Fate

Fate

“Minji-ya!”

Aku menoleh.

Seseorang yang memanggilku tadi mendekat, kemudian duduk di sampingku. Lengan kiri seragam sekolahnya dilipat, memperlihatkan sebuah tato di tangan mulusnya yang bertuliskan ‘Jiji~ya’. Dia terlalu berani untuk dipanggil siswa SMU.

Dia Yong Junhyung, kekasihku.

“Malam ini kau ada acara?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Tidak ada.”

“Kau tidak ingin melihatku battle dance?” tanyanya lagi.

“Kau ingin aku melihatmu?”

Dia memandangku. “Tentu saja! Akan kusuruh Dongwoon menjemputmu. Orangtuamu masih menganggap dia kekasihmu, kan?”

Aku menarik napas panjang. Nama itu lagi. “Masih. Tapi suatu hari nanti kuharap kau yang menjemputku, bukan Dongwoon!”

Junhyung hanya tertawa. Ini sudah biasa. Selalu ada Dongwoon di antara aku dan Junhyung. Dongwoon adalah teman dekat Junhyung. Mereka sudah berteman sejak kecil, bersama keempat siswa lainnya. Doojoon, Hyunseung, Yoseob, dan Kikwang.

Sedangkan aku dan Dongwoon, kami berkencan beberapa bulan yang lalu. Orangtuaku tahu aku berkencan dengan Dongwoon, dan tentu saja mereka setuju. Siapa yang tidak setuju putrinya berkencan dengan pewaris tunggal salah satu perusahaan besar di Korea? Mereka tidak pernah menyetujui pria lain berkencan denganku, selain Dongwoon. Dan mereka masih saja menganggap Dongwoon itu kekasihku, meskipun aku sudah mengatakan padanya berkali-kali bahwa kami sudah putus.

Bahkan mereka tidak pernah menyetujui hubunganku dengan Junhyung. Mudah saja alasannya, karena Junhyung tidak sekaya Dongwoon.

 

***

Aku sedang menunggu Dongwoon di ruang tamu, ketika ibu melihatku. “Kau mau kemana?” tanyanya penuh selidik.

“Pergi bersama Dongwoon,” jawabku datar. Aku tidak tertarik pada semua obrolan tentang Dongwoon. Orangtuaku hanya akan mengatakan sesuatu yang menurut mereka benar.

“Eh?” ibu tersenyum. “Gadis manis! Pergilah bersama Dongwoon sesuka hatimu!”

Aku menelan ludah.

Tiin…

Mobil hitam milik Dongwoon berhenti di depan pagar rumahku. Ibu tersenyum senang, dan menyuruhku segera pergi agar Dongwoon tidak menunggu terlalu lama.

Aku masuk ke mobil Dongwoon tanpa sepatah kata pun. Dongwoon tersenyum, dan aku membalas sekadarnya. Menyapanya? Aku tidak mau. Jika Dongwoon sudah tidak menyukaiku lagi, mungkin aku akan menyapanya dengan hangat. Tetapi dia masih menyukaiku. Mungkin, lebih dari apa yang kutahu.

Ini kali pertama aku masuk mobilnya setelah kami berpisah. Tidak ada yang berubah. Masih ada sebuah peri cantik di depannya, pemberianku. Parfum mobilnya, masih seperti dulu juga. Parfum yang kupilihkan.

Dan, foto kami berdua di dashbornya. Benar-benar seperti mimpi bisa bersama dengan Dongwoon. Orang biasa sepertiku berkencan dengan pangeran seperti Dongwoon. Seperti dongeng yang diceritakan ibu sebelum aku tidur, pangeran yang menyukai rakyat biasa. Tetapi hubungan kami itu bukanlah sebuah dongeng.

Semuanya terasa sempurna. Dongwoon memperlakukanku seperti seorang puteri. Dia menyukaiku, dan aku juga. Orangtuanya juga baik padaku. Kami bahkan berjanji akan masuk di universitas yang sama, dan menikah setelah kami lulus.

