Míorúilt an ghrá

Title : Míorúilt an ghrá

Author : shfrasapphireblue98

Main cast : Louisa Hwang, Kim Jaejoong (Hero Kim)

Support cast : –

Rating : All Ages

Genre : fantasy, romance, light angst (gak angst juga sih ._.), oneshot, JYJ/TVXQ

PS : aku pernah post ini di http://shfrasapphireblue98.wordpress.com/ (blog pribadiku) dan http://girlyfiction.wordpress.com/ ßsilahkan visit new blog

Disclaim : NO PLAGIAT !! ini murni imajinasi aku. Gomawo ^^ *bow*

Note : selesai dalam waktu 3 hari saat malam hari #plak gapenting ._. no silent readers, thx ^^ aku Cuma author amatir yang butuh komentar

 

Magic

Miracle

True love

 

***

Kedua mataku terpejam. Hatiku terbang terbawa angin yang berlalu seiring waktu yang kusia-siakan. “snicviz” gumamku lalu meniup beberapa kelopak bunga yang ada digenggaman tanganku. Kubuka kedua mataku perlahan dan melihat kelopak kelopak tersebut yang terbang menari diatas angin membentuk sebuah irama. Indah..

Angin semilir menerbangkan gaun sutraku lembut. Kupasrahkan diriku dengan bersender disebuah batang pohon kokoh ditengah tengah padang rumput ini. Aku, Louisa Hwang. Gadis yang selama ini hidup datar tanpa ada gangguan. Aku hidup bagaikan air sungai yang mengalir damai, tanpa gangguan.

Beberapa burung berkicau riang diatas awan. Mereka sangat bebas, kurasa sama seperti aku yang bisa melakukan apapun yang kumau, aku bebas. “nesancef” gumamku lagi membuat beberapa burung gereja dan kupu kupu menghampiriku. Aku tersenyum riang saat mereka ada didekatku.

“Louisa….” suara lembut itu kembali mendarat ditelingaku. Suara milik Stephanie, saudaraku yang sangat berarti untukku. “ya? Ada apa?” tanyaku padanya yang sudah berada tepat disampingku. Kulepas burung dan kupu kupu itu untuk kembali menyusuri langit dan udara. “tidak, aku hanya ingin menyapamu. Seperti biasa, aku dapat menemukanmu disini” jawabnya yang memang sudah tau bahwa aku selalu berada disini, padang Vashfelle.

“tak ada yang berubah kan? Dari dulu sampai sekarang padang ini tak berubah. Rumput rumput yang menari indah diiringi angin lalu, burung burung yang bernyanyi riang, dan kupu kupu yang ikut menari. Ah, jangan lupa dengan kelopak kelopak bunga yang berlari menyusuri angin” ujarku tersenyum riang kepada Stephanie. Dia membalasnya dengan senyum penuh arti. Perempuan ini memang sangat cantik saat tersenyum, senyum indah yang sangat kugemari. “ada yang akan berubah Louisa. Kau lihat rumah disana?” ujarnya menunjuk sebuah rumah ditepi padang Vashfelle ini.

“ya, rumah baru? Lalu, ada apa?” tanyaku penasaran kepada Stephanie. Dia kembali tersenyum misterius padaku dan ikut bersandar dibatang pohon ini. “kau akan melihatnya beberapa saat lagi. Tunggulah Louisa Hwang. Kau akan menemukan jawabannya sebentar lagi” jawabnya kembali membuatku penasaran.

Kulihat Stephanie mengangkat satu persatu jarinya menunjuk angka satu, dua, dan tiga. Pada saat jari ketiga, seorang laki laki tampan keluar dari rumah itu. Dia tampak sangat tampan dengan jubah putihnya. Hatiku berdesir saat melihat sosoknya yang baru kali ini kulihat. Siapa dia? Siapa namanya? Dan, perasaan apa ini? Jantungku terasa seperti dunia yang akan segera runtuh. Dia terlalu menyilaukan pemandanganku.

“Louisa? Heloo, Louisa Hwang…”

Aku tersadar dari lamunanku dan menghadap Stephanie. “ya? Ada apa?” tanyaku sedikit salah tingkah. Stephanie tertawa melihatku. “bagaimana? Tampan bukan?” tanya Stephanie lagi, dan aku tak dapat menjawab pertanyaannya hanya sibuk memikirkan perasaanku sekarang. Kusentuh sebuah organ yang tersimpan didalam rongga dadaku tersebut, aku dapat merasakan detakan jantungku yang masih berdegup kencang. Perasaan apa ini?

“haha, Louisa, sepertinya kau menyukainya.” Aku tergerak mendengar perkataan Stephanie. Suka? Suka berarti, cinta? Tidak, kurasa tak akan secepat ini. Ini pertama kalinya aku melihatnya dan aku tak mungkin menyukainya. Aku bahkan belum mengetahui siapa dia.

