Dandelion #7 (Why, Baby? Sequel Edition)

sebelumnya…

#1 #2 #3 #4 #5 #6

 

Dandelion #7 (Why, Baby? Sequel Edition)

…escaped…

“Long time no see… Kau tidak mempersilahkan namjachingumu masuk?”

Tubuhku mematung. Semua perasaan bercampur menjadi satu. Terkejut, takut, serba salah, bingung, semua. Tetapi aku berusaha tenang. Kubukakan pintu apartemenku untuknya.

Jaejoong masuk. Diletakkannya tas hitam yang sedari tadi dibawanya di sofa ruang tengah. “Di sini kau bersembunyi dariku selama ini, Star?” tanyanya sambil melihat sekeliling.

“A-aniyo, oppa. Aku…” jawabku tergagap. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana dia bisa tahu dimana aku tinggal? Apakah Yunho memberitahunya?

Jaejoong menatapku tajam, dari ujung rambutku hingga kaki. Dia tersenyum tipis. “Star… Aku merindukanmu… Berapa banyak waktu yang kuhabiskan di London untuk mencarimu?” Dia mendekat. “Kau tahu itu?”

Aku menggeleng kuat-kuat. Aku harus mengatakan yang sebenarnya padanya. Aku tidak mau hidup dalam bayang-bayang Star. “Oppa! Aku bukan-”

Tiba-tiba Jaejoong memelukku erat. “Tetapi kau ada di Seoul dan berkencan dengan temanku… Kau benar-benar tidak tahu diri, Star.”

Kata-katanya dingin, menusukku keras sekali. Dia pasti merindukannya, yoja yang dia cintai itu. “Aku tidak tahu jika Yunho mengenalmu!” jawabku sedikit berteriak. Pelukannya erat sekali, membuatku sulit bernapas.

“Jika kau tahu, kau tidak akan berkencan dengannya?” tanyanya lagi, tepat di telingaku. Dia mengecup leherku sekilas. “Star… Kau tidak berubah… Selalu mementingkan dirimu sendiri… Kau ingat ketika kau menyuruh Sojung mengerjakan tugas sekolahmu? Bahkan kau pernah menyuruh Sojung menggantikanmu pergi ke sebuah pesta…” Dia mencium leherku lagi. “Tapi mengapa kau tidak mengingatku saat kita bertemu tadi? Kau takut pada Yunho? Itu bukan Star yang kukenal… Star tidak takut apa pun!”

Jantungku berdegup kencang sekali. Keringat dingin sedikit demi sedikit keluar dari pori-pori kulitku. “Op-oppa, lepaskan! Kau menyakitiku!” teriakku. Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya yang menyiksaku. Sebenarnya aku tidak perlu menerima perlakuan seperti ini jika dia, yoja itu, tidak meninggalkan kami berdua.

“Menyakitimu?” Jaejoong balik berteriak.

Lagi-lagi aku mengejang. Apa yang harus kulakukan? Mendengar suaranya tepat ditelingaku seperti ini, semakin membuat aku ketakutan. “Oppa, aku bukan…”

Jaejoong mencium leherku lagi. “Apa yang kau lakukan selama ini padaku, itu lebih sakit dari ini, Star…”

Tidak. Ini tidak benar. Aku harus mengatakan yang sebenarnya. Aku harus mengatakan bahwa aku bukan Star. “Lepaskan, oppa!” teriakku. Lagi-lagi aku berusaha lepas dari pelukannya. “Aku bukan Star! Aku Sojung!”

Jaejoong diam. Pelukannya melemah. Mengetahui hal tersebut, aku segera melepaskan pelukannya. “Aku Hwang Sojung, oppa… Aku bukan Star! Star sudah mati!”

“Bohong…” Jaejoong tersenyum sinis. “Kau bohong…”

Aku berjalan menjauhinya. “Aku tidak bohong, oppa! Aku Sojung!”

