluruh waktunya dia habiskan dengan memainkan psp sialannya itu.

“Jinjjayo? Bisa kau ceritakan tentangnya padaku? Karena aku teman sekelasnya dan aku ingin lebih tau tentangnya.” Ujar Hanna tidak menyerah. Kyuhyun menyimpan ponselnya dan memandang Hanna langsung.

“Kau bisa tanyakan langsung pada nona dihadapanmu. Kenapa kau mesti bertanya padaku kalau orangnya langsung ada dihadapanmu? Dan kau, kenapa terus meyeret-nyeret kursimu mendekat padaku? Tidak tau ya aku gerah kalau kau terus menempel padaku?” Ujar Kyuhyun dingin. Aku hampir meledak tertawa kalau saja Hanna tidak langsung memandangku dengan ekspresi bertanya ‘Kenapa dia mengacuhkanku?’. Lalu Hanna tiba-tiba pergi meninggalkanku. Saat aku memastikan gadis itu tidak ada di dekat kami lagi aku tertawa keras sampai-sampai beberapa orang memandangku aneh.

“Yak! Berhenti tertawa memalukan seperti itu! semua orang memandangmu sekarang!” ujar Kyuhyun dan menyumpal mulutku dengan tisu.

“Yak! Apa-apaan kau?! Aku hanya lucu melihat kalian berdua. Tindakanmu bagus sekali.” ujarku sambil melempar tisu itu tepat mengenai kepalanya.

“Aish! aku hanya benci yeoja yang senang mencari perhatian seperti itu. kenapa sih kau mau berteman dengannya?” tanya Kyuhyun sambil mengusap kepalanya.

“Molla. Dia mendekatiku dan meminta berkenalan denganku. Masa aku harus mengacuhkannya. Apa itu mengganggumu?” tanyaku. Dia hanya menganggkat bahu.

“Ani. Hajiman, aku tidak suka saja kau bergaul dengan orang seperti itu. seharusnya kau bisa berteman dengan orang yang lebih baik.” ujarnya dan kembali bermain psp. Tunggu..kenapa sekarang dia seperti mengatur-ngatur hidupku?

“Aku bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Aku tau sikap apa yang aku harus aku ambil. Kau tenang saja.” ujarku. Dia memandangku sekilas dan kembali menekuni PSPnya.

“Jinjja? Kau terlalu polos nona Choi.” Ujarnya. Deg! Polos? Sembarangan sekali dia! Seumur hidupku, aku benci jika di cap anak polos. Wae? Aku pikir anak polos termasuk kategori anak yang masih kekanak-kanakan alias manja. Dan kata “polos” merupakan hinaan besar bagiku.

“Polos katamu?! Kau pikir aku seperti anak ingusan yang kemana-mana harus di ikuti oleh orang tuanya dan tidak bisa berpikir mana yang terbaik?! Kau sudah berteman berapa lama denganku tuan Cho?!” ujarku setengah membentak. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke arahku.

“Kalau begitu seharusnya kau sudah tau teman seperti apa Hanna itu. aku saja sudah tau watak anak itu seperti apa. Dan kau malah diam saja mau berteman dengannya.” Ujarnya menghina

“Jangan mentang-mentang dia bergenit ria denganmu, kau jadi menganggapnya adalah yeoja gatel yang suka tebar pesona! Dia baik. Sebaik kau kepadaku.” Ujarku bangkit. Aku tidak peduli tatapan aneh anak-anak kepadaku. Lalu sebelum aku pergi aku berbalik memandangnya,

“Dan bukannya aku sudah pernah bilang padamu aku benci di cap anak polos? Jadi..jangan pernah katakan kata itu kepadaku atau kau benar-benar akan mati!” ujarku dan meninggalkannya.

***

Cho Kyuhyun POV

Aku menghela nafas dan kembali ke kelasku. Aish! kenapa sih aku sampai lupa kalau yeoja itu anti kata “polos”. Sayang sekali aku tidak sekelas dengan yeoja itu. Padahal aku sengaja ikut dengannya masuk sekolah ini karena aku ingin selalu berada dekat dengannya.

“Hei Kau!” panggil seseorang membuatku berhenti dan melirik ke arah sumber suara. Aku melihat tiga orang namja dengan penampilan layaknya penguasa sekolah menghampiriku dan tiba-tiba menarikku ke arah taman belakang.

“mwo?” tanyaku dengan nada dingin.

“Kau! Kami sudah melihat tingkah lakumu sejak tadi pagi saat kau masuk ke sekolah ini. dan ternyata sikapmu sudah kelewatan.” Ujar salah satu dari mereka.

“Kelewatan? Aku tidak mengerti apa maksud kalian. Kalau kalian hanya mau membicarakan omong kosong denganku, sebaiknya jangan sia-siakan waktumu karena aku pasti tidak akan mendengarkan.” Ujarku dengan nada sinis dan mencoba melepaskan pegangan dari mereka bertiga. Tapi bukannya membiarkan aku pergi, mereka malah terus memegangku dengan kuat.

“Sia-sia? Arraseo. Kami akan membuat ini tidak kelihatan sia-sia. Kami ingatkan, kalau kau mau terus bersekolah disini dengan tenang, kau harus bisa mengubah sikap sombong dirimu! Algesseoyo?!” ujarnya mengancam. Aku malah menatapnya sinis.

“Aku tidak merasa diriku bersikap sombong. Apa yang harus aku ubah?”

“Kau berani melawan kami?!” tanya satu orang lainnya lalu tiba-tiba dia memukul perutku keras. Aku membungkuk sambil mengerang. Sialan! Mereka ternyata mau mengeroyokku.

“Ternyata kau menganggap kami main-main? Joh-a. Berikan anak kelas satu ini pelajaran.” Ujar ketua mereka dan mereka semua langsung mengeroyokku.

***

Choi Minji POV

“Babo! Babo! Babo!” ujarku pada Kyuhyun saat aku mengunjunginya. Tadi aku mendengar kabar Kyuhyun pulang duluan karena diganggu berandalah sekolah. Sekarang, aku melihatnya sudah babak belur dengan seluruh wajah penuh benjolan biru.

