Myctophobia, 2nd Story. {Please Be My Girlfriend}

Myctophobia 2nd Story {Please, Be My Girlfriend!!}

….Babtols Restorant Hongdae…

Shinyeong’s POV

Aku berlari dengan sekuat tenaga, walaupun kedua kakiku terasa sangat lemas, tapi aku mencoba tetap mengayunkannya dengan cepat. Air mataku masih mengalir dengan deras, dan tangan kananku masih membekap mulutku sendiri. Menahan isakan yang mungkin akan terdengar. Ya Tuhan, apa yang baru saja terjadi membuatku benar-benar kaget. Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Aku memasuki toilet dan mengunci diriku sendiri di dalamnya. Untung saja saat ini toilet dalam keadaan kosong sehingga aku bisa menjerit sepuasnya, meluapkan emosiku yang tertahan sejak tadi. Cairan bening itu terus saja mengalir ke pipiku, sekuat apapun aku menahannya. Aku tidak boleh mengeluarkan setetes air mata berhargaku ini, untuk seorang namja berengsek yang sudah berbuat kurang ngajar padaku. Tidak habis fikir, bagaimana mungkin seorang CEO perusahaan besar dan juga anak seorang Mentri Perdagangan Republik Korea itu, tidak bermoral sama sekali. Bahkan kurasa dia lebih rendah dari seorang preman yang berkeliaran di jalanan.

“IGE MWOOOOOYAAA!!!!” Jeritku sekencangnya sembari mengacak rambutku dengan frustasi, membuat gulungan rapih rambutku menjadi berantakan dan terlepas begitu saja. Namja bodoh tidak tahu diri itu sudah merebutnya, mengambil secara paksa. Dasar perampok tak bermoral. Dia mencuri first kiss-ku yang selama ini selalu aku jaga, aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan memberikan ciuman pertamaku hanya pada orang yang benar-benar aku cintai. Dan selama ini aku selalu memimpikan untuk melakukan ciuman manis itu dengan Jungso Sunbae, bukan dengan Kim Jongwon berengsek itu.

“AAAAAAAAARRRRGGGHHH!!!!!” Aku menepuk pipiku berkali-kali berharap bahwa semua yang terjadi beberapa menit yang lali hanyalah sebuah mimpi buruk yang sangat mengerikan. Tapi aku menyadari kedua pipiku ini benar-benar terasa perih, sehingga aku kembali menangis sembari mengusap pipiku yang mungkin saja sudah memerah sekarang.

Beberapa saat aku tenggelan dengan emosiku sendiri, duduk di atas closet yang mengkilat. Bagaimana bisa aku keluar dengan kondisi sekacau ini? Oetokhaji?

Baiklah Kim Shinyeong, semuanya sudah terjadi, dan itu semua adalah nyata, kau tidak sedang bermimpi ataupun berhalusinasi. Oke, aku berusaha menerima semua kenyataan ini. lagipula walaupun aku menangis sampai air mataku kering, tetap saja waktu tidak dapat diputar kembali. Coba saja jika saat PD-Nim meminta Jieun yang mengantarkan Amplop berengsek itu, pasti dialah yang akan mengalami semua ini. Setidaknya kurasa Jieun pasti menyukainya karena dia memang sangat tergila-gila dengan CEO tak bermoral itu.

“AAAAAAAAAAAAAH…..” Aku menghembukan nafas panjang dan terus menarik tissue gulung yang tepat berada di sampingku hingga tak tersisa sedikitpun.

Aku membencinya, sangat membencinya, sangat-sangat membencinya. Rasanya ingin sekali aku kembali ke ruangannya yang besar itu dan membunuhnya saat ini juga, menghabisi nyawanya sehingga tidak ada lagi pria bernama Kim Jongwon di dunia ini. Tapi itu semua mustahil. Sebuah hal yang tidak lucu jika tiba-tiba besok sebuah Koran Pagi membuat sebuah Head line

“SEORANG PEGAWAI MEMBUNUH CEO PERUSAHAAN KARENA MEREBUT CIUMANNYA”

***

 “Yeongi-ah, apa kau di dalam?” Aku mendengar dengan jelas suara Jieun dibalik pintu toilet dimana aku sedang berada di dalamnya, mungkin hanya dialah satu-satunya orang yang menyadari ketidakberadaanku.

“HYA Kim Shinyeong, kau dengar aku kan?” Jieun mengetuk pintu toilet berkali-kali. Membuat aku segera bangkit dari posisiku saat ini, dan kembali mengusap air mata yang hampir mongering di pipiku.

“Ne… kau tak perlu berteriak Jieun-ah” Jawabku dengan suara yang sedikit serak. Perlahan aku memutar kenop pintu dan menyembulkan kepalaku, kemudian mengedarkan pandanganku ke samping kanan dan kiri, memastikan bahwa diruangan ini hanya ada aku dan Jieun.

“WAE? NEO WAEYO?” Jieun berteriak dengan suara yang sangat keras, dan memekakan telingaku. Aish, kedua telingaku ini bukan asesoris yang dijual di pasaran Song Jieun.

“HYA, bisakah kau menurunkan volume suaramu, HUH?” Aku balas berteriak di depan wajahnya, membuat Jieun memundurkan kepalanya menghindariku. Dia menatapku dengan bingung, mungkin karena dia melihat mataku yang sembab, dan tatanan rambutku yang tidak karuan. Aku pasti terlihat seperti seorang nenek yang baru saja selamat dari hantaman angin topan sekarang.

“Apa yang terjadi Yeongi-ah? Ada apa denganmu?” Jieun mencengram kedua bahuku, dan menguncang-guncangkannya dengan sekuat tenaga, membuat tubuh lemasku ini jadi terombang-ambing. Bagaima mungkin aku menceritakan semuanya pada Jieun, ini adalah hal yang sangat mengerikan. Bahkan lebih mengerikan dibanding kehilangan jatah makan siangku di restorant.

“Ebseo..” Jawabku singkat kemudian berjalan ke depan cermin untuk merapihkan gulungan rambutku yang sudah tidak karuan, setelah itu aku membuka keran dan menjulurkan kedua tanganku untuk menampung air dan membasuhkannya berulang-ulang ke wajahku.

“Tapi apa yang ku lihat tidak seperti itu? Yeongi-ha apa sekarang kau mulai menyembunyikan sesuatu dariku? Apa kau sudah tidak lagi mempercayaiku? Huh?” Aku hanya terdian mendengar perkataan Jieun, sembari terus memperhatikan bayanganku sendiri di cermin. Dapat aku lihat kantung mataku yang bengkak dan kedua pipiku yang memerah. Kim Shinyeong bodoh, kenapa kau kacau sekali?

“Gwaenchanayo Jieun-ah, sudahlah ini bukan apa-apa” Aku membalikan badanku dan mencoba untuk menarik kedua sudut bibirku membentuk sebuah senyuman yang mungkin saja terlihat aneh. Jieun menatap tajam ke arahku, dia menggembungkan pipinya dengan kesal, karena aku sama sekali tidak mau menceritakan hal yang terjadi padaku saat ini.

“Geuraesseo jika kau tak mau menceritakannya padaku, ku harap kau memang baik-baik saja” Ucapnya dengan kesal kemudian tergesa-gesa keluar dari toilet, dan meninggalkanku sendiri. Oke Kim Shinyeong, bagus. Kurasa hari ini benar-benar hari sialmu. Setelah menghilangkan ponselmu, kemudian bertemu dengan si berengsek tak bermoral itu, dan sekarang membuat sahabat terbaikmu itu menjadi marah. Hari yang sangat istimewa.

