Can I Love You [prolog]


Author: tirzsa

Main Cast: Lee Jong Hyun (CN Blue), Park Eun Bin, Kang Min-hyuk (CN Blue)

Support Cast: Lee Jungshin (CN Blue)

Rating: PG – 15

Genre: Romance

PS: Annyeonghaseo~ Well, ini adalah kali pertamanya saya nulis sekaligus mem-publish FF saya, jadi, mudah-mudahan cerita FF saya ini berkenan di hati para readers sekalian. Makasih banyak juga buat owner blog ini yang udah berkenan untuk mem-publish FF ini. Oh ya, alasan saya milih Lee Jonghyun sebagai main cast soalnya dia ganteng haha :P dan alasan saya memilih aktris Park Eun Bin karena saya ngerasa kalau Park Eun Bin kayaknya cocok dipasangkan dengan Jonghyun. Oh ya, saya juga mengganti  nama asli Kang Min-hyuk jadi Lee Min-hyuk soalnya ceritanya Jong-hyun dan Min-hyuk saudaraan, jadi otomatis saya harus menyesuaikan nama marga mereka. Jadi, maaf ya yang biasnya Min-hyuk. Nggak bermaksud buat ngubah-ngubah nama orang sembarangan hehe. Ide ceritanya saya dapatkan dari kehidupan nyata idol-idol Korea yang dimana setahu saya ada beberapa manajemen di Korea yang berdasarkan pengakuan idol-idolnya sendiri kalau mereka tuh dilarang menjalin kasih (atau yang lebih dikenal sebagai pacaran :P) sama pihak manajemen mereka baik karena masalah skandal yang bisa timbul atau citra manajemen dan artis itu sendiri. Jadi, intinya, saya ingin membuat cerita cinta dimana kedua tokoh utama harus menjalani hubungan yang dihalangi oleh kepentingan manajemen. Saya nggak tahu ceritanya akan jadi favorit atau nggak, yang jelas, saya tetap meminta kritik dan saran dari para readers sekalian. Kalau FF saya ini mendapatkan sambutan yang baik, maka akan tetap saya lanjutkan sampai akhir. Oh ya, foto buat FF ini nanti nyusul ya. Soalnya nggak ada ide mau buat tema foto yang kayak gimana. So, selamat membaca! J

Prolog

D

engan sekuat tenaga, Lee Jong-hyun berlari keluar dari kelas dan menyusuri koridor kampus. Sesekali ia melirik ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 12.12 KST. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi lain hanya bisa terheran-heran melihat tingkah aneh Jong-hyun yang sejak sebulan lalu selalu langsung berlari keluar kelas setelah bel jam kuliah berbunyi dengan tergesa-gesa.

Namun, sepertinya Jong-hyun tidak menyadari tingkah anehnya tersebut dengan terus berlari dan mencoba untuk secepat mungkin sampai di parkiran. Dengan lincah dan sigap ia langsung mengenakan helm dan melajukan skuter kecilnya ke sebuah restoran China yang jaraknya lumayan jauh dari kampus.

Sesampainya di restoran China itu, Jong-hyun sudah disambut oleh seorang pria yang umurnya sekitar 40 tahun. Dari ekspresi wajahnya dan gayanya yang menyilangkan tangannya diatas dada, sepertinya ia sedang tidak senang.

Annyeong! Sepertinya kau terlambat lagi, tuan Jong-hyun!” ketus pria itu.

Dengan napas tersengal-sengal, Jong-hyun hanya bisa menunduk dengan rasa bersalahnya. Ia sudah tahu kalau dirinya sekarang dalam keadaan bahaya.

Pria tadi, yang merupakan pemilik restoran China itu mengisyaratkan Jong-hyun untuk mengikutinya masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di dalam restoran China itu. Sepertinya itu adalah ruangan pribadi milik pria itu. Dan dengan langkah berat, Jong-hyun mengikuti langkah pria itu. Masih dengan kepala tertunduk.

