The Boys and My Nightmare part 4

This Boy and My Nightmare part 4

Author : Kyu-Fiida Jr.

Main Cast : Lee Donghae, Kim Yoogeun, Lee Eun Hye, Lee Taemin, Lee Hyukjae, Cho Kyuhyun

Support Cast: Heechul, Yesung, Siwon, Sungmin, Shindong, Ryeowook, Park Rae Ya, Choi Siwon, Choi Minho, Onew, Key, Jonghyun

Rating : All Ages

Genre : Seperti biasanya… Ngawur… hehe, Romance(10%) en Comedy (90%)

Warning: Moga gak mencret baca FF saya….

And the Story Goes..

Donghae POV

Aku berdebat hebat dengan Manajer selama beberapa jam. Ada beberapa staf dan Pimpinan Label yang ikut datang menyidangku hari ini. dengan hanya Leeteuk Hyung yang membelaku, jelas aku kalah telak. Aku harus menuruti titah perusahaan, dan itu sungguh membuat kepalaku pusing.

Ottohke?

“Hyung.. Ini benar-benar konyol… aku tidak mungkin mengakuinya sebagai anakku karena dia bukan anakku…Bukankah tadi kau bilang akan percaya padaku?” kataku protes. Kami berjalan menuju Dorm.

“Ne.. Aku percaya padamu, aku percaya bahwa kau akan bertanggungjawab Donghae-ah..” katanya bijak. Wajahku menegang.

“Hya… Hyung,… berapa kali sudah kubilang kalau dia bukan anakku!!” teriakku semakin emosi.

“Kalau begitu kau pilih saja Opsi kedua, jangan akui mereka berdua, tapi jangan pernah menjalin kontak dengan keduanya lagi…Masalah selesai…”

Aku mendesah.

“Aku tidak boleh begitu Hyung… aku juga bukan orang seperti itu, Mereka sudah tidak punya keluarga lagi…. Aish…”

“Bukankah sudah kubilang untuk memilih Opsi pertama saja? Akui dia sebegai anakmu dan istrimu…” katanya tenang. Bahkan ia masih sempat terkikik-kikik membaca SMS di ponselnya.

“Aniyo… Bagaiamana nanti reaksi fans? Aku takut membahayakan Eun Hee dan Yoogeun…”

“Kau ini, kalau kau bilang begitu dan sangat mengkhwatirkannya, mana mungkin orang percaya dia bukan anakmu?, lagipula, kau akui atau tidak, kau tetap membahayakannya, fans sudah tahu kalau dia pernah mengaku-ngaku sebagai istrimu…” serobotnya lagi.

Aku mendesis. Meremas rambutku. Kami hampir sampai di depan pintu Dorm.

“Hyung, apa aku harus mengakuinya sebagai anak dan istriku?” tanyaku pasrah.

“ Aku tahu kau pasti melakukannya dengan baik, tidak baik menolak mengakui keluargamu hanya karena takut karirmu terancam..”

“Aish, HYUNG… BERAPA KALI AKU HARUS KATAKAN PADAMU DIA ITU BUKAN ANAKKU DAN BUKAN ISTRIKU…!” teriakku keras.

Leeteuk Hyung menaruh telunjuknya di bibirku. Menyuruhku diam karena baru saja penghuni apartemen sebelah berjalan disebelah kami.

“Kau bilang sedniri bahwa namja di video itu kau bukan? Lalu sekarang kau mengelak dia bukan anakmu?  Kau mengakui mereka anakmu di video itu Donghae-ah… kau mau bilang kau latihan Drama di video itu? memangnya kau mau main drama jadi bapak-bapak huh? Siapa yang akan percaya?” katanya membalas.

Aku menjambak rambutku lagi. Apakah yang kukatakan di video itu terlihat begitu meyakinkan?

