Hate You, Love You [part 2]


Author : allriselindol

Main Cast : Lee Hyukjae (SJ), Cho Hyejun (fict), Lee Donghae (SJ)

Support Cast : Kim Misun (fict)

Rating : PG-15

Genre : Romance, Friendship

Warning! : typo(s), tidak sesuai EYD, dan mungkin membosankan -_-

Ps : ini FF pertamaku, tepatnya sih FF pertama yang selesai ak buat ._.v jadi harap maklum kalo belum KLIK buat readers. I NEED YOUR COMMENT FOR MY FANFICT :)

Disclaim : Hyukjae dan Donghae adalah milik ELFs, Hyejun adalah milik saya ^^ *kekeke* FF ini saya buat berdasarkan IMAJINASI saya sendiri :)  jika ada kesamaan tokoh, kemiripan alur cerita, dll itu hanya ketidaksengajaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT :)

HAPPY READING~~ ^^

Aku duduk di ayunan yang ada di taman. Disinilah tempatku selalu menunggu Hyukjae. Berharap dia duduk di ayunan sebelahku ini. Tapi ayunan ini selalu kosong. Apakah malam ini dia akan duduk di sini?

Sudah jam 07:15. Ku keluarkan ipod, dan ku pasang headphone ku. Ku putar lagu dari Boyband favorite ku, Super Junior. Ini selalu bisa menolongku agar tetap bertahan menunggu Hyukjae.

Jam 08:30. Apa dia lupa ada janji dengan ku? Oh iya, ini bukan janji. Dia yang bilang tadi dia tidak berjanji untuk datang. Apa aku harus kembali ke apartemen sekarang? Hmm.. aniyo. Sampai jam11 saja.

Kalau sendirian begini aku jadi ingat bermacam2 kejadian. Dia.. haaah kenapa aku ingat dia? Pasti gara2 Misun yang membicarakannya tadi siang. Lee Donghae. kenapa dia bisa muncul tiba2 begitu. Dia dulu, mungkin merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Dia teman masa kecilku. Dia pernah bilang sangat menyukaiku. Tapi aku acuhkan *namanya juga anak kecil, belum mengerti yang seperti itu*. Dan semakin aku acuhkan, dia semakin sering mencari perhatianku. Lama-kelamaan aku jadi terbiasa dengan tingkahnya. Entahlah, mungkin aku mulai menyukainya. Tapi saat aku menyadari itu, dia malah pergi. Keluarganya pindah ke Kanada. Hari2 ku terasa sepi sejak dia pindah. Aku tidak tau apa aku menyukainya atau hanya merasa kehilangan saja. Tapi sejak melihat Hyukjae, aku merasa aku harus mendekatinya. Hati ku terpanggil begitu saja saat melihat dirinya yang konyol itu. tapi itu dulu. Semenjak dia tahu aku menyukainya, dia terus marah2 seperti sekarang. Ini kah yang namanya Karma? Tapi aku tetap menyukai Hyukjae! Sampai sekarang.. sampai kapanpun.. aku rasa. Haaaaah Hyukjae.. kapan kau datang..

Sudah jam berapa sekarang?

********

Akan ku temui dia hari ini dan menanyakan alasan mengapa dia tidak datang. Hoaaahmm aku masih sangat mengantuk -_-

Kelas sudah dimulai, tapi mana Hyukjae? Kenapa dia tidak ada? Apa dia tidak masuk? Dia tidak mungkin bolos..

“ehem.. sonsengnim..” Kim Sonsengnim menoleh kearahku.

“ne, mworago?”

“bolehkah aku permisi sebentar? Perutku tiba2 saja sakit”

“ah, ne, silahkan..”

“kamsahamnida” segera ku tinggalkan kelas ini.

Aku harus mencarinya. Tapi dimana? Ah iya, dia sering di ruang latihan dance. Ku langkahkan kaki ku kearah ruang latihan.

“Hyejun-ah?” ku tolehkan pandangan ku kearah sumber suara di belakang ku.

“ah, Donghae-ah..” kenapa dia disini?

“kau mau kemana? Bukankah kelas seni sedang ada jam kuliah?”

“n-ne, aku.. aku mau..”

