Destiny, The Time We Meet {The Final Chapter}

 

Title : Destiny (The Time When We Meet) , the Final Chapter

Author : Vinny a.k.a Vn

Cast : Lee Joon (MBLAQ), Jiyeon (T-Ara)

Support Cast : Go (MBLAQ), Kim So Eun, Asisten Kim, Jiyeon’s Ahjussi, Joon and Go’s father

Rating : PG 15

Genre : Action Thriller

Warning! : yang ga tahan baca cerita bunuh-bunuhan mending jangan dibaca ya :p

PS : Please don’t be a silent reader! Read and comment! Okay? :D sudah pernah dipost di http://pinnipinot.blogspot.com TOLONG DENGAN SANGAT JANGAN PERNAH ME-COPY-PASTE FF INI TANPA IJIN. Makaciiiihh ^^ Gomawo buat yang mau baca.

 

Author POV

 

Suasana duka menyelimuti kediaman Park. Semua rekan kerja datang untuk menemui Direktur untuk terakhir kalinya.

 

“Siapa yang tega melakukan ini semua ya?”

“Pasti karena rasa iri terhadap keluarga Park. Mereka kan pengusaha ternama. Kabarnya sih yang membunuh itu pembunuh bayaran.”

“Bukankah Direktur yang pertama dulu juga mati terbunuh? Mungkinkah pembunuh itu orang yang sama?”

“Kasihan putri keluarga Park. Sekarang hanya tinggal dia satu-satunya keluarga Park yang hidup.”

Jiyeon hanya diam mendengar pembicaraan orang-orang. Ia menatap pamannya yang kini telah terbaring damai di dalam peti mati.

“Nona. Lebih baik anda beristirahat di dalam.” Ujar Asisten Kim memberi saran.

“Asisten Kim, bagaimana ini semua bisa terjadi?”

“Saya kurang tahu nona. Tapi sepertinya benar kata orang-orang. Ada yang menaruh dendam pada keluarga Park.”

“Apa berikutnya giliranku?”

“Nona. Jangan berpikir macam-macam. Lebih baik anda beristirahat saja.”

“Aku tidak apa-apa Asisten Kim.” Ucap Jiyeon menolak untuk masuk.

“Nona.. Keluarga Park hanya tinggal nona seorang. Dengan begitu, perusahaan-perusahaan keluarga kini jatuh di tangan Nona.”

“Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk kembali ke keluarga ini.” Kata Jiyeon pasrah.

“Nona tenang saja. Saya tidak akan membiarkan nona mengurus perusahaan-perusahaan itu sendiri.”

“Gamsahamnida Asisten Kim.” Ucap Jiyeon sambil tersenyum.

 

 

 

Lee Joon POV

 

Jiyeon..

“Aish.. kenapa wajahnya selalu muncul di pikiranku??”

Apa aku menyukainya? Argh.. tidak. Jangan gila Joon. Gadis sepertinya terlalu baik untukmu. Dia hanya gadis polos yang gampang percaya pada orang asing. Dia terlalu cantik. Saat dia tersenyum..

“Aishhhh… Jinja. Apa yang kupikirkan??”

Aku membuka dompetku dan mengambil foto So Eun, “So Eun a.. apa aku bisa jatuh hati pada yeoja lain selain dirimu?”

Tidak. Aku tidak pantas untuk mencintai, apalagi dicintai..

Remember Joon. You don’t have heart. You’ve thrown your heart away.”

 

 

Jiyeon POV

 

Kini aku berdiri di depan makam orang tuaku.

 

“Aboji, selama ini aku selalu bersikeras untuk pergi dari keluarga Park, tapi Tuhan tidak mengijinkan itu. Aku telah memutuskan untuk kembali ke keluarga Park dan mengambil alih semua perusahaan Aboji. Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya. Tapi aku akan berusaha semampuku.

