He’s Our Girl 12

He’s Our Girl 12 (FV) Oneyhalva is Real

Main Cast: Cho Kyuhyun, Cho Minho/Kara/Park Hyun Mi, Lee Donghae, Lee Hyukjae, Cho Ahra

Support Cast : Kim Kibum, Yesung, Choi Siwon, Kim Heechul, Lee Sungmin, Leeteuk, Lee Taemin, Shindong, Ryeowook

Genre:  Romance (Pendusta.. apanya yang romantis coba’? hahaha)

Lenght : Chaptered
Kyuhyun POV
Donghae Hyung berdiri didepanku. Disampingnya ada leeteuk dan Siwon Hyung. Disebelahku, Eunhyuk Hyung duduk sambil menunduk.
“Katakan apa yang baru kalian lakukan…” Leeteuk Hyung angkat suara. Aku membuang pandanganku ke jendela. Menatap gorden ruang tengah yang terpanggang matahari sore. Ekor mataku melirik Donghae Hyung yang juga melirikku.
“Aku paling tidak suka pria pengecut yang memanfaatkan wanita yang menyukainya… Apalagi wanita itu adalah wanita yang kusukai” kata Donghae Hyung tajam. Walaupun matanya menunduk kebawah, aku bisa merasakan kalau dia menujukan kata-katanya untukku.
Siwon dan Eunhyuk Hyung memandangiku dan Donghae Hyung bergantian.
“Jangan memakai kalimat membingungkan seperti itu,.. Katakan saja…Ada apa dengan Kara? Kenapa kakinya bisa diperban begitu?” Siwon Hyung ikut bertanya.
“Aku meninggalkannya di jalan dan dia tertabrak mobil saat menelfon Donghae Hyung..” jawabku cepat. Kurasakan tiga Hyung didepanku menatapku marah. Aku membuang pandanganku ke tembok.
“Kenapa kau meninggalkannya di jalan?” Siwon Hyung memotong.
“Karena… Karena dia membuatku kesal…” jawabku gugup.
“Memangnya apa yang dia lakukan?” tanyanya lebih jauh. Aku semakin malas menjawab. Pada dasarnya aku memang berada di pihak tersangka. Aku yang salah.
“Mianhae… memang aku yang salah…” kataku menyerah. Tangan Eunhyuk Hyung merangkul pundakku.
“Dan kau Donghae… Mengapa kau memukul dongsaengmu seperti itu? Kau tahu masalahnya akan rumit kalau media tahu kalian bertengkar… apalagi masalah wanita..” Leeteuk Hyung bertanya lagi.
“Mianhae… Jeongmal Mianhae.. Aku tak bisa menahan emosiku… Lain kali aku berjanji takkan melakukannya..” katanya pelan. Aku melirik wajahnya yang menunduk. Matanya basah. Dia memang kadang agak cengeng. Dan pastinya Hyung-hyungku tidak akan memarahinya kalau sudah begini. Siwon Hyung menepuk-nepuk punggungnya.
“Jika peristiwa seperti ini terulang… Kara yang akan keluar..” kata Leeteuk Hyung tegas.
Aku membelalak. Begitu juga Donghae Hyung.
“Aniyo… Aku yang salah.. Jangan libatkan dia..”Donghae Hyung segera memotong.
“Jangan lakukan itu Hyung… Dia sama sekali tidak bersalah…” lanjutku.
“Terserah kalian berdua… Sekali lagi hal seperti ini terjadi, Kara yang akan keluar…” katanya sambil bangkit berdiri. Eunhyuk dan Siwon Hyung ikut memasuki kamarnya, meninggalkan aku dan Donghae Hyung di ruang tengah.
Hening.
“Aku akan syuting ke Taiwan setengah bulan…” katanya singkat. aku menoleh. Menatapnya. Lalu menunduk lagi.
“Jaga dia baik-baik…Aku tidak akan membiarkannya keluar dari Dorm ini, jadi kuharap berhentilah melakukan hal-hal yang membuatku emosi..” katanya serius.
“Kalau memang yang terbaik aku yang jaga jarak darinya, Biar aku saja yang menjauh…Kau bilang aku selalu membuatnya terluka kan?” balasku. Dia menatapku.
“Baru tiga jam yang lalu kau bilang dengan yakin hanya kau yang tahu cara membuatnya berhenti menangis, dan tiba-tiba sekarang kau bilang dengan mudah akan menjauh darinya…. Aku benar-benar ingin tahu, apa benar kau menyukainya Cho Kyuhyun?”
Aku mendengus. Tak menjawab. Membalas ucapannya hanya akan memancing perdebatan yang lebih panjang.
“Aku ke Taiwan bukan untuk mengalah darimu… Sebelum ia mengatakan dengan mulutnya sendiri kalau dia memilihmu, aku tidak akan mundur..”
*
Kara POV
Saat mataku membuka, kulihat Heechul dan Hyukjae Oppa tengah duduk disebelahku. Mereka sepertinya baru saja pulang dari show. Kulihat keduanya masih mengenakan pakaian aneh dan masih mengenakan make up. Rambut Heechul Oppa dikuncir ke belakang sementara si Monyet membiarkan poninya yang lebat dan simetris menutupi alisnya. Kalau dilihat-lihat, ternyata si Monyet itu tampan juga. Apakah karena sehari-hari dia kelihatan jelek ya?
Mereka tersenyum dan membantuku duduk.
Sebenarnya aku ingin bertanya kemana perginya dua manusia yang tadi berduel didepanku, namun aku mengurungkannya.
“Sudah baikan?” tanya si Bencong sambil menatapku. Aku mengangguk. Melihatnya takut-takut.
“Kau tunggu sebentar ya,… Aku ambilkan bubur.. aku juga mau ganti baju dulu,” kata Hyukjae Oppa menyambung. Mataku menangkap wajahnya lagi.
Aish…. Kenapa dia tampan sekali? Membuatku mulutku sulit bereaksi.
“Kau kenapa? Apa masih ada yang sakit?” Tanya si Bencong yang agak cemas melihatku diam saja. Aku menatapnya kikuk.
Si Monyet membuka selimutku dan memeriksa kakiku yang diperban.
“Mengapa melihatku seperti itu?” akhirnya si Monyet itu sadar juga kalau aku mengamati wajahnya dari tadi.
“An-iyo…” jawabku gugup.
Ia tertawa dan mengelus dagunya sambil memasang wajah sok ganteng.
“Kau tak perlu menjawab… Aku tahu kau sedang berpikir mengapa aku tampan sekali kan?.. Yah.. malam ini memang aku sangat tampan…” katanya sombong. Aku nyengir.
Heechul Oppa merangkul pundak Hyukjae Oppa dan menjitak kepalanya.