“Yak! Berhenti mengatakan babo padaku! Aw,,,” ujarnya dan memegangi mulutnya yang sakit. Aku membuka kotak P3K dan mencoba mengobati lukanya.

“Bagaimana aku bisa berhenti mengatakannya? Kau memang sungguh bodoh Cho Kyuhyun! Untuk apa kau belajar Karate selama ini kalau menghadapi 3 orang saja kau tidak bisa?! Dan lihat dirimu sekarang?!” ujarku sambil mengolesi lukanya.

“Aku tau! Aku hanya tidak mau membuat masalah di hari pertama sekolah! Kau bayangkan saja kalau mereka sampai bilang pada songsaengnim dan aku di panggil dan di skors?! Kau mau itu terjadi? dan kau mau eomma marah padaku dan tidak mengijinkanku ikut audisi?!” tanyanya keras. Aku terdiam melihatnya begitu marah.

“Aku hanya mengingatkanmu. Sejak kapan seorang cho kyuhyun menjadi orang yang begitu lemah? Aku bukan berteman denganmu 1 atau 2 tahun. Aku sudah berteman denganmu selama 11 tahun! Aku tau bagaimana sifatmu.” Ujarku dan meninggalkannya pergi.

***

“Kau yakin benar-benar mau mengikuti audisi besok kyu?” tanya siwon oppa keesokan harinya saat aku dan kyuhyun sedang sarapan di rumahku.

“Nae hyung. Wae?” tanya kyuhyun.

“Ani. Persaingannya sangat ketat. Hyung takut saja kau tidak siap menerima keputusannya nanti.”

“Hyung tidak usah khawatir, aku pasti lolos. Lihat saja.” ujarnya begitu percaya diri.

“Bagaimana kau bisa percaya diri begitu hah? Jangan bilang kalau rasa percaya dirimu sedang meningkat? Kalau begitu aku harus memasang penutup telinga kalau kau sampai membanggakan dirimu sendiri dan tebar pesona pada banyak yeoja.” Ujarku dengan nada mengejek dan langsung mendapat tendangan kyuhyun dari bawah meja.

“Yak! Apo!” ujarku meringis.

“Aku beritau saja, aku tidak pernah tebar pesona dengan para yeoja. Mereka yang selalu terpesona duluan melihatku. Jangan salahkan aku kalau mereka terpikat.” Ujarnya sambil mengeluarkan pspnya. Aku menatapnya kesal.

“Seperti aku harus membuka praktek mata nanti.” Ujarku dan bangkit hendak bersiap.

“wae?” tanyanya tanpa melepaskan pandangan dari psp kesayangannya.

“Karena aku harus mengoperasi banyak wanita yang matanya rabun dan menganggap kau begitu mempesona.” Ujarku dan langsung lari sebelum namja setan itu marah.

“yak! Choi Minji! Apa kau bilang?!”

***

“Sepertinya aku menyukai kyuhyun.” Ujar Hanna blak-blakan saat kami sedang mengikuti pelajaran olahraga. Aku yang sedang menegak habis minumku langsung tersedak dengan sukses dan melotot padanya.

“Mwo? Aku tidak salah dengarkan?” tanyaku sambil berusaha bersikap biasa.

“Aku serius. Semenjak pertemuan kami yang pertama kemarin, dia langsung menyita seluruh perhatian otakku. Dan jantungku selalu berdebar ketika mendengar namanya.” Ujarnya. Aku memandangnya tidak percaya. Lalu dia menatapku serius.

“Maka dari itu Minji-ssi, kau harus membantuku! Membantuku untuk mendapat perhatian Kyuhyun. Kaukan teman masa kecilnya, kau pasti bisa!” ujarnya tambah membuatku kaget.

“Eh?! Kenapa aku?! Shireo!” ujarku menolak mentah-mentah.

“Wae? Kau takut tersaingi olehku?” tanyanya curiga membuatku gelagapan.

“Bukan begitu, hajiman.. aku tidak bisa. Aku merasa bahwa itu diluar batas kemampuanku. Mianhae.” Ujarku menjelaskan sebisanya.

“Kumohon! Kau adalah satu-satunya harapanku Minji-ssi! hanya kau yang bisa aku mintai tolong.” Ujarnya sambil membungkuk dihadapanku.

“Eh.. aish! berdirilah! Kau tidak harus melakukan ini.” ujarku.

“Kalau kau tidak mau membantuku, maka aku akan terus berlutut.” Ancamnya. Karena terdesak, dengan terpaksa aku mengangguk. Dia menyunggingkan senyumnya sambil melompat memelukku.

“Yak! Gomawoyo! Kau adalah sahabat terbaik!” ujarnya. Aku tertegun, apa pilihanku sudah benar?

***

Sepanjang perjalanan pulang sekolah, aku terus merenungkan permintaan Hanna. Apa aku salah telah menyanggupi permintaan itu? aku merasa bahwa alasanku menolak membantunya tadi bukan karena aku tidak mampu. Sudah banyak gadis yang sudah aku bantu dekat dengan Kyuhyun. Tapi hasilnya.. nihil. Lagipula, sepertinya aku melawan perasaanku sendiri. Aku membantu Hanna mendapatkan kyuhyun. Dan bagaimana dengan perasaanku? Apa aku harus membuang semuanya ketika nanti Hanna dan Kyuhyun jadian? Apa harus aku yang mengalah?

Dan lagi,namja itu terlalu dingin dan cuek terhadap yeoja di sekelilingnya.dia bahkan terkesan tidak peduli. Aku pernah mengejeknya dengan menyebutnya Homo karena dia seperti tidak tertarik dengan yeoja.

“Kenapa tidak jalan bodoh? Lampu sudah hijau.” Ujar seseorang mengagetkanku. Aku memandang ke samping dan melihat Kyuhyun ada di sampingku sambil memainkan PSP kesayangannya. Aku memandangnya heran. Darimana namja ini muncul?

“Sejak kapan kau disitu?”

“Sejak lampu merah. Kau tidak tau dari tadi aku ada di sebelahmu?” ujarnya. Aku menggeleng. Lalu dia mengapitku dan mengajakku menyebrang. Entah perasaanku sepanjang perjalanan, beberapa gadis menunjuk-nunjuknya dan tersenyum.