“Jadi, Jonghyun-ah, apa lagi alasanmu datang terlambat untuk bekerja hari ini?” tanya pria itu sambil duduk di sebuah kursi empuk berwarna hitam yang berada di ruangan itu. Lagaknya masih tenang. Tapi, Jong-hyun tahu bahwa jika atasannya itu tenang bukan berarti ia tidak dalam keadaan akan baik-baik saja. Justru sebaliknya.

Karena tak ada jawaban dari Jong-hyun yang masih mematung dengan kepala tertunduk, pria itu kembali membuka suara. “Apakah kau mengetahui bahwa ini adalah ke-22 kalinya kau terlambat untuk datang bekerja setelah sebulan kau bekerja disini?

Setelah mendengar perkataan pria itu, Jong-hyun akhirnya berusaha untuk membela dirinya, “Jeongmal mianhe!” ucap Jong-hyun sambil menunduk berulang-ulang kali. “Aku harus menyelesaikan jam kuliahku dulu, baru bisa datang untuk bekerja disini. Maka dari itu, aku selalu telat datang,” jelas Jong-hyun.

Mwo?! Ya! Aku sudah begitu bosan mendengar alasan itu sejak pertama kali kau terlambat untuk datang bekerja ditempatku ini. Aishh… Aku bingung harus berbuat apa terhadapmu!” atasan Jong-hyun sepertinya terlihat putus asa dan lelah dengan keterlambatan Jong-hyun untuk datang bekerja sebagai seorang pengantar makanan di restorannya.

Hajiman…” lanjut pria itu, “Aku rasa, aku harus segera melaksanakan ini sebelum restoranku bangkrut hanya karena seorang karyawan yang datang terlambat. Kau harus berhenti dari pekerjaanmu, Jong-hyun.”

Jong-hyun yang tadinya hanya bisa mematung dan menundukkan kepalanya, kini ia mendonggakkan kepalanya karena kaget mendengar keputusan atasannya yang begitu tiba-tiba. “Tapi, kau tidak bisa memecatku begitu saja, sajangnim! Tolonglah, jangan pecat aku! Aku sangat membutuhkan uang untuk membiayai kehidupanku dan adikku,” mohon Jong-hyun.

Namun, pria itu hanya bangkit dari duduknya dan memegang pundak Jong-hyun. Ia menatap Jong-hyun dengan tatapan antara tidak tega namun tetap tajam dan tegas. “Jong-hyun, kau tidak bisa melakukan segalanya secara bersamaan. Aku tahu kau sangat membutuhkan uang. Tapi, aku pikir, kau harus mengorbankan salah satu antara pekerjaan dan pendidikan. Aku tidak bermaksud untuk menyuruhmu lebih memilih pekerjaan daripada pendidikan atau pun sebaliknya. Aku hanya ingin kau berani mengambil keputusan untuk hidupmu. Dan walau pun kau memilih keduanya, pasti akan ada salah satu dari pilihan itu yang akan menyerah dengan keadaan. Jadi, tentukanlah hidupmu sekarang juga,” ucap pria itu kemudian menepuk pundak Jong-hyun sambil pergi meninggalkan ruangan itu.

Sementara Jong-hyun masih mematung di dalam ruangan itu. Entah kenapa, ia merasa bahwa perkataan atasannya itu ada benarnya juga. Bahkan, ia sudah merasakan efeknya sekarang. Mulanya, Jong-hyun memilih untuk bekerja namun tetap meneruskan pendidikannya. Namun, semuanya tidak bisa diseimbangkan dengan mudah. Jong-hyun sadar akan itu.

