13 My Lucky Number part 9

Title : 13 My Lucky Number part 9

Author : Inkania

Main cast : Kyuhyun Super Junior, Kim Eunri

Support cast : member Super Junior

Rating : PG

Genre : romance

Disclaimer : ini FF murni dari pikiran author :D kesamaan nama, tempat, dsb hanya ketidaksengajaan belaka dan jangan jadi plagiat! Maaf ya kalo ada typo :D dipublish juga di blog pribadi aku inkakania13.wordpress.com

PS : Hollla readers! :D *chu* makasih buat readers yang udah baca FF aku ini *winks* ;D Terus comment ya.. Comment itu berharga banget buat author, hahaha.. Let’s reading….

 

EUNRI POV

 

Saat akan masuk ke mobil Kyuhyun aku seperti melupakan sesuatu. Ah iya!

“Kyuhyun kau tunggu dulu disini, ada yang harus kulakukan dulu”, ucapku.

“jangan lama-lama”, katanya. Aku menganggukan kepalaku lalu berlari menuju rumah yang ada disebelah rumahku, rumah tanteku. Terpaksa aku bawa keponakanku, rencananya aku kan akan diam di rumah tadi dan menjaga keponakanku di rumah sambil berleha-leha, tapi Kyuhyun babo itu malah ke rumahku dan mengajakku pergi.

“nah ayo kita berangkat”, ucapku sambil tersenyum tiga jari dengan seorang anak laki-laki lima tahun digandengan tanganku. Kulihat Kyuhyun menyipitkan matanya. Dan kemudian ekspresi wajahnya terlihat kaget.

“Eunri~ah itu anakmu?!”, tanyanya sambil menunjuk keponakanku. Pletak! Ku pukul kepalanya.

“bukan babo! Ini keponakanku. Aku sudah berjanji pada tanteku untuk menjaga bocah ini. Tadinya kan aku akan diam di rumah saja sambil mengasuhnya, tapi kau malah mengajakku keluar ya sudah terpaksa aku mengajaknya.”

“aissh ya sudah ayo”, ajak Kyuhyun. Akhirnya aku masuk kedalam mobil Kyuhyun, saat aku memasukkan keponakanku dibangku belakang dia menarik tanganku agar duduk disebelahnya.

“eh aku duduk dibelakang saja”, kataku.

“ya! Kau duduk didepan! Memangnya aku ini supir”, katanya.

“tapi Woobin ingin aku temani dibelakang. Sudahlah kau ini memang pantas menjadi supir”, ucapku kemudian duduk dibangku belakang.

“kau ini kapan sih tidak menyebalkan”, desisnya. Kemudian dia menjalankan mobilnya.

Hampir setengah jam perjalanan dan akhirnya sampai ditempat tujuan. Untuk apa dia mengajakku ke dormnya?

“kenapa kau mengajakku ke dorm mu? Aku kira akan jalan-jalan”

“si ikan buntal itu menyuruhku untuk mengajakmu bermain ke dorm kemarin. Semuanya aku lakukan demi PSP baruku”, katanya. Eh? Ikan buntal?

“ikan buntal?”, tanyaku.

“eh ani, maksudku Donghae hyung”, jawabnya. Ikan buntal? Kenapa dia menyebutnya ikan buntal? Ternyata dia ini memang magnae setan, memanggil hyungnya sembarangan seperti itu. Dengan riang aku masuk kedalam apartemen menuju dormnya Super Junior sambil berjalan dibelakang Kyuhyun dan menggandeng tangan keponakanku sambil mengayun-ayunkannya. Saat akan masuk kedalam lift seorang ahjumma dan ahjussi yang sama dengan kami, menunggu masuk lift juga. Ahjumma itu tiba-tiba memanggilku.

“agasshi, apa itu adikmu? Wajah kalian benar-benar mirip dengan appa kalian. Cantik dan tampan”, ucap ahjumma itu. Sebentar, appa? Ahjumma itu memandang Kyuhyun.

