ME-MO-RI Chapter 1

Title    :           ME-MO-RI (Chapter I-Aku betul-betul tidak ingat!)

Author:          uchikyasha

Maincast:       Kim Hima, Cho Kyu Hyun, Choi Minho

Supportcast:  Super Junior, Hye Chan.

Rating :           PG-15

Genre :           Romantic comedy, Love, Chapters/Parts

Warning:        kadang menmbulkan efek samping berupa tertawa sendiri.

PS       :           Ini ff aku yang pertama. Biar kata kelihatan babo gateun, tapi tetap dibaca ya… jangan lupa komentnya. Arigato gozaimastha.

Disclaim:        Kalo ngerasa sama dengan fim tertentu, memang aku ikutin, tapi cuman dikit kok. Itu pun aku kembangkan. Hehehe…

Suasana kelas lebih gaduh dari biasanya. Kunjungan wisata kali ini diputuskan oleh Kim Seosangnim adalah Pantai Incheon. Dan Hye Chan sangat senang diantara semuanya.

“Hima-ga! Bagaimana kalau kita berbelanja bikini seksi? Pasti para namja akan jatuh dipelukan kita,” dia tertawa senang. Dari ekspresinya seperti tengah menghayal yang tidak-tidak. “Aku akan menggoda Dong Chan. Hehehe.”

“Tidak mau! Lebih baik uangnya aku beli tappoki saja.” jawabku.

“Aish! Aku yang akan membelikan untukmu. Tapi kau harus memakainya.”

“Yaa! Aku tidak suka pakai bikini. Kau tahukan, dadaku rata dan bokongku pun tidak sepadat punyamu.”

“Gampang! Kita tambahkan saja busa kasur ke dalam dada dan pantatmu. Eottoke?.”

“Kau gila? Begitu aku masuk ke air semuanya akan berakhir! Aku juga tidak suka para namja memerhatikan tubuhku.” Aku mengambil tas dan berbalik pergi.

“Yaa! Tunggu! Tapi kau temani aku ya nanti sore?” Hye Chan berlari mengejarku. Aku mengangkat alis sebelah. Hye Chan benar-benar senang akan pergi ke Incheon  sampai dia terus berlari kecil dan tertawa keras. Senangnya. Aku juga ingin bahagia seperti dirinya. Tapi, uangku untuk darmawisata itu sepertinya tidak cukup. Jika aku minta pada Eomma, dia pasti tidak akan memberikannya, karena dia tidak pernah mengerti diriku.

“Aniya! Kau tidak boleh ke Incheon. Kau kira uangmu banyak hah??” Eomma selalu memakai  nada tingginya padaku, meski aku memulainya dengan lembut.

“Aku punya separuh uang dari biaya itu dan Eomma tinggal meminjamkan aku 10.000 won saja! aku pinjam!” aku ikut bernada tinggi. Lebih tepat berteriak.

“jangan berteriak padaku! Pokoknya kau tidak boleh pergi ke sana. Meskipun Eomma punya uang tidak akan kupinjamkan padamu! Arrasso?!”

Aku benar-benar akan meledak. dari semua pertengkaran, hari ini yang benar-benar membuatku kesal!

“Kalau Eomma benci padaku benci saja tapi jangan sampai membuatku menderita seperti ini! Ini terkahir kali aku ikut darmawisata karena tahun depan aku sudah lulus!”

“Aku tidak peduli!” Eomma malah melanjutkan memotong sayuran dan tidak mengindahkanku meski aku sudah menangis.

“Memangnya aku salah apa sampai kau begitu benci padaku?!” isakku. Dia tidak menjawab meski aku memakai kata “kau”.

“Kalau Appa masih hidup dia pasti akan membelaku! Aku benci kau!” jeritku dan membuang semua sayuran yang dipotongnya. Sebuah tamparan keras segera mendarat di pipiku.

“Kau kira sayur ini gratis hah?!! Kau itu anak yang paling durhaka! Kau tidak pernah peduli padaku! Kau selalu membantahku. Aku sudah tidak tahan denganmu. Kalau kau benar-benar benci padaku pergi saja dari rumah ini.”

Aku diusir?! Baiklah! Aku harusnya sudah keluar dari dulu!

“Baik! Aku akan pergi! Aku berharap kau hilang untuk selamanya dari penglihatanku! Jangan mencariku lagi!” Aku berlalu, untuk selamanya dari rumah itu. Yeongwonhi….