Kulihat lagi sosoknya ditepi padang Vashfelle ini. Tegak, tampan, dan sempurna. Siapa dia? Dan, tanpa sedikitpun dia melirik kearah kami yang berada ditengah padang ini. Dia hanya berkonsentrasi pada apa yang sedang dilakukannya, membersihkan makhluk bernama Hobride, kuda yang mempunyai sayap seperti pegasus yang penuh cahaya.

“kau tau siapa namanya, Stephanie?” tanyaku penasaran tanpa mengalihkan pandanganku dari laki laki tadi. “Hero. Hero Kim. Aku mengetahui namanya dari mamsd yang pastinya mengetahui tetangga baru kita” jawab Stephanie. Hero…. bisikku lirih.

“baiklah Stephanie Hwang. Kurasa kita harus kembali kerumah, matahari mulai hilang tenggelam. Mamsd dan appsd pasti akan segera mencari kita…” ajakku pada Stephanie  untuk kembali kerumah. Sekali lagi kupandangi laki laki bernama Hero tadi sebelum berlalu. sempurna…

***

Kubuka kedua mataku yang terpejam sejak semalam. Hari ini aku terbangun oleh suara kicauan burung yang menghapiri telingaku dengan tentram.

Sudah satu minggu berlalu semenjak hari itu, hari pertama aku melihat Hero. Selama satu minggu ini juga aku terus memperhatikannya dari tengah tengah padang Vashfelle ini. Terkadang, dia terlihat sedang membaca buku, terkadang dia berkuda mengelilingi padang ini dengan Hobride miliknya. Semakin indah kulihati dirinya. Setiap hari itupun Stephanie selalu mengatakan bahwa ini adalah perasaan yang dinamakan cinta. Tentu saja aku tak mempercayainya, ini untuk yang pertama kali bagiku.

Apa yang bisa kulakukan? “Louisa?” aku mendengar irama panggilan khas yang selalu terlontar dari mulut mamsdku dari balik pintu kamarku. “mamsd, masuklah..” jawabku menyetujui kehadirannya kedalam kamark. Dia masuk dengan anggun. Senyumnya, matanya dan bibirnya, bentuk yang sangat indah. Aku segera bangun dan duduk karena kehadiran mamsd dikamarku.

“kau sudah bangun?” tanyanya lagi lalu duduk disampingku. Aku mengangguk malas dibawah pengaruh kantuk yang masih menghantuiku. “aku merasa ada sesuatu denganmu. Apa ada yang salah? Kurasa kau lebih banyak menghayal akhir akhir ini.” Tanya mamsd membuatku kaget. Apa benar pengaruh Hero membuatku seperti ini?

“apa karena tetangga baru itu? Hem, Louisa Hwang, kurasa kau harus membangun sebuah perkenalan dengannya. Menurutku, ini pertama kalinya untukmu bukan?” ujae mamsd dengan senyum hangatnya. Aku membalas senyumnya malu malu. “mamsd?” panggilku padanya dan dibalas olehnya dengan senyum manis. “apa benar perasaan ini yang dinamakan cinta? Stephanie yang mengatakannya, dan aku belum pernah merasakannya sebelumnya. Ini, yang pertama kalinya untukku. Aku merasa sosoknya sangat indah dan berkilau dimataku. Terlalu indah dan sempurna. Hatiku berdesir setiap melihatnya. Pikiranku kosong dan aku merasa….tak ada. Pesonanya membuatku hilang.”

Mamsd tersenyum padaku. “jawabannya ada didalam sini” dia menyentuh jantungku. “rasakan. Lihat kedalam hatimu. Disaat jantungmu berdetak kencang, sesuatu terjadi padamu. Jika kau merasa dia menyilaukan, dia memasuki pikiranmu, dan kau ingin menjadi yang terbaik baginya. Itu artinya, dewa cinta berhasil memasuki hatimu.” Sambung mamsd.

Aku terdiam. Jawabannya ada didalam hatiku? Benarkah? Apa..aku bisa menemukan jawabannya?

“baiklah, aku mempunyai sebuah urusan denganmu” ujar mamsd membuatku sedikit curiga. Biasanya, jika dia menjadi seperti ini, ada saja hal yang dia ingin agar aku melakukannya. Dan, BENAR SAJA!!

***

Aku dan Stephanie berjalan menyusuri Scivers Gelt yang sangat sepi dan lembab. Bahkan tempat ini terhitung gelap walaupun sekarang baru jam setengah satu siang. Gelap, sangat gelap. Apa ini bayanganku? Aku melihat dua Mamofer yang sedang mendekatiku dan Stephanie. “Louisa, apa ini bayanganku? Aku melihat dua Mamofer mendekati kita berdua.” Ujar Stephanie yang semakin meyakinkan diriku. Dingin udara menyelusuri badanku hingga tulang. Kurasa memang benar dua Mamofer sedang mendekati kita.