“ah ne, dia appaku dan anak kecil ini adikku. Tapi eommaku sudah tidak ada, jadi appa kejiwaannya sedikit terganggu”, ucapku. Kulihat Kyuhyun melotot padaku. Tiba-tiba Woobin menarik-narik ujung kemeja Kyuhyun.

“kau menyeramkan ahjussi”, kata Woobin. Kyuhyun menganga hebat mendengar perkataan Woobin. Setelah ahjumma dan ahjussi itu masuk kedalam lift sebelah, tawaku langsung meledak sampai memegangi perutku sendiri karena hampir keram tertawa terlalu berlebihan.

“ya! Kenapa kau terlihat senang begitu hah?!”, teriaknya kesal. Dan saat dia akan masuk kedalam lift, dengan bodohnya dia menyangka pintu lift sudah terbuka dan saat dia mau masuk wajahnya mencium pintu lift dengan mesra. Haha aku tertawa semakin keras, sampai mulutku sakit karena membukanya terlalu lebar. Lihat Cho Kyuhyun, kau magnae berwajah tua. Ahjumma dan ahjussi tadi menyangka kau sebagai appaku dan barusan Woobin menyebutmu sebagai ahjussi. Dan dengan bodohnya kau baru saja mencium pintu lift itu. Kau perlu kuajari cara masuk lift sepertinya. Haha aku sampai terduduk dan terbatuk-batuk karena tertawa. Tiba-tiba ada seseorang yang mengangkat baju belakangku sampai aku berdiri dan mendorongku masuk kedalam lift dan sekarang pintu lift benar-benar terbuka. Ya! Cho Kyuhyun kau mengangkatku seperti mengangkat sampah saja! Tidak sopan!

“lepaskan tanganmu dari bajuku”, kulihat dia cemberut. “kau marah? Tapi wajahmu memang seperti ahjussi, terlihat tua”, ucapku. Dan pletak pletak! Dia memukul kepalaku dua kali.

“sakit bodoh!”, teriakku.

“berhenti memanggilku ahjussi! Umurku baru dua puluh tiga tahun!”, teriaknya. Tapi wajah tidak bisa berbohong. Baru sampai dilantai enam, lima lantai lagi aku akan sampai di dormnya. Seperti ada yang hilang.

“Kyuhyun, kau merasa ada yang hilang tidak? Kenapa ada yang berbeda sebelum dan setelah kita masuk lift?”, tanyaku. Kyuhyun menoleh kepadaku dan sedetik kemudian dia berteriak mengagetkanku.

“Woobin tertinggal dibawah!!!”

 

***

 

Dengan rasa panik yang tidak terelakkan, aku dan Kyuhyun kembali kebawah dan ternyata Woobin tidak ada disana! Aku kelimpungan mencari Woobin mengelilingi lobby apartemen sama dengan Kyuhyun. Saat sudah agak lama mencari dan Woobin masih entah dimana, aku dan Kyuhyun memutuskan untuk bertanya pada security apartemennya.

“ahjussi apa kau melihat seorang bocah umurnya sekitar enam tahun berkeliaran sekitar sini?”, tanyaku. Ahjussi itu memandangku dengan Kyuhyun bergantian, aku dan Kyuhyun pun ikut-ikutan saling memandang satu sama lain.

“kalian appa dan eommanya ya? Dia tadi seperti sedang kebingungan dan setelah kutanya ternyata dia bingung karena ingin ke kamar mandi, nah itu dia. Lain kali kalian harus menjaga anak kalian jangan sampai ditinggal seperti tadi. Penculikkan anak sedang marak sekarang”, ucap security itu tanpa rasa berdosa. Aku dan Kyuhyun hanya melongo mendengar ucapan security tadi. Sepertinya dia tidak kenal kalau ahjussi disebelahku ini adalah Kyuhyun Super Junior karena penyamarannya. Memangnya aku dan Kyuhyun terlihat seperti appa dan eomma dari bocah ini? Omo… omo…

“Woobin~ah gwenchana? Mian tadi noona lupa”, ucapku sambil senyum kepada Woobin.