Tetapi sesuatu yang terlalu sempurna itu membuatku tertekan. Perbedaan di antara kami terlalu banyak. Aku semakin menjadi orang lain. Diatur, dilarang, dikekang, semuanya. Ketika aku terluka saat olahraga, Dongwoon akan membawaku ke rumah sakit meskipun aku hanya mengalami luka kecil. Dia terlalu menyukaiku, aku tahu. Dia tidak ingin aku terluka, aku tahu. Tetapi tidakkah itu berlebihan?

“Sudah bilang pada orangtuamu?”

Aku hanya mengangguk.

“Princess, pakai…”

“Dongwoon-ah,” potongku. “Kurasa tidak pantas kita membicarakan masa lalu. Mengertilah. Sekarang aku sudah mempunyai Junhyung.”

Dongwoon tersenyum sinis. “Apa dia tahu orangtuamu masih menganggapku kekasihmu?”

Aku mengangguk lagi. “Meskipun mereka menganggapmu kekasihku, tetapi bagiku kau hanya masa lalu. Berhenti memanggilku princess, Dongwoon-ah. Namaku Kim Minji.”

Benar, Dongwoon hanyalah masa lalu. Masa lalu yang menyadarkanku bahwa dongeng adalah dongeng, tidak akan pernah jadi kenyataan.

***

Berjalan dengannya seperti ini tanpa gangguan dari orangtuaku, benar-benar sesuatu yang menyenangkan. Kami memakai kaos yang sama, berpegangan tangan dengan erat, makan es krim, dan berjalan di sebuah taman yang indah. Jarang sekali kami bisa seperti ini.

Junhyung adalah pria yang kucintai. Kami bersama baru dua bulan, tetapi entah mengapa aku sangat-sangat menyukainya. Dia tidak pernah mengekangku, tidak pernah memarahiku, tidak pernah menyuruhku menjadi orang lain.

Mungkin, salah satu alasan mengapa aku cepat menyukainya adalah dia berbeda dengan Dongwoon. Berbeda jauh, karena Junhyung adalah Yong Junhyung. Bukan ‘Yong Junhyung pewaris tunggal grup A, B, atau C’. Sama sepertiku, dia orang biasa. Hidup memang seperti itu, kan? Orang kaya dengan orang kaya, orang biasa dengan orang biasa. Aku dan Dongwoon dulu, itu menyalahi aturan.

“Kau mau makan lolipop?” tanyanya. Junhyung menunjuk sebuah toko permen di pojok jalan. “Sepertinya toko baru.”

Aku mengangguk. “Belikan aku satu!”

“Satu? Bagaimana denganku?”

Aku tersenyum jahil. “Kau makan dari bibirku!”

Tiba-tiba Junhyung memukul kepalaku gemas. “Berhenti bermimpi!” teriaknya. “Tunggu di sini, aku tidak akan lama!” katanya, kemudian dia berlari meninggalkanku menuju toko permen itu.

Aku tersenyum senang. Seperti itulah kami. Saling melempar lelucon setiap hari. Tidak ada kata romantis dalam hubungan kami. Bergandengan tangan hanya ketika jalan berdua saja. Dan aku menyukainya.

Bagiku, tidak perlu tampak sempurna dalam menjalin suatu hubungan. Kau akan mudah bosan, dan kebosanan itu akan memupus rasa cintamu. Seperti yang kurasakan pada Dongwoon.

***

“Junhyung-ah, aku harus mengerjakan tugas piket terlebih dahulu. Kau bisa menjemputku pukul 5 sore?”

“Aku latihan, Minji-ya. Bagaimana jika Dongwoon yang menjemputmu?”

Aku mendengus. “Baiklah. Sampai jumpa nanti!”