“Perasaanku atau semua gadis sepertinya melihat kearah kita.” Ujarku berbisik. Dia hanya mengangkat bahu. Aku menghembuskan nafas lelah. Lihat? Dia seperti tidak peduli. Padahal aku yakin dia tau sebenarnya banyak gadis suka padanya. Bahkan mungkin, mengejar-ngejarnya.

“Tumben kau diam? wae?” tanyanya tiba-tiba. Aku melepaskan rangkulannya dan memandangnya.

“Kau.. adakah yeoja yang sedang kau sukai saat ini?” tanyaku langsung. Aku pikir langkah awal aku harus menanyakan perasaannya dulu. Akan sangat sulit jika dia memang sedang mengincar wanita lain.

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya?” tanyanya ketus. Wajahnya menunjukan dia tidak suka dengan arah pembicaraan ini.

“Just ask. Ayo jawab! Aku selalu memberi taumu soal segala hal mengenaiku. Namja yang aku taksir sampai hal-hal pribadi. Hajiman, kau selalu menutup semuanya dariku. Seakan-akan aku adalah orang yang akan membahayakanmu jika aku mengetahui rahasiamu.” Ujarku. Aku tidak tau maksud dari ucapanku sendiri. Aku hanya mengatakan apa yang terlintas di pikiranku.

“geuleomyeon?  Apa itu semua mempengaruhimu. Apa dengan aku bercerita semuanya padamu, ada artinya untukmu?” tanyanya tajam. Aku diam. tidak bisa membalas kata-katanya lagi. Lalu dia mendahuluiku berjalan dan sebelum pergi dia berkata,

“Ada beberapa hal yang tidak harus kau tau tentangku. Bagaimanapun itu kehidupan pribadiku yang tidak bisa diusik. Baik kau ataupun keluargaku.” Ujarnya dan pergi. aku hanya diam di tempat dan bergumam pelan.

“bagaimanapun juga tuan cho..aku… menyukaimu. Dan aku ingin sekali tau semua tentang kau.”

***

Keesokan harinya Kyuhyun tidak masuk sekolah. Dan aku tau kenapa. Hari ini dia akan ikut audisi SM Entertaiment. Harusnya aku datang dan mendukungnya, tapi karena hari ini ada kuis matematika, aku jadi tidak bisa meninggalkan sekolahku.  Aku ingat percakapan terakhir kami di telfon tadi malam.

 

 

 

-Flashback-

“Kau…akan datang besok melihatku audisi?” tanyanya terdengar ragu. Disaat seperti ini kau masih saja berlagak gengsi untuk menanyakan apa aku akan datang atau tidak ke audisinya.

“Molla. Besok ada kuis dan..”

“ANDWAE! Kau tidak boleh datang ke audisiku!” ujarnya tiba-tiba memotong ucapanku. Ck! Namja itu. harus diajari sopan santuk untuk tidak memotong pembicaraan orang.

“wae?”

“Sudah jelas. Besok kau ada kuis kan? Kau tidak boleh datang! Apalagi jika kuis itu adalah kuis matematika. Aku tau kau sangat bodoh dalam pelajaran itu.” ujarnya. Aku mengerutkan dahi mendengarnya. Bodoh? Hey! Aku tidak sebodoh itu! aku memang lemah dalam pelajaran Matematika. Dan selalu dia, yang mengajariku rumus-rumus sialan itu.

“Hajiman, aku ingin melihat sahabatku sendiri sedang dalam proses meraih mimpinya.” Ujarku.

“Ani. Aku tidak mau hanya karena aku kau jadi mendapat nilai nol dalam kuis. Awas saja kalau kau sampai datang!” ujarnya mengancam.

“Yak! Bukan kau yang mengadakan audisi itu! aku bebas datang ataupun tidak! Lagipula tanpa kau suruh aku tidak datangpun, aku memang sudah berniat tidak datang!” ujarku berteriak dan mematikan telfon. Selalu saja. setiap aku berbicara dengannya, aku harus memakai semua tenagaku untuk berteriak kepadanya.

“Yak! Nona Choi Minji! Ini sudah malam! Sampai kapan kau akan berteriak-teriak seperti itu hah?!” ujar eomma dari bawah. Aish! kenapa malah aku yang dimarahi?

-Flashback end-

***

Cho Kyuhyun POV

Aku menatap nomor urut di tanganku. 15638796. Aku harap ini merupakan nomor keberuntunganku. Entah kenapa sejak dari tadi pagi aku resah. Aku menatap ponselku dan menghembuskan nafas berat. kemarin malam aku malah bertengkar dengan gadis itu. Kenapa aku tidak bisa mengatakan segalanya dengan benar? kenapa mulutku malah melontarkan kata yang kebalikan dari isi hatiku? Kenapa aku malah mengatakan sesuatu yang bisa menyulut api dihatinya?

Aish! cho Kyuhyun babo! Sampai saat ini masih saja kau tidak bisa berterus terang kepadanya. Sudah hampir 5 tahun aku selalu saja berusaha mengatakan pada gadis itu.. bahwa sebenarnya aku menyukainya. Entah datang darimana perasaan aneh itu. setiap kali melihatnya, setiap kali melihat senyumnya, tawanya.. semua itu selalu melegakan hatiku sendiri.

“Peserta 15638796 Cho kyuhyun!” panggil panitia tiba-tiba membuatku begitu kaget. Aku berdiri dari kursiku dan hendak masuk ke ruang audisi saat telfonku bergetar pelan. Pesan dari gadis itu.

From: Choi Minji Pabo

Semoga berhasil dengan audisinya.. Mianhae aku tidak menonton. Karena ada seseorang yang melarangku datang kesana hanya karena sebuah kuis bodoh.. Fighting!

Aku tersenyum kecil membaca pesan itu. walaupun sederhana tapi entah kenapa membuat perasaanku membuncah senang. Aku menatap panitia yang memandangku dengan tidak sabar. Dan akhirnya aku masuk ke ruang audisi.

***

Choi Minji POV

“Mwo? Kau…” ujarku memandang Kyuhyun tidak percaya. Dia hanya mengangguk senang.

