Gelembung Sabun

Character(s): Kim Jongwoon (Yesung), Kim Ryeowook (Super Junior), slight Yesung/Gyuri
Other character(s): Gyuri (KARA)
Genre: Friendship, general

 

***

Seperti gelembung sabun, ia tidak memiliki warna, tapi terlihat bewarna.

***

Sekarang sudah jadi kebiasaan, tiap hari Jongwoon akan duduk bersandar pada dinding ruang tamunya. Satu dinding yang menjadi pemisah di antara dua buah rumah. Kebanyakan rumah dalam komplek itu serupa, dinding putih dan atap biru. Perumahan Genteng Biru, kata orang. Semua rumah serupa dan kedua rumah itu tidak terkecuali.

Halaman rumah tempat Jongwoon tinggal dipenuhi dengan pohon cemara dan semak-semak rendah. Sedangkan rumah di sebelahnya diwarnai dengan bunga matahari dan bougenville. Jongwoon tidak pernah bertemu dengan pemilik rumah sebelah. Seperti semua orang lain dalam perumahan itu, masing-masing terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri sampai tidak ada waktu untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Tiap hari tanpa terkecuali, sepulang kuliah, Jongwoon akan duduk di lantai dengan punggungnya menempel pada tembok, mendengarkan alunan piano dari rumah di sebelahnya. Tembok itu di cat kuning muda di sisi sini, entah warna apa di sisi sana. Jongwoon ada di sisi sini, entah siapa yang ada di sisi sana.

 

Hari itu seperti biasanya, Jongwoon duduk untuk melakukan rutinitas hariannya: mendengarkan tetangganya memainkan piano. Ia melempar ransel dan buku teks kalkulusnya ke atas sofa, kemudian mengambil jus jeruk dari dalam lemari es. Kuliah terakhirnya tadi olah raga. Jongwoon tidak mengerti kenapa ia tetap dibebani dengan kuliah tidak penting itu ketika mereka seharusnya bersiap untuk bekerja.

Universitas memang suka aneh.

Pemuda dua puluh tahun itu menenggak jusnya. Dari balik dinding sudah terdengar alunan lagu. L’Isle  Joyeuse ciptaan Debussy, salah satu favoritnya. Ia tersenyum sementara nada-nada lembut yang terdengar perlahan mengeras dan ia bisa merasakan kebahagiaan yang ingin disampaikan Debussy melalui lagunya. Ia mendesah pelan. Siapapun orang di seberang dinding yang memainkan piano, dia pasti seorang jenius musik.

Jongwoon menutup matanya, membiarkan untaian nada yang diciptakan Debussy membasuhnya. Seluruh penat yang dirasakannya akibat ketegangan menjelang ujian semester seakan lenyap begitu saja. Ia iri pada orang yang memainkan piano itu, karena tiap harinya orang itu bisa memainkan piano tanpa beban sementara Jongwoon tersiksa dalam derita sebagai mahasiswa.

 

***

 

Pukul 9 malam, Jongwoon mengecek jam tangannya. Ia menyusuri jalanan dalam perumahannya, baru saja pulang sehabis menghabiskan lima jam mengerjakan tugas praktek berkelompok. Ranselnya berat berisi kabel dan segala pernak-pernik listrik yang diperlukan untuk tugasnya. Jaket hitam membungkus tubuhnya yang agak menggigil di tengah dingin malam.

Ia berharap tetangganya belum selesai memainkan piano untuk hari ini. Terkadang suara piano itu berhenti pukul delapan, pada hari lainnya bisa sampai tengah malam. Semoga saja hari ini sampai malam.

Ia berhenti di depan rumah itu, yang halamannya dipenuhi bunga matahari dan bougenville. Terpaksa ia menelan kekecewaan ketika menyadari sepinya malam itu. Tidak ada lagu di udara. Jongwoon mengacak-acak rambutnya. Desahan pelan terdengar darinya. Kemudian ia mengangkat bahu dan berjalan menuju rumahnya sendiri.

 

Ia baru menyentuh pagar rumahnya ketika sebuah mobil sedan berhenti di depan pagar rumah sebelah. Dari dalamnya keluar seorang pemuda lain, dengan tubuh agak mungil dan mengenakan jaket putih. Tulang pipinya tinggi dengan mulut kecil dan hidung yang mancung. Ia terlihat pucat, tapi mungkin itu pengaruh lampu.

Jongwoon tidak menyadari bahwa ia sudah menatap tetangganya itu terlalu lama sampai akhirnya pemuda berjaket putih itu balik menatapnya. Ia menunduk, agak malu karena kedapatan menonton. Tapi alih-alih cuek atau marah, pemuda berjaket putih itu tersenyum. Dan Jongwoon akui, ia sedikit kaget sampai tidak tahu harus membalas bagaimana.

Ia buru-buru masuk ke dalam rumah. Tidak repot-repot mengganti baju sebelum ia melempar tubuhnya ke atas tempat tidur. Tetangganya aneh, itu yang ada dalam pikirannya terakhir sebelum ia tertidur.

 

***

 

Kedua kalinya Jongwoon melihat pemuda berjaket putih itu lagi adalah ketika ia pulang sekolah pada Jum’at siang. Pemuda tidak mengenakan jaket putih lagi, tapi hanya kaos simpel dan kardigan biru. Di saat terang begini, ia bisa melihat pemuda itu lebih muda darinya. Mungkin masih SMA atau akhir SMP. Pemuda itu berdiri bersandar pada pagar rumahnya, seperti menunggu sesuatu.

Jongwoon ragu-ragu pada awalnya, enggan memulai pembicaraan. Takut dikira gay atau apa. Apalagi tetangganya itu masih bocah. Tapi kemudian ia melihat pagar di belakang pemuda itu tergembok dan mungkin bocah itu lupa membawa kunci hingga ia tidak bisa masuk ke dalam rumah.

 

“Hei,” Jongwoon berdeham sebelum melanjutkan, “tidak masuk?”

Dia menggeleng.

 

“Lupa bawa kunci?”

Anak laki-laki itu mengangguk, ada senyum malu-malu di wajahnya. Dan Jongwoon jadi ikut tersenyum melihatnya.

“Mau menunggu di rumahku? Di sini panas sekali.”

Yang ditanya tampak ragu-ragu. Ia melirik ke arah pagar yang tergembok, lalu ke arah Jongwoon. Ia akhirnya mengangguk, meskipun masih terlihat agak ragu. Jongwoon tersenyum dan mengisyaratkan ke arah tetangganya itu untuk ikut dengannya.

 

Jongwoon melepas ranselnya dan meletakannya di atas sofa. Rumahnya tidak begitu besar, namun ia bisa membanggakan suasananya yang nyaman dan teratur. Hasil kerja ibunya yang memang bekerja sebagai desainer interior. Ia mengisyaratkan anak laki-laki itu untuk duduk.

“Anggap saja rumah sendiri, ya,” ujarnya ramah, sedikit nyengir.

Bocah tak bernama itu duduk, terlihat agak