Magic Book Part 2

Author : OnlYurin

Genre : Romance, Fantasy

Length : Chapter

Cast : Lee Donghae, Song Mikan, Leeteuk

Sinopsis :

Mikan adalah seorang anak keturunan Korea yang miskin, dan hidup pas-pasan di rumahnya yang terletak di pinggiran kota. Sebagian besar rumahnya, hanya merupakan kamar bagi buku-buku sihir milik neneknya, yang bahkan tidak diketahuinya manjur atau tidak. Buku-buku itu selama ini hanya terus menyusahkan Mikan saja. Namun, segalanya berubah ketika Mikan menemukan sebuah keajaiban pada salah sebuah buku karya neneknya itu. Apakah keajaiban itu?

 

Magic Book Part 2

 

Donghae membuka maskernya, dan menenggak kopi panasnya sembunyi-sembunyi. Biar bagaimanapun, dia masih takut ada orang yang mengenalinya. Dalam hati dia bertekad untuk menjadikan gadis bernama Mikan itu lebih dekat dengannya, kalau bisa menjadi pacarnya.

Di tempat lain, kafe yang sedang sunyi mengakibatkan Mikan tidak ada pekerjaan. Mikan hanya duduk-duduk melongo di depan meja kasir. Pikirannya mengembara ke banyak tempat yang tidak beraturan.

“Hei, apa yang kaupikirkan?” Itu suara Madeley, yang bisa langsung diketahui oleh Mikan karena kemerduannya.

Mikan berbalik, dan melihat Madeley masih dalam balutan gaunnya yang tadi pagi—gaun selutut berwarna hijau pastel. Mata Mikan membulat, bukan karena gaun yang dikenakan Madeley, bukan juga karena keberadaan Madeley yang tidak disangkanya, tapi karena dia takut bosnya memarahinya berbincang dengan orang yang seenaknya saja masuk ke balik counter para pegawai. Bosnya adalah orang yang sangat teliti, dan keberadaannya adalah di sebuah ruangan di samping counter tempatnya berdiri saat ini. Orang dari luar memang tidak dapat melihat ke dalam, tapi bosnya itu dapat melihat dan memantau dengan jelas keadaan di luar. Lagi pula, kemunculan Madeley yang tiba-tiba juga akan mengejutkan para pelanggan kafe.

“Bisakah kau berhenti menggangguku selama aku bekerja?” bisik Mikan. “Aku tidak mau ada orang yang melihatmu.”

Madeley tertawa. Mikan mengernyitkan keningnya kebingungan. Dia tidak merasa ada sesuatu yang lucu dari kalimatnya. “Apa yang kautertawakan?” bisik Mikan, dengan setiap penekanan khusus bernada sangar pada kalimatnya.

“Apa kau tidak tahu kalau hanya kau yang bisa melihatku?”

Mikan lagi-lagi mengerutkan keningnya. “Maksudmu, orang lain tidak ada yang bisa melihatmu?”

“Begitulah.” Madeley mendesah. “Sepertinya kau benar-benar tidak membaca buku itu sebelum kau langsung melafalkan mantra inti untuk mengeluarkanku.”

Mikan mengedikkan bahu. “Yeah, aku terlalu sibuk untuk melakukan hal itu,” Mikan sependapat.

Pikiran baru melintas cepat dalam kepala Mikan sekarang. Kalau Madeley tidak terlihat, apa itu artinya, orang-orang yang melihatnya berpikir kalau dia adalah orang gila—dia berbicara sendiri. Mikan mendengus dan mendesah. Bagaimanapun, keberadaan Madeley di tempat umum tetap membawa pengaruh negatif bagi pandangan orang-orang terhadap dirinya.

“Madeley—“

“Apa kau tidak tahu orang yang memakai masker itu adalah Lee Donghae?”

Mikan langsung membelalakkan matanya. Tidak pernah sekalipun terlintas dalam kepala Mikan kalau seorang Lee Donghae akan datang ke kafe tempatnya bekerja. “Apa kau yakin?” tanya Mikan, masih meragukan pernyataan Madeley.

“Kalau kau tidak percaya juga tidak masalah,” tandas Madeley sambil mengedikkan bahunya.

Mikan melirik pada pria yang memakai masker itu. Pria itu membuka maskernya  dan mulai menyesap kopinya sembunyi-sembunyi. Mata Mikan semakin membelalak lebar ketika memastikan kalau sosok pria bermasker itu adalah Lee Donghae. Berbagai pertanyaan langsung menyerbu dalam kepalanya secara bertubi-tubi. Dan Mikan bersyukur, karena dia memiliki orang yang dapat menjawab pertanyaan itu; Madeley.

