He’s Our Girl part 13 End

He’s Our Girl Part 13 (Full-End)
Main Cast: Cho Kyuhyun, Cho Minho/Kara/Park Hyun Mi, Lee Donghae, Lee Hyukjae, Cho Ahra
Support Cast : Kim Kibum, Yesung, Choi Siwon, Kim Heechul, Lee Sungmin, Leeteuk, Lee Taemin, Shindong, Ryeowook
Genre:  Romance (Pendusta.. apanya yang romantis coba’? hahaha)
Lenght : Chaptered (13-end)
Saranghae

Kara POV
Pintu menjeblak, dan kulihat disana berbaring Donghae Oppa dengan selang infus menancap di tangannya. Kata Leeteuk Oppa, Donghae Oppa hanya kelelahan karena jadwal yang padat serta sedikit demam akibat syok dengan perubahan iklim  yang ekstrim disana. Eunhyuk dan Siwon Oppa duduk disebelahnya sambil mengupas apel. Dan satu orang lagi, di sebelah kiri ranjang, seorang  yeoja. Aku tidak kenal dan aku malas peduli.
Aku berdehem.
“Oppa….. Kau  baik-baik saja?” tanyaku sambil meraih tangannya yang ditancapi infus.
“Hyak…Jangan diremas seperti itu, jarum infusnya bisa menusuk tanganmu Bodoh..” si Monyet mengomentari tanganku yang menggenggam tangan Donghae Oppa terlalu rapat.
“Biar saja… Aku suka..” kata Donghae Oppa membelaku. Aku menjulurkan lidahku menatap si Monyet penuh kemenangan.
“Oppa… Kenapa bisa sakit seperti ini?” tanyaku masih sambil memegangi tangannya. Ia mengelus tanganku dan tersenyum sok ganteng seperti biasanya. Eunhyuk dan Siwon Oppa berdehem-dehem dibelakangku.
“Kau mengkhawatirkanku?” tanyanya balik.
“Tentu saja Oppa…. Kupikir kau bahagia-bahagia saja disana… Kau kan terus-terusan memotret dirimu sendiri disana…”
Ia menjitak kepalaku. Mendadak matanya melirik seorang yeoja disebelahku yang tidak kuketahui asal-muasalnya.
“Ini temanku… Ini Hye Yoon.. dia asisten Manajerku di Taiwan…”
Aku buru-buru membungkuk hormat sambil memperkenalkan diri dan menatapnya seksama. Yeoja yang tentunya lebih tinggi, lebih cantik dan pastinya lebih tua dariku. Menyebalkan, kenapa dia ada disini?
Hye Yoon, Siwon dan Donghae Oppa kemudian meninggalkan kamar setelah Donghae Oppa memberi isyarat agar mereka keluar. Sepertinya Donghae Oppa mengamati perubahan ekspresiku gara-gara ada yeoja yang dekat-dekat dengannya. Selama ini, aku memang tak terbiasa melihat yeoja dekat-dekat dengan semua Oppa-ku. Aku tidak suka. Aku benar-benar tidak suka.
“Kenapa mukamu begitu?” tanya Donghae Oppa sambil menarik tanganku mendekat.
“Kenapa dia bisa disini? Kenapa assisten manajer harus ikut-ikutan kesini?” tanyaku setengah kesal.
“Kau tidak suka? Kenapa?”
“Hya.. Oppa! Berhentilah membolak-balik pertanyaanku seperti itu!”
Ia terkekeh dan menatapku sambil tertawa.
“Sekarang dia sudah keluar.. jadi berhentilah memasang muka jelek seperti itu…” katanya sambil menepuk pipiku.
“Kenapa dia bisa disini?” tanyaku masih ngotot.
“Dia yang menemukanku pingsan di lokasi syuting dan ikut ke Korea…” jawabnya cepat. Aku mengerutkan kening.
“Maksudku, kenapa dia bisa ikut ke Korea?” itu yang mengganjal pikiranku dari tadi. Kenapa gadis menyebalkan itu bisa disini? Di Korea? Di kamar Donghae Oppa?
“Aku yang menyuruhnya… dia yang mengurus penjadwalan agendaku.. jadi dia kesini untuk mengatur jadwalku lagi.. Kenapa? Kau tidak suka?” tanyanya balik. Aku menelan ludah. Membuang pandanganku ke batang infus. Daripada memanadangi matanya, aku bisa mati gugup.
“Ne… Aku tidak suka..” jawabku singkat. Dan namja didepanku ini tertawa hebat. Kelihatan bahagia sekali. Sialan.
“Kau cemburu?” tanyanya lagi. Kali ini nadanya sangat menyebalkan.
“T-i-dak.. aku hanya tidak suka ada yeoja yang dekat-dekat dengan Oppa-ku.. sebelum aku memastikan yeoja itu pantas untukmu..” kataku cepat. Dia tertawa lagi.
“Memangnya yeoja bagaimana yang pantas denagnku?”
Matilah! Aku harus jawab apa?
“Yang pasti bukan Unnie yang itu.. aku tidak suka…” jawabku buru-buru.
“Lalu yang bagaimana?” ia masih bersemangat mendebatku. Sialannnnnnn……
“Yang pintar, yang baik, yang cantik, yang setia padamu, yang pandai masak, yang perhat-“ kata-kataku terpotong dengan jari telunjuknya yang mendadak mampir di bibirku.
Jantungku longsor. Pasti mukaku sudah retak sekarang.
Jaga jarak Lee Donghae… Jangan dekat-dekat….
“Memangnya ada yang seperti itu?” serobotnya sambil tertawa jahil.
“Tentunya ada…” jawabku asal.
“Aku sudah menemukannya.. jadi kapan kau punya waktu untuk kuperkenalkan dengannya?”
Eh?
“K—Kau su-dah punya pacar?.. Bagai-mana orangnya? Siapa?” tanyaku gugup. Aku benar-benar tak pernah berpikir dia bisa dekat dengan yeoja lain selain aku.
“Dia hari ini cantik sekali,.. karena rambutnya mendadak jadi panjang…Mau kupanggilkan sekarang?”
Eh?
Tangannya memegang ponsel dan menekan beberapa tombol disana. Aku menatapnya gugup. Kudengar suara ringtone ponselku sendiri yang berbunyi dari dalam tasku. Ia menempelkan ponselnya di telinganya dan menatapku sambil terus tersenyum.
“Kenapa tidak diangkat ya?” tanyanya dengan muka bodoh. Wajahku pasti sudah matang sekarang. Omo… Omo… kenapa pemuda ini hobi sekali membuatku gelagapan seperti ini?
“Sayang sekali… Hyun Mi-ah… dia tidak mau mengangkat telponnya..Mungkin dia malu kuajak berkenalan denganmu…” katanya.
