Lover’s Fight THE FINAL CHAPTER

“WHAT!? Super Show Guangzhou?” Cheonsa mematung dengan wajah terkejut berlebihan yang tidak dibuat buat. Sementara Yoonji hanya mengangguk anggukkan kepalanya seperti boneka bergerak di dasbor mobil Sungmin.
“I’m not going,” ucap Cheonsa membuat ekspresi penuh harap Yoonji seketika berubah kecewa. “Cheonsa-ya jebalyo…” rayu Yoonji tidak menyerah yang jelas saja tidak mempan pada gadis keras kepala seperti Cheonsa.
Cheonsa tetap pada pendiriannya tidak mau ke super show manapun apalagi di GuangZhou itu. Apa yang harus dikatakannya kalau ia bertemu ikan tengik playboy Lee donghae?
Yoonji memasang tampang aegyo. Kalau ada kesamaan skill antara Yoonji dan kekasihnya, ia bisa memasang aegyo untuk merayu walaupun aslinya dia tidak punya aegyo sama sekali. Hampir sebelas dua belas dengan aegyo palsu milik Lee Sungmin.
Cheonsa menutup matanya rapat rapat muak. “Kau tahu kan aegyo itu tidak berfungsi untukku?” Yoonji hanya memasang jurus cemberut andalannya. “Jebaaaal Cheonsa. Kalau kau tidak pergi berarti kau bukan benar benar sahabatku. Ingat saat kau mengajakku menemanimu liburan ke Thailand? Aku bahkan tidak memprotes,”
Cheonsa menelan ludahnya. Ia memang memiliki hutang untuk yang satu itu. Yang dipikirkannya sekarang adalah bagaimana caranya mencari hal yang lebih menyenangkan bagi Yoonji untuk mengalihkan gadis itu dari pikiran semacam Super Show GuangZhou.
Cheonsa memasang Angelic Face andalannya. “Kau tahu kan brand brand terkenal sekelas Massimo Dutti sedang mengadakan obral besar besaran menjelang Summer nanti? Mengapa tidak menemaniku berbelanja saja? Kau mau dimana? Jepang? Aku sedang malas keluar Asia Summer ini. Cerocos Cheonsa mencoba untuk mengalihkan keinginan Yoonji.
Yoonji hanya mendengus dalam hati. Cih… Massimo Dutti? Lee Donghae sudah menjanjikan aku itu kalau berhasil menyeretmu ke GuangZhou.
Yoonji menggelengkan kepala kuat kuat. “Tidak mauuu Cheonsa pokoknya keputusanku sudah bulat aku akan ke GuangZhou,” kata Yoonji tegas. “kau tidak mau melihat kekasihmu apa?” pancing Yoonji yang ternyata adalah sebuah kesalahan besar.
“Shin Yoonji, keputusanku juga bulat tidak akan menginjakkan kaki di stadion Super Show,” tekan Cheonsa tidak mau kalah.
Yoonji tidak punya pilihan lain kecuali memakai kartu trufnya yang terakhir. “Baiklah kita ke GuangZhou tanpa harus menghadiri Super Show, bagaimana?” tawar Yoonji akhirnya dengan berat hati melepaskan keinginannya untuk melihat Sungmin beraksi di atas panggung.
“Sudahlah Yoon, buang jauh jauh pikiranmu tentang melihat penampilan Sungmin. Bagaimana kalau dia ngedance dengan dancer sexy lagi seperti tahun lalu?” kata Cheonsa memupuskan harapan Yoonji seketika. Sial, benar juga. Kalau itu terjadi Yoonji tidak akan sudi menontonnya. Tidak akan.
Yoonji tahu itu profesionalisme tapi bukan berarti ia harus menontonnya kan? Urusan itu ia lebih memilih untuk menutup mata rapat rapat.
Yoonji sudah kehabisan kata kata untuk mendebat Cheonsa. “Kau berhutang padaku soal trip ke Thailand itu. Setuju tidak setuju, we are going to GuangZhou. Ara?” katanya, lalu memasang headphone besar di kepalanya menolak untuk mendengar penolakan dalam bentuk apapun.
