Just Call It Cruel part 1

 

Just Call It Cruel

 

 

 

Title : Just Call It Cruel (part1/?)

Author : NamCheonsa

Main Cast :

-Jung Ji Hyun

-Choi Siwon

-Kim Heechul

-Ji Changwook

-Yoon Doo Joon

Support Cast :

-Ji Yeon (T-ARA)

-all Super Junior members

Rating    : All Age

Genre    : Romance, Friendship, Family

Warning : disini kata-kata Ji Hyun agak rude sesuai dg  perilaku dia. Ehehe

Ohiya disini ada beberapa typo . mian ya L

P.S         : hey readers… ini FF saya yang pertama…. jadi maaf sekali kalau jelek dan susah dicerna.. huhu :’(

Oiya, disini ad a beberapa cast yg blm ketara. Itu saya tulisin karena biar tau aja bahwa di FF ini ada mereka nya. Gituu. Yasudahdeh, readers selamat membaca ya. Komen, kritik, saran, pertanyaan dan bash juga ditampung disini. Karena aku masih baru, jadi aku butuh banget sama yang begituan.

Happy reading~

 

                                                                        ***

 

 

Ji Hyun POV

 

 

Mobil Jaguar yang membawaku, lebih tepatnya memaksa membawaku ke rumah pun akhirnya berhenti di depan pintu gerbang rumahku. Bukannya aku lemah sehingga aku tak mampu untuk memberontak dan lari pergi menjauh dari mereka, tapi bodyguard-bodyguard ini memang terlalu besar tenaganya. Tenagaku pun sudah berkurang banyak hanya untuk meronta-ronta seperti orang gila saat mereka menyeret dan memaksaku untuk masuk ke dalam mobil ini. Mulai saat ini aku berjanji akan satu hal. Jika suatu saat nanti aku sudah berhasil mewujudkan semua kemauanku, aku bersumpah akan membunuh mereka-mereka yang ada di hadapanku ini. Mereka yang sangat menjijikkan.

TIIIIINN!!!

Sebenarnya suara itu tidak terlalu berpengaruh besar terhadap detak jantungku, hanya saja sedikit membuyarkan lamunan akan dendamku.

Sesaat aku mengintip keluar jendela mobil lalu melihat sesosok wajah security muncul di layar CCTV yang dipasang oleh appa ku di luar pagar. Untuk alasan keamanan katanya. Tak lama setelah itu pagar otomatis pun terbuka. Memberi jalan mobilku untuk masuk.

Terlihat beberapa pelayan dan penjaga rumahku bebaris dengan rapih di sisi kanan dan kiri jalan masuk garasi ku.

Kadang hal tersebut membuatku berpikir, untuk apa mereka berbuat seperti ini. Pernah suatu saat aku tanyakan hal tersebut kepada appaku. Namun appaku hanya menjawabnya dengan, “ini semua appa perintahkan kepada mereka untuk menjaga batas kesopanan antara kita dan mereka. Juga untuk melatih tata krama mereka.”

Huh, omong kosong.

Menurutku itu semua hanyalah sebatas ritual.

Nonsense.

Tapi masa bodolah dengan semua itu. Lagipula sejak kapan aku menjadi peduli terhadap lingkungan sekitarku begini. Dan sampai sekarang, aku sangat menyesali kenapa aku bisa-bisanya bertanya begitu terhadap appaku yang sudah jelas kuketahui akan memberiku jawaban seperti itu.

Persetan dengan mereka semua-,-

 

Siwon POV

TIIIIINN!!!

Terdengar bunyi klakson mobil dari luar rumah.

Nuguya?  Jung sajangnim?  Tidak mungkin, dia kan sudah di rumah sejak 2 jam yang lalu.

Eung, Nyonya Jung?  Bukannya dia sedang istirahat siang?

Kembali kutorehkan pandanganku pada jam tangan merek Tissot ku. Pukul 3.05. Ji Hyun kah? Tapi bukankah biasanya Ia selalu pulang naik sepeda atau jalan kaki? Lagipula kenapa dia  baru pulang jam segini. Bukankah dia tidak ada jadwal extracurricular hari ini? Lebih tepatnya lagi, Ia memang tidak mengambil kegaitan extracurricular apapun di sekolahnya itu.

”ah, itu pasti Ji Hyun. Akhirnya dia sampai juga di rumah” ucap Nyonya Jung sambil menuruni tangga yang terbuat dari keramik –mungkin- terbaik se korea, seraya menarik badannya untuk meregangkan otot-otonya yang masih belum sepenuhnya bernyawa. Yah, itu sudah menjadi kebiasaan banyak orang ketika bangun tidur. Termasuk diriku sendiri.

