The Boys and My Nightmare part 3

This Boy and My Nightmare part 3

Author : Kyu-Fiida Jr.

Main Cast : Lee Donghae, Kim Yoogeun, Lee Eun Hye, Lee Taemin, Lee Hyukjae, Cho Kyuhyun

Support Cast: Heechul, Yesung, Siwon, Sungmin, Shindong, Ryeowook, Park Rae Ya, Choi Siwon, Choi Minho, Onew, Key, Jonghyun

Rating : All Ages

Genre : Seperti biasanya… Ngawur… hehe, Romance(10%) en Comedy (90%)

Warning: Moga gak mencret baca FF saya….

What??

Eun Hee POV

Bisakah kalian bayangkan bagaimana raut muka Dong-Krak sekarang?

Dia menyetir dengan kecepatan menyeramkan. Mulutnya mendengus. Menyumpah-nyumpah. Dan aku? Aku pura-pura menenangkan Yoogeun yang ada di pangkuanku. Untungnya Yoogeun masih demam. Kalau tidak begitu, mungkin aku sudah dilempar ke jalan oleh manusia disampingku. Ia tentu saja tidak tega melihat ‘adik kembarnya’ yang sakit terlantar di jalanan. Ia tidak punya pilihan lain selain berbaik hati mengantarku mencari tempat tidur.

“Jadi ini rumahnya?”

Kami sudah sampai didepan rumah Nam Jo Ahjussi. Rumah sempit bercat hijau muda berpagar tepat disamping belokan Blok 10. Aku membuka pintu mobil. Donghae mengganti alih tugas menggendong Yoogeun sambil ikut keluar mobil. ia memaksaku menunjukkan rumah Yoogeun walaupun sudah berkali-kali kubilang rumahnya telah disita. Ia baru percaya sekarang.

Tepat di tengah pagar, tertulis jelas slogan ‘Rumah ini disita’ lengkap dengan dua koper yang kucurigai milikku. Aku bergegas menengok pagar dan menyeret koperku.

“Baiklah, kita bisa pergi sekarang..” kataku takut-takut.

Ia berjengit. Melirikku dengan wajah murka.

“Apa maksudmu bilang begitu?” tanyanya mencoba sabar.

“Aku akan ikut denganmu…” kataku ragu.

Dia mendengus dan menyumpah-nyumpah lagi. Pada akhirnya ia meletakkan Yoogeun di kursi depan mobilnya. Menyelimutinya dengan jaket dan menutup mobil pelan-pelan.

“Aku bisa merawat Yoogeun, namun tidak denganmu… Kau tahu kontrak kerjaku kan?” tanyanya.

“Tidak tahu” jawabku singkat. Sok penting sekali sih.

“Aish… Dengar, sampai tujuh tahun kedepan, tanpa persetujuan Label-ku, aku tidak boleh menjalin hubungan dengan perempuan biasa…” katanya lagi. aku meliriknya dengan satu alis terangkat.

“Tapi Yoogeun itu adikku.. dan lagi, kau tidak mungkin bisa merawatnya sendirian tanpaku…dan satu lagi, aku juga tak berniat menjalin hubungan apapun denganm-” kataku menyangkal.

“Kau benar-benar menghabiskan waktuku, naiklah, aku harus segera kembali ke Seoul..”

*

Donghae POV

Aku mengetuk pintu rumah. Berharap DongHwa Hyung masih bangun. Semoga saja bukan Umma-ku yang membukakan pintu. Aku terpaksa membawa yeoja merepotkan beserta adiknya itu ke rumah Umma-ku di Mokpo. Sebelumnya aku sudah mengirim pesan pada Sung Ran Noona bahwa aku baru bisa kembali ke Seoul besok pagi.

Aku harus segera membereskan dua manusia menjengkelkan yang menyumpal di mobilku itu sebelum aku ke Seoul. Aish… aku benar-benar tak habis pikir mengapa aku mau menyibukkan diriku dengan menolong mereka. Entah, aku merasa mereka akan lebih merepotkan lagi di waktu yang akan datang. Namun seperti biasa, otakku selalu kalah dengan kebaikan hatiku. Melihat Yoogeun yang sedang demam membuatku nekat mengurusnya.