“mencari Hyukjae?” deg! kenapa dia bisa tahu? Dia bisa membaca pikiranku?

“n-ne.. karena dia tidak masuk kelas, jadi aku..”

“iya, aku mengerti, kau mengkhawatirkannya kan?”

“nde?”

“ah kajja, kita cari sama-sama. Aku keluar dari kelas juga karena mencari dia. Aku menelponnya daritadi tapi tak ada jawaban. Kajja” Donghae menarik tanganku.

“ah, n-ne” astaga. Ada apa ini? Aku tidak boleh gugup!

“kira2 dimana dia? Kau tau?”

“ah mungkin di ruang latihan dance, dia sangat sering kesana”

“wah kau tau sekali hahaha kajja” apa-apaan dia? Menyindirku? Atau mengujiku?

Kami tiba di ruang latihan. Saat membuka pintu ruangan, aku langsung bisa menangkap sosok Hyukjae yang bersandar di dinding dekat jendela.

“Hyukjae-ah!” aku berlari menghampiri Hyukjae. Tubuhnya menggigil. Berkeringat. Ada apa ini? Ku sentuh dahinya. Panas. Dia demam? Hyukjae mendongakkan kepalanya.

“kau.. kenapa disini? Bukankah kelas..”

“Donghae-ah, bantu aku mengangkatnya. Badannya menggigil” aku tidak mengacuhkan perkataan Hyukjae. Aku menglhawatirkannya.

“ti-tidak usah, aku.. aku hanya butuh sedikit istirahat” tolak Hyukjae.

“tapi.. kau itu sedang sakit Hyukjae-ah. Kau harus segera di bawa ke ruang kesehatan”

“baik, baik.. aku bisa berjalan sendiri kesana” dia mencoba berdiri. Dan berjalan gontai sambil memegangi kepalanya. Tapi tiba2 badannya ambruk. Beruntung Donghae langsung menangkap badannya.

“Donghae-ah eottokhe?”

“sebaiknya biar aku antarkan dia ke rumahnya. Badannya sangat panas. Aku akan memopongnya ke mobil”

“bo-bolehkah aku ikut?” Donghae melihat kearahku beberapa detik, dan terdiam. Kemudian menganggukkan kepalanya.

********

kami sudah sampai dirumah Hyukjae. Aku dan Donghae masuk dengan kunci yang diambil dari tas Hyukjae. Donghae membaringkan Hyukjae disofa ruang tengah. Sedangkan aku kedapur mengambil beberapa balok es dan menaruhnya di baskom yang berisi air. Kuambil sebuah handuk kecil dan mulai mengompres Hyukjae Sepertinya dia tertidur.

“bagaimana keadaannya?” tanya Donghae yg ternyata sudah duduk di sofa yang berhadapan dengan tempatku dan Hyukjae.

“masih seperti tadi. Tapi sepertinya sudah agak baikkan”

“hmm..” susana hening sejenak. Rasanya sangat canggung. Hanya bunyi jarum jam dinding yang terdengar.

“kau.. sudah mendengarnya dari Misun?” Donghae memulai pembicaraan.

“nde?”

“maksudku.. apa Misun sudah bilang yang mau ku sampaikan padamu?”

“oh ne, mianhe, aku awalnya tidak mengingatmu karena.. tampangmu hampir tidak mirip saat kecil dulu, kau lebih ‘bule’ dari yg dulu” jawabku terkekeh.

“jinjja? lalu kenapa kau bisa ingat?” tanyanya penasaran.

“ehehe itu.. karena Misun bilang kau pergi ke Kanada. makanya aku ingat kalau itu kau”

“oh iya, Kanada ya. sudah lama sekali kita tidak mengobrol seperti ini. Kau sama sekali tidak berubah ya”

“haha tidak berubah? Aku?”

“ya, cara bicaramu, caramu tertawa, bahkan sifat sok akrab mu itu” kali ini Donghae yang terkekeh.

“mwo? Aku bukan sok akrab, tapi aku memang akrab dengan siapa saja” ujarku, mungkin sedikit menyombongkan diri kekeke~

“hahaha kau tetap pandai menjawab perkataan orang lain ya, benar-benar tidak berubah” tawa Donghae pecah. “jadi, kau ingat teman kecilmu ini kan?” lanjutnya.