-oOo-
Suara desing pesawat memekkakan telinga Cheonsa. Sekarang mereka sedang berjalan menuju pesawat yang akan segera terbang ke China. Shin Yoonji, mesin berbicara itu entah bagaimana bisa memaksanya pergi.
Moodnya semakin semrawut aja ketika Donghae mengiriminya pesan lima menit lalu. ‘Sudah mau boarding? See you in GuangZhou ^^’ Cheonsa mendengus mengingat pesan teks itu. Sudah pasti Yoonji yang mengabarinya. Cheonsa awalnya tidak tahu mengapa Yoonji berusaha keras mendekatkan dia dengan Lee Donghae lagi. belakangan Cheonsa mengetahui fakta bahwa gadis itu ternyata tidak terlalu menyukai Jessica Jung.
Diantara desingan mesin pesawat dan angin yang menerpa rambutnya Cheonsa menoleh kearah Yoonji yang berlari lari kecil kearahnya dengan wajah sumringah. “Dari mana saja? Kukira kau mengikut dibelakang tadi,” tanya Cheonsa mengernyitkan dahi. “Sungmin tadi menelepon. Disini terlalu bising,” kata Yoonji.
Cheonsa hanya memutar kedua bola matanya. Lovey-Dovey itu memang selalu seperti ini. Tidak ada menit tanpa romantisme.
Cheonsa jadi teringat sendiri pada Donghae yang selalu berusaha romantis dengan ratusan gaya cassanovanya. Padahal Cheonsa itu bukan tipe gadis pemuja romantisme, tetapi LeeDonghae tetap kekeuh mempertahankan gaya romantisnya tersebut.
Sekarang gadis itu jadi menyadari kalau ia merindukan setiap detail romantisme Donghae yang dulu benar benar dibencinya. Mulai dari midnight call sampai dengan morning kiss.
Tepukan Yoonji di bahunya membuatnya kembali pada dunia nyata. “Ayo naik,” kata Yoonji sementara Cheonsa dengan terbata mengangguk dan mengikuti di belakang gadis itu. Cheonsa masuk ke dalam cabin pesawat dan duduk di tempat yang telah ditentukan.
Yoonji yang bersemangat untuk berlibur sama sekali tidak mengerti kenapa Cheonsa malah diam saja. “Kau kenapa lesu begitu?” tanya Yoonji kelewat penasaran. Cheonsa hanya memutar kedua bola matanya. “Belum bertemu dengan Lee Donghae saja aku sudah lelah,” katanya
-oOo-
Baiyun International Airport, GuangZhou
Cheonsa mau tidak mau berdecak kagum melihat design Airport ini. Ruang kedatangan serba putih dengan langit langit tinggi, dan terkesan sangat luas karena diselimuti oleh kaca yang langsung menghadap ke pemandangan luar benar benar terlihat menakjubkan.
Cheonsa menyapukan matanya ke setiap detail ruangan, lampu, sudut, susunan benda benda, semuanya. Cheonsa lagi lagi dibuat kagum ketika dari dalam melihat keluar dan menemukan dua landasan panjang dan lurus yang diatasnya dilintangi oleh jembatan jalan yang panjang sehingga bila dilihat dari atas akan berbentuk seperti huruf H.
Yoonji berdecak melihat gadis di sebelahnya. “Jangan norak begitu, Cheonsa. Incheon jauh lebih artistik dari ini,” kata Yoonji sinis sementara Cheonsa menghapuskan ekspresi kagum yang sedari tadi terpancar dari wajahnya.
Yoonji menatap Cheonsa jail. “Sebenarnya kau ini excited kan Cheonsa? Tidak usah disembunyikan dariku,” goda Yoonji.
Cheonsa hanya memutarkan bola matanya. Hubungan Donghae dan Cheonsa sekarang sebenarnya adalah hubungan yang tidak bisa dijelaskan. Antara ‘break up’ atau hanya sekedar ‘lover’s fight’.