Kumasukkan ponselku dalam saku jas sekolahku. Sedikit kecewa karena lagi-lagi nama itu yang disebutnya. Mengapa tidak menyempatkan lima menit saja untuk menjemputku? Ruang latihannya dan ruang kelasku tidak terlalu jauh. Lagipula, mengapa dia menyuruh Dongwoon? Bukankah seharusnya Dongwoon sedang latihan bersamanya juga?

Satu hal yang belum kupahami dari Junhyung. Dia tidak pernah sekali pun cemburu pada Dongwoon. Dia tahu Dongwoon masih menyukaiku, tetapi masih saja menyuruhnya menemuiku. Apa Junhyung tidak mencintaiku, seperti aku mencintainya?

“Minji-ya, ada seseorang mencarimu.”

Aku menoleh. “Siapa?”

Hyesung menunjuk seorang gadis tinggi dan mengenakan pakaian berwarna putih yang sedang berjalan ke arah kami. “Kim Minji?” sapa gadis itu.

Segera aku mengulurkan tanganku. “Benar. Kau…”

“Jung Minah. Bisa kita bicara?”

***

“Hamil?” tanyaku tidak percaya. “Apakah itu…”

Minah mengangguk. “Kami berpisah tiga bulan yang lalu karena orangtuaku tidak menyukainya. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Menggugurkannya atau tidak. Tetapi ketika orangtuaku tahu… Mereka menyuruhku mencari Junhyung.”

Apa yang harus kulakukan?

“Minji-ssi.” Minah mengusap airmatanya perlahan. “Maafkan aku. Tetapi ini kesempatanku untuk bersama dengan Junhyung lagi. Bisakah kau merelakannya kembali bersamaku?”

Tidak. Aku sedang tidak bermimpi. Mantan kekasih Junhyung yang bernama Jung Minah itu datang padaku dan berkata seperti itu, mengatakan bahwa dia hamil. Aku ingat benar. Kata-kata yang menusuk hatiku, keras sekali. Menyuruhku merelakan Junhyung untuknya dan anak mereka. Apa yang harus kulakukan?

“Sudah menunggu lama?” suara berat milik Junhyung membuyarkan lamunanku. Dia duduk di sebelahku. Badannya berkeringat. Dia baru saja selesai berlatih.

Aku hanya tersenyum datar. Jantungku berdegup kencang sekali. Apakah aku harus mengatakan padanya bahwa Minah menemuiku dan mengatakan bahwa dia hamil? Jika aku mengatakannya, aku akan kehilangan dia. Tetapi jika aku tidak mengatakannya, bagaimana dengan anak mereka?

“Ah, Lelah sekali…” Junhyung merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi yang sedang kami duduki saat ini. Dilipatnya lengan bajunya perlahan, membuat tato indahnya itu terlihat. “Mengapa hari ini panas sekali, sih!” keluhnya.

Jiji-ya. Junhyung membuatnya sebelum kami bersama. Junhyung dan Jung Minah… Jiji?

“Junhyung-ah, apa arti dari tatomu itu?” tanyaku tiba-tiba.

Junhyung mengangkat tangannya. “Ini?”

“Kau membuatnya sebelum kita bersama. Apakah itu… Junhyung dan Jung Minah?” aku bertanya perlahan padanya. Jantungku berdebar kencang sekali. Aku berharap dia menjawab ‘Siapa itu Jung Minah?’, tetapi dia diam saja. Sepertinya dia terkejut mendengar nama Jung Minah dari bibirku. “Jung Minah…” aku menatapnya. “Kau mengenalnya, kan?”

Junhyung masih diam. Wajahnya pucat. Membalas tatapanku saja tidak. Mungkin dia sedang berpikir bagaimana aku bisa mengenal Minah, dan dia harus menjawab apa.

Aku ingin dia mengatakan yang sebenarnya. Apakah dia masih menyukai Minah atau tidak. Memilih aku atau dia. Tetapi apakah aku tega, jika ternyata Junhyung memilihku? Minah sedang mengandung anaknya. Membiarkan dia besar tanpa seorang ayah. Aku bukan orang seperti itu!