Pintu pagar membuka. Kakiku langsung gemetar. Itu Umma. Memakai piyama sambil mengucek matanya dan memandangku dengan muka kaget.

“DongHae-ah… Kaukah itu?” tanyanya sambil memukul-mukul lenganku. Aku mengangguk cepat. Mata Umma-ku langsung beralih pada yeoja dengan anak lima tahun di gendongannya yang baru saja keluar dari mobil. aku memukul jidatku jengkel. Sudah kubilang jangan keluar dulu.

Umma menghampirinya dan langsung membantu Yoogeun yang muntah lagi disebelah pintu mobil. umma menepuk-nepuk punggungnya dan lari kedalam rumah. Melupakanku yang masih didepan pagar. Tidak tahu harus berbuat apa.

Umma keluar dengan gelas berisi air hangat dan selimut. Umma memapah Yoogeun dan menyuruh Eun Hee ikut masuk kedalam rumah. Sama sekali tidak bicara denganku. Umma membaringkan Yoogeun di kamarku dan mengganti bajunya dengan piyamaku. Umma juga segera membersihkan badan Yoogeun dengan kompres.

Eun Hee, tanpa dikomando memasakkan bubur di dapur. Umma dan Eun Hee sama sekali tak berkomunikasi namun bekerjasama dengan sangat baik. Aku bengong melihat mereka berdua. Setelah limabelas menit yang sibuk, akhirnya Eun Hee selesai membuat bubur dan memberikannya kepada Umma. Aku ikut mendekat. Mencoba bicara pada Umma. Namun yang dikatakan Umma sungguh membuatku nyaris terjengkang masuk lemari.

“Jadi yang tadi kulihat di televisi itu tidak bohong.. Kau sudah punya anak Donghae-ah…”

Mulutku membeku. Tenggorokanku serak.

“Mwo? Anak? Dia ini bukan anakku Umma… Aish.. kenapa semua orang berpikir seperti itu!” teriakku heboh. Umma memukul kepalaku dan memaksaku diam.

“Umma sudah lihat.. Kenapa kau bilang begitu didepan istrimu Donghae-ah? Umma akan senang sekali kalau kau jujur pada Umma…”

“Hya! Umma-ah.. dia bukan anakku!.. dia juga bukan istriku! Aku sama sekali tak mengenal mereka!” bantahku cepat. Umma berbalik. Menatapku tajam.

“Umma sudah dengar semuanya… Nona ini datang ke konsermu tadi untuk mencarimu bukan? Donghae-ah.. bagaimana kau bisa berbuat sejahat itu… Kau tidak boleh mempermainkan yeoja seperti itu Donghae-ah..”

Aku membelalak. Omong kosong macam apa ini? bahkan Umma-ku pun tak percaya dia bukan siapa-siapaku?

“Umma.. percayalah.. dia bukan istriku dan anak ini juga bukan anakku… tanyakan padanya sendiri kalau Umma tidak percaya…” kataku sedikit putus asa. Umma berganti melirik Eun Hee. Eun Hee terlihat pucat,

“Apakah benar yang dikatakan Donghae nona?” Tanya Umma.

“Namaku Eun Hee Ahjumma..” potongnya sopan. Aku meliriknya tak simpatik. Awas saja kalau dia berani bermain drama lagi disini. Aku tidak akan segan membuangnya ke laut.

“Eun-Hee shii, benarkah kau bukan istrinya?” Umma mengulangi pertanyaannya. Wajah Eun Hee semakin pucat. Melirikku. Matanya memerah. Ia menuduk dan mendongak dengan wajah basah air mata.

Perasaanku tak enak. Sepertinya adegan bodoh di kedai Jjangmyeon tadi akan terulang lagi disini.

“Kami sudah menikah enam tahun lalu..”

Oh..

Oh..

Oh..