“Annyeonghashimnika, Nyonya Besar, kami sudah berhasil mengantar nona kembali ke rumah” ujar salah satu bodyguard. Terlihat di sampingnya ada Ji Hyun yang sedari tadi menunduk menghadap lantai. Sangat kaku. Badannya seperti sehabis dibekukan di suhu dibawah -200 Celcius. Tidak ada sepatah katapun yang meluncur dari mulutnya.

 

Oke, biar kutebak. Apakah Ia mencoba untuk kabur lagi?

Hah, anak ini memang tidak ada matinya.

Aku mendekatinya lalu menyenggol sikutnya dengan sikutku.

“yak, apa kau ingin lari lagi?” tanyaku sedikit dengan nada menggoda.

Dia menatapku tajam sejenak. Lalu kemballi menatap ke bawah.

“diam. Kau tidak tau apa-apa.” Katanya pelan. Datar.

 

Kulihat nyonya Jung sudah berdiri di hadapan Ji Hyun, sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.

 

“cih, Aku tidak mencoba melarikan diri” akhirnya keluar juga sepatah kalimat darinya.

Dia menatapku dan ibunya dengan tatapannya yang menurut kalian mungkin sangat mengerikan. Bukan mungkin, tapi memang mengerikan. Tapi bagiku itu sudah biasa karena memang dari awal aku bertemu dengannya, dia tidak pernah sedetik pun ia menunjukkan aura positifnya. Melainkan tatapan datar namun ‘mematikan’nya itu.

 

Ji Hyun POV

“cih, Aku tidak mencoba melarikan diri” oke, akhirnya keluar juga kalimat ini dariku.

Kupasang ekspresi dinginku lalu menatap mereka semua dengan tatapan datar.

Apa salahnya bagiku untuk melakukan sedikit pembelaan diri. Toh banyak orang juga melakukannya. Saat di persidangan contohnya.

“Aku adalah umma-mu yang tidak bisa sedikitpun kau bohongi Ji Hyun-a” umma ku mulai merubah air wajahnya lalu menarik napas panjang. “Coba kau pikir Ji Hyun-a, ini sudah yang keberapa kalinya kau mencoba melarikan diri dari rumah, hah? Apa kau merasa tidak puas berada di rumah ini? Apa appa dan umma kurang memberikan kebahagiaan untukmu sayang?” kata umma. Matanya mulai berkaca-kaca.

Oh god, sedang di casting untuk syuting drama apalagi aku ini.

Aku tidak terpengaruh sedikitpun. Tidak bergeming.

Kalian ingin aku memainkan skenario nya? Baiklah, akan kuusahakan untuk memahami skenario drama ini seutuhnya.

Aku? Berdebat dengan mereka hanya untuk membela diri di masalah konyol ini? Hah yang benar saja. Jika aku melakukannya maka gadis bernama Jung Ji Hyun sudah mati.

“ck,” aku berdecak sambil tertawa kecil meremehkan.

 

 

Namun karena aku masih punya sedikit celah di hati nuraniku, maka akupun memutuskan untuk mengabaikan semua ucapan mereka dan langsung naik menuju kamarku. Tak ku hiraukan lagi ucapan umma ku yang memanggil-manggil namaku dengan embel-embel ‘sayang’ di akhirnya.

Tepat pada saat aku menapakkan kakiku pada anak tangga yang..entahlah aku tak tau yang keberapa. Kurang kerjaan sekali menghitungnya.

“ eumm, Ji Hyun-a , appamu sudah menunggumu di ruang kerjanya.” Eomma berkata setelah mendesah berat, lalu pergi meninggalkan ruang tengah. Oh god, ada apalagi ini…..

 

Author POV

 

“ eumm,  Ji Hyun-a , appamu sudah menunggumu di ruang kerjanya.” Eomma Ji Hyun berkata setelah mendesah berat, lalu pergi meninggalkan ruang tengah.

Dengan langkah malas Ji Hyun meninggalkan tempat dimana ia berdiri. Menuju ruangan ayahnya. Ya, menuju tempat yang paling dikutuknya itu. Setidaknya, ia mengutuknya untuk saat ini saja.

 

Ji Hyun POV

 

 

Kulihat dari jarak sekitar 5 meter ruangan dimana ayahku bekerja. Tempat dimana ia rela menghabiskan hampir separuh dari 24 jamnya itu untuk mengurung diri.