“kau tidak pantas dipanggil noona, kau lebih pantas disebut ahjumma”, timpal Kyuhyun. Oh dia balas dendam karena setiap orang memanggilnya ahjussi daritadi. Karena adegan drama tadi -Woobin hilang- Kyuhyun ditelpon hyungnya dan langsung saja dia menyuruhku naik ke lift lagi cepat-cepat dan sekarang Woobin tidak lupa kubawa. Sesampainya didepan dorm Kyuhyun menempelkan jarinya difinger lock dan langsung saja masuk kedalam. Aku mengikutinya dari belakang. Dan wah siapa yang ulang tahun?

“Eunri~ah selamat datang di dorm kami!”, sambut Eunhyuk oppa. Mereka tadinya sangat heboh pas aku datang. Tiba-tiba Woobin muncul dari belakangku, dan semua oppadeul Suju langsung melihat ke arah Woobin.

“siapa bocah itu?”, tanya Heechul oppa.

“dia anaknya”, celetuk Kyuhyun. Kulempar dia dengan tasku. Dan dia langsung menangkapnya setelah itu malah memasukkan tasku kedalam tong sampah.

“ya! Cho Kyuhyun itu tas mahal!”, geramku. Dia malah tertawa-tawa sendirian sambil masuk ke kamarnya, dasar gila.

“dia benar anakmu? Aku tidak percaya”, ucap Shindong oppa.

“jelas saja bukan, jangan percaya pada si babo itu, maksudku Kyuhyun. Dia ini keponakanku. Tidak apa-apa kan aku membawanya? Dia tidak ada yang jaga di rumahnya. Ya sudah aku ajak saja dia kemari”

“ah tidak apa-apa Eunri~ah. Siapa namanya? Ayo kesini”, ujar Sungmin oppa. Dia memang suka terhadap anak kecil. Woobin menurut dan mendekati segerombolan orang yang sedang berkumpul di ruang tengah. Ah ternyata bagus juga aku kesini, jadi aku tidak perlu menjaga Woobin itu sendirian.

“Eunri~ah akhirnya kau kesini”, ucap seseorang. Aku lupa namanya.

“kenapa? Kau belum mengenalku ya? Ah aku Donghae, Lee Donghae. Kau panggil aku Hae oppa saja”, katanya, aku mengangguk sambil tersenyum. Lalu Hae oppa mengacak rambutku pelan. Dia baik sepertinya. Tiba-tiba suara setan maksudku Cho Kyuhyun itu mengagetkanku.

“ya! Hyung kau sedang apa? Dia pacarku, jangan menyentuhnya sembarangan”, katanya sambil menarik tanganku mendekat ke tubuhnya. Ah dia cemburu.

“kau mengagetkanku Kyu”, ucap Hae oppa.

“dia hanya menyentuh rambutku! Kau sopanlah pada hyung mu, memalukan sekali aku punya pacar seperti dirimu”, sungutku. Dia mendelik tajam ke arahku.

“ahjussi, jangan menatap Eunri noona seperti itu”, ucap Woobin tiba-tiba. Sekali lagi Kyuhyun melongo dibilang seperti itu oleh anak berumur lima tahun yang ada dihadapannya. Aku mendekat ke Woobin dan berhigh five ria dengannya. Lihat Cho Kyuhyun, Woobin saja membelaku.

“aissh bocah itu apa mulutnya tidak bisa dijaga hah?!”, teriak Kyuhyun. Kusembunyikan Woobin dibelakangku, jangan sampai setan itu merubah Woobin menjadi bocah goreng (?).

“apa bocah ini bilang? Ahjussi? Hahaha! Kau pantas disebut seperti itu Kyuhyun~ah!”, teriak Yesung hyung. Semua hyungnya tertawa saking puasnya dengan apa yang dikatakan Woobin barusan. Dan Woobin juga ikut tertawa yang membuatku juga menjadi tertawa. Apartemen ini rasanya akan rubuh karena suara tertawa kami yang menggelegar. Kulihat wajah Kyuhyun ditekuk, tapi anehnya wajahnya tetap saja terlihat tampan walau sedang kusut begitu. Dia kemudian mengambil PSPnya dan duduk santai di sebuah sofa panjang.