Mamofer adalah makhluk yang menghisap kebahagiaan, harapan, impian, semangat, dan perasaan kita. Satu satunya cara untuk mengusir mereka adalah sihir Krislato. Kita harus mengucapkan begitu banyak mantra berurutan tanpa berhenti dengan perasaan kosong dan pikiran kosong. Ya, itulah satu satunya cara. Dan sialnya, aku dan Stephanie belum menguasai sihir itu.

Dalam beberapa detik aku melihat salah satu Mamofer menyerang Stephanie. Bayangan bayangan kebahagiaan perlahan pergi dari tubuh Stephanie. Aku panik tentu saja. namun, satu Mamofer datang kearahku. “ovarbette camanand exdaropt viderp bremant…………..” aku tak dapat meneruskan mantra selanjutnya. Harapanku, impian, semangat, kebahagiaan, semua.. hilang.. aku..merasa kosong… aku pasrah dengan keadaan ini.

Cahaya… apa ini perasaanku, atau aku melihat cahaya? Cahaya harapan. Cahaya kehidupan, dan kebahagiaan. Kedua Mamofer tersebut pergi dari sini. Kulihat Stephanie tergeletak lemas tak berdaya diatas tanah. Dengan panik aku langsung menghampiri Stephanie tak memperdulikan orang yang menolong kami tadi. “kamu tak apa apa Stephanie?” Stephanie membalasnya dengan anggukan lemah dari kepalanya.

“maaf jika aku datang terlambat. Apa sudah terlambat? Apa yang sedang kalian lakukan disini nona?” suara itu menyapaku dan Stephanie yang terjatuh. Aku mengangguk lemas. “tak apa-apa. Kau tidak terlambat. Kami membeli bahan ramuan untuk mamsd dan, mengapa kau ada disin…..” kupandangi orang yang menolongku dan Stephanie. Dia, Hero Kim?

Aku terdiam membeku saat dia berada disampingku. Tempat gelap ini terasa semakin gelap. “Louisa Hwang.. kau disana?” desahan suaranya membuatku tersadarl Stephanie telah sadar. “ya, aku disini. Ah, mungkin kita harus berbicara nanti saja. aku harus membawa saudaraku pulang.” Aku berpamitan kepada Hero dengan terpaksa. Aku belum siap untuk bertemu dengannya jujur saja.

“namaku Hero. Hero Kim. Kau bisa menemuiku ditepi padang Vashfelle, rumahku disana. Sampai jumpa lagi” ujarnya berteriak padaku dan Stephanie yang usdah melangkah cukup jauh. Aku terus menuntun Stephanie hingga masuk kedalam rumah. Mamsd tentu saja sangat kaget dengan kejadian kali ini. Belum pernah terjadi sebelumnya. Aku menyerahkan bahan bahan ramuan tadi kepada mamsd. Aku melihat mints, rose oil, miracle pink egg, kelopak bunga mawar, jasmine oil, dan mistletoe. Mamsd sepertinya sadar aku memperhatikan ketujuh bahan tersebut. Bahan yang tidak biasa. Mamsd tersenyum padaku.

“aku akan membuat ramuan keberuntungan. Dan, kau tau, ketujuh bahan diantara ini juga digunakan untuk membuat ramuan cinta, sarmorlota. Ramuan berwarna merah muda yang dapat membuat seseorang jatuh cinta padamu. Ada apa? Sst, jangan bilang siapa siapa. Sebenarnya mamsd hampir membuatkan appsd-mu sarmorlota. Tapi ternyata appsd-mu sudah menyatakan cintanya padaku sebelum aku membuat ramuan. Apa kau tau Louisa? Itu yang dinamakan Míorúilt an ghrá. Keajaiban cinta” jelas mamsd panjang lebar.

Míorúilt an ghrá? Jadi itu benar benar ada? Kupikir hanya mitos belaka?” ujarku pada mamsd yang disambut senyum lebar dan gelengan kepalanya.

“keajaiban cinta. Itu bukan mitos. Itu bisa disebut takdir. Baiklah Louisa Hwang, kurasa sudah waktunya kau beristirahat. Sudah jam lima sore. Ya tuhan, waktu berjalan sangat cepat” sambung mamsd langsung membereskan bahan bahan ramuan tadi dan menyimpannya dilaci dapur. Aku melirik Stephanie yang sekarang tertidur pulas dimeja makan. Míorúilt an ghrá

“kau percaya dengan mitos itu?” sambung Stephanie yang tiba tiba sadar. Aku mempertimbangkan jawabanku sebentar. “bukankah, tidak ada yang tidak mungkin didunia ini jika kita berusaha? Kurasa, keajaiban cinta memang ada” jawabku tersenyum lebar pada Stephanie.

“kau ingin keluar sebentar kearah padang Vashfelle? Kurasa, udaranya pada jam begini lebih sejuk dan menyenangkan. Lagipula, aku membutuhkan udara segar” pinta Stephanie yang tentu saja langsung kukabulkan. Kami berjalan kearah padang Vashfelle dibawah sinar matahari oranye yang mulai tenggelam.