Jaejoong menggeleng kuat. “Bohong!” suaranya meninggi. Dia mendekatiku lagi. “Kau bohong…”

Prang!

Aku mengejang. Jantungku seperti berhenti berdetak ketika Jaejoong melemparkan vas bunga tepat di sebelahku. Sepertinya aku membuatnya marah. Mengatakan yang sebenarnya, hal yang selama ini tidak pernah dipercayainya meskipun semua orang mengatakan hal yang sama.

Star sudah mati. Itulah kenyataanya. Kenyataan yang dibencinya.

Jaejoong berlari ke arahku. Dicengkeramnya pakaianku kuat-kuat. “Kau Star!”

Plak!

Aku terjatuh. Satu tamparan keras darinya berhasil mendarat di pipiku. Aku tahu dia akan melakukan ini. Bahkan dia bisa membunuhku jika aku berusaha meyakinkannya bahwa Star sudah mati.

“Star belum mati!” teriaknya.

Plak!

“Argh…” rintihku. Tamparan kedua darinya berhasil membuatku merintih kesakitan. Aku bahkan tidak menyadari jika sudut bibirku berdarah karena tamparannya itu, jika dia tidak segera berteriak. “Star!”

Seperti seseorang yang telah menyadari apa yang diperbuatnya, Jaejoong memelukku erat. “Mianhae. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Mianhae, Star.”

Dia gila! Jaejoong sudah gila! Dia sangat marah beberapa menit yang lalu! Sekarang dia memelukku erat dan mengucapkan permohonan maaf! Aku berusaha melepaskan pelukannya lagi. Aku harus menjauh darinya. Aku tidak ingin mati konyol di tangan sahabatku sendiri! Kudorong tubuhnya kuat-kuat. Setelah berhasil melepaskan pelukannya, aku segera berlari menuju kamar dan menguncinya. Bersembuunyi dari sosok menakutkan itu.

“Star!”

***

“Bagaimana? Sudah tidak sakit?”

Aku mengangguk. Jaejoong baru saja mengobati lebam di wajahku karena perbuatannya sendiri beberapa saat yang lalu. Benar-benar seperti orang yang baru sadar apa yang dilakukannya. Sesaat setelah aku membuka pintu kamarku, dia menangis.

Jaejoong membelai kepalaku lembut. “Tidurlah, aku akan menjagamu selama kau tertidur.” Katanya. Dia meletakkan obat-obatan di meja rias, kemudian duduk di sebuah kursi dekat tempat tidurku dan memejamkan matanya. Tidak lama, aku mendengar napasnya yang teratur. Dia tertidur.

Aku masih memandangnya. Memandang wajahnya yang sangat cantik, tidak berubah sedikit pun. Masih ada tahi lalat di pipi bawah sebelah kanannya, seperti dulu. Hanya saja wajah yang dulu ceria itu kini tidak ada lagi. Senyumnya hilang. Tulang pipinya seakan-akan bersusah payah untuk tersenyum selama beberapa tahun ini. Kantung matanya pun semakin membesar. Meskipun mata khas Kim Jaejoong yang kukenal dulu masih ada, tetapi kini mata khas itu tertutup oleh pandangan yang tiba-tiba kosong. Menatap sesuatu, tetapi seperti tidak ada yang ditatapnya. Dia berubah menjadi Jaejoong yang kutakuti.

Star… Apakah kau sedang melihat kami saat ini? Melihat Jaejoongmu yang sangat depresi dan memukuliku. Melihat Jaejoongmu yang sangat mencintaimu dan memukuliku. Melihat Jaejoongmu yang sangat terluka dan memukuliku. Apakah kau melihat itu semua?

Aku melihatnya, Star. Dan aku tidak tega. Dulu, aku bahkan menangis ketika melihatnya tidak beranjak dari depan rumahku meskipun sedang hujan lebat, menungguku keluar. Aku menangis ketika melihat senyumnya yang sangat bahagia bersamaku, menganggap aku adalah kau. Aku tidak tega.