Entah apa yang dilakukannya di dalam sana. Aku sendiri tak yakin bahwa ia mampu bekerja selama itu jika sedang berada di rumahnya. Walaupun aku tau dia adalah seorang workaholic. Namun sebagai anak yang cerdas, aku tentu tau sampai mana batas kemampuan kerja otak dan fisik manusia per harinya. Dan jika dilihat dari sudut pandang aku sebagai anak biasa yang memiliki orang tua, aku tentu heran. Apakah ayahku ini tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk mendapatkan hiburan bersama keluarganya?

Ya. Dialah Jung Il Joon *sorry, ngambil dari The President. Hehe. Soalnya lagi mampet ini otak saya*

Seorang CEO dari sebuah Company Group terkenal milik keluarga kami. Atau mungkin yang sekarang lebih pantas disebut miliknya dan eomma seorang.

“yak, palliwa. Sepertinya Jung songsaenim telah lama menunggumu” tiba-tiba datang suara bersamaan dengan tepukan di bahu kiriku. Yang kali ini, cukup membuatku kaget. Tapi dapat termaafkan, karena aku bersyukur ia telah berhasil membuyarkan lamunannku tentang sosok yang sangat tidak aku sukai itu. Lagipula suaranya juga lebih enak didengar. Dibandingkan dengan suara klakson mobil yang bagiku sangat mengganggu telinga.

Hanya orang tak waras lah yang menganggap bahwa suara Siwon sunbae sama buruknya dengan suara klakson mobil.

 

Aku menoleh sedikit. Tampak seorang pria yang berjalan melaluiku. Sangat santai dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celana jeans nya sambil bersenandung kecil.

“Choi Siwon..”desisku dengan volume minim. Tapi ternyata, dia mendengarnya.

Ternyata tajam juga pendengarannya ini.

“oh? Waegurae? Apa kau memanggilku tadi?” tanyanya seraya menolehkan kepalanya lalu mebalikkan badannya. Oh dia juga menaikkan kedua alisnya sekarang.

Ku ralat kata-kataku tadi. Dia bukan hanya memiliki pendengaran yang tajam. Tapi sangat tajam. Dia tidak hanya mendengar desisanku tetapi juga mendengar bahwa aku menyebut namanya. Lengkap dengan embel-embel ‘sunbae’.

Hal ini membuatku berpikir bahwa aku harus lebih berhati-hati lagi. Karena bisa saja dia mendengar ucapanku. Terlebih dengan kejadian tadi, dia bisa datang secara tiba-tiba dan … ah sudahlah. Lupakan saja.

“a-anni” jawabku tegas lalu meluruskan kembali pandanganku. Aku mendesah kecil lalu kulangkahkan kakiku dengan tegas. Sangat menampakkan kakiku yang  panjang dan putih.

Ditambah lagi dengan rok seragam sekolahku yang memang pendek.

 

 

Kuhentikan derap langkahku lalu mengerjapkan mataku dengan tatapan sinis namun sayu, dengan decikan dan desahan malas di sela-selanya.  Cukup sekali saja aku melakukannya.

 

“kau ragu? Takut? Keokjeongmarha. Ayahmu kan bukan orang yang suka tiba-tiba memakan daging manusia karena kelaparan ataupun suka melemparimu dengan cairan uranium secara tiba-tiba kan? Hahaha~” ia berujar lalu tertawa terbahak-bahak atas lawakannya yang sama sekali tidak lucu itu. Bahkan menurutku, itu sama sekali tidak pantas untuk disebut lawakan.

Kasihan sekali pelawak-pelawak jaman dulu. Sudah susah-susah membangun citra dunia lelucon dengan mutu selera humor yang tinggi, akan tetapi dengan mudahnya dihancurkan dengan orang yang seperti ini. Cih-,-

 

Siwon POV

 

Kulihat ia berhenti dan mematung sejenak di depan pintu. Seperti enggan untuk melangkahkan kakinya ke dalam ruangan tersebut. Atau bahkan hanya sekedar untuk mengetuk pintunya dengan tangannya yang berjari lentik itu.

Kukumpulkan segenap keberanian yang ada di dalam diriku untuk mencoba mencairkan suasana. Walaupun aku tau hasilnya akan sangat minim sekali. Atau bahkan tidak ada pengaruhnya sama sekali ?