“Sudah lah Cheonsa, I know you love him, anyway,” kata Yoonji cuek melanjutkan langkah kakinya, tidak mempedulikan Cheonsa yang sekarang malah sibuk merenungkan kata kata gadis itu.
-oOo-
Cheonsa meratakan poninya saat mereka melintasi Gangdou Olympic stadion sambil mengumpat dalam hati.
‘sial. Seharusnya aku tidak mempercayai gadis tengik itu,’ rutuknya dalam hati. Seharusnya memang ia sudah mengetahui akal bulus Yoonji. Seharusnya ia sudah tahu kalau Yoonji pasti sudah diperlalat oleh ikan tengik itu. Sekarang Cheonsa merutuk dalam hati menyesali kebodohannya.
Yoonji menghentikan jalannya dan menoleh kearah Cheonsa. “Kenapa kau menutupi wajahmu seperti itu?” tanya Yoonji heran. “Aku sedang tidak ingin melihat wajah Donghae,” balas Cheonsa singkat. “Tch… no use for that. You’ll see him in five minutes anyway,” jawab Yoonji sambil lalu.
Mereka memasuki sebuah pintu di salah satu sisi gedung, dan melewati koridor demi koridor yang entah bagaimana Yoonji pahami seluk beluknya.
“Kau sepertinya benar benar berniat mengerjaiku ya, sampai hafal segala, lekukan gedung ini,” sindir Cheonsa sinis. “Aku tidak mengerjaimu kok, tidak berbohong sama sekali, malah,” kata Yoonji sambil terus berkonsentrasi pada jalan di depannya. Bahaya kalau mereka sampai nyasar, masalahnya tidak ada satupun dari mereka yang mengerti bahasa mandarin.
“Tidak berbohong? Jelas jelas kau bilang kalau kita tidak akan ke Super Show, dan sekarang kau mengajakku kesini?” Omel Cheonsa.
“Aku tidak berbohong kok, aku tidak membawamu ke Super Show, Cheonsa. Acaranya sudah selesai,” jawab Yoonji dengan wajah polos membuat Cheonsa geram sendiri melihatnya. Bisa bisanya gadis ini…
Mereka sudah sampai di ujung koridor dengan empat pintu, dua di masing masing sisinya sementara di depan mereka buntu oleh tembok pualam tinggi berwarna krem. Yoonji bolak balik melihat ke kanan kiri seperti berusaha untuk mengingat sesuatu ketika ia sudah terlihat memastikan dan mengetuk pintu yang paling dekat dengan sisi kanannya.
Seseorang membuka pintu tersebut. “Geudaeyooo~” Sungmin menyambutnya dengan nada aegyo dan mengecupnya singkat. “tunggu, aku ambil barang barang dulu,” katanya sebelum masuk lagi ke dalam ruangan, lalu menarik koper mini berwarna maroon. “Kajja,” katanya menggandeng tangan Yoonji.
Mereka berdua mengerling singkat pada Cheonsa dan tersenyum nakal. “Urusan kami cukup sampai disini. See you in Seoul next week. We still have our GuangZhou trip after this,” kata Sungmin lalu merangkul Yoonji dan berlalu. Yoonji hanya mengerlingkan tatapan penuh arti pada Cheonsa dan menunjuk pintu yang terbuka dangan dagunya sambil tersenyum nakal.
Selepas kepergian mereka, Cheonsa hanya mendengus kesal.
“Here the disaster begins….”
-oOo-
Cheonsa POV
Aku sudah tidak heran lagi menemukan Donghae keluar dari pintu. Jelas aku sudah memprediksikannya dan mencoba untuk berbalik saat Sungmin dan Yoonji sudah pergi. Sialnya Lee Donghae muncul di saat yang tidak tepat.
“Han Cheonsa,” katanya membuatku mau tidak mau menghentikan langkah dan menoleh. Benar saja, dia disana.
“Jadi…. Kau datang?” katanya berjalan mendekat kepadaku. Mau tidak mau aku degdegan juga, aku tidak ingat kapan terakhir kali kami bicara sedekat ini.