Lebih tepatnya lagi, Jong-hyun bahkan sudah mengalami hal ini berkali-kali. Entah sudah berapa kali ia berpindah-pindah dari restoran yang satu ke restoran lainnya untuk bekerja paruh waktu sebagai seorang pengantar makanan. Tapi, sekeras apa pun usahanya untuk mengontrol keadaan, akhirnya ia harus menerima pahitnya ketika dipecat dari pekerjaannya yang menjadi satu-satunya sumber keuangan dia dan adiknya saat ini. Dan baru kali inilah Jong-hyun benar-benar disadarkan oleh perkataan atasannya barusan.

Dan dengan langkah berat, Jong-hyun berjalan keluar restoran itu. Dari balik kaca restoran itu, pria itu menatap Jong-hyun dengan penuh tatapan miris. Walau pun ada perasaan bersalah, tapi pria itu tahu bahwa apa yang telah ia katakan pada Jong-hyun akan menyadarkannya tentang pilihan hidupnya.

 

***

            Bunyi lonceng sekolah berdenting keras menyusuri seluruh sudut-sudut tiap kelas, tanda bahwa waktu istirahat telah tiba. Seperti pada umumnya, ini adalah saat-saat yang paling dinanti-nanti oleh para siswa dan siswi dimana mereka bisa sejenak mengistirahatkan otak mereka yang penat karena belajar beberapa jam.

Seluruh siswa laki-laki di sekolah menengah itu tengah sibuk berlari-larian kesana kemari. Ada juga yang lebih memilih menghabiskan waktu istirahat untuk makan di kantin sekolah, bermain sepakbola di tengah lapangan, atau ada yang hanya menghabiskan bekal makan siangnya di kelas. Sama seperti apa yang dilakukan Lee Min-hyuk.

Sejak bel berbunyi, ia hanya diam duduk di kelas. Sebelumnya, beberapa orang temannya sudah mengajaknya untuk bermain sepakbola dan makan siang di kantin, tapi Min-hyuk lebih memilih untuk dikelas saja. Ini memang sudah menjadi kebiasaannya dari dulu.

Setelah suasana kelas telah kosong, Min-hyuk meraih tas butut merahnya dan mengambil sesuatu yang dibungkus dari kertas alumunium. Itu adalah sandwich yang sempat ia beli di pinggir jalan saat dalam perjalanan ke sekolah. Dengan gerakan cepat, Min-hyuk membuka kertas alumunium itu. Dan muncul lah sepotong sandwich dengan isi keju, irisan tomat, daun selada, dan ikan tuna. Tanpa menunggu waktu yang lama, Min-hyuk langsung melahap roti isinya itu dengan gigitan yang besar. Mulutnya menggembung, penuh dengan roti isi tersebut. Walau pun terlihat kesulitan mengunyah, Min-hyuk cukup puas dengan menu makan siangnya hari ini.

Sebelumnya, Min-hyuk seringkali diberi bekal buah-buahan oleh kakaknya, Jong-hyun. Lebih tepatnya lagi, Jong-hyun lebih sering memberikan tiga buah pisang sebagai bekal siang Min-hyuk. Walau pun terkadang Min-hyuk memaklumi dengan kondisi keuangan kakaknya yang menjadi tulang punggung untuk dirinya, tapi bagaimana pun juga, terkadang Min-hyuk merasa bosan jika tiap kali ia membuka bekal makan siangnya harus diisi dengan tiga buah pisang yang hampir membusuk.

Dan akhirnya, sejak seminggu yang lalu Min-hyuk berencana untuk mengganti menu makan siangnya dengan menu yang lebih baik, yakni roti isi. Hanya untuk mendapatkan sepotong roti isi, Min-hyuk harus rela menghemat uang selama seminggu. Uang yang diberikan oleh Jong-hyun yang seharusnya digunakan untuk ongkos naik bis dari rumahnya ke sekolah, ia tabung untuk membeli roti isi dan memilih untuk jalan kaki. Walau pun memang jarak antara sekolahnya dan rumahnya tidak terlalu jauh, tapi tetap saja cukup melelahkan untuk Min-hyuk.