Ah, kucoba untuk menepis pikiran-pikiran yang bersifat pesimis itu dan memulai aksiku,

“yak, kau ragu? Takut? Keokjeongmarha. Ayahmu kan bukan orang yang suka tiba-tiba memakan daging manusia karena kelaparan ataupun suka melemparimu dengan cairan uranium secara tiba-tiba kan? Hahaha~” ujarku lalu tertawa selepas mungkin.

Aduuh kenapa jadi begini sih? Padahal tadi aku yakin bisa mengeluarkan bahan lelucon yang lebih bermutu lagi. Ah, dan lihat, dia tidak mengeluarkan ekspresi apapun!

Lambat laun aku menghilangkan suara tawaku. Aku mengusap hidungku sejenak untuk mengembalikan citra stay cool ku lalu memasukkan kembali kedua tanganku ke dalam saku celana jeans ku.

 

Beberapa kali aku mencuri pandang ke arahnya. Terlihat bahwa ia sedang menatapku dengan tatapan –dasar namja gila- nya itu dengan sarkastis. Lalu ia pun mendengus dengan angkuhnya sembari mengaitkan kembali jemari tangannya ke tas ransel mahalnya itu.

 

Arrgh Choi Siwoonn !! Mau kau taruh mana wajahmu ini !!!!

 

 

Ji Hyun POV

 

Kulirik ia sejenak. Oh apa yang sedang ia lakukan? Mengacak-ngacak rambutnya sendiri seperti orang yang sedang frustasi. Dasar orang gila.

 

“ah, kalian ternyata sudah lama ya berada disini?” kata appa dengan kondisi badan yang tak seutuhnya berada di luar ruangan.

 

Kontan, aku dan Siwon sunbae meluruskan pandangan menghadap ke appa. Kulihat sekilas Siwon sunbae menunduk dengan sopan dan memberi salam padanya.

Aku hanya berdiri diam mematung di depan appa tanpa berkedip sekalipun. Aku baru sadar bahwa sedari tadi aku menahan napas ketika appa membalas salam Siwon sunbae dan menunduk kecil.

“ ah, jusanghamnida Jung sajangnim, aku tak bermaksud mengganggumu. Aku hanya ingin memberikan dokumen yang tadi kau minta. Aku sudah mencantumkan semua perincian perusahaan.” Kata Siwon sunbae lalu menyodorkan sebuah map berwarna biru disertai dengan sebuah flashdisk di atasnya.

“eum, dan juga ada beberapa yang aku buat dalam bentuk presentasinya.”

Appa terlihat mengamati dan membuka lembar demi lembar dokumen tersebut. Tidak membacanya, hanya melihat-melihat saja.

Ia manggut-manggut kecil lalu tersenyum puas, “tidak salah aku menjadikanmu sebagai kaki tangan terbaikku Choi Siwon ! hahahaha, “ ucap Appa sambil tertawa. Tawanya yang sebagaimana terdengar jika seorang direktur sedang bahagia akan anak buahnya yang mampu bekerja dengan baik tanpa merepotkan sedikitpun.

Apa, apa? Tidak merepotkan? Demiapapun dia tetap saja merepotkan. Tinggal di rumah ini tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun.

Aku tau tentu saja kami tidak mau menerima bayaran, hanya saja memangnya dia pikir disini menerima penyewaan kamar apa? Setidaknya ia bisa menolak dengan halus pada saat appaku menawarkan ia untuk tinggal di rumah ini. Sangat menyebalkan.

 

Flashback

1 week ago

 

Ji Hyun POV

 

 

‘DDDRRRTT DDDRRRTTTTT’

 

Suara vibrasi handphone ku dengan suksesnya membuatku terlonjak dari tidurku. Seperti sengaja membangunkanku dari istirahat ku yang sangat berharga.

Kukerjapkan mataku beberapa kali untuk memulihkan daya fokus pengelihatanku.

Kuambil jam weker yang berada di meja nakas di samping tempat tidurku. Jarum-jarumnya mengisyaratkan bahwa waktu masih berada pada pukul 6.30.

Masih sangat pagi sekali.

Aku kembali sadar akan getaran handphone ku yang membangunkanku tadi.

Aku berniat untuk mengambil handphoneku. Namun tidak ketemu-ketemu juga. Ah mungkin tadi terselip di dalam selimutku yang tebal ini.

Saat handphone ku sudah nyaman berada di tanganku, vibrasinya menghilang.