“Hya … Oppa… berhenti melakukan hal bodoh seperti itu…” teriakku.
Aku menarik tanganku dan berlari keluar kamarnya. Aku benar-benar tidak tahan ada pemuda sedang meng-gombal seperti itu. Dan lagi, dia meng-gombal untukku? Aish… mendengarnya saja  telingaku sudah gatal. Kudengar tawanya dari dalam hingga aku sampai didepan kamar.
Si Monyet –yang baru-baru ini mewarnai rambutnya dengan warna natural kulit pisang- yang ternyata mengintip dibalik jendela bertepuk tangan kompak dengan Yesung Oppa yang entah sejak kapan ada disini. Aish… Mukaku…
“Aigoo.. Aigoo.. Kara kita sudah besar rupanya…” si Monyet mulai menggerakkan mulutnya.
“Terima saja… Donghae bukan namja biasa lho..” si Kura-kura ikut berkomentar. Aku menendang lututnya.
Eunhyuk Oppa masuk lagi menemani Donghae Oppa. Mataku berkeliling, mencari yeoja tadi. Ia tidak ada. Aku duduk sambil menyandarkan punggungku kesandaran kursi. Melepas jaketku, eh, jaket..
Kyuhyun? Apa dia belum datang ya?
“Oppa… Kau lihat Kyuhyun kemari?” tanyaku pada Yesung Oppa yang tengah meminum kopi disebelahku. Ia menggeleng.
“Ani.. aku tak melihatnya dari tadi.. Bukannya Hyukjae bilang dia bersamamau?” tanyanya balik.
“Ne.. tadi dia bersamaku.. tapi aku sudah mengiriminya pesan agar dia menyusulku kesini, mengapa belum datang ya?” gumamku.
“Aku akan memberitahumu kalau dia datang nanti.. kau sudah makan?” tanya Yesung Oppa. Aku menggeleng.
“Ani… Aku mau tidur sebentar… aku ngantuk sekali… Kalau Kyuhyun datang, bangunkan aku Oppa…” kataku sambil menatapnya yang masih menyeruput kopinya. Ia mengangguk sambil melepas syalnya.
“Ngomong-ngomong… Kau khawatir sekali dengan Kyuhyun? Hehehhee….” katanya dengan muka cengengesan. Aku menjitak kepalanya.
“Aniyo….aku hanya tidak enak hati padanya karena tadi aku meninggalkannya di kedai jjangmyeon sendirian…” sangkalku.
“Bagaimana tadi kencanmu dengan Kyuhyun?” tanyanya lagi. Mukanya masih cengengesan.
“Hya.. Oppa… siapa bilang aku kencan dengannya… aku hanya memaksanya menemaniku menonton Konser SHINee karena kalian semua sibuk dan tak bisa mengantarku kesana…” omelku panjang. Kencan apanya? Aish… menjawab pertanyaan ini membuatku mengingat kembali pada Mawar Jelek-Taemin Sialan-Senyum busuk Kyuhyun.
Kura-kura aneh itu terkekeh dan menepuk pundakku.
“Tidurlah…”
*
Kyuhyun POV
Sudah tiga jam. Aku menunggu gadis itu tiga jam, dan dia belum datang. Mungkin aku yang bodoh mengapa merepotkan diriku sendiri untuk menunggunya disini. Aku menyambar tasku dan melongok kedalam kedai. Si pemilik kedai menatapku.
Aku membayar Jjangmyeon yang kupesan dan tidak kumakan di mejaku tadi, dan menyambar tasku keluar pintu pagar. Ahjumma itu menarik tanganku dan menunjuk sebuket bunga dan sekotak cokelat diatas meja. Aku menggeleng dan memastikan padanya bahwa cokelat dan mawar itu tidak kubutuhkan lagi.
Malam ini dingin sekali. Mengapa aku selalu ditakdirkan kedinginan seperti ini tiap punya urusan dengan gadis itu. Kira-kira gadis bodoh itu dimana?
Apa dia kembali ke Dorm?
Aku memutar pandanganku dan menyalakan mesin mobil. Memutar balik. Menuju Dorm.
Perasaanku buruk sekali sekarang. Aku begitu mengharapkannya, terlalu gugup karena akan mengatakan apa yang kurasakan selama ini padanya, dan gadis pendek itu tidak datang. Mengacaukan semua rencana sintingku. Mengacaukan mood-ku.
Aku mungkin terlalu mengharapkannya, sehingga saat dia tidak menepati janjinya, harapanku berubah jadi sakit hati. Aku sakit hati. Seharusnya dia menungguku disana.
*
Kara POV
Aku terbangun saat merasa kakiku kedinginan. Rupanya aku masih didepan kamar Donghae Oppa. Disebelahku, si Monyet tampak damai, tidur dengan duduk. Ia menyelimuti dirinya sendiri dengan syal. Aku membuka pintu kamar, dan ternyata Donghae Oppa masih bangun. Siwon dan Leeteuk Oppa disebelahnya  tertidur setengah duduk. Aku tersenyum menyapanya.
“Oppa… Kenapa masih bangun?”
Ia menggaruk kepalanya.
“Hm.. Kakiku sedikit nyeri..” katanya. Aku mendekat dan membuka selimutnya. Memeriksa kakinya.
“Memangnya ada apa dengan kakimu Oppa? Apa kau terjatuh?” tanyaku lagi. Ia menggeleng.
“Mungkin aku terlalu lelah berlatih Dance..” jawabnya cepat.
“Oppa… Kurasa sebaiknya kau berhenti latihan dulu sebulan ini..”
“Mana mungkin… Sebentar lagi, kami juga harus rilis album kelima… Sudahlah Hyun Mi-ah.. aku baik-baik saja…Berhenti memperhatikanku seperti itu.. Kau membuatku berharap..” katanya sambil tersenyum singkat.
Hening.
“Apa Oppa yang lain sudah menjengukmu?” tanyaku sok penasaran. Mengalihkan pembicaraan. Aku salah tingkah kalau kami mendadak diam, dan dia dengan santainya menatapku sambil tersenyum-senyum sendiri. Sementara aku? Mati gaya. Dipandangi makhluk seganteng itu, siapapun pasti sesak nafas.
“Aku belum melihat Kyuhyun.. yang lainnya sudah menjengukku dan pulang lebih dulu..”
Aku tercekat.
Apa? Dia belum kembali?
Aku menyambar tasku dan segera meraih ponsel. Donghae Oppa mengenrnyit memelototiku. Oh Tuhan.. apa namja tolol itu masih menungguku di kedai Jjangmyeon tadi?
“Hyun Mi-ah… Ponselmu berbunyi…” kudengar Donghae Oppa meneriakiku.
“Ani Oppa… aku sedang menelfon Kyuhyun…” potongku buru-buru.
