Mineulicius Story~ Everlasting Flower For My Everlasting Love

Title : Mineulicius Story~ Everlasting Flower For My Everlasting Love

Author : Dierenz

Length : Oneshoot

Main Cast : Lee Sungmin, Jung Haneul (OC)

Support Cast : Jung Yunho, Super Junior Member

Rating : PG 13

Genre : Romance

Ps : Annyeong Reader~~^^v Dierenz Imnida.. Sebelumnya cerita ini sudah pernah diposting di blog pribadi author www.orangepumpkingirl.wordpress.com mohon maaf jika masih ada typo bertebaran, like & komen sangat ditunggu pastinya (^_^) Gamsahamnida

Happy Reading~~^^v

Disclaimer : Lee Sungmin belongs to himself, SM Entertainment, his family and GOD.. But the story belonging to me. His character which I wrote is mine. Copy-Paste my story is NOT ALLOWED without my permission.

 

Karena bunga selalu mewakili
perasaan hati yang terdalam tentang cinta yang tersimpan

 

Seoul, hari ini

Di sebuah ruangan, gadis berwajah mungil itu sedang asik membuka-buka buku hariannya dan termenung mengenang kilasan peristiwa-peristiwa yang pernah mengisi hari-harinya. Ia berusaha mengingat setiap momen yang terlewati di kehidupannya.

Kirin Senior High School, Februari 2005

“Kalian tahu tentang bunga edelweiss?” tanya Ibu Guru Kim kepada murid-muridnya. Ia mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas dan mendapati para siswanya mengangguk dan menjawab secara bersamaan. Ia pun melanjutkan penjelasannya, “Edelweis adalah bunga abadi. Nama latinnya edelweis adalah Anaphalis javanica. Nama bunga ini diambil dari bahasa Jerman, edel = noble (mulia), weiss = white (putih). Dari namanya, bunga ini melambangkan keagungan, kesucian, keabadian. Bunga ini merupakan tumbuhan gunung yang sangat terkenal, dapat mencapai tinggi 8 meter, batang dapat berukuran sebesar kaki manusia, dan amat sangat langka. Edelweis adalah pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan yang mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga ini sangat disukai serangga, lebih dari 300 jenis serangga terlihat mengunjunginya. Jika cabang-cabang tumbuhan ini dibiarkan tumbuh kokoh maka dapat menjadi tempat bersarangnya burung-burung. Bagian-bagian edelweiss sering dipetik dan dibawa turun oleh para pendaki dengan alasan estetis, spiritual, atau sekedar untuk kenang-kenangan saja. Namun, sekali lagi keserakahan manusia menjadikan bunga ini menjadi amat langka padahal cara tumbuhnya amat mudah. Edelweis dapat diperbanyak melalui potongan cabang-cabangnya. Apakah diantara kalian sudah ada yang pernah membeli edelweis?” tanya Bu Guru Kim.

Seisi kelas, dengan kompak menjawab belum disertai dengan gelengan kepala. Bu Guru Kim tersenyum dan berkata kembali “Bagi yang sudah pernah membelinya, tentu tahu bahwa bunga ini tidak pernah layu. Walaupun ditaruh di vas tanpa air, bunga ini tetap akan mekar seperti saat dipetik. Memang tidak sewangi bunga mawar atau melati, tetapi keindahan dan kekuatannya membuat bunga ini amat disukai. Bunga edelweis tak ternilai, dan terlupakan. Ia bunga langka, yang sekarang ini cukup sulit di dapat. Ia bunga dengan rupa yang sangat sederhana. Kalau kalian tak pernah melihatnya, dan mendengar tentang bunga ini dari sini, kalian akan terkejut betapa rupanya begitu jauh dibandingkan artinya. Sudah dikatakan, ia bunga yang sederhana, dengan filosofi seluas langit. Perlambang cinta, yang takkan terlihat dari luarnya saja, itupun kalau kalian mau menyelami dan membaca keajaibannya.”