Kulihat di layar handphone ku. Tertulis ‘’one misscall from ‘Aboji-Mr.Jung’ ‘’

Hah ada apa ia menelponku sepagi ini. Bukankah seharusnya ia sedang hidup tenang menjalankan bisnisnya di Kanada sana? oh, aku baru ingat. Hidup seorang pebisnis tidak akan pernah tenang, sebelum ia mencapai tempat peristirahatan terakhirnya. Setidaknya itu yang diucapkan oleh haraboji ku sebelum ia meninggal dunia.

 

Kutorehkan kembali pandanganku ke iPhone4 ku yang berwarna hitam elegan itu. Kuketikkan beberapa digit nomor lalu kutekan tulisan ‘call’ di layar handphone ku itu.

Oh, aku benci sekali menunggu. Walaupun hanya menunggu seseorang untuk menjawab telepon dariku. Apakah mereka tidak tau bahwa aku sangat tidak suka mendengar nada tunggu operator ini?

 

“yoboseyo? Ah, kau sudah bangun? Baguslah. Appa tadi menelponmu karena ingin memintamu untuk menjemput appa di bandara sekarang. Bisa kan? Oke. Appa tunggu di cafe ya? Sampai bertemu di bandara.” “dan jangan lupa memakai baju yang bagus dan rapih !!”

Terdengar suara eomma yang tidak terlalu jelas dari kejauhan. Oh apa mereka sudah gila?

“m-mwo?!” kataku. Huh percuma saja, appa sudah memutus sambungan teleponnya.

Inilah saat yang aku benci. Bahkan tadi appa tidak mengucapkan selamat pagi ataupun ucapan maaf karena telah membangunkanku dari istirahat nyenyakku. Sialan.

 

Aku memijit pelipisku sebentar lalu beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi.

Badanku masih terasa pegal-pegal. Sisa semalam. Ya, aku lembur belajar kimia karena besok minggu depan ada test di sekolahku.

 

Kuraih handuk berwarna putih yang lembut dari gantungan lemariku dan membawanya masuk ke dalam kamar mandiku.

 

Aku merasakan sekujur tubuhku menggigil kedinginan. Oh god, kenapa lagi aku ini?

Kulihat pemandangan di celah-celah tirai jendela ku. Pantas saja, musim dingin telah tiba, pikirku.

Segera aku mengeringkan rambutku dengan handuk, lalu dilanjutkan dengan hairdryer yang telah dibelikan oleh eomma ku di Perancis ini.

Tak ingin membuang-buang waktu, sehabis mengeringkan rambutku –walaupun belum sepenuhnya kering- aku langsung meraih pakaian dari lemariku. Tak peduli baju apapun itu yang jelas baju nya tertutup dan menghidarkanku dari dingin yang amat menusuk ini.

Setelah kupastikan aku memakai bajuku dengan benar, aku lngsung menyambar sarung tangan dan kaus kakiku yang aku tarus di sofa empukku tadi malam.

Kupakaikan kedua beda tersebut dengan cepat seraya menyambar sepatu boots ku yang berada di depan pintu kamarku.

Kurapihkan tempat tidurku dan memastikan bahwa gorden jendela kamarku masih tertutup dengan baik. Tak lupa aku menutup pintu lemari dan kamar mandiku, dan mematikan seluruh lampu dan AC kamarku *kenapa gak sekalian aja sapuin kamarnya abis itu di pel sama sikatin kamar mandi terus bakar aja kamarnya sekalian==’*.

 

Kulangkahkan kakiku keluar dari kamar lalu menggesekkan kartu pengunci kamarku. Tak kuhiraukan lagi suara para pelayan yang menyuruhku untuk memakan sarapan ku.

Segera aku mengambil kunci mobilku dan berlari keluar rumah. Sudah jam 7.30. oh god, jangan salahkan aku jika aku telat menjemput mereka-.-

 

Kulajukan mobilku dengan kecepatan rata-rata. Melihat keadaan jalan raya yang senggang (karena ini masih pagi) , maka kunaikkan laju kecepatan mobilku.

Damn ! Kulihat beberapa mobil didepanku sedikit demi sedikit menurunkan kecepatannya. Macet. Oh gosh, kurang sial apalagi aku ini.

 

Kunyalakan music player di mobilku. Oh damn! Siapa yang berani-beraninya menurunkan semua kaset-kaset musikku dari mobil hah?!

Kuusap mukaku sejenak, menenangkan pikiranku. Kutorehkan kembali pandanganku kedepan. Belum bergerak sedikitpun.