“Tapi Hyung..Yeoja itu seb-“

“Label sudah memutuskan begitu, pilih satu Opsi, kalau kau tidak mengakuinya, itu artinya tidak ada lagi kesempatanmu untuk bertemu dengannya, sebaliknya kalau kau mengakuinya… Itu baik untuk masa depan kita…” kata-katanya menggantung di udara.

Aku mengerutkan kening. Baik untuk masa depan kita, maksudnya?

Aku merasa ada hawa menyebalkan dari kalimat Leeteuk Hyung yang tidak jelas itu.

“Begini, kalau Label sudah menyetujui kau menikah, itu artinya, aku dan member yang lain punya kesempatan untuk melakukannya juga…Kalau kupikir-pikir sudah saatnya Super Junior mrnampakkan sisi kedewasaannya sbeagai bapak-bapak beranak yang tetap keren walau sudah tua… kita tidak mungkin terus-terusan sok remaja seperti sekarang bukan? Aku rasa fans akan mengerti seiring berjalannya waktu,.. hmmm.. alangkah bahagianya ya…. Nantinya kalau kalian semua sudah beranak banyak, kita bisa mengantar anak-anak kita ke TK bersama-sama…. ” ia tersenyum bahagia. Matanya menerawang langit-langit. Pasti otaknya sudah melayang kemana-mana.

“Hya… Hyung.. kau mau menjadikanku tumbal? Aku tidak mau!”

“Kalau kau menyangkal, kau harus ganti rugi uang kontrak.. Kurasa ini sudah yang terbaik Donghae-ah…Jarang-jarang Manajer memberi keputusan hebat seperti ini..Kau jadi tidak perlu berpisah dengan anakmu…” kata Leeteuk Hyung kalem. Kami sudah didepan pintu Dorm.

“Hyung… aku merasa ada sesuatu yang direncanakan manajer, tidak mungkin kan tiba-tiba aku diperbolehkan menjalin hubungan dengan yeoja sementara kontrak kita melarang itu sejak awal… Kau tak merasa begitu Hyung?” tanyaku serius. Leeteuk Hyung tampak berpikir.

“Kita bicarakan nanti lagi… Oke?”

Aku mengangguk malas dan ikut masuk ke Dorm. Aku agak terkejut melihat beberapa tissue bekas darah berceceran di lantai ruang tengah. Lebih kaget lagi melihat Taemin berbaring di sofa dengan Kyuhyun dan Eun Hee disebelahnya. Yoogeun digendong Eun Hee.

“Hya… Kau apakan dia Kyuhyun?” Leeeteuk Hyung menginterogasi Kyuhyun. Bocah itu gelagapan sambil buru-buru menjelaskan kronologi berdarah-nya Taemin akibat terinjak pantat Yoogeun.

Sudah kubilang kan kalau gadis dan bocah ini berbakat jadi orang merepotkan?

Aku melirik Eun Hee yang juga tengah melirikku. Yoogeun tertidur di sofa sebelahnya. Agak aneh saja melihat tangan Taemin menggenggam tangan Eun Hee. Taemin tengah pulas dan kelihatan bahagia walaupun matanya agak bengkak.

“Bagaimana?”

Karena aku terlalu terpaku melihat tangannya, aku jadi agak gugup menjawab pertanyaannya.

“Oh.. oh.. sudah beres..” jawabku cepat.

“Lalu?”

“Ehm.. kita bicarakan diluar… kau bisa ikut aku keluar sekarang bukan? Yoogeun bisa ikut dengan Leeteuk Hyung..” kataku sambil beranjak bangkit. Eun Hee mengibaskan tissue di roknya dan ikut berdiri disebelahku, namun tangannya masih digenggam Taemin.

“Hya … Taemin-ah… lepaskan tangannya..” kataku sambil melerai genggamannya dari tangan Eun Hee. Taemin yang baru bangun tidur -atau pura-pura tidur- mengerucutkan bibirnya. Aish..