Dengan segera, Mikan menarik tangan Madeley masuk ke dalam ruangan tempat tersusunnya loker para pegawai yang bekerja di warung itu. Dia sudah melupakan pekerjaannya untuk terus beridiri di depan kasir walau tidak ada tamu, dan keberadaan bos galaknya yang setiap menitnya memantau gerak-geriknya. Bagi Mikan, masalah Lee Donghae jauh lebih penting daripada pekerjaannya yang bergaji kecil itu—meski pekerjaan itu pulalah yang membuatnya tetap dapat bertahan hidup.

Ketika sampai di ruang loker itu, Mikan menatap mata Madeley dalam-dalam. “Jadi, apa Lee Donghae sudah menyukaiku?”

“Tentu saja. Apa kau meragukan kekuatanku?”

“Tidak, bukan begitu. Hanya saja, aku merasa tidak ada yang berbeda dari sikap Donghae tadi,” sahut Mikan, matanya menerawang.

“Memangnya kau mau Donghae berlaku seperti apa? Dia tidak mungkin langsung menunjukkan kalau dia menyukaimu secara gamblang, bukan?” Madeley menyahut dengan penuh kepercayaan diri. Kelihatan kalau Madeley sangat memercayai bakat sihirnya yang tidak akan gagal.

“Baiklah. Aku percaya padamu. Tapi apa yang harus kulakukan selanjutnya?”

“Mana aku tahu,” tandas Madeley. “Seharusnya itu kau pikirkan sendiri.”

Mikan mengangguk-angguk. Dia mengerti kalau yang dikatakan Madeley betul adanya. Tapi, dia benar-benar tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukannya.

“Mikan!” pekik sebuah suara.

Mikan tersentak. Suara itu adalah suara bosnya, Shinjong. Suara berat seorang pria kurus ceking, namun mengerikannya tidak kalah dari seorang petinju kelas atas. Mikan bergidik. Dia melirik kepada Madeley, dan reaksi Madeley hanyalah mengedikkan bahunya. Jika saja situasi Mikan saat ini tidak seperti ini, dia pasti sudah akan mengomeli Madeley. Tapi batinnya sekarang sedang ketakutan. Mikan sadar sesadar-sadarnya, kalau dia telah melakukan suatu pelanggaran; parahnya, pelanggaran itu sepertinya cukup besar untuk dapat ditoleransi oleh bosnya.

Mikan berjalan lambat-lambat keluar, sambil menunduk menatap lapik berlapis tegel keramik berwarna khaki yang dipesan khusus oleh bosnya. Madeley mengikutinya di belakang, tanpa suara, dan tidak terlihat oleh siapa pun, kecuali Mikan. Di depan meja kasir, tempat Mikan biasa berdiri, sudah berdiri Shinjong di sana. Mikan mengangkat kepalanya dengan takut-takut, dan memandang Shinjong dengan tatapan memelas, berharap Shinjong mau memaafkannya.

“Apa yang kaulakukan? Kenapa kau masuk ke dalam saat jam kerja? Sedangkan kalau kau mau ke toilet saja kau harus minta izin dulu! Dan sekarang kau masuk ke dalam tanpa minta izin, melakukan sesuatu yang tidak jelas, dan itu dalam waktu yang lama!” omel Shinjong panjang lebar. Napasnya terengah kecil akibat kalimatnya yang tidak menggunakan titik; hanya penekanan yang menandakan kalau dia sangat marah pada Mikan.

Kepala Mikan pusing. Dia tidak tahu harus memberi jawaban seperti apa kepada bosnya. Mikan sadar betul kalau dia salah. Dan jika dia tidak bisa memberikan alibi yang cukup bagus dan masuk akal, maka dia harus menerima ganjarannya; dipecat.

“Maaf,” Mikan memelas. Tidak ada kata lain lagi yang bisa dikatakannya. Sejak awal kepalanya memang sudah buntu, tidak bisa merangkai alasan-alasan bagus yang mungkin akan dipakai sebagai alibinya. Terlebih setelah mendengarkan celotehan bosnya, semakin membuat kepala Mikan buntu saja.

“Memangnya apa yang kaulakukan di dalam tadi?” tanya bosnya, masih dengan nada tinggi yang serupa.

“Aku…,” Mikan terdiam. Dia menundukkan kepalanya, tidak sanggup lagi menatap bosnya. Dia tahu kalau saat ini, kemungkinan besar adalah saat terakhirnya berada di kafe ini. Kalaupun dia dipecat, Mikan tidak yakin dia akan merindukan tempat ini—tentu saja karena bosnya.

“Kelihatannya kau tidak memiliki alasan cukup bagus kali ini. Kalau begitu kau dipecat!” tegas bosnya.