Selain itu, Min-hyuk juga terkadang membantu keuangan keluarganya dengan mengerjakan tugas sekolah teman-temannya dan mendapatkan upah dari tugas-tugas itu. Walau pun Jong-hyun sudah memperingatkannya untuk tidak ikut-ikutan mencari uang dan lebih fokus ke sekolahnya, namun bagaimana pun, Min-hyun tetap merasa bahwa ia juga mempunyai kewajiban untuk membantu Jong-hyun mencari uang.

Setelah menghabiskan roti isinya hanya dalam waktu kurang dari tiga menit, Min-hyuk menyandarkan pundaknya ke bangkunya dan menepuk perutnya dimana roti isi itu kini berada. Walau pun merasa tidak terlalu kenyang, tapi menikmati roti isi nan nikmat itu sudah membuat Min-hyuk terlihat cukup puas. Saat tengah mengistirahatkan perutnya, tiba-tiba saja salah seorang teman Min-hyuk muncul dari balik pintu kelas.

“Minhyuk-ah, kau dipanggil oleh guru Dong-gyup. Kau disuruh untuk menemuinya di ruangannya dalam waktu lima menit. Bergegaslah kesana!” ucap salah seorang teman Min-hyuk dengan lantang.

Ne! Aku akan segera kesana!” jawab Min-hyuk.

Min-hyuk pun bergegas menuju ruangan guru Dong-gyup yang menjabat sebagai bendahara sekolah. Ini adalah ketiga kalinya Min-hyuk mendapat panggilan dari guru Dong-gyup. Dan sepertinya Min-hyuk sudah tahu apa maksud guru Dong-gyup memintanya untuk datang ke ruangannya. Sesampainya di depan ruangan guru Dong-gyup, Min-hyuk menarik nafas panjang kemudian merapikan seragam sekolahnya. Dengan cukup tenang, ia kemudian memasuki ruangan itu dengan langkah pelan.

“Ah, annyeonghasseo, uri Minhyuk-ah! Duduklah disini!” sambut guru Dong-gyup dengan senyumannya yang khas.

Dengan gerakan yang kaku, Min-hyuk kemudian duduk di hadapan guru Dong-gyup. Ia belum berani mengucapkan sepatah kata pun. Untuk menanyakan apa tujuan guru Dong-gyup memanggilnya pun ia masih tak mau. Karena sebenarnya ia sudah tahu apa tujuan guru Dong-gyup memanggilnya.

“Bagaimana dengan pelajaran hari ini? Apakah menyenangkan?” tanya guru Dong-gyup dengan tiba-tiba.

Ne? Ah, ne!” jawab Min-hyuk, terbata-bata.

“Hmm.. apakah kau tahu bulan apa ini?”

“Oktober?”

“Dan apakah kau tahu sudah berapa bulan sejak masuk sekolah setelah liburan musim panas?” tanya guru Dong-gyup dengan tatapan tajam.

“Empat bulan?”

“Baiklah, aku tahu bahwa kau anak yang tidak bodoh. Jangan berpura-pura tidak mengetahui apa maksudku memanggilmu untuk menemuiku sekarang.” ucap guru Dong-gyup dengan nada ketus. “Jadi, kapan kau akan melunasi tunggakan uang sekolah selama empat bulan ini?” tanya guru Dong-gyup sambil menunjuk-nunjuk buku catatan pembayaran uang sekolah yang ada di hadapannya.

Air wajah Min-hyuk seketika berubah. Ia mengernyitkan dahu dan menundukkan kepalanya. Tangan kirinya mulai bermain dengan jari-jarinya. Ini menandakan kalau Min-hyuk sedang gugup atau pun takut.

“Apakah aku tidak bisa untuk menundanya selama sebulan lagi? Kakakku belum mendapatkan uang yang cukup untuk membayar biaya sekolahku,” jelas Min-hyuk dengan nada rendah.