“Hyung… Jangan bawa Noona-ku pergi…” katanya pelan. aku melirik Eun Hee.

“Eh, kau kenal Taemin?”

Eun Hee mengangkat bahunya. Tangannya berontak dari genggaman Taemin.

*

Eun Hee POV

“Aku baru kenal..” jawabku singkat. Taemin bersiap merajuk lagi, namun Donghae sudah menarik tanganku mendekat pintu Dorm. Mukanya serius. Berdiri didepanku sambil mendesiss-desis. Kelihatan akan mengatakan sesuatu yang berat.

“Aku sudah putuskan…” katanya. Aku meliriknya jengkel.

“Tidak bisakah kau bilang dengan jelas? Kau putuskan apa?”

Ia melirikku dengan tatapan sinis. Mengamatiku dari bawah hingga puncak kepala. Seperti menimbang-nimbang sesuatu.

“Kau terlalu jelek untuk jadi istri Lee Donghae, jadi aku tidak ak-“ mendengar kata-katanya yang sangat tidak sopan, aku segera menyerobot. Terlalu jelek katanya?

“Omo.. Kau kira kau itu sangat tampan hah? KAU ITU TERLALU PENDEK UNTUK UK-“

“HYA.. GADIS BERPIPI LEBAR…KAU.. JANGAN PERNAH MEMAKI TINGGI TUBUHKU ATAU KAU AK-“

“NE… KAU ITU PENDEK DONG-KRAK!”

Pletak!

Tangannya menggetok kepalaku. Aku mendesis. Memegangi sandal rumah yang tertata di rak sepatu disebelahku.

Buk!

Tangan beserta sandal di genggamanku menghantam kepalanya.

Taemin yang dari tadi mengamatiku dari sofa berjalan terhuyung menghampiri kami. Ia memegangi tangan Donghae yang juga sudah memegangi sepatu dari rak sepatu dan bersiap mendaratkannya di kepalaku.

“Hyung, pukul saja kepalaku, tapi jangan menyakitinya… dia itu Yeoja Hyung, dia itu juga istrimu, kau tidak boleh begitu..” katanya pelan.

Aku meliriknya. Sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikirannya.

“Ne.. Kau pukul saja kepalanya..” kataku sambil melengos meninggalkan Taemin yang masih berlagak  menahanku. Taemin sangat syok mendengar ucapanku.

Donghae menatap taemin dongkol. Ia masih kelihatan emosi. Sepatunya masih dipegang dengan tangan kiri, dan hebatnya:

Buk!

Donghae benar-benar memukul kepala Taemin dengan sepatu Boots di tangannya. Sudah bisa ditebak, sedetik kemudian, Taemin mimisan lagi.

*

Donghae POV

Leeteuk Hyung marah hebat padaku karena Taemin mimisan untuk keduakalinya. Taemin sekarang berbaring di sofa. Kyuhyun, yang duduk di pojokan sofa sambil main PSP sesekali menjulurkan lidahnya kearahku gara-gara aku kena damprat Leeteuk Hyung.

“Hya Cho Kyuhyun! Taruh PSP-mu! Duduk disini!”

Bagus, sekarang Kyuhyun juga kebagian damprat. Mari kita berbagi dampratan bersama Cho Kyupret!

Kyuhyun melenggang dari sofanya. Menaruh pantatnya disebelahku. Mengarahkan ekor matanya ke arahku. Aku memasang senyum bahagia. Dia melotot.

“Sekarang kalian antarkan Taemin ke Dorm-nya..” Leeteuk Hyung memulai instruksi.

“Mwo?” Kyuhyun membuka mulutnya. Dia memang tidak begitu suka menghabiskan waktu untuk berbuat kebajikan, termasuk mengantarkan Taemin ke kandangnya.

“Kau mau protes? Siapa suruh kau membuatnya mimisan hah? Bagaimana kalau dia kehabisan darah dan mati di jalan?”