“ne, aku ingat” ujarku sambil tersenyum kecil kearahnya. “tapi kau banyak berubah! Terutama gaya mu itu. saat kecil kau bahkan sangat culun! kekeke”

“haha benarkah? tapi perasaan ku tetap tidak berubah Hyejun-ah” dia tersenyum penuh arti. Aku yang sedari tadi mengkomres Hyukjae terhenti sejenak. Perasaannya sejak kecil tidak berubah? Bukankah itu sangat mustahil? -_-

“nde? Aku tidak mengerti haha” aku pura2 lupa. Ya, jangan ungkit itu lagi Donghae, aku punya orang yang lebih kusukai sekarang.

“ohaha sudahlah lupakan. Aku sebentar lagi ada jam kuliah, kau mau kuantar pulang atau kembali ke kampus?”

“gwenchanayo, aku sudah tidak ada jam kuliah lagi. Aku disini saja merawat Hyukjae sampai orang tuanya pulang” jawabku yakin. Iya, izinkan aku merawatnya, walaupun nantinya pasti aku akan kena marah olehnya.

“ah iya aku lupa bilang. Orang tua Hyukjae sedang keluar negri, dia sendirian dirumah”

“jinjja? kalau begitu nanti kalau keadaannya sudah lebih baik, aku akan pulang. Lagi pula dia mungkin akan mengusirku jika tau aku disini haha”

“mengusir? Haha kurasa Hyukjae tidak mungkin setega itu, yah walaupun dia seringkali memarahimu.. apa benar kau tidak apa sendirian merawatnya?”

“ne gwenchana”

“yah, baiklah. Aku pergi duluan” Donghae beranjak dari tempat duduknya dan menuju pintu.

‘BLAM’ suara pintu tertutup.

Sekarang tinggal kami berdua. Eh? Berdua? Haha kenapa aku tidak menyadarinya? Hyukjae masih tertidur. Panasnya sudah agak turun.

Ku edarkan pandanganku ke ruangan ini. Aku belum pernah kerumah Hyukjae sebelumnya. Ada foto keluarga yang terpampang di atas televisi itu. wah keluarga yang harmonis. Hyukjae memang anak semata wayang di keluarganya. Foto ini kelihatannya sudah lama. Lihat wajah itu hahaha aku jadi terkekeh sendiri melihat wajah Hyukjae yang masih sangat polos itu. ku alihkan pandanganku kearah namja yang sekarang tertidur di sofa sebelahku ini. Dia terlihat sangat manis ketika tidur. Wah jantungku berdebar lagi haha dasar bodoh -_-

“Hyejin..” ucap Hyukjae pelan. Dia mengigau rupanya. Hyejin? Siapa? Nama ku kan Hyejun -_- eh apa hubungannya dengan namaku? Pabo. Setelah itu Hyukjae terus mengigau. Sepertinya dia sedang ada masalah?

Kulirik jam ditanganku. Sudah jam5 sore? Selama itukah aku berada dirumah Hyukjae? Ku pegang keningnya. Tidak terlalu panas lagi. Sebaiknya aku pulang sekarang sebelum dia mengusirku. Lu ambil tasku dan segera beranjak dari rumah Hyukjae.

“semoga cepat sembuh” ucapku pada Hyukjae. Dia tidak mungkin mendengarnya, dia itu sedang tertidur haha -_-

*******

Aku harus bangun pagi sekali hari ini. Hoaahmm benar2 mengantuk. Aku tidak bisa tidur semalam gara2 mengkhawatirkan Hyukjae. Aku lupa mengunci pintu rumah Hyukjae ketika pergi dari rumahnya kemarin -_- huaaah Hyejun paboya~! Aku terus berpikir bagaimana jika dia belum bangun dan seseorang masuk ke rumahnya yang tidak terkunci itu? bagaimana kalau terjadi sesuatu? Dia sedang sakit, bagaimana bisa melawan jika ada pencuri yg masuk ke rumahnya? Semua itulah yang berputar di kepalaku semalaman. Jika pagi ini bertemu dengannya aku ingin minta maaf. Kenapa aku bisa sebodoh itu ya? -_-

Aku sampai di kampus. Jam 06:54. Kelas dimulai satu jam lagi. Segera ku cari sosok Hyukjae. Apa dia sudah masuk hari ini? Tidak ada dikelas. Apakah masih demam? Atau sesuatu terjadi padanya karena kebodohan ku itu? aish. Pikiranku semakin kalut. Di kantin? Ah baiklah. Aku berjalan tergesa2 menuju kantin kampus yang ada di lantai 2. Sesampainya di kantin, aku tetap tidak menemukan sosok yang ku cari! Eotokkhe??