“Aku lolos! Bahkan aku sudah masuk dalam salah satu member Boy Band mereka.” Ujarnya. Aku melotot menatapnya.

“Jinjja?! Kau tidak berbohong padakukan?!” tanyaku dan menatapnya. Dia menggeleng. Aku langsung tersenyum lebar dan memeluknya erat.

“Yak cho kyuhyun! Kau memang hebat!” ujarku. Dia hanya tersenyum.

“Lalu, mulai besok aku harus tinggal di dorm.Kata mereka agar lebih mudah mengaturku jika aku tinggal bersama dengan member lainnya.” ujarnya tenang.

“Ti..tinggal di dorm? Artinya kau akan pindah dari sini?” tanyaku. Dia mengangguk.

“Tenang saja. kau jangan khawatir akan kehilanganku. Aku akan sering main kesini.” Ujarnya mengacak-acak rambutku. Aku menatapnya.

“Tingkat percaya dirimu meningkat sekali. Siapa juga yang akan kangen denganmu? Aku bahkan bersyukur kau tidak ada. Setidaknya aku bisa hidup tenang seperti orang lainnya.” ujarku berbohong.

“Jinjja? Apa kau yakin bisa hidup tanpaku?”

“Memangnya siapa kau tuan cho? Sampai-sampai aku harus bergantung padamu terus hah?” tanyaku dengan nada sinis.

“Oksigenmu.” Jawabnya sambil berlalu pergi.

***

Cho Kyuhyun POV

 Aku menunggu di ruang tunggu dengan gelisah. Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku? Bagaimana kalau semua orang menganggap aku tidak pantas masuk kedalam bagian dari Super Junior? Bagaimana kalau ELF, fans suju menolakku dan memintaku mundur? Yak! Apa yang harus aku lakukan?

“Tidak usah tegang begitu Kyuhyun-ssi. Tenang saja.” ujar salah satu member. Namanya Lee Sungmin. Dia adalah orang yang langsung dekat denganku begitu aku pindah ke dorm suju kemarin.

“Bagaimana kalau mereka tidak suka padaku? Bagaimana kalau mereka menganggap aku tidak pantas?” tanyaku.

“Kau terlalu merendah. Suaramu sangat bagus. SM tidak mungkin gegabah dalam memilih trainnernya. Aku yakin kau dipilih karena kau spesial.” Ujar Siwon hyung. aku hanya tersenyum kecut.

“Giliran kita! Kajja!” panggil Leeteuk Hyung. dia adalah leader disini. Semua member bangkit dan berjalan keluar. Aku merasakan seperti ada sarang lebah dalam perutku. Jantungku berdebar dan tanganku dingin sekali.

“Kenapa kau kelihatan gugup tuan cho?” tanya seseorang. Aku berbalik dan mendapati Minji memandangku. Aku membulatkan mataku. Bagaimana dia bisa ada disini?

“Bagaimana..kau..”

“Yak. Hari ini adalah debut pertamamu. Masa aku sebagai sahabat baikmu tidak datang memberi semangat?” ujarnya tersenyum. Dan lagi-lagi senyumnya itu membuat perasaanku jauh lebih baik.

“Kyuhyun! Kajja!” panggil Sungmin hyung.

“Nae hyung!” ujarku “Aku harus pergi. doakan aku semoga berhasil.”

“Always. Aku akan mendukungmu. Fighting!” ujarnya. Aku tersenyum dan mengacak-ngacak rambutnya sebelum berbalik menuju panggung.

***

Choi Minji POV

Perform mereka menakjubkan sekali! Tadi, mereka perform salah satu lagu dari single terbaru mereka, Marry U. Tapi saat bagian Kyuhyun bernyanyi, entah kenapa aku merasa semua orang berhenti berteriak dan mulai berbisik-bisik. Sungguh dari mereka memandang Kyuhyun sepertinya mereka kurang suka dengannya. Aku mendengar diantara mereka berbisik-bisik lumayan kencang.

“Nugu? Apa dia member baru?”

“Mungkin. Aish! Aku tidak setuju! Super Junior selamanya akan selalu 12! Tidak boleh ada penambahan anggota baru! Setidaknya sebelum mereka menambahkan anggota baru, mereka harus konfirmasi dengan seluruh elf. Apa member itu pantas atau tidak.”

“Hajiman, suaranya bagus. Dan dia tampan.”

“Tidak hanya dilihat dari skill dan tampangnya! Aku tidak peduli jika dia Michael Jackson sekalipun. Super Junior always 12!” ujar gadis itu ngotot. Aku merutuk dalam hati.

Dia bilang apa? Mereka harus menkorfimasikan penambahan member dulu? Aish! memang siapa mereka? Juri? Bukan. Pemegang Saham? Juga bukan. Mereka hanya fans! Harusnya mereka beruntung mendapat member baru seperti Kyuhyun. Mereka belum melihat skill dia yang sebenarnya. Aku yakin mereka akan cengo mendengar suaranya yang indah!

Aku mendelik menatap dua gadis itu dan segera berlari ke ruang ganti saat Super Junior selesai perform. Aku melihat Kyuhyun dengan tampang lesu turun dari panggung.

“Kau harus sabar Kyu. Ini memang tidak mudah. Suatu saat mereka pasti akan menerimamu.” Ujar salah satu member.

“Hajiman..hyung tidak lihat tadi. Mereka langsung berhenti berteriak ketika giliranku bernyanyi. Apa suaraku jelek? Apa aku memang tidak pantas berada disini?”

“Jangan berkata begitu. kau sangat pantas berada disini. Menjadi pelengkap boy band ini. dan karena ada kau, kini Super Junior bukan lagi hanya sebagai grup Proyek. Tapi sebagai grup permanen.” Ujar member lainnya.

“Kyu.” Panggilku pelan. Namja itu langsung memandangku dan mendekatiku.

“Gwenchana?” tanyaku menatapnya. Dia hanya menghembuskan nafas lelah dan menggeleng. Terlihat sekali dari wajahnya kalau dia menahan tangis. Aku menariknya keluar dan membawanya ke taman dekat gedung studio.