Gadis itu menyimak penjelasan yang sedang disampaikan oleh gurunya dengan penuh perhatian. Tak lupa, ia pun mencatat kalimat-kalimat yang menurutnya penting untuk ia catat. Ini  pertama kalinya ia mendapatkan penjelasan tentang filosofi bunga edelweiss. Dengan wajah cerah dan mata berbinar ia berkata pada dirinya sendiri, “Edelweis, tak kusangka filosofimu begitu luar biasa. Walau tak secantik mawar, tak harum seperti lili, bukan semenarik anggrek, dan tak istimewa seperti teratai Brazil, tapi edelweis tetaplah yang terunik. Aku ingin menjadi sepertimu, seperti bunga edelweis.”

*****

Pucha Café, Mei 2009

Gadis penyuka bunga edelweis itu kini sudah menjadi seorang mahasiswi di salah satu kampus populer di Korea, Seoul National University. Gadis itu menatap satu persatu koleksi gambar bunga edelweis yang ia kumpulkan dari hasil searching[1]di internet. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Suatu saat, aku harus bisa menyentuhmu secara langsung. Oh my[2] edelweis, aku ingin menjadi sepertimu. Bunga yang ‘jujur’, yang tidak menunjukan secara langsung kecantikannya lewat warna atau wanginya, tetapi orang-orang justru terpikat oleh edelweis karena kau memang memiliki sesuatu yang luar biasa indahnya. Letakmu tinggi dan dingin. Bungamu kecil sangat memikat. Tumbuh di lereng penuh bahaya. Hanya yang terpilih mampu dapatkan. Hanya yang ‘terpilih’ dengan penuh perjuangan yang mampu memelihara bahkan memetiknya. Selain cantik, edelweis juga terjaga di puncak gunung, limited edition[3], sulit didapatkan orang, hanya pendaki-pendaki tangguh saja yg bisa melihat bunga ini.”

“Kau pasti bisa menjadi seperti edelweis,” sebuah suara terdengar dari arah depan yang membuat gadis itu mengalihkan perhatian dari edelweisnya. Ia pun menatap laki-laki yang berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh tanda tanya.

Jwesonghamnida, nuguseyo[4]?” tanyanya.

Ahh, Mianhamnida.[5] Apakah kau masih ingat padaku? Kita pernah bertemu di kantor SMent.”

Gadis itu terlihat mengingat-ingat sesuatu, kemudian ia berkata, “Oh, ne5, aku ingat sekarang. Lee Sungmin-ssi [6]adalah rekan satu manajemen dengan Yunho Oppa[7] khan?”

Iyaaap, syukurlah kau masih mengingatku. Haneul-ssi, apa kabar?”

“Kabarku baik, bagaimana denganmu Sungmin-ssi?”

“Aku juga baik. Oh iya, bolehkah aku duduk disini?”

“Silahkan. Emm, kalau boleh tahu, apa yang sedang Sungmin-ssi lakukan disini?”

“Aku ada janji dengan adikku, tapi sepertinya dia telat. Kalau kau sendiri?”

“Aku sedang mengerjakan tugas kuliah. Kebetulan, Café ini milik temanku, jadi aku bisa berlama-lama ada disini, hehe.”

“Apakah tugasmu berhubungan dengan bunga edelweiss?”

Ne, Jamkanman[8]. Darimana Sungmin-ssi bisa tahu?”

“Tadi, sewaktu aku baru saja masuk kesini, aku tak sengaja mendengarkan Haneul-ssi menyebut edelweis berkali-kali.”

“Waaah, sepertinya aku tak menyadari kalau suaraku terlalu keras.”

Aniyo[9], telingaku saja yang memang peka, hehe. Oiya, bagaimana kabar SNU? Sudah lama aku tidak mengunjungi kampusku yang dulu.”

“SNU baik-baik saja, masih berada di tempatnya dan tidak bergeser sedikitpun.”

“Sekarang kau tingkat berapa?”

“Tingkat tiga, dan kalau tidak ada halangan, tahun depan aku sudah bisa menyusun skripsi.”

“Wahh, semangat yaa!”

Ne, kamsahamnida[10]. Oiya, kau tidak ingin memesan sesuatu?”

Haneul menyodorkan daftar menu pada Sungmin. “Apa Sungmin-ssi sudah pernah mencoba minuman andalan dari Café ini?” Sungmin menggeleng.