Mikan hanya bisa tertunduk semakin dalam. Pernyataan dipecatnya dirinya oleh bosnya memang sejak awal sudah diduganya. Hanya tinggal menunggu kata-kata itu diucapkan, dan membawa mimpi buruk Mikan menjadi kenyataan. Sebenarnya dipecatnya Mikan dari Kaffee bukanlah mimpi buruk, karena dengan begitu dia tidak akan direcoki lagi oleh Shinjong. Tapi berhubung Mikan saat ini sedang tidak memiliki pekerjaan, dipecatnya dirinya menjadi mimpi buruk, sangat buruk malah. Mikan bingung; dimana selanjutnya dia bisa mendapat pekerjaan? Kalau dia tidak segera mendapat pekerjaan, dia akan mati kelaparan. Aset yang ada di rumahnya hanyalah tumpukan buku tua milik neneknya, yang masih belum diketahui Mikan apa guna dari masing-masing buku itu. Mikan menghela napas, dan mencoba berpikir positif. Setidaknya, dia masih memiliki Madeley di sisinya.

Mikan membereskan barang-barangnya di loker, dan mengganti seragamnya dengan pakaian yang dipakainya saat datang. Kaos oblong berwarna putih yang dipadukan dengan celana jins biru yang sudah belel dan robek pada bagian lututnya, dan sepatu kets usang berwarna coklat yang sudah ditambal di kiri-kanan, serta tas rombeng berwarna kuning yang sekarang sudah mirip dengan warna tai.

“Malang sekali nasibmu, Mikan,” ujar Madeley, memperjelas nasib Mikan yang sudah dapat terlihat oleh orang mana pun yang melihatnya, tanpa perlu dipertegas lagi dengan sebuah kalimat.

Mikan keluar, dan sedikit menoleh pada meja tempat Donghae duduk tadi. Sayangnya, Donghae sudah tidak berada lagi pada tempatnya. Entah kapan baru dia bisa bertemu dengan Donghae lagi. Mikan mengumpat dalam hatinya. Ini semua karena kesalahannya juga yang bertindak tanpa berpikir.

Terus berjalan keluar, Mikan melewati pintu berkaca bening dan menariknya, lalu keluar ke pelataran parkir. Ingin rasanya Mikan berteriak sekencang-kencangnya atas nasib kurang mengenakkan yang dialaminya hari ini.

 

Mikan’s POV

 

Entah bagaimana aku harus menanggapi hari ini—senangkah, sedihkah? Mungkin seharusnya aku senang karena telah bertemu dengan Lee Donghae. Tapi jika mengingat kalau hari ini aku dipecat..? Akh, entahlah.

Mobil-mobil mahal berjejer di pelataran parkir begitu banyak. Terlalu banyak sampai aku tidak bisa menghitungnya. Ironisnya, tidak satu pun dari mobil-mobil itu yang bisa kumiliki, bahkan salah satu yang paling murah sekalipun.

“Hei, kau dipecat?” seru sebuah suara.

Sudah jelas aku dipecat, kan? Untuk apa orang itu menegaskannya lagi. Apa dia ingin mengejekku karena melakukan tindakan konyol? Segera saja kuputar badanku, dan menatap orang itu, bermaksud memarahinya.

Pria berpenyamaran lengkap yang menyapaku tidak lain adalah Lee Donghae, membuatku sedikit tercengang, dan tidak sanggup mengeluarkan kata apa pun.

“Apa kau dipecat?” Dia mengulangi kata-katanya.

“Ne,” jawabku kalem. Aku bersyukur dalam hati, karena aku tidak jadi membentaknya. Jika saja aku membentaknya tadi, aku tidak tahu lagi akan sehancur apa imejku.

“Kalau begitu aku ingin menawarkan kerja padamu.”

Aku membelalakkan mataku, beberapa detik sebelum aku sadar kalau reaksi yang kutampakkan agaknya sedikit berlebihan—aku juga tidak tahu pasti ini berlebihan atau tidak, tapi aku tak mau terlihat terlalu antusias.

Kuanggukkan kepalaku dengan perlahan dan anggun. Sedetik kemudian, sadarlah aku kalau reaksiku tetap saja tolol. Aku bahkan belum mengetahui pekerjaan apa yang ditawarkannya padaku, dan aku sudah menganggukkan kepalaku begitu saja.

“Tapi pekerjaannya apa?” tanyaku, berharap dengan pertanyaan ini bisa memperkecil ketololan yang kutampakkan padanya.

“Jadi pembantu paruh waktu di apartemenku? Otte?”

Hatiku bergejolak, dan jantungku memukul-mukul rusukku. Ya Tuhan, aku tidak pernah menyangka kalau aku akan bisa pergi ke apartemen seorang Lee Donghae.