***

Aku mengelap meja yang baru saja ditinggalkan seorang pelanggan, sebenarnya permukaannya sudah sangat licin dan bersih tapi aku masih tetap saja menggosoknya berulang-ulang. Sesekali aku meraba bibirku, Ya Tuhan, bahkan sampai sekarang masih terasa ketika dia melumat bibirku. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, sebuah ciuman itu benar-benar terasa hangat di bibirku. Walaupun aku tau dia melakukannya bukan dengan perasaan tapi dengan emosi.

Sudah lebih dari 3 jam semenjak kejadian tadi tapi aku tidak melihat sedikit pun batang hidung pria kurangajar itu. Setidaknya dia meminta maaf dan menyesali perlakuan menyimpangnya itu. Namja Gila.

Aku terus saja menggosok meja kaca itu dengan penuh emosi hingga terdengar bunyi decitan karena permukaannya yang sudah licin.

“Aku rasa meja disana lebih kotor dari ini Nuna” Suara itu berhasil membuyarkan semua hal yang sedang berkecamuk di fikiranku.

“Ah… Dongho-ya” Aku tersenyum ringan saat menyadari Dongho sudah berdiri di hadapanku dengan sebuah nampan kosong di tangannya. Kurasa dia baru saja mengantarkan sebuah pesanan untuk pelanggan.

“Nuna, gwaenchanayo?” Aku yang sempat mengangkat wajahku untuk mlihatnya, kemudian kembali menunduk untuk menghindari tatapannya. Dia pasti heran melihat mataku yang bengkak dan pipiku yang merah.

“Apa kau menangis?” Dongho menundukan kepalanya untuk melihat wajahku, dan meletakan tangan kirinya di bahuku.

“Ah… nan gwencana, hanya mengantuk saja” Aku mengelak dengan memasang ekspresi yang meyakinkan, dan berharap dia tidak akan mengulangi pertanyaan itu lagi. Karena aku benar-benar kebingungan untuk menjawabnya.

***

Tepat pukul 10 malam, tugasku telah selesai. Jam kerjaku dimulai pukul 3 sore dan berakhir tepat jam 10 malam. Walaupun masih ada pelanggan yang berdatangan, semua pegawai part time diperbolehkan untuk pulang. Tentu saja karena kami harus pergi ke kampus besok pagi. Setidaknya para pembuat peraturan disini masih mempunyai pri kemanusiaan, tidak seperti pemiliknya yang sangat mengerikan itu.

“Jieun-ah, apa kau akan terus bersikap seperti ini padaku? Huh?” Aku melirik Jieun yang berdiir tepat di sampingku. Saat ini kami sedang berada di ruang ganti, dan bersiap untuk pulang. Mendengar suara yang keluar dari mulutku, dia segera menoleh dan menatapku dengan tajam. Aigoo, kenapa terlihat sangat menyeramkan.

“Aku tidak tahu apa masalahmu yang sedang kau hadapi saat ini, hingga membuatmu menangis seperti itu. Setauku kau ini gadis yang pantang mengeluarkan air mata. Jika kau tetap bersi kukuh untuk tidak menceritakan masalahmu, maka pastikan aku tidak akan mengetahuinya sampai kapanpun” Aku sedikit merasa bersalah setelah mendengar perkataannya, dia memang terlihat benar-benar khawatir dengan keadaanku. Tapi bagaimana aku bisa menceritakan semua ini padanya?

“Aku berjanji akan menceritakannya. Tunggu waktu yang tepat sampai aku bisa mengungkapkan semuanya padamu” Aku menundukan kepalaku sembari membuka vest merah seragam pegawai yang aku kenakan. Suaraku terdengar sangat pelan, tapi aku rasa dia dapat mendengarnya dengan jelas.

“Gwaenchana, semoga kau dapat mencari solusi terbaik untuk menyelesaikannya” Dapat aku rasakan Jieun menepuk pelan bahuku. Membuatku bisa bernafas lega karena dia bisa mengerti situasiku saat ini. Song Jieun kau memang teman terbaikku.

***

Jongwon’s POV

Aku menyandarkan punggungku di kursi besar yang berada di ruanganku, sembari menatap lampu-lampu besar yang menghiasi atap ruanganku yang memang di desain khusus olehku sendiri. Sesekali aku memainkan senter kecil di dalam genggamanku, menekan tombol on-off berkali-kali dengan perasaan yang tidak karuan.

Apa yang terjadi sore tadi, terus saja berputar berulang-ulang di fikiranku. Bagaimana aku bisa melakukan hal itu padanya. Pasti saat ini dia menganggapku sebagai pria paling berengsek di dunia.

“AAAAAAAAAARGH” Kembali kuacak rambutku dengan prustasi, sesekali aku menggebrak meja kerjaku, membuat beberapa benda yang terletak diatasnya bergetar karena kencangnya hentakanku. Haruskah aku menemui gadis itu dan meminta maaf padanya? Lalu mau ditaruh dimana wajahku nanti. Mana mungkin seorang Kim Jongwon meminta maaf pada bawahannya. Apalagi tingkahnya itu sangat menyebalkan.

Hyorin Nuna menganggap bahwa gadis itu adalah kekasihku, karena dia memang memergoki kami yang sedang berciuman. Aku sengaja melakukan hal itu karena aku fikir, dia akan berhenti menanyakan mengenai gadis yang aku sukai dan yang akan menerima cincin perak itu. Tapi ternyata semuanya tidak semudah yang aku fikirkan, bukan hanya sebuah pengakuan saja. Hyorin Nuna memintaku untuk membawa gadis kurangajar itu untuk makan malam bersamanya dan juga Jinwon Hyung. Dia ingin mengenal gadis itu lebih jauh, dan dia juga mengatakan kalau dia ingin lebih akrab dengan kekasihku nantinya.

Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Ini sudah jam 10 malam. Dan kurasa beberapa karyawan sudah menyelesaikan tugasnya. Lagipula aku sama  sekali tidak ingat nama gadis kurangajar itu. Baiklah aku akan coba mencarinya di restorant.

***

Dengan tergesa-gesa aku keluar dari ruanganku, kemudian berlari menuju elevator. Aku menggenggam senter kecil di tangan kananku dengan erat. Ini sudah malam, pasti jika mati lampu maka tidak aka ada cahaya sama sekali. Dan aku benar-benar tidak ingin terjebak dalam situasi seperti itu.

Ting…

Pintu elevator terbuka, beberapa saat setelah aku menunggu dengan gusar di depannya. Dengan ragu, aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam. Selalu seperti ini, setiap aku memasuki elevator maka keringat dingin akan membajiri tubuhku, bukan karena tidak ada cahaya. Elevator ini cukup terang, hanya saja setiap aku sendirian aku selalu membayangkan hal-hal mengerikan yang membuatku menjadi panik. Ya Tuhan, mengapa rasanya begitu lama. Aku bahkan hanya turun dari lantai 5 menuju lobby. Aku tidak ingin melalui tangga darurat, karena suasananya cukup gelap. Aku tidak mau jika aku mati sebelum mencapai lantai dasar.