Aboji, Eomma, beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan seorang namja. Dia memang memiliki tampang seram, tapi entah kenapa, firasatku mengatakan bahwa dia orang yang baik. Dia pernah menolongku. Dia juga pernah mengatakan padaku agar tidak mudah percaya pada orang. Entah kenapa setiap hari di benakku terbayang wajahnya. Perasaan apa ini?”

 

 

 

#FLASHBACK

“Joon? Ada apa? Aku tidak menyuruhmu ke sini.” Tanya Aboji  terlihat heran dengan kedatanganku.

“Aku ingin berhenti melakukan ini semua.”

“What? You’re not kidding, right?” tanya Go.

“Aku sudah pernah bilang sebelumnya. Aku ingin berhenti dari semua ini.”

“Joon! Begini balas budimu pada Aboji? Come on dude!”

“Shut your mouth.” Kuarahkan pistolku tepat di dahinya. Setidaknya itu dapat membungkam mulutnya.

“Joon. Turunkan pistolmu.” Pinta Aboji.

Aku melakukan pintanya dan Go hanya menatapku tajam.

“Well. Kamu boleh berhenti dari sini dengan satu syarat. Selesaikan permintaan tuan Ahn untuk menghabisi keluarga Park.”

“Mwo? Bukankah mereka semua telah kita habisi?”

“Belum. Menurut informasi yang Go dapat, mereka masih memiliki seorang putri. Tugas terakhirmu adalah habisi dia.”

“Setelah itu aku akan bebas dari tempat ini?”

“Off course.” Ucap Aboji  sambil tersenyum.

#FLASHBACK END

“Baiklah. Saat kalian sampai di dalam, Go, beritahu Joon mana gadis itu. Lalu Joon, kamu dekati dia dan langsung tembak. Mereka memiliki pengawal yang cukup banyak, tugasmu Go, jaga Joon agar tidak tertangkap. Arasseo?”

“Setelah ini. Aku akan keluar. Tepati janjimu.” Ucapku melihat ke arahnya.

Ia tertawa, lalu berkata, “Tenang Joon. Aku pembunuh, bukan penipu.”

“Apa kau akan membiarkanku keluar hidup-hidup?”

“Joon, kau itu anakku. Mana mungkin aku menyakitimu.”

“Aku bukan anakmu.”

Stop it, Joon. Kau mulai keterlaluan.” Ucap Go kesal, “Lagipula, setelah keluar, kamu akan pergi ke mana? Kau tidak punya keluarga selain kita.”

“Kalian bukan keluargaku.”

“Kau!”

“Sudahlah Go, Joon. Hentikan. Lebih baik kalian turun sekarang.”

“Ingat Joon, dekati dia and… shoot! Aku akan berada di depanmu.” Ucap Go bersemangat.

“Joon, Go, do your best.” Kata Aboji  lalu kami pun turun dari mobil.

Dengan menyamar sebagai pelayan, kami berhasil masuk ke dalam pesta yang cukup meriah itu. Kami berhubungan dengan Aboji melalui earphone seperti biasanya. I swear, ini akan menjadi tugas terakhirku. Aku tidak akan melakukan ini lagi.

That’s her.” Bisik Go padaku sambil menunjuk ke arah seorang gadis yang mengenakan dress hitam. Aku dan Go segera berpencar. Go akan berjaga-jaga di tempat yang tak jauh dariku.

Aku menghampiri gadis itu dengan memegang pistol yang kututupi dengan jas.

Saat jarakku dengan gadis itu hanya berjarak setengah meter, gadis itu berbalik. Benar-benar diluar dugaanku. Aku bahkan tidak percaya dengan mata kepalaku sendiri.

Dia.. Jiyeon. Gadis yang dengan mudahnya percaya padaku itu.

“Joon. Bagaimana kamu bisa datang?” tanya Jiyeon padaku yang masih terdiam. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang kulihat.

Tidak mungkin.. ini pasti salah. Jiyeon adalah putri keluarga Park?

 

“Joon. Shoot her.” Pinta Aboji melalui earphone.

Aku hanya dapat membisu. Bagaimana mungkin ini terjadi? Kenapa harus dia?