Berlebihan… Lebay.. Tidak masuk akal…

“Itu tidak akan terjadi Hyung… mana ada orang mati karena mimisan?” balas Kyuhyun tak terima. Leeteuk Hyung semakin murka.

“Kalau dia lemas lalu pingsan di jalan dan tertabrak truk?” Leeteuk Hyung merancang alasan baru.

“Kalau itu lain perkaranya, dia mati karena tertabrak truk, bukan karena mimisan…” Kyuhyun menjawab. Aigoo… bocah setan ini… Mulutnya memang luar biasa…

“Aish… Aku tidak mau tahu, kalian angkat Taemin ke mobil dan bawa pulang dia kembali ke Dormnya, jangan lupa minta maaf pada Jinki juga… Omo.. Omo.. Kenapa kalian bisa begitu ceroboh dan mencemarkan kebaikan hati Group kita…” Leeteuk Hyung membuang mukanya. Menolak menatap Kyuhyun dan aku. aku dan Kyuhyun saling berpandangan.

Kebaikan hati yang mana?

Aku dan Kyuhyun memasang muka terpaksa sambil mengangguk patuh. Leeteuk Hyung membawa kakinya ke kamar. Mungkin berencana tidur, mumpung sore ini sedang longgar. Aku dan Kyuhyun melirik Taemin yang menyeruput susu panas buatan Eun Hee. Setelah itu, Aku memapah Taemin. Badannya seperti triplek, tipis dan mudah retak. Taemin tak bicara apa-apa, kemungkinan besar dia takut kena gampar lagi. Apalagi sekarang aku didukung dongsaengku, Kyuhyun si Maha tega.

Kyuhyun membuka pintu dan menyabet kunci mobil. Tiba di mobil, Kyuhyun mengambil ponsel dari sakunya. Menelpon seseorang.

“Minho-ah… Kemarilah ke dorm-ku…”

“..”

“Taemin pendarahan…”

“..”

“Cepatlah, nyawanya terancam.. Ne.. Ne.. aku didepan Dorm..”

“..”

Kyuhyun memang jenius. Awalnya aku berpikir dia aakn mengantarkan Taemin. Nyatanya? Kami hanya duduk-duduk di mobil menunggu Minho menjemput Taemin.

Minho datang. Ia segera memapah Taemin menuju mobilnya sambil berkali-kali membungkukkan badannya mengucapkan Terimakasih pada kami yang bersedia menolong Taemin. Ia sama sekali tak tahu bahwa justru kami yang mencelakakan dongsaeng tripleknya itu. Kyuhyun berlagak ikhlas dan pada akhirnya Taemin pulang ke dormnya dengan Minho. Tinggallah aku dan Kyuhyun yang masih duduk-duduk di mobil.

“Jangan ke Dorm dulu, nanti Leeteuk Hyung akan curiga kalau kita terlalu sbentar mengantarnya…” katanya. Aku memasang headset dan menyetel lagu, sementara bocah itu mulai sibuk dengan PSPnya.

“Ngomong-ngomong… Bagaimana kau bisa mengenal gadis seram itu?” tanyanya tiba-tiba. Aku meliriknya. Sedikit tersenyum mendengarnya menyebut Eun Hee dengan sebutan ‘gadis seram’.

“Rumahnya satu blok denganku di Mokpo..” jawabku. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apa anaknya itu benar-benar anakmu?” tanyanya lagi. matanya masih memelototi PSP.

“Bukan… Aish… aku bahkan tidak mengenal mereka” jawabku mulai kesal. Tiap kali membicarakan masalah ini, emosiku selalu merangkak naik.

“Lalu, kenapa kau mengangkutnya ke Dorm kalau dia bukan anakmu?” kyuhyun melanjutkan pertanyaannya.

“Kau tahu tentang video itu kan? Dia mengaku-ngaku sebagai istriku, dan dia juga tidak punya keluarga. Sepertinya aku memang tak punya pilihan..” kataku membalasnya.