“Suaranya telfonnya dari jaketmu…” Donghae Oppa berseru lagi. Aku melirik ponselku. Lalu melirik saku jaket.
Ponsel Kyuhyun? Ada di saku jaketnya?
Kenapa aku bodoh sekali?
Jadi… dari tadi dia tidak menerima pesanku?
Aku berlari dan segera membuka pintu kamar. Menggoyang-goyangkan  badan Eunhyuk Oppa yang masih tertidur. Ia menguap, menggeliat, dan segera mengomel saat kukatakan padanya untuk menjemput Kyuhyun.
“Dia bawa mobil sendiri kan? Dia pasti sudah kembali ke Dorm..” katanya. Aku menggeleng dan merajuk lagi.
“Ani Oppa… kalau dia sudah di Dorm.. mestinya dia langsung menjenguk Donghae Oppa kesini … Bukankah Heechul dan sungmin Oppa di Dorm.. pastinya Kyuhyun langsung kesini… tapi dia belum kesini Oppa…”
Eunhyuk Oppa menggeliat sekali lagi dan memaksa tubuhnya bangkit. Ia meraba jaketnya dan mengambil kunci mobil.
“Ne.. Ne.. ayo kita jemput…”
Aku membuntutinya keluar Rumah Sakit. Menuju parkiran mobil.
“Malam ini dingin sekali.. kalau benar dia berada diluar.. aku takut dia sakit..” Eunhyuk Oppa menggumam sambil melajukan mobilnya. Aku menoleh dan memandangnya.
“Oppa… aku juga takut dia sakit.. Oppa… Ottohke…” kataku panik.
Eunhyuk Oppa memegangi tangan kananku dan menepuk-nepuknya.
“Semoga dia tidak bertindak konyol dengan menunggumu disana…” katanya.
“Hubungi Sungmin Hyung.. tanyakan apakah Kyuhyun ada di Dorm..” katanya menginstruksi. Aku meraih ponselku di Dashboard mobil dan menekan nomor Sungmin Oppa. Ia mungkin sudah krtiduran, karena telfon tak segera diangkat. Setelah tiga kali menelfon akhirnya kudengar sahutan Heechul Oppa yang langsung mengomel karena suara ponsel Sungmin Oppa mengganggu tidurnya yang baru setengah jam. Ia juga membentakku dan berteriak sekuat tenaga bahwa Dongsaengnya yang paling bungsu itu tak ada di Dorm. Aku menghela nafas panik dan memintanya untuk mencari sekali lagi.
Sudah pasti namja bermulut tega itu langsung menyemburku. Ia mengomel namun memenuhi permintaanku untuk mengecek Dorm sekali lagi. Pada akhirnya, ia menutup telfon sambil berteriak menggelegar bahwa Kyuhyun belum pulang.
Aku memegangi lengan Eunhyuk Oppa. Tak tahu kenapa, aku mulai menangis. Apakah sekali lagi aku akan membuatnya sakit?
Tuhan, jangan biarkan dia sakit….
Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau dia sakit…
“Kara-shii.. jangan panik dulu.. Kita ke kedai itu sekarang..” katanya pelan. Ia memacu mobilnya lebih kencang.
Kami sampai di kedai itu. Kedainya sudah tutup. Tak ada seorangpun disana. Aku menghela nafas lega. Setidaknya ia tidak menggigil kedinginan menungguku disini.
Aku menengok meja tempat kami duduk tadi. Ada sesuatu teronggok disana.
Sebuket Mawar. Sekotak Cokelat.
*
Kyuhyun POV
“Hya.. Bocah setan… Kemana saja kau…” itu suara pertama yang kudengar saat pintu Dorm terbuka. Aku tak menjawab. Heechul Hyung hanya menatapku jengkel.
Sudahlah, aku benar-benar tak punya tenaga untuk membalasnya.
“Kara baru saja menelfonku dan mengganggu tidur malamku… kau kemana saja?”
Oh, jadi gadis itu pada akhirnya sadar kalau aku menunggunya semalaman?
“Donghae masuk Rumah Sakit.. Kau tahu?” ia menyela lagi.
Aku menaikkan sebelah alisku.
Entah kenapa, aku tidak khawatir dan malah kecewa sekali. Gadis bodoh itu meninggalkanku sendirian karena pangerannya sakit?
Bagus, memang seharusnya begitu.
“Tidak parah kan?” kataku memastikan. Ikan kembung bukan tipe pemuda penyakitan. Kalau dia sakit, paling-paling Cuma demam atau kelelahan.
“Ani… Dia kelelahan”
Aku benar bukan?
“Kalau begitu aku kesana besok pagi… aku mau tidur sekarang..”
Heechul Hyung menarik tanganku. Mukanya serius.
“Hubungi Kara dulu… aku khawatir dia mencarimu semalaman…” katanya. Aku mendnegus dan melepas cengkeramannya. Melewatinya begitu saja.
Aku menutup pintu kamarku dan tidak menjawab apa-apa. Kudengar si Bencong mulai marah-marah lagi diluar kamar.
*
Kara POV
“Kara.. Jangan melamun…” Eunhyuk Oppa mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajahku. Kami baru saja menghampiri apartemen Ahra Unnie, dan ternyata namja menyebalkan itu tidak sedang disana. Aku semakin cemas dan si Monyet disebelahku bahagia-bahagia saja. Tentu, dia baru saja melihat Ahra Unnie yang bangun tidur membukakan pintu apartemen dnegan baju tidur super pendek.
Aku menggeleng dan memaksa tersenyum. Mataku tak lepas memandangi buket mawar ditanganku.
Apakah tadi dia keluar untuk membeli ini?
Aku meninggalkannya begitu saja dan tidak kembali?
Aku jahat sekali bukan?
Mobil berhenti didepan kedai Bbimbap. Kata Eunhyuk Oppa, Kyuhyun juga sering mampir ke tempat ini. Aku bergegas membuka pintu mobil.
BRAK…
*
Kyuhyun POV
Kudengar Heechul Hyung menelfon Kara dari balik pintu. Ia sengaja mengeras-ngeraskan suaranya. Mungkin ia tengah menyindirku. Dan maaf-maaf saja, aku tidak peduli.
“Kyuhyun-ah….” sekarang dia mulai menggedor pintu kamarku.
“Hya… Apa kubilang.. Kau selalu saja membuat Kara sakit… Lihat gara-gara ulahmu dia tertabrak motor lagi sekarang.. Kau masih tidak mau mendengarku hah?”
Aku terpaku.
Tertabrak motor?
Aku menyambar jaketku. Membanting pintu kamardan segera membuntuti Heechul dan sungmin Hyung yang sedang menyalakan mobil. Mereka tak menatapku sama sekali. Mungkin sangat marah. Karena sekali lagi aku membuat dongsaeng kesanyangan mereka terluka.