“Ini anak kami Yoogeun… Lee Yoogeun… umurnya lima tahun.. maafkan kami karena kami tak meminta izin pada Umma terlebih dahulu… Kami masih sangat muda saat itu dan baru punya keberanian mengatakannya sekarang…”

Oh Tuhan… gadis ini benar-benar harus dibuang ke sumur…

Aku terpaku menatapnya. Sangat kaget dan tidak sempat menyanggah karena Umma sekarang telah merangkulnya dan memintakan maaf untukku. Aku menyeret tangan Eun Heed an Umma menahan tanganku. Memandangku marah.

“Donghae-ah… Sudah tidak usah diteruskan… Umma memaafkanmu… berhentilah melarikan diri dari tanggung jawab.. Kau itu bukan anak kecil lagi…”

Aku melotot.

“Umma… Dia bukan-“

“Diamlah… anakmu baru saja tidur lelap… Besok kita teruskan lagi…Ajaklah istrimu istirahat..”

*

Eun Hee POV

Jika tadi di mobil dia terlihat menyeramkan, maka sekarang dia terlihat sangat menakutkan. aku tak berani menatapnya. Aku duduk diam sambil mengeringkan rambutku dengan handuk. Dia tengah menelpon manajernya.

“Bagaimana ini Sung Ran Noona? Gosipnya sudah menyebar di Internet…”

“..”

“Aku tidak bisa kembali sekarang.. Aish… Mengapa tak bilang dari tadi kalau beritanya sudah sejauh itu…”

“..”

“Kamera paparazzi? Di kedai Jjangmyeon?”

“..”

“Aku bersumpah dia bukan ISTRIKU dan bocah itu bukan ANAKKU noona…”

“..”

“Mwo? Kau yakin Manajer melarangmu menghentikan berita itu? Waeyo?”

“..”

“Hyak Noona.. Aku belum ingin jadi Ahjussi!.. Noona! jangan tutup telfonnya dulu! Hyak Noo-“

Dia berhenti berteriak. Membanting ponselnya keatas kasur. Aku yang baru saja keluar dari kamar mandi menatapnya sedikit. Ia masih mendengus dari tadi. Meremas rambutnya dan masuk kamar mandi tanpa bicara apapun padaku.

Maafkan aku Dong-Krak… Ini memang sudah takdir kita berdua.. Dituduh dan dipaksa mengurus anak orang… Kau berada ditempat dan waktu yang salah.. Aku tak pernah memaksamu mengejarku saat itu kan?

*

Donghae POV

Gadis itu sudah tertidur, mungkin aku terlalu lama berdiam di kamar mandi. Aku menatapnya sambil berkacak pinggang. Ingin rasanya kumasukkan dia kedalam kardus dan kubuang ke gurun pasir.

Sung Ran Noona barusan memberitahuku tentang gossip yang beredar di seoul dan sudah masuk acara Infotainment. Mereka –para awak media- menampilkan adegan hilangnya aku dari konser hingga gambarku bersama Eun Hee dan Yoogeun di kedai lengkap dengan dialog sintingku. Manajer Lee So Man, manajer pusat SMEnt turun langsung dan memerintah seluruh staff dan member untuk tidak angkat suara terlebih dahulu. Dia bilang orang dalam video tersebut memang aku dan Yoogeun sendiri sangat mirip denganku.

Tamatlah riwayat Lee Donghae.

Oh Tuhan, kenapa aku dengan bodohnya meladeni gadis itu hingga keluar pernyataan kalau Yoogeun adalah anakku?

Bagaimana nasibku kedepan? Aku bisa didepak dari Super Junior dan mengganti uang denda kontrak tujuh tahun. 

*

Eun Hee POV

Pagi yang mendebarkan.

Tebak apa yang terjadi saat aku membuka mataku?

Kaki Donghae menempel di wajahku. Sialan sekali. Aku buru-buru bangkit berdiri dan masuk kamar mandi. Setelah mencuci muka, aku segera menemui Yoogeun. Bocah itu tidak ada di kamarnya dan membuatku kaget karena dia sekarang tengah digendong Umma-nya Donghae sambil bermain-main di meja makan.

Aigoo… apakah benar ahjumma ini mengira aku istri Donghae?