“Gwenchana?” tanyaku lagi ketika kami duduk di salah satu bangku.

“Buruk. Semua fans seperti tidak suka aku ada disana. Aku seperti tidak pantas berada di super junior. Aku..” ujarnya tercekat. Aku mengelus punggungnya pelan.

“Kau jangan menyerah Kyu. Kau bisa. Kau pantas berada di antara mereka.” Ujarku mencoba menyemangatinya. Tapi dia tidak menjawab, dan tiba-tiba memelukku erat. membenamkan wajahnya ke bahuku dan menangis. Aku sedikit tersentak. Tapi aku mengerti. Pasti berat ketika kau dapat menggapai mimpimu, tapi kau bahkan tidak diterima publik sama sekali.

Aku mengelus punggungnya dan membiarkannya terus menangis di pundakku.

***

Cho Kyuhyun POV

“Kau yakin bisa pulang sendiri?” tanyaku pada Minji. Gadis itu hanya mengangguk.

“Aku bukan anak kecil. Lagipula jarak rumahkan tidak terlalu jauh. Malah harusnya aku yang khawatir. Kau bisa pulang sendiri? Dengan keadaan labil seperti itu, aku takut kau melakukan hal yang tidak-tidak dijalan.” Ujarnya. Aku langsung menjitak kepalanya.

“Appo! Yak!”

“Suruh siapa kau berkata tidak-tidak. Kau pikir aku adalah remaja yang sedang gila hormon dan emosinya masih tidak labil?”

“Kenyataannya memang begitukan. Aku harus mengatakan apa?” ujarnya dan hendak mendapat jitakan dariku lagi. Tapi dia keburu berlari dan melambai.

“Sampai jumpa. Semoga Sukses. HWAITING!” ujarnya. Aku tersenyum melihat tingkahnya dan balas melambai. Ketika melihat senyumnya entah kenapa bebanku langsung terangkat. Dia.. memang satu-satunya orang yang bisa mengubah hidupku.

Aku berbalik dan hendak menyetop taksi saat aku merasakan ada yang melempar sesuatu ke arahku. Aku melihat kebelakang hendak mencaci maki orang kurang ajar itu saat aku melihat segerombolan fans berdiri dihadapanku dan menatapku dingin. Mereka berteriak dan mengacung-acungkan spanduk bertuliskan “SUPER JUNIOR WITH 12 MEMBER: FOREVER!” “The power of 12” dan masih banyak kata-kata lainnya yang jelas-jelas mereka menentangku. Aku hendak menyerah dan pasrah saat tiba-tiba suara decitan keras mengalihkan pandangan mereka semua. Aku menatap sebuah mobil putih yang kini sudah mulus parkir di dekatku. Lalu saat si pengemudi keluar semua orang berteriak. Dia menarikku cepat ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

“Bagaimana kau bisa tau aku sedang dalam masalah, Hae hyung?” tanyaku pada Donghae hyung. dia hanya diam. semenjak aku masuk menjadi anggota resmi Super Junior, hanya dia yang belum pernah menyapaku atau mengajakku berbicara.

“Aku hanya kebetulan lewat dan mendengar suara ricuh. Setelah aku melihat dengan jelas, aku melihat spanduk-spanduk elf disitu yang kelihatan marah. Aku yakin pasti ada kau disitu. Dan ternyata, dugaanku benarkan?” ujarnya. Aku hanya diam dan merasakan kakiku ngilu karena tidak sengaja terinjak salah satu fans.

“Gomawo hyung..kalau tidak ada kau aku sudah..”

“Tidak usah berterimakasih. Kau cukup menjawab pertanyaanku dengan jujur.” Ujarnya. Aku memandangnya tidak mengerti.

“Mwo?” tanyaku. Dia memandangku sekilas dan kembali fokus menyetir.

“Bagaimana kau bisa kenal dengan Choi Minji, adik Siwon?” tanyanya dengan nada mengintrogasi. Aku menatapnya heran.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku menyuruhmu menjawab. Bukan balik bertanya.” Ujarnya dengan sinis. Aku menatapnya tambah heran dan akhirnya menjawab,

“Dia..teman masa kecilku. Kami sudah bertetangga sejak masih kecil. Dan dia juga satu sekolahan denganku.” Jelasku. Donghae hyung menatapku tidak percaya,

“Kau.. satu sekolah dengannya?”

“nae. Wae?” tanyaku. Dia diam beberapa saat.

“Ani. Itu artinya kau adalah dongsaengku di sekolah juga. apa kau tidak tau kalau aku juga sekolah di tempat yang sama dengan Minji?” tanyanya membuatku tersentak. Jadi.. donghae hyung satu sekolah denganku dan Minji? Mendengar berita itu aku bukannya senang, malahan aku merasa.. tersaingi. Melihat ekspresi wajah hae hyung aku yakin, namja ini.. menyukai gadis itu.

***

Choi Minji POV

“Jadi akan diadakan fans meeting dadakan?” tanyaku pada Siwon oppa. Beliau mengangguk.

“Ne. Dan aku minta kau datang.” Ujarnya. Aku memandangnya.

“Wae?”

“Setidanya ketika namja setan itu bertingkah dan melakukan hal-hal tidak-tidak, ada kau yang bisa menghentikannya.” Jelas Siwon oppa. Aku menatapnya sambil mengangguk.

“Hajiman, dimana aku bisa beli tiket? Aku yakin semua sudah habis diborong elf.” Ujarku. Lalu siwon oppa mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ternyata satu lembar tiket fans meeting Super Junior!

“Jangan remehkan oppamu ini.” ujarnya. Aku hanya menatapnya tidak percaya.

“Memangnya kenapa harus diakan fans meeting ini sih?” tanyaku pada akhirnya.

“Untuk membahas Kyuhyun. Soal masalahnya waktu debut kemarin dan masalah saat dia habis mengantarmu pulang.”

“Sehabis mengantarku pulang? Maksud oppa saat dia mengantarku sampai stasiun? Tadi malam?” tanya. Siwon oppa mengangguk.