***

Elevator membuka tepat menghadap ke pintu keluar yang berada di lobby. Aku segera berjalan menyusuri lantai yang mengkilat karena pantulan cahaya lampu, suasana sudah sepi dan hanya ada beberapa orang saja yang berkeliaran dengan seragam yang sama. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, berharap bisa menemuinya di sini. Wajahnya itu masih terbayang dengan jelas di otak ku, ketika aku meraih tengkuknya dan melumat bibirnya dengan kasar. Aku bahkan sangat ingat bagaimana ekspresinya ketika berlari dari ruanganku sesaat setelah kejadian itu, saat cairan bening itu mengalir di pipinya. Entah apa yang merasukiku saat itu, tapi aku merasa dia terlihat sangat cantik.

Ahhhh, gadis itu. Bagaimana jika dia nekat melaporkanku ke polisi atas tuduhan pelecehan seksual. Apa yang akan terjadi pada keluarga besarku. Ayahku seorang politik dan pasti karirnya akan terancam. Ayolah Kim Jongwon, berusaha untuk menemukan gadis trans gender itu, dan segera selesaikan masalahmu dengannya.

“Ehm… chogeo” Aku menghampiri dua orang perempuan mengenakan sebuah rok hitam, dipadu dengan kemeja putih pendek dan dibalut vest berwarna merah dengan logo restorant di belakangnya. Mereka adalah karyawan di restorant ini. Sadar ketika melihatku mendekat, mereka berdua segera membungkukan badannya dengan sangat rendah dan mengatur kedua tangan mereka dengan posisi aneh.

“Apa kau melihat…” Ah, sial. Aku sama sekali tidak mengingat nama gadis trans gender itu. Sebelumnya dia sempat mengatakan nama sebenarnya, tapi aku lupa. “Ehm.. Jung.. Nam Gil” Hanya nama itulah yang ada di otak ku saat ini. Aku tau itu bukanlah namanya, tapi aku memang benar-benar lupa dengan nama gadis itu.

“Jeosonghamnida sajangnim tapi orang yang kau maksud tidak masuk kerja hari ini” mereka berdua kembali membungkukan badannya. Sedangkan aku masih berdiri tegak dengan penuh kebingungan. Bagaimana aku bisa mengatakannya.

“Ah animida maksudku seorang yeoja, ya dia seorang yeoja dengan tubuh kecil, tingginya kira-kira 160 cm dengan rambut yang digulung ke belakang” Aku mencoba menjelaskan semua hal yang aku ingat mengenai gadis itu. Untung saja aku ini pria yang benar-benar pintar.

“Ah Jeosonghamnida sajangnim tapi semua yeoja yang bekerja disini memang diwajibkan untuk menggulung rambutnya ke belakang. Aku tidak tahu siapa yeoja yang kau maksud itu, Dan Jung Nam Gil,,, em dia adalah seorang namja” ujarnya dengan sedikit ragu karena melihat tatapan tajamku ke arahnya. Aish, lalu harus bagamana aku sekarang?

Drrt… Drrt….

Tiba-tiba aku merasakan ponsel di dalam saku jasku bergetar, aku segera menekan tombol untuk menjawab telepon itu dan mendekatkannya ke telingaku. Sebelumnya aku mengedikan kepalaku untuk mengucapkan terimakasih pada kedua pegawai yang ada di depanku ini. Mereka kembali membungkukan badanny aserendah mungkin kemudian berjalan menjauh dari posisiku saat ini.

“Yeobseo” aku menyapa seseorang di sebrang sana.

“Jongwon-ah, cepatlah pulang ini sudah malam. Kudengar dari Seungho, hari ini kau belum menjalankan terapimu kan? Aku juga mendapat laporan kalau kau meminta semua body guard dan supirmu untuk pulang. Kenapa kau selalu berbuat seperti itu, huh? Kenapa kau ini keras kepala sekali. Aigoo, pasti semua sifat jelekmu itu adalah warisan dari kakek buyutmu. Oemma tidak habis fikir, bagaimana mungkin kau bisa melupakan jadwal terapimu seperti ini, huh? Kau tau kan jika kau tidak terapi kapan phobiamu itu bisa sembuh. Kenapa sulit sekali mendengarkan nasihat oema. Cepat temui doktermu hari ini juga. Oemma tidak mau kau…..”

Aku segera menekan tombol off sebelum kupingku ini mengalami pendarahan karena mendengarkan ocehan oemmaku. Yah selalu saja begitu, dia itu terlalu cerewet untuk ukuran seorang oemma. Aku ini sudah 28 tahun, tidak usah diingatkan aku sudah mengerti jadwalku untuk pergi terapi. Dan kenapa masih membahas body guard tak berguna itu, aku bukan balita yang harus dijaga. Aish, jinja.

Aku segera kembali ke ruanganku di lantai 5 dan mengambil tas jinjingku. Kemudian berjalan menuju basement untuk mengambil mobilku yang terparkir disana, sebelumnya aku mengeluarkan senter di dalam tasku dan menyalakannya ketika aku memasuki basement. Tempat ini tidak gelap, hanya saja cahanya kurang terang.

Aku harus berangkat ke rumah sakit sebelum pulang ke rumah. Yah benar, aku harus pergi menemui dokter dan melakukan terapi. Aku merasa sangat tersiksa dengan phobia ini. Rasanya ingin sekali aku terlepas darinya. Sejak 5 tahun ini aku rutin menjalankan terapiku, karena keinginanku untuk bisa terbebas dari phobia memalukan ini. Bagaimana mungkin seorang pria sempurna sepertiku ini takut terhadap gelap.

Beberapa pengobatan yang aku jalani adalah hipnoterapi yang membantuku untuk memprogram ulang alam bawah sadarku yang mungkin menjadi sebab dari ketakutanku sendiri. Seorang psikiater akan membantuku melakukannya dengan cara memberikan energy positif agar aku bisa mengubah alam bawah sadarku sepenuhnya. Selanjutnya adalah Neuro-Linguistic Programming dimana aku harus menciptakan suatu realitas yang berlawanan dengan ketakutanku. Phobia adalah suatu hal yang sebenarnya dibuat sendiri oleh penderitanya, dia memprogram alam bawah sadarnya sehingga tidak dapat bekerja dengan normal. Dengan menjalankan berbagai terapi ini diharapkan aku bisa meminimalisir atau bahkan mengeliminasi phobiaku. Dan yang terakhir adalah Energi Psikologi, yang sering disebut sebagai akupuntur emosional. Teori ini sudah ada sejak beberapa ribu tahun yang lalu. Studi ilmiah terbaru menunjukan bahwa terapi energy psikogi ini adalah yang paling efektif.

Dan karena keinginanku untuk sembuh, maka aku menjalani ketiga terapi yang sudah aku sebutkan. Semuanya diatur dan disesuaikan dengan jadwal sehari-hariku yang sangat padat. Aku mulai merasakan perbedaan setelah aku menjalani pengobatan tersebut. Setidaknya aku sudah bisa mengendarai mobilku sendiri ketika malam hari, walaupun tetap saja aku akan membiarkan lampu di dalamnya tetap menyala. Karena terapi itu jugalah aku sudah berani berada di dalam elevator sendirian, karena sebelumnya aku sama sekali tidak mau berada di ruangan sempit yang memungkinkan aku bisa terjebak di dalamnya dengan keadaan gelap.

***

….Seoul University….