Dari dialog di telfon yang kucuri dengar tadi malam, Donghae sedang dalam posisi sulit sekarang. adegan drama kami di kedai Jjangmyeon terekam kamera Paparazzi. Akibatnya, ia benar-benar dianggap suamiku oleh banyak orang. Pasti dia sangat stress sekarang.

Kudengar suara pintu terbuka dari kamar, dan Donghae turun dari tangga. Berdiri di belakangku. Melirik Umma-nya yang kelihatan sumringah sekali bermain dengan Yoogeun. Harus kuakui, wajah Yoogeun memang punya kekuatan magis, apalagi dengan kemiripan yang dia miliki dengan wajah si Dong-Krak, pasti Umma-nya sudah jatuh sayang kepada bocah itu. aku menghela nafas dan Donghae melewatiku begitu saja. Menyapa Umma-nya.

Ia kemudian juga memaksaku turun untuk ikut sarapan.

“Umma… Kami akan kembali pagi ini ke Seoul..” katanya sambil menyendok nasi. Matanya menatap mangkuknya.

“Kau mengajak istri dan anakmu juga?” Tanya Ummanya merespon. Segurat ekspresi kecewa terlihat di wajahnya.

“Tentu  saja… aku juga akan membawa mereka…”

Aku agak kaget. Pertama, karena dia tidak lagi sibuk menyangkal bahwa aku dan Yoogeun bukan istri dan anaknya. Dan kedua, dia mengajakku ke Seoul? Apa tidak salah? Wow… jangan-jangan dia berniat memasukkan kami ke panti asuhan…

Selesai makan, ia mengajakku masuk mobilnya.tentu saja setelah kami berpamitan dengan Umma-nya. Umma-nya memenuhi tas yoogeun dengan snack dan susu. Ummanya juga setengah menangis saat melepas Yoogeun pergi.

Aku dan Donghae tak banyak bicara. Dia asyik bicara dengan Yoogeun. Kelihatan sekali kalau si Dong-krak sudah menyayangi bocah itu sepenuh hati.

“Apa rencanamu?” akhirnya mulutku berani juga emmbuka percakapan.

“Entahlah… yang jelas aku akan bicara dulu dengan Manajer dan Hyung-hyungku..” katanya malas. Ia bicara lagi dengan Yoogeun. Menanyakan minuman favorit Yoogeun.

“Kau… tidak merencanakan sesuatu yang jahat untuk kami kan?”

Ia tersenyum sinis.

“Kau pikir?” balasnya singkat. Aku jadi cemas melihat caranya bicara. Sepertinya dia punya maksud jahat.

“Terserah kau sajalah… aku yakin kau tidak akan tega membiarkan anakmu terlantar di jalanan…” kataku.

“Anakku? Kapan aku membuatnya?” tanyanya bodoh. Aku mendengus. Merutuki mulutku sendiri yang dengan gobloknya mengakui si bocah maha tega ini sebagai ayah Yoogeun. Bukankah itu artinya aku rela dianggap ibunya? Aish… membayangkannya saja sudah membuatku ingin berak.

“Lima tahun yang lalu…” jawabku asal.

“Lalu siapa ibunya?” Hyak… Lee Dong-Goblok…. Mengapa kau masih saja meneruskan percakapan tolol ini?

“Aku…” balasku singkat. Dan bocah itu tertawa heboh. Apa yang lucu?

“Kau pikir aku mau?”

“Aku juga penasaran mengapa kau mau…” kataku menyangkal. Omo… lihatlah.. pasti aku kelihatan bodoh sekali sekarang.

“Sebenarnya ada sesuatu yang membuatku penasaran tentangmu.. dan mungkin itu sebabnya aku melakukan kebodohan dengan mengejarmu ke Dong Woon…”

“Soal banner itu?”

“Kenapa kau menulis Lee-Dong-Goblok? Apa kau berniat mencari perhatian?” tanyanya serius. Aku menatapnya tak percaya. Aish…. Percaya diri sekali bocah ini…

“Pertama… untuk apa aku mencari perhatianmu? Aku bukan penggemarmu dan bagiku kau itu tidak menarik… Kurang tinggi”

Pletak!

Tangan kirinya menyambar rambutku.

“Kau mau tahu kenapa?” tanyaku lagi. kali ini dia tak menjawab.