**

Aish.. kenapa malam ini begitu dingin? Jas sekolahku tidak cukup membuatku hangat. aku tidak tahu harus ke mana. Perutku lapar. Aku tidak punya uang sepeser pun. Seharusnya, aku ke kamar dulu mengambil semua pakaianku dan uang tabunganku. Hah, babo! Kali ini aku benar-benar pergi dan tidak mau kembali ke rumah itu. Rasanya seperti neraka jika ada di dalamnya.

“Kau sepertinya sedang galau. Mau di ramal? Cuman 1000 won.” Seorang ajhumma berpakaian bohemian lengkap dengan bola kristalnya mengagetkanku. Aku mendekat padanya.

“Hmm, boleh. Hajiman.. aku tidak ada uang,” aku tertawa getir. Dia menggeleng.

“Dari tampangmu memang kau sepertinya sedang kesulitan uang. Ya sudah, karena kau pelanggan pertamaku, jadi gratis.”

“Assa! Ajhumma, aku ingin diramal mengenai perekonomianku ke depannya.” Jawabku senang. Dia mulai mengelus-elus bola kristalnya. Dia menggumam tidak jelas.

“Eottokeh ajhumma?”

“Hm, perekonomianmu saat ini memang mengalami masa sulit. Jika kau berusaha, kau akan menjadi kaya. Kulihat dalam bola kristal ini, kau akan menikah dengan orang yang terkenal dan punya banyak uang.”

“Ne? Eottokeh? Siapa?” aku mulai bersemangat. Kalau orang terkenal, mungkinkah Kang Ta hyung?

“Wajahnya tidak terlalu jelas, pokoknya dia terkenal. Dan dia disekitar sini.”

MWOYA?? DISEKITAR SINI?? KANG TA?? Aku melihat sekitar dengan semangat!

“Tapi, hati-hati. Bermasalah dengan orang tua membawa karma padamu!”

Aku terdiam sekejap. Senyumku menghilang. Karma? Apa kutukan dari Eomma? Aku mengangguk dan berjalan dengan lemas. Sudah tak berniat lagi dengan Kang Ta, jika ku ingat Eomma. Aku memang keterlaluan tadi. Tapi Eomma lebih keterlaluan! Aku tidak akan memaafkannya!

Aku terus berjalan, sampai berhenti karena jalan di depan dipenuhi orang-orang yang sedang berkerumun. Aku mendekat dan  mencoba mengintip. Aigo.. seorang yeoja cantik nan malang tengah disandera seorang ajhussi berwajah seram. Dia menangis, tak bisa bergerak karena sebuah pisau menempel di lehernya. Tak ada yang berani mendekat maupun menolongnya.

“Yaa! Serahkan semua uang kalian kalau tidak dia akan mati!” ancam ajhussi itu. Dia gila? Mana ada yang mau menyerahkan hartanya untuk orang yang tidak dikenal? Apalagi di zaman seperti ini? Aku sudah tidak tahan saat leher namja itu tergores dan berdarah. Aku maju ke tengah, menatap tajam ajhussi itu.

“Jangan mendekat! Lemparkan tasmu!” perintahnya dan mundur untuk menghindariku yang terus maju ke arahnya. Aku melepaskan tasku, melempar tepat ke mukanya. Pisau yang dipegangnya jatuh. Aku menarik namja itu menjauh. Ajhussi itu terlihat marah dan mencoba menghunuskan pisaunya padaku. Aku berkelit, menangkap tangannya dan mengunci ke belakang., membuang jauh-jauh pisaunya. Namun, dia berhasil lolos dan mencoba menyerangku. Aku melayangkan sebuah tendangan maut tepat ke wajahnya. Sial, dia berhasil menangkis, tapi kakiku yang lain lebih cepat bergerak dan mengenai perutnya.

“Hiyaaaa!” dia berlari lagi hendak menyerangku. Aku bersiap menerima. Sial, aku salah membaca gerakannya. Tendangan kerasnya berhasil mengenai kepalaku. Aku terlempar cukup jauh. Kepalaku sakit, dan akhirnya semua menjadi gelap. Sebelum benar-benar gelap, aku melihat sebuah wajah panik seorang namja.