“Bagus. Mulai kapan aku bisa bekerja?” Aku berusaha menampilkan nada suara yang tetap stabil. Tapi, karena terlalu antusias aku merasa pelafalan kataku menjadi kurang jelas, dan aku mengucapkan kalimat itu dalam kecepatan yang lebih daripada kecepatan rata-rata.

“Hari ini?” Donghae meminta pendapatku.

“Baiklah,” jawabku cepat.

Aku naik ke dalam mobilnya, yang ternyata adalah Lamborghini berwarna hijau. Dia terlihat sangat merawat mobilnya itu. Hiruk-pikuk jalan raya yang ramai membuat jalanan sedikit macet, dan ketibaan kami di apartemen Donghae menjadi tersendat.

Madeley duduk di jok belakang dalam diam. Suasana hening dan canggung. Aku benar-benar kehilangan kata-kata dikarenakan jantungku yang masih berpacu dengan cepatnya. Dadaku sakit akibat kecepatan pukulan jantung yang tidak terkendali di rongganya. Aku tidak terlalu suka ini, tapi aku senang berada di samping Donghae.

Aku bersyukur ketika akhirnya kami tiba di apartemen Donghae. Gedung apartemennya sangat tinggi—aku tidak tahu terdiri atas berapa lantai apartemen ini—dan dipenuhi dengan jendela-jendela yang tampak mengilap akibat terpaan sinar matahari. Deretannya rapi, kecil-kecil, dan terlalu banyak.

Begitu masuk ke dalam lobi apartemen melalui pintu yang terus saja berputar, angin dingin langsung menyergap tubuhku. Selain itu, ada aroma khas seperti pada hotel berbintang lima—aku tidak pernah ke hotel berbintang lima sebelumnya, tapi instingku memberitahuku seperti itu—yang terasa menyejukkan hidung. Aku menarik napasku dalam-dalam, berusaha menikmati sebanyak mungkin aroma itu.

“Hei, jangan lakukan itu! Kau terlihat kampungan,” bisik Madeley, yang berjalan di sebelahku.

Aku memelototinya, meski aku tahu kalau yang dikatakannya memang betul.

Kami masuk ke dalam lift besar, dan Donghae menekan tombol dengan angka 20 yang tertera pada tombol itu. Lampu berwarna merah menyala pada sela-sela angka di tombol itu, dan lift mulai bergerak ke atas, membuatku merasakan tekanan gravitasi semakin besar. Untung saja ini bukan pertama kalinya aku naik lift. Kalau benar begitu, aku pasti akan mengeluarkan reaksi yang akan membuat malu diriku sendiri lagi.

Lift berhenti tepat di lantai 20, dengan mengeluarkan bunyi berdenting kecil. Donghae berjalan keluar, dan aku mengikutinya. Dia memasuki kamar dengan nomor 2011, dengan aku dan Madeley yang mengekor di belakangnya.

Pintu kayu apartemen terbuka, mengekspos ruangan di dalamnya. Aku melangkah perlahan, memerhatikan desain interior apartemen itu. Sederhana nan mewah, itulah pendapatku. Pendingin ruangan di sini sepertinya menyala 24 jam. TV LCD berdiri dengan tegap di atas sebuah meja kaca tinggi berwarna bening, dengan penyangga berwarna keemasan. Sofa dengan campuran warna pastel tergeletak rapi menghadap lurus kepada TV, dengan meja kaca berdesain klasik di depannya. Keseluruhan dari apartemen ini didominasi dengan warna pucat yang netral.

Donghae melepaskan seluruh atribut menyamarnya, dan menatapku. Aku diam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Apa kau tidak tahu siapa aku?” tanyanya.

“Ne?”

“Maksudku, kau tidak mengenal Lee Donghae?”

“Ah,” gumamku, mengerti dengan maksudnya. “Tentu saja aku mengenalmu. Senang sekali bisa bekerja denganmu,” tukasku sambil menunduk.

Donghae tersenyum, membuat jantungku berdetak sangat cepat. Dia menyodorkan tangannya padaku, dan aku tidak cukup bodoh untuk mengerti kalau dia ingin bersalaman denganku.

Kuusap tanganku di kaosku, lalu turut mengangkat tanganku dan menyambut tangannya. Perasaan canggung meliputiku ketika aku mengetahui tanganku gemetaran tidak jelas. Ini sangat tidak nyaman. Aku seperti tidak bisa memegang kendali pada diriku sendiri Dengan cepat aku menyalami tangannya, dan melepaskannya—kalau terlalu lama, bisa-bisa dia menyadari getaran pada tanganku.