“Lihatlah… bukankah kami pasangan ideal?..” sambungnya lagi.
Si Bencong memeluknya sepenuh hati. Aku bergidik melihat kelakuan mereka berdua.
“Sudahlah Jjagiya,,…. Ayo kita ganti baju dulu…Tidak baik membiarkan Kara melihat kita ganti baju disini…” kata si Bencong masih dengan tangan menggantung di pundak si Monyet.
Aish…Menji-jik-kan…
Mereka kemudian keluar dari kamar.
Aku bangkit duduk dan membuka selimutku. Kaki kananku diperban. Begitu juga telapak tangan kiriku. Beberapa menit kemudian kudengar suara pintu menjeblak.
Dan..
Sepotong muka setan menyembul dari pintu. Ia membawa nampan berisi mangkuk dan gelas air putih. Kakinya menendang daun pintu. Ia mendekat. Aku meliriknya dengan muka bersungut. Teringat lagi adegan cium-setan semalam dan adegan dicium-setan tadi siang.
“Ayo makan…” katanya singkat.
Aku diam saja. Mukaku menunduk.
“Yhak… Kau mau makan sambil menunduk begitu?” katanya lagi. Aku mengangkat wajahku dan seketika merasa mukaku panas.
“Kenapa kau memandangi bibirku?”
KYA………
“Ayo makan dulu.. setelah itu kau sikat gigi, nanti kita bisa melakukannya lagi lebih lama…” katanya enteng sambil menahan tawa. Aku memukul kepalanya dengan bantal.
Ia menyendokkan bubur dari mangkoknya dan mengarahkannya ke bibirku. Aku membuka mulut dan menelan bubur itu sambil diam.
“Baiklah… sebelum kau merusak mood-ku dengan bertanya ‘pangeran’mu kemana, aku akan bilang sekarang saja.. Dia sekarang ada di Taiwan, sedang syuting dengan Siwon Hyung. Tadinya dia berniat pamitan padamu, tapi kau pingsan seperti mayat, jadi dia berangkat lebih dulu..”
Aku sedikit kaget. Syuting di Taiwan?
“Sampai kapan?” tanyaku reflex. Kyuhyun tidak menatapku dan malah sibuk memandangi bubur di tangannya.
“Setengah Bulan…” katanya singkat.
Hm.. setengah bulan tidak ketemu ya?
“Kenapa? Sedih?” tanyanya lagi.
Aku menatapnya agak sebal.
“Tentu saja…” jawabku. Dia segera menaruh nampannya diatas meja dan berdiri.
Aku menarik tangannya. Dia tak melihatku.
“Yhak.. Kenapa kau marah?” tanyaku setengah berteriak.
Ia melirikku sinis.
“Kenapa aku harus marah?” tanyanya dengan wajah emosi.
Aish.. Namja tolol ini…masih mengelak dia suka padaku?
“Apa aku harus katakana kenapa kau harus marah… Sudah pasti karena kau cemburu padanya…” kataku enteng. Sepertinya ini seru sekali. Lihatlah, wajahnya merah dan tampak lucu sekali.
Ia menghempaskan tanganku yang memegangi tangannya. Karena terlalu keras, aku terhuyung dari kasur dan jatuh ke lantai. Kakiku terlilit selimut. Seketika aku berteriak karena rasanya nyeri sekali. Kyuhyun segera membalik badannya dan membantuku naik ke atas kasur. Mukanya terlihat cemas.
“Mianhae… ” kataku tulus. Ia melirikku sambil tersenyum.
“Maafkan aku juga soal tadi siang… Kau jadi tertabrak karena aku meninggalkanmu di jalan..” katanya agak gugup.
“Ne… lupakan saja…” kataku singkat.
Suasana jadi hening dan kami berdua jadi salah tingkah. Ia masih setengah duduk disebelah kasurku.
“A-pa.. kakimu masih sakit?” dia bertanya.
“Aniyo… sudah lebih baik..” jawabku cepat.
“Aku tidak pernah bermaksud membuatmu sakit… tapi… yah… ini kedua kalinya aku melukaimu.. Mianhae, Jeongmal Mianhae… lain kali aku akan jaga jarak denganmu…”
Kata-katanya membuatku kaget. Jaga jarak?
“Aniyo… Kau tak perlu melakukannya… ini juga bukan salahmu… aku memang kadang-kadang menyebalkan…” sanggahku.
Dia tak berani menatapku. Matanya mengamati tembok.
“Tidak… Kurasa benar juga kata Hyung-hyung kalau aku dekat-dekat denganmu kau selalu kena masalah..” katanya.
Aku meliriknya agak cemas.
“Aniyo… Jangan berpikir begitu…Sudah kubilang ini bukan gara-gara kau.. Aku memang ceroboh..” sangkalku buru-buru.
Bukankah percakapan ini aneh sekali?
Ini pertama kalinya kami saling menyalahkan diri sendiri.
“Baiklah, aku setuju, kita lupakan saja…Kalau begitu.. ayo teruskan makan buburnya..” ia mengambil mangkuk bubur dan menyendokkan bubur dari mangkuk dengan kikuk. Aku mengamatinya.
“Kyuhyun-ah.. apa kau sudah minta maaf pada Doghae Oppa?”
Ia berhenti mengangkat sendoknya. Menaruhnya lagi di mangkok.
“Kenapa aku yang kau suruh minta maaf? Dia yang memukulku duluan…” katanya serius.
“Tapi kan kau dongsaeng-nya…” potongku.
Ia mendengus.
“Ne… Ne… aku akan minta maaf padanya…” katanya setengah hati. Ia menyendok bubur dan memasukkannya ke mulutku.
“Kyuhyun-ah…” panggilku.
“Hmmm…” dia berdehem malas.
“Kau mau menemaniku menonton konser?” tanyaku yang segera membuatnya bereaksi berlebihan.
“Apa itu artinya kau mengajakku kencan?”
Aish… apa yang ada di otaknya? Kencan?
“Aniyo… Aku tak punya teman kesana…Aku sudah beli tiketnya kemarin…” kataku segera.
“Eh… tapi tentu saja aku tak bisa menemanimu..” katanya lemas. Seperti baru mengingat sesuatu. Aku mengernyit.
“Kenapa? Kau ada show?”
“Tentu saja… Aku kan ada di atas panggung…” sambungnya kecewa.
Sudah kuduga bocah ini salah paham. Dia kira kami akan melihat konser S.M.The Ballad –group bandnya yang selalu menyanyikan lagu menyedihkan itu- besok malam?
“Hyak.. Kau kira kita akan ke konsermu yang membosankan itu? Aish… Buat apa aku melihatmu menyanyi di panggung… Mataku sudah sakit hati melihatmu setiap hari…” kataku cepat. Ia memukul kepalaku dengan sendok.