Oke, sebenarnya kuakui aku ini sedikit munafik. Aku benar benar merindukan LeeDonghae. Sangat. Aku masih ingat aku merasa senang saat mendengarnya putus dengan Jessica. Dan aku merasa menang saat ia datang lagi dan memintaku untuk kembali. Tetapi, kadang egoku untuk balas dendam datang dan aku tidak rela untuk memaafkannya begitu saja tanpa ganjaran.
“Jadi… jagi, kau merindukanku, eh?” kata Donghae nakal membuatku benar benar ingin menjambak rambutnya itu. Well, harus ku akui rambutnya yang sekarang terlihat keren, aku lebih suka dia yang berambut hitam daripada pirang atau cokelat atau warna aneh lainnya.
“Tidak. Kau yang menyogok Yoonji untuk membawaku kesini,” kudengar diriku mendesis. Walaupun desisannya tidak sekejam yang kuinginkan dan sepertinya dia tahu itu.
Donghae datang mendekat kearahku membuatku berdebar. “Sudahlah. Aren’t you tired of all of this?” katanya menyelipkan segelintir rambut ke belakang telingaku membuat lututku lemas. Ternyata addicted-ku pada pria ini belum sembuh.
Donghae meraih kedua tanganku. “Oke aku tahu kau sekarang sedang membuat judgement di kepalamu, menuduhku memprakterkan seratus satu trik playboyku tapi kuberitahu padamu aku tulus kali ini, oke? I don’t need those cheesy tricks. I just want to get us back together, sincerely.” Kata Donghae membuatku melting. Tentu saja tidak akan kutunjukkan di wajahku jadi aku hanya diam mematung seperti orang bodoh.
“Wanna go out with me?” kata Donghae lembut, dan aku menyalahkan tubuhku yang tidak terkoordinasi dengan baik dengan otakku, sehingga kepalaku mengangguk begitu saja mengiyakan pekataannya. “Good,” katanya tersenyum manis dan mengacak rambutku pelan.
Donghae mengunci pintu di belakangnya. “Ayo,” katanya berjalan menyusuri koridor menggandeng tanganku. Dan lagi lagi aku merutuki koordinasi pikiran dan tubuh yang tidak sinkron ini karena menurut saja digandeng olehnya.
Donghae mengangkat ponselnya dan menekan speed dial yang tidak bisa kulihat angkanya berapa. “Junghoon Hyung, aku yang bawa mobil ya,” kata Donghae pada manager Super Junior di ujung sana. “Arasseo, ku bawa kembali malam ini ke hotel,” kata Donghae akhirnya dan mematikan telepon.
“Oke, aku free sampai malam. Today I’m yours, gonjunim,” katanya tersenyum nakal lalu berjalan lebih cepat seolah tidak sabar. “Ayo, cepat. GuangZhou is ours today!” katanya bersemangat dan aku untuk pertama kalinya tersenyum kecil. Sisi kekanak kanakannya ini hanya muncul kadang kadang saja, dan aku merindukannya.
Yeah, Lee Donghae I kinda miss you but I won’t say it.
-oOo-
Author POV
“Kita akan kemana?” Tanya Cheonsa pada Donghae yang menyetir di sebelahnya. Setelah dua puluh menit keheningan akhirnya Cheonsa mengalah dan membuka pembicaraan duluan.
“Hari ini kau boss-nya,” kata Donghae singkat tapi tetap manis, berkonsentrasi pada jalan di depannya.
“Aku lapar.” Kata Cheonsa singkat dan Donghae mengangguk mengerti. “Take away saja ya?” kata Donghae sementara Cheonsa hanya menurut saja. Yang penting ia memakan sesuatu. Donghae memacu mobilnya menuju restoran seafood dekat dengan Gangdou.
Donghae turun dan memasuki restaurant itu dan kembali lagi dalam beberapa menit. Donghae menemukan Cheonsa menyandarkan kepalanya ke kursi belakang dengan mata terkatup rapat. Donghae tersenyum kecil melihat wajah polos Cheonsa. Melelahkan memang,perjalanan dari korea ke China. Apalagi sekarang sudah menjelang petang dan Donghae yakin gadis itu tidak tidur sama sekali semenjak berangkat tadi.