Shinyeong’s POV

Aku berdiri di depan sebuah kelas yang sedang  belajar dengan serius. Aku memperhatikan  dosen yang sedang mengajar itu tanpa berkedip, selalu saja seperti ini, tenggelam dalam ketampanannya. Entah kenapa aku sama sekali tidak bisa menolak karisma yang dia pancarkan dari dalam dirinya. Benar-benar pria sempurna yang menjadi impian setiap wanita di dunia ini. Aku berdiri disini untuk menunggu Jungso Sunbae selesai mengisi kuliahnya di kelas lain. Aku ingin jujur mengatakan bahwa aku telah menghilangkan pemberiannya yang paling berharga itu.

Sekuat tenaga aku  mengumpulkan semua keberaniaanku untuk mengatakan semuanya, semoga saja dia tidak marah karena aku menghilangkan barang pemberiannya itu.

Kali ini aku masih mempunyai banyak waktu setelah menyelesaikan kuliahku. Sekarang baru jam 11 siang, dan aku masuk kerja pukul 3 sore. Setidaknya aku bisa menghilangkan rasa kesalku dengan memandangi wajah tampannya yang bisa memberikan ketenangan pada siapapun yang melihatnya.

Beberapa saat aku menunggu di depan pintu kelas, sembari mendnegarkan lagu di playlist-ku. Akhirnya pintu itu terbuka, dan yang pertama kali keluar adalah Jungso Sunbe.

“Shin Yeong-shi?”  Suara itu akhirnya mengalihkan semua fokus perhatianku. Segera kulepas earphone yang masih melekat di telingaku dan menganggukan kepalaku singkat ke arahnya.

“Jungso Sunbae, angeonghaseo” ujarku kemudian tersenyum.

***

Kami berdua duduk di sebuah kursi taman kampus yang terlihat lengang. Ini menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa untuk berbincang dengan temna-teman mereka. Taman ini cukup luas, pohon-pohon besar berdiri dengan kokoh dan beberapa kursi taman juga berderet di samping jalur pejalan kaki.

“Kau sengaja menungguku tadi?” Jungso Sunbae memulai pembicaraan, membuatku segera menengok ke arahnya yang tepat berada di sampingku.

“Ah…. Ne… aku sengaja menunggumu di sana” jawabku dengan sedikit gugup. Entah kenapa, setiap berada di dekatnya seperti ini maka perasaan inilah yang selalu terjadi padaku. Aku tidak bisa mengontrol setiap kata yang keluar dari mulutku dan mulai berkeringat dingin. Aigoo, Kim Shinyeong kau ini berlebihan sekali.

“Aish, kau ini membuatku merasa tidak enak saja” dia mengulurkan tangan kanannya untuk mengacak rambutku, kemudian tersenyum menampakan cekungan indah di sudut bibirnya. Senyum kesukaanku. “Ada yang ingin kau bicarakan, huh?” Sunbae, memiringkan kepalanya menatap wajahku. Oke kurasa sekarang wajahku sudah berubah menjadi merah.

“Sebenarnya aku ingin mengatakan, Sunbae, maafkan aku karena aku telah…..”

“Bagaimana kalau kita pergi ke toko buku”

Tiba-tiba dia memotong perkataanku sebelum aku menyelesaikannya. Aish, dengan susah payah aku mengumpulkan keberanian, tapi dia malah memotong seenaknya.

“Ah, whae…yo?” aku memajukan kepalaku mendekat ke arahnya. Karena tadi aku sedang berkonsentrasi untuk mengelurkan suara jadi aku tidak mendengar apa yang baru saja dia katakan.

“Kita pergi ke toko buku sekarang. Kau masih punya banyak waktu sebelum pergi bekerja kan? Ayo temani aku” Jungso Sunbae menarik tanganku tanpa menunggu jawaban dariku. Ya Tuhan, dia menggenggam tangaku dengan erat, dan tangannya ini sangat hangat. Apakah aku masih bisa bertahan hidup sampai ke toko buku jika dia tetap menggenggam tanganku seperti ini. Astaga, aku benar-benar sudah gila sekarang.

***

….COEX Mall Gangnam-gu Seoul….

Sudah 2 jam kami berada di dalam toko buku dan berputar-putar diatara lorong-lorong rak buku. Mulai dari buku kesehatan, biography, ekonomi, bahkan politik sudah kami jelajahi. Aku sangat bosan melihat pemandangan di sekeliling dan hanya mengekor di belakang Jungso Sunbae. Aku ini memang gadis yang pintar, tapi entah kenapa aku tidak begitu menyukai buku. Aku sendiri bingung darimana aku bisa mengetahui semua hal ilmiah itu, aku ini memang malas membaca dan lebih senang mendengarkan. Otakku ini paling peka terhadap setiap hal yang masuk melalui telingaku. Hanya saja aku ini benar-benar pelupa terhadap hal-hal kecil disekitarku. Aneh kan? Yah memang, begitulah aku.

“Ehm… Sunbae-nim,, eng… aku ingin keluar sebentar, boleh?” Aku menyentuh bahunya pelan, membuat dia berbalik ke arahku dan mengalihkan perhatian dari buku yang sedang ia baca.

“Apa mau ku antar?” Sunbae menutup buku yang sedang ia pegang kemudian meletakannya kembali di atas rak.

“Andweyo, aku bisa pergi sendiri, kau lanjutkan saja membaca” Aku mengibaskan kedua tanganku berkali-kali. Aku tidak enak jika harus mengganggunya yang sedang asik tenggelam dalam ilmu pengetahuan.

“Baiklah kalau begitu kalau kau sampai tersesat langsung hubungi pusat informasi” Ujarnya kemudian terkekeh pelan. Meledek ku, rupanya.

“Kau fikir aku ini balita” aku menggembungkan pipiku dengan kesal, tapi kemudian dia mengacak rambutku dengan tangan kanannya. Membuatku menarik kedua sudut bibirku membentuk sebuah senyuman. Aku selalu senang jika dia menyentuhku seperti itu.

***

Setelah dia berhasil keluar atas persetujuan Jung Soo Sunbae. Aku segera melangkahkan kakiku menyusri beberapa tempat yang ku anggap menarik. COEX Mall Gangnam-gu Seoul adalah pusat perbelanjaan terbesar di Asia, tentu saja disini banyak sekali semua kebutuhan yang kita inginkan. Aku mengayunkan kakiku dengan santai, hingga akhirnya langkahku berhenti tepat di depan sebuah supermarket. Mataku menangkap secara gamblang sebuah tulisan besar yang terpampang jelas di depan supermarket itu

 “Belanja lebih dari ₩ 100.000 mendapat 2 voucher makan seharga ₩ 10.000”

Mataku langsung berbinar setelah membaca tulisan tersebut. Aku segera masuk ke dalamnya, mencari tahu lebih jelas. Aku member sebotol air mineral seharga ₩ 500. Kemudian ikut mengantri di belakang seorang Ahjusi yang sedang membayar belanjaannya di kasir. Aku berjinjit dan mendongakan kepalaku di belakang bahu ahjusi yang sedang berdiri di depanku, untuk melihat berapa nominal yang tertera di layar monitor kasir itu.

“Semuanya ₩ 450.000, ada lagi yang perlu anda beli tuan?” Aku mendengarkan perbincangan kasir wanita itu dengan Ahjusi di depanku, Aku hanya bisa menahan jantungku yang seakan terlepas dari tempatnya. Aigoo, pasti uang ahjusi ini banyak sekali. Itu bahkan bisa aku pergunakan untuk biaya makanku selama sebulan.