“sehabis mengantarmu, dia di serang banyak elf. Untung saja Donghae yang datang dan menyelamatkan anak itu. Kasihan sekali. dia dilempari telur dan kakinya bengkak terinjak salah satu fans.” Jelas Siwon oppa. Aku melotot. Tapi langsung mengkerutkan kening. Donghae? Nama yang sangat familiar bagiku. Tapi siapa ya?

“Kapan fans meetingnya berlangsung?” tanyaku.

“Malam ini.” jawabnya santai.

“Mwo?!” ujarku kaget.

“tenang saja.” ujarnya.

“Kenapa oppa..”

“Kau akan lebih kaget ketika mendengar berita yang lainnya.” ujarnya menghentikan ucapanku. Aku memandangnya tidak mengerti.

“Maksud oppa?” tanyaku.

“Sebenarnya…”

***

Malam itu suasana ruangan yang dipakai untuk fans meeting sudah sangat ramai. Aku datang 5 menit sebelum acara mulai. Aku terlalu sibuk memikirkan apa yang akan terjadi dan terlambat berangkat. Baru saja aku hendak berlari ke ruang ganti untuk menemui Kyuhyun saat lampu padam dan seorang MC datang dan membuka acara. Aku terpaksa diam di tempatku. Memperhatikan dengan bosan MC yang terus berceloteh.

Lalu, tiba saatnya Super Junior muncul. Aku melihat mereka satu-satu muncul. Semua fans berteriak nyaring. Aku mengarahkan pandanganku ke panggung. Kemana namja itu? baru saja aku hendak bertanya pada salah satu staff saat melihat Kyuhyun keluar berbarengan dengan Siwon oppa. Semua fans kembali bungkam dan berbisik-bisik. Aish! aku tidak suka suasana seperti ini.

***

Cho Kyuhyun POV

Aku duduk di sebelah Sungmin Hyung sambil menatap fans yang memandangku dingin. Lalu leeteuk hyung mulai berbicara. Tapi aku sama sekali tidak fokus karena masih saja aku tegang dengan pandangan elf yang seakan-akan membunuhku. Aku terus menunduk. Sampai akhirnya, leeteuk hyung tiba-tiba memegang pundakku.

“Bagaimana kalau kita mendengar magnae kita ini berbicara.” Ujarnya. Aku gelagapan dan menolak. Tapi dia memaksaku halus dan akhirnya aku menerima micnya.

“Aku..tidak tau harus berkata apa. Yang jelas aku hanya ingin minta maaf pada semua ELF. Aku tau kalian tidak suka padaku. Aku tidak tau kenapa. Apa karena aku tidak pantas berada di Super Junior atau memang suaraku terlalu jelek.

Tapi sungguh, ini sangat berat. Aku selalu memikirkan apa yang sebaiknya aku lakukan agar kalian menerimaku. Tapi semakin dipikir hanya ada satu jawaban untuk semua ini.” ujarku dan membungkuk dalam.

“Kamsahamnida. Sudah mengijinkanku berada dalam satu panggung dengan Super Junior. Kamsahamnida sudah mengingatkanku akan status diriku sebenarnya. Kalau memang kalian tidak bisa menerimaku, maka aku… akan mengundurkan diri.” Ujarku. Semua orang langsung berbisik. Semua member melotot padaku.

“Kyuhyun-ssi!” panggil Eunhyuk hyung keras. Tapi aku mengabaikannya dan melanjutkan bicara.

“Aku tau mungkin keputusanku terlalu cepat. Dan mungkin aku terlalu cepat menyerah. Hanya saja, bagiku.. kesenangan dan kebahagiaan fans lebih penting daripada mimpiku sendiri. Aku tidak ingin mengecewakan elf. Yang selalu mendorong dan menjadi semangat para member Super Junior. Aku hanya akan menjadi penghalang bagi semuanya. Maka dari itu..” ujarku dan menarik nafas pelan.

“Aku secara pribadi meminta maaf. Kamsahamnida and Mianhaeyo.” Ujarku dan membungkuk dalam. Bisa kurasakan mataku panas menahan tangis. Tapi aku tidak mau menangis dihadapan semuanya. Aku tidak mau mereka menganggapku lemah. Entah memang aku salah mendengar atu memang kenyataan begitu, semua orang tiba-tiba bertepuk tangan dan semua fans meneriakan namaku dengan keras.

“CHO KYUHYUN SARANGHAE!” teriak salah satu dari mereka. Aku merasakan seseorang menarik badanku dan memelukku. Sungmin hyung memelukku dan berbisik di telingaku,

“Kau berhasil Kyuhyun. Kau berhasil diterima oleh semuanya..” ujarnya. Semua member memelukku bergantian dan semua fans meneriakan nama kami semua. Aku memandang semua member, dan bersyukur aku bisa menjadi bagian dari mereka.

***

Choi Minji POV

Aku memandang Kyuhyun dan tersenyum kecil. Lalu aku melihat jam tangan di pergelanganku. Pukul 9 malam. Arraseo. Saatnya aku pergi, mungkin ini adalah fans meeting Super Junior yang aku hadiri pertama kali dan untuk terakhir kalinya juga. Aku jadi teringat percakapanku dengan Siwon oppa tadi,

-FlashBack-

“Mwo?! Pindah rumah?!” tanyaku pada Siwon oppa tidak percaya. Apa yang dia mau lakukan padaku?! Membunuhku pelan-pelan dengan memberikanku berita-berita yang membuat jantungku bagai loncat dari tempatnya seperti ini?

“Nae. Wae?” tanyanya.

“Oppa! Oppa sudah tau! Aku pasti tidak akan setuju! Aku sudah lama tinggal disini! Semua kenanganku, teman-temanku! Semuanya ada disini!” ujarku menolak mentah-mentah usulnya.

“Kau harus mau Minji-ah. Bagaimanapun kita sudah merencanakannya sejak lama.” Ujar eomma muncul entah darimana.

“Hajiman..wae eomma? Eomma tidak suka tinggal disini?”

“Jangan bercanda! Ini adalah tempat yang paling eomma sukai. Disini tempat dimana eomma dan appa pertama kali bertemu dan akhirnya bisa menikah.” Jelas eomma dan duduk di sebelahku.