“Baiklah, kalau begitu aku merekomendasikan untuk mencoba orange float. Rasanya segar, apalagi di udara musim panas seperti sekarang ini.”

Sungmin pun menerima rekomendasi dari Haneul dan memesan satu gelas orange float ditambah dengan banana cupcake.

“Haneul-ssi, kalau tidak ada halangan, aku berencana untuk berkunjung ke SNU dalam waktu dekat ini.”

“Oh ya? Dalam rangka apa?”

“Dalam rangka mengobati kerinduanku terhadap suasana kampus yang sudah lama sekali tidak aku rasakan. Emm, kalau kau tak keberatan, bisakah kau menemaniku?”

“Jika aku sedang tidak ada kegiatan, dengan senang hati aku akan menemanimu Sungmin-ssi.”

“Terimakasih banyak Haneul-ssi,” ucap Sungmin diiringi senyuman di wajahnya.

*****

 

Taman Kampus, Seoul National University, Juni 2009

“Haneul-ah[11], apa kau tidak bosan sendiri terus?”

“Maksudmu?”

“Apa kau tidak ingin mempunyai namja chingu[12]?”

“Hyo-ya[13], sudah berapa kali kau menanyakan pertanyaan yang sama seperti ini? Dan jawabanku tetaplah sama bahwa tulang rusuk tak kan pernah tertukar. Dan aku yakin, suatu hari nanti, sang pemilik tulang rusuk ini akan datang menjemputku di saat yang tepat dan dengan cara yang tepat pula. For now, I’m just enjoying my time being single, is that wrong[14]?”

Ckckckckck,” Hyoseok menggeleng-gelengkan kepalanya “Haneul memang gadis yang luar biasa. Tetaplah pada pendirianmu.”

Haneul tersenyum seraya berkata “Hyoseok juga sahabat yang luar biasa, thank you for being my best friend[15].”

“Jadi khan kau menemaniku menonton Dream Concert?”

Emm, asal kau janji tidak melakukan hal-hal konyol seperti terakhir kali kita melihat performance[16] pangeran ikanmu itu.”

“Iya, aku janji. Tapi, bisakah kita menemui mereka di backstage? Aku sangat ingin sekali berfoto dan meminta tanda tangan Donghae Oppa. Kau bisa mengusahakannya khan.”

“Hyo-ya, aku bukan manajer mereka.”

“Tapi kau adalah adik sepupu dari leader[17] boyband [18]yang satu manajemen dengan mereka. Bisakah kau meminta bantuan pada Yunho-ssi?”

Ne, akan aku usahakan.”

Gomawoyo[19] Haneul-ah.” Hyoseok tersenyum riang. “Oh ya, ngomong-ngomong, kenapa kau tidak tertarik untuk menjadi seorang idol[20]? Bukankah semua sepupumu adalah idol? Dari mulai Jung Yunho, Jung Ilwoo, Jung Yonghwa dan Jung Somin.”

“Aku tidak tertarik Hyo-ya. Aku ingin jadi penulis saja.”

“Kalau seandainya sang pemilik tulang rusukmu nanti seorang idol, bagaimana?”

“Ahhh, kalau bisa jangan. Aku masih menginginkan kehidupan yang normal. Kehidupan yang jauh dari sorot lampu kamera, wartawan dan para netizen.”

*****

Perpustakaan Seoul National University, Juli 2009

Haneul sedang asik berkutat dengan buku bacaannya, ketika ponselnya berdering. “Yoboseyo[21]

“Haneul-ssi, ini aku Sungmin.”

Ne, Oppa. Waeyo[22]?”

“Aku sedang ada di SNU sekarang. Apa kau sedang ada di kampus?”

Ne, aku sedang ada di perpustakaan.”

“Bisakah aku menemuimu?”

“Tentu saja Oppa, kita bertemu di kantin saja, bagaimana?”

“Baiklah, see you there[23].”

Sungmin dan Haneul duduk berhadapan di kantin kampus sambil menyantap menu makan siang mereka.

“Jadi, kapan Oppa akan mengisi kuliah umum?”

“Pekan depan.”