“Karena anda sudah berbelanja melebihi  ₩ 100.000, maka kami akan memberikan 4 buah voucher makan dengan total ₩ 40.000” Aku membulatkan mataku metika mendengar kata yang baru saja  keluar dari mulut si penjaga kasir. Dengan jari-jari kedua tanganku, aku mulai menghitung nominal yang dia katakana.

“Ah tidak usah, Aku tidak ingin mengambil voucher itu. Silahkan saja anda berikan pada orang lain” Ahjusi itu berlalu begitu saja, di saat bersamaan beberapa orang datang menghampirinya dan membantu membawa semua barang belanjaan yang sangat banyak. Aku hanya bisa mengerutkan alis memandang punggungnya yang mulai menjauh, keluar dari supermarket.

“Semuanya ₩ 500 nona” Suara kasir itu mulai menyadarkanku yang masih tenggelam dengan kejadian barusan.

“Jeosonghamnida agaesi.  Jika seseorang menolak voucher tadi apa tidak bisa di pindah alihkan kepada orang lain?” Tanyaku dengan tampang polos, yang membuat dia tersenyum ringan.

“Hemh?” Dia bergumam pelan, seakan tidak mengerti denga apa yang baru saja aku katakana.

“Ah maksudku jika ada orang lain menginginkan voucher yang ditolak oleh pria tadi apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan voucher tersebut?” Tanyaku lagi, masih dengan tanda Tanya besar di atas kepalaku.

“Oh itu, hanya memerlukan nomer transaksi yang ada pada struk belanjanya” Ujanya singkat kemudian kembali tersenyum ke arahku.

“Jeongmalyo?” Ujarku dengan antusias, sehingga nona kasir itu memandangku dengan sedikit heran.

***

Setelah membayar air mineral yang aku beli, aku segera melesat pergi meninggalkan supermarket dan mencari keberadaan ahjusi  yang  menolak voucher makan  tadi. Matanku terus berpencar mencoba melihat satu persatu orang-orang yang sedang berlalu lalang. Tapi aku tidak bisa menemukannya.

Aku menunduk dengan putus asa, dan kembali menuju toko buku melalui Elevator yang kebetulan terbuka, toko buku berada di lantai dua namun Saat ini aku  berada di lantai 4.

Aku berada sendirian di dalam elevator, tapi baru saja elevator itu menuju angka 3. Tiba-tiba seorang ahjusi masuk ke dalamnya. Ya Tuhan, aku beruntung hari ini. Sejak tadi mencarinya, ternyata dia yang datang sendiri padaku.

Aku mengikuti kemanapun langkah Ahjusi  itu, sembari mengumpulkan keberanian untuk meminta kode transaksi yang tertera di struk belanjanya. Untuk sesuap nasi, memang diperlukan pengorbanan besar.

Akhirnya kami tiba di sebuah basement dimana Ahjusi  tersebut memarkirkan mobilnya. Aku  terus mengendap-endap dibelakangnya, hingga akhirnya ahjusi itu menyadari bahwa aku mengikutinya sejak tadi.

“Mau sampai kapan kau terus mengikutiku?” tanyanya secara tiba-tiba. Membuat jantungku berhenti berdetak selama beberapa saat karena terkejut..

“Bisakah kau memberikan itu?” ujarku dengan ragu-ragu, Ahjusi itu memicingkan matanya melihat ekspresiku.

“Oh ayolah aku hanya ingin itu dan anda tidak menginginkannya kan? Aku mohon kau mau melimpahkan voucher itu padaku..” Ujarku dengan nada memohon yang terlihat sangat menyedihkan. Ahjusi dihadapanku langsung terkekeh geli melihat ekspresiku.

“Mwoya? Jadi kau mengikutiku hanya karena Voucher? Kenapa kau tidak bilang dari tadi. Membuatku takut saja” Aku tersenyum ringan mendengar perkataannya.

“Geuraesseo, kau memerlukan nomor transaksi yang ada di struk ini kan?” Ahjusi itu menyerahkan struk belanjanya dan segera ku terima dengan sangat antusias.

“WHOAAA APA KAU BENAR-BENAR MEMBERIKANNYA PADAKU AHJUSSI? AIGOO..” Ujarku dengan bahagai, ketika kertas itu kini berada di genggamanku. Ahjusi itu hanya mengaggukan kepalanya kemudian tersenyum.

“Whoaa jeosonghamnida ahjussi” Ucapku sembari membungkukan badanku berkali-kali, untuk mengungkapkan rasa terimakasihku padanya.

***

Aku kembali ke toko buku setelah berhasil menukarkan struk itu dengan 4 buah voucher makan. Ah, dengan ini aku tidak usah mengeluarkan uang untuk membeli makanan. Dan uang itu bisa aku simpan untuk membeli ponsel flip berwarna oranye yang telah aku hilangkan itu. Jika aku membeli ponsel dengan model yang sama, maka aku tidak perlu mengakui kalau aku menghilangkan ponsel pemberian Sunbaenim itu.

Dengan wajah berbinar aku menemuinya yang masih asik di antara tumpukan buku-buku sejarah modern.

“Kau dari mana saja?” dia menutup buku di tangannya dan meletakan kembali ke atas rak.

“Hanya mencari sesuap nasi” ucapku kemudian tersenyum sumringah, sedangkan dia hanya terkekeh pelan mendengar jawabanku.

“Ayo, aku antarkan kau ke restorant. Bisa telat jika kau menggunakan Bus” Ujarnya kemudian merangkul bahuku dengan tangan kanannya. Aku hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mataku seakan tak percaya dengan apa yang sedang aku alami saat ini.

***

….Babtols Restorant Hongdae….

 “Eh…” Aku berpapasan dengan pria tak bermoral itu tepat di depan pintu masuk restorant. Kim Jongwon itu menggunakan setelan jas abu-abu dan sebuah kacamata dengan frame hitam melekat sempurna dimatanya. Membuat dia terlihat seperti pria sempurna yang sangat pintar. Kurasa dia baru saja kembali dari suatu tempat. Aku melirik ke arahnya dengan tatapan menjijikan yang pasti dia sadari.

“Mwoya?” Dia melepas kacamatanya dan menatapku tajam. Aku menaikan sudut bibirku membentuk sebuah smirk yang membuat dia membulatkan matanya melihat ekspresiku saat ini. Pasti dia merasa sangat tersinggung dengan perlakuanku. Dasar pria tidak tahu diri. Dia bahkan sama sekali tidak meminta maaf padaku setelah kejadian kemarin.

“Ehm.. aku berusaha mencarimu kemarin tapi kau ternyata sudah meninggalkan restoran, dan aku harap kau bisa menganggap bahwa peristiwa kemarin tidak pernah terjadi.. ya seperti itu” Ujarnya tepat di sampingku. Sembari terus mengayunkan kakinya di seirama dengan langkahku. MWOYA? Apa perlu aku meninju wajahnya sekarang juga?kau telah mencuri first kiss-ku dan sekarang malah seenaknya berkata seperti itu. Gila.

“NEOO??” Aku menyipitkan mataku dengan darah yang sudah naik ke ubun-ubun. Tangan kananku sudah terkepal dengan erat, bersiap melayangkan sebuah tinju ke wajah angkuhnya.

“Ehm ngomong-ngomong kemarin itu rasanya ‘Pedas’” Dia berbisik tepat di telingaku, membuatku merinding sesaat merasakan nafasnya yang menyapu leherku. Saat itu juga dia segera melangkah cepat mendahuluiku yang tiba-tiba berhenti.