“Hyejun-ah!” seseorang menepuk pelan pundakku. Aku langsung menoleh kebelakang.

“oh Donghae-ah. Annyeong” sapaku.

“ne annyeong. kau mencari Hyukjae?” aish kenapa dia selalu tau? Aku mengangguk pelan. “dia tidak masuk hari ini”

“jinjja?”

“ne, kalau kau mengkhawatirkannya, datang saja kerumahnya. Aku rasa dia tidak sakit lagi, mungkin masih agak lelah”

“oh, gomawo Donghae” kubungkukkan sedikit badanku kearahnya.

“cheonman.. apa kau sudah sarapan? Kalau dari mukamu yang kusut itu sepertinya belum” kusut? Pasti gara2 semalam aku susah tidur. “ayo makan bersamaku. sudah lama kita tidak makan bersama” bagaimana ini? Aku memang kelaparan sih. lagipula aku tidak bisa bohong. Aku merindukan saat2 bersama Donghae seperti dulu.

“ah, ne. tentu saja. Sudah lama tidak mengobrol denganmu” ujarku dengan nada ceria.

“kajja” aku dan Donghae menduduki kursi kosong di kantin, memesan makanan, kemudian mulai mengobrol banyak. Dia banyak menceritakan tentang Kanada. aku sendiri kurang mengerti apa yang dia ceritakan haha. Tertawa, bercerita seperti ini. Haaaah aku rasa aku memang merindukan teman kecilku ini. Dia ternyata memang tidak banyak berubah, hanya wajahnya saja yang sedikit ‘bule’ mungkin tertular dengan orang2 disana? Hehe.

“awalnya sangat sulit bergaul dengan orang2 asing, tapi lama kelamaan aku jadi tebiasa. Kau tau kan bagaimana pergaulan di luar sana”

“yaya, aku mengerti. Jadi kau.. juga mengikuti pergaulan itu ya?” ujarku sedikit menggodanya.

“haha aniyoo mana mungkin! Aku masih memegang janji ku kok”

“nde?”

“kau lupa?” aku mengangguk kepalaku pelan “aish apa kepala mu pernah terbentur sesuatu sehingga kau melupakan semua masa kecilmu Hyejun? Kekeke~” kali ini Donghae yang balik menggodaku.

“ya! sudah, beritahu aku janji apa itu? siapa tahu aku bisa ingat”

“aku tidak akan macam2 di Kanada sana. Aku akan selalu mengingatmu” eh? Sepertinya aku sedikit ingat kata2 itu. “haaaaah menyedihkan sekali saat tahu kau tidak mengingatku” wajah Donghae terlihat.. kecewa?

“hehe mianhe~ yang penting sekarang aku sudah mengingatmu!”

“yah, itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Perasaanku terhadapmu juga tidak berubah sejak dulu Hyejun”

“haha sudahlah Donghae-ah, itu kan saat kau masih kecil, kau akan menyesal jika tahu aku seperti ini jadinya kekeke~”

“tidak, dari dulu aku tidak pernah menyesal kok. Aku yakin pada perasaanku” kali ini wajahnya berubah serius. Kenapa aku malah gugup? “apa kau belum juga bisa membalasnya Hyejun?” deg! Donghae berhasil membuat jantungku berdegub kencang.

“ehmm.. Hae.. itu..” eottokhe? aku tidak mungkin bilang bahwa aku menyukai Hyukjae. Tapi aku juga tidak bisa bohong kalau aku merindukan teman kecil ku ini..

“ya ya, aku tahu kau menyukai namja lain” mwo? Aish bodoh kau Cho Hyejun, kau sudah menyakiti teman kecilmu! Aku harus menjawab apa??