Kakinya tertabrak motor yang melintas kencang tepat disebelah pintu mobil. Pintu mobil eunhyuk Hyung lepas dari engselnya.
Aku bahkan tidak bisa merasai telapak tanganku sendiri sekarang. Aku terlalu takut. Mataku terus-menerus berair dan dadaku sakit sekali.
*
Kara POV
Aku bangun. Aku hanya merasa pusing dan kakiku nyeri. Seingatku, aku tadi terpelanting karena seseorang menabrakku dari belakang dengan motornya. Aku tidak berani membayangkan apa yang terjadi dengan kakiku yang baru saja tertabrak dua minggu yang lalu.
Seseorang menatapku. Wajahnya basah dan matanya membengkak.
“Mianhae…”
Bukan. Bukan wajahnya yang ingin kulihat.
Sungguh. Bukan dia.
“Mianhae… Jeongmal Mianhae… Seharusnya kau tidak perlu menjemputku dan mencarinya hingga kau tertabrak seperti ini… Hyun Mi-ah… Mianhae…” ia terisak sambil memegangi tanganku.
Hening.
Berkelebatan bayangan sebuket mawar, sekotak cokelat, dan secari kkertas di otakku.
“Oppa… Dimana Kyuhyun?”
Wajahnya pias mendnegar pertanyaanku. Mungkin kali lain aku bisa berusaha menjaga perasaannya, namun saat ini, sungguh, aku hanya ingin tahu Kyuhyun ada dimana.
“Dia sedang tidur…” jawabnya pelan. Donghae Oppa masih duduk dikursi roda. Tangannya juga masih ditancapi selang infus.
“Oppa… aku ingin melihat Kyuhyun.. apa dia sakit lagi?” tanyaku setengah menangis. dan namja didepanku hanya memegangi tanganku. Ia juga menangis.
“Ani… Dia sedang tidur Kara sayang… Dia pingsan tadi…”
Pingsan?
“Apakah terjadi sesuatu yang buruk padanya? Apa dia sakit lagi?Ap—apa-kah sesak nafasnya kambuh?” aku merasa air mataku turun ke dagu. Aku takut. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Ia tersenyum kecil dan meremas tanganku erat.
“Ani… dia hanya terbentur…” katanya pelan. Ia berusaha berdiri dan memelukku.
“Hyun Mi-ah… jangan begini lagi… jangan menyakiti dirimu seperti ini lagi..” bisiknya di telingaku. Aku diam tak bergerak. Membiarkannya memelukku dan menaruh dagunya di pundakku.
“Oppa…” aku memanggilnya lirih.
“Hmm…” ia berdehem.
“Aku menyukainya…”
Aku menghela nafas berat, namun dia tak bergeming. Masih memelukku.
“Oppa… berhentilah bersikap terlalu baik padaku… Aku menyukainya Oppa… Aku sa-“ ia membekap mulutku dengan tangannya. Wajahnya basah. Ia terisak.
“Jangan katakan lagi… Aku sudah tahu…. Kumohon jangan katakan lagi, Itu menyakitkan,” katanya sambil memelukku lebih erat.
“Aku sudah tahu.. Aku bisa mengerti… tapi kumohon… jangan memintaku menyerah dan membiarkankanmu bersamanya.. Aku tidak akan pernah mampu melakukannya…” katanya tergagap. Ia semakin terisak.
“Oppa… Mianhae.. Jeongmal Mianhae…”
Air mataku jatuh berderai. Lelaki yang sangat kusayangi itu masih menangis di pundakku. Tangannya yang masih terbebat infus memeluk pundakku.
“Aku baik-baik saja.. asalkan kau tidak memintaku menjauh darimu…”
Nafasku sesak.
“Oppa… Mianhae…” ulangku lagi. Aku sudah terisak sekarang.
Ia tak menjawab.
“Saranghae…. Jeongmal Saranghaeyo Hyun Mia-h…” bisiknya terputus-putus.
Nafasku semakin sesak.
“Oppa… berhentilah, kumohon Oppa… aku sakit melihatmu seperti ini…”
Ia melepas pelukannya. Menatapku tajam. Wajahnya merah. Penuh air mata. Tuhan, aku sakit melihatnya seperti ini…
“Jangan memintaku berhenti…Kumohon..Aku tidak bisa, aku… aku sakit melihatmu bersamanya… Kau tahu, aku sangat sakit, jadi… jangan minta aku berhenti… aku ti-tidak bisa…” katanya dengan mata menunduk. Ia membuang pandangannya ke jendela.
Aku menariknya mendekat dan merangkulnya erat.
“Oppa… kau adalah namja paling manis dan paling tampan yang pernah kutemui dimanapun..” kataku pelan. Kurasakan isakannya masih terdengar.
“Kau… Kau yang terbaik oppa….Kau tahu, kau bisa mendap-“
Ia membalik badannya dan menaruh telunjuknya dibibirku. Aku masih terkejut. Dan mendadak saja bibirnya sudah membungkam bibirku.
*
Kyuhyun POV
Aku bangun dengan kepala berat. Kulihat Shindong dan Ryeowook Hyung duduk disebelahku. Eunhyuk Hyung duduk agak jauh dari ranjangku.
“Apa sudah baikan?” si Monyet yang bertanya duluan. Kulihat senyumnya mengembang melihatku membuka mata.
Aku memegangi kepalaku dan mengangguk tanpa suara.
“Ba-bagaimana.. keadaan Kara?”tanyaku pelan. Mereka bertiga berpandangan.
Saat aku sampai di Rumah Sakit, dia sedang dioperasi. Lututnya tertusuk kaca spion motor. Betis kanannya terbanting ke aspal dan kaki kirinya membengkak.
“D-dimana dia?” tanyaku lagi.
“Dia ada di kamar sebelah… Dia baik-baik saja..” Ryeowook Hyung menjawab.
“B-bagaimana dengan kakinya?” tiap kali aku membuka mulut, kepalaku serasa dipukul palu. Nyeri sekali. Aku agak kaget karena kepalaku dibebat perban.
“Dia baik-baik saja… Dia hanya harus mengistirahatkan kakinya untuk beberapa waktu..” Shindong Hyung menyambung.
“Dia masih bisa berjalan kan?”
“Ne… Dia baik-baik saja.. Kau tidak sekalian tanya keadaan pintu mobilku hm?” Eunhyuk Hyung berseloroh. Aku tertawa, dan kepalaku semakin nyeri.
“Hya… Kau jangan banyak bergerak..” lanjutnya sambil memegangi tanganku.
“Ada apa dengan kepalaku? Kenapa diperban?”
Mereka bertiga tertawa.
“Kau tidak ingat?” ryeowook Hyung menatapku antusias. Aku menggeleng. Memangnya kelpalaku kenapa? Dan kenapa mereka tertawa?