Apa yang harus kulakukan, Star? Aku ingin sekali mengatakan yang sebenarnya padanya bahwa aku Sojung dan kau sudah tiada, tanpa menyakitinya lebih dalam lagi. Tetapi melihatnya seperti ini, tidur dengan lelap seperti bayi. Aku tidak tega…

“Oppa…” panggilku.

Jaejoong terbangun. “Wae?” tanyanya. Dia berjalan menuju ke tempat tidur. “Kau merasa sakit? Dimana?”

Aku menggeleng lemah. “Kau mencintainya?”

“Mencintainya?”

“Ah, maksudku. Kau mencintaiku?”

Jaejoong tersenyum. Senyumnya sedikit kaku, tetapi kali ini lebih manis dari senyum sebelumnya. “Tentu saja. Aku mencintaimu lebih dari mencintai diriku sendiri, Star…”

***

“Tidak ada Sojung di sini, Changmin-ah.”

“Aku tidak mungkin salah, hyung. Ini apartemen Sojung noona!”

Sayup-sayup kudengar suara Jaejoong sedang berbicara dengan seseorang. Apakah dia sudah bangun? Untuk memastikan, kuraba tempat tidur di sebelahku. Tidak ada siapa-siapa. Aku membuka mataku perlahan. Jaejoong sudah tidak ada di sana. Tadi malam dia tidur di sebelahku.

“Apa aku terlihat berbohong, hah? Tidak ada Sojung di sini! Ini apartemen Star, bukan Sojung!”

Benar, itu suaranya. Tetapi dia berbicara dengan siapa pagi-pagi seperti ini? Aku bangun. Dengan menahan sedikit rasa ngilu di wajahku, aku berjalan menuju ruang tengah. “Siapa, oppa?”

Jaejoong sedikit terkejut melihatku. “Oh! Sudah bangun?” tanyanya. Dia berjalan menuju dapur. Sepertinya sedang memasak sesuatu untuk sarapan. “Changmin. Dia mencari Sojung. Katanya akan mengembalikan sesuatu. Mengapa dia mencarimu, Star? Apakah dia mengira bahwa kau Sojung karena kalian berdua mirip? Tetapi bagaimana bisa dia mengenal Sojung? Bukankah kau yang saat ini berkencan dengan Yunho?”

Aku mengejang. “Changmin? Shim Changmin, TVXQ!?”

***

“Tidak mungkin…”

Benar, tidak mungkin dua orang yang tidak ada hubungan darah bisa mirip seperti aku dan Star. “Namanya Park Eunbyeol. Kami biasa memanggilnya Star (Byeol=bintang). Dia adalah teman baikku, meskipun sebenarnya dia sering memanfaatkanku. Tetapi aku menyayanginya. Kami saling menyayangi, kau tahu. Aku, Star, dan Jaejoong.”

Changmin memandang foto itu dengan seksama. “Mengapa kalian bisa sangat mirip?”

Aku menggeleng lemah. “Aku tidak tahu. Kami tidak menyadarinya jika Jaejoong tidak memintaku berdandan untuk kencan buta dengan seorang temannya.”

“Apa yang terjadi dengannya, noona?”

“Meninggal, kecelakaan. Mereka berdua sedang berlibur ke pulau Jeju ketika tiba-tiba ada badai. Kapal yang mereka tumpangi tenggelam. Star meninggal, Jaejoong koma selama beberapa minggu. Hari pemakaman Star pun, dia masih koma. Dan ketika dia sadar, satu kata yang disebutnya adalah Star. Dia mencari Star.”

“Lalu? Mengapa dia menganggapmu sebagai Star? Apa tidak ada yang memberitahunya jika Star sudah mati?”

“Dia hanya menyebut Star, dia hanya mengingat Star. Dia tidak mau makan sebelum melihat Star. Karena itu keluarganya memintaku untuk menjadi Star sampai dia sembuh. Tetapi setelah dia sembuh, dia semakin membuatku menjadi Star.” Aku tersenyum, menertawai diriku sendiri. “Aku tidak tahu jika akan seperti ini, Changmin-ah. Jika aku tahu, mungkin dulu aku tidak akan menyetujui permintaan keluarganya.”