“Bwosunsuriya?” Refleks aku langsung menggerakan jari tanganku untuk menyentuh bibirku. Pedas? Apa maksudnya itu?

“YAK BODOH, APA YANG KAU KATAKAN?” aku berteriak dengan volume yang cukup kencang, membuat beberapa karyawan yang sedang berlalu lalang tiba-tiba mengalihkan semua perhatiannya ke arahku. Menyadari hal itu, aku segera berlari menuju ruang ganti untuk memakai baju seragamku.

***

Jongwon’s POV

Dasar yeoja pabo, dia bahkan tidak mengerti apa yang ku katakan tadi. Ck payah sekali. Dia benar-benar polos atau mungkin itu adalah first kiss-nya jadi dia tidak paham apa yang ku maksud barusan. Hah mana mungkin di zaman sekarang masih ada bibir wanita berumur lebih dari 17 tahun belum terkontaminasi bibir siapapun. Tapi jika benar, itu berarti akulah pria pertama yang merasakan bibirnya. Jujur, kemarin aku melakukannya dengan penuh emosi, dan ehm… yah menikmatinya. Hyaish kenapa aku jadi berpikiran macam-macam..

“Kapan kau akan mengajak yeojachinggumu itu bertemu denganku? Kemarin dia berlalu begitu saja tanpa mengatakan apapun. Kurasa dia kesal karena aku menggu kegiatan menyengkan yang sedang kalian lakukan. Lagipula, kenapa kau ini malah berciuman di kantor, apa tidak ada tempat lain, huh?. Aku tidak peduli, yang pasti kau harus mengenalkannya padaku, karena aku penasaran seperti apa kepribadiannya. Setidaknya saat kau membicarakan masalah pekerjaan dengan kakak sepupumu aku bisa mengobrol banyak tentang wanita dengannya. Oette?

Perkataan Hyorin nuna kembali berputar di memoriku. Kemarin setelah gadis trans gender, em… Kim Shinyeong maksudku. Setelah dia lari keluar dari ruanganku, Hyurin nuna langsung mengatakan jika ia ingin segera mengenal gadis itu. Yah, itu semua karena sikap bodohku yang mengatakan bahwa Kim Shinyeong itu adalah pacarku. Bahkan saat itu aku tidak tau sama sekali namanya, sehingga berkali-kali aku menyebutkan kata “gadis ku” setiap aku menyebut namanya, dan itu semua membuat Hyorin nuna terkekeh geli.

Aku baru saja bertemu dengan Hyorin nuna, kami membicarakan sepintas tentang perkembangan restoran ini. Bagiku, Hyorin nuna adalah konsultan ekonomi yang paling sempurna. Dia baik, cantik dan luar biasa pintar. Dia mengatakan bahwa permasalahan yang timbul dalam restoran ini, hingga omsetnya jauh di bawah beberapa cabang restoran yang tersebar di seluruh Korea disebabkan karena  manajemen pengelolaannya yang kurang kooperatif. Aku bisa menyimpulkan mulai sekarang aku harus memikirkan beberapa strategi khusus yang tepat dan menarik untuk mengatasinya.

“Kim Seungho, keruanganku sekarang” aku membuat panggilan  cepat pada asisten kepercayaanku itu. Tidak berselang lama sosoknya sudah berada di dalam ruanganku.

“Beritahu aku apa saja yang menjadi masalah di restoran ini, aku akan melihat sistem kerjanya secara langsung, dan sekarang kau antar aku” Ujarku sembari merapihkan beberapa berkas yang masih tersebar secara acak di atas meja kerjaku.

“Ne Sajangnim” Jawabnya dengan tegas kemudian memanggil beberapa staf untuk mengiringiku melakukan tinjauan langsung ke restorant.

***

Shinyeong’s POV

“Shinyeong -ssi tolong buang sampah yang menumpuk di dapur?” Pengawas Min meneriakiku yang sedang sibuk memandang setiap pelanggan yang asyik menyantap hidangannya.  Saat ini aku berdiri dengan Dongho di sampingku, dia juga sedang memusatkan perhatiannya pada seorang pelanggan. Yah akhir-akhir ini aku perhatikan pelanggan memang agak berkurang. Tidak seperti pertama aku masuk dan menjadi pegawai di restorant ini.

“Ne…” Ujarku dengan sigap kemudian merapihkan vest yang ku kenakan.

“Dongho-ya  aku pergi kesana dulu” Aku menoleh ke arahnya yang masih sibuk dengan fokus matanya. Kemudian dibalas dengan anggukan berkali-kali dan senyuman ringgan yang membuat matanya menjadi tidak terlihat.

“Aissh kau itu belum pantas jadi mahasiswa, wajahmu terlalu imut…” Ucapku gemas, kemudian menyentuh ujung topi merah dengan logo restorant yang dikenakannya.

Kami selalu melakukan ini, tak ada petugas khusus yang bertugas untuk membuang sampah-sampah yang sudah menumpuk.  Semuanya dilakukan oleh pegawai yang memang sedang menganggur, bahkan untuk memberikan suatu barang kepada Sajangnim saja kadang menyruh seorang pelayan. Yah seperti yang ku alami kemarin, saat aku diminta untuk mengantarkan sebuah amplop kepada tuan Kim itu, dan berakhir dengan sebuah malapetaka. Menurutku pembagian sistem kerja di restoran ini memang kacau, semuanya tidak termanage dengan baik. Tapi meskipun aku mengungkapkan pendapatku mana mungkin ada yang mau mendengarnya, aku hanya seorang pegawai yang hanya memiliki tugas sebagai pelayan.

“Ah Oseo oseyo”  Sapaku kemudian membungkuk ramah saat aku berpapasan dengan seorang Pria berkacamata di depan pintu masuk restorant. Tapi kenapa aku merasa aneh? Gerak-geriknya terlihat sangat mencurigakan. Dia begitu tergesa-gesa memasuki restoran.  Aku berusaha tidak mempedulikannya dan tetap melangkahkan kakiku menuju tempat pembuangan.

“Cha..cha.. sudah  selesai” Aku menepuk kedua tanganku menghilangkan beberapa kotoran yang mungkin melekat. Namun saat aku kembali memasuki restoran semua orang ramai membentuk sebuah lingkaran dengan seorang yeoja menjadi pusat dari semuanya. Aku dapat mendengar suara Yeoja itu yang sedang terisak keras.

Tapi secara kebetulah aku berpapasan dengan Dongho yang baru saja keluar dari toilet.

“Ada apa?” Tanyaku penasaran berjinjit dan menegakan tubuhku, mencoba melihat siapa yeoja yang menjadi pusat perhatian itu.

“Mwollayo, tadi aku sedang di toilet aku tak tahu apa yang terjadi…” Dongho mengangkak kedua bahunya dengan ekspresi bingung.

“Eh bukankah itu.. MWO?”  Aku menerobos kerumunan beberapa orang dengan seragam yang sama. Dapat kulihat Jieun yang sedang terisak. Ya, Song Jieun lah yang menjadi pusat dari kerumunan ini. Di depannya sudah ada Sajangnin dan beberapa staf yang mengikutinya.

“YAAKKK!!!!” Aku berteriak tepat di depan semua orang, sehingga mengalihkan perhatian mereka dari Jieun. “Ada apa ini?” Lanjutku dengan tatapan bingung. Aku menoleh kea rah Jieun yang langsung berlari ke pelukanku.