Donghae melanjutkan mengemudikan mobilnya sementara langit perlahan berubah jadi gelap di luar sana. Pria itu perlahan memarkir mobilnya di sebuah daerah di tengah kota yang ramai dengan pejalan kaki.
Riparian Road, menawarkan gemerlap di malam hari, lampu jalanan, bar, restoran, toko toko kecil, tempat berjalan kaki yang cocok untuk menikmati keindahan kehidupan malam GuangZhou.
“Cheonsa-ya, bangun. Kau belum makan sama sekali,” Donghae mengusap pipi Cheonsa pelan dengan ibu jarinya membuat Cheonsa menggerakan kelopak matanya tidak tenang sebelum benar benar terbangun.
Cheonsa menegakkan tubuhnya dan melihat sekeliling. Semua toko toko dihiasi dengan warna merah dan digantungi oleh lampion seperti seakan akan sedang memperingati hari raya sesuatu.
“Hari apa ini?” Cheonsa bertanya pada Donghae yang juga sedang menikmati pemandangan sekelilingnya. “Rabu?” jawabnya polos membuat Cheonsa memutar bola matanya.
“Maksudku ada perayaan apa?” Tanya Cheonsa lagi membuat Donghae berpikir keras. “Entahlah,memang seharusnya apa?” Lagi lagi Donghae menjawab dengan wajah innocent. Saat itu juga Cheonsa menyadari betapa sia sianya bertanya pada LeeDonghae. Yang ia tahu hanyalah wanita.
Cheonsa melompat turun dari mobilnya dan melihat nuansa kerlap kerlip lampu merah di sepanjang jalan. Sudah lama ia tidak menikmati malam yang seperti ini. Yang biasa dilihatnya adalah gemerlap malam modern Seoul.
“Mau berjalan jalan?” tawar Donghae dari belakang. Cheonsa hanya mengangguk seperti terhipnotis dengan pemandangan di depannya, berjalan menyusuri jalan yang dihiasi lampion tersebut.
Ramai, seperti pasar malam. Hanya saja lebih berkonsep. Orang orang berlalu lalang dari toko ke toko atau hanya sebatas duduk duduk dengan keluarga mereka di rumah makan. Suasananya persis seperti tahun baru, walaupun Cheonsa yakin ini bukanlah akhir Desember. Kalau ini akhir tahun, Yoonji pasti sudah sibuk mempersiapkan ulang tahun pacarnya yang jatuh pada tanggal satu Januari tersebut.
Cheonsa berhenti sejenak lagi lagi memandang suasana serba merah di sekelilingnya. Donghae berdiri di sebelahnya ikut menikmati keramaian. Kebekuan antara mereka cair begitu saja, dan Cheonsa melupakan begitu saja kemarahannya pada Donghae. Suasana malam ini sepertinya benar benar menghipnotisnya.
“Aboji sering membawaku ke tempat seperti ini dulu,” kata Cheonsa menyebut nyebut ayahnya yang sudah meninggal 7 tahun lalu. “Tetapi aku lupa dalam rangka apa ia mengajakku. Hanya setahun sekali,” kata Cheonsa sambil berusaha mengingat, tetapi sepertinya tidak berhasil.
Cheonsa berjalan menyusuri jalan gemerlap itu dengan Donghae berada di sisinya, puas hanya dengan memandang wajah Cheonsa yang dihiasi oleh ekspresi kagum dan sedikit kerinduan. Mungkin, ia mengingat ayahnya sekarang.
Donghae mengulurkan tangannya menyelipkan jemarinya diantara jari jari dingin Cheonsa. Gadis itu tidak menolak. Sepertinya jemarinya memang kedinginan.
“Ayo kita kesitu,” Donghae menunjuk stan kecil yang sepi pengunjung. Cheonsa mengikuti langkah Donghae mengunjungi seorang pelukis tato temporer yang sedang mengukirkan lukisannya di sebuah bidang kertas kecil.
