Lover’s Fight 3

Donghae POV

Aku terbangun dengan kepala berat. Aku tahu semalam aku mabuk tetapi aku tidak sadar telah minum sebanyak itu. What was on my mind? And where the hell am I? Aku memperhatikan sekelilingku. Ruangan, kertas tembok, lampu, semua terasa familiar. Aku menyadari sesuatu dan terkesiap. Seolma….. is this Cheonsa’s house? Aku memandang ke sekeliling lagi untuk memastikan. Aku memang belum pernah memasuki ruangan ini. Ini juga bukan kamar Cheonsa. Tetapi dari designnya aku tahu ini rumahnya.

Aku bangkit dan melangkah keluar. Kusadari aku masih memakai pakaian yang kukenakan semalam. Hanya saja ada yang melepas jacketku, karena kutemukan benda itu terletak berantakan di sudut tempat tidur. Kuangkat benda itu dan mencium bau alkohol yang menusuk. Siapa yang membawaku kesini? Sica? Tidak mungkin. Ia tidak akan membawaku ke rumah seorang Han Cheonsa.

Aku melangkah mendekati kenop pintu dan membukanya. Tampak ruangan cukup luas dengan desain sederhana tetapi memberi kesan “sejuk” yang sangat familiar bagiku. Ruangan itu terang benderang karena jendela besar besar menghiasi setiap sisi dindingnya. Cheonsa adalah pengidap claustrophobia. Karena itulah ayahnya mendesain rumah ini sedemikian rupa, sehingga setiap ruangannya tidak terlihat sempit ataupun sesak.

Aku melanjutkan langkahku ke ruangan yang sangat ku kenali sebagai ruang tengah. Disitu terdapat TV plasma besar tempat Cheonsa biasa menonton drama drama kesukaannya. Dan kalau itu terjadi ia akan mengabaikanku. Aku tersenyum kecil mengingat kenangan kenangan seperti itu.

Kulihat sosok gadis yang ku kenal, tergeletak di sofa dengan mata tertutup dan remote di tangan kanannya. Pasti menonton drama sampai malam. Kebiasaan buruk. Aku berjongkok di sisi sofa hanya untuk melihat wajahnya. Walaupun kekeras kepalaannya kadang kadang memancing emosiku, ternyata aku merindukan gadis ini.

Kuulurkan tanganku dan menelusuri alis matanya. Itu adalah cara ampuh untuk membuatnya tertidur nyenyak. Aku paling ingat fakta ini. Terpikir olehku, kenapa aku bisa sampai ada di sini? Semalam aku pergi ke club dengan Jessica dan aku mabuk. Bagaimana mungkin aku bisa terbangun di rumah Cheonsa?

Cheonsa membuka kedua matanya dan sepasang matakulah yang pertama kali tertangkap oleh pandangannya. Aku membelai poninya, jurus playboy yang terbukti ampuh membuat gadis gadis luluh bertekuk lutut.

Diluar harapanku, walaupun sepertinya sudah ku duga ia bangkit terduduk dan menepis tanganku dengan pandangan tidak suka. It seems like now she has her own teritory line. A place where even Lee Donghae can not pass.

“Close your eyes. You look gorgeous when you sleep,” kataku mencoba bertaruh dengan peruntunganku sendiri. Aku kalah. Cheonsa hanya menatapku aneh lalu pergi ke dapur yang masih terlihat dari tempatku duduk. Ia membuka lemari di atas, mengeluarkan ramyun instan lalu melemparkannya padaku. Setelah itu ia kembali masuk ke kamarnya bahkan tanpa menoleh. Apa sih yang terjadi dengan anak ini?

Aku sedang merenung ketika tiba tiba pintu kamarnya terbuka dan dia mengeluarkan kepalanya dari balik pintu tersebut. “Jessica will come and pick you up in two hours. Prepare yourself,” katanya sukses membuatku melongo.

“Sica? But how….” Kataku tidak mengerti. “I called her. You wanted her to come last night, anyway,” jawabnya lagi yang membuatku tidak mengerti. I wanted her to come? When exactly did I?

AUTHOR POV

Donghae sedang sibuk memikirkan kata kata yang diucapkan Cheonsa barusan ketika ia merasakan saku kanannya bergetar. Ia membaca nama Sungmin di layar ponselnya dan segera menjawabnya. Mungkin Sungmin bisa menjelaskan semua keanehan ini.

Donghae belum menyapa sama sekali ketika Sungmin sudah menyerobot perkataannya duluan. “Back to your conciousness already?” katanya sinis membuat Donghae menggaruk kepalanya yang tidak gatal, heran.