Whoaaa, jinja[24]?”

Sungmin mengangguk.

Chukhahae.[25]

“Haneul-ssi, apakah setelah ini kau ada kuliah lagi?”

Aniyo, waeyo?”

“Bisakah menemaniku berjalan-jalan keliling kampus? Rasa-rasanya sudah lama aku tidak menengok kampus ini.”

“Dengan senang hati,” jawab Haneul riang.

Haneul mengajak Sungmin berkeliling kampus. Haneul bercerita tentang kenapa ia bisa masuk SNU, tentang impian dan cita-citanya, tentang rencana masa depannya.

Haneul berkata pada Sungmin, “Oppa, apa kau tahu seindah apapun rencana yang telah kita buat untuk hidup kita, jauh lebih indah rencana Tuhan. Takdir memang telah ditetapkan, yang perlu dilakukan seorang manusia adalah menjemput takdir itu dengan seni terindah.” Sungmin tertegun dengan apa yang baru saja disampaikan Haneul. Ia merasa sangat berterimakasih atas pertemuan hari itu, ada semangkuk ilmu yang ia dapatkan dari seorang Haneul. Sungmin menatap gadis yang sedang berjalan di sampingnya itu dengan tatapan kagum. “Gadis ini memang istimewa,” ungkapnya dalam hati. Sejak pertemuan kedua Sungmin dan Haneul di Pucha Café, mereka berdua seringkali berinteraksi. Dan tanpa mereka sadari, semakin hari hubungan mereka menjadi semakin dekat. Lihatlah bagaimana kini Haneul memanggil Sungmin dengan panggilan ‘Oppa’. Panggilan itu hanya akan Haneul pakai jika ia sudah merasa adanya kenyamanan dan keakraban yang terjalin antara ia dengan orang yang ia panggil dengan panggilan ‘Oppa’ itu.

Hari-hari berikutnya, Haneul menjadi pendengar setia bagi Sungmin. Padahal, Sungmin bukanlah tipe orang yang senang membagi ceritanya dengan orang lain. Bukan karna ia tidak punya kisah yang bisa ia ceritakan, hanya saja ia takut menyakiti orang lain dengan ceritanya. Tapi di hadapan Haneul, dengan lancarnya Sungmin bercerita tentang hal-hal yang ia alami di kehidupannya. Sungmin mulai menjadikan Haneul sebagai orang penting di hidupnya.

*****

 Seoul Worldcup Stadium, Oktober 2009

Berkat bantuan dari Yunho, Haneul dan Hyoseok sudah berada di waiting room Super Junior. Mereka baru saja selesai di make up dan sedang menunggu giliran untuk performance. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Hyoseok. Ia langsung berjalan ke arah pangeran ikannya dan memperkenalkan dirinya. Haneul yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Putri Edelweis,” panggil seseorang yang sudah Haneul kenal suaranya dengan baik. Haneul menoleh dan mendapati seorang lelaki tersenyum ke arahnya.

Annyeong [26]Sungmin Oppa,” sapa Haneul.

“Putri edelweis?” tanya Eunhyuk penuh tanda tanya.

“Bukannya namanya Jung Haneul, adik sepupu dari Yunho Hyung khan” tambah Ryeowook. Sungmin dan Haneul tersenyum penuh arti.

“Hayo, ada hubungan apa di antara kalian berdua?” tanya Kyuhyun.

Yya! Kalian semua jangan berpikir macam-macam. Haneul ini juniorku di SNU.”

Jinjayo?” tanya Eunhyuk.

Ne, “jawab Haneul.

“Kau kesini bersama dengan temanmu itu?” tanya Sungmin

Ne, Oppa. Temanku ingin sekali bertemu dengan Donghae Oppa secara langsung.”

“Haneul-ssi, berhati-hatilah pada Sungmin Hyung[27], sikap manisnya itu selalu ia tunjukkan pada semua perempuan yang ia kenal,” ungkap Eunhyuk.

“Ditambah aegyoface[28] dan sifat perhatian yang dimilikinya, tak jarang banyak perempuan yang mensalahartikan sikapnya itu,” tambah Kyuhyun.