“ah perutku sakit”, keluh Sungmin oppa. Siapa suruh tertawa sampai terkapar diatas lantai begitu. Suasana agak tenang setelah semua orang berhenti tertawa karena mungkin perut mereka mulai keram. Setelah suasana agak hening, dengan tidak sopannya cacing di perutku berteriak kelaparan. Semua orang yang ada disini langsung melihat ke arahku. Ah aku malu!

 

KYUHYUN POV

 

Haha memalukan sekali dia, perutnya berbunyi.

“kau lapar Eunri~ah?”, tanya Wookie.

“ah aku belum makan oppa dari tadi pagi”, jawab Eunri itu dengan wajah aegyonya. Ih menjijikkan.

“Kyuhyun~ah kau jahat sekali tidak membelikan sarapan untuknya dulu”, ucap Wookie. Kenapa jadi aku yang disalahkan? Aku tidak menghiraukan ucapannya dan tetap fokus pada PSPku.

“aku akan memasakan sesuatu untukmu. Sepertinya juga sebentar lagi waktunya makan siang”, ucap Wookie, kulihat gadis itu kegirangan.

“Eunri~ah sering-seringlah main kesini. Sebenarnya kita dulu pernah bertemu, tapi sudah lama sekali”, ucap Donghae hyung.

“jinja? Ah mungkin aku lupa, mianhe. Oppa, kau terlihat tampan dengan model rambutmu yang baru. Aku suka”, ucap Eunri. Aigoo… dia menyebut Donghae hyung tampan? Dari segi apanya? Berani-beraninya dia memuji namja lain dihadapanku. Dan untuk apa si ikan itu menyuruh Eunri agar sering-sering main kesini? Dan apa-apaan dia duduk disebelah Eunri? Kusimpan PSP ku dan langsung menghampiri mereka.

“EHEM!”, aku berdehem keras dan langsung mengambil posisi diantara mereka. Semua hyungku langsung menatap ke arahku.

“apa-apaan kau?’, tanya Eunri.

“meminimalisir kesempatan kau menatap namja lain”, jawabku.

“setan sedang cemburu”, ucap Hyukie hyung.

“diam kau monyet!”

“ya! Panggil aku hyung!”, teriaknya.

“kau juga tadi memanggilku setan!”

“kenapa kalian jadi bertengkar! Kau cemburu pada Hae oppa?”, tanya Eunri padaku. Kulihat ikan buntal itu hanya senyam-senyum sendiri.

“siapa bilang?”, tanyaku.

“aku yang bilang”, jawabnya. Aissh kenapa malah aku yang kikuk sendiri?

“masakan sudah siap”, sela Wookie. Matanya langsung berbinar-binar melihat makanan tersaji diatas meja. Semua hyungku langsung menuju meja makan begitu juga Eunri. Dia langsung berdiri dan menuju meja makan. Kuluruskan kakiku dan saat dia lewat dia langsung tersandung kaki panjangku ini. Tapi kulihat dia tidak jatuh ke lantai. SI IKAN BUNTAL KEMBUNG ITU MEMELUK TUBUH EUNRI! Semua hyungku memandang Donghae dengan tatapan ce-pat-kau-per-gi tapi si ikan itu -seperti di sinetron- malah memeluk Eunri agak lama. Reflek aku menarik Eunri dari pelukan ikan itu. Baru kali ini aku menyesal telah menjailinya.

“gwenchana?”, tanya ikan itu pada Eunri.

“gwenchana oppa. Terimakasih oppa, telah menyelamatkanku dari kejailan ahjussi ini”, ucap Eunri sambil menatapku. Ya! Berhenti memanggilku ahjussi!