Changmin diam. Dia hanya mendengarkan perkataanku sambil memandang foto usang yang kutunjukkan padanya. Sekali pun, dia tidak memandangku. Mungkin dia masih belum terbiasa memandangku setelah masalah itu. Dia pasti berusaha menahan dirinya, sepertiku.

Beruntung dia yang datang, bukan Yunho. Bagaimana jika Yunho yang datang dan memergoki Jaejoong berada di apartemenku? Aku tidak bisa membayangkannya. Dia pasti tidak akan memaafkanku untuk kali ini. Hubungan kami pasti berakhir saat itu juga.

“Changmin-ah. Apa yang membuatmu ingin menemuiku?”

“Ah! Ini…” Changmin menaruh foto usang itu, dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. “Aku tidak bisa menyim… Noona…” Changmin menyadari sesuatu. Ditatapnya wajahku lekat-lekat. “Apakah Jaejoong hyung yang melakukannya?”

Aku tersenyum tipis. Dia menyadari bahwa wajahku lebam. Beberapa saat yang lalu dia tidka mengetahuinya karena tidak sedetik pun dia menatapku. “Gwaenchana… Dia hanya terlalu mencintai Star.” Jawabku meyakinkannya. Tetapi Changmin masih menatapku. Wajahnya sangat khawatir. Aku tersenyum lagi untuk meyakinkannya. “Gwaenchana…”

“Tapi, noona…”

Aku tersenyum. “Changmin-ah. Jangan katakan ini pada Yunho. Jebal. Aku akan mengatasinya sendiri. Aku bisa menahan luka ini, meskipun sakit. Tetapi akan lebih sakit jika aku kehilangannya. Aku tidak bisa hidup tanpa Yunho.”

Changmin diam. Dia masih saja menatapku, membuatku salah tingkah. “Apakah sangat sakit?” tanyanya tiba-tiba.

Aku mendengus. Setelah aku hampir kehilangan dia karena masalah yang dulu, antara aku, Changmin, dan Yunho, aku menyadari bahwa aku akan sangat mencintainya. “Tentu saja. Aku bahkan bisa gila jika berpisah dengan Yunho…”

“Lukamu… Apakah sangat sakit?” Changmin mengulangi pertanyaannya.

“Oh? Tidak.” aku menggeleng. Apa yang kukatakan padanya tadi? Changmin menanyakan mengenai lukaku! Bukan karena Yunho! Dia pasti sangat terluka mendengarnya. “Jaejoong sudah mengobatinya tadi malam.” Jawabku kaku. Tiba-tiba Changmin memegang kedua pipiku, menyuruhku menghadapnya. “Oh? Apa yang kau lakukan!”

“Diamlah!” Serunya. Dia menatap lebam di wajahku dengan seksama. Sesekali aku berjengit karena dia memegang lebam tersebut. Wajahnya benar-benar khawatir. “Ada apa dengan kalian berdua…”

“Aku dan Yunho?”

Changmin mengangguk. Dia mengeluarkan sesuatu dari dasbor mobilnya. Kotak P3K. “Noona dengan Jaejoong hyung… Yunho hyung dengan Nara…”

Aku sedikit bingung. “Nara?”

Changmin mengoleskan entah apa itu di lebamku, terasa dingin. “Tadi pagi Nara menelepon, dan Yunho hyung langsung pergi setelah menerima teleponnya.”

Oh, jadi begitu. Yunho sedang sibuk bersama Nara rupanya. Pantas saja dia tidak membangunkanku pagi ini. Seseorang dari masa lalunya mendahuluiku. “Benarkah? Baguslah… Setidaknya aku bisa menyelesaikan masalah ini dulu…” lirihku. Cemburu? Sangat. Kedekatan Yunho dengan Nara sedikit membuatku tidak nyaman. Perkataannya tadi malam menyakitiku. Menghakimiku, seakan-akan aku tidak mengenal Yunho sama sekali.