“Kepalamu terbentur pintu…”
“Kau berlari kencang menuju kamar Kara saat Donghae keluar dari sana…”
“Dan kepalamu mencium pintunya… HUAHAHAHAHA…”
Mereka menjawab bersahutan. Aish… Memalukan. Dan lagi, si Kembung itu pasti sedang bersama Kara sekarang.
Ponselku bergetar.
“Yoboseyo..” kataku pelan. Aku memberi isyarat tiga Hyung-ku untuk minta izin mengangkat telfon. Mereka cengengesan sambil membentuk lambang ‘V’ dengan jarinya.
“Yo-bo-seyo…” Suara Kara.
Hening.
“Ap-apa kabar kakimu?”
BODOH…Kenapa malah kata-kata tolol seperti itu yang lolos dari mulutku?
“Baik… sudah tidak nyeri… Ap-apa kabar paru-parumu?”
Kenapa dia malah ikut-ikutan bertanya kabar paru-paruku?
“Dasar bodoh, kenapa tanya kabar paru-paruku? Kau tak khawatir padaku hah?” jawabku cepat. Tiga Hyung-ku mulai membuat keributan sambil bersiul dan berteriak-teriak tidak jelas.
“KAU CARI MATI HAH? “
AKU SUKA..
AKU BENAR-BENAR SUKA KARA YANG SEPERTI INI…
Ia tidak perlu mengatakan kabarnya, karena hanya dnegan teriakannya itu, aku sudah bisa memastikan dia baik-baik saja.
“KAU TAHU.. GARA-GARA MENCARIMU KAKIKU HAMPIR HILANG…” katanya dengan volume mengerikan.
Aku mengernyit.
“Kakimu diamputasi?” tanyaku pura-pura panik.
“KAKIKU HAMPIR DIAMPUTASI GARA-GARA KAU CHO KYUHYUN…” teriaknya lagi.
“Hampir? Itu artinya kakimu tidak jadi hilang kan? Kalaupun kakimu hilang, kau tak perlu khawatir… AMBILLAH KAKIKU…KAU BISA MEMINJAMNYA…”balasku sambil tertawa.
“KAU BENAR-BENAR MEMBUATKU LAPAR CHO KYUHYUN… AKU AKAN MEMAKANMU KALAU KAU SAMPAI BERTEMU DENGANKU..” ancamnya dengan suara lebih keras. Aku tertawa semakin heboh. Shindong dan Ryeowook Hyung melirikku sambil menata bubur di mangkok. Eunhyuk Hyung malah nyengir dan menopang dagunya sambil duduk disamping ranjangku.
“Tidak bisakah kau bicara tanpa loudspeaker? Suaramu menggelegar sampai kamarku Bodoh.. Kau tidak kasihan dengan pasien lainnya hah? Mereka bisa cepat mati kalau kau terus teriak seperti itu…” balasku sengit. Ia mendecak. Suara ponselnya berderak-derak.
“DI DUNIA INI.. MEMANG TIDAK ADA YANG LEBIH MENYEBALKAN SELAIN SEEKOR CHO KYUHYUN…” katanya sambil tertawa bahagia. Mungkin dia merasa baru saja menemukan kata-kata paling menyebalkan sedunia.
Aish.. gadis ini, dapat darimana kata-kata ‘SEEKOR’ seperti itu?
“ANI.. ANI… KAU SALAH BESAR… ADA YANG LEBIH MENYEBALKAN DARI SEEKOR CHO KYUHYUN… KAU MAU TAHU? SETENGAH EKOR CHO MINHO…BAGAIMANA? HUAHAHAHAHAHAHA…” kataku ikut berteriak. Shindong, Eunhyuk dan Ryeowook Hyung ikut terbahak-bahak mendengar kata-kataku.
“KAU BENAR-BENAR CARI MATI CHO KYUHYUN…. KATAKAN, KAU SEKARANG DIMANA… AKU AKAN SEGERA MENCEKIKMU…KAU DIMANA HAH?” katanya emosi. Ia masih berteriak.
“KENAPA MASIH TANYA AKU DIMANA? AKU ADA DI HATIMU SAYANG…” kataku tak kalah heboh. Kudengar dia berteriak frustasi di kamar sebelah. Aigoo… Aigooo… hidupku pasti akan bahagia sampai tua kalau dia terus berteriak seperti ini…
“HYA CHO KYUHYUUUUUUUUUUN……”
Aku tertawa heboh. Dia hanya mengomel panjang diseberang.
Entah kenapa, tawaku tiba-tiba berhenti. Dan dia juga tak bicara apa-apa.
Hening.
“ Kyuhyun-ah…” ia memanggilku ragu.
“Hmm..”  aku berdehem singkat.
“Ak-aku ingin.. bertemu.. denganmu..”
Aku melonjak dari kasur. Benar-benar kaget. Kakiku menendang kepala si Monyet yang tiduran disebelahku. Ia melotot jelek.
“M-Mwo?..Wae?” tanyaku cepat.
Ia tertawa.
“Kalau kau keberat-“
“ANI… ANIYO…Kapan? Dimana?” potongku buru-buru.
“Hmm…. Kalau kau sudah baikan saja… aku belum bisa berjalan, jadi lebih ba-“
“Baiklah, aku akan kekamarmu sekarang! Jangan bergerak!” seruku.
*
Kara POV
Tiga menit.
Wajahnya melongok dari pintu saat kudengar derit kursi roda dari balik pintu. Kyuhyun mendekat. Eunhyuk Hyung mendorong kursi rodanya ke arahku.
Dia tersenyum. Tersenyum manis sekali.
“Sekarang Kau bisa melihatku kan?” tanyanya dengan logat menjengkelkan.  Aku mendengus dan dia mendekat. Ia mengenakan seragam rumah sakit sama dengan seragam yang kukenakan. Kepalanya dibalut perban.
“Kepalamu kenapa?” tanyaku singkat.
Dia meraba perbannya.
“Oh.. ini.. terbentur…” kulihat sekilas wajahnya memerah.
“Terbentur apa?” tanyaku lagi.
“Terbentur pintu kamarmu, puas?”
Tawaku meledak.
Omo… jadi kepalanya diperban seperti itu karena pintu kamarku… Sepertinya aku harus berterimakasih pada pintu kamarku…
“Bagaimana bisa?” tanyaku semakin semangat. Ia mendesah kesal.
“Dia berlari terlalu kencang saat mau menjengukmu, dan Donghae membuka pintunya.. Kau mengerti kan? Kalau tidak mengerti byangkan saja…” Eunhyuk Oppa menjawab tenang.
“ Hya… Hyung… mengapa kau menyuruhnya membayangkan kejadian seperti itu?” protes Kyuhyun. Eunhyuk Oppa buru-buru mengelus kepalanya dan meminta maaf.