“Kau suka sepak bola?” tanyaku memulai. Ia melirikku jengkel.

“Hya… Jangan mengalihkan pembicaraan… Kau mau kulempar keluar hah?” bentaknya.

“Kau suka sepak bola dari kecil kan?” pancingku. Ia menghentikan mobilnya. Menatapku sambil memasang muka sok imut.

“Oh… aku tahu.. jadi kau penggemarku dari masa lalu ya?” balasnya bangga. Aku melotot. Memukul kepalanya. Yoogeun ikut menjitak kepala Dong-Krak.

“Hya… Kenapa kau ajari dia memukul kepala orang?” protesnya tak terima. Yoogeun Cuma tertawa sambil merajuk memintaku memukul kepala Donghae lagi. aku menyeringai puas.

“Dia bahkan sudah berani mengencingimu… jadi memukul kepalamu itu Cuma keterampilan sepele..” kataku cepat. Ia menyalakan mesin mobilnya lagi.

“Kau suka sepak bola sejak kecil, sok jagoan dank au suka bertaruh.. kali ini aku benar kan?” tanyaku memastikan. Ia melirikku penasaran. Aku menatapnya dengan emosi menanjak.

“Ya.. aku memang suka main sepakbola dari kecil..” jawabnya smabil masih focus melihat jalanan.

“Apa kau marah Yoogeun mengencingimu?”

Ia kelihatan malas sekali menjawab.

“Ne… Kau tak lihat aku sedang konser hah? Mau kukemanakan mukaku yang ganteng ini?” tanyanya sambil mengelus wajahnya. Matanya tak melihatku. Masih focus memandangi jalanan.

 “Kau pantas mendapatkannya…”kataku singkat.

Ia menoleh. Manatapku bingung.

“Apakah aku pernah berbuat salah padamu?”

“Ne… Kau pernah mengencingiku…”

Ccit…

Mobil berhenti.

“Kapan? Jangan bilang kau namja yang kalah main sepak bola di lapangan NamWon…” katanya. Aku mengamati wajahnya. Menebak apa yang ada di otaknya.

“Ne.. itu aku…” kataku pasrah.

Dan si Dong-Krak menyebalkan itu tertawa menggelegar.

“Jadi kau yeoja? Kenapa tak bilang? Bodoh sekali…” katanya masih sambil tertawa. Tangannya menjitak kepalaku.

“Itukah sebabnya kau menyuruh adikmu mengencingiku? Aigoo…. Mianhae Eun Hee-ah… aku tak tahu kalau kau yeoja.. kalau saja aku tahu.. aku pasti TETAP MENGENCINGIMU… BUAHAHAHAHA…”

Aku jadi menyesal merasa simpatik padanya.

Mendadak tangannya meraih tubuhku. Membuat Yoogeun terjepit diantara tangannya dan badanku.

“Hya… apa yang kau lakukan!! Kau membuatku sesak nafas…” teriakku. Ia menjitak kepalaku dan tertawa lebar.

“Ini caraku minta maaf bodoh…” katanya sambil lebih mempererat pelukannya. Membuat Yoogeun mulai berteriak karena tak bisa bernafas. Ia melepas pelukannya dan mengangkat Yoogeun. Menaruhnya di pangkuanku lagi.

Ia menyalakan mobil. Menatap jalanan lagi.

“Ehm.. aku teringat satu hal lagi, apakah benar Umma dan Appa Yoogeun meninggalkanmu dan anaknya begitu saja? Kuharap kau tidak salah paham… bukan maksudku aku menuduhmu berbohong… hanya saja .. aku takut aku dibohongi..”

Kata-katanya itu, Apa bedanya Dong-Krak?

“Ne.. kau tak lihat rumahku benar-benar disita?” tanyaku balik.

Dia mengangguk-angguk.

“Lalu, bagaimana bisa mereka meninggalkan anaknya begitu saja pada seseorang yang-?”

Kata-katanya terpotong. Matanya melirikku hati-hati. Aku menghela nafas.

“Karena Yoogeun itu ternyata bukan anak mereka…”

“HHEEEE???” Donghae terlihat makin bingung.