Ah, aku jadi teringat sesuatu. “Changmin-ah. Tadi malam… Gwaenchana?”

Changmin masih mengoleskan obat pada lebamku. “Ani. Hatiku sakit.”

“Mianhae, Changmin-ah.” aku menunduk. Bukan hanya kau, Changmin-ah. Kita bertiga terluka. Jika dulu aku tidak bergantung padamu, mungkin kita akan baik-baik saja. Kau pasti sulit sekali menahan perasaanmu.

Aku pun begitu, menahan perasaanku. Saat ini, aku bisa merasakan jantungku berdebar ketika Changmin mengobati lukaku, dengan tatapan cemasnya yang sering ditunjukkannya dulu. Kami bertiga sedang menata kembali perasaan masing-masing, dan itu tidak mudah.

Changmin meletakkan kotak P3Knya di dasbornya. “Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, noona. Maafkan aku karena memintamu memberikan kesempatan untukku…” lirihnya. Dia menarik napas dalam-dalam, bersiap mengatakan sesuatu. “Noona. Apa pun yang akan terjadi nanti. Jika aku memintamu memberikan kesempatan lagi, pergilah dan jangan melihatku lagi…”

haengbokhan chueokdeureul naege jwoseo komapda
neon itko sara, neon modu ijeobeorigo
keokjeongseureon nunbiteuro boji ma, nan gwaenchana

eonjenga i shimjangye sangcheodeureun amul getji
eonjenga nado choheun saram mannage dweketji
ijeo geurae modu tteolchyeobeorigo eoseo kara
nae ireon maeum tashi dollyeo neoreul jabadugi jeone

Before U Go – TVXQ!

***

Sedikit merasa tenang, tentu saja. Seperti biasa dia ada di saat aku membutuhkannya. Menenangkanku, mengobatiku, menghiburku. Aku tahu sebenarnya dia ingin melindungiku dari Jaejoong kali ini, dan aku sadar masih sangat bergantung padanya. Hanya saja aku mengingat luka yang kutorehkan padanya, dan tidak ingin menyakitinya lagi. Tidak akan.

“Nappeun yoja…”

Aku menoleh. “Oh! Oppa!”

Jaejoong sudah menungguku di depan pintu apartemen. Tatapannya tajam, sepertinya sedang marah. Apalagi yang membuatnya marah kali ini? Aku tidak melakukan apa-apa! Tadi malam aku bahkan menjadi Star lagi untuknya!

“Apa yang kau lakukan di mobil Changmin? Mengapa kalian terlihat mesra sekali?”

Aku terkejut. Dia melihat kami? “Ani, oppa. Kami tidak…”

Jaejoong berjalan mendekatiku. “Yunho, Changmin… Apakah seperti itu kau sekarang, Star? Berkencan dengan dua namja sekaligus? Aku bisa mengerti jika kau berkencan dengan Yunho… Tetapi mengapa kau berkencan dengan Changmin juga, hah? Kau mengkhianati Yunho?” teriak Jaejoong. Suaranya meninggi.

Tatapan matanya yang sedang marah itu seperti menghujaniku. Tuduhannya benar, aku berkencan dengan keduanya. Tetapi itu dulu, sekarang kami tidak ada hubungan apa-apa! “Mianhae, oppa. Mianhae.” Aku menunduk. Bahkan Jaejoong yang tidak tahu apa-apa tentang masalah kami bertiga tahu hanya dengan melihat aku dan Changmin bersama?

Plak.

Tamparan keras dari Jaejoong lagi-lagi kudapatkan. “Kau tidak boleh mengkhianati namja yang mencintaimu, Star…” Jaejoong menekan kedua pipiku yang lebam karenanya. Sedikit menahan sakit, kupejamkan mataku dan berdoa agar dia tidak menyakitiku lagi. “Yunho, ataupun aku…”

Sedetik kemudian aku merasa bibirnya yang dingin menekan bibirku. Jaejoong menciumku. Apa yang harus kulakukan?