Ia kemudian menatapku. Aku masih tertawa.
“Sekarang katakan padaku, apa yang membuatmu ingin menemuiku, hm? Eh.. tunggu sebentar…” ia membalik kepalanya dan menatap kakak iparnya. Si Monyet tak bereaksi. Hanya balik menatap Kyuhyun bingung.
“Hyung.. Mianhae.. Tapi kau harus keluar sekarang… Kara ingin bicara masalah pribadi denganku.. Dia malu kalau kau disini…” katanya. Aku melotot.
“Hya… Kau pikir aku mau apa hah?” bentakku cepat. Ia hanya meringis. Si Monyet berbalik menuju pintu. Memegangi kenop pintu sambil cengengesan memelototi adik iparnya. Aish.. mereka menjengkelkan sekali.
“Sekarang katakan ada apa…” Kyuhyun bicara lagi. Aku menghela nafas.
“Kyuhyun-ah… Maafkan aku soal kedai Jjangmyeon itu…” kataku pelan. Ia menatapku. Tersenyum manis.
“Ne… itu bukan salahmu..” balasnya singkat.
“Dan untuk mawar dan cokelat itu… Terimakasih…” kataku kaku. Ia membelalak kaget. Mukanya mendadak merah.
“K-kau menerimanya?” ia bertanya gugup.
“Memang itu untukku kan?” balasku cepat.
Ia menunduk. Matanya melarikan diri ke jendela. Mukanya sekarang merah. Imut sekali. Ia memang jarang kelihatan imut kan?
“Dan untuk pesanmu-“
“Pesan yang mana?” serobotnya. Aku mengerutkan kening.
“Yang di kotak cokelat itu.. yang-“
“Lalalalalalalala.. Lalalalala… ya… ya.. aku tahu..memangnya ke-kenapa dengan pesan itu?” potongnya lagi dengan sedikit tergagap. Mukanya sekarang sudah sangat mengenaskan. Ia seperti orang yang ketahuan buang air besar di bawah tiang listrik.
“Emm… Aku sudah membacanya” kataku. Aku tersenyum jahil. Namja didepanku itu mulai bertingkah aneh. Matanya mondar-mandir melirik kaki ranjangku satu persatu.
“Lalu?” sahutnya cepat. Mukanya masih merunduk.
“Aku ingin kau membacanya didepanku…” kataku lancar.
Dia melotot. Mulutnya menganga.
“Hanya ingin memastikan kalau itu memang benar tulisanmu, dan tulisan itu ditujukan untukku.. bagaimana?” tanyaku semangat. Seringaiku melebar.
Dan dia?
Dia diam tak bergerak. Mulutnya masih menganga.
Aku tersenyum bahagia memelototinya yang salah tingkah.
“Baiklah..” mendadak mulutnya bisa bicara.
Sekarang aku yang menganga. Benar-benar tak sanggup membayangkan itu membacakan kalimat romantis buatannya. Omo… apa dia serius?
“Hmm… kemarikan kertasnya..” katanya singkat. Aku meliriknya agak ragu, aish… pasti dia punya rencana sinting untuk mempermalukanku sekarang…
Aku merogoh bawah bantalku dan memberikan kertas kecil itu padanya.
Ia menyeringai. Sudah tak kelihatan malu lagi. Omo… apa yang ia rencanakan sekarang? Aku jadi merinding melihatnya.
Ia membalik kertasnya. Melihatnya sebentar. Lalu melihatku. Aku meliriknya balik. Aish.. pandangannya.. kenapa jadi begitu?
“Namanya bukit OneyHalva.. ini bukit harapan.. siapa yang datang kesini dan menuliskan namanya berpasangan dengan orang yang ia sayangi, keinginannya untuk bersama akan terkabul… Aku hanya merasa bahwa batu itu benar-benar bertuah, karena ia berhasil membuatku ingin bersamamu dan aku juga berharap batu itu akan terus bertuah agar aku benar-benar bisa bersamamu, Apa kau juga berpikir sepertiku?’” ejanya cepat.
Matanya beralih melihatku.
Mukaku…
Mukaku…
Mukaku…
Harus aku taruh mana mukaku…
Cho Kyuhyun…
“Jadi.. aku sudah membacanya…Lalu?” katanya santai. Aku, yang masih sangat syok melihatnya membaca tulisan mengerikan itu dengan datar, tidak berani menatapnya.
“Hya… Kau… Tatap mataku kalau sedang bicara denganku bodoh..” teriaknya sambil memgangi pipiku. Membalik kepalaku. Menarik daguku dan mensejajarkan mataku agar melihat matanya.
Glek.
“N… Ne…”
Ia melepaskan tangannya namun masih menatapku. Aish.. Mukanya juga ikut memerah. Apa dia masih punya rasa malu hah?
Aku benar-benar ingin menendang wajahnya!…
“Apanya yang ‘Ne’?” ia menatapku lebih tajam lagi sekarang.
Glek.
“Ya.. maksudku aku sudah dengar… kau kan bertanya ‘lalu’, jadi aku jawab.. aku sudah dengar…” jawabku agak gugup. Dia tertawa. Memegangi perutnya.
“Aigoo…Jangan pasang wajah seperti itu, Kau membuatku ingin-“
“Hya.. Cho Kyuhyun… Jangan bicara lagi!” potongku cepat.
Ia tertawa lagi. Kali ini lebih berekspresi. Ia tak hanya memegangi perutnya, namun juga memukul-mukul kursi rodanya.
“Baiklah, aku akan tanya baik-baik, jadi, dengarkan baik-baik… Apa kau berpikir sepertiku, hm?” ulangnya.
Glek.
“Se-seperti apa?” tanyaku.
KYAAAA….. APA YANG KAU LAKUKAN CHO MINHO… KENAPA MULUTMU SELALU BIKIN MASALAH….
Dia menatapku sejenak. Melirik kertasnya. Lalu membuangnya. Menatapku lagi. Kali ini dia tersenyum, tidak lagi menyeringai seperti yang tadi.
Glek.
Imut sekali.
Kumohon, jangan pasang wajah seperti itu Cho Kyuhyun……
“Saranghae…” ucapnya pelan.
Aku mematung. Tak bisa bergerak.
Apakah benar dia Cho Kyuhyun?
Apakah.. apakah aku bermimpi?
Apakah, apakah aku salah dengar?
“Saranghae…” katanya lagi.
Aku masih tak bergeming.
Seperti ada ribuan kembang api meledak di langit. Seperti ada ribuan kupu-kupu terbang didepaanku. Seperti ada ribuan eskrim dihidangkan dihadapanku.
Seperti..
Tidak, tidak ada yang lebih indah dari yang kurasakan sekarang.