Cheonsa menatapnya tertarik. “Mau coba?” Tanya Donghae. Cheonsa reflek mengulurkan punggung tangannya. Pria tua itu menyelupkan kuasnya ke tinta merah dalam botol di hadapannya, lalu menggambar sebuah karakter China di punggung tangan Cheonsa. Setelah pria itu selesai, Cheonsa menatap tangannya dengan antusias bersama Donghae.
“Kau juga,” kata pelukis tersebut. “Eh?” Donghae menoleh tak mengerti tetapi pelukis itu sudah mengulurkan tangannya sehingga Donghaepun akhirnya memberikan punggung tangannya untuk di lukis. Pria itu mencelupkan kuas satunya pada tinta hitam dan melukiskan karakter yang berbeda pada punggung tangan Donghae. Donghae menatap tangannya penasaran.
“Itu jimat. Sekarang kalian tidak akan terpisah,” kata pria itu. Membuat Dongahe dan Cheonsa berpandangan.Donghae kemudian memberikan Cheonsa senyum kemenangan. “Oke, marahlah sesukamu. Toh kita sudah terikat kontrak mati sekarang,” kata Donghae sambil memamerkan punggung tangannya.
Cheonsa memasang tampang sinis. “Ini tidak akan berlaku. Toh aku tidak tahu apa apa saat memberikan tanganku untuk dilukis. Kalau aku tahu ini adalah jimat, tidak akan kubiarkan diriku terikat apapun denganmu,” kata Cheonsa membuat Donghae tergelak.
Donghae membungkuk mengucapkan terima kasih pada pelukis jimat tersebut, lalu menggandeng Cheonsa lagi menyusuri jalan.
“Aku masih tidak mengerti perayaan apa hari ini. Kenapa ramai sekali?” Cheonsa mengernyit sementara Donghae hanya mengangkat bahunya dan menggeleng. “Padahal sekarang sudah mendekati pukul dua belas,” Cheonsa mengecek jam tangannya.
Donghae dan Cheonsa bersama sama menyusuri Riparian Road bersama sama sampai puas. Mencoba macam maca jajanan tradisional China sampai memborong kue bulan untuk dibawa ke Seoul.
“Lelah?” kata Donghae saat melihat Cheonsa duduk di kursi kayu panjang sambil meluruskan kedua kakinya. Cheonsa hanya mengangguk.
“Ayo, di ujung sana ada taman kecil,” Donghae menggandeng tangannya lembut sementara Cheonsa hanya mengikutinya.
Benar kata Donghae. Di ujung jalan sana ada sebuah taman kecil yang sepi dan jauh dari keramaian. Donghae mengambil posisi tidur di rerumputan lalu menarik Cheonsa untuk tertidur di sebelahnya.
Cheonsa menoleh pada Donghae di sebelahnya. Rasa penasarannya telah sampai di puncak dan Cheonsa enggan memendamnya lagi. “Lee Donghae, sebenarnya kau pernah mencintaiku atau tidak?” Tanya Cheonsa membuat Donghae tergelak.
“Kau menanyakan pertanyaan bodoh, Han Cheonsa,” kata Donghae. Cheonsa tetap memandangnya tidak percaya, walaupun ia ingin. Tetap saja tidak mudah mempercayai perkataan Playboy kelas kakap seperti Donghae.
“Aish, aku benci tatapan curigamu itu. Kau pergi saja tanya Sungmin apakah ia mencintai Yoonji atau tidak. Kira kira jawabanku sama,” kata Donghae membuat Cheonsa menatapnya tidak puas.
“Tidak usah membandingkan dengan orang lain. Aku hanya butuh sudut pandangmu,” kata Cheonsa. Cheonsa heran melihat pria ini. Mudah sekali merayu para wanita, tetapi begitu susah mengucapkan cinta sekarang.
Donghae melihat Cheonsa menggosokkan kedua telapak tangannya. Malam ini memang dingin sekali. Donghae merubah posisinya menjadi duduk, melepas jacketnya lalu menyelimuti Cheonsa yang tertidur di sebelahnya.