“Sungmin Hyung ini memiliki banyak teman wanita, itu karena banyak sekali bakat yang ia punya,” ungkap Ryeowook.

“Kalian ini berbicara apa sih? Sudah, jangan membuat Haneul bingung,” kata Sungmin.

Gwaenchanayo[29] Oppa,” Haneul mencoba untuk bersikap dengan tenang dan seakan-akan tidak terjadi apa-apa padanya. Tapi sejujurnya ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman, dan itu terihat jelas di wajahnya. Haneul memang tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan apa yang sedang ia rasakan, ekspresi wajahnya langsung berubah, menyiratkan tanda tanya besar.

*****

            Sesampainya di rumah, Haneul langsung membenamkan tubuhnya di kasur. Tanpa perlu dikomandoi titik demi titik krystal bening itu mengalir di pipinya.

“Jung Haneul, kenapa kau harus menangis? Kenapa dada ini terasa sesak dan sakit?”

Ini pertama kalinya Haneul menangis untuk seorang lelaki. Haneul merasa lemah dan tak kuasa mengendalikan hati dan perasaannya sendiri. Haneul menatap gambar bunga edelweis yang terpampang dengan jelas di dinding kamarnya. “Aku adalah edelweiss. Dan seorang edelweis tidak akan mudah menyerahkan keindahannya pada seorang pendaki yang biasa-biasa saja. Hanya pendaki yang tangguh yang bisa memetik dan membawaku pulang bersamanya. Jung Haneul, ingat! Jangan terlalu berharap banyak padanya. Belum tentu, ia adalah sang pemilik tulang rusukmu. Lagipula, ia bukan tipe idealku. Aku tidak suka wajah cute[30]nya, aku tidak suka lelaki yang terlihat feminim, aku tidak suka warna yang disukainya. Aku tidak suka padanya!” tegas Haneul pada dirinya sendiri.

Haneul membuka lembaran buku hariannya dan mulai menulis kata demi kata,

Keinginanku sederhana, aku hanya ingin menjadi perempuan yang bisa menjaga hatinya untuk seseorang yang telah ditakdirkan untuk menjadi pasangan jiwanya.

Aku ingin dipertemukan dengan

Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas
Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasihatiku
ketika aku berbuat salah
Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku
Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi
Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku
di sisinya

Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang
yang tidak sempurna,
sehingga aku dapat membuatnya sempurna

Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya
Seseorang yang membutuhkan diriku
untuk membuat hidupnya menjadi sempurna

 

*****

            Sudah beberapa minggu ini, Sungmin agak kesulitan untuk menghubungi Haneul. Rasa kehilangan mulai Ia rasakan. Ia akui, Haneul memang tidak terlalu cantik. Apalagi jika dibandingkan dengan junior-juniornya yang lain. Tapi, ada sesuatu yang menarik di dalam dirinya yang selalu saja membuat Sungmin ingin lebih dekat dan mengenalnya. Sepertinya Sungmin tidak bisa membohongi perasaannya. Ia merindukan merindukan sosok Haneul, dan ia pun menemui Yunho yang merupakan orang terdekat Haneul.

“Sungmin-ah, aku dengar kau sedang dekat dengan Haneul, apakah itu benar?”

Sungmin mengangguk.

“Apa kau menyukai Haneul?”

“Aku tidak tahu, tapi aku merasa nyaman ketika sedang bersama dengannya. Perasaan nyaman yang selama ini belum pernah aku temukan ketika aku dekat dengan wanita manapun, kecuali ibuku tentunya. Oh ya, bisakah kau menceritakan tentang sosok Haneul dari sudut pandangmu?”