“Yeongi-ah” Ujarnya lirih kemudian melepaskan pelukannya dari tubuhku. Aku menangkupkan kedua tanganku di pipinya untuk menghapus air mata yang terus mengalir.

“Sahabatmu ini telah bersekongkol dengan seorang penipu” Ujar seorang ahjusi dengan tampang menyeramkan. Dia terlihat penuh emosi sekarang.

“Mwoya? Yak kau jangan asal menuduh ahjusi” Ujarku dengan setengah berteriak. Aku benar-benar tidak terima sahabat baik ku ini dituduh seperti itu.

“Jadi dimana orang itu? apa kau menyembunyikannya?” Lanjut ahjusi menyeramkan itu dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Jieun, membuat Jieun segera berlari ke belakangku, dan membenamkan wajahnya di punggungku.

“Apa maksudmu, jangan membuatku bingung” balasku dengan sedikit takut melihat ekspresinya, karena Jieun hanya terdiam maka akulah yang membuka mulut.

“Kembalikan uang  ₩ 1.000.000, miliku. Kau harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh kekasihmu itu nona Song Jieun” perkataanya semakin membuatku bingung, sebenarnya ada masalah apa. Kenapa Jieun sama sekali tidak memberitahunya padaku.

“Daritadi kau hanya menangis, APA KAU TAK BISA MENJAWAB?” Bentak Sajangnim sehingga membuat kami semua yang sedang berada disini terlonjak kaget. Orang ini bisa marah juga? dan saat dia marah kenapa malah terlihat keren? Ekspresinya itu terlihat benar-benar menarik. Aish, pabo…. Kim Shinyeong, dia itu sedang meneriaki sahabatmu.

“YAAAKK!!! JANGAN PERNAH BERTERIAK SEPERTI ITU PADA SAHABATKU, ARAAAAAA” teriaku tak kalah kencang hingga semua orang menatapku tidak percaya. Oke, bagus Kim Shinyeong kurasa tanpa menyerahkan surat pengunduran diri, kami berdua benar-benar akan dikeluarkan secara paksa dari restorant ini.

***

Jongwon’s POV

Kepalaku mulai berdenyut sakit. 2 hari berada disini membuat kepalaku seakan ingin mengeluarkan semua organ dalamnya sekarang juga. Belum selesai masalah yang menimpa restoran ini sekarang sudah timbul masalah yang berbeda. Berbagai masalah memang bersahabat baik dengan kehidupanku rupanya. Aku sedang duduk di dalam ruanganku menunggu kedua gadis pembawa masalah itu mengahmpiriku. Tadi aku sudah meminta mereka untuk segera menemuiku setelah Ahjusi itu pergi dari restorant ini.

Tok…Tok…Tok…

Terdengar seseorang mengetuk pintu ruanganku.  Aku yang masih memijat area pelipisku yang terasa sakit langsung kembali bersikap seperti biasa, menampakan wajah berwibawaku yang terlihat tegas. kemudian mempersilahkannya masuk. Aku sudah bisa menebak siapa yang mengetuk pintuku itu. Mereka pasti 2 orang gadis pembawa masalah yang membuat aku frustasi.

Pintu itu terbuka secara  perlahan, dapat kulihat keduanya memasang wajah ketakutan mereka. Aku ingat namanya sekarang, Kim Shinyeong dan Song Jieun. 2 gadis pembawa malapetaka.

“Anyeonghaseo” Sapanya kaku. Keduanya tidak ada yang berani mengangkat wajah untuk menatapku. Bahkan Kim Shinyeong gadis kurangajar itu juga tetap menundukan kepalanya, mungkin dia menyadari posisinya yang sedang sulit saat ini.

“Aku tak tahu harus berbicara apa tapi kalian berdua, aissh.. benar-benar pembawa masalah ARA!” ujarku tegas dan sedikit menekan di kalimat akhir.

“YAK SA-JANG-NIM, ku rasa kau yang pembawa masalah. Semenjak kedatanganmu kemarin kami terus menerus di dera berbagai macam masalah, sudah sebulan kami bekerja di tempat ini dan sebelum kau datang kurasa semuanya baik-baik saja. Bahkan hidupku penuh mala petakan setelah bertemu denganmu.” Kim Shinyeong mendongakan wajahnya dengan angkuh ke arahku. Heh? Mwoya? Pegawai macam apa yang berani membentak atasannya seperti ini? Memang tidak waras, dasar yeoja aneh.

“Neo.. berani sekali kau!!” aku membulatkan mataku dengan tatapan sadis. Tapi itu tidak membuatnya takut, dia malah balik menatapku tajam, meskipun temannya itu sudah berusaha untuk mencegah sikap keterlaluannya itu.

“Kau bahkan belum meminta maaf atas perbuatanmu kemarin dan sekarang mau menuduh Ji Eun dengan status tanpa bukti seperti ini? Apa kau sudah bosan hidup?” Tambahnya lagi kali ini dia berkacak pinggang menantangku. Aissh kenapa dia membicarakan masalah kemarin lagi?

“Jangan pernah mengungkit masalah kemarin lagi, atau aku akan memecatmu sekarang juga!” aku menggebrak meja di hadapanku dan segera bangkit dari posisiku menghampiri mereka.

“Oh jeongmalyo? Aku tidak takut dan memang aku sudah memikirkannya dari kemarin, Tuan Kim Jongwon.  Aku lebih suka berdiri seharian di bawah terik daripada harus melihat wajahmu walaupun hanya sedetik” Ujarnya masih dengan tampang angkuh yang terlihat sangat menyebalkan.

Apa yang dia katakan? Lebih suka berdiri di bawah terik daripada melihat wajahku? Baru kali ini aku mendengar seorang yeoja dengan terang-terangan berbicara seperti itu dihadapanku. Ah benar dia itu memang tidak normal.

“Dan aku lebih suka berada dalam salt room di Jincilbang selama 24 jam dibandingkan harus melihat batang hidungmu, gadis trans gender!” balasku tak kalah galaknya.  Song Jieun hanya menonton pergolakan kami dengan wajah tanpa dosa. Ku lihat dia memegang hidungnya kilat.

“Lalu apa intinya kau memanggil kami kesini?” Tuntutnya tidak sabar. Aneh, kenapa jadi dia yang lebih emosi. Ini restorant miliku dan dia berani bersikap kurangajar.

“Baiklah, aku ingin mendengarkan penjelasan dari Song Jieun. Siapa ahjusi tadi? Dan kenapa tiba-tiba dia menuduhmu bersekongkol dengan penipu? Cepat jelaskan sejelas-jelasnya, sekarang juga” Aku mengarahkan pandanganku pada Song Jieun yang terlihat sangat ketakutak.

“Chosungeo Sajangnim. Sebenarnya yang dia maksud adalah pacarku. Namjacingguku meminjam uang sebanyak ₩ 1.000.000 dari ahjusi tadi. Aku tidak tau uangnya dia gunakan untuk apa. Beberapa hari yang lalu dia menemuiku dan memintaku untuk mengantarkannya ke suatu tempat. Aku hanya menurutinya saja, aku tidak tahu sama sekali kalau ternyata dia akan pergi ke luar kota dan membawa kabur uang itu. Dan lebih buruknya lagi, dia melimpahkan semua hutangnya itu padaku. Ahjusi menyeramkan yang tadi mencariku mengancam akan melaporkanku ke polisi jika aku tidak mengembalikan uangnya. Aku benar-benar bingung sekarang. Aku tidak tahu harus berbuat apa” dia berbicara dengan nada bergetar dan hampir menangis “Yeongi-ah tolong aku” Jieun menoleh ke arah Kim Shinyeong, yang masih menganga lebar seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sahabat baiknya ini. Yeongi, haha terdengar sangat manis. Berbeda sekali dengan kenyataannya yang sangat galak.