Ia tersenyum dan menoleh menatapku singkat.

“Kau mau tahu pendapatku Hyung? Kurasa kau menyukainya…” katanya yang segera membuat keningku berkerut.

“Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu? kau tahu benar bagaimana tipe Yeojachinguku kan?” serobotku. Ia melirikku lagi. kali ini sambil menyeringai.

“Sekarang, coba pikirkan, apa masuk akal orang sesibuk kau mempedulikan seorang yeoja hingga bersedia menampungnya kecuali kalau kau memang menyukainya bukan?”

Aku berjengit.

“Mungkin ini Cuma soal waktu… sebentar lagi kau pasti sadar” lanjutnya santai. Aku melotot.

“Aish.. Mana mungkin aku mencintai gadis seperti itu?” gumamku. Kyuhyun menepuk bahuku. Tertawa lagi.

“Dia itu menarik, Hyung…” kata Kyuhyun singkat.

*

Eun Hee POV

Donghae sudah kembali ke Dorm. Yoogeun sudah tertidur di tempat yang benar, di kasur Donghae.

Aku keluar menghampirinya. Kami duduk bersebelahan di ruang tengah. Donghae melirik kanan-kiri. Memastikan Kyuhyun dan Leeteuk oppa sudah masuk kamarnya.

“Jadi, aku akan mengklarifikasi kabar itu… karena kau dan Yoogeun bukan istri dan anakku..” katanya kalem. Aku mendnegarkan dengan seksama.

“Kau tidak perlu khawatir, aku akan meyiapkanmu rumah di Mokpo… Tapi kau harus janji tidak membuat ulah seperti sekarang, kau tahu, apa yang kau lakukan sesungguhnya membahayakan dirimu sendiri… Kau tidak tahu fans kami sangat fanatik? Mereka bisa melakukan apapun pada yeoja yang dekat-dekat dengan kami…Mulai sekarang, jangan pernah keluar Dorm sendirian.. Kau dan Yoogeun tidak boleh keluar sendirian sebelum semua ini selesai…Kalau ada apa-apa atau kau membutuhkan sesuatu, katakana saj a padaku….” ucapnya kemudian. Aku menatap bola matanya.

“Katakan padaku, kenapa kau mau menyiapkan rumah untukku?” tanyaku penasaran.

“Tidak mungkin bukan seseorang baik hati tanpa pamrih di jaman serba bayar seperti sekarang? pasti ada alasannya” kataku cepat. Ia balik menatapku.Mukanya mendadak tegang.

“Ne.. Kau.. Kau, maukah kau  dan Yoogeun berpura-pura menjadi istri dan anakku didepan Umma-ku? Aku jarang melihat Umma-ku tertawa setelah Appa-ku meninggal.. Kau, kau mau? Aku berjanji tidak akan membuat hidupmu menderita…” tanyanya lebih pelan. Aku melirik matanya yang melarikan diri ke gorden jendela. Matanya merah dan mulai berair. Omona… dia mulai menitikkan air mata!

“Hya.. Lee-dong-ah… Kau menagis hah? Aish…” kataku mencoba membuatnya tersenyum.

“Mian.. aku selalu terbawa suasana kalau bicara mengenai Appa dan Umma-ku…”

“Lalu, bagaimana kalau ibumu tahu soal klarifikasimu mengenai hubungan kita?”

“Itu urusanku, aku akan bicara pada Umma… Umma pasti memahami kalau tujuannya untuk melindungi kalian berdua..” katanya sambil tersenyum tipis. Aku baru tahu kalau wajahnya menyimpan senyuman semanis itu.

Lee-Dong ini… imut juga.

“Lalu, aku akan tinggal dimana?” tanyaku sambil menundukkan mataku menatapi telapak kakiku sendiri. Memandangnya membuatku berpikir dia tampan. Dan dilihat orang tampan membuatku grogi.