Aku bersender ditempat biasa. “kau tau Stephanie, pada jam seperti ini memang Hero biasanya ada diluar. Kita tinggal menunggunya” ujarku disambit tawa lepas oleh Stephanie. Dan, benar saja. satu menit kemudian Hero keluar dengan jubah putihnya. Sepertinya dia akan berkeliling padang Vashfelle. Satu hal yang berbeda dari kejadian yang kulewati minggu ini. Dia menatapku dan Stephanie yang ada ditengah padang ini. Dia tersenyum pada kami dan segera berlari menusuri rerumputan dan menghampiri kami.

“hay, masih mengingatku?” sapanya pada kami yang kubalas dengan anggukan. “aku, Hero Kim” sambungnya mengulurkan tangannya padaku.

“Louisa Hwang. Dan ini saudaraku, Stephanie Hwang.” Ujarku memperkenalkan diriku kepada Hero. Dia mengangguk dan tersenyum. “baiklah, sepertinya aku harus segera pergi. Dan, matahari hampir tenggelam. Sebaiknya kalian pulang saja” aku dan Stephanie menurut lalu masuk kedalam rumah. Tuhan, aku tak percaya bahwa aku akan berbicara dengan Hero. Baiklah, sepertinya langkah didalam cinta akan dimulai dari sekarang. Berjuanglah Louisa Hwang!!

***

Dua minggu kemudian….

Dua minggu aku dekat dengan Hero. Selama dua minggu itu juga kami saling berbagi bersama. Bahkan, mamsd mengatakan bahwa aku menelantarkan Stephanie yang langsung membuat Stephanie mengambuk saat itu juga. Perlu beberapa waktu untukku membujuk Stephanie dengan angan angan untuk membelikannya sepatu berhak lagi, Stephanie sangat menyukai sepatu berhak tinggi.

kurasa cinta adalah satu hal yang tidak dapat kita mengerti. Dan, cinta adalah sebuah hal yang mempunyai arti dan pandangan tersendiri disetiap orang. Yap, benar. Hari ini aku akan bertemu lagi dengan Hero dan berencana untuk menyatakan perasaanku padanya. Apa dia akan menerimaku? Ah, perasaanku kembali tak menentu. Aku cukup takut jika dia tak menerimaku. Cinta pertama yang kurasakan, pengakuan pertama yang kubuat.

Pemandangan diluar jendela kamarku terasa sangat luas. Aku bangun dari tempat tidurku dan berjalan menuju jendela yang terbuka. Kurasakan terpaan angin sejuk yang menyentuh permukaan kulit wajahku. Nyaman, pemandangan diluar jendela menunjukan pada Vashfelle yang terbentang sangat luas. Rumahku memang terdapat ditengah tengah padang Vashfelle. Darisini aku tak dapat melihat rumah Hero yang terdapat diujung padang Vashfelle. Disamping jendelaku terdapat bunga Reozban yang mekar indah. Warnanya merah muda, sama seperti warna hatiku. Bunga Reozban mekar dengan indah seakan senang dengah angin yang bertiup. Sama seperti cintaku yang bermekar indah untuk Hero. astaga, apa yang kupikirkan?

Baiklah, kurasa sudah tiba saatnya aku untuk pergi ke padang Vashfelle. Kututup jendela kamarku dan melangkah keluar. “opeden dovarde” aku menggumamkan mantra spesial untuk membuka pintu kamarku. Pada detik kemudian, pintu kamarku terbuka perlahan dan langsung menunjukan pemandangan ditengah tengah padang Vashfelle. Ya, mantra itu sangat berguna.

Kurasakan angin lembut yang kembali mendarat dikulit wajahku. Hangat dan menyenangkan. Kuarahkan pandangan mataku kearah rumah yang berada dipinggi padang Vashfelle ini. Dimana dia? Aku sudah yakin dengan perasaanku untuk menyatakannya padanya. Dan, aku harus mengatakannya hari ini.

“sudah menunggu lama?” suara yang berasal dari belakang punggungku sontak membuatku terkejut. Suaranya yang lumayan berat dan terkesan lembut, suara Hero. aku memutar badanku kebelakang dan menemukan sosok Hero yang berdiri tegak dengan badan maskulin miliknya. Sangat tampan. Aku tersenyum dan menggeleng kearahnya “tidak. Aku baru saja tiba” jawabku.

“nah, apa yang ingin kau katakan hari ini? Aku kehabisan cerita indah untukmu” aku tertawa pelan mendengar kata katanya. Kuatkan hatimu Louisa Hwang. Kau pasti bisa melakukannya. Aku menarik napas kedalam dalam hingga ronggaku terasa berat dan penuh. Fuh.. sepertinya kalimat itu akan segera keluar dari bibirku. “aku mencintaimu” gumamku pelan. Angin terasa bertiup semakin kencang membuat rambut panjangku yang hitam agak kecoklatan beterbangan. Hero memandangku, “apa? Maaf, aku tak mendengarnya tadi” ujarnya dengan senyum cerianya “aku mencintaimu” ujarku lagi kali ini lebih keras.