“Why did you bring me here? Why didn’t you bring me back to our dormitory last night?” tanya Donghae yang menimbulkan dengusan Sungmin terdengar dari ujung sana.

“Michyeosso? Are you nuts? Bringing you back to the dorm with that kinda condition? Teuki will definitely kill me,”

Donghae menepuk kepalanya mengingat peraturan di asrama mereka. Tidak boleh pulang dalam keadaan mabuk. Pabo, batinnya. “Jessica is coming here in few hours,” katanya lagi, siapa tahu Sungmin juga tahu mengenai hal ini.

“So Cheonsa called her? No wonder. Kau terus meracau memanggil namanya semalam,” kata Sungmin yang membuat Donghae terperangah, mencoba mengingat ingat apa saja yang dikatakannya semalam. Percuma, sepertinya. Did he really say that?

“By the way, Donghae-ya, kalau kau berani mabuk di tempat umum seperti kemarin, aku tidak akan ragu ragu menghajarmu,” kata Sungmin tegas membuat Donghae menelan ludahnya. He knows his hyung is an aegyo prince who can kick his ass and still being cute while doing it.

“Arasseo, Hyung,”

-oOo-

Jessica mondar mandir di kamarnya memegang ponsel yang dari tadi tidak bisa ia lepaskan dari tangannya. Semalam Donghae meneleponnya berulang ulang, tetapi ia tidak mendengar. Beberapa menit kemudian Handphonenya bergetar lagi, menandakan ada sms yang masuk.

Jessica ssi, ini aku Cheonsa. Besok bisa kau jemput Donghae dari rumahku? Aku akan kirim alamatnya. Kamsahaeyo.

Donghae? Bermalam di rumah Cheonsa? Gadis yang telah terang terangan merampas fishy itu dari sisinya. Mengingat fakta ini tak urung Jessica merasa tidak tenang. Apa yang mungkin terjadi? Sungmin bilang Cheonsa bukan tipe wanita seperti itu, jadi Jessica menggantungkan harapannya pada kata kata aegyo prince tersebut.

Sekarang Jessica mondar mandir di kamarnya, menunggu waktu yang menurutnya berputar lambat. Mengapa dua jam terasa seperti setahun? Ingin sekali ia segera menstarter mobilnya dan menarik Lee Donghae dari rumah itu.

“Lee Donghae, I won’t let you go for the second time,”

-oOo-

Cheonsa keluar dari kamarnya dalam keadaan sudah rapi, bersiap siap untuk berangkat kuliah ketika dilihatnya Donghae sedang duduk di sofa sambil menggonta ganti saluran televisi

Cheonsa melewatinya begitu saja, berpura pura tidak peduli. “Jessica belum datang?” katanya sambil lalu. “Not…..yet,” balas Donghae sama pura pura cueknya. Sama keras kepalanya.

Cheonsa duduk di samping Donghae, sambil tetap menjaga sedikit jarak. Ia menghadap pria itu, menarik napas dan menghembuskannya pelan. Setelah akhirnya ia memutuskan sesuatu, ia berdiri lagi bersiap untuk beranjak pergi.

Tapi Donghae menahan tangannya. “Han Cheonsa, you have something to say,” itu pernyataan. Bukan pertanyaan.

Cheonsa memalingkan wajahnya agar Donghae tidak membaca ekspresinya. “Tidak ada,” jawabnya.

Donghae mengencangkan genggamannya pada pergelangan tangan Cheonsa. “Marhaebwa,” katanya singkat, tetapi tegas.

“Kau yang memaksaku,” kata Cheonsa kemudian menarik tangannya dari genggaman Donghae. Ia menghadap ke arah jendela, membelakangi pria itu, menarik nafas lagi dan mulai berbicara.

“apa… alasanmu putus dengan Jessica waktu itu… gara gara aku?” katanya membuat Donghae tidak bisa menjawab. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Sejak dulu pun ia tidak pernah bisa menjawab ini. Penyebab berpisahnya seseorang dengan kekasihnya, tentu saja karena mereka berhenti saling mencintai. Tetapi ia meninggalkan Jessica karena Cheonsa. Does he really stop loving her? Pertanyaan itu sering berkecamuk di pikirannya selama delapan bulan hubungannya dengan Cheonsa. Dan inilah yang ia takutkan. Gadis itu mempertanyakan hal ini.

Cheonsa berbalik ke arah Donghae, menatap pria yang sebenarnya masih ada di hatinya itu. “Did you really stop loving her?” tanyanya lagi, dengan suara lemah tetapi tatapan mata tegas terpancar dari padanya.

Donghae menelan ludahnya dan menjawab dengan bisikan. “I guess…. I didn’t really do…. But I was sure that I loved you,”

Cheonsa hanya menarik nafasnya keras. “You was. Are you sure that you still loving me now?” tembak Cheonsa lagi.