Mwo?! Sebulan lagi? Ya, kalau kau mau menunda biaya sekolah selama sebulan lagi, guru-guru yang mengajar di sekolah ini juga tidak akan makan dalam sebulan hanya gara-gara kau telat membayar!”

Min-hyuk terdiam. Ia menundukkan kepalanya lebih dalam. Ada perasaan bersalah disana, tapi ia tetap tak bisa berbuat apa-apa.

Dong-gyup, walau bagaimana pun tugasnya sebagai penagih biaya sekolah, ia tetap adalah seorang guru. Ia tetap merasa iba dengan keadaan Min-hyuk yang selalu terlibat masalah karena biaya sekolah yang menunggak. Tetap saja Dong-gyup tak tega untuk membuat hal lebih jauh daripada ini.

Dong-gyup menghela nafas panjang kemudian berkata, “Aku akan memberikanmu waktu seminggu lagi untuk melunasi biaya sekolahmu. Aku tak peduli bagaimana caranya, kau harus melunasi biaya sekolahmu ini dalam waktu satu minggu. Mengerti?”

Walau pun cukup senang mendengar pernyataan Dong-gyup, Min-hyuk tetap saja mengelak, “Apakah tidak bisa memberikanku waktu dalam sebulan?”

Mendengar pertanyaan Min-hyuk, Dong-gyup naik pitam dan menjitak kepala Min-hyuk dengan keras.

“Aw! Kenapa guru menjintakku?!” protes Min-hyuk yang kesakitan sambil mengelus-elus kepalanya.

Ya, apakah kau sudah bosan hidup? Bersyukurlah karena aku sudah memberikanmu waktu. Sudah! Naga!” teriak Dong-gyup.

Masih dengan kepalanya yang sakit karena jitakan Dong-gyup, Min-hyuk beranjak keluar dari ruangan itu. Ia sempat membungkukkan badannya kemudian keluar dari ruangan itu, masih sambil terus mengelus-elus kepalanya.

 

 

***

Mwo?! Jeongmal?!

Ne!” jawab Jong-hyun singkat sambil menyeruput minuman soda kalengnya.

Ya, kau benar-benar dalam masalah, bung! Kenapa kau bisa dipecat? Apa karena alasan kau telat untuk datang bekerja lagi?” tanya Jungshin penasaran.

Tanpa menoleh sama sekali, Jong-hyun mengangguk perlahan.

Jungshin, sebagai sahabat Jong-hyun bisa merasakan kesedihan sahabatnya itu. Jungshin hanya bisa menghela nafas sambil menggandeng bahu Jong-hyun. “Jangan khawatir. Kau pasti akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.”

“Tapi, aku merasa putus asa dan bingung. Aku khawatir akan bagaimana kehidupan adikku dan diriku nanti. Mencari pekerjaan tidaklah mudah,” ucap Jong-hyun sambil menghela nafas.

Aigoo.. jangan patah semangat! Aku yakin kau akan mendapatkan pekerjaan. Percayalah padaku!” ucap Jungshin sambil menepuh-nepuk bahu sahabatnya itu.

Setelah mendapatkan ‘suntikan’ semangat dari sahabatnya, Jong-hyun akhirnya bisa tersenyum. Namun, sejujurnya, sejak tadi ada yang mengganjal pikiran Jong-hyun. Sebuah pertanyaan. Dan sejak tadi, pertanyaan itu berputar-putar terus menerus di kepalanya.

“Jungshin-ah, menurutmu… apakah aku harus berhenti dari kuliahku?” tanya Jong-hyun, tiba-tiba.

Jungshin terbelalak mendengar pertanyaan sahabatnya itu. “Berhenti? Wae?

“Aku rasa, aku tidak bisa menjalani pendidikan dan pekerjaan secara bersamaan.”

“Ah…” Jungshin mengangguk-angguk perlahan. “Benar juga. Tapi, aku pikir, itu memang benar. Kau tidak bisa menjalani keduanya. Kau tidak akan bisa fokus. Semua keputusan ada padamu. Apa pun keputusan yang kau ambil, akan aku dukung!” ucap Jungshin sambil tersenyum lebar.