“Jieun-ah, kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kau mempunyai seorang kekasih. Dan sekarang setelah masalah ini terjadi, aku baru mengetahuinya” Kim Shinyeong memegang bahu Song Jieun dengan ekspresi kecewa di wajahnya. Dapat aku lihat Song Jieun kembali menangis.

“Aish, kau Song Jieun. Menangislah dulu di luar sana. Jangan menangis lagi di depanku. Dan kau Kim Shinyeong. Kau tetap di dalam sini jika kau ingin membantu sahabat baikmu itu” Aku mengedikan kepalaku kea rah pintu keluar, kemudian Song Jieun yang masih terisak itu segera melangkahkan kakinya keluar dari ruanganku. Sedangkan Kim Shinyeong. Kini dia mulai bersikap lebih lunak dari sebelumnya. Kurasa gadis ini merasa terpojok sekarang.

Shinyeong’s POV

Kami berdua masih sama-sama terdiam ketika Jieun sudah meninggalkan ruangan ini. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Ruangan dengan luas 4 x 8 meter dengan jendela kaca yang sangat besar. Ini adalah kedua kalinya aku masuk ke dalam sini, hanya saja aku baru memperhatikannya dengan seksama. Kenapa di atasnya itu terdapat banyak sekali lampu dengan ukuran yang besar. Lampu itu tetap menyala, padahal ini masih sore, dan sinar matahari masih bisa masuk melalui jendela tanpa gorden itu. Kenapa ruangannya terasa aneh seperti ini.

“Aku akan membayar hutangnya “ tiba-tiba suara berat itu membuyarkan semua fikiranku.

MWOYA? Apa aku tidak salah dengar. Apa yang dia katakana tadi? Ya Tuhan, apa telingaku tiba-tiba jadi rusak seperti ini.

“Aku akan membayar semua hutangnya ahjusi itu. Aku tidak mau reputasi restorantku menjadi buruk karena salah seorang karyawannya dipenjara atas kasus penipuan. Tidak lucu kan, jika restorant milik putra dari staf kementrian Negara telah mempekerjakan seorang penipu?” Ujarnya dengan nada angkuh. Dengan sekuat tenaga aku mengepalkan tanganku mencoba menahan emosi. Kalimat pertamanya terdengar sangat baik, tapi kalimat terakhirnya itu benar-benar membuat darahku naik.

“Kau kenapa? Tidak ingin aku membantunya. Kau ingin Song Jieun, sahabat baikmu itu mendekam di penjara, huh?” Dia menatapku sembari berkacak pinggang. Aigoo, jika dia bukan atasanku rasanya ingin sekali mendorongnya dari jendela. Tapi aku memang sangat menyayangi Jieun. Uang  ₩ 1.000.000 itu bukan sedikit. Jika dia tidak membantu Jieun untuk melunasinya, maka Jieun pasti akan dilaporkan ke polisi.

“Kau yakin akan membayarkan semua hutangnya” tanyaku dengan sedikit ragu. Aku masih tidak percaya dia akan melakukan semua itu.

“Yakin. Aku yakin akan membayar semua hutangnya. Tapi dengan satu syarat” Dia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman licik yang terlihat mengerikan. Yah, benar saja. Mana mungkin dia membantu secara Cuma-Cuma, pasti ada alasan lain baginya untuk mengeluarkan uang sebanyak itu.

“Aku tau kau ini memang benar-benar licik. Sa-jang-nim” Aku mendongak ke arahnya dan berrbicara dengan nada mencibir. Membuat ekspresinya berubah menjadi kesal.

“Kau fikir aku akan mengeluarkan uang sebanyak ₩ 1.000.000 dengan Cuma-Cuma. Kau juga tahu kan Babtols Restorant Hongdae ini sedang mengalami banyak masalah keuangan. Restorant ini bahkan memiliki pendapatan yang dibawah rata-rata pendapatan restorant cabang lainnya” aku tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun setelah mendengarkan penjelasannya

“Jadi kau ingin sahabat baikmu itu mendekam di penjara, huh?” Dia balas mendekatkan wajahnya ke arahku hingga kini posisi kami benar-benar dekat. Melihat wajahnya sedekat ini aku jadi ingat dengan kejadian kemarin saat dia mencium paksa bibirku.

Aigoo, aku benar-benar bingung sekarang. Sebenarnya apa syarat yang akan dia ajukan. Dan apa aku bisa melaksanakannya. Aku tidak ingin Jieun sampai di laporkan ke polisi. Dia itu teman terbaik ku, masalahnya adalah masalahku juga.

“Baiklah, apa syaratnya?” aku mulai luluh setelah memikirkan nasib Jieun. Baiklah, apapun akan kulakukan asal Jieun bisa terbebas dari masalah ini.

“Jadilah pacarku” ujarnya dengan santai sembari membetulkan letak dasinya yang sedikit miring.

“MWORAGO?” aku membulatnya kedua mataku dengan tatapan yang tidak percaya. Aku benar-benar terkejut mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya itu. Apa dia sudah gila?

***

To Be Continue…

***

Part 2 dipublish. Bagaimana? Apa mengecewakan?

Pasti readers semua kecewa gara-gara ga nyambung sama judulnya ya?

Agak sulit bikin alur biar bisa nyeritain Myctophobianya Jongwon. Makanya jadi ngelantur begini ceritanya.

Tapi sekedar bocoran, nanti Shinyeong akan berperan besar untuk kesembuhan Jongwon. Dia bisa membuat Jongwon terbebas dari Myctophobianya.

Tapi yang jadi masalah adalah, kita berdua gatau gimana caranya tuh cerita bisa sampe begitu, hahaha *GUBRAK*

Oh iya, doain Admin Serlin yang mau tes masuk Universitas hari selasa besok ya. Smoga bisa diterima. Amin.

Kalo ada yang bilang ini masih kurang panjang berarti keterlaluan banget. Ini tuh uda 30 lembar letter, Calibri, 2 spasi. Dan menurut kami berdua udah menguras habis ide yang ada di dalam otak pas-pasan yang cenderung ‘sarap’ ini.

Seperti part 1, part ini kami kerjakan berdua. Setengahnya sama Serlin dan Setengahnya lagi sama Selly.

Karena Fanfiction Big Project gagal ini sangat mengahwatirkan jadi kami mohon dukungan dan bimbingan dari Readers semuanya.

Semoga kami bisa menulis part selanjutnya dengan lebih baik lagi.

Terimakasih yang udah mau baca plus comment

*Bungkuk90derajat*

10 thoughts on “Myctophobia, 2nd Story. {Please Be My Girlfriend}

  1. annyeong,,hmm,,kalo gitu temenku tak suruh utang 10 jt won, n pura2 g bisa bayar, ntar di bayarin Yesung, syaratnya aku jadi istrinya Yesung,,mhuahahahahaha,,,#plaakkk,ngarep…

    next part, ASAP…hwaiting….

  2. lanjtin dunkz thor..
    penasaran bgtz nieh..
    crtanya bgz kok thor..
    jd penasaran,
    ap tar mreka saling jth cinta??
    he”

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s