Lelaki ini,
Kata-kata itu,
“Saranghae…” ulangnya.
Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasakan sesuatu mengalir di pipiku. Apakah aku menangis?
“Saranghae,  Saranghaeyo Kara-shii.. Aku menyukaimu… aku sangat menyukaimu..”
“Aku selalu ingin melihatmu.. aku, aku ingin kau..”
“Kau, aku sangat menyukaimu… aku menyukaimu dan aku tak tahu lagi harus mengatakan apa agar kau tahu aku menyukaimu..”
“Berjanjilah kau akan baik-baik saja… Aku tidak ingin memaksamu bersamaku, karena, aku tahu aku selalu menyakitimu..”
“Tapi kumohon, berjanjilah untuk baik-baik saja.. apapun yang akan kau putuskan nanti..”
“Kalau kau merasa bahagia dengan Donghae Hyung, katakan saja… aku tidak akan memaksamu disisiku dan menyukaiku…aku tahu, dia jauh lebih baik dariku…”
“Berjanjilah untuk bahagia…. Aku berjanji akan bahagia untukmu..”
“Saranghae…”
Mulutku tertutup rapat. Tatapannya mengunci mataku.
“Kyuhyun-ah…” panggilku ragu.
Dia, yang sedari tadi menatapku, menaikkan sebelah alisnya.
“Hm?”
“Aku takut kalau aku akan mengece-“
“Katakan saja….Kau tidak perlu takut, Aku tidak akan bunuh diri apapun yang kau katakan nanti..” katanya sambil tersenyum kecil. Kelihatan gugup. Aku meliriknya sedikit. Dadaku tak berhenti bergemuruh.
“Kurasa… aku.. juga menyukaimu”
Kyuhyun membelalakkan matanya menatapku. Sedetik kemudian tangannya merengkuh tubuhku dan memelukku seperti orang  kesetanan.
“Hya.. Kau.. Kau mau aku mati hah?” bentakku sambil memukuli punggungnya.
“Tak bisakah kau diajak romantis sebentar hah? Biarkan seperti ini dulu…” katanya sambil masih memelukku.
“Kyuhyun-ah…”
“Hm?” ia berdehem.
“Bisakah kita rahasiakan ini dari Hyung-hyungmu yang lain?”
Ia melepas pelukannya. Menatapku jengkel.
“Kenapa? Aish…Kau mau menjalin hubungan dengan Hyung-ku juga hah? Yhak… Cho Minho..Kau benar-benar membuat jantungku sesak nafas…”
Jantungku sesak nafas katanya?
Aish… Kata-kata yang keluar dari mulutnya memang tidak ada yang benar.
“Aku Cuma tidak ingin mereka menjaga jarak dariku karena mereka tahu aku ada hubungan khusus denganmu…” kataku takut-takut.
Ia tak berhenti melihatku. Tatapannya masih jengkel.
“Kalau kau tidak mau ya sudah, aku tidak akan memaksamu, dan anggap saja kita tak pernah membicarakan masalah ini, anggap saja aku dan ka-“
“ANDWAE!!“ teriaknya dengan nada sopran. Aku mendesis sambil menatapnya. Kenapa mulutnya itu mudah sekali berteriak seperti sapi hah?
“Baiklah, baiklah, aku akan merahasiakannya dari Hyung-hyungku.. tapi, bolehkah aku memberitahu Si Kembung? Kau tahu kan kalau dia-“
“ANDWAE!!!” kali ini aku yang berteriak heboh. Dia membekap mulutku dan langsung menggerutu.
“Baiklah, BAIKLAH….. B-A-I-K-L-A-H…. KAU DENGAR… BAIKLAH CHO MINHO… APAPUN YANG KAU MINTA… BAIKLAH…” katanya dengan lebih heboh. Aku menendang lututnya.
Si Monyet membuka pintu dan mengerutkan kening melihatku.
“Kara-shii, Apa dia menganiayamu?” tanyanya.
Aku buru-buru menggelengkan kepala. Si Monyet menghampiriku, dan si Kyuhyun, Omo…. wajahnya seram sekali…
“Hya.. MONYET.. KENAPA KAU KEMARI HAH?”
Pletak!
Aku menjitak kepalanya.
“Aish..Dia itu Hyungmu…” kataku sambil memelototinya. Eunhyuk Oppa meliriknya dan melirikku bergantian.
“Aku hanya mau bicara seben-“
“BICARA APA?”
“Aigoo… Cho Kyuhyun… Kau mau mati hah? Kenapa kau terus-terusan berteriak?” balasku.
Eunhyuk Oppa meringis sambil menjulurkan tangannya yang dari tadi ia simpan dibalik pungggung. Ia memegangi kotak cokelat.
“Aku Cuma mau bilang, Terimakasih untuk cokelatnya… Nah, silahkan kalian teruskan…” katanya sambil buru-buru berlari keluar kamar. Kyuhyun menatapku horor. Mulutnya mendengus.
“Ini..ini tidak seperti yang kau-kau pikirkan… aku tidak sengaja meninggalkan cokelatnya diluar.. dan.. dan..Eunhyuk Oppa memakannya…sungguh..” rajukku. Ia memelototiku jengkel.
“Lupakan saja… “ katanya singkat.
“Sebaiknya mulai sekarang jangan coba-coba menyembunyikan apapun atau berbohong padaku…., atau.. hidupmu dalam bahaya..” lanjutnya.
Aku menelan ludah. Menghela nafas. Menatapnya takut-takut.
“Kyuhyunnie….” panggilku pelan. Ia tak menjawab. Matanya menatap batang infus yang bertenger disebelah kursi rodanya.
“Sebenarnya.. tadi itu…” aku memotong ucapan ku. Menatapnya. Ia melirikku dengan tatapan menyeramkan. Omo… aku tak tahu apa aku bisa hidup setelah ini.
“Tadi itu… Donghae Oppa.. dan aku…” kata-kataku terputus lagi karena rasanya aku melihat dua tanduk setan mencuat dari rambutnya begitu aku mengucap nama Donghae Oppa.
“Berciuman sedikit…” kataku cepat.
Dia membelalak. Matanya seperti berniat meloncat memakan mataku.
“APA KAU BILANG? KALIAN.. AISH… HYA… KENAPA KAU MEMBIARKANNYA MELAKUKAN ITU PADAMU KALAU KAU TAK MENYUKAINYA HAH?”
OMO…. DIA SEPERTI SETAN….
Aku menutup mataku. Menyusun kata-kata setepat mungkin.
“Aku.. tidak bisa mencegahnya, kau tahu kan.. dia itu… dia itu… tampan sekali…”
Glek.
Matanya membulat. Seperti berasap. Tangannya menunjuk wajahku. Aku menampar mulutku sendiri. Kenapa aku bilang begitu?