 

***

 

Apartemen milik Donghae ternyata sangat besar. Aku sampai kelelahan membersihkannya. Tapi setidaknya, sekarang aku sudah selesai. Madeley, bukannya membantuku, dia malah pulang kembali ke rumah dengan alasan tidak mau menggangguku saat bersama dengan Donghae. Padahal, jelas-jelas di sini aku hanya bekerja, dan Donghae seharian berada di ruang tamu menonton TV. Entah kenapa aku jadi meragukan sihir Madeley.

“Aku sudah selesai,” sahutku. Aku sudah berdiri di depan Donghae yang sedang duduk menonton acara TV-nya. “Apa aku sudah boleh pulang?” tanyaku.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Donghae menunduk, menatap keramik mengilap yang melapisi lapik apartemennya. “Duduk sini,” ujarnya, menarik tanganku hingga terduduk di sofa empuk di sampingnya.

Aku diam, menunggunya mengatakan kata-kata yang akan diucapkannya. Jantungku kembali berdetak tak terkendali, dan aku tahu kalau itu karena posisiku yang berada di sampingnya. Aku menahan napasku, berusaha mengendalikan debar jantungku, tapi sepertinya usahaku sia-sia saja.

“Aku menyukaimu. Kau jadi pacarku saja.”

Dua kalimat singkat Donghae berhasil membuatku melongo. Aku memalingkan kepalaku menatapnya, yang juga sedang menatapku dengan penuh keyakinan. Sungguh, aku tidak pernah menduga kalau semuanya akan berjalan secepat ini. Dan sepertinya, aku salah karena telah meragukan sihir Madeley. Sihir itu benar-benar ampuh, dan bekerja dengan cepat.

Aku menelan ludahku yang terasa tawar. Darah mengalir deras ke seluruh penjuru tubuhku. Aku tidak mengerti, tapi menurutku reaksi tubuhku terlalu berlebihan, hanya untuk pernyataan yang sudah pasti cepat atau lambat akan terjadi—tentunya karena sihir Madeley.

“Aku tahu kalau ini mungkin terdengar konyol,” sahut Donghae ketika melihatku tidak bergeming. Dia menggaruk-garuk kepalanya. “Tapi percayalah padaku. Aku serius.”

Hening.

Otakku berputar dengan sangat lambat—sepertinya karena terlalu senang akan hal yang tidak pernah kuduga akan secepat ini sama sekali.

“Mikan?” Donghae menautkan alisnya.

“Ehm,” aku berdeham, memperbaiki suasana. “Tentu saja. Aku juga menyukaimu,” tukasku langsung. Kupikir, berhubung Donghae juga main terang-terangan padaku, akan lebih baik kalau aku juga langsung-langsung saja padanya.

Donghae tersenyum dan memelukku. Mataku membulat, dan jantungku berpacu semakin cepat saja. Aku sangat bahagia.

 

***

Donghae mengantarkanku ke rumahku. Aku bersyukur karena dia sama sekali tidak memandang sebelah mata rumahku yang kecil dan terletak di pinggiran kota itu. Aku bercerita banyak padanya tentang buku-buku sihir nenekku, kecuali bagian aku meminta dia disihir untuk menyukaiku, dan tentang Madeley. Kurasa sampai kapan pun aku tidak akan memberitahukan siapa pun mengenai hal itu. Cukup aku dan Madeley yang mengetahuinya.

“Jadi bagaimana?” serbu Madeley langsung, begitu aku membuka pintu kayu rumahku.

Aku tersenyum, sangat lebar hingga menampakkan gigi putihku yang tersusun rapi—aku cukup bangga dengan gigiku. “Donghae menyukaiku. Sekarang aku sudah berpacaran dengan Donghae,” tukasku, tidak sanggup menahan tawaku.

Air muka Madeley berubah sumringah. “Benarkah? Wah, aku tidak pernah tahu kalau sihirku ternyata sangat ampuh,” ujar Madeley, matanya menerawang. Kelihatannya dia sangat bangga akan dirinya sekarang. Dan sepertinya, dia lebih menaruh perhatian pada sihirnya yang berhasil daripada keberhasilan hubunganku dengan Donghae.

“Ya, mungkin aku harus berterima kasih padamu. Dan kau tahu? Tadi Donghae mengantarkanku pulang. Aku sudah akrab dengannya sekarang.” Mataku berbinar-binar.

“Yeah, aku mengerti perasaanmu,” ujarnya. “Tidak usah sungkan-sungkan,” sambungnya lagi. Tangannya melambai-lambai, seolah ingin mengusir nyamuk.

“Ya sudah. Kalau begitu sekarang aku mau tidur dulu. Annyeong~.”