Dia memandangku dalam dengan rasa permintaan maaf tersirat dimatanya. Apa maksudnya? “maaf, aku tak mencintaimu”

Duniaku terasa kosong dan gelap. Apa maksudnya? Dia..tak mencintaiku? Kenapa? Bagaimana bisa? Mataku terlalu panas untuk menatapnya lagi. Bibirku beku hanya bisa diam tak dapat berkata apa-apa lagi. Semua kenyataan ini terlalu sulit untuk kuhadapi. “maafkan aku Louisa. Aku tak mencintaimu” ujarnya lagi dengan nada penuh maaf.

***

Aku berjalan gontai menuju rumahku. Kakiku terlalu berat untuk melangkah, hatiku masih berhenti berdetak. Aku memasuki pintu dapur rumahku dan berjalan berat. Semoga saja Stephanie dan mamsd sedang tidak ada disana. Dan benar saja saat kubuka pintu dapur hanya terlihat ruangan kosong dengan meja panjang dan beberapa lemari tua berwarna kecoklatan didalamnya. Kosong.

Aku memutuskan untuk duduk dikursi yang tepat berada didepan kuali mamsd. Disana berantakan. Beberapa bahan ramuan yang tersisa berceceran. Aku memutuskan untuk membereskan beberapa bahan yang masih tercecer itu dan berdiri dari tempat dudukku. Aku berputar mengitari setengah keliling meja yang terbuat dari kayu jati tersebut dan menghadap kuali. Kuperhatikan bahan bahan ramuan yang masih berantakan. Mints, rose oil, miracle pink egg, beberapa kelopak bunga mawar, jasmine oil, dan mistletoe. Bukankah ini bahan untuk membuat sarmolota, ramuan cinta?

Sebuah ide tiba tiba terlintas dipikiranku dan dengan segera aku berlari untuk mencari buku ramuan yang kurasa ada disalah satu rak dilemari ini. Dan…yap, aku menemukannya pada rak ketiga yang kubuka. Segala macam ramuan mujarab. Kubuka buku tebal tersebut dan segera mencari cara membuat sarmolotta. Halaman 316. Dapat. Cukup rumit namun aku yakin aku dapat melakukannya.

Aku hanya perlu membeli lagi beberapa bahan untuk membuat sarmolota dan aku rasa aku bisa membelinya sekarang. Maafkan aku Hero, tapi kurasa aku harus memilikimu. Aku tak tau bagaimana namun perasaan ini berubah menjadi obsesi yang lebih besar daripada cinta. Aku memutuskan untuk membelinya sekarang karena, ramuan ini harus segera selesai dalam waktu satu minggu!

***

“kau sepertinya terlihat lelah” sapaku padanya yang baru saja selesai membersihkan seluruh kandang Hobride miliknya yang cukup luas dan besar. Dia terlihat cukup kaget dengan kedatanganku yang tiba tiba setelah satu minggu ini sama sekali tak berani untuk menyapanya bahkan tak muncul ditengah padang Vashfelle ini lagi.

“kukira kau tidak akan menyapaku lagi setelah kejadian minggu lalu?” jawabnya mendekat padaku dan tersenyum senang. “bagaimanapun kau tetap temanku. Benarkan Hero Kim? Sepertinya kau haus. Minum ini, aku membawakan minuman kesukaanmu untukmu” sambung menyodorkan segelas minuman Chafphern ketangannya. Dia tersenyum dan segera mengambil Chafphern tersebut dan langsung meminumnya. Maaf Hero, tapi aku sudah memasukkan ramuan sarmolota kedalamnya. Wanginya menyeruak sangat harum khas mints. Ini yang terbaik.

Aku melihat matanya yang memandang kosong kedepan, dia seperti ingin mengatakan sesuatu Chafphern berisi sarmolota masih ada ditangannya. Dia bersender kedinding dibelakangnya. “kau tau Louisa?” aku memandangnya dengan pertanyaan bertanya “tidak. Apa?” tanyaku lagi. Jujur, aku tak tega melihatnya dibawah kesadarannya didalam ramuan sarmolota.

“kurasa, aku mencintaimu. Aku menyukai senyumanmu dan hatimu. Cinta memang tak bisa dipaksakan dan datang tiba tiba. Bodohnya aku, mengapa aku baru menyadarinya sekarang? Aku mencintaimu Louisa” aku menangis mendengar perkataannya. aku bukan menangis karena senang, namun aku sedih. Hatiku sakit mendengar Hero mengatakan itu semua dibawah kesadaran dirinya. Dia mengatakannya karena pengaruh ramuan. Itu lebih sakit daripada saat aku mengetahui bahwa dia tak mencintaiku. Ada penyesalan didalam hatiku, mengapa aku melakukannya? Mengapa aku melakukannya untuk orang yang kucintai? Memang benar, penyesalan selalu datang terakhir dan aku tak bisa melakukan apa apa lagi sekarang.