Oh bisa mati duduk aku kalau begini keadaannya.

Kulihat kembali music playerku ini. Ah, kenapa aku tidak menyalakan radio saja.

Lalu tak lama setelah aku menyalakannya, kudengar dari seberang suara nyanyian yang sangat mellow, dan merdu.  Suara siapa ini? Ah, apakah ia tidak tau kalau moodku sedang tidak bisa berkompromi dengan musik seperti ini?

Kupencet-pencet lagi tombol di music playerku. Jariku terhenti ketika aku mendengar music bergenre Heavy Metal. Yak, mungkin lebih baik jika aku lempar saja player ini ke jalan raya dan membiarkannya terinjak oleh roda-roda mobil yang ada disini.

 

Setelah lama menunggu dengan mengorbankan segenap perasaan dan kesabaranku, aku mendengus kesal sebelum aku melajukan kembali mobilku dengan langsung menancap gas dengan dalam.

 

Sekitar setengah jam kemudian, aku berhasil sampai dengan selamat di Incheon Airport.

Kuparkirkan mobilku di tempat yang kosong, lalu mematikan mesin mobilku.
Kuedarkan pandanganku kesekelilingku, ramai juga.

 

Setelah menghirup udara bebas, kuputuskan untuk segera melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam menemui mereka.

Karena tak ingin berboros waktu, aku berlari kecil memasuki bandara Incheon.

Dan secara tak sengaja, aku menubruk seorang namja yang… aneh. Ia menutupi sebagian wajahnya dengan masker. Memakai topi juga jaket hitam tebal. Cocok sekali untuk dijadikan tersangka teroris pembunuhan berantai.

“jusanghamnida agasshi, aku sedang buru-buru. Sekali lagi, jusanghamnida” ucapnya sopan sambil membungkuk sedikit ke arahku. Lalu ia berlari kecil menuju luar bandara.

“eung..” gumamku.

Kemudian terdengar panggilan-panggilan dari para petugas bandara yang menggema, mengisi seluruh penjuru ruangan di bandara ini.

Pikiranku yang tadi kalut pun terfokus kembali kepada nasib appa dan umma ku.

Aku pun berlari dengan cepat menuju cafe tempat mereka menunggu.

 

Siwon POV

 

BRUUKKK

 

“argh, jusanghamnida agasshi. Aku sungguh tidak sengaja.”

Kudengar suara orang bertubrukan dengan sangat jelas.

 

“eung. Aku sedang tak punya banyak waktu” ucap agasshi berambut cokelat pendek itu lalu menjauh pergi dari namja yang tadi menubruknya itu.

Ugh, ketus sekali yeoja itu. Tidak sopan.

 

“eung, yak kajja. Kita duduk di situ saja” ajak Jung sajangnim sambil menunjuk kearah sekumpulan kursi yang kosong.

“aah, senang rasanya bisa kembali menghirup udara seoul. Bukan begitu yeobo??” ucapnya sambil memegang tangan nyonya Jung.

“ahaha,ne. Beristirahatlah jika sudah sampai di rumah nanti suamiku.” Balasnya

Urgh, mereka mesra sekali. Membuatku cemburu saja.

Aku hanya bisa tertawa kecil saja melihat tingkah mereka berdua yang seperti pasangan muda-mudi yang baru saja berpacaran itu.

 

Pandanganku kembali kutorehkan ke yeoja tadi saat ia kembali secara tak sengaja menyenggol seorang pelayan yang hendak mengantarkan pesanannya kepada pengunjung.

Dan seperti mengalami de javu, ia kembali mengulang kejadian tadi. Persis seperti apa yang tadi ia lakukan. Pergi melenggos dengan langkah angkuh dan congkaknya sambil mendengus kesal, tanpa meminta maaf sedikitpun. Sepatah katapun tak ada yang keluar dari mulutnya itu.

 

“aah! anakku ! Hyunnie ya ! kemari! Appa dan eomma disini !” ucap Jung sajangnim sambil melambaikan sebelah tangannya.

Aku mengikuti kemana arah tangan Jung sajangnim itu melambai. Dan hasilnya, ia melambai ke arah…….. yeoja itu??!

 

TBC

Ehehe, maaf kalo motong TBC nya gk pas. Maklum saya tidak berpengalaman.

Menurut readers ini panjang apa pendek? Kepanjangan kali ya buat author baru . wkwk:p

Jangan lupa comment nya ya^^ *hug readers

3 thoughts on “Just Call It Cruel part 1

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s