“Kita akan melihat Konser Shinee selasa depan… bagaimana?”
Dan mukanya langsung merengut.
“Aish… Untuk apa melihat bocah-bocah itu berjoget?…” katanya.
“Aku sudah beli tiketnya… untuk dua orang…” ujarku tak menghiraukan protesnya.
“Baiklah… tapi kau juga harus melihat konserku lusa malam…”
Aku mendelik.
“Aniyo… Kakiku masih sakit… tidak bisa jalan…” kataku mencari alas an.
Mukanya menyeringai.
“Aku yang akan menggendongmu, bagaimana?”
Pletak!
Tanganku mendarat di kepalanya.
“Aish.. aku bisa mati bosan melihat konser seperti itu…Tidak ada dance-nya, tidak menarik…melihat kau berteriak-teriak selama satu jam… telingaku bisa terbakar…” tambahku lagi.
Pletak!
Aku yang kena jitak sekarang.
“Kalau begitu aku juga tidak akan menemanimu melihat Konser Shinee…” tolaknya santai. Aku membelalak.
“Kalau begitu akan mengajak Hyukjae Oppa saja..” jawabku cepat.
“Sayangnya Hyukjae Hyung akan pergi dengan Noona-ku…” katanya membalas.
“Kalau begitu dengan Siwon Oppa..”
“Kau lupa dia di Taiwan hah?”
“Kalau begitu aku akan mengajak Oppa yang lain..”
Dia memukul mangkoknya dengan sendok dan mendesis.
“Aish… berhentilah menjadi makhluk menyebalkan…” katanya.
“Ne…Karena kau memaksa,. aku akan melihat konsermu..” kataku setengah hati.
Mukanya berbinar.
“Aku akan pastikan kau tidak bosan melihatku…”
Mataku melebar. Apa maksudnya dia bilang begitu?
“Kau tidak perlu bingung, kan kalian tampil berempat… kalau aku bosan, aku bisa melihat Jino-”
Pletak!
Sebelum kalimatku selesai, tangannya mampir lagi di kepalaku. Aku meringis dan menatapnya tak terima.
“Kau bisa tahu Jino juga?” tanyanya kemudian. Mulutnya menyeringai jelek.
“Ne… Aku mengenal semua Namja imut di Korea… karena wajahmu seperti Ahjus-“
Pletak!
*
Kyuhyun POV
“Hyung-ah…” kataku sambil mendekatkan dudukku disebelah Eunhyuk Hyung. Kami sedang duduk di ruang tunggu menunggu MC memanggil Super Junior. Kami tengah mengisi acara music mala mini. Dengan formasi hanya Sembilan orang, ruang tunggu pun serasa sepi. Padahal kalau kupikir-pikir Donghae dan Siwon Hyung bukan tipe ‘peramai suasana’ dan walaupun aku masih muak setengah mati dengannya, tidak ada mereka benar-benar terasa berbeda. Aku melirik muka si Monyet yang sedang main ponsel disebelahku.
“Ada apa?” tanyanya. Ia buru-buru menaruh ponselnya dan menatapku sopan. Kelakuannya sudah begini sejak dia mengumumkan hubungannya dengan Noona-ku. Tentu saja dia berharap aku segera merestui hubungan mereka berdua.
“Kau mau menolongku melakukan sesuatu?” tanyaku hati-hati.
Mukanya langsung serius. Tangannya mendadak naik ke kepalaku. Mengelus rambutku. Aku meliriknya dengan muka bingung dan ingin muntah.
“Tentu saja adikku sayang….”
KYAAAAA………..
Telingaku berontak tak terima. Tapi posisiku sedang tidak bagus untuk membalasnya dengan jitakan.
Baiklah Cho Kyuhyun…
Mengalahlah sedikit…
“Maukah kau mengantar Kara menonton konserku besok malam?.. Kau tahu sendiri kan, kakinya masih sakit…” tanyaku pelan. Dia mengernyit.
“Dia mau?” tanyanya sangsi.
Aish.. pertanyaannya benar-benar membuat emosiku menanjak.
“Ne… “ jawabku singkat.
“Baiklah…”
Tanganku segara menahan tangannya yang hendak memasang earphone.
“Satu lagi…” kataku sedikit memohon.
“Apa?”
*
Kara POV
Saat aku pingsan kemarin, Donghae Oppa mengirimiku tujuh pesan singkat yang sama. Menyuruhku menghubunginya kalau aku sudah terbangun. Aku mengiriminya pesan sesuai keinginannya dan terus saling membalas pesan hingga siang ini. Aku melirik dua foto yang baru ia kirimkan dari Taiwan. Satu foto saat dia tiduran di kamarnya, dan satu foto lagi saat dia bersama Siwon Oppa didepan hotel. Seperti biasa, ia kelihatan tampan.
Mataku beralih membaca pesan lain. Dari Kyuhyun.
Kau akan mati muda kalau coba-coba tidak datang malam ini..
Lengkap dengan foto close-up wajahnya sendiri dengan tampang dipaksa keren. Aku tertawa melihatnya. Seperti biasa, mukanya jerawatan.
Aku mendengar seseorang membuka pintu kamarku. Ternyata si Monyet.
“Kara-shii… Kau belum siap-siap?” Tanya Eunhyuk Oppa cepat. Aku mengangguk dan menunjuk baju yang menggantung didekat almariku.
“Kita sekeluarga akan berangkat semobil malam ini….Kau pakai baju itu?” tanyanya lagi. Telingaku agak gatal mendengarnya menyebut ‘kita sekeluarga’. Aish… Dosa apa yang telah kuperbuat hingga harus sekeluarga dengan seekor monyet?
“Ne… Tentu saja..” kataku. Eunhyuk Oppa menggaruk kepalanya.
“Kyuhyun menyuruhmu memakai gaun kan?”
Mukaku menyeringai.
“Dia akan mati muda kalau aku sampai memakainya…” jawabku sadis. Eunhyuk Oppa tertawa dan menutup pintu kamarku.
Aku buru-buru menyambar jaket dan lari menuju lift. Menarik tangan Yesung dan Ryeowook Oppa yang juga ikut berangkat menonton konser. Membuka pintu mobil dan kami duduk di jok belakang. Kulihat Ahra Unnie duduk disebelah Eunhyuk Oppa di depan.
“Kau ikut juga?” Tanya Yesung Oppa yang masih kaget melihatku ikut naik mobil. Aku mengangguk tak menjawab.