“ada apa? Jangan menangis. Aku mencintaimu Louisa” sambungnya langsung menarikku kedalam pelukannya membuat tangisanku semakin deras. Mengapa? Mengapa aku hanya dapat merasakan pelukannya saat dia dibawah kesadarannya, dan semua ini perbuatanku sendiri. Mengapa? Dan…ini cinta pertamaku.

***

6 YEARS ~

Sudah lima tahun aku menjalani rumah tangga dengannya. Dia melamarku lima tahun yang lalu dan tentu saja aku menerimanya. Mengapa bisa? Tentu saja, aku rutin membuatkannya ramuan sarmolota tiap minggu agar dia tetap mencintaiku dan tentu saja aku berhasil. Lima tahun aku membohonginya dan membohongi perasaanku sendiri dengan berpikir bahwa dia benar benar mencintaiku sepenuh hatinya.

Rumah tangga kami telah dianugerahi seorang anak perempuan yang kuberi nama Ellena Kim berumur lima tahun. Seorang anak yang dilahirkan diatas kebohongan yang terjadi selama ini. Aku…merasa hina dan kotor. Mengapa aku harus membohongi laki laki yang sangat kucintai. Dia cinta pertamaku dan aku telah menipu dia selama enam tahun.

Maafkan aku Hero, aku…telah menipumu. “Louisa?” panggil suara khas itu dari ruangan tengah. Aku menghela napas dalam dalam dan melangkahkan kakiku keluar dari dapur. “ya Hero?” jawabku muncul dari dapur dan langsung tersenyum padanya. Dia membalas senyumanku. Diluar dugaanku memang, ramuan itu dapat bekerja sangat bagus.

“kesinilah sebentar” pintanya menunjuk tempat kosong disampingnya. Aku menurut dan duduk disana. Dia menuntunku masuk kedalam pelukannya yang sampai saat ini masih sangat berharga untukku. Dia..adalah segalanya bagiku, oksigenku yang mampu mengisi seluruh hidupku, seluruh rongga dadaku. Tiga, dua, satu. Aku berdiri dan langsung menuju dapur. Dia heran mengapa aku harus pergi menuju dapur saat itu juga, namun aku tak menghiraukan panggilan panggilan dari Hero dan langsungmasuk kedapur.

Ramuannya telah mendidih dan aku harus mematikan api. Untuk langkah terakhir, aku harus memasukan jasmine oil kedalamnya dan ramuan ini selesai. Ya, siap untuk kuberikan kepada Hero lagi. Awalnya memang susah dan aku tak ingin melakukannya, namun…aku sudah terbiasa dengan semua ini dan aku tak dapat berlari lagi dari kenyataan bahwa aku membutuhkan Hero didalam hidupku.

Kini ramuan ini telah siap untuk diminum Hero. sebentar lagi saatnya makan malam. Tanpa kusadari membuat ramuan ini membutuhkan waktu satu hari penuh. Aah, semakin lama kemampuanku membuat ramuan ini semakin cepat. Ramuan ini dapat kumasukan kedalam minuman Hero nantinya. Ah, aku baru mengingat sesuatu. Aku harus membangunkan Ellena, Ellena seorang anak perempuan yang sangat manis. Dia selalu tidur siang setiap harinya, dan…dia hasil pernikahan palsuku dengan Hero.

a..apa yang akan dikatakan Hero jika dia mengetahui bahwa aku menipunya? Aku tak bisa membayangkannya. “Louisa…” panggilnya memegang tanganku dan mencium puncak kepalaku dari belakang. Aku kaget dan sontak langsung menghindar. “kau mengagetkanku” protesku membuat Hero tertawa.

“mm, apa yang sedang kau buat? Ini pertama kalinya aku masuk dapur. Wangi sekali.. seperti bau mints dan rose oil.” Dia mendesah mencium harum yang baru saja dihirupnya. Aku kaget dan langsung mendorongnya keluar dapur. “kau tak boleh mengetahuinya. Keluar sana” godaku langsung menutup pintu dapur. Astaga, apa dia mengenal bau sarmolota? Semoga tidak, tapi… Hero adalah sosok penyihir yang sangat hebat. Apa yang harus aku lakukan?

***

Malam telah tiba, saatnya aku dan Hero untuk tidur. Ellena yang hampir berumur lima tahun sudah tidur dikamarnya sendiri, hal itu menyebabkan aku dan Hero hanya tidur berdua dikamar kami. Aku naik keatas tempat tidur dan langsung memejamkan mataku, berpura pura tidur. Aku masih dapat merasakan Hero yang mematikan lampu kamar dan naik keatas tempat tidur.

Didalam kegelapan ini aku masih dapat merasakan pelukan hangat yang disandarkan Hero untukku. Aku terdiam. Apa aku harus merasa tertekan seperti ini setiap hari? Aku..selalu merasa bersalah tiap saat Hero memelukku, menciumku dan semuanya. Aku merasa bersalah. Apa aku harus mengaku dan mengatakan padanya yang sebenarnya?