Langsung saja aku masuk ke kamarku dan menutup pintunya. Aku sudah malas melanjutkan pembicaraan dengan Madeley mengenai apa pun  itu. Kelelahanku sudah tidak dapat ditolerir lagi. Meski senang, tapi pekerjaan di apartemen Donghae terlalu banyak dan membuatku lelah. Well, setidaknya besok tidak akan ada lagi pekerjaan sebanyak itu.

 

***

Sinar matahari menembus melalui serat-serat kecil kain pada tirai di kamarku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, sebelum benar-benar membukanya. Hari ini, berbeda daripada biasanya; aku tidak akan bekerja di Kaffee lagi, tapi bekerja di tempat Lee Donghae—pacarku. Aku mendesah, entah mengapa rasanya aneh menyebut Lee Donghae dengan sebutan pacarku. Apa aku memang tidak pantas untuknya, sampai bahkan aku sendiri merasa seperti itu? Tapi bagaimanapun tidak pantasnya aku, masih tetap saja aku ingin bersama dengan Donghae.

Hari ini aku tampil dengan pakaian terbaikku; kaos berwarna khaki dengan tulisan handsome and the beast—aku sangat menyukai baju ini, lebih dari pakaian-pakaianku yang lainnya, mungkin karena namanya yang menggambarkanku dan Donghae—celana panjang hitam ketat yang kubeli di obralan, dan satu-satunya sepatuku—sepatu kets usang berwarna coklat dengan tambalan di sana-sini. Kalau saja aku punya pilihan sepatu lain yang lebih baik, aku tidak akan memilih sepatu itu. Sayangnya aku tidak punya, jadi terpaksa saja aku mengenakannya.

Ketika aku keluar dari kamar, Madeley sudah mengganti bajunya dengan dress selutut berwarna biru muda, dengan hiasan permata klasik yang tampak sederhana. Rambutnya yang keriting sosis dibiarkannya terurai begitu saja; berbeda denganku, yang hampir setiap hari menggulung rambutku naik ke atas. Penampilannya terkesan anggun, dan pakaiannya terlihat bermerek. Otakku masih dapat berputar dengan jernih untuk mengetahui mengapa Madeley memiliki baju-baju itu tanpa perlu menanyakannya secara langsung kepada empunya; dia menyihirnya.

“Apa kau akan ikut denganku hari ini?” tanyaku.

“Hmm,” dia menggumam, berpikir sejenak. “Tidak usah sajalah. Aku takut merusak acaramu dengan Donghae.” Dia mengedipkan sebelah matanya. Apa maksudnya melakukan itu? “Kalau kau perlu aku, tinggal kau sebut saja namaku tiga kali, dan aku akan datang, arasseo?”

“Oke.. oke,” ujarku tak acuh.

Aku berjalan keluar, menuju stasiun bus terdekat di rumahku. Jalanan sudah dipenuhi oleh kendaraan aneka jenis yang berlalu-lalang. Di bahu jalan, tak jarang aku berpapasan dengan pejalan kaki sepertiku; masing-masing dengan tujuannya sendiri. Matahari sudah bersinar dengan terik, memanaskan jalanan berbatu dan beraspal di sekitarku. Aku berjalan sedikit cepat, berharap bisa segera tiba di stasiun bus, dan mengakhiri petualangan berjalan kakiku yang diiringi angin berdebu serta terik matahari yang membakar, yang sangat tidak kusukai.

Setelah melewati semua tahap perjalanan untuk dapat mencapai apartemen Donghae—mengantri, membeli karcis, naik bus, menunggu di dalam bus—akhirnya tibalah aku di apartemennya.

Kutekan bel yang terpajang di depan pintunya, lalu menunggu beberapa saat, sebelum Donghae akhirnya membukakan pintunya. Donghae tampak tampan dan berbeda dalam balutan kaos berwarna abu-abunya, yang dipadukan dengan celana pendek berwarna hijau. Kedua perpaduannya sangat kontras, dan tampak tidak harmoni. Tapi busananya sama sekali tidak dapat mengurangi sedikit pun pesonanya.

Donghae tersenyum, dan mempersilakanku masuk. Aku menautkan alisku bingung ketika melihat seorang pria dan wanita sedang duduk di sofa ruang tamu Donghae. Kebingunganku tidak berlangsung lama, karena akhirnya Donghae yang tertinggal di belakangku untuk menutup pintu apartemennya terlebih dahulu menyusulku, dan mulai memperkenalkan kami satu sama lain.

“Hyung, Taeyeon, kenalkan, dia Mikan, pacarku. Dan Mikan, kenalkan ini Jungsoo hyung, manajerku, dan istrinya, Taeyeon,” tukas Donghae. Kepalanya berputar-putar antara kami bertiga.

Aku menyalami tangan orang yang bernama Jungsoo terlebih dahulu. “Song Mikan imnida.”