“Junhyung-ah, jika saat ini dia berada di depanmu, apa kau ingin bersamanya lagi? Tidak…” Aku diam sejenak. Berusaha menyusun kata demi kata untuk memberitahunya bahwa Minah sedang hamil. “Jika dia berada di depanmu dan mengatakan bahwa dia hamil… Apa kau ingin bersamanya lagi?”

Junhyung menatapku tajam, tidak percaya dengan apa yang kukatakan. “Hamil?”

Aku mengangguk lemah. “Junhyung-ah, kau harus bersamanya lagi.” kataku parau. Kutahan tangisku agar tidak menetes di depannya. “Kau harus bersamanya, dan anakmu…”

***

Beberapa hari terakhir aku tidak bertemu dengan Junhyung. Dia pun sepertinya tidak berusaha menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, karena ini semua sudah jelas. Aku sudah sangat jelas merelakannya kembali pada Minah, meskipun aku terluka.

Benar, aku terluka. Ini terlalu berat untuk kulalui. Aku menyukai Junhyung. Perasaan yang berbeda saat aku bersama Dongwoon. Cinta yang lebih kuat sehingga membuatku berharap dia adalah jodohku. Tetapi seseorang dari masa lalunya datang menemuiku. Ah, tidak. Dua orang. Gadis dari masa lalunya itu datang bersama makhluk kecil di perutnya.

Aku sedang duduk di sebuah ayunan dekat rumahku ketika seseorang menepuk pundakku perlahan. “Sendirian?”

Aku menoleh. “Sudah tahu mantan kekasih Junhyung hamil?”

Dongwoon mengangguk. Dia segera duduk di ayunan yang sama denganku, menghadapku. “Kau baik-baik saja?”

Aku menggeleng lemah. “Aku menyukainya, Dongwoon-ah.”

“Minji-ya, kau tidak mengenal Junhyung.”

“Apa maksudmu tidak mengenalnya?”

“Dia tidak menyukaimu.” Dongwoon memandangku kasihan. “Dia menyukai Minah.”

Aku tersenyum masam. “Bohong.”

“Untuk apa? Aku temannya sejak kecil. Aku tahu apa yang dia rasakan. Apakah kau tidak merasa aneh? Dia menyuruhku menjemputmu, mengantarmu, dan dia tidak cemburu sama sekali? Meskipun kami berteman, pasti ada alasan untuk membuatnya cemburu, seperti ketika aku melihat kalian berkencan…”

Aku terhenyak. Apa yang dikatakan Dongwoon adalah benar. Dia seperti itu, karena dia tidak mencintaiku. Sama sekali. Selama ini hanya aku yang mempunyai perasaan itu. Sedangkan Junhyung, perasaannya berada di tempat yang lain.

Tiba-tiba langit kota berubah menjadi gelap. Rintik hujan jatuh membasahi tubuhku dan Dongwoon. Semakin lama tetesan hujan itu semakin deras.

Aku mendongak. Kupandangi langit yang tampak buram karena sedang hujan itu lemah. Kekasih yang kucintai ternyata tidak mencintaiku. Dia masih mencintai mantan kekasihnya yang tanpa diketahuinya sedang mengandung anak mereka. Apakah aku terlalu menyedihkan? Bahkan langit pun menangis untukku.

“Dongwoon-ah, apakah seperti ini rasanya mencintai, tanpa dicintai?” lirihku.

Dongwoon tidak menjawab. Aku memang tidak membutuhkan jawabannya. Aku sudah mengetahuinya, karena saat ini aku merasakannya. Merasakan apa yang selama ini dirasakan oleh Dongwoon.

Sesuatu yang sakit, lebih sakit daripada terjatuh dari gedung paling tinggi.