“hehe darimana kau menyimpulkan itu?”

“aku bisa melihat caramu menatap namja itu sangat berbeda. Apalagi kau selalu tau dimana keberadaannya walaupun dia ada di antara segerombolan orang2. Haha apa ada yang salah dengan analisis ku?”

“kau.. haha sifat sok detektifmu itu tidak hilang juga ya..”

“ya, jadi benar kan dugaanku tadi? Namja itu.. Hyukjae kan?” sekali lagi Donghae membuatku terkejut. Kalau seperti ini setiap hari, bisa jantungan aku!

“eh?”

“kau tidak perlu menyembunyikannya lagi Hyejun-ah. Sudah tidak apa-apa”

“hmm.. maaf..”

“untuk apa minta maaf? Ini kan bukan salahmu. Ini salahku yang meninggalkan mu selama bertahun2 dan tiba2 muncul lagi ke hadapanmu haha aku bodoh ya..”

“Donghae-ah..”

“sudahlah Hyejun, aku baik2 saja kok. Aku juga senang ternyata namja yang kau sukai adalah temanku sendiri, jadi aku tidak perlu khawatir. Hyukjae namja yang baik untukmu, walaupun dia sering memarahimu sih, tapi ku pikir kalian akan cocok”

“mwo? Haha sudahlah Donghae, pembicaraan ini sudah terlalu jauh” ujarku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“ya ya aku mengerti. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja Hyejun. Aku akan merebut hatimu kembali seperti saat kita kecil dulu” senyuman mengembang di bibirnya.

“haha apa-apaan itu? kata-kata mu sangat kuno Donghae hahaha” aku hanya menanggapinya dengan candaan. Jangan buat ini jadi sangat serius, Hae..

“hoo benarkah? aku hanya mengungkapkan yang sesungguhnya” aku masih saja tertawa. “kau itu memang tidak pernah bisa diajak serius Hyejun” lanjutnya sambil mengacak2 rambutku. Aish hanya dengan begini saja kenapa aku harus segugup ini?

“ya! tidak kau acak2 juga rambutku sudah kusut Hae!” kami pun hanya tertawa bersama..

********

Jam11. Jam kuliah sudah habis. Aku berada di depan gerbang rumah Hyukjae sekarang. Ku pandangi sekeliling rumahnya. Sepi. Sepertinya orang tuanya belum juga pulang. Beranikah aku menemuinya? Aish kenapa aku bimbang? Aku takut dia malah mengusirku jika tahu aku menjenguknya -_- ah tidak, Donghae bilang Hyukjae tidak akan setega itu.

Kuberanikan diri berjalan ke depan pintu rumahnya. Saat ini keadaan jantungku sudah tidak beraturan. Gugup, takut, gembira, sesak. Aish pabo. Ku tekan tombol bel di pintu nya. Terdengar langkah kaki dari dalam rumah menuju pintu dan siap membuka pintu rumah ini. Yak, munculah Hyukjae di balik pintu ini. Wajahnya agak kusut, tapi tetap tampan *hehe* Sekarang dia berada tepat di depanku. Ekspressi wajahnya ketika melihatku tidak bisa ku gambarkan. Dia terkejut, tidak suka aku datang, atau kecewa karena yang datang adalah aku? Mungkin.

“a-annyeong Hyukjae, aku, aku kesini mau memberikan ini. Kau kan sudah 2hari tidak masuk” ku serahkan sebuah buku yang isinya adalah rangkuman2 pelajaran yang 2hari ini tidak dia ikuti. Diraihnya buku itu sambil melihat-lihat sedikit isinya. Dia tidak berbicara apa2. Ya aku memang sudah tau akan begini.

“a-aku kesini hanya ingin memberikan itu. aku akan segera menyingkir dari hadapanmu, tenang saja. Aku tahu kau terganggu hehe” aku mencoba merilekskan diri sendiri. Kenapa dia tidak bereaksi? Aish. Kubungkukkan sedikit badanku kemudian berbalik arah. Aku rasa sebuah kesalahan berada disini.