Namun…itu masih terlalu sulit untukku. Aku masih tak bisa menerima kenyataan bahwa Hero tak mencintaiku seperti aku mencintainya. Entah mengapa aku lebih memilih untuk hidup didalam drama yang kubuat sendiri walaupun aku tau bahwa semua hanyalah sandiwara yang kubuat sendiri. Semua, bukanlah kenyataan.

Aku menutup hari ini dengan penuh penyesalan.

Satu yang kutau pasti. Besok, aku akan pulang kerumah mamsd dan menceritakan semuanya kepada Hero dan tentu saja mamsd. Aku…merindukan kehidupanku yang dulu, kehidupanku yang bebas tanpa kebohonga. Aku…merindukan Stephanie yang selalu ada disisiku. Namun, empat tahun yang lalu aku kehilangan Stephanie. Dia menikah dengan pangeran dari kerajaan tetangga, pangeran Christopher Park. Sudahlah, aku harus melupakan semua dan menyiapkan diriku untuk memberi tau semua orang tentang kesalahanku. Air mata keluar dari pelupuk mataku menutup hari ini.

***

Aku terbangun pagi pagi buta. Kulirik jam didinding. Baru pukul empat pagi. Baiklah, kau tau apa yang harus kau lakukan Louisa Hwang. Aku menghelas napas dalam dalam dan berdiri. Aku memutuskan untuk membereskan barang barangku pagi pagi. Namun, kurasa aku harus mandi terlebih dahulu.

Aku melangkahkan kakiku dan segera masuk kedalam kamar mandi. Kubukan bajuku satu persatu dan segera menyalakan shower. Badanku basah semua. Rambutku menempel karena basah dengan air. Sepanjang waktu aku mandi, hanya satu yang kupikirkan. Tekadku untuk melakukannya, mengakui semua tipuan dan kesalahanku. Aku menarik napas dalam dalam dan mematikan shower tersebut.

Bersyukur, aku hanya mandi selama lima belas menit dan Hero tidak bangun. Aku segera mengganti bajuku dan duduk sebentar. Mungkin, ini untuk yang terakhir kalinya aku berada dikamar ini, terakhir kalinya aku dapat duduk disini. Dan…mungkin ini juga untuk yang terakhir kalinya aku dapat memandang Hero lagi. Semua memang kesalahanku. Haha, entah berapa kali aku mengatakan ini semua. But, I’m true afraid. I think apologize is not enough from now. Ya, tak cukup.

drevadas Louisa Hwang fameenov de’vasvilaz” gumamku pelan membuat semua pakaianku melayang keluar dari lemari dan masuk kedalam koper milikku. Praktis eh? Yap, dengan satu mantra dan semua pekerjaanku dapat selesai, dengan rapih. Koper koperku tersusun rapih didepan pintu seakan siap menyambut tarikanku keluar dari rumah ini.

Lalu? Apa yang harus aku kerjakan sekarang? Kulirik lagi jam didinding. Pukul setengah lima pagi. Masih terlalu lama untuk Hero bangun. Baiklah, untuk menebus semua kesalahanku, aku akan memasak untuknya. Dan…sekali lagi, ini untuk yang terakhir kalinya untukku. Kuharap kau dapat memaafkan aku Hero..

***

Don’t tell me you can’t forgive  me

Cause nobody’s perfect

***

“tumben kau bangun pagi sekali? Dan, mengapa ada begitu banyak koper didepan pintu?”

Suaranya langsung menyambutku begitu aku akan membangunkannya dari dalam kamar. Aku menunduk menyesal menahan air mataku yang akan segera terjatuh. Apa ini memang saatnya aku untuk mengaku? Aku menarik salah satu koper kecil juga menarik Hero untuk masuk kembali kedalam kamar. Pahit memang, namun ini keputusanku.

Kami duduk bersebelahan dengan keadaan saling berhadapan diatas tempat tidur. Aku menghela napas dalam dalam mencoba untuk mengeluarkan kata kata itu dari dalam mulutku. Aku memandang tangannya, tangan hangatnya yang ingin sekali kugenggam saat ini. Namun, itu tidak mungkin. Dia memandangku bingung. “ada apa sebenarnya?” tanyanya lagi kini tersenyum dan mengangkat daguku. Aku menghentakkan tangannya dari daguku dan memandangnya.

“maafkan aku.” Ujarku membuka pembicaraan. “maafkan aku yang selama ini menipumu selama enam tahun. Selama enam tahun, aku memberikanmu ramuan cinta, sarmolota. Semua ini hanyalah tipuan. Kau tidak benar benar mencintaiku. Maafkan aku Hero. tapi, aku terlalu egois untuk kehilangan dirimu. Enam tahun yang lalu kau menolakku. Aku patah hati. Selama satu minggu aku menghilang, bukan karena aku takut untuk bertemu denganmu. Itu karena aku sedang membuatkanmu ramuan cinta. Satu minggu berlalu dan aku berhasil. Aku memberikannya padamu setelah itu kau mengatakan bahwa kau mencintaiku.” Aku menarik napas lagi dalam dalam. Raut wajah Hero tidak berubah.