“Joon. Target sudah di depan mata. Apa lagi yang kamu tunggu?”

Tidak. Aku tidak bisa melakukan ini.

Samar-samar kudengar suara Aboji dari earphone, “Go,  gantikan Joon. Aku akan menghitung mundur.”

Pikiranku semakin kacau. Lalu kudengar Aboji mulai menghitung mundur.

Three.. two..

Apa yang harus kulakukan?

One!”

Dapat kulihat jelas saat peluru dari pistol Go yang berada tak jauh dibelakang Jiyeon melesat cepat menembus punggung Jiyeon.

Jiyeon terhentak dan semua orang terkejut mendengar suara tembakan itu.

“Joon..” panggil Jiyeon lirih. Aku hanya terdiam melihat wajahnya yang kesakitan dan mulai pucat. Tubuhnya mulai terhuyung.

“Go. One more shoot.” Aku segera mendorong Jiyeon saat mendengar perintah Aboji, lalu kulesatkan beberapa peluru pada Go yang membuatnya terjatuh seketika.

“Joon! Apa yang kamu lakukan!” kudengar suara Aboji namun tak kuhiraukan.

Aku pun menghampiri Jiyeon, kuangkat tubuhnya dan kurebahkan pada pangkuanku. Matanya menatap lurus padaku dan ia hanya terus memanggil namaku. Para pengawal mulai berdatangan menghampiri. Tak sepatah kata pun dapat kukeluarkan dari mulutku. Hanya air mata yang mengalir perlahan di pipi ini.

 

 

 

Jiyeon POV

 

Sinar matahari pagi menembus jendela. Membuatku terbangun dari tidurku.

Asisten Kim yang menyadariku telah sadar segera menghampiri.

“Nona.. syukurlah anda telah siuman.”

Aku melihat sekeliling, ruangan putih dan tanganku yang diinfus, barulah aku mengerti, kini aku terbaring di rumah sakit. Kurasakan perih yang amat sakit di punggungku.

“Nona.. anda tidak apa-apa?” tanya Asisten Kim saat melihatku mengernyitkan dahi.

Aku hanya menggeleng pelan. Lalu kupejamkan mataku dan mencoba mengingat kejadian semalam.

Aku hanya ingat, kedatangan Joon yang membuatku kaget, lalu.. tiba-tiba terdengar suara dan ada yang menembus punggungku.

Joon.. benarkah apa yang kulihat semalam saat kamu memelukku? Apakah kamu menangis saat itu?

 

“Asisten Kim. Apakah kejadian semalam juga ulah pembunuh bayaran itu?”

“Benar Nona. Menurut polisi, komplotan mereka kini telah terbongkar. Dan orang yang membayar mereka juga telah terungkap. Kini keluarga Park bisa hidup tenang.” Jelas asisten Kim.

“Lalu.. Joon. Di mana dia?”

“Apakah yang nona maksud adalah pria yang menembak orang yang menembak nona?”

Kuingat-ingat lagi. Memang benar, Joon menembak seseorang semalam.

“Dia adalah salah satu dari pembunuh bayaran itu.”

“Apa?” Tidak mungkin. Joon.. dia salah satu dari mereka?

“Kini mereka semua telah mendekam di penjara. Nona bisa tenang sekarang.”

“Joon.. bukankah dia menyelamatkanku semalam?”

“Itu yang membuat saya bingung. Pria itu jugalah yang membeberkan komplotan dan orang yang membayar mereka. Mungkin hukumannya akan diringankan karena apa yang dia laporkan. Apa nona kenal dengannya?”

Aku hanya diam mendengar cerita Asisten Kim. Apa maksud dibalik semua ini?

 

 

 

 

Joon POV

 

“Aku tidak percaya kau melakukan ini semua padaku Joon.”

Masih kuingat kata-kata terakhir Aboji padaku sebelum ia dikenai hukuman mati. Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. Maafkan aku Aboji. Aku lebih memilih hidup mendekam di penjara daripada terus menerus menjalani tugas yang kamu berikan.