Eunri langsung mengambil posisi di meja makan, begitu juga dengan si bocah tengik itu. Semua hyungku mau saja dibuat repot olehnya. Menyuapi bocah itu dan yang lainnya sibuk berebut mengambil makanan. Kenapa aku jadi diacuhkan begini? Aku yang sudah membawanya kesini, tapi mereka melupakanku. Akhirnya aku duduk disebelah Eunri dan sialnya si ikan itu juga duduk disebelahnya. Ikan buntal itu membawakan makanan untuk Eunri, apa-apaan dia?

“ya hyung! Jangan coba-coba merebut pacarku!”, teriakku. Si ikan buntal itu malah tertawa.

“kau tidak usah cemburu padaku. Aku hanya menganggapnya sebagai adikku sendiri”, katanya. Tapi perlakuannya berlebihan.

“kau dengar Cho Kyuhyun, hanya sebagai adik. Kau terlalu over protective padaku”, ucap Eunri. Aku makan saja semua yang ada dihadapanku. Malas mendengarkan ceramahnya. Hyungku yang lain malah cekikikan tidak jelas melihatku. Ku kutuk kalian semua.

Setelah mereka bersenang-senang dengan Eunri dan bocah itu tanpa aku, mereka mulai membereskan kericuhan yang telah mereka buat. Eunri membantu Wookie mencuci piring dan bocah itu sedang duduk sendirian di sofa. Hyung yang lain ada yang pergi karna ada jadwal dan sisanya menonton TV. Ah kudekati saja bocah itu.

“hey bocah, kau mau tidak bermain PSP ini?”, dia menatapku sebentar dan mengacuhkanku lagi. Bocah ini umurnya masih lima tahun tapi laganya seperti yang lebih tua dariku.

“kau benar keponakannya?”, tanyaku basa-basi. Sebenarnya aku bingung harus bicara apa dengan bocah ini.

“ne. Kau siapanya Eunri noona, ahjussi?”, tanyanya. Bocah ini masih saja memanggilku ahjussi!

“panggil aku hyung. Kau senang sekali memanggilku ahjussi”, suruhku.

“wajahmu seperti seorang ahjussi”, ucapnya polos. Lama-lama kumakan bocah ini.

“aku ini pacarnya”, jawabku.

“kau pacarnya? Tapi aku lebih suka noona dekat dengan hyung yang itu”, katanya sambil menunjuk segerombol orang yang sedang menonton TV.

“yang mana?”, tanyaku memastikan.

“itu hyung yang tampan itu yang tadi memeluk noonaku”, jelas bocah ini. Mwo?! Si ikan buntal itu?! Dan apa katanya? Bocah ini bilang si ikan buntal kembung itu tampan? Aku jelas lebih tampan dilihat dari segi manapun.

“ya! Kenapa kau tidak suka noonamu denganku?”, tanyaku.

“kau ini jahat, hyung yang itu baik pada noonaku”, katanya. Pasti dia bicara seperti ini karena adegan tadi. Cih, mengerti apa bocah kecil sepertinya ini.

“tapi aku sudah menjadi pacarnya. Dan kau bocah jangan menghubung-hubungkan noonamu itu dengan hyung yang itu lagi”, ucapku sambil tersenyum menang.

“memangnya kenapa?”, tanyanya.

“hyung yang itu sedikit tidak normal”, ucapku. Dia mengerutkan keningnya. “kau masih belum cukup umur untuk mengetahuinya. Hanya aku yang cocok dengan noonamu itu. Kau mengerti?”, tanyaku. Bocah ini mengangguk. Mau saja dia kubodohi. Setelah berbicara dengan bocah itu aku memainkan PSPku lagi. Sedangkan bocah itu menonton TV dari sofa ini. Kepalanya tiba-tiba terjatuh kepundakku, ah dia tertidur. Kutidurkan saja dia di sofa dan menyelimutinya dengan selimut dari kamarku dan menyuruh hyungku mengecilkan volume TVnya. Eunri baru saja beres mencuci piring dan menoleh ke arahku.