**

Omo… kepalaku rasanya seperti dihantam palu besar. Eh? Di mana ini? Aku bukan di rumah? Bau ini… bau obat-obatan? Apa aku di rumah sakit? Sepertinya iya. Piyama yang ku kenakan serta infus ditanganku menjawab semuanya. Aku melihat sekeliling. Sepertinya ini ruangVIP. Terlihat dari perabotannya. Tapi, siapa yang membawaku ke sini? Mungkinkah, Eomma? Aish, aku pasti akan dimarahi habis-habisan.

“Eomma-ga..” panggilku. Tak ada jawaban. “Eomma…” tak ada jawaban. Aku hendak turun mencari Eomma. Tiba-tiba, pintu terbuka kasar dan berdiri seorang ajhussi. Dia berhenti sebentar mengambil napas. Sepertinya dia habis berlari jauh. Keringatnya bercucuran. Dia menatapku dan berteriak.

“YAA! Kenapa kau selalu membuatku panik?!!” aku memiringkan kepala menatapnya heran. Dia berlari memelukku. Aku terbelalak dan mendorongnya hingga dia terjatuh.

“Ajhussi apa-apaan?! Beraninya ajhussi memelukku!” teriakku marah dan menyilangkan tangan di depan dada.

“M-m-mwoya? A-ajhussi???” dia terkejut. “Kau gila hah?!” Dia malah membentakku. Dia mendekat lagi. Dan memegang kedua pundakku. Aku hendak melawan, tapi kepalaku benar-benar sakit dan semuanya serasa berputar.

“Yaa Hima! Lihat aku! Tampangku yang imut ini kau panggil ajhussi?”

“Ampun ajhussi, jangan berbuat jahat padaku..” aku menggosok kedua telapak tanganku memohon padanya. Aku menangis. Ini satu-satunya pertahanan di saat aku lemah. Dia mengangkat tangannya dan keluar. Beberapa saat kemudian, dia muncul lagi bersama seorang dokter dan perawatnya.

“Nyonya Cho? Bagaimana keadaanmu?” tanya dokter itu. Nyonya Cho? Siapa itu?

“Mianne dokter. Namaku Kim Hima.” Jawabku. “Anda melihat Eommaku?”

“Eomma-mu?”

“Ne dokter. Dia yang membawaku ke sini kan?”

“Kalau boleh tahu,” sambung dokter itu. “bagaimana anda bisa sampai di sini? Kecelakaan?”

“Ani. Aku mencoba menyelamatkan nunna yang disandera seorang ajhussi jahat. Aku berkelahi dengannya tapi aku terkena tendangannya di kepala. Kemudian aku pingsan dan tidak ingat lagi.”

“Ooh. Eonni maksudmu?”. Aku mengangguk. Entah kenapa, aku lebih senang menyebutkan hyung  dan nunna daripada oppa dan eonni. “Kau ingat tanggal, bulan dan tahun ini?”

“Aish! Dokter mau mencobaku? Hari ini hari kamis, tanggal 27 Agustus 2006 kan?”. Dokter terlihat terkejut. “Dokter, seragamku disimpan di mana? Aku mau pulang mencari ibuku.” sambungku

“Se-seragam?”

“Ne. Seragam sekolah Mio Seong Geuk.”

“Kau masih sekolah?”

Aku mengangguk. Kulihat dokter itu berpaling pada ajhussi aneh itu. Dia menyilangkan kedua jarinya. Dokter mengangguk dan kembali menatapku. Maksudnya apa sih?

“Araso. Bagaimana, kalau anda menjalani perawatan sebelum pulang?”

“Mwo?”

**

Aishh… apa-apaan ini. Kenapa mereka menyuruhku menyebutkan nama-nama binatang? Dan aku harus masuk ke dalam sebuah tabung besar. Entah apa namanya. Selesai pemeriksaan aku diantar kembali ke kamar. Kemudian, ajhussi itu datang lagi.

“Yaa! Kau ini benar-benar tidak ingat padaku hah?!”

“Bukannya aku tidak ingat! Aku benar-benar tidak kenal pada ajhussi.”

“Aku Cho Kyu Hyun suamimu!”

Suami? Ajhussi ini benar-benar membuatku geli. Aku tertawa terbahak-bahak.

“Kenapa kau tertawa? Aku memang benar suamimu! Kalau tidak percaya lihat saja cincin di jari manismu itu!”