Jiyeon, maafkan aku. Aku telah menghancurkan kehidupanmu. Aku telah membunuh keluargamu. Mungkin hukuman ini pun belum cukup untukku.

“Saudara Lee Joon. Anda telah diperbolehkan keluar.” Kata seorang petugas sambil membuka pintu sel.

“Saya.. bebas? Bagaimana bisa?” tanyaku heran. Bagaimana aku bisa keluar? Baru beberapa hari lalu aku dijatuhi hukuman selama 20 tahun penjara, “Tapi.. bukankah keputusan hakim telah jelas?”

“Anda dibebaskan karena denda jerat hukuman anda telah dilunaskan.” Jelasnya.

Lunas? Siapa yang..?

 

 

 

 

Jiyeon POV

 

 

#FLASHBACK

“Asisten Kim, bisakah anda membantu saya?”

“Tentu Nona.”

“Bebaskan Joon dari penjara.”

“Maksud Nona?”

“Bayar berapapun dendanya. Aku ingin dia bebas dari penjara.”

“Tapi Nona.. bukankah..” Asisten Kim melihatku yang hanya diam, “Baiklah. Sesuai keinginan nona. Tapi apa Nona benar-benar yakin untuk membebaskannya?”

“Aku percaya padanya.”

“Baiklah. Saya mengerti.”

“Lalu Asisten Kim.. mengenai So Eun, anak dari ketua komplotan itu.. apakah anda telah mendapat informasi tentangnya?”

“Menurut informasi yang saya dapat, gadis itu terbunuh oleh musuh Ayahnya. Ia dimakamkan di tempat yang tak jauh dari makam keluarga Park.”

“Kalau begitu, tolong siapkan mobil.”

“Baiklah Nona. Anda ingin saya temani?”

“Tidak. Aku akan pergi sendiri.”

 

#FLASHBACK END

 

 

 

Aku kini tengah berdiri di depan makam gadis itu. Kuletakkan bunga di atas makamnya.

“Kamu.. Apakah Joon pernah memberitahumu?” tanyaku padahal aku sendiri tahu tidak akan mendapatkan jawaban, “Joon.. dia itu orang seperti apa?”

 

Aku menoleh ke belakang saat menyadari  kehadiran seseorang, “Joon..”

Joon terlihat kaget melihat kehadiranku.

 

 

Author POV

 

 

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Joon sembari meletakkan bunga yang dibawanya.

“Aku.. hanya ingin mencari tahu..” Jiyeon berjalan menghampiri Joon, “Kamu ini.. orang seperti apa?”

“Kenapa kamu membebaskanku?” Joon balik bertanya.

“Karena aku percaya padamu. Sejak pertama kita bertemu, aku tahu kamu bukan orang yang jahat.”

Joon tersenyum kecil, “Kau salah besar.”

Jiyeon segera melihat wajah Joon.

“Aku bukan orang baik. Aku membunuh Ayahmu. Dan juga pamanmu. Saat di pesta itu pun, aku berniat untuk membunuhmu. Akulah orang yang telah menghancurkan keluargamu.” Jelas Joon yang menatap lurus ke depan.

Jiyeon meraih wajah Joon dengan kedua tangannya, “Lihat aku. Tolong jangan berbohong padaku.”

Joon hanya menatap Jiyeon kosong, lalu berkata, “Sudah kukatakan, jangan terlalu mudah percaya pada orang lain.”

Air mata Jiyeon mulai mengalir, mencoba untuk tidak percaya dengan apa yang Joon katakan.

Sambil melangkah mundur, Jiyeon berkata, “Jebal.. aku tahu kamu bukan orang jahat. Jangan katakan bahwa kamu yang membunuh Ayahku.”

“Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan?! Aku membunuh Ayahmu! Aku juga membunuh pamanmu!”

“Tidak.. jangan pernah katakan..”

“Bunuh aku. Itu membuatku merasa lebih baik.” ucap Joon.