Aku menghela nafas lagi.

“Yoogeun itu adik tiriku…”

*

Donghae POV

Yang paling heboh adalah Eunhyuk. Tentu saja.

“Aku benar-benar syok…” katanya untuk kelima kalinya. Ia mengatakan hal yang sama dari tadi. Aku tak membuka mulut. Butuh banyak waktu untuk menyangkal dengan bukti kemiripan Yoogeun yang tentu saja akan mengalahkan alasan yang kuutarakan.

Di Dorm hanya ada Yesung Hyung, si setan, si kura-kura, Wookie dan Leeeteuk Hyung.

Kyuhyun menjitak Yoogeun berkali-kali. Ia masih dendam dengan bocah yang menindas wajahnya kemarin malam itu. Eun Hee menjauhkan Yoogeun dari Kyuhyun beberapa kali. Wookie dan Yesung Hyung menjawil-jawil pipi Yoogeun dan bermain-main dengan Ddang Kkoma.

“Manajer memanggilmu sekarang…. Kita akan ke studio sekarang..” Leeteuk Hyung menyeret tanganku keluar. Aku memberi kode pada Eun Hee agar diam di tempat. Yeoja itu tak bereaksi. Aku menatapnya setengah melotot. Akhirnya dia mengangguk.

Saat melewati jendela lobi, kulihat beberapa penggemar menggelar protes didepan. Sudah pasti mereka tak terima aku sudah beranak dan meminta SM mengkonfirmasi. Kata Leeteuk Hyung, mereka sudah disitu sejak kemarin malam. Berlebihan dan selalu begitu.

“Hyung… dia itu bukan anakku.. juga bukan istriku… aku baru mngenalnya kemarin malam..” kataku menjelaskan. Leeteuk Hyung menoleh dan menatapku agak lama.

“Ne.. Aku percaya padamu..” katanya singkat.

*

Eun Hee POV

Kini tinggal tiga orang di dorm. Aku Yoogeun dan namja yang sedang memegang PSP disebelahku. Hyung Donghae yang lain baru saja pamit keluar.

Lelaki yang sedang bermain PSP itu baru saja memukul kepala Yoogeun dengan PSPnya. Yoogeun, tentu saja menangis meraung-raung. Dan si Maniak PSP itu malah melengos pergi. Aku segera meraih kerah kemejanya dari belakang dan mendorong tubuhnya ke tembok. Ia mengantuk tembok dan terjengkang duduk didepanku.

“Hya… Kau.. apa yang kau lakukan..”

GREP..

Tangannya ganti meraih kerah kemejaku dari belakang. Aku memaksa maju kedepan dan dia melepas kerahku. Aku ikut terjengkang dan Namja sialan itu tertawa heboh. Saat itulah pintu Dorm terbuka. Sepotong wajah menyembul dari pintu.

“Annyeong…Kyuhyun Hyung ap-“ kata-katanya terpotong melihatku dan si Maniak PSP –mungin namanya Kyuhyun- yang terkapar berhadapan didekat sofa. Kami bertatapan. Si Tamu itu juga syok.

“Hya… masuklah… Yeoja ini baru saja membenturkan kepalaku ke tembok.. Kau tak percaya kan? Aish.. sudahlah.. jadi apa yang membawamu kesini Taemin-ah?” Tanya Kyuhyun sambil melirikku dan si tamu –mungkin namanya Taemin- bergantian.

Taemin –namja berambut aneh itu tersenyum sambil menatapku.

“Aku disuruh Onew Hyung mengembalikan kaos Eunhyuk Hyung… Eh, Noona ini siapa Hyung?” tanyanya riang. Aku memelototinya. Bukannya takut, namja aneh itu malah kegirangan.

“Aigoo Noona… aku suka matamu..”

Hya…. Apa-apaan bocah aneh ini…

“Hei… Kau tidak boleh merayu istri orang Taeminnie.. lagipula.. matanya itu terlalu besar.. seperti burung hantu” Kyuhyun menyela. Mulutnya itu, memang harus disemen.

Taemin terlihat kaget.

“Istri siapa Hyung?” tanyanya lagi. Matanya masih semangat melirikku diam-diam.