“aku tidak terganggu kok. Masuklah” apa? Benarkah ini Hyukjae yang berbicara? Ku balikkan lagi arahku. Melihat tepat ke matanya. Benarkah? “ne, masuklah” ah dia membaca sorot mataku. Eottokhe? kenapa aku malah takut masuk kerumahnya dan malah ingin cepat2 pergi?

Aku duduk di sofa ruang tamu. Terlihat agak berantakan. Ya tentu saja. Dia tinggal sendirian dan sedang sakit.

“kau mau minum apa? Akan kusiapkan” tanyanya.

“tidak usah repot2 Hyukjae, kau kan sedang sakit”

“lalu? Kau pikir aku tidak bisa apa2 jika sedang sakit? Jangan meremehkan ku. Lagi pula aku tidak sakit lagi” ternyata sifatnya ketika sakit ataupun sehat tetap tidak berubah.

“aku tidak bicara begitu! Ah begini saja, biar aku yang menyiapkan minumnya, kau duduklah disini” ujarku sambil mendorong pelan pundaknya dan dia terduduk di sofa.

“hei kau ini. Aish kau pikir ini rumah siapa? Seenaknya saja”

“sudah, duduk saja tuan Lee” ejek ku sambil melangkahkan kaki menuju dapur. Aish aku lancang ya haha. Tapi lebih baik seperti ini. Aku benar2 canggung ketika dia diam seperti saat pertama aku datang tadi. Hmm.. minuman apa ya? mungkin susu bagus untuknya yang sedang sakit.

“ini silahkan dinikmati” ujarku sambil menghidangkan segelas susu strawberry di hadapannya. Hyukjae yang daritadi melihat2 buku yang kuberikan langsung mengalihkan pandangannya.

“kenapa hanya satu gelas?” tanya nya bingung.

“lalu? Kau mau 3 gelas? Wah sepertinya kau kehausan?” ejek ku.

“berhentilah mengejekku. Lalu kau minum apa?”

“aku? Aku sedang tidak haus” ujarku sambil mengikat rambut pendekku dan mengambil sapu di dapur.

“mau apa kau?” Hyukjae masih terlihat kebingungan. Haha muka bodohnya itu sangat lucu.

“mau apa? Ini sapu, lalu aku mau apa?”

“menyapu?”

“wah ternyata kau pintar” ejekku untuk kesekian kalinya.

“kau! Haaah.. kenapa seenaknya saja dirumahku!”

“aku tidak tahan melihat yang berantakan, Hyukjae. Jadi biarkan aku membereskan rumahmu ini. Dan kau duduk manislah disitu” ujarku sambil tersenyum lebar kearahnya.

“kau..!” belum sempat dia melanjutkan ucapannya, aku sudah lebih dulu menyodorkan susu strawberry tadi tepat didepan wajahnya.

“ayo minum, aku sudah susah payah membuatnya, dan pelajari juga buku yang kuberikan tadi” anehnya dia menuruti perkataanku kekeke sepertinya demam kemarin benar2 merubah sedikit arah otaknya.

Aku sibuk menyapu rumahnya, membereskan dan membersihkan barang yang agak berdebu, lalu mengepel. Huff ternyata lelah juga. Ini sudah diruang tengah, sedikit lagi selesai. Ku hapus keringat di keningku.

“lelah nona Cho?” aku menangkap sosok Hyukjae yang tengah berdiri di depan pintu penghubung ruang tamu dan ruang tengah.

“jangan meremehkan ku!” kataku sambil meneruskan kegiatan mengepel tadi.

“wah kerjamu bagus juga” Hyukjae mengedarkan pandangannya ke ruangan ini sambil tertawa penuh arti. Itu ejekkan atau pujian?

“tentu saja! Kau pikir bagaimana aku bisa hidup sendirian kalau tidak pandai bersih2” nada bicaraku sedikit sombong.

“ya ya ya, kau hebat! Daebak!” Hyukjae mengepalkan tangan kanannya dan mengangkatnya sebahu.

“apa-apaan itu? menyemangatiku?”

“aish, aku jadi menyesal sudah mengataimu hebat” aku hanya bisa tertawa melihatnya.

“kenapa kau malah berdiri disana? Apa minumannya sudah habis? Kau pasti belum selesai belajar!”

“ya! kenapa kau cerewet sekali sih?”