“Park Jungsoo,” sahutnya sambil tersenyum, menampakkan lesung pipinya.

Selanjutnya, aku menyalami wanita cantik bernama Taeyeon itu. “Kim Taeyon imnida.’

“Song Mikan.”

Sama seperti namanya, wanita bernama Kim Taeyeon itu sangat cantik. Sepertinya aku mengagumi kecantikannya secara khusus.

“Omong-omong, apakah kau orang Jepang?” tebak Jungsoo.

Wajahku yang tersenyum langsung berubah merengut. “Apa kau tidak dengar margaku? Song,” tukasku, sarkatis.

Jungsoo tersenyum kecil. “Maaf,” katanya. “Tapi hei, temperamental sekali kau, nona,” cibirnya. “Donghae, bagaimana bisa kau menyukai wanita temperamental sepertinya?”

Aku memelototinya sebelum melayangkan pandanganku pada Donghae. Donghae tertawa renyah, tampak tidak terlalu peduli dengan gurauan Jungsoo yang menyebalkan.

“Sudahlah hyung. Kau sudah terlalu tua untuk bertengkar dengan orang yang jauh lebih muda darimu,” Donghae membelaku.

Aku tersenyum, merasa menang, hingga sepertinya senyumku berubah menjadi seringaian kecil.

“Hah!” dengus Jungsoo. “Aku akan pulang sekarang. Ayo Taeyeon.” Tanpa berdiam lebih lama, Jungsoo bangkit dari sofa, menarik tangan Taeyeon.

“Kau marah, hyung?” tanya Donghae, turut bangkit dari tempat duduknya.

“Tidak. Aku hanya ingin pulang saja. Lagi pula tidak ada yang mengurus anak-anak di rumah,” imbuh Jungsoo.

Donghae mengantarkannya sampai ke pintu, lalu kembali duduk di sofa.

“Sepertinya aku sudah bisa memulai pekerjaanku sekarang?” aku bertanya.

“Kau bisa memulainya kapan pun kau mau,” gumam Donghae tak acuh.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku berjalan dan memulai pekerjaanku. Setidaknya kali ini aku tidak harus bekerja sekeras kemarin dikarenakan pakaian-pakaian bekas pakai Donghae yang dibiarkan tercecer begitu saja di kamarnya.

Aku membersihkan semuanya, tidak terkecuali kamar Donghae. Begitu aku memasuki kamarnya, aroma maskulin yang bercampur dengan aroma kayu manis menyeruak ke dalam rongga hidungku. Wanginya alami, dan sangat kusukai. Sesuatu dalam diriku mengatakan kalau aku pernah mencium aroma ini, tapi aku sama sekali tidak dapat mengingatnya. Memori itu seperti menarik-narik dalam kepalaku, dan setiap kali aku sudah mendekatinya, memori itu langsung tertarik menjauh dariku; sangat jauh hingga semua yang telah kudapatkan sebelumnya buyar begitu saja.

Jantungku bertalu-talu cepat ketika kulihat Donghae ternyata sedang berbaring di kasur di kamarnya dalam balutan singlet putih yang membuatnya tampak sangat.. menggoda? Ya ampun, apa yang kupikirkan?

Aku menelan ludahku. Donghae sedang tidur, tapi dia masih menggodaku dalam tidurnya. Sepertinya aku harus cepat-cepat membersihkan kamar ini, kalau aku tidak mau membuat diriku menjadi setengah sinting, atau membangunkannya.

Kubersihkan semuanya, agak asal-asalan. Aku berjanji pada diriku sendiri kalau lain kali aku akan membersihkannya lebih baik lagi. Setelah selesai, aku beranjak keluar kamar.

Tanpa kusangka-sangka, keteledoran kecil yang kubuat mengakibatkan akibat besar dalam hidupku. Kakiku tersandung oleh kemeja polkadot putih biru milik Donghae yang kukeluarkan dari tempatnya tadi. Kakiku yang satu berusaha menahan diriku agar tidak terjatuh, tapi tarikan gravitasi, kecepatan, dan keseimbangan tubuhku tidak saling berkoordinasi dengan baik, hingga hasilnya aku tetap terjatuh. Mataku memandang tempat aku akan mendarat; kasur Donghae. Di satu sisi, aku merasa bersyukur karena aku bukan mendarat di lantai yang pasti akan menciptakan memar pada kulitku, tapi di sisi lain, aku takut kalau aku terjatuh aku akan membangunkan Donghae dan membuat masalah semakin runyam saja.