“Ne, tentu saja Sungmin-ah,” jawab Yunho diselingi dengan senyuman di wajahnya. Ia pun mulai bercerita,“Jung Haneul adalah gadis yang unik. Kenapa aku bilang ia unik? Karena di abad yang sekarang ini, sangat jarang kau temukan gadis sepertinya. Haneul tidak mau terburu-buru untuk memberikan hatinya pada seorang lelaki, maka tak heran jika sampai saat ini ia masih sendiri. Bukannya Haneul terlalu pemilih, tapi ia hanya berusaha untuk mencari yang terbaik untuk masa depannya. Menurutku, Haneul adalah cerminan dari bunga edelweis. Bunga yang sejak dulu selalu ia jadikan inspirasi dalam hidupnya. Dimana ada edelweis, disitu pasti ada Haneul. Seakan-akan, edelweis dan Haneul sudah menjadi sebuah kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Oh ya, kau perlu tahu, tidak mudah untuk menaklukkan hatinya. Ia begitu menjaga dirinya dengan baik. Hal itu juga berkat didikan dari kedua orangtuanya. Aku, Il wo, Yonghwa, Haneul, dan So min tumbuh bersama. Sejak kecil, kami memang tidak terpisahkan. Kami saling menyayangi dan melindungi satu sama lain. Jika aku bukan kakak sepupunya, aku rasa aku akan jatuh cinta pada sosoknya. Haneul mempunyai cara sendiri untuk membuat dirinya terlihat istimewa. Namun, tak banyak yang menyadari keistimewaan yang dimilikinya itu. Satu hal yang ingin aku sampaikan padamu, jika kau memang benar-benar serius dengan Haneul, jangan pernah mempermainkan perasaannya. Datanglah padanya, dan bersikaplah sebagai seorang ksatria, karena seorang bidadari tidak akan bisa dijemput dengan cara yang biasa-biasa saja.”

“Yunho-ya, terimakasih atas informasimu tentang Haneul, aku merasa jadi semakin mengenal sosoknya. Tapi, entah kenapa aku belum memiliki keberanian untuk menyatakan perasaanku padanya.”

“Apa kau ragu?”

“Mungkin.”

“Berdialoglah dengan hatimu, Sungmin-ah. Karena terkadang, ada beberapa hal yang tidak bisa dipikir dengan logika, namun bisa dirasakan dengan hati. Jangan sampai kau menyesal karena telah membiarkan bunga edelweiss itu pergi begitu saja.”

“Yunho-ya, apakah kau mendukungku untuk bisa bersama dengan Haneul?”

“Tentu saja aku mendukung kalian. Walau Haneul tidak bercerita padaku tentangmu, tapi dari raut wajahnya dan sorot matanya, aku bisa melihat bahwa Haneul sangat senang ketika sedang bersama denganmu.”

“Benarkah?”

Ne, aku bisa memastikan hal itu.”

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?”

“Temuilah Haneul secepatnya dan ungkapkanlah apa yang kau rasakan. Sebentar lagi Haneul berulang tahun, aku rasa saat itu tepat untukmu.”

Gomawoyo Yunhyo-ya.”

Ne, Cheonmaneyo[31], Good luck [32]yaaa.”

Setelah perbincangan di hari itu, Sungmin berusaha untuk semakin memantapkan dan meyakinkan hatinya bahwa ia membutuhkan Jung Haneul di hidupnya. Dengan segenap kekuatan yang telah ia kumpulkan, suatu pagi di tanggal 13 Oktober 2009, Sungmin pergi menuju rumah kediaman orangtua Haneul. Ia bertekad untuk menyampaikan perasaannya.

13 Oktober 2009

Saengil Chukahamnida [33]putri edelweis,” suara itu mengagetkan Haneul ketika ia baru saja membuka pintu rumahnya. Di hadapannya kini berdiri seorang lelaki dengan senyum khasnya membawa beberapa tangkai bunga mawar di tangan kanannya dan sebuah bingkisan di tangan kirinya. Haneul masih memandangi sosok itu hingga sebuah suara menyadarkannya.

“Siapa yang datang Haneul-ah?” seorang wanita mengampiri Haneul.

“Ahh, eh, ini,” Haneul terlihat gugup.

Tanpa pikir panjang, Sungmin memperkenalkan dirinya, “Annyeong haseyo, Jonen Lee Sungmin imnida, bangapseumida[34],” Sungmin mengakhiri kalimatnya sambil membungkukkan badannya.

“Ahh, Annyeong Sungmin-ssi, saya ibunya Haneul. Mari masuk.”