“ah kau pasti belum makan? Kau lapar kan? makanya kau jadi marah2 terus daritadi”

“hah? Kau bilang apa?”

“Ya ya aku segera selesaikan ini dan aku kubuatkan makanan” ku cepatkan gerakan mengepelku.

“ya! kau dengarkan aku!”

“iya sebentar lagi aku selesai, bersabarlah, makanan akan segera terhidangkan!” aku sama sekali tidak mengacuhkan kata2 Hyukjae.

“haish” dia hanya mendengus pelan kemudian kembali ke ruang tamu. Hahahaa aku senang telah membuatnya kesal.

Yak! Mengepel selesai. Aku langsung menuju dapur. Di kulkas ada banyak buah2an. Buah bagus untuk kesehatan kan? baiklah kubuat sup buah saja.

“kau mau memasak apa?” ternyata Hyukjae sudah berdiri di belakangku.

“aish kau ini duduk saja di sana. Nanti makanannya aku yang siapkan. Sudah sana, sana..” ujarku sambil membalikkan badannya dan mendorong pelan.

“ya! aku tuan rumah disini, kenapa kau selalu memerintahku dari tadi!” Hyukjae berbalik dan meletakkan kedua tangannya di pinggang.

“kau itu sedang sakit, jadi aku merawatmu hari ini, apa aku salah? Sudahlah, duduk saja, percayakan padaku”

“mwo? Aku sudah sehat sejak tadi. Biarkan aku membantumu kali ini. Lihat wajahmu itu, lusuh sekali” haah lagi2 wajahku, tadi Donghae bilang kusut dan sekarang Hyukjae bilang lusuh -_-

“kau yakin sudah sehat?”

“tentu saja! Aish cepatlah, aku sudah lapar” Hyukjae melewatiku dan menuju ke pintu kulkas, mengambil beberapa buah.

“kenapa kau pilih-pilih?”

“aku kurang suka yang itu”

“tidak! Yang ini baik untuk kesehatan! Kau harus memakannya!”

“ya! kau itu..!”

“nah ayoo mulai membuat sup buah~” ujarku riang sambil membawa buah2an ke atas meja di dapur.

Aku menyiapkan kuahnya, sedangkan Hyukjae memotong2 buah. Apa itu? potongan buahnya benar2 hancur -_-

“ya! apa yang kau lakukan? Kau menghancurkan buahnya tau! Aish dasar bodoh!”

“apa? Kau bilang aku bodoh? Sudahlah kau siapkan saja kuahnya, ini urusanku”

“mana bisa begitu! Kalau tampilannya sudah tidak bagus, kau tidak akan berselera makan! Sini biar aku saja” aku mencoba meraih pisau yang dipegang Hyukjae, tapi dia malah mengelak dan hasilnya, jariku tergores. Darah segar langsung mengalir.

“ya! lihat! Tanganmu jadi terluka kan? dasar bodoh!” Hyukjae malah memarahiku, lalu beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari dapur. Lalu dia kembali dengan kotak p3k di tangannya. Aku masih saja meringis kesakitan. Sungguh, ini benar2 perih.

“sini, mana jarimu?” Hyukjae langsung memegangi tanganku yang terluka. Kenapa aku malah gugup? “ini harus dibersihkan” dia menarikku ke wastafel dan mencuci luka ku.

“aaaaa~!! Itu sangat sakit Hyukjae!! Kau tidak bisa lembut sedikit ya!!” aku sedikit berteriak dan membentaknya. Dia benar2 kasar mencuci luka ku. Dasar tidak berperasaan!

“memang harus seperti ini! Nanti luka mu bisa infeksi, atau bisa2 jarimu diamputasi!” what? Diamputasi? Berlebihan sekali kau Hyukjae -_- selesai mencucinya, dia kembali menarik tanganku. Aku hanya diam mengikutinya. Lalu Hyukjae mengelap bekas air di jari2ku. Kali ini dia agak hati2. Wah ternyata besar juga goresannya? Pantas saja sakit sekali. Hyukjae sedikit meniup2 luka di jariku, di beri sedikit obat cair, lalu membalutnya dengan perban. Dia melakukannya dengan sangat lembut dan hati2. Rasa sakitnya jadi berkurang. Ku perhatikan wajahnya yang sedang membalut luka di jariku. Kelihatan sangat serius. Aku tidak pernah melihatnya yang seperti ini. Sangat menyenangkan bisa berada sedekat ini.