Semua yang terlintas di pikiranku hanya berlangsung dalam hitungan detik saja, termasuk prosesi jatuhnya aku ke atas ranjang. Pada akhirnya, sama seperti perkiraanku—atau mungkin meleset sedikit—aku terjatuh di kasur milik Donghae. Tapi aku bukan terjatuh pada kasur empuk yang akan menghentak jika aku terjatuh dalam kecepatan seperti itu, melainkan tepat di atas tubuh Donghae, membuat kasur menghentak, bersama dengan tubuh Donghae dan tubuhku yang menindihnya.

Donghae membuka kelopak matanya secara perlahan. Embusan napasnya teratur menerpa wajahku. Sementara aku, eumbusan napasku yang sejak awal memang sudah tidak berautan akibat insiden jatuhku, semakin tidak beraturan saja karena berada dalam posisi sedekat ini dengan Donghae.

Mata Donghae perlahan membuka sempurna, bahkan melebar lebih besar daripada ukuran biasanya. Tidak ada lagi yang bisa kukatakan, dan pikiranku seketika terasa kosong. Hanya jantungku yang terus beraksi memukul-mukul rusukku, membuatnya terasa nyeri. Aku cukup yakin kalau Donghae sekarang bisa merasakan pukulan jantungku di dadanya.

Bodohnya, aku sama sekali tidak bisa bergerak, dan hanya diam mematung di tempatku.

Donghae menatapku intens, tampak tidak mempermasalahkan bagaimana aku bisa menindihnya saat ini. Dia juga tampak tidak bermasalah dengan berat tubuhku yang mengimpitnya.

Satu tangannya terulur memperbaiki helai-helai rambutku yang terlepas dari gulungannya, membuat darah berdesir dalam kecepatan penuh ke seluruh tubuhku. Aku bahkan dapat merasakan sekujur tubuhku memanas, terutama pada bagian wajahku; tanda kalau sekarang pipiku sudah merona merah.

Aksi dari Donghae yang tidak kuduga sama sekali, dia memutar tubuh kami, membuatku terbaring di kasur, dengan dia yang berada di atasku. Kepalaku terasa sedikit berputar karena reaksinya yang tiba-tiba—kurasa jantungku yang berdetak tidak terkendali juga merupakan salah satu faktornya. Mataku terbelalak, tapi segera meredup kembali ketika melihat mata Donghae.

Bola matanya berwarna coklat, tampak sayu dengan pesona yang tak bisa kujabarkan. Aku bahkan tidak mengerti seperti apa kerja pesona mata itu, hingga membuatku seperti terhipnotis. Tatapan matanya padaku intens, dan perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Membuat embusan napasnya menerpa di wajahku.

Secara refleks, aku mengatupkan kedua kelopak mataku. Tidak lama kemudian, kurasakan sesuatu yang lembut dan hangat menempel di bibirku yang basah. Aku tahu kalau itu adalah bibir Donghae. Dia menggerakkan bibirnya perlahan. Meski perlahan, tapi ciuman itu mampu membuat kerja jantungku semakin tidak stabil. Aku ingat untuk bernapas, tapi ada sesuatu dalam organ tubuhku yang membuatku tidak cukup kuat untuk menarik dan mengembuskan napas itu. Aku terlalu terhanyut dalam ciuman Donghae.

Dalam sekali sentakan, Donghae melepaskan bibirnya dari bibirku, membuatku merasa ada sesuatu yang hilang dari bibirku. Napasku tersengal-sengal, dan kepalaku terasa pening.

“Kurasa lain kali kau harus sedikit menjaga jarakmu denganku. Kalau tidak, sepertinya aku tidak berani jamin apa yang akan terjadi selanjutnya,” tukas Donghae.

Aku mengerutkan keningku, tidak mengerti dengan apa yang dibicarakannya. “Apa maksudmu?” tanyaku.

“Kau tidak mengerti?” Dia mendengus. “Sepertinya aku harus menjelaskannya terang-terangan padamu.”

Donghae bangkit berdiri, membebaskanku dari tindihannya. “Kau tahu? Aku ini pria. Maksudku, kalau kau berada dalam posisi sedekat itu denganku, aku tidak yakin aku akan bisa menahan diri.”

Aku menunduk. Aku mengerti maksudnya kali ini. Darah kembali berdesir ke pipiku, menimbulkan semburat merah di sana.

 

TBC

 

7 thoughts on “Magic Book Part 2

  1. Kyaa Kyaa… envy tingkat kronis, stadium 4!!!

    Mikaaann… jgn deket2 sm suami ku, cium cium lagii… ga ada di perjanjian tuh… haha *sarap mode on

    Chingu,, nii kereen.. lanjutin yaa, hehe ^^…

  2. ya ampun, deg-degan bacanya.. ==
    pinjem madeley nya dong, sebentar aja.. *pasang tampang memelas #plak *digetok author
    lanjutannya jangan lama-lama oke? #readers ga tau diri ==’

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s