“Istri si Ikan… “ Kyuhyun menjawab sambil menyeret tangan Taemin masuk. Taemin ber-oh pelan. Matanya melirikku lagi. aish… Bocah ini benar-benar cari mati…

“Noona… Walaupun begitu aku tetap suka matamu..” kata Taemin aneh itu sambil menatapku. Kyuhyun melongo melihatnya. aku juga menganga mendengar ucapannya.

PRAKK…

Kudengar suara sesuatu retak dari belakang sofa.

Aku melongok. Dan hebat sekali, aku melihat Yoogeun –yang tidak terawasi beberapa menit- baru saja membanting PSP Kyuhyun ke tembok hingga retak layarnya. Aku tertawa heboh.

Bagus Yoogeun.. Kau memang jenius dan bisa membaca pikiranku…

Kyuhyun mengangkat Yoogeun dengan wajah murka. Aku segera meraih tangannya dan berusaha menggapai Yoogeun yang terangkat hingga nyaris mencapai atap Dorm. Dia memang cukup tinggi.

Taemin tiba-tiba saja sudah ada di belakangku. Ia juga kelihatan cemas.

“Hyung… jangan dibanting..” katanya memelas. Aku melirik Taemin jengkel. Sebagai satu-satunya Namja selain Yoogeun dan si tolol Kyuhyun, apa hanya itu saja yang bisa dia lakukan?

“Hya.. Kau kan Namja.. cepat bantu turunkan…” bentakku pada Taemin.

Taemin memandangku sejenakk dan kembali ikut menengadahkan tangan seperti yang kulakukan. Kami memohon-mohon si bodoh Kyuhyun agar melepaskan Yoogeun. Kyuhyun masih tak merubah ekspresi wajahnya. Tetap kelihatan marah. Ia mengangkat Yoogeun ke ujung ruangan.

Yoogeun yang polo s itu terlihat bahagia-bahagia saja karena merasa menjangkau langit dan sama sekali tak sadar bahaya yang mengancamnya. Aku mulai menjerit khawatir. Dari raut mukanya, aku bisa menebak kalau si Kyuhyun tolol itu bukan penyayang anak  kecil. Bagaiamana kalau Yoogeun dilempar ke tembok seperti PSPnya yang malang itu?

Kyuhyun menggantungkan kerah belakang Yoogeun di pengait pigura besar di dinding Dorm. Yoogeun sekarang menggantung seperti hiasan dinding. Gantungannya tinggi, dan aku tidak sampai.

Kyuhyun mundur dan berlari ke kamarnya sambil terbahak-bahak. Meninggalkanku bersama Taemin yang juga tak bisa menggapai Yoogeun.

Taemin mengangkat kursi dan mencoba menggapai Yoogeun.

Aku menatapnya penuh harap. Taemin berhasil!

Ia sudah menggendong Yoogeun di pundaknya sekarang.

“Noona.. sekarang kau tak perlu cemas… lihat… aku sudah membawanya kan..” bocah aneh itu mengacungkan Yoogeun padaku. Aku mendengus galak.

“HYa… hati-hatilah.. Kau bisa terpeleset kalau banyak bergerak seperti itu…” kataku saat melihatnya banyak bertingkah diatas kursi dan tidak segera membawa Yoogeun turun.

Benar saja, karena beberapa detik kemudian, bocah aneh itu terlilit kain gorden dan jatuh berdebum dengan Yoogeun diatas wajahnya.

Aku kaget. Untungnya Yoogeun baik-baik saja…

“NOONA… NOONA….. AKU MIMISAN…”

Taemin sudah heboh karena hidungnya berdarah.

*end of 3

7 thoughts on “The Boys and My Nightmare part 3

  1. haha gilaaa bgt!! bikin ngakak heboh…

    si ikaan mokpo pasti kebingungan deh tuh… trz2 gmn lg yaa??

    btw itu si kyu, tega amat euiy.. masa ank kecil sangkutin di pigura!!! wah wah wah…ati2 yg bini nya abg kyu, ntr pny ank d gantung jg!!! haha (peace euiy)

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s