 

Jiyeon hanya mampu menangis mendengar kenyataan ini.

Tiba-tiba ia teringat, namja yang menemukannya di lemari 10 tahun lalu.

“Kamu.. membiarkanku hidup 10 tahun yang lalu. Namja yang menemukanku di dalam lemari. Itu kamu kan?”

Joon mengingat kembali kejadian 10 tahun lalu saat ia menemukan seorang gadis kecil di dalam lemari.

“Kamu juga menolongku di pesta itu. Karena itulah aku percaya.. kamu bukan orang jahat.”

“Tapi aku membunuh Ayah dan Pamanmu!”

“Apa kamu melakukannya karena keinginanmu sendiri? Apa menjadi pembunuh bayaran benar-benar keinginanmu sendiri?”

Joon hanya diam.

“Joon..”

“Bunuh aku.. itu akan membuatku merasa lebih baik..” ucap Joon pelan.

Jiyeon menggelengkan kepalanya pelan, “Meskipun kenyataan ini benar-benar berat. Tapi entah mengapa. Di dalam hatiku aku masih merasa kalau kamu bukan orang yang jahat.”

“Joon.. berbahagialah. Mulailah hidup yang lebih baik dari sekarang.” Jiyeon mengusap air matanya lalu pergi meninggalkan Joon dengan mobilnya.

 

 

 

“So Eun a.. bukankah aku orang yang jahat? I don’t have heart, right? Kenapa dia..” Air mata Joon menetes di pipinya,”Jiyeon, kamu percaya pada orang yang salah.”

 

 

 

Beberapa tahun kemudian..

 

 

 

Aboji, Eomma, bagaimana kabarmu?” Ucap Jiyeon sambil menatap makam kedua orang tuanya, “Aku ingin meminta maaf padamu.”

“Maafkan aku Aboji. Aku berjanji akan menjaga dan mengurus perusahaan-perusahaan hasil kerja keras Aboji dan Ahjussi dengan baik. Tapi.. salahkah bila aku mencintai orang yang membunuh Aboji? Aboji, apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa membuang perasaan ini…”

 

“Nona. Hari ini Nona memiliki jadwal untuk mengunjungi panti asuhan.” Kata Asisten Kim menghampiri Jiyeon.

“Saya ingat Asisten Kim. Panti yang baru direnovasi itu kan?”

“Benar Nona..”

“Baiklah. Aboji, Eomma, aku akan mengunjungi kalian lain waktu..”

 

 

_ _ _

 

“Kami benar-benar senang atas kehadiran anda, Nona Park.” Ucap pemilik panti asuhan saat melihat kedatangan Jiyeon.

“Saya juga senang bisa datang kemari. Suasana di sini benar-benar nyaman.” Kata Jiyeon sambil tersenyum.

“Ini semua juga berkat kemurahan hati Nona sebagai donatur kami, tanpa Nona, panti ini tidak akan mampu bertahan.”

“Anda terlalu berlebihan..” ucap Jiyeon sambil tertawa.

“Silahkan masuk, di sini adalah ruang bersama. Anak-anak biasanya berkumpul di sini saat senggang. Ayo ucapkan salam pada Nona Park anak-anak.”

Annyeonghaseyo Nona Park.” Sapa anak-anak secara bersamaan.

Jiyeon tertawa mendengar salam dari anak-anak itu, “Adik-adik, panggil eonni atau noona saja ya.”

“Yang lain sedang bermain di halaman ya?” tanya Jiyeon saat melihat beberapa anak-anak di luar, “Itu..”

“Ya Nona Park?”

“Pria itu..” ucap Jiyeon saat ia melihat seorang pria yang bermain bersama anak-anak di halaman, Joon.

“Dia Joon. Dia yang membantu saya mengurus panti ini. Sudah cukup lama dia tinggal di sini. Dulu saya menemukannya tertidur di depan panti dan kehujanan. Karena itulah saya mengajaknya untuk tinggal di sini. Menurut ceritanya, dulu dia pernah membunuh, namun ia dibebaskan dari penjara oleh anak dari orang yang ia bunuh sendiri. Ia berjanji untuk melanjutkan hidup sebagai orang yang dapat berguna bagi orang lain.”