“setelah itu, aku rutin memberikanmu sarmolota tiap minggu. Selama enam tahun. Maafkan aku Hero. kini, aku akan kembali enjadi Louisa Hwang yang dulu. Karena kurasa kau tidak akan pernah memaafkanku lagi. Aku pergi” sambungku langsung menarik koper kecil tersebut dan bergumam “gafolnae” membuat seluruh barang barangku mengikuti diriku.

Aku terus berjalan keluar dari rumah tersebut. Rumah yang sudah kutinggali selama lima tahun dengan penuh kebohongan. Tanpa kusadari air mataku terjatuh dari pelupuk mataku. Aku menangis. Bodoh, ya..aku memang bodoh. Dan aku mengakui itu semua. Ini terakhir kalinya aku berada disini. Kupercepat langkahku untuk sampat dirumah mamsd.

Setelah beberapa waktu, akhirnya aku tiba dengan mata sembab dan wajah basah. Kuketuk pintu rumah yang sangat kurindukan tersebut. Ya, aku sangat merindukan hidupku disini. Ditempat ini. Aku sangat merindukannya. “mamsd, papsd ini aku Louisa. Tolong bukakan pintunya, aku sangat merindukan kalian” pintaku terisak didepan pintu. Tak diperlukan waktu yang lama hingga pintu rumahku terbuka dan menapilkan seorang wanita cukup tua dengan wajah kaget. “surprise” teriakku berusaha tersenyum dan masih terisak.

____________

Aku duduk diatas bangku yang ada dimeja makan. Tepat berada didepan kuali ramuan yang kugunakan saat pertama kali membuat ramuan sial tersebut. Kami bertiga duduk dalam diam. Aku sudah menceritakan semuanya pada mamsd dan papsd. Mereka kecewa tentu saja, namun mereka mengerti perasaanku yang lebih hancur lagi.

Air mataku kembali jatuh mengingat kebodohanku selama enam tahun. Menipu orang yang sangat kusayangi. Mamsd melihatku menangis dan langsung menghampiriku memelukku. Bahkan, aku merindukan pelukan HERO. “sudahlah, jangan menangis lagi. Masuklah kedalam kamar dan bereskan barang barangmu. Ini hari yang berat untukmu.” Aku mengangguk dan menarik koper kecilku diikuti barangku yang lain naik keatas. Ini hari terberatku.

***

“maaf bi, aku harus bertemu dengan Louisa. Begitu banyak yang harus kubicarakan dengannya” aku menuruni tangga rumahku dengan gaun sutra selutut dan rambut tergerai. Kudengar ribut ribut dibawah. Ada apa?

Dia.. apa yang dilakukannya disini? “apa yang kau lakukan? Bukankah kau suudah tau bahwa aku menipumu? Kau tidak benar benar mencintaiku. Semua hanya tipuanku. Maaf jika aku mengecewakanmu. Tapi ini kenyataan yang harus kau terima” aku tak tahan melihatnya disini. Lebih baik aku kembali keatas.

“tapi aku mencintaimu.” Aku berhenti. Apa yang dikatakannya tadi? “sudah kukatakan bahwa kau kub….”

“ada beberapa saat dimana aku menyadarkan diriku dari ramuanmu. Ada sedikit pertanyaan, mengapa aku ada disini? Mengapa aku bisa bersamu? Tapi kau selalu datang memberikan kehangatan untukku, kau selalu memberikan cintamu untukku. Karena itu, aku jatuh cinta padamu. Aku benar benar mencintaimu bahkan tanpa ramuan sarmolota. Aku tetap mencintaimu Louisa” jelasnya dari bawah tangga membuatku hampir menangis. Dia menghampiriku diatas tangga tersenyum padaku dan menggenggam tanganku.

“aku mencintaimu dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Sungguh. Kembalilah padaku Louisa. Kita mulai hidup baru tanpa kebohongan.”

Aku tersenyum perlahan air mataku kembali keluar. “ya, aku mau..” jawabku langsung mendapatkan pelukan dari Hero. “terima kasih Louisa… aku benar benar mencintaimu” ujarnya membuatku tersenyum.

Setelah beberapa waktu kami berpelukan dia melepaskannya dan tersenyum lagi padaku. “ayo kita pulang. Ellena telah menunggu kita” aku mengangguk dan mengikutinya untuk pulang. Barang barangku biar kuambil besok saja. yang terpenting adalah dia. Dia yang ada disampingku sekarang. Dia yang merupakan cinta pertama dan terakhirku.

Míorúilt an ghrá

***

Your love is so special to me
Oh It’s true while looking at each other i want to be by your side

2 thoughts on “Míorúilt an ghrá

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s