***

7 tahun kemudian.

“Dongwoon-ah, keluarkan peralatan memasaknya!”

Tujuh tahun sudah kejadian menyakitkan itu berlalu. Setelah ujian kelulusan, kudengar Junhyung menikah dengan Minah dan pindah ke Busan. Mereka meneruskan bisnis keluarga Minah yang berada di sana. Aku tidak pernah bertemu dengan mereka lagi sesudahnya. Bahkan teman-teman dekat Junhyung, mereka tidak pernah bertemu dengannya.

Aku? Masih sendiri. Ah, tidak. Dongwoon masih bersamaku, meskipun aku belum bisa menerimanya. Aku menyuruhnya menungguku, dan dia menyetujuinya. Karena itu tanpa lelah dia menemaniku kemana pun aku pergi, dimana pun aku berada.

Saat ini kami sedang memanfaatkan liburan akhir pekan dengan berkemah di sebuah bukit. Menghabiskan waktu musim semi yang indah, menikmati kota kecil yang indah bersamanya sambil membicarakan sesuatu yang indah pula.

Kurasa, ini saat yang tepat untuk mengatakan bahwa aku sudah bisa menerimanya setelah tujuh tahun penantiannya. Penantian yang melelahkan. Tidak hanya dia, aku juga lelah. Lelah karena sebenarnya aku berusaha mencari tahu tentang Junhyung di belakangnya, tetapi tidak kutemukan juga. Pada akhirnya aku menyerah dan menyadari bahwa aku punya seseorang di sampingku. Seseorang yang tetap bertahan di sampingku, meskipun aku sudah menyakitinya berkali-kali. Lagipula tidak ada lagi pangeran dan rakyat jelata itu. Kami sudah bekerja, bahkan bekerja di kantor yang sama.

Aku sedang merapikan tikar ketika sebuah bola mengenaiku. “Argh…”

Seorang bocah laki-laki berlari kearahku. “Maafkan aku, bibi.” Bocah itu menunduk padaku, meminta maaf. “Aku tidak sengaja.”

Aku menoleh. Sedikit tertegun ketika melihat wajahnya. Bocah kecil yang tampan. Mata kecilnya yang bulat, bibir tipis yang manis, dan rambut hitam pekatnya. Seperti sosok yang sangat aku kenal. Tetapi siapa? Aku tidak tahu. Kuambil bola yang mengenaiku itu, dan menyerahkan kepadanya. “Tidak apa-apa. Ini…”

“Terimakasih,” diterimanya bola itu, kemudian dia berlari meninggalkanku.

Aku masih memandangnya, bocah kecil yang tampan itu. Dia berlari riang sambil memeluk erat bola yang mengenaiku tadi. Menuju seorang lelaki dan perempuan yang sedang menyiapkan peralatan kemah mereka juga. Itu pasti orang tua bocah kecil itu.

“Ayah! Aku sudah mengambil bolanya!” bocah kecil itu berteriak. Dia menarik kaos yang dikenakan seseorang yang dipanggilnya ayah itu. “Ayah! Ayo bermain!”

Aku tersenyum kecil melihat mereka. Sebuah keluarga kecil yang bahagia. Ayah, ibu, dan seorang bocah lelaki kecil berkemah bersama di musim semi yang hangat. Hati kecilku berdegup pelan. Kubayangkan itu aku, Dongwoon, dan anak kami. Pasti akan sangat menyenangkan juga.

Seseorang yang dipanggil ayah itu menoleh. “Kau ingin bermain, jagoan?”

Seketika itu juga aku mematung. Seperti waktu dihentikan beberapa saat ketika aku melihat siapa orang yang dipanggilnya ayah itu. Pantas saja aku merasa aku mengenal wajah bocah kecil itu. Mata bulatnya, seperti mata yang memandangku sambil menangis, mengatakan bahwa dia sedang hamil. Bibir tipisnya, seperti bibir seseorang yang selalu memberikan kecupan kecil di keningku ketika mengantarkanku pulang. Rambut hitam itu…

Junhyung.