“I guess….. yes,” jawab Donghae, untuk pertama kalinya, merasa ragu. Membuat Cheonsa mengeluarkan senyum lelahnya dengan ekspresi ‘this-is-the-answer-i-needed’.

“Maybe it wasn’t love. It was just the period of time that we spent together,” kata Cheonsa membuat tenggorokannya tercekat. Sakit rasanya mendengar perkataan seperti itu keluar dari mulut seorang Han Cheonsa.

Donghae maju dengan langkah terburu dan meletakan tangannya di kedua bahu Cheonsa, menatap gadis itu tepat di manik mata. “Kau tahu itu tidak mungkin. Kau tahu aku tidak mungkin sekeji itu. Kau tahu aku…… mencintaimu,” kata Donghae dengan nafas sedikit memburu.

Cheonsa menengadahkan kepalanya dengan berani ke arah Donghae. “You know… sometimes people can’t see the difference between love and obsession. Love and posession. Love and curiousity. They look similar to each other. Sometimes you got blinded by it,” jawab Cheonsa membuat Donghae menghembuskan nafas lelahnya. Bisa jadi gadis ini benar.

Donghae hanya menarik nafas lemahnya, menyelipkan tangannya di punggung Cheonsa dan menarik gadis itu dalam pelukannya. “Mianhae, jagi,” katanya di sela sela rambut bergelombang Cheonsa. Cheonsa hanya mengeluarkan senyum pahitnya di belakang Donghae.

“You love her, Hae…” kata Cheonsa mengambil kesimpulan. “You will not say sorry if you don’t feel guilty,” tambah Cheonsa lagi, sebelum Donghae memotong kata katanya. Donghae hanya mengeratkan pelukannya kepada Cheonsa tanpa mengatakan apa apa.

Donghae melepaskan Cheonsa dari pelukannya dan mundur satu langkah agar bisa memandang wajah gadis itu. Sebulir air mata mengalir di pipinya yang membuat Donghae tercekat. Cheonsa adalah gadis kuat. Terkesan galak, bahkan. Kali ini ia menangis. Apa yang harus dilakukannya?

“Cheonsa-ya… don’t cry because of me,” Donghae mengulurkan ibu jarinya untuk menghapus air mata di pipi Cheonsa.

Gadis itu mengulurkan tangannya cepat mencegah tangan Donghae menyentuh wajahnya. “this is not because of you. I don’t cry for you. This is all because of regret. I regret making this stupid decision. I regret grabbing you away from her,”

Kali ini Donghae tidak bisa membantah ataupun menyela. Hanya bisa menarik gadis itu sekali lagi ke dalam pelukannya.

-oOo-

Kyuhyun POV

Aku dengar semuanya. Catat, semuanya. Semua pengakuan brengsek Donghae Hyung pada gadis yang kucintai. Kadang aku menyesal mendeklarasikan bahwa dia adalah Hyung favoritku.

Aku merelakan seorang gadis yang kucintai demi dia. Apa yang dilakukannya sekarang? Membuatnya menangis? Matipun aku tidak pernah berpikir tentang itu. Ingin rasanya aku merangsek ke tengah pembicaraan mereka dan memberi pelajaran pada playboy itu.

Aku mengintip lagi dari balik pintu. Setelah kelakuannya itu, masih berani Donghae memeluk Cheonsa? Dan gadis bodoh itu tidak melawan sama sekali. Sebenarnya apa sih isi pikirannya? Cheonsa-ya… lepaskan dia. Biar aku saja yang memelukmu. I won’t let you die in tears like he does.

Aku sebenarnya mengerti kalau Hyung sangat mencintainya. Aku mengerti, sungguh. Sangat mengerti. Yang aku tidak mengerti adalah bagaimana ia dengan tidak tegasnya tidak bisa menolak kehadiran Jessica dalam hidupnya. Kalau suka katakan dengan jujur. Ingin sekali aku menggantikan mulutnya menyampaikan rahasia yang tidak pernah ia ungkapkan tetapi sangat kentara tersebut.

Aku memberanikan diri melirik ke dalam lagi, untuk melihat apakah adegan memuakkan itu sudah berakhir. Cheonsa-ya… lepaskanlah pelukannya. Kau tidak tahu pengkhianatan sebesar apa yang bisa ia lakukan, mohonku dalam hati.

-oOo-

Jessica menghentikan audy hitamnya di depan sebuah rumah yang dialamatkan Cheonsa. Ia memberanikan diri menggeser gerbang hijau yang sedikit terbuka, tanda ada orang yang baru saja memasuki area ini. Siapa? Jessica tidak terlalu ambil pusing. Yang paling memenuhi pikirannya sekarang adalah Lee Donghae, mantan kekasih yang terang terangan masih dicintainya.