“Woobin tidur?”, tanyanya. Aku mengangguk.

“Eunri~ah ada yang ingin kubicarakan denganmu”, ucapku.

“apa?”, tanyanya.

“kita jangan bicara disini. Di kamarku saja”, ucapku. Kulihat dia menatapku curiga. Pasti dia berpikiran yang tidak-tidak. “aku tidak akan melakukan apa-apa padamu. Pikiranmu mesum”, tiba-tiba dia menendang kakiku. Kapan sih yeoja gila ini manis padaku?!

“kau yang mesum ahjussi!”, ucapnya. Untuk menghindari perang dunia ketiga aku langsung saja menariknya supaya masuk kedalam kamarku.

“kau mau bicara apa? Diruang TV tadi juga bisa”, tanyanya. Dia duduk dikursi sedangkan aku merebahkan tubuhku dikasur.

“aku sedang tidak ingin melihat Donghae hyung dan bocah itu”, jelasku.

“kau itu berlebihan Kyu”, katanya.

“biar saja. Bocah itu tadi terang-terangan lebih mendukungmu dengan Donghae hyung daripada denganku”

“aku juga pikir begitu”, ucapnya. Langsung aku melemparnya dengan bantal.

“kau jangan coba-coba selingkuh”, geramku.

“aku hanya bercanda. Kau tidak bisa diajak bercanda”, katanya sambil memegangi kepalanya.

“kau tidak merasa ada bendamu yang hilang?”, tanyaku. Masa dia tidak sadar kalau handphonenya tidak ada?

“tidak”, aissh yeoja ini. Kukeluarkan handphonenya dari dalam laci.

“hyaaa! Handphoneku! Kapan kau mengambilnya?”, teriaknya. Langsung kubekap mulutnya. Badannya kecil tapi suaranya bisa membuat kaca pecah.

“apa kau membuka isinya?”, tanyanya panik. Tentu saja sudah kulihat isinya.

“tidak. memangnya kenapa kau panik begitu?”, aku bohong.

“kau tidak boleh melihat isinya!”, katanya. Haha sudah terlambat.

“apa arti dari namja 13?”, tanyaku to the point. Dia shock lalu menundukkan wajahnya. Dan wajahnya tiba-tiba jadi merah padam.

“aku hanya bertanya. Kenapa wajahmu jadi merah seperti itu?”, tanyaku.

“kau bilang tidak membuka isinya”, katanya sambil memanyunkan bibirnya.

“jawab pertanyaanku. Aku penasaran”

“tapi janji jangan menertawaiku”, ucapnya.

“ne, aku janji”, lalu dia menceritakannya padaku. Dia menamaiku seperti itu karena dia awalnya tertarik padaku karena aku adalah member ke-13 Super Junior? Hahaha tawaku langsung meledak saat itu.

“Eunri~ah alasan macam apa itu?”, ucapku sambil tertawa.

“ya! Jangan tertawa!”, bentaknya.

“alasanmu konyol. Orang lain menyukaiku karena wajahku yang tampan atau suarakuku yang merdu. Sedangkan kau? Jangan-jangan kau menerimaku masih karena alasan itu. Kau tidak benar-benar menyukaiku?”, tanyaku.

“tentu saja bukan. Kau menyesal sudah pacaran denganku? Ya sudah aku akan berpaling saja ke Donghae oppa. Dia itu baik tidak sepertimu”, ucapnya.

“jangan macam-macam dengan si ikan itu”

“dia punya nama. Namanya Lee Donghae”, ucapnya. Tetap saja bagiku dia hanya ikan buntal yang kembung.

“kau suka dengan angka 13? Pantas hidupmu dilanda penuh kesialan”, ucapku.

“13 itu angka keberuntunganku karena berkat angka itu aku bisa bertemu denganmu”, katanya. Eh apa dia bilang? Kulihat dia jadi salah tingkah.