Ne? Benar-benar ada cincin di jari manisku. Sejak kapan aku memakainya?

“Kau masih tidak mengingatku hah?! Kalau kau memang benci padaku jangan membuatku seperti ini! Berhenti bermain-main Hima!”

“Ajhussi aku sudah bersikap sopan tapi kau tetap memaksaku! Aku baru 18 tahun dan aku masih single, belum punya pacar. Lalu bagaimana tiba-tiba aku sudah menikah?”

“18 tahun? Kau bermimpi? Kau itu sudah 23 tahun Hima!”

Aish ajhussi ini minta dihajar. Ah? Ja-jangan-jangan dia sekongkol dengan ajhussi yang menghajarku? Aku harus lari!

Kesempatanku ada saat dia keluar menerima telpon. Aku mengambil mantelnya yang diletakkan di atas tempat tidur. Pelan-pelan, aku keluar. Bagus, dia sedang menghadap ke sisi lain. Aku berbelok  ke arah sebaliknya.

“KIMHIMA BEREHENTI!!!” Aaaahh! Aku ketahuan. Kejar-kejaran yang seru pun terjadi hingga keluar rumah sakit. Aku menoleh ke belakang dan dia masih ada. Argh! Kenapa dia tidak berhenti juga mengejarku? Aku sudah mulai lelah. Aku memutuskan untuk menyebrang begitu lampu untuk pejalan kaki menyala hijau. Sial, dia lebih cepat menangkap tanganku.

“Hiya ajhussi! Maafkan aku! Jangan sakiti aku!”

“Yaa Hima! Berhenti memanggilku ajhussi! Berhenti bergerak!”

“Kyyyaaa! CHO KYU HYUUNNNN!!!” Eh? Tiba-tiba segerombolan yeoja menyerang ajhussi itu dan berteriak histeris. Ada diantaranya menangis dan pingsan. Ini kesempatanku untuk lari saat genggamannya lepas. Aku berhasil menyebrang dan naik bis menuju rumahku.

Masih kulihat ajhussi itu berteriak padaku, mencoba meloloskan diri dari kumpulan yeoja-yeoja aneh itu. Aku tersenyum dan melambai. Hah! Kalau saja aku sedang fit, dia pasti babak belur!

**

Aku akhirnya sampai di rumah. Eh? Baru pergi sehari tapi sudah banyak perubahan besar di rumahku. Tembok pembatasnya lebih tinggi dan dicat, pagarnya juga lebih tinggi. Aku hendak membuka gerbang. Tapi dikunci. Berarti, Eomma belum mau menerima kehadiranku? Apa dia belum tahu aku masuk rumah sakit? Mungkin, kata peramal itu benar. Ini karma dari Eomma. Aku harus minta maaf. Mungkin saja, dia mau memaafkanku juga. Aku memutuskan memanjat tembok dengan berpijak pada sebuah tong sampah.

Begitu sampai di dalam, aku lebih terkejut. Rumahku… lebih bagus? Apalagi tamannya. Penuh dengan rumput hijau. Ini asli atau hanya karpet? Padahal sebelumnya tidak ada. Apa bisa tumbuh dalam semalam?

Aku berjalan perlahan, masih takjub dan tidak mengerti dengan rumah ini. Atau aku salah rumah? Tidak mungkin. Aku masih ingat rumahku di sini.

“Mianne, nugu seyo?” sebuah suara bass mengagetkanku. Seorang namja sepertinya seumuranku menatapku dengan heran.

“Harusnya aku yang  bertanya padamu. Sedang apa kau di rumahku?”

“Maaf nunna, tapi ini rumahku.”

“Aish, ya! Kau jangan macam-macam. Kau maling ya?!”

“Ini benar-benar rumahku.” Dia menarikku ke pintu depan. Di sana ada papan nama “Keluarga Choi”. Mwo?? Apa-apaan ini? Ke mana ibu pindah? Apa rumah ini sudah dijual? Kepalaku berdenyut, tubuhku lemas. Pandanganku kabur sebelum akhirnya menjadi gelap.

“Eonni, gwenchana?” suara bass itu terdengar lagi. Aku sepertinya pingsan lagi. Ah, aku ingat kamar ini. Kamar Eomma.

“Aku baik-baik saja. kau tahu di mana Eommaku?”