Kedua tangan Donghae mengunci tubuh Cheonsa di kanan dan kiri gadis itu dan tidak kunjung bergerak. Donghae mendekatkan wajahnya pada Cheonsa, dan gadis itu hanya terdiam. Dapat dirasakannya poni Donghae terjatuh lembut di keningnya.
“Kau mau jawaban yang sesimple apa? Saranghae?” tanyanya dalam posisi wajah mereka berdekatan seperti itu. Cheonsa tidak menjawab dan Donghae mengartikannya sebagai iya.
“Baiklah, Saranghae,” kata Donghae lalu menempelkan bibirnya pada bibir Cheonsa. Ciuman pertama gadis itu, yang sampai detik ini pun belum rela diserahkannya pada siapapun bahkan Lee Donghae.
Satu kata itu cukup bagi Cheonsa. Ia memaafkan segalanya.
Cheonsa menatap wajah Donghae tepat di atasnya. “Kau tahu? Aku berbohong padamu,” kata gadis itu membuat Donghae menatapnya penuh tanya.
Cheonsa mengangkat tangan kanannya yang terdapat ukiran karakter China. “Aku tidak menyesal kok, terikat kontrak mati denganmu,” katanya membuat Donghae tergelak.
“10…… 9…. 8…… 7….” Terdengar hitungan mundur dalam bahasa China oleh kumpulan orang orang dari jauh sana. Donghae terduduk, dan Cheonsa melakukan hal yang sama, menajamkan pendengarannya. “Apa kau yakin ini bukan tahun baru?” tanya Cheonsa. Donghae sama tidak tahunya dengan dia, dan hanya mengangkat bahunya. “Tentu saja bukan, ini Februari,”
“6…. 5….. 4…..”
Cheonsa memasang tampang serius. “Februari?” katanya sementara Donghae hanya mengangguk. Tiba tiba mereka berpandangan dengan tatapan jenaka seolah olah memikirkan hal yang sama. “Ini imlek, bodoh!” seru Cheonsa dan Donghae sepertinya memikirkan hal yang sama. Mereka berdua pun tertawa terbahak bahak.
“Ini benar benar imlek kan? Tahun baru China? Kau tidak salah tebak?” kata Donghae sementara Cheonsa hanya melanjutkan tawanya, menertawakan kebodohan mereka semenjak tadi.
3….. 2…..1
Ratusan kembang api meledak di udara, di dominasi warna merah membuat semburat oranye mewarnai wajah mereka. Donghae menatap wajah oranye Cheonsa yang memandang langit dengan antusias.
“Sepertinya benar benar Imlek,” kata Cheonsa pelan lalu bertatapan dengan Donghae.
“Masa bodoh. Saranghae, Han Cheonsa. And this time, I do really mean it” Katanya Donghae, lalu mencium Cheonsa lagi, disaksikan oleh ratusan kembang api yang meledak di udara.
FIN

AKHIRNYA TAMAT JUGA ini ff seri debut sayaa di WFF xD hope you like it guys!

18 thoughts on “Lover’s Fight THE FINAL CHAPTER

  1. Happy ending :) Aku baru ngeh ini udah habis ya? I mean Donghae is so sweet anda Cheonsa terlalu bodoh buat bergengsi ria lol.

  2. aigo baru buka ni wp dan udah ada ni final chap aja..
    hya!!! knp udah ending aja?? belum puas liat cheonsa tersiksa saya.. huhuhu…
    donghae dr dulu emang polos ya..atau bego malah? masa imlek aja kaga tau..wkkwkw..
    oke wait for ur next ff little girl,, :P

  3. udah tamat aja,,,, aku rasa cheonsa kalah telak liat ja sifat hae y bener2 ngeselin itu klo aku jd cheonsa,,,,, bikin geregetan aja….
    orang serius dia ngegombal mulu dehh,,,,, tp sweet jd y…….

  4. I love this couple like so muccch! Finally they’re back together! Longlast(?) XD wait for ur next ff lol fighting!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s