“Rumahku di Mokpo… tentu saja aku akan jarang kesana karena.. yah.. kau tahu… aku lumayan sibuk… tapi kujamin Umma akan senang kau tinggal disana…”

Aku mengagguk sok paham.

“Jadi.. mulai sekarang kau harus mengajarinya memanggilku Appa dan memanggilmu Umma…” katanya lagi. aku menatapnya. Mengangguk lagi.

“Ne…” jawabku singkat.

“Kau harus menjaganya dengan baik Eun Hee-ah…”

Aku meliriknya agak jengkel. Tanpa dia bilang pun aku sudah akan merawatnya dengan sangat baik.

“Hya… Jangan memperlakukanku seakan aku akan membunuh anakku sendiri, aku tidak sekejam yang kau bayangkan…” kataku sambil mencibir.

“Bagaimanapun juga kau itu sangat mengerikan… aishh….. kau tak ingat kemarin kau merelakan kepala Taemin untuk melindungimu?”

Aku segera menyahut.

“Aniyo… Dia rela melakukannya…”

Donghae mendecak.

“Kurasa bocah itu menyukaimu…Jadi, jangan memberinya harapan kalau kau tidak menyukainya… itu tidak baik… Kau sudah punya Yoogeun…” katanya singkat.

Omo.. Omo… sindrom lebay-nya mulai bertingkah…

“Eun Hee-ah… Kau harus benar-benar menjaga Yoogeun kita..” mendadak topik pembicaraan berganti menjadi ‘Yoogeun kita’.

“Aku sangat menyayanginya… dia itu imut sekali…” katanya dengan muka semakin lebay.

“Berhentilah menyamakan wajahmu dengan wajahnya…Kau itu sudah tua,…” Serobotku.

Pletak!

“Dia memang anakku jadi wajar saja kalau dia mirip denganku…Tak tahukah kau ia sangat mirip dengan Donghae di masa muda?….” sanggahnya lagi. Matanya menatap langit-langit Dorm. Senyumnya mengembang dan kalimatnya mulai tidak masuk akal.

“Ne.. tapi dia tidak mirip dengan Donghae tua…” jawabku lagi.

*

Donghae POV

Eun Hee masih menginap di kamar Eunhyuk yang memang dihuninya seorang diri. Eunhyuk mengungsi ke kamar Siwon dan aku juga terpaksa mengungsi ke Kamar Kyuhyun karena kasurku yang nyaman baru saja ditimpa air kencing Yoogeun. Tadi malam, aku dan Eun Hee harus kerja keras menjemur kasur  ke beranda dan pergi ke minimarket membeli pelapis kasur anti air untuk dipasang di kamar Eunhyuk. Akibatnya, aku tidur kemalaman.

Hari ini, kami akan sibuk sampai sore. Aku berniat akan mengantar Eun Hee dan Yoogeun ke Mokpo besok pagi. Sementara konferensi Pers akan dihelat lusa.

Aku masih bergelung di kasur, sementara Kyuhyun masih mendengkur disebelahku. Leeteuk Hyung menjitak pantatku dan Kyuhyun berkali-kali. Pada akhirnya kami bangkit, mandi dan pergi ke lokasi Pengambilan foto untuk iklan.

Sungguh sial, aku bertemu SHINee –dan tentunya Taemin- disana.

“Kau sudah baikan Taeminnie?” Leeteuk Hyung menyapanya sambil merangkul pundak Taemin. Kami akan syuting Iklan Outer Ware. Aku cukup menyukai desain jasnya. Ketampananku terlihat maksimal dengan memakainya (ehm).

“Ne.. Hyung.. aku sudah baikan, Key Hyung merawatku dengan baik.. aku juga minum susu pisang ekstra.” Sahut Taemin riang. Matanya mengacuhkanku dan Kyuhyun yang duduk disebelah Leeteuk Hyung. Aku melirik Kyuhyun dan bocah sialan itu asyik main PSP. Tak tahukah dia nyawa kami dalam bahaya kalau sampai Taemin buka mulut soal antar-mengantar kemarin?