“yak, selesai. Bagaimana rasanya?” suara Hyukjae mengejutkanku.

“i-iya, sudah lebih baik” haaah kenapa aku malah gugup? Hyukjae tersenyum melihat tingkahku. Dasar bodoh -_-

“kali ini, kau yang sakit, jadi biar aku saja yang menyiapkan buahnya”

“ya! mana bisa seperti itu! bisa2 buah2annya jadi hancur semua!”

“kau masih mau memotong buah dengan tangan seperti itu? dasar bodoh”

“aish baiklah, aku akan menyiapkan kuah sup nya” ujarku lalu berjalan beberapa langkah dan berhenti “ehm.. gomawo sudah mengobati jari ku” lanjutku sambil melihatnya yang asik memotong buah, kemudian Hyukjae juga melihat kearahku sambil tersenyum. oh Tuhan, aku rasa aku semakin menyukai namja ini..

Sup buah sudah jadi. Tapi.. kenapa tampilannya aneh begini? Potongan buahnya agak berantakan. Tidak berantakan, bahkan buah2annya hampir hancur -_- aku memandang hasil sup buah buatan kami dengan tatapan menyedihkan.

“ya! jangan menatap sup buahnya seperti itu! sudah, makan saja! aku jamin ini enak!” ujar Hyukjae semangat. Aku duduk di kursi yang berhadapan dengan Hyukjae, kemudian mencicipi sedikit sup buah yang hampir gagal itu.

“bagaimana?” tanya Hyukjae. Aku hanya tersenyum.

“coba saja sendiri” Hyukjae semakin bingung, lalu ikut mencobanya sedikit. Senyuman mulai mengembang di bibirnya.

“ini enak!” ujarnya. lalu kami hanya tertawa, sambil terus menyantap sup buah itu.

“ah aku hampir lupa! Mianhe, kemarin aku lupa mengunci pintu rumahmu” ujarku sambil tertunduk malu. Sebentar lagi dia pasti memarahiku.

“gwenchanayo, sudah kuduga kau pasti melakukan kesalahan, kau kan bodoh” kata Hyukjae sambil terus menyantap makanannya. Cih dasar kau Hyukjae. Kalau tau kau tidak apa2, aku tidak perlu sekhawatir itu sampai susah tidur segala. “tapi, gomawo sudah merawatku kemarin” lanjutnya dengan suara yang agak pelan dan sambil menundukkan kepalanya. Dia tahu aku merawatnya?

“nde? Oh, gwenchanayo. Kau tau darimana aku merawatmu?”

“Donghae yang memberi tahu ku” hmm.. ku angguk2kan kepala ku tanda mengerti.

“ah, ada yang mau kutanyakan!” ujarku. Hyukjae mendongakkan kepalanya. “siapa itu Hyejin?” wajah Hyukjae terlihat terkejut ketika aku menyebut nama itu. ada apa sebenarnya?

-TBC-

 

4 thoughts on “Hate You, Love You [part 2]

  1. haah! akhirnya muncul jg part 2nya!!! hayoo,sapakh itu hyejin? yeoja yg disuka hyuk ato itu pacarnya???
    nanti gmn nasib si hyejun??? pnasaaraaannn!!! >.< like!

  2. for bila : https://wonderfanfiction.wordpress.com/2011/09/23/hate-u-love-u-part-1/

    ya ampunnnnn……..ternyata….
    tadi pertama baca ff “Hate You, Love You” kirain oneshoot, tapi kok TBC, tapi yaweslah, coment trus cari ff lain,
    trus kaget kok nemu Hate You, Love You part 2? kirain ngepostnya kebalik……dibaca kok gak nyambung akunya, cari2 lagi ada Hate You, Love You part 1, ya ampuuunnnnn ternyata saya udah pernah baca yang part 1 bahkan sempet komen (pake ID “poke”).
    jadi bingung karna judulnya ni…
    hahahha

    bagus ceritanya nie, udah baca yang lanjutannya, ditunggu part 4 nya

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s