Di sebelahnya, seorang perempuan tersenyum ramah sambil memakaikan topi kecil pada bocah itu. Jung Minah.

Dongwoon menghampiriku. “Princess…”

“Junhyung!” potongku. Kuarahkan telunjukku pada mereka. Aku masih melihat pemandangan yang belum bisa kupercayai itu. Aku mencarinya selama bertahun-tahun, tetapi tanpa sengaja kami bertemu di bukit ini. Junhyung yang kucintai dulu, bersama keluarga bahagianya sedang berkemah bersama di bukit yang sama denganku.

Dongwoon mengikuti kemana telunjukku mengarah. Dia mengejang, mungkin sama terkejutnya denganku. “Benar…”

“Keluarga yang bahagia,” lirihku. Benar-benar keluarga yang bahagia. Keluarga yang saling mengasihi. Junhyung pun tertawa lepas, bermain bersama jagoan kecilnya dengan bahagia. Mereka membuktikan kekuatan cinta mereka padaku, saat ini.

Lagi-lagi jantungku berdegup kencang. Sakit hati? Tidak. Degupan kali ini berbeda. Ini degupan bahagia. Lega karena apa yang kulakukan dulu adalah sesuatu yang benar. Menyatukan mereka lagi, membuat mereka menjadi keluarga yang bahagia.

“Kau… Menyesal telah melepaskannya?” tanya Dongwoon perlahan, membuatku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

Aku mengernyitkan dahiku. “Untuk apa?” tanyaku. Kutatap Dongwoon yang sedang menatapku sedikit khawatir itu. Dengan membentuk senyuman terbaik yang kupunya aku berkata, “Aku punya kau, Son Dongwoon. Bagaimana jika kita menyusul mereka, membentuk sebuah keluarga yang bahagia juga?”

-fate, END-

datang yaaa~~~ ke <a href=”http://www.facebook.com/koreanday.ugm/”>Korean Day UGM</a> XD

ketemu saya loh XP

15 thoughts on “Fate

  1. Huaah , kerenn .. Nice ff author hehe :D
    Bkin lgi ya yang lain . Asikk ada junhyung juga . Wkwk
    Yaa walaupn junhyung begitu jdi’a . Hehe gpp .. Wkwk

  2. Keren…keren…kerenn…..! Suka…suka…suka….!!! Author hebat..! Yach, mskipun saya g trllu knl dgn member beast, jd ngbyanginnya tu mmber suju…! Hehehe… *maf nyampah!

  3. wah~ gimana ini aku ngomongnya? Speachless

    awalnya, aku fikir minah bohong. Junhyung gak sebejat itu sampe ngamilin anak orang. Tapi ternyata, beneran ya. Jujun jahat ah

    dan minji hebat. Belum tentu loh semua orang rela ngelepasin seseorang, apalagi orang yg dicintain kan?

    keren bgt eonni. Nice ff ;)

  4. Heuh~ the richest boy mngambil alih hati parents jiji.. mata ijo dasor ~(‘o’~)
    Beruntung bgt de jiji :)
    Aq sesuju klo jiji sama dongwoon [^^]d
    Orang kaya & orang miskin , itu ga menyalahi aturan tw *protes*

    hohoho~ jiji odong jg y dsni, ckckckckck~
    AISH~ sesek de tw junhyung ngamilin anak org, Baong \~0~/
    Ahir’a ga sia2 nunggu 7 taun :)
    LANJUUTTT…

  5. so sweeeet~ ayok dongwun cepet nikah sama aku! *eh salah* *digaplok minji* xD
    ah~ bahagianya keluarga junhyung-minah-jagoan kecil.. tentrem tuh.. hiks :’) so sweet deh thor, bikin lagi ya. demen nih sama ff tipe begini x)

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s