Kali ini, perkataan Jungshin membuat Jong-hyun tersenyum lebih lebar.

“Jonghyun-ah, bagaimana kalau kau pergi bekerja di Seoul? Aku pikir, kalau kau bekerja disana, kau akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.” ucap Jungshin.

“Di Seoul?”

Ne, aku punya saudara yang juga merantau bekerja ke Seoul. Dan sekarang kehidupannya jauh lebih baik. Aku pikir, kau juga akan mendapatkan hal yang sama jika pergi ke Seoul.”

Jong-hyun terdiam. Menurutnya, ide Jungshin tidak buruk juga. Seoul adalah kota besar dan Jong-hyun pun juga yakin bahwa di Seoul akan terdapat banyak lowongan kerja.

“Tapi, jika aku ke Seoul, apakah kau tidak akan merindukanku?” goda Jong-hyun sambil melingkarkan tangannya ke perut Jungshin.

Ya, mwohaneungeoya?!” Jungshin kontan berdigik geli dan melepaskan pelukan Jong-hyun dari tubuhnya. Tapi, Jong-hyun tetap menggodanya dan mereka sama-sama pecah dalam tawa. Sesaat, Jong-hyun bisa merasa bisa bangkit kembali dari keterpurukan hidupnya berkat Jungshin.

 

 

***

            Saat baru saja pulang dari sekolah, Min-hyuk mendapati sebuah kardus besar di depan rumahnya. Karena penasaran, Min-hyuk membuka kardus besar itu dan ternyata berisikan sebuah televisi. Sesaat kemudian, Jong-hyun tiba-tiba keluar dari rumah dan membawa sebuah gunting dan lakban.

Hyung, mwohaneungeoya? Kenapa kau membungkus televisi milik kita dengan kardus?” tanya Min-hyuk penasaran.

“Aku akan menjualnya,” jawab Jong-hyun.

Mwo?! Kenapa kau ingin menjualnya?” tanya Min-hyuk lagi dengan nada protes.

Wae? Kau ingin aku menjual dirimu untuk membiayai kehidupan kita?” jawab Jong-hyun dengan nada ketus.

Hyung, geuleo jima! Televisi ini adalah satu-satunya hiburan di rumah untukku. Aku heran denganmu, hyung. Kau bahkan jarang mengizinkan aku untuk menonton televisi karena takut biaya listrik mahal, sekarang kau akan menjualnya. Apakah kau begitu membenciku, hyung?

Jong-hyun yang baru saja akan menempelkan lakban pada sisi-sisi kardus itu tiba-tiba berhenti dan menatap adiknya dengan tatapan tajam. “Apakah kau sudah selesai dengan omong kosongmu? Jangan banyak bicara! Uang hasil penjualan TV ini akan ku pakai untuk ongkos transportasi ke Seoul.”

Mwo?! Seoul? Untuk apa hyung ingin ke Seoul? Lantas, kau akan meninggalkanku sendirian di Busan?” tanya Min-hyuk dengan nada tidak terima.

Ya, babo! Tentu saja aku akan pergi bersama mu.”

“Tapi, sebenarnya untuk apa kita pergi ke Seoul? Kita bahkan tidak punya siapa-siapa disana!” ucap Min-hyuk dengan wajah penuh kekhawatiran.

“Kita akan pindah ke Seoul dan mencari kehidupan yang lebih baik.” jawab Jong-hyun.

“Lantas, bagaimana sekolahku disini? Dan bagaimana kuliahmu, hyung?

“Kau akan ku pindahkan ke sekolah yang lebih baik di Seoul. Dan aku…” Jong-hyun terdiam beberapa saat, kemudian melanjutkan perkataannya, “Akan berhenti dari kuliahku…”

 

TBC

5 thoughts on “Can I Love You [prolog]

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s