Walaupun itu benar –bahwa kesempatan dicium makhluk ganteng seperti Donghae Oppa- dan aku jujur, Aku pasti mati…
Omo… Dia pasti membunuhku…
“CUCI MULUTMU DENGAN DETERJEN!”
*
Kyuhyun POV
SI KEMBUNG MENCIUMNYA!!!!
Kalau saja dia bukan Hyung-ku, aku benar-benar akan mengganti mulutnya dengan pantat panci. Aish.. membayangkannya membuatku ingin mengabadikannya dalam lubang WC.
Aku mengetuk-ngetukkan jariku diatas meja.
Kara tak berani menatapku. Kami masih saling diam.
“Apa.. apa kau serius menyuruhku mencuci mulutku dengan deterjen? Maksudku… kau benar-benar akan memaafkanku kalau aku melakukannya?”
Aigoo.. gadis ini… apakah dia punya otak?
Mana mungkin aku menyuruhnya mencuci mulutnya dengan deterjen?
Bibirnya itu aset berharga!
“Kyuhyun-ah… jangan melihatku seperti itu, kau membuatku takut…” ia menundukkan matanya. Aku menatapnya kesal. Aku beranjak berdiri menuju pintu kamar. Mendadak ia menarik tanganku. Memaksaku duduk di sebelahnya.
GREP..
Dia menarik wajahku dan mencium bibirku singkat.
Aku melongo saat tangannya melepaskan wajahku.
“Sekarang… jangan dibahas lagi masalah itu.. Oke? Mulai sekarang dan seterusnya, aku akan berusaha tidak melakukannya selain denganmu…” katanya sambil menjauhkan keningku dengan telunjuknya.
Aku menatapnya syok. Omo… gadis ini tidak sedang mabuk kan?
“Berusaha? Hanya berusaha?” sanggahku setengah dongkol.
“Ne.. Aku hanya berusaha, itu artinya ‘kalau aku mabuk atau diluar kesadaran’ kau tidak boleh menyalahkanku…” sambungnya lagi.
“Kalau begitu, aku tidak akan membiarkanmu mabuk kecuali kalau kau bersamaku..” kataku datar.
Ia melotot menatapku. Aku balas memelototinya.
“Kara-shii..”
Ia tak menggubris. Matanya menolak menatapku.
“Bisakah.. bisakah kau mengulangnya sekali lagi?”
Matanya melebar. Menatapku bingung.
“Apanya?” tanyanya pendek.
Aku segera merengkuh wajahnya. Mendaratkan bibirku di bibirnya.
*
“Donghae Oppa, mianhae soal kemarin…”
“Hm?”
“Itu.. Itu.. aku menendangmu di Rumah Sakit…”
“Oh.. waktu aku menciummu?”
“Ne..Oppa… aku tidak sengaja.. Jeongmal Mianhae…”
“Ne Cheonmaneyo…”
“Aku tahu Oppa akan memaafkanku.. Oppa terbaik sedunia…”
“Hyun Mi-ah”
“Ne, Oppa?”
“Bisakah kau berjanji satu hal untukku?”
“Mwo?”
“Kalau Kyuhyun menyakitimu, kembalilah padaku..kau mau?”
-End-
02 Juni- 02 Agustus 2011
Finally ends!
Thankz to:
Ame Lee Raka (SPESIAL): Hoi Non,… ayo buruan publish FF-mu…,Nana: buat blognya, hehehe, you are my hero!, Essy Unnie: buat segala macam dan jenis paksaannya di wall-ku.. hohoho, Aiiuw & Cacamoi: Unyuk akan segera menyusul!, Hielda: kau kemana saja nak?, Eunki-Unnie: Terimakasih karena ngenalin FF saya di SJFF, you’re Jjang.. hehe, Super Junior Fanfiction, Korean Fanfic Lovers en Wonderfanfiction: thanks to publish! ,Be Luph Na: buat support-nya, dan seluruh Reader yang gak bisa aku sebutin satu-satu… GOMAWO 1000X, bow300x.. MIANHAE lo kadang publishnya setengah2 atao ngaret… maklum: saya manusia biasa… bisa lupa,suka gak jelas, en suka ngaret.. hohoho…
Dengan segala hormat dan sedikit memaksa: Komentarlah… Saya udah berjuang untuk Nge-tag lebih dari seratus orang gara2 ne adlh part terakhir, trus saya juga melekan nunggu tengah malem gara2 nge-pas-in moment sama MVnya Suju (hahaha, kagak nyambung ya?), Saya kasih tau rasanya: ENCOK sodara2….hehe, so Koment yhak?
Berikutnya saya mau fokus ma FF The Great D atau kalo saya berubah pikiran saya ganti jadi Monkey-Moon –nah lo… judulnya udah aneh kan..- (Main Cast: Hyukjae), Oneshot Series sequel HOG dan tentunya TBMN yang kayaknya udah mulai ditagih2 juga….
Eniwei… cukup sampai disini… semoga tidak bosan membaca tulisan saya yang menjengkelkan karena selalu membuat Bias kalian kelihatan jelek, hahahaha….dari lubuk hati saya yang terdalam: MEREKA SELALU YANG PALING GANTENG KOK…
Finally…
Dapet salam dari Bang KyuHaeHyuk… Lophe u all!

Baibai…..^_^

14 thoughts on “He’s Our Girl part 13 End

  1. Kyaaa…….seruuu bangeett…
    Ituu..ituu..sueerr..bacanya ikut deg2ann….
    Feel nya dapet banget!kkkk~
    Kyuhyun..berasa bgt tampangny bkln aneh klo mrh2 gtu…
    Aaaa….bkin sequelnya thor…
    Ituu..pengennya nnti mrk brntm,asikann…#plak
    kyuuhyyuuunn……..*cipokbasah*

  2. Huhu, akhirnya release (?) juga nih FF.. ==’
    Ga sabar nungguinnya..
    ^.^
    But, daebak!!
    ^o^
    Saranghae author.. #hiraukan

  3. wahh , donghaenya kacian deh….
    tp kyu tega masa kara disuruh cuci mulut pake detergen sgala sich….

    finally ,,,thanks author…keep writting nice ff yah….gomawo

    daebakkkkkkk….

  4. tamat….akhirnya sama si evil juga…
    gak suka ma hae, tapi mau di cium…hadeuuuhh saya juga mau…
    beruntungnya….???
    sumpah keren nih FF….

  5. Dr awal baca aku udh ngakak gaje… FF ini bagus bgt.. Bahasa nya ringan dan ga ngebosenin.. Aku selalu suka dg cast kyu hae.. Dan slalu hae yg mengalah.. *sini bang sm aku aj *digampar…. Hahaha ditunggu ya thor karya selanjut nya *cium author :* :*

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s