“Eomma nunna? Ani. Aku baru pindah sebulan di sini. Namaku Minho. Choi Minho,”

“Aku Kim Hima, panggil saja Hima.”

“Nunna, kau lari dari rumah sakit? Sepertinya kau memakai piyama rumah sakit.”

“Haha , tidak. Aku tidak membawa baju ganti jadi aku pinjam dulu piyama ini.” Aku mencoba mengelak.

Kemudian, seorang ajuhmma dan seorang ajhussi masuk. Mereka tersenyum ramah. Pasti orang tua Minho.

“Kau baik-baik saja agashssi?” tanya ajhumma.

“Ne, gomawo sudah mengizinkanku tidur di sini. Ajhumma, tahu pemilik rumah sebelumnya?”. Aku berharap dia tahu, sehingga aku tahu Eomma di mana.

“Ani, tapi ku dengar, mereka sudah pindah rumah,” jawab ajhumma mencoba mengingat. Jadi benar. Eomma benar-benar membenciku, dengan pergi diam-diam. Aku mulai menangis lagi.

“Eonni, kenapa kau menangis?” tanya Minho panik. Aku menggeleng. Tangisanku makin keras.

“Apa kau punya keluarga? Kami akan mengantarkanmu pulang,” tawar ajhussi.

“Keluargaku sudah tidak ada, aku sebatang kara di dunia ini. Keluargaku satu-satunya sudah pergi meninggalkanku.” Isakku makin menjadi. Ajhumma datang memelukku.

“Jangan menangis. Kau boleh tinggal disini sementara sampai ada yang mencarimu,” kata ajhussi. Tidak akan ada, yang akan mencariku.

“Gomawo..” ujarku dan memeluk ajhumma.

“Keure, lebih baik kita makan siang dulu. Kau boleh ikut juga…”

“Kim Hima ajhussi,” jawabku.

“Ne, kau juga ikut kami makan Hima-nni. Kajja.”

“Ne, jeongmal gomawo,”

**

Huaahh… perutku kenyang. Masakan Choi ajhumma memang benar-benar enak. Selesai makan siang, kami berkumpul di ruang keluarga.

“Jadi… kau lari dari rumah sakit?” tanya Choi ajhumma penasaran saat aku bercerita bagaimana bisa sampai ke sini.

“Ne, ajhumma. Dia bilang, aku lupa ingatan dan itu tidak benar. Kalau aku lupa ingatan, aku tidak akan sampai di rumah ini. Ini rumahku. Dulunya…” kataku.

“Lalu, bagaimana dengan ajhussi yang mengaku sebagai suami nunna?” giliran Minho bertanya.

“Aish, aku tidak peduli dengannya. Aku tidak tahu dia siapa. Mungkin komplotan penjahat yang menendangku.Yang jelas, sekarang aku harus mencari Eomma.”

“Hima-nni, mungkin sebaiknya kau kembali ke rumah sakit. Mungkin saja dia sedang bingung mencarimu. Dia satu-satunya yang mengenalimukan?” saran Choi ajhussi.

“Tapi ajhussi, aku takut padanya. Mungkin dia itu penjahat.” Kataku.

“Kalau begitu, kau boleh tinggal di sini sampai kau menemukan ibumu.” Kata Choi ajhumma. Aku memeluknya.

“Gomawo, ajhumma.”

“Ne, sekarang kau pergi mandi. Ajhumma akan mengantarkan bajumu.”

Aku mengangguk dan Minho segera mengantarkanku ke kama mandi. Aku terduduk di pinggir bak mandi. Kemudian berjalan menuju cermin. Mwoya? Ke-kenapa dengan rambutku? Kenapa panjang dan hitam? Ke mana rambut pendekku yang berwarna merah itu? aish.. kepalaku mulai berdenyut. Hanya pingsan sehari namun begitu banyak yang berubah. drastis!

Dan.. sudah mulai ada kerutan disekitar mataku. Pantas saja Minho memanggilku nunna. Aku sudah seperti berumur dua puluhan. Aku menggeleng dan segera masuk ke dalam bak mandi. Wajah Eomma kembali terbayang. Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia tega meninggalkanku. Aku mulai menangis lagi.

**

“Aigo… aku kalah lagi.” seru Minho.

“Assa! Aku menang!” haha ini kemenanganku yang kesekian. Minho memang tidak pintar bermain ular tangga. Aku menjitak kepalanya. Ini sebagai hukuman.