Sedikit demi sedikit melumatnya, menyuruhku membalas ciuman yang tidak kuharapkan itu. Sebelah tangannya memelukku, dan tangan yang lain memberikan pijatan lembut pada leherku.

Aku tidak mencintainya. Sama sekali. Jika seseorang yang menciumku itu Yunho, aku tidak akan menolaknya. Jika orang itu Changmin, mungkin aku akan membalasnya juga karena masih ada sedikit rasa dalam hatiku. Tetapi ini berbeda. Orang yang menciumku itu adalah teman lamaku. Dia memandangku sebagai orang lain. Aku harus bagaimana?

Jaejoong semakin mencium bibirku dengan kasar.

***

Star, aku harus pergi untuk mengurus sesuatu. Hanya sebentar.

Sebuah catatan dari Jaejoong itu membuatku sedikit tenang. Akhirnya dia pergi setelah menciumku, meskipun hanya sebentar. Setidaknya aku mempunyai waktu untuk berpikir.

Aku lelah. Sangat lelah. Kejadian ini bukan hanya sekali, tetapi dulu aku mengalaminya juga. Dan aku tidak menduga ini akan terulang lagi.

Dokter bilang Jaejoong tidak gila. Hanya ingatannya tentang kematian Star yang menghilang. Seseorang bisa hilang ingatan akan sesuatu ketika hal tersebut terlalu menyakitkan. Mungkin karena itulah dia tidak mempercayai Star meninggal, dan menganggapku sebagai Star. Lalu apa yang bisa membuatnya ingat tentang Star?

Aku masih berusaha memikirkannya ketika ponsel seseorang berbunyi. Ponsel Jaejoong. Mungkin ponselnya tertinggal saat menuliskan catatan untukku ini. Segera aku mengangkatnya. “Yeobseo?”

“Eh? Nuguseyo?”

Aku diam. Suara itu… Aku seperti mengenalnya…

“Tunggu!” dia seperti menyadari sesuatu. “Kau… Hwang Sojung?”

***

“Aku bahkan tidak menyadari kita akan bertemu lagi, Sojung-ah…”

Dia Park Yoochun, kakak kandung Star. Seseorang yang menelepon tadi ternyata dia. Saat ini kami berada di sebuah kafe untuk membicarakan sesuatu tentang Jaejoong.

Park Yoochun adalah teman baik Jaejoong juga. Tetapi dia sedikit tertutup. Aku bahkan jarang mengobrol bersamanya. Hanya sesekali saja. Karena itu kami tidak terlalu akrab.

“Aku juga, oppa.” Aku tersenyum tipis. Yoochun berubah sekali. Dulu dia terlihat sangat polos. Tetapi sekarang dia terlihat dewasa. Benar, dewasa dan tampan.

Yoochun menunduk. “Mianhae.” Lirihnya. “Seharusnya aku berusaha lebih keras lagi untuk mengembalikan ingatannya. Tadi malam dia meneleponku dan mengatakan bahwa dia menemukan adikku.”

Aku mengangguk. “Dia benar-benar menemukan adikmu, dalam wajahku.”

“Apa yang harus kita lakukan untuk membuatnya mengingat Star?”

Aku diam. Dalam perjalanan menuju kemari, sebenarnya aku sudah menemukan satu cara. Tetapi aku tidak tahu akan berhasil atau tidak, menyakitinya atau tidak. Tidak ada salahnya dicoba, kan? Aku tidak mau selamanya menjadi Star!

“Oppa… Bagaimana jika kita membawanya ke tempat itu?”

***

Dugaanku benar. Ini terlalu menyakitkan.