“Tidak perlu Eomma[35], lagipula aku sudah mau berangkat kuliah,” cegah Haneul. “Sungmin Oppa, bisakah mengantarkanku ke kampus?”

Sungmin pun mengiyakan permintaan Haneul.

Dalam perjalanan menuju kampus, Haneul lebih banyak diam. Sungmin agak bingung dibuatnya. Akhirnya ia berinisitiaf untuk memulai percakapan, “Hari ini pasti adalah hari yang istimewa untukmu bukan? Apakah kau ingin pergi ke suatu tempat?”

Oppa, bisakah aku minta sesuatu padamu?”

Ne, katakan saja.”

“Tolong, jangan bersikap terlalu baik padaku. Bersikaplah biasa saja, seperti yang lain.”

“Maksudmu?”

“Seperti Leetuk Oppa, Yesung Oppa, Shindong Oppa dan yang lainnya, bisa khan!”

Sungmin menghela nafas perlahan, “Sepertinya aku tidak bisa.”

Waeyo? Aku bukanlah siapa-siapa untukmu khan Oppa. Tolong jangan biarkan orang lain salah paham dengan hubungan kita ini.”

“Kalau aku bilang, aku suka padamu, bagaimana?”

Haneul terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Sungmin menghentikan aktivitas menyetirnya dan menepikan mobilnya ke pinggir jalan.

“Jung Haneul, dengarkan aku. Saat ini aku memang belum bisa menjadi seorang pendaki yang tangguh, saat ini aku sedang dalam perjalanan mendaki puncak tertinggi untuk dapat meihat bunga edelweisku, bisakah kau memberikanku kesempatan? Aku pasti akan bisa mencapai puncak tertinggi itu, lalu memetikmu dan membawamu pulang bersamaku. Maukah kau menungguku? Sang pendaki ini sedang dalam perjalanan menuju kesana.”

Haneul menatap Sungmin dan mulai berbicara, “Maafkan aku. Tapi, aku memang tidak pernah mau mengucapkan janji atau menerima janji dari pria manapun. Jika Oppa memang benar-benar ingin memiliki bunga edelweis itu, maka buktikanlah.”

*****

Juli 2010

            Sungmin terlihat sedang menyiapkan berbagai peralatan untuk mendaki. Ia memberikan tanda ceklis pada list barang-barang yang sudah ia masukkan ke dalam tasnya. “Hyung, ada yang bisa aku bantu?” tanya Ryeowook.

Gwaenchana, sebentar lagi aku selesai kok.”

Hyung, apa kau yakin akan pergi mendaki?” tanya Eunhyuk

“Sangat yakin Hyukie-ya. Aku telah mempersiapkan semua ini dari jauh-jauh hari. Aku harus bisa membawa pulang bunga edelweissku.”

Hyung, kau beneran serius?” kali ini Donghae yang bertanya.

“Apa aku terlihat sedang bercanda?” tanya balik Sungmin dengan wajah seriusnya.

Hyung, mianhae. Kami tidak bisa menemanimu,” ucap Kyuhyun.

Gwaenchana Kyuhyun-ah. Keberadaan adikku Sungjin sudah cukup untuk membantuku.”

“Semoga berhasil membawa pulang edelweismu itu, kami disini akan membantu dengan doa. Hati-hati Sungmin-ah.”

Ne, Teuk Hyung. Gomawoyo. Aku pamit dulu.”

Sungmin dan Sungjin memulai perjalanan mereka mendaki pegunungan untuk menjumpai bunga edelweiss. Bunga yang kata banyak orang adalah bunga abadi perlambang cinta yang abadi.

Seoul, hari ini

Haneul membuka lembaran terakhir di buku hariannya, tertulis keterangan : Juli 2010. Ada beberapa kalimat yang ditulis oleh sang pendaki untuk bunga edelweisnya.

Bunga edelweiss memang tidak begitu indah bentuknya tetapi perjuangan untuk memperolehnya telah membuatnya sangat berkesan dan indah untuk diceritakan. Untuk mendapatkannya, kita akan mengalami kepanasan, kedinginan, kehujanan (bila sedang musim hujan), memasuki hutan yang lebat, dan menempuh perjalanan yg jauh. Namun, apapun akan dilakukan untuk melihat dan menikmati bunga EDELWEIS. Bagi seorang pecinta alam, ia pasti TIDAK AKAN MEMETIKNYA UNTUK DI BAWA PULANG bila mereka menyebut dirinya sebagai PECINTA ALAM.