“Ayo kita main lagi. kali ini aku pasti menang.” Tantangnya.

“Aish, kau tidak tau julukanku di sekolah? Ratu ular tangga!”

“Kalau begitu aku akan menjadi raja ular tangga.” Ujarnya bangga. Kami tertawa. “Nunna? Kenapa tiba-tiba diam?”

Aku menggeleng “posisimu duduk saat ini, adalah tempat duduk favorit Eommaku.Minho-a, aku tidak tahu harus mulai darimana untuk mencarinya,”

“Nunna, aku akan membantumu. Aku janji. Jadi kau jangan sedih lagi. oke?” Minho mengacungkan jempolnya. Anak ini bersemangat sekali. Mengingatkanku pada Hye Chan. Aku menepuk kening kuat-kuat.HyeChan?! Bagaimana aku bisa lupa padanya?? Dia pasti tahu apa yang terjadi!

“Nunna ada apa?” Minho terlihat heran saat aku menepuk kening.

“Minho aku ingat pada temanku Hye Chan! Dia pasti tahu sesuatu. Besok aku akan mencarinya.”

“Keureyo? Aku akan menemanimu nunna.”

“Andwea. Aku bisa sendiri. Kau tidak boleh bolos sekolah.”

Aih, lalu bagaimana dengan sekolahku sendiri?

“Ne, arasso. Ayo kita main lagi.”

“Kajja.”

Jam 9 pagi. Aku tengah berjalan menuju terminal bis. Semoga aku bisa bertemuHyeChan.Kemarinaku terlalu pusing sampai tidak mengingatHyeChan.Darisini, sekitar dua jam ke rumahHyeChan.Eh tunggu dulu. Jangan-jangan, dia pergi ke sekolah? Baiknya aku menelponnya dulu. Aku menuju sebuah bilik telpon umum. Untung aku hafal nomor telponnya.

“Yoboseyo?”

“Tangsin mwoya?” terdengar suara Hye Chan yang cempreng.

“Hye Chan-a! Na Hima-ga.”

“HIMA-GA‼! Gwenchanayo???” teriak Hye Chan disebrang telpon. Aish.. anak ini mau membuat telingaku tuli?

“Yaa! Kau bisa tidak bicara pelan-pelan hah?”

“Baboya! Dimana kau sekarang? Kami cemas mencarimu! Kenapa kau kabur dari rumah sakit?!”

“Mwo? Kau tahu aku kabur dari rumah sakit?”

“Aish.. jinja! Yaa! Dimana kau sekarang? Aku akan menjemputmu.”

“Aku di terminal bis dekat rumahku. Apa kau disekolah?”

“Se-sekolah? Keure, temui aku di kedai ajhumma penjual tappoki. Arraso?!”

“Ne,” jawabku dan menutup telpon. Kenapa sih dia panik sekali? Dan dia tahu darimana aku masuk rumah sakit?

TBC…

17 thoughts on “ME-MO-RI Chapter 1

  1. wahhhh seruuuu….
    tp aq bingung,sbenernya yg di tolong hima itu namja ato yeoja????
    habizz bru bilang klo ad org yg nyandera yeoja cantik dibawahnya dah ganti namja…
    jd bngung ?_?…..

  2. Critanya mirip drama 18 vs 29.
    Masih bnyk typo, td bilangnya yg di sandra yeoja cantik berubah jd namja, tadinya manggil nunna jd eonnie.

  3. ni ceritanya kok mirip film korea ya,, yg kalo ga salah judulnya 18 vs 29,,ya,,, pokoknya gitu juga dech ceritanya,,,,==’

  4. iya kayak 18vs29 tapi bagus juga,cast nya kyu ma minho lagi…
    perhatiin panggilan ny ya nuna,hyung,eonni.wlau ada yg kamu sengajain manggilny itu,tp ada yg gg dan masih bnyk typho yg lain

  5. ceritax ky 18vs29.
    Msh bnyk typo nya.
    Truz g da batasan tmpt tw wktux.
    Klo bsa c da POV nya.
    Critax kurang detail.
    Tp lmayan..

  6. Annyeong
    wah ffnya baguswah bisa kisah cinta segitiga nih antara Kyu,hima,ma Minho
    jadi sbnrny ommanya si hima th ke mana ?
    penasaran >.<

    lanjut
    gomawo ^^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s