“oh jadi aku ini namja keberuntunganmu? Memang benar, kau memang beruntung sudah mendapatkanku. Seorang pangeran yang tampan dan rupawan. Aku yang tidak beruntung karena mendapatkan yeoja sepertimu, seperti bebek, pendek, jelek dan berkepribadian ganda”, ucapku. Dia melotot padaku. Pelototannya tidak terlalu berpengaruh padaku.

“jangan mengataiku seperti itu kalau kau masih mau hidup tenang Cho Kyuhyun”, ancamnya.

“ancamanmu tidak membuatku takut. Eh apa menurutmu aku tampan?”

“pembicaraan macam apa ini?”, tanyanya.

“aku hanya bertanya saja padamu. Walaupun aku tahu jawaban darimu pasti bilang kalau aku tampan. Aku hanya ingin mendengar saja langsung darimu”

“kau ingin jawaban jujur atau jawaban dusta?”, tanyanya. Pilihan macam apa itu? “aku sarankan kau memilih jawaban dusta”, tambahnya.

“terserah kau saja. Aku yakin kau akan bilang kalau aku tampan”, ucapku sambil melanjutkan memainkan PSP.

“baguslah. Kau tampan Cho Kyuhyun”, jawabnya. Tuh kan sudah kubilang.

“haha sudah kubilang kan kau pasti akan bilang kalau aku tampan”, ucapku. Kulihat dia malah tertawa terbahak-bahak. Apanya yang lucu?

“omo… omo… Cho Kyuhyun berapa IQ mu? Kau lulus SD kan?”, tanyanya. Kenapa jadi membahas IQ ku?

“apa maksudmu?”, tanyaku.

“kau memang sepertinya tidak lulus SD. Itu jawaban dusta dariku”, katanya sambil tertawa. Sebentar, jawaban dusta? Berarti…

“ya! Kau membodohiku! Tapi bisa-bisanya kau menyebut Donghae hyung tampan sedangkan aku yang jelas-jelas pacarmu tidak”, dia hanya tertawa. Ah tapi dalam lubuk hatinya aku yakin dia pasti ingin bilang kalau aku ini tampan.

“Eunri~ah seminggu kedepan jadwalku penuh. Jadi mungkin aku akan jarang menghubungimu”, ucapku.

“bagus kalau begitu”, ucapnya.

“bagus apanya? Bagus karena kau bisa mendekati namja lain?”

“otakmu perlu diservice Kyu. Kapan kau berprasangka baik padaku? Aku saja tidak pernah melarangmu dekat dengan yeoja lain, kenapa kau berlebihan padaku?”, sungutnya. Tiba-tiba Donghae hyung masuk kedalam kamarku. Mau apa si ikan buntal itu.

“Woobin terbangun tuh. Dan dia menangis, tiba-tiba ingin pergi ke taman bermain”, ucap Donghae hyung.

“mwo? Taman bermain?”, tanya Eunri.

“ne. Kalau kau mau aku bisa menemanimu bermain dengan Woobin ke taman bermain”, tawar Donghae hyung. Oh tidak bisa…

“biar aku saja yang antar Eunri ke taman bermain”, sungutku.

“ya sudah kalian berdua temani aku saja ke taman bermain. Sepertinya lebih menyenangkan”, ucap Eunri. Kulihat Donghae hyung tersenyum. Untuk apa kau mengajak ikan buntal ini Kim Eunri?! Tanpa menunggu aku, mereka langsung saja pergi. Aissh sebenarnya siapa yang menjadi pacarnya? Kupakai penyamaranku seperti biasa dan menyusul mereka.

“eh tunggu sebentar”, ucap Eunri saat aku dan Donghae hyung akan keluar dari dorm.

“aku risih melihat penampilan kalian seperti beruang salju karena menyamar seperti itu”, ucapnya. Mwo?

“apa katamu? Beruang salju?”, tanya Donghae hyung.

“buka penyamaran kalian”, ucapnya.

“MWO?!”, ucapku dan Donghae hyung berbarengan. Dia ingin kami mati sebelum sampai di taman bermain?!

 

***

TBC

5 thoughts on “13 My Lucky Number part 9

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s