Sore berganti malam. Sudah hampir dua jam kami bertiga, aku, Yoochun, dan Jaejoong, berada di tempat ini. Tempat yang tidak pernah kukunjungi beberapa tahun ini. Tempat yang terlalu mengerikan untuk orang yang tidak mempercayai dia sudah tiada. Pekuburan Star.

“Star…” Jaejoong tidak berhenti menangis sambil terus-terusan memanggil namanya, yoja yang dicintainya itu. Tidak ada sahutan, tentu saja. Yoja itu entah berada dimana saat ini. Dunia kami sudah berbeda.

Setelah mengatakan pada Yoochun tentang rencanaku mengajak Jaejoong ke pekuburan Star, Yoochun tidak menyetujuinya. Alasannya mudah saja. Dia tidak ingin Jaejoong menjadi depresi. Akan terlalu menyakitkan, katanya.

Tetapi aku benar-benar telah menyerah. Yoochun pun sudah lelah. Karena itu kuyakinkan dia bahwa tidak ada jalan lain, kecuali menunjukkan pada Jaejoong tempat dimana Star bersembunyi darinya selama ini.

“Star… Apa benar kau sudah tiada?”

Suara itu terlalu menyakitkan. Membuatku merasa sedikit bersalah dan terluka. Yoochun pun tidak kuasa menahan tangisnya. Tetapi aku berusaha untuk tidak menangis, aku berusaha untuk kuat. Aku benar-benar ingin Jaejoong mengetahui yang sebenarnya. Aku berjalan mendekatinya, dan memeluknya.

“Sojung-ah…” lirihnya. “Benar dia di dalam sana?”

“Tidak.” aku mengusap tangis di pipinya. Melihatnya menangis dari jarak sedekat ini, membuatku ingin menangis juga. Meskipun kucoba menahan tangisku, tetapi airmata ini akhirnya menetes perlahan. “Dia memang berada di dalam sana, oppa. Tetapi jiwanya berada dalam hatimu.”

“Katakan itu tidak benar, Sojung-ah…” Jaejoong semakin terisak.

Yoochun kini mendekatinya. Dielusnya pundak teman baiknya itu. “Jaejoong-ah… Ini kenyataan… Star sudah tiada…”

Tiba-tiba Jaejoong memelukku erat. “Andwae, Sojung-ah…” lirihnya. Dia semakin terisak. Tubuhnya lemas, dan akhirnya terjatuh. Aku pun ikut terjatuh karena sedang dipeluknya. Dia pasti terluka, sangat terluka.

Aku menyakitinya. Ah, tidak. Kenyataan yang menyakitinya. Tetapi aku merasa sedikit tenang karena dia sudah mengenaliku sebagai Sojung, bukan lagi sebagai Star. Setelah bertahun-tahun aku berusaha menghindarinya, akhirnya saat ini datang juga. Aku bisa keluar dari sesuatu yang menakutkan ini.

Kubiarkan dia menangis dipelukanku, karena memeluknya seperti ini adalah satu-satunya caraku melindunginya dari kenyataan yang menyakitkan, yang mungkin dia sendiri belum bisa menerimanya. Karena ini terlalu menyakitkan.

***

Aku mengantar Jaejoong dan Yoochun menuju bandara hari ini. Mereka akan kembali ke London setelah hampir satu minggu berada di Seoul. Jaejoong bilang dia kembali ke Seoul karena mengetahui aku berkencan dengan Yunho di sebuah situs Korea. Beberapa hari kemudian Yunho menghubunginya, memintanya datang ke Seoul untuk mengunjunginya.

Benar-benar suatu kebetulan, kan? Karena aku berkencan dengan Yunho, seorang bintang Hallyu yang terkenal, aku bisa bertemu lagi dengannya. Seseorang yang menakutkan dari masa laluku. Sekarang baru kusadari bahwa menghindari Jaejoong, seperti yang kulakukan dulu, adalah sesuatu yang sia-sia.

Kami merasa lebih baik, meskipun satu minggu ini masih sering kulihat Jaejoong menangis dalam diamnya.