Jiyeon hanya diam mendengarkan. Lalu salah seorang anak perempuan menghampiri Jiyeon.

Eonni.. ayo ikut kami main di luar.” Kata anak itu sambil menarik-narik baju Jiyeon.

“Bolehkah aku ikut main dengan kalian?”

“Tentu!” seru anak-anak yang lain.

 

Anak-anak itu membawa Jiyeon ke halaman belakang untuk bermain.

“Aku akan bertanya pada Hyung apakah dia mengijinkan Noona untuk ikut bermain!” seru salah seorang anak laki-laki.

“Tentu saja Oppa akan mengijinkan. Dia kan baik.” Kata anak yang lain.

“Dia, yang kalian panggil kakak?” tanya Jiyeon sambil melihat ke arah Joon.

Gurrae!”

“Apakah dia orang yang baik?” tanya Jiyeon lagi.

“Tentu saja! Oppa orang yang baik hati. Dia selalu baik dan menyayangi kami.”

 

 

 

Hyung! Noona ini ingin ikut bermain dengan kita!” seru salah seorang anak laki-laki yang berlari ke arah seorang pria.

 

Jiyeon tersenyum pada Joon. Namun Joon terlihat kaget mendapati Jiyeon berdiri di sana.

 

Jiyeon berjalan menghampiri Joon, “Bagaimana kabarmu?”

“Seperti yang kamu lihat..” kata Joon sambil tersenyum, “Anak-anak, kalian main duluan ya. Kakak ingin bicara dengan kakak ini.”

Joon mengajak Jiyeon untuk duduk di sebuah bangku, “Jadi, kamu donatur yang membantu panti?”

Ne. Kamu sudah lama tinggal di sini?”

“Dua tahun.. aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi.”

“Aku sudah tahu ini akan terjadi..”

Mwo?” tanya Joon bingung dengan pertanyaan Jiyeon.

“Aku selalu yakin, bagaimanapun kita berpisah, takdir akan selalu mempertemukan kita.” Ucap Jiyeon.

Joon tersenyum mendengar perkataan Jiyeon, “Takdir?”

Ne. Saat aku berumur 8 tahun, lalu saat aku menabrakmu di toko bunga, saat kamu menolongku kabur dari Asisten Kim, saat aku membawamu ke apartemenku, saat kamu menolongku di pesta, lalu saat kita bertemu di makam So Eun, dan sekarang, saat kita bertemu di panti ini..” Jiyeon berkata sambil tersenyum, “Banyak pertemuan tak terduga di antara kita, dan di pertemuan-pertemuan itu selalu ada perpisahan. Namun, takdir selalu mempertemukan kita kembali.”

“Apa itu yang dinamakan jodoh?”

Keduanya tertawa bersamaan.

“Satu hal lagi, kamu memang bukan orang jahat.” Kata Jiyeon melihat pada Joon, “Semua orang berkata begitu, bukan hanya aku.”

Gurrae?”

Jiyeon mengangguk, “Karena itulah aku selalu percaya padamu. Aku yakin pada firasatku.”

“Aku tidak pernah bisa melupakan dosa yang telah kuperbuat.”

“Tuhan akan mengampuni mereka yang menyesali dosanya.” Ucap Jiyeon.

“Jiyeon.. kenapa kamu percaya padaku?” tanya Joon pada Jiyeon.

“…”

Jiyeon diam sejenak, lalu tersenyum, “Entahlah.. dari matamu aku merasa dapat melihat hatimu yang baik.”

“Kenapa Tuhan mempertemukanku dengan gadis sebaik kamu?” ucap Joon sambil memandang langit.

Maybe.. it’s our destiny.”

 

 

 

 

END

5 thoughts on “Destiny, The Time We Meet {The Final Chapter}

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s