“Kalau begitu kenapa kita mesti pindah?” tanyaku heran dan menahan tangis. Aku tidak mungkin bisa pindah dari sini. Bagaimana sekolahku, bagaimana kyuhyunku?

“Appamu ditugaskan di New York sayang. Dia diminta menjadi kepala bagian di sana. Dan lagipula kau tidak usah sesedih itu, kita tidak akan menetap selamanya. Kita hanya akan pindah sebentar.” Ujar eomma mengelus punggungku.


“Berapa lama?”

“Kurang lebih 3 tahun. Paling lama 5 tahun.” Ujar eomma. Aku melotot. 5 tahun? Aku akan hidup selama 5 tahun tanpa cho kyuhyun? Aku bisa mati sesak nafas!

“Lama sekali! bisakah kita mempersingkat waktunya? Bagaimana sekolahku? Bagaimana dengan Siwon oppa?” tanyaku.

“Mustahil sayang. 3 tahun saja sudah paling cepat. Tenang saja, sekolahmu sudah eomma pindahkah ke sana. Kami sudah mendaftarkanmu ke sekolah terbaik disana. Masalah oppamu jangan kau pikirkan, dia akan tetap tinggal di korea dan menjaga rumah. bagaimanapun dia sudah bekerja sekarang dan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja.” jelas eomma panjang lebar.

“Hajiman, bagaimana dengan bahasaku? Aku tidak pandai berbahasa inggris.” Ujarku.

“Tenang saja. kami sudah menyediakan guru bahasa untukmu disana. Yang akan membantumu untuk belajar dengan cepat.” Ujar eomma. Akhirnya aku menyerah. Aku tidak mungkin mengelak. Eomma dan appa sudah menetapkan keputusannya. Dan siwon oppapun sudah bekerja sama dengan mereka. Tidak ada yang di pihakku.

“Arraseo. Aku mau ikut asalkan eomma, appa dan oppa berjanji padaku.” Ujarku menghapus air mataku dan menatap mereka.

“mwo?”

“Jangan beritahukan ini pada Kyuhyun. Aku tidak mau dia jadi sedih karena aku pergi. dan kedua, jika dia bertanya kemana aku pergi jangan pernah beritahukan dia alamat aku tinggal atau di  negara mana aku tinggal. Jangan pernah!” ujarku. Mereka berdua berpandangan dan akhirnya mengangguk.

“Arraseo. Aku mau ikut appa dan eomma ke New York. Kapan kita pergi?” tanyaku.

“Besok.”

-Flashback end-

***

“Kau sudah siap sayang?” tanya eomma. Aku mengangguk dan duduk lemas. Kamarku sudah sangat kosong. Hanya tersisa kasur dan lemari serta meja belajar. Aku tidak mungkin membawanya ke New York. Selain karena menyusahkan, juga karena terlalu banyak kenangan di tiga benda itu. Kasur ini, tempat aku dan Kyuhyun bermain loncat-loncatan dan berlomba menjadi yang tertinggi.

Lalu meja ini, ada banyak foto aku dan Kyuhyun yang terpajang disana. Aku tidak berani menyentuh itu. biarkan foto-foto itu menjadi kenangan untuk selamanya.

Dan lemari. Dulu, aku dan Kyuhyun senang bermain petak umpet. Aku selalu bersembunyi di lemari dan dia selalu saja menemukanku. Atau saat kami kabur dari eomma,kami bersembunyi di lemari sambil saling tertawa satu sama lain. Aku memegang dadaku yang sesak. Terlalu banyak kenangan disini. Dan aku membutuhkan banyak oksigen sekarang.

“Waeyo?” tanya eomma khawatir melihatku memegang dadaku. Air mataku mulai turun kembali. Aku tidak bisa menahannya.

“Eomma…” ujarku dan memeluk beliau.

“Eomma tau. Terlalu banyak kenangan disini. Antara kau dan Kyuhyun. Tapi ini semua demi kebaikan kita semua. Eomma janji, suatu saat kau akan bisa kembali ke sini.” Ujar eomma. Aku melepaskan beliau dan menatapnya lalu menghapus air mataku.

“Kita pergi?” tanya eomma. Aku mengangguk perlahan. Eomma tersenyum dan membawakan tasku. Aku bangkit dan menarik koperku.

 Selamat tinggal seoul.. selama tinggal Cho Kyuhyun..

***

Cho Kyuhyun POV

Aku membanting tubuhku ke kursi. Hari ini jadwal kami sangat padat karena kami mulai sibuk promosi album. Aku meneguk air minumku sampai habis dan memandang semua member yang sibuk mondar-mandir menuju kamar mandi.

“Hyung, apa sehabis ini kita masih ada jadwal?” tanyaku pada Siwon hyung. dia menggeleng.

“Ani. Wae?” tanyanya. Aku menatap jam tanganku. Baru jam 7 malam. Semoga saja yeoja itu masih bangun.

“Aniyo. Hanya mau mengunjungi teman. Aku pergi dulu hyung.” ujarku dan berlari pergi.

“Kau mau kemana?” tanya Heechul hyung begitu kami bertemu di depan pintu. Kamarnya memang tidak di sini. Dia menempati kamar lain di lantai 11.

“Hanya keluar sebentar.” Ujarku dan melesat pergi.

“Yak! Kau memangnya tidak cape Cho Kyuhyun?!”

***

Aku memandang rumah Minji dengan heran. Kenapa sepi sekali. dan, kenapa keadaan dalam rumah begitu gelap. Setauku baik Choi ajumma dan Minji sendiri tidak suka dengan kegelapan. Mereka rela membayar tagihan listrik mahal, asalkan rumah mereka selalu terang menderang.

Aku melangkah masuk kedalam gerbang rumah itu dan mencoba menekan bel. Tapi bukannya mendengar suara bel, aku malah tidak mendengar apapun. Seakan-akan bel rumah ini sudah dicabut. Kemana mereka semua? Aku melangkah keluar dan bertemu dengan salah seorang ajumma tetangga sebelah.

“Annyeong ajumma.” Ujarku menyapanya. Ajumma itu hanya balas tersenyum.

“Annyeong. Ada yang bisa aku bantu?” tanyanya.