Jaejoong memelukku sebentar sebelum dia pergi. “Jaga dirimu. Sesekali datanglah ke London bersama Yunho. Dan jangan menyakitinya! Sepertinya kau sedikit tertarik pada Changmin…” Katanya.

Aku mengggeleng cepat. “Kami tidak ada hubungan apa-apa!” teriakku. “Oppa, berhenti menangis dan bersemangatlah. Star tidak ingin melihatmu seperti itu lagi. Lihat apa yang oppa lakukan pada wajahku, hah?” aku mengajaknya bercanda.

Jaejoong tersenyum. “Arasseo. Mianhae.”

Yoochun menepuk pundak Jaejoong perlahan. “Saatnya pergi, hyung. Sojung-ah, terimakasih.”

Aku mengangguk. Mereka berdua melambai padaku, mengucapkan salam perpisahan. Aku membalasnya dengan senyuman, benar-benar tulus dari dalam hatiku. Aku berharap tidak terjadi apa-apa pada Jaejoong dan semuanya akan baik-baik saja.

Kutunggu mereka sampai menghilang dari pandanganku. Memastikan bahwa semuanya telah selesai, sekali lagi. Benar, Selesai. Kutukan lima tahun itu selesai.

“Inilah alasan mengapa aku tidak menyetujui hubunganmu dengan Yunho oppa, unni…”

Aku menoleh. Seperti kebahagiaan yang tiba-tiba menghilang, aku menyadari sesuatu. Nara sudah berada tepat di belakangku. Sebuah kamera digital berada di tangannya. Beberapa kali diarahkan kamera tersebut padaku, mengambil potretku seperti seorang paparazi.

Kutukan lima tahun itu belum berakhir!

-escaped, END-

13 thoughts on “Dandelion #7 (Why, Baby? Sequel Edition)

  1. wah aku y pertama niih?!
    #celingak clinguk gak jelas*
    1 detik

    2 detik

    3 detik
    KYAAAAAAAAA…
    ko jadi sad ending siih
    tapi ceritanya tetep seru deng..
    Daebak author..^^

  2. Itu naranya kenapa coba? Jahat banget -_-
    Terus unnie kayaknya yg cerita nara ga diceritain
    pas chapter sebelumnya,apa aku yg lupa yaaa?
    Wkwkkw
    ._.

    Lanjut aja unnie,Hwaiting

  3. untung masalah sama jaepa cepet kelar y ngak berlarut2, tinggal masalah nara tapi bukan y nara pacar y jonghyun kok dia nentang hubungan yunho n soojung……
    miris liat changmin yg masih cinta gitu ma soojung…….
    Lanjut…….

  4. jaeppa knp kau mnmpar sojung hiks hiks kasian jaeppa dsni
    aq z yg gntiin star oppa hahhahaha
    #plak
    nara jgn ganggu hub sojung and yunho,hush hush hush
    chinggu ksih pasangan bwt changmin,ksihan changmin ku
    #ngayal lagi

  5. Bagian jaejoong cuma bentar tp dalem bgt critanya…ber kesan abis…
    Jiaahh..simasalah baru,sinara ya…
    Lanjutannya jgn lama” ya…siauthor ini pinter bgt bkin gregetan reader….

  6. sebel bgt sih amat nara. cari masalah aja. makin keren onnie di tunggu lanjutannya yahh. btw kyknya changmin butuh pasangan dehh. kasian dia jomblo terus hehe

  7. hmmmm aku pikir sojung sodara kembarnya star
    aaah aku dapet chemistry nya jaejoong, apalagi yg pas di kuburan, aku sampe ngembeng T.T

    author keren, bisa ngebungkus cerita rumit hidupnya jaejoong dalam 1 chap, dab itu dapet banget :D

    duh kalo aku jadi sojung, aku galau milih changmin apa yunho XD

    yep, akhirnya ada antagonis nya juga, kan jadi makin greget :D

    oke, bu author. Lanjut_^^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s