Ia memasuki halaman perlahan lahan dan sedikit terkejut melihat Kyuhyun sedang bersandar pada pintu masuk yang terbuka. Pria itu menaruh jari terlunjuk di bibirnya menandakan agar Jessica tidak mengeluarkan suara.

Jessica berjalan mendekat pada Kyuhyun dan berbisik, “Apa yang kau lakukan?”. Kyuhyun hanya mengisyaratkan dengan dagunya, menunjuk pemandangan di dalam rumah sana yang hanya bisa ditanggapi Jessica dengan keheningan.

“Go inside,” kata Kyuhyun singkat membuat Jessica mengernyitkan dahinya tanda heran. “Take him with you. out of this place,” perintah Kyuhyun.

-oOo-

Donghae masih enggan melepaskan Cheonsa dari pelukannya ketika terdengar ketukan halus dari pintu yang berjarak beberapa meter di belakangnya. Jessica Jung berdiri di sana, dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.

Cheonsa mundur dua langkah, melepaskan dirinya dari pelukan Donghae. “Just go,” bisiknya serak. Donghae menatap Cheonsa sedih sebelum akhirnya ia berbalik dan memutuskan untuk pergi.

“Donghae ssi,” Cheonsa menahan telapak tangan Donghae membuat pria itu menoleh sekali lagi. “Thanks for being true to me,” katanya memaksakan Senyuman yang hanya dibalas dengan anggukan lemah Donghae. Bibir gadis itu tersenyum tetapi tidak matanya.

Donghae melangkah keluar pintu bersama Jessica, berpapasan dengan Kyuhyun yang menatapnya datar. “So this is your decision. Just don’t die in regret,” desisnya yang tak sanggup di balas Donghae. Pria itu hanya berlalu, bersama Jessica memasuki audi hitam yang terparkir di depan gerbang.

Cheonsa hanya bisa menghitung langkah kepergian Lee Donghae dari belakang, berharap pria itu akan berbalik dan memeluknya lagi. Tapi itu tidak terjadi. Sepeninggal Donghae Cheonsa hanya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis.

Gadis itu belum bisa menghentikan tangisannya sampai ketika dirasakannya sepasang tangan hangat menariknya dalam pelukan yang menenagkan. Tangan pria itu membelai rambut bergelombangnya dengan sayang. Tanpa melihatpun Cheonsa tahu siapa pria itu.

“Kyuhyun-ah… ottokhaji?” katanya di sela sela tangisnya. Kyuhyun melepaskans pelukannya dan menghapus air mata Cheonsa dengan ibu jarinya, sebelum kemudian memeluk kembali gadis itu erat.

“Don’t cry for him anymore, I beg you. Can’t you just open your heart. Han Cheonsa? Open it for me,”

30 thoughts on “Lover’s Fight 3

  1. kyuhyun n cheonsa…yeah..manse manse manse.. (?) :D
    i dont know who the most stupid here… cheonsa or hae.. but i guess both of them is so stupid.. if u love someone then why u have to make them cry.. why u have to make a decision that just hurt in the end… i dont know about that love thing.. its complicated.. *curcol* :D

    • you ask too many questions, unnie, and the answer simply-like-you-have-said. because both of them are stupid. so you know, stupids are always like that we can do nothing bout this HEHEHE

  2. *speechless* Kyu why so nice in here? *sobs* Donghae baboooooya!!! >w< Aigo! Its really good fan-fiction. 파이팅! I'm waiting & supporting from here^^

  3. aduh gara2 sesuatu yg yg jelas jadi kandas kan hubungan y, menjalar kemana mana….
    hae y bimbang sama hati y jadi y kyk gini, jadi rada sebel sama hae…. cheonsa y d buat nangis gt….
    kyu so sweet bgt sih, udah cheonsa ma kyu dulu biar hae sadar siapa yg d sukain……

  4. Really very difficult￴ and hurt. Donghae is very different ￴in FF, ￴then what the next ￴cheonsa-Donghae or Cheonsa-Kyu?

  5. kereeennn.., aku udah baca part 1-2nya tapi comment disini aja ya… suka sama ceritanya, bahasanya enak dibaca, lanjutkan chingu

  6. ini si ikan apa2n…Cinta Cheonsa tp mau jessica juga…
    uwooooo…pnasaran saia gmn “pertarungan” Kyu-Hae..hheheh :)
    lanjut…lanjut…lanjut…!!!
    pokk na saia sukaaaaa buanget nih crita…GoGoGo Author..!!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s