Aku menendang lutut Kyuhyun. Bocah itu Cuma melirikku sebentar dan sibuk memantengi PSPnya lagi.

“Maafkan dua dongsaengku …. Yah… kadang-kadang memang mereka agak kekanakan…” kata leeteuk Hyung. Taemin memasang senyum sambil mengangguk.

“Ne Hyung…. Apakah aku boleh main ke Dorm-mu Hyung nanti sore?” tanyanya yang segera membuat telingaku tegak. Main ke Dorm lagi? Aish.. bocah triplek itu tidak takut mimisan lagi?

“Ne.. Tentu saja, aku akan sangat senang…” jelas Leeteuk Hyung. Taemin memandanginya dengan muka bersinar penuh semangat.

“Apakah Noona-nya Donghae Hyung-“

“Maksudmu istrinya Donghae?” Leeteuk Hyung menginterupsi. Aku tersenyum puas.

“Ne… Noona yang itu, apa dia masih di Dorm-mu Hyung?”

Leeteuk Hyung tertawa sambil memukuli pundak Taemin.

“Ne… dia masih di Dorm kami… memangnya kau mau apa?” Tanya Leeteuk Hyung sambil memandanginya.

“Aku hanya ingin melihatnya… Hyung… apa boleh Noona itu kuajak ke Dorm-ku? Aku ingin menunjukkannya pada Hyung-hyung di Dorm-ku…” rajuknya lagi. aku yang sedari tadi pura-pura tuli dengan memasang headset ditelingaku mulai naik darah.

“Ne… kalau dia mau kau boleh mengajaknya main-main… tapi kau juga jangan lupa minta ijin Donghae…” kata Leeteuk Hyung sambil mengarahkan dagunya ke wajahku. Aku menatap Taemin cuek. Anak itu buru-buru mengalihkan pandangannya.

Aish… kenapa bocah itu suka dekat-dekat dengan Eun Hee?

“Memangnya kenapa kau ingin menunjukkannya pada Hyung-Hyungmu? Kau menyukainya?” Tanya Leeteuk Hyung santai.

“Ne.. Noona itu menarik Hyung,” katanya polos.

OMONA TAEMIN… BEDAKANLAH ANTARA MENARIK DAN MENGERIKAN…

*

Eun Hee POV

Aku memeluk Yoogeun sambil setengah berlari menyeberangi jalan. Masuk ke apartemen buru-buru. Beberapa orang yang melihatku memandangku cemas.

Sesampainya di Kamar Donghae, aku segara melepas bajuku dan baju Yoogeun. Membersihkan kepalaku yang terus mengeluarkan darah. Aku memeluk Yoogeun sambil mulai menangis. Donghae tidak bercanda bahwa aku telah membahayakan diriku sendiri. Kami baru membicarakannya kemarin dan sesuatu yang buruk terjadi sekarang.

Seseorang melempar kepalaku dengan botol soju. Botol itu pecah saat menghantam kepalaku dan menghantam aspal. Tepat didepan minimarket yang baru saja kuhampiri untuk membeli susu. Kepalaku berdarah.

Untungnya Yoogeun baik-baik saja. Ia sedang kugendong saat itu. Aku membawa Yoogeun ke kamar mandi dan membersihkan kepalanya yang juga ikut terkena ceceran darah dari kepalaku. Aku menggantikan pakaiannya dan membersihkan bajuku sendiri.

Aku keluar kamar mandi dengan mmemegnagi kepalaku yang masih saja mengeluarkan darah. Setelah memastikan Yoogeun masih bermain didepan TV, aku mencari kotak P3K yang sialnya tak kunjung kutemukan.