“Aku hanya ingin menanyakan pemilik rumah itu. apakah ajumma tau kemana mereka? Karena aku melihat rumah itu begitu kosong.” Ujarku. Ajumma itu memandang rumah Minji sekilas dan mengangguk mengerti.

“Rumah keluarga Choi? Mereka baru saja tadi siang pindah.” Ujar Ajumma itu menghantam tubuhku. Pindah? Kemana? Kenapa?

“Apa ajumma tau kemana?” tanyaku. Ajumma itu mencoba berpikir dan menggeleng.

“Keluarga itu tidak memberitahukan kemana mereka pindah. Mereka hanya menyampaikan kalau mereka harus pindah karena tugas pak Choi di pindahkan.” Jelas Ajumma itu. aku menatap ajumma itu tidak percaya. Setelah mengucapkan terimakasih, aku mencoba menghubungi ponsel Minji. Tidak aktif. Bahkan sepertinya gadis itu mematikan ponselnya dan mengganti nomornya. Aku terduduk lemas di depan gerbang rumah itu. wae? Kenapa mereka pindah? Dan kenapa gadis itu tidak memberitahuku?

***

Aku kembali ke dorm dengan muka kusut. Hyung-hyungku yang melihatku memandangku aneh.

“Saat kau pergi tadi, kau masih bersemangat. Ada apa denganmu sekarang?” tanya sungmin hyung. aku menggeleng pelan. Lalu mataku menagkap sosok siwon hyung yang duduk di ruang tv sambil mengobrol dengan yesung hyung. mataku melebar dan aku langsung berlari menghampirinya.

“Hyung! Aku tau kau pasti tau! Beritau aku!” ujarku sambil menarik kausnya kuat. Dia terlihat kaget dan memandangku tidak mengerti.

“Apa yang kau bicarakan Kyuhyun-ah? lepaskan aku!”

“Hyung jangan sok akting! Aku tau hyung tau! Kemana keluarga hyung pindah!” ujarku. Semua member menatapku tidak mengerti. Aku melihat perubahan mimik wajah siwon hyung begitu aku menanyakan dimana keluarganya sekarang.

“Aku..”

“Hyung jangan berbohong! Hyung sudah tau aku bagaimana! Aku tidak akan segan-segan dengan hyung jika hyung berbohong!” ujarku dengan nada mengancam. Donghae hyung mencoba melepaskanku. Di bantu beberapa member lain. Aku memberontak. Tentu saja. aku ingin tau dimana keberadaan gadis itu.

“Lepaskan aku! Hyung!” teriakku pada Siwon hyung.

“Mianhae kyuhyun-ah. aku tidak bisa memberitahumu. Ini pesan yang di sampaikan Minji. Dia melarang aku untuk memberitahumu.” Ujarnya. Aku membulatkan mataku. Wae? Kenapa gadis itu tidak mau memberitahuku? Aku terduduk lemas. Semua member memandangku. Mereka masih tidak mengerti apa yang terjadi. Siwon hyung mendekatiku.

“Mianhae. Aku tidak bisa melanggar janjiku pada adikku sendiri. Bagaimanapun, biarkan dia tenang di tempat tinggal barunya.” Ujar siwon hyung. aku menunduk. Lalu aku menepis tangannya di pundakku dan berlari keluar. Aku bisa mendengar suara semua member memanggil namaku. Tapi aku tidak peduli.

Aku berlari terus sampai aku tidak sadar sebuah truk kencang berjalan ke arahku. Aku merasakan benturan keras dan merasakan tubuhku melayang sesaat sebelum akhirnya kepalaku menyentuh tanah dengan keras. Aku melihat semua hyungku kaget. Tapi selebihnya, aku tidak tau karena pandanganku berubah menjadi gelap. 

– To Be Continued-

__________________________________________________________________________________________

Gimana-gimana??? Admin tau pasti jelek dan ga sesuai yang kalian harepin.. Tapi karena admin begitu sibuk sama sekolah jadi ga ada waktu buat edit ulang..

Mianhae kalau masih banyak kesalahan.. Happy Reading =D

57 thoughts on “I LOVE YOU [PART 1]

  1. Huahhhh..kyu knp…minji n kyu sm2 blm ungkapin perasaannya..kasiannn..kyupa ama ak aja..ak jamin ak ga kan tglin oppa..kekkekeke *ngarep

  2. ceritanya sih bagus.
    cuma ada yg aneh aja sm ni cerita.
    ni ff udah di edit lg ya?
    banyak hal2 yg gak pas kek ayahnya minji ntu pemilik hyundai departemenstore tp alasan kluarga minji pindah ke NY cz ayahnya pindah tugas jd kepala cabang disana.
    trus wkt minji pertama sekali ketemu donghae, disini kn ceritain ttg member2 suju tuh. kok si minji gak tau klo donghae ntu member suju?
    waktu kyu tanya kmn kluarga siwon pindah, dia narik kaosnya siwon, tp kok ada dialog (“lepaskan aku! hyung!” teriakku pada siwon hyung)? bukannya kaos siwon ditarik ma kyu? kok ada dialog ini?
    but it’s ok lah cz ceritanya lumayan bagus :)

  3. Annyeong..
    cerita ini bagus.. tapi aku ngerasa ada yang kurang… hehe..
    ehh emank Kyu dlu gitu yahh pas masuk Super Junior??
    sedihh banget liatna..
    udh selesai masalah satu datang masalah satu lagi..
    yang sedihnya pas Kyu tertabrak.. moga tidak apa2 yahh Kyu..
    aku baca lanjutan next partna Thour..

  4. Huhuhu…
    Awlnya ak lucu aj sma perdebatan kyuppa n minji..
    Tp,, di akhir jd sedihhhh…
    Kok minji prg sih???

    Ga sbar bca lnjutannya….

  5. kyu lagi.. Kyu lagi..
    Kenapa setiap ff yg aku baca pasti castnya si maknae evil itu…
    Tapi tak apalah,,
    Ceritanya keren, trus tu kyu na ketabrak ya?
    Jd inget tbrkn mereka thn 2007…
    Daebak n fighting author..

    Jia Jung

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s