Di balik keindahan dari bunga edelweis ternyata tersimpan sebuah mitos, dimana bagi yang memberikan bunga ini kepada pasangannya, maka cintanya akan abadi. Tidak sedikit para pencinta yang menjadikan bunga abadi ini menjadi salah satu hadiah spesial bagi pasangannya. Konon, hal itu dimaksudkan agar cintanya abadi. Butuh perjuangan untuk mendapatkannya, karena bunga yang satu ini biasanya tumbuh di puncak-puncak atau lereng-lereng gunung.

Oleh karena itu bisa dibayangkan betapa susahnya untuk bisa memetik si bunga abadi ini. Orang bilang, “Untuk mendapatkan bunga edelweis yang indah, maka semakin besar resiko yang dihadapi”, karena nyawa adalah tantangannya. Mengingat bahwa bunga edelweis telah menjadi bunga yang langka dan dilindungi, razia juga salah satu resiko yang harus ditanggung.

Hal terakhir yang ingin aku katakan adalah, kita tidak akan pernah mendapatkan cinta abadi (dari sekuntum bunga abadi), tapi adalah cinta sejati (juga bukan dari sekuntum bunga delweiss). Dan kita justru tidak akan mendapatkan keduanya jika kita tidak meyakini apa yang sedang kita rasakan.

Di bagian akhir dari tulisan sang pendaki itu, terpampang fotonya ketika sedang mencapai puncak tertinggi dan di sebelahnya ada bunga edelweiss. Di bawah foto itu tertulis sebuah kalimat “For my edelweiss princess[36], aku memang tidak bisa memetik edelweiss ini dan membawanya pulang untukmu, karena ia terlalu berharga untuk kusentuh. Tapi satu hal yang pasti, aku sangat ingin memiliki bunga langka ini. Bisakah aku memilikinya?”

            Haneul membaca jawaban yang ia tulis untuk sang pendaki setahun yang lalu, “Bunga edelweiss ini kini sudah menjadi milikmu. Jagalah ia agar ia menjadi bunga yang tak lekang oleh waktu.”

Tepat ketika Haneul menutup buku hariannya, sang pendaki tangguh itu telah duduk di sebelahnya sambil memperlihatkan senyumannya. “Mau makan ice cream?” tanyanya.

Haneul mengangguk dan melingkarkan lengannya di lengan lelaki itu.

-FIN-

11 thoughts on “Mineulicius Story~ Everlasting Flower For My Everlasting Love

  1. Sebelumnya mau ngucapin terimakasih,, neomu gamsahamnida buat admin yang udah ngeposting FF ini, bertepatan pula sama ulang tahun author.. KYAAAA~ senangnya.. :D Buat Reader,, terimakasih sudah mau membaca dan memberikan komentarnya.. (^_^) -deep bowing-

  2. terharuu :’)
    Edelweiss….
    Kyaaa……..author,it’s just so…sweet :)
    Suka banget,kesannya disini sungmin gakeliatan feminimny,keliatannya lbh ‘gentle’ gtu.suka banget!umin oppa….:* gabisa ngomong apa2 lgi thor..sukses bkin trhru,:’)

  3. Sumpah, kereen bangett ceritanya ..
    Kata²nya puitis banget !!
    Gak pernah terbayang makna sebuah bunga itu, ternyata bunga itu mempunyai makna yg dalam ..
    Aq kagum banget sma niih fanfic ..
    Fighting chingu!!

  4. wowwwwww
    GREAT
    DAEBAK
    NICE FF

    keren bgt bahasa n critanya ^^
    ak smpe speechless . gak tau mau ngomong aplagi ^^
    PUITIS bgt ak sukaaaaaaaa

    critanya ringan , padat n penuh makna ^^
    KERENNNNNNNNN

    oya, ak jga mau sprti bunga endelweiss ^^

    selalu d tunggu karya yg lainnya

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s