Saat itu, kudengar suara deritan pintu terbuka. Aku menyambar syalku diatas ranjang dan membebatkannya di belakang kepalaku hingga menutupi daguku. Setidaknya darah itu tidak akan terlihat.

“Apa yang kau lakukan?” Donghae yang sedang meletakkan sepatunya memandangiku agak lama. Aku nyengir dan mengedikkan bahu. Kelihatannya ia kembali ke Dorm sendirian karena tak seoangpun masuk setelah itu.

“Kenapa kau memakai syal itu di kepalamu?” tanyanya lagi.

“Oh.. ini.. Aku kedinginan..” jawabku asal. Ia memasuki kamarnya dan menggendong Yoogeun sambil menyerahkan tas plastic untuknya.

“Eun Hee-ah.. Kau mimisan..” katanya sambil menatapku. Tanganku meraba bawah hidungku dan kutemukan darah mengalir disana. Donghae melemparkan tissue ke arahku dan mengikutiku  ke wastafel.

“Kau baik-baik saja? Apa kau sakit?” tanyanya lagi sambil memegangi pundakku.

“Aku sedikit pusing, Menjauhlah sedikit…” kataku sambil menepis tangannya. Aku tidak mau dia melihat syalku yang mungkin mulai berwarna merah sekarang.

“Eun Hee-ah ….Kepalamu berdarah…” tangannya membuka syal yang menutupi kepalaku. Ia menurunkan Yoogeun dan membalikkan badanku. Menatapku tajam.

“Katakan, ada apa?”

Aku menunduk tak menjawab.

“Aku baik-baik saja…Ini hanya terbentur sedikit..” kataku sambil kembali menghadap wastafel. Membersihkan darah di hidungku dengan air.

Ia membalik tubuhku dan menyeretku ke kamarnya. tangan kirinya menyambar Yoogeun.

Ia kembali dengan kotak P3K yang tahu-tahu sudah ada di tangannya. Ia tidak bicara sama sekali. Hanya membersihkan belakang kepalaku dengan alcohol dan menutupnya dengan kapas.

“Aku tahu apa yang terjadi, maafkan aku…” katanya pelan. tangannya mengembalikan botol alcohol ke kotaknya.

“Aniyo… sudahlah lupakan saja, ini tidak sakit…memangnya kau tahu ini kenapa?” tanyaku mencoba menggodanya. Ia tidak tersenyum, dan sebaliknya matanya mulai merah. Aigoo… Dong-Krak, apakah air matanya itu seperti air keran? Kenapa mudah sekali bocor?

Ia menarik tanganku dan mendadak memelukku.

“Jangan banyak bicara, kau membuat nafasku sesak…” bisiknya.

Jantungku berdebar.

Aish… apa yang dia lakukan hah?

“Aku baik-baik saja… Omo.. Kenapa kau berlebihan sekali?” kataku sambil mencoba melepaskan tangannya.

“Kau keluar sendirian hari ini? sudah kubilang bukan, jangan keluar sendirian!, kalau kau butuh sesuatu, katakana saja padaku… aku akan membawakannya untukmu…” katanya setengah marah. Aku jadi salah tingkah melihatnya.

Ia memelukku semakin rapat. Yoogeun hanya melihat kami dengan tatapan tidak mengerti.

“Donghae..” panggilku pelan. aku tidak mencoba melepas tangannya lagi. rasanya seperti kehilangan tenaga. Donghae tak menjawab.

“Kepalaku berat sekali..”

Kurasakan tangan Donghae melepaskan badanku dan beberapa detik kemudian bayangannya jadi buram.

*

End of part 4

HUwaaaaaaaaa…………

Part ini adalah part paling ‘datar’ diantara semua part yang pernah saya tulis baik di HOG atau TBMN, hehehhe….

MIanhae..

Maaf juga publish-nya kemalaman,

Overall, I need your comment…

12 thoughts on “The Boys and My Nightmare part 4

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s