Kami sampai di lokasi konser. Didepan loket kami membeli Lightstick. Semua penghuni mobil sepakat membeli Lightstick bertuliskan ‘Kyuhyun’ kecuali aku. Tentu saja aku takkan menyia-nyiakan uang sakuku yang terbatas untuk membeli benda-benda pembawa sial seperti itu.Aku membeli Lightstick bertuliskan ‘Jino’dan mengekor dibelakang Yesung Oppa mencari kursi di balkon paling depan. Beberapa penonton yang sadar Yesung, Ryeowook dan Eunhyuk Oppa baru saja lewat serentak berteriak-teriak.
Aku mengambil kursi disebelah kiri Ahra Unnie. Oppa-ku yang lain duduk berjajar disebelah kanan Ahra Unnie.
Konser berlangsung membosankan, tepat seperti dugaanku. Kyuhyun menyanyi berkali-kali. Ia memakai setelan jas dengan rambut disisir rapi. Tampan. Tapi tak cukup tampan untuk membuatku tidak bosan. Aku melihat mereka dengan tangan terlipat di dada. Jino terlihat tua malam ini. Dia berdiri didekat Jonghyun. Kyuhyun berdiri di samping Jay.
Awalnya aku memang kaget mendengar suara Kyuhyun yang ternyata, ehm,… merdu sekali. Mengamati teknik bernyanyi-nya. Namun sekali lagi, ini membosankan. Tidak ada yang mereka lakukan selain beryanyi bergantian dan berteriak-teriak. Yang paling menjengkelkan adalah saat sesi menyanyukan lagu kebangsaan ‘Hot Times’. Lagu yang penuh lolongan itu benar-benar membuat telingaku sekarat. Selain mereka berempat yang berteriak sekuat tenaga, penonton juga ikut berteriak sepenuh hati.
Setelah lagu ke-lima yang dinyanyikan solo oleh Jonghyun, kulihat bocah itu nongol lagi di panggung. Ia mengganti jasnya dengan kaos lengan pendek dan ceana jeans. Anak itu memang abnormal, menyanyikan lagu mendayu-dayu dengan kostum bocah petualang seperti itu?
Dia berdiri ditengah panggung. Sepertinya menyanyi duet bersama jonghyun Oppa yang juga berdiri disebelahnya. Mereka sama-sama memakai kaos.
Musik diputar.
Ring Ding Dong?
Mulutku menganga.
Bocah tolol itu mulai menggerakkan badannya. Menirukan gerakan Jonghyun disebelahnya. Ia memutar pantatnya dengan bahagia.
Dan ballroom seperti meledak saat Kyuhyun sinting itu salah memutar pantatnya ke kiri. Jonghyun bahkan sampai jatuh terduduk menahan tawa disebelahnya. Pada akhirnya, Jonghyun hanya mengamati Kyuhyun dan tidak ikut berjoget. Bocah setan itu mengubah banyak gerakan Ring Ding Dong menjadi gerakan ‘No Other’.
*
Hampir setengah sepuluh malam. Konser sepertinya akan berakhir. Aku menatap panggung tak sabar. Kenapa mereka tak segera mengakhiri konser dan malah berpose sok ganteng di atas panggung? Mereka harusnya berpikir bahwa diantara ribuan penggemar disini, ada beberapa orang merana yang datang menonton karena ‘terpaksa’. Sepertiku.
Pada akhirnya, setelah perkenalan yang tidak perlu, mereka mengumbar salam perpisahan yang ditutup dengan lagu Ost. Drama yang membuatku jatuh cinta sejak pertama kali mendengarkannya, Hope is a Dream that Doesn’t Sleep. Mereka menyanyikannya keroyokan, alias berempat.
Mataku tidak jadi mengantuk mendengar lagu itu dinyanyikan.
Menuju akhir part lagu, namja-namja itu mendadak mengeluarkan setangkai mawar dari dalam jas mereka. Penonton berteriak histeris saat satu persatu personel meninggalkan panggung menuju balkon penonton. Beberapa bodyguard mengawal mereka dengan ketat.
Eh, apa bocah itu menuju ke arahku ya?
Kulihat Kyuhyun mendekat ke barisan balkon yang kududuki. Eunhyuk dan Yesung Oppa kompak melirikku. Aku jadi gugup sendiri. Ahra Unnie juga memasang senyum penuh arti ke arahku. Aku semakin grogi.
Aish.. apa ini maksudnya dia bilang ‘aku tak akan bosan’?
Kyuhyun makin dekat.
Kakinya berhenti melangkah didepanku. Ia masih menyanyikan part terakhir lagu dan menyodorkan mawar itu sambil setengah berjongkok. Aku menghela nafas gugup. Aku tak berani menatap matanya. Aku menunduk bingung dan dengan tidak sadar menjuntaikan tanganku mengambil mawar yang ternyata..
UNTUK AHRA UNNIE…….
*

Kyuhyun POV
Sejak peristiwa ‘setangkai mawar’ itu, Kara mogok bicara denganku. Seharian ini ia tak menyapaku.
Malam itu, Stasiun KBS sedang menayangkan Film kesukaannya, Harry Potter entah seri yang keberapa. Saat aku masuk apartemen yang ternyata hanya berisi aku dan dia, dia tak melirikku. Kelihatan sekali masih emosi. Tangan kanannya memegangi coklat, sementara tangan kirinya menggenggam remote control. Aku pura-pura mengambil PSP dan duduk disebelahnya. Main game. Ia tak menggubrisku dan tidak juga beralih tempat. Jelas sekali ia tak rela merelakan tayangan Harry Potter-nya terlewat begitu saja, hanya gara-gara aku ikut duduk di ruang TV.
Sepuluh menit tanpa dialog.
“Aku lapar…” kataku mengeluh. Dia tak bereaksi. Matanya sibuk memelototi Daniel Radcliffe yang sedang naik sapu terbang.
“Cho Minho……Aku Lapaaaaaaar….” Kali ini aku mengucapkannya lebih panjang. Berharap gadis pendek itu menanggapi keluhanku.
“Makanlah…” jawabnya singkat. Matanya masih menatap Layar TV.
“Makan apa?” tanyaku agak bersemangat karena dia menjawab keluhanku.
“Kau bisa makan meja didepanmu…” jawabnya datar.
Hyak….
“Aku ingin makanan yang enak…” kataku tak menggubris kata-katanya.
“Kau bisa makan kursinya kalau masih belum kenyang…” lanjutnya tanpa ekspresi.
“Hyak Cho Minho… Masakkan aku Jjangmyeon!” teriakku sambil menarik-narik tangannya. Dia melirikku sinis. Lalu memelototi TV lagi.
“Aniyo…. Kau tak lihat Harry Potter sedang dalam bahaya? Bagaimana jika nanti dia butuh pertolonganku? Bagaimana nanti kalau dia mati karena aku tidak sempat menolongnya gara-gara jjangmyeonmu itu?….. ”
Kalimatnya benar-benar membuatku ingin mencekik Harry Potter.
“Kau tak lihat judulnya Harry Potter hah? Itu artinya dia akan terus hidup sampai filmnya tamat…Kalau dia sampai mati… Judulnya akan ganti.…Aku berani bertaruh dia akan terus hidup sekalipun kepalanya hilang…” kataku asal.
Dia meremas rambutnya kesal. Menatapku garang. Pasti dia sedang emosi jiwa gara-gara mulutku menghina Harry Potter-nya.
“TUTUP MULUTMU CHO KYUHYUN…Kau merusak mood-ku…”
“Apa kau tak bosan menonton film itu? Bukannya kau sudah melihatnya berkali-kali hah?”
Ia mendengus. Aku merebut remote dan segera menekan tombol OFF. Kara melotot. Menendang kakiku keras. Aku buru-buru berdiri menghindar.
“Kau tak dengar aku lapar hah? Masakkan aku Jjangmyeon!”
Dia meniup poninya. Memelotiku penuh intimidasi. Aku menatapnya balik.
“Maaf, tapi aku tak punya urusan dengan perutmu..” katanya sambil menjulur-julurkan tangannya mencoba merebut remote yang kupegang. Aku melempar remote ke sofa dan menarik tangannya.
“Kalau kau tak mau masakkan Jjangmyeon untukku…”
“Apa? Kau mau apa hah?” tantangnya cepat.
“Aku akan makan bibirmu..”
*
Kara POV
Aku berlari sambil berteriak menuju dapur. Setan itu tertawa menggelegar dari ruang tengah. Aku memasakkannya Jjangmyeon dan membawanya ke ruang tengah. Begitu mangkuknya telah duduk manis di meja, aku berjinjit masuk ke kamarku dan menguncinya.
Makan bibirku katanya?
Bocah itu semakin mesum saja..
Aku segera menarik selimut dan menutupi wajahku dengan bantal. Baru limabelas menit aku bersiap tidur, kudengar pintu kamar menjeblak. Bukannya tadi sudah kukunci? Aish… kamar ini memang sudah tidak aman.
“Cho Minho… Kau sudah tidur?”
Setan!!!!!!
“Hyak… Jangan pura-pura tidur… Aku tahu kau masih bangun…”kakinya menjawil-jawil selimutku. Terdengar suara deritan kasur dan sepertinya namja tolol itu sudah berbaring disebelahku. Aku mengatupkan mata dan mengatur nafas. Berusaha terlihat sudah lelap. Sebelumnya, hanya si Monyet Hutan yang punya duplikat kunci kamarku. Dan setan ini? Aish.. pasti dia mengambilnya dari lemari si Monyet.
“M-wo?” akhirnya aku membuka selimut dan berpura-pura mengantuk. Sebenarnya aku tak mengantuk sama sekali.
“Baguslah…”
Aku meliriknya sadis.
“Apa lagi yang kau rencanakan ChoKyuhyun?” tanyaku cepat. Dia menyeringai.
“Kau masih marah soal mawar itu ya?..” tanyanya santai.
Aku mengerucutkan mulut. Aku dijadikan menu ledekan Oppa-Oppa gara-gara setangkai mawar jelek itu seharian. Mana mungkin aku tidak naik darah?
“Itu salahmu sendiri karena kau tidak memakai gaun sesuai instruksiku…”
Ia berhenti bicara. Menghela nafas sebentar. Aku tidak mengerti alur pembicaraannya.
“Kau tak tahu aku mati-matian belajar Ring Ding Dong agar kau tak bosan hah? Aku menggadaikan mukaku meminta si Monyet mengajariku…dan kau seenaknya marah sekarang…”
Otakku ngadat. Eh? Dia belajar Ring Ding Dong untukku?
“Atau kau berharap mendapat mawar dariku ya?”
Aku melemparnya dengan bantal.
“Kau seharusnya mengerti kondisiku… Kalau kuberikan mawar itu padamu, apa kata Sparkyu? Aku menghadiahi Namja setangkai mawar?…” aku bergidik mendengarnya mengucapkan ‘Sparkyu’. Jadi itu sebabnya dia memberikan mawarnya pada Ahra Unnie? Untuk memastikan pada semua orang bahwa dia normal?
“Jadi sejak awal kau memang berencana memberiku mawar ya?..” godaku. Ia menyeringai.
“Aniyo… Untuk apa aku memberimu mawar?” sangkalnya tergesa-gesa.
“Kau mau aku jawab bagaimana?” sanggahku.
Dia gelagapan. Memutar-mutar posisi berdirinya.
“Dari awal memang mawar itu untuk Ahra Noona…” sangkalnya lagi. Kali ini ia keliahatan kikuk. Aku bangkit duduk dan menatapnya. Ia belingsatan. Melarikan bola matanya ke pintu kamarku.
“Oh ya?…Dasar Pendusta…”
Ia semakin salah tingkah.
“Baiklah… Lupakan masalah mawar pembawa sial itu… aku hanya akan memberimu saran… lain kali jangan beri aku mawar… aku tidak suka mawar..” kataku cepat.
Ia melirikku.
“Waeyo? Kurang besar ya? Lain kali akan kubelikan Bunga BANGKAI saja… bagaimana?” tanyanya sambil tertawa menyebalkan.
Aku menyeringai. Menjitak kepalanya.
“Baiklah.. Lain kali akan kubelikan kau cokelat.. kau suka kan?”
Aku mengangguk dan tertawa lebar.
“Ne… Kau memang harus melakukannya… belikan aku cokelat yang banyak…”
*
Kyuhyun POV
Aku terbelalak melihat Kara yang baru keluar dari kamar Heechul Hyung. Kara bilang, malam ini, demi Taemin,ia akan tampil ‘all out’. Dan sebagai strategi jitu, ia menyewa Heechul Hyung untuk meriasnya sejak jam lima sore tadi. Eunhyuk Hyung yang sedang menonton TV disebelah Sungmin Hyung, juga sama kagetnya denganku.
Ia, dengan kurang ajarnya memakai gaun yang seharusnya ia pakai untuk menonton konserku minggu lalu. Ia juga memakai wig panjang. Monyet dan Sungmin Hyyung bertepuk tangan sambil mengarahkan kamera ponselnya ke Kara. Dia memang kelihatan cantik malam ini.
“Yah… sayang sekali Donghae tidak melihatmu sekarang… tapi jangan kuatir Kara sayang, aku akan mengirimkan fotomu segera..” kata Eunhyuk Hyung sambil mencubit pipinya. Aku mendengus sambil pura-pura melirik jam.
“ADWAE OPPA… jangan beritahu Donghae Oppa…” teriak Kara.
Sungmin Hyung mengerutkan kening.
“Memangnya kenapa?” tanyanya sambil memelotti Kara.
“Aku pasti kelihatan jelek sekali…”desahnya pendek. Aku menyeringai. Benar anak bodoh, jangan beritahu si Ikan kalau kau bisa secantik ini… Berbahaya… bisa-bisa dia langsung mengajakmu nikah… Andwae!!
Heechul Hyung yang baru keluar dari kamar langsung menyerobot tangan Kara.
“Hya… Kau meragukan kemampuan meriasku?.. Aish… lihat… itu fotomu sebelum kuservis…dan sekarang… kesinilah… lihat baik-baik… ini wajahmu setelah kuperbaiki… kau masih mau bilang kau jelek hah?” bentak si Bencong sambil menyeret Kara memelototi fotonya yang menyumpal di pojok lemari dan memaksanya berdiri didepan cermin. Kara menggaruk-garuk puncak kepalanya. Tangan si Bencong dengan sigap menahannya. Kali ini ia melirikku.
“Kau mau berangkat dengannya?” tanyanya pada Kara.
Kara mengangguk cepat.
“Kalau begitu.. pastikan kau jaga jarak dengannya..dia bisa membuatmu kelihatan seperti Ahjumma… Oke.. Kara-ku sayang… pergilah sekarang dan pastikan Taemin melihatmu…” katanya sambil mencubit pipi Kara. Aku benar-benar mual melihat mereka berdua.
“Eunhyuk Oppa… Kata Kyuhyun kau juga ikut menonton dengan Ahra Unnie?” tanyanya pada Eunhyuk Hyung yang langsung melirikku. Aku memberinya kode agar ia mengiyakan, tapi dasar si Monyet itu memang menjengkelkan ia malah mengelak.
“Aniyo… adik ipar pasti salah dengar… Ahra tidak begitu suka Shinee…” katanya cepat. Kara melirikku. Menyeringai. Aku memalingkan wajahku tak peduli.
Eunhyuk dan Sungmin Hyung ikut merubung Kara. Dan,
Cup.. Ccup..
Mereka bergantian mencium pipi Kara.
“Aish,… Menjijikkan” kataku. Si Monyet meringis. Sungmin Hyung memasang wajah polos. Aku menyeret tangan Kara yang belum selesai memasang High Heels-nya. Ia berteriak protes sambil memukuli tanganku. Akhirnya kami tiba di mobil, dan gadis itu melirikku sebal.
“Kau benar-benar merusak tatanan rambutku Cho Kyuhyun…” rutuknya sambil menata rambutnya lewat kaca spion.
“Kau pikir dengan berdandan aneh seperti ini Taemin akan melihatmu?… Kau itu salah kostum… dengan baju seperti itu, kau tak bisa jingkrak-jingkrak bodoh..” kataku sambil menyundul kepalanya dengan telunjuk.
“Hya… Cho Kyuhyun… jaga Jarak lima meter dariku…kau benar-benar merusak rambutku..” protesnya. Aku tertawa dan menyundul kepalanya lagi.
“Kalau begitu keluarlah dari mobil… Lima meter kan?” balasku santai.
“Berhentilah bicara bocah jelekkk…. Kau membuatku emosi jiwa…Lihat tatanan rambutku miring lagi…” katanya setengah berteriak. Mukanya merengut jengkel. Tangannya merapikan poninya.
“Aku tidak merusak tatanan rambutmu… itu kan bukan rambutmu…” kataku santai. Dan bocah itu mendengus frustasi. Memukul kepalaku dengan kemoceng mobil. Aku tertawa melihatnya.
“BOCAH SETAN!!….” Katanya sambil melemparku dengan kemoceng.
“Aish… Apa bagusnya Taemin itu hah? Sampai-sampai kau melempar wajahku yang berharga ini dengan kemoceng..” kataku jengkel. Ia memanyunkan bibirnya.
“Dia tentu saja berkali-kali-kali lipat lebih baik darimu bocah menyebalkan…, Dia itu imut, penurut dan suka tersenyum…Omo… Beruntungnya Shinee mempunyai Magnae sebaik itu.. dan.. be-ta-pa-ma-lang-nya Super Junior karena memiliki Magnae se-per-ti- an-ak-se-tan…” katanya dengan intonasi penuh tekanan.
Aku menyeringai.
“Dengarkan kata-kataku baik-baik Cho Minho… Kau harus mengubah gaya pikirmu itu… Berhentilah menyukai Namja-namja imut.. Kau tak lihat wajahmu itu sudah seperti ‘bayi’,hm? dan apa jadinya kalau pasanganmu nantinya juga berwajah bayi hah? Bisa-bisa anakmu wajahnya rata..” kataku penuh kemenangan.
Aku melihat Kara. Matanya melotot.
“Dan satu lagi… carilah Namja yang tinggi… kau tak mau anakmu setinggi sepatumu kan? Dari sekian banyak Namja di Korea… kenapa kau selalu jatuh hati pada yang pendek-pendek hah?… Pikirkanlah masa depan anakmu juga…” kataku menambahi dengan tawa menggumpal di tenggorokan.
Kara membelalak. Kelihatan marah sekali. Mukanya menyeringai jelek.
“Kau sedang menominasikan dirimu sendiri ya?” katanya singkat. Mulutku seketika mati gaya.
*
Kara POV
Dia berhenti mengomel. Aku sudah tahu kelemahannya ‘ia masih tidak terima mulutnya mengakui kalau dia menyukaiku’. Dan begitu aku membicarakannya, ekspresinya akan kacau sekali.
Aku suka sekali. Suka sekali melihatnya mendadak bisu. Ia kelihatan canggung dan mengalihkan topic pembicaraan. Kami terjebak adu mulut lagi hingga mobil memasuki lokasi Konser.
Kami memasuki ballroom. Sudah sesak. Kami mendapat jatah kursi di barisan kedua. Aku menatap Kyuhyun yang kelihatan seperti penjahat, memakai syal disekeliling wajahnya dan kacamata hitam super lebar. Kami duduk dan dia langsung mendengus jengkel.
Lalu ia sibuk main game.
*
Kyuhyun POV
Lihatlah gadis bodoh disebelahku.
Mulutnya menganga. Tangannya mengatup mulutnya. Ia berteriak-teriak memekakkan telinga hanya karena si manusia karet Lee Taemin mulai memainkan dance solo-nya. Aku meliriknya jengkel.
Bisakah dia mengurangi sedikit saja kadar lebay-nya itu?
Membuatku sesak saja.
Aku mendengus dan menatap lima member Shinee yang sedang menyapa penggemar. Mereka kelihatan aneh sekali. Apalagi si Dino Jonghyun, rambutnya dicat merah menyala. Onew juga tak kalah aneh karena rambutnya ditarik kebelakang dan poni dikeningnya yang biasanya membuatnya imut ikut tertarik ke samping. Key malah lebih nekat lagi, memakai celana skinny warna ungu dengan rambut cepak yang juga berwarna ungu. Dan si Taemin menyebalkan itu? Aish… dialah yang paling parah. Ia memakai kaos ketat dengan rambut setengah keriting yang diwarnai kuning terang. Membuat otakku tak bisa mengerti mengapa gadis dibelahku menggilainya sampai benar-benar gila begini?
Sudah dua jam. Telingaku sudah sedikit mendengung karena teriakan yeoja-yeoja disekelilingku. Dan tentu saja teriakan Kara yang semakin heboh. Aku melirik background panggung yang meremang dan kelima member Shinee yang menggerumbul dii tengah panggung. Semoga konser ini segera tamat.
Benar saja, dari backstage, lima kru panggung menyodorkan lima buket bunga untuk mereka. Jangan bilang mereka akan memberikan buket bunga itu untuk penggemar seperti konsep konser SM The Ballad kemarin? Memang yang mengusulkan adalah Jonghyun, dan dia kelihatan senang sekali kemarin karena berhasil memberikan bunganya pada gadis yang lumayan cantik sekaligus meminta nomor ponselnya. Apakah si Dino jabrik itu akan meklakukannya lagi malam ini?
Aish… aku malas membayangkan penggemarnya yang tentunya akan berteriak lebih histeris dari yang mereka lakukan tadi.
Sepertinya, apa yang sangat tidak kuharapkan malah terkabul. Perlahan, lima namja itu menghambur ke balkon dengan kawalan bodyguard. Yeoja-yeoja berteriak kesetanan. Kara menghela nafasnya dan kelihatan gugup sekali. Mungkin dia berharap Taemin memberikan buket bunganya kepadanya.
Dan hal kedua yang sangat tidak kuharapkan ikut terkabul. Manusia karet itu menuju kearah kami duduk. Aku melirik Kara frustasi. Gadis itu memandangi Taemin tak berkedip dengan telapak tangan saling menggenggam didepan mulutnya.
Taemin, kalau kau sampai berani memberikan buket bunga itu pada Kara, aku benar-benar akan menyumpalkan kursi ini ke hidungmu….
HYA…. TAEMIN…..
Kubilang Jangan mendekat bodoh….
Aku menahan nafas gugup. Aku menyedekapkan tanganku di dada dan menyilangkan kakiku. Berharap bisa sedikit rilex dengan posisi begini. Anak SMA itu kini sudah dua meter didepanku. Yang membuatku lebih emosi jiwa dan raga adalah matanya yang menatap lurus kearah kami. Menatap lurus kearah Kara. Omo… apakah gadis cerewet ini sebegitu menarik perhatianmu Taemin?
Benar saja, pemuda itu mendekat ke balkon tempat kami duduk.
Apakah ini karma karena kemarin aku tak memberikan bunga pada Kara?
Aish… apapun itu, yang jelas Taemin kini sudah bertengger setengah meter didepan Kara. Mulutnya tersenyum menyapa penggemar. Tatapannya memutari ballroom dan kembali menatap lurus kearah aku dan Kara duduk.
Ia mengacungkan buket bunganya dan aku nyaris menutup mata saking tidak siapnya melihat Kara mendapat bunga dari Taemin sialan itu.
Mendadak buket bunga itu menyentuh tanganku begitu saja.
“Sudah kuduga ini benar-benar kau Hyung…Terimakasih Kyuhyun Hyung… Aku benar-benar terharu kau ikut menonton konser kami…” kata Taemin riang. Tangannya menyelipkan buket bunga itu ke genggamanku.
Aku membeku ditempat.
*
Kara POV
Baiklah, sekali lagi aku dipecundangi oleh ‘bunga MAWAR’ jelek!
Bagaimana mungkin Taemin lebih memilih memberikan bunga itu pada Kyuhyun yang seorang Namja?
Kyuhyun yang –jeongmal- menjengkelkan itu kini tengah berdiri didepan panggung. Tengah diwawancarai Jonghyun yang juga takjub melihat Hyungnya yang terkenal cuek itu ikut menyumpal di konsernya. Kyuhyun terlihat kikuk. Tangan Taemin masih menggenggamnya dan lengan Minho juga masih menyampir di pundaknya. Ballroom serasa meledak menyadari si Kyuhyun yang terkenal itu ternyata juga menggemari Shinee.
Sesekali ia memamerkan senyum busuknya kearahku. Benar-benar membuatku berasap.
SETAN MENYEBALKAAANNNNNNNNN………….
*
Kyuhyun POV
Gadis itu melempar sepatunya ke jok belakang. Mukanya tak berbentuk. Ia tak mau melihatku. Aku memegang setir mobil sambil sesekali meliriknya.
“Hya… Cho Kyuhyun… Kau mau membawaku kemana?” akhirnya gadis bodoh itu menyadari juga kalau mobil kami tidak sedang menuju Dorm.
“Kita ke kedai Jjangmyeon dulu… aku lapar…” kataku sambil membelokkan mobilku ke sebuah kedai yang tampak sepi. Aku sedang tidak berminat menyamarkan wajahku sekarang ini. Aku ingin makan dengan damai dan tenang, dan itulah alasannya aku memilih kedai yang agak sepi.
Seorang Ahjumma menyapa kami di pintu kedai. Ia tidak mengenaliku.
Kami mengambil tempat duduk di luar kedai yang menghadap jalanan. Kara menaruh wajahnya diatas meja. Kelihatan frustasi sekali gara-gara kelakuan abnormal Taemin yang membuatnya patah hati. Sebenarnya dalam hati, aku juga sangat bersyukur Magnae Shinee itu tak jadi memberikan mawarnya untuk Kara.
Mataku menatap batu besar yang ditancapkan di pagar masuk bertuliskan menu dan daftar harga. Aku tersenyum kecil dan teringat batu serupa yang kujumpai di Kanada.
“Kara-shii… lihat batu itu… bukankah itu mirip dengan batu di Oneyhalva dulu?” tanyaku. Kara tak menjawab. Matanya menatap batu itu sebentar dan mukanya kembali terkapar di meja.
“Ne…” jawabnya singkat.
“Kau ingat kata-kataku dulu saat kita di Oneyhalva? Kurasa semuanya benar… Batu itu bertuah…”
Kara mengerutkan kening.
“Yang mana? Kau bicara banyak sekali waktu itu…” katanya enggan. Ia benar-benar sedang tak ingin bicara rupanya.
Aku tertawa dan mengacak rambutnya.
“Tunggulah disini sebentar…” kataku sambil beranjak berdiri. Ia mendongakkan wajahnya.
“Kau tidak berencana meninggalkanku disini kan?” tanyanya malas.
“Aniyo… dengar…. jangan kemana-mana … aku akan membawakanmu sesuatu yang bagus… Ingat Tunggu aku disini atau-“
“Aish… aku sedang tak berminat berdebat denganmu….” Potongnya tak sabar.
“Atau… aku yang akan menunggumu disini.. Sebentar saja… Oke?”
Ia akhirnya mengangguk. Wajahnya masih suntuk.
“Ne… Ne… Aku akan menunggumu disini..Cepatlah, disini dingin sekali…”
Aku melepas jaketku dan melemparkannya kearahnya.
“Pakai itu…”
*
Kara POV
Aku merapatkan jaket Kyuhyun dan meringkukkan kepalaku ke meja. Pesanan Jjagmyeon sudah menghampar didepanku, namun si bodoh itu belum juga kembali. Kudengar dering ponsel dari dalam tasku. Aku menyambarnya malas, dan semakin malas saat melihat nama yang terpampang di layar ponselku.
Monyet Oppa. Pasti ia tertawa terpingkal-pingkal melihat siaran LIVE Konser Shinee tadi.
“Yoboseyo…”
“…”
“MWO?? Apakah ia baik-baik saja?”
“..”
“Ne…Aku akan segera kesana… Kyuhyun juga sedang bersamaku..”
“..”
“Baiklah, kututup dulu telfonnya..”
Aku meraih ponselku dan segera mengetik pesan singkat ke ponselnya.
‘Kyuhyun-ah… Donghae Oppa masuk Rumah sakit, sekarang ia sudah di Seoul.. Segera susul aku ke Rumah Sakit DaeWong ruang 13B begitu kau membaca pesanku, maaf aku tidak bisa menunggumu… Aku harus segera kesana..’
*
Kyuhyun POV
Dimana gadis pendek itu?
Kenapa ia suka sekali menghilang tak bilang-bilang? Membuat orang cemas saja. Aku berdiri menghampiri Ahjumma yang baru saja keluar dari dalam kedai. Dia juga tidak tahu kemana perginya Kara.
Aku merogoh celanaku. Mencari ponsel.
Sial, ponselku tertinggal di jaketku yang dibawa Kara. Huh, bagaimana aku bisa menghubunginya sekarang?
Kali ini, aku terduduk pasrah. Mendekap erat buket mawar yang baru saja kubeli dan memandangi kotak besar berisi cokelat disebelahnya. Mataku beralih menatap Jjangmyeon yang masih mengepul dari kompor meja didepanku. Menatapnya tak berselera.
Mendadak aku tidak lapar.
Mungkin sebaiknya aku menunggunya disini saja, bukankah dia bilang tadi dia akan menunggu? Kalaupun dia pergi, dia pasti segera kembali kesini. Dia masih membutuhkanku untuk mengantarnya pulang, dia pasti kembali.
Aku meraih kertas ucapan dari dalam kotak cokelat yang juga sengaja kubeli tadi. Mengeluarkan bollpoint dan mulai menulis.
‘Namanya bukit OneyHalva.. ini bukit harapan.. siapa yang datang kesini dan menuliskan namanya berpasangan dengan orang yang ia sayangi, keinginannya untuk bersama akan terkabul… Aku hanya merasa bahwa batu itu benar-benar bertuah, karena ia berhasil membuatku ingin bersamamu dan aku juga berharap batu itu akan terus bertuah agar aku benar-benar bisa bersamamu, Apa kau juga berpikir sepertiku?’
Aku melipat kertas itu dan membacanya sekali lagi. Aish… Ini sama sekali bukan gayaku. Aku benar-benar tak sabar melihat gadis itu membaca sendiri tulisan bodohku ini. Mungkin aku akan sangat malu, namun setidaknya aku bisa mengatakannya.
Tapi kenapa gadis bodoh itu tak juga datang?
*
End of part 12
GYAHAHAHAHA, GIMANA?GIMANA?
Mau tamat nih, part 13 bakalan END.
Silahkan berkomentar kalau ingin di-tag di part selanjutnya, hehehe (Author bersyarat)
Sehubungan dengan akan berakhirnya HOG, saya ingin share sesuatu… hohoho:
1. Kenapa namanya Kara (merk Santan?)?
Karena pada saat saya mbuat HOG part 1: saya nggak ada ide mbuat nama Korea. Huahahaha, Nggak tau juga peraturan pe’nama’annya…
2. Kenapa 13 part?
Nyesuain jumlah member Suju en Karena saya nggak pengen FF saya berakhir seperti ‘Shinhetyong’yang panjangnya bikin frustasi.. hehehe..
3. Singkatannya Kara-Kyuhyun apaan?
Nggak ada…. Hahaha, cz di FF udah ada KyuRa, KyuJin,KyuNa, dan Kyu-kyu yang laen… nah, kalo disingkat entar jadi kembaran… hohoho,
4. Part 13 saya post sehari sebelom Ramadhan alias tanggal 30 Juli…
5. Draft FF lanjutan? FFnya si DongKrak en satu lagi FFnya si Unyuk yang baru nyusun di kepala… hohoho, tapi mungkin saya bakalan hiatus sementara setelah HOG tamat..
6. Maaf lama banget nge-postnya, Kemaren itu…Stuck jangka panjang…
7. Ini masih saya ‘Afida Husniya’ bagi yang nyari FB saya yang mendadak ganti kelamin jadi Haidar Fikri.. hehehe.. ada gangguan serius…(Haidar Fikri itu nama pena saya sejak SMP)

Terimakasih setinggi langit di angkasa untuk semua Reader yang sangat berjasa dalam memaksa saya menamatkan FF ini,…. Hehehe, Saranghae….^_^

10 thoughts on “He’s Our Girl 12

  1. waah nunggu ini lama banget.. pasrt 13 jangan lama-lama yak.. lumutan nunggu nya ><
    oya itu kyu nanti sakitnya kambuh lagii gimana? suka nyesek baca nya kalo penyakit kyu kambuh u,u
    lanjuutt thor ^^

  2. Ya ampyuun so sweet bgt si jerawat itu *dikeroyok* aiih gmana bisa kara melewatkan bunga mamarnya demi dong2?! Aih gemes dh. Wkwk. Agak kecewa jg nih HOG bkl udahan gara2 aku fans berat kyu di ff ini. Cuma di ff ini aja seh, selebihnya I am Sungmin’s. Haha.Fighting deh thor bikin ff dong ama eunhyuk ^^ jujur, author bener2 panutan aku dlm bikin ff, aku salut bgt sama author ^^ saranghaeyo~ hhe

  3. hwaaaa…kara bener-bener nasip gara-gara mawar…ckck
    huhu kyu di tinggal kara…
    si hae napa pake sakit, padahal si kyu lagi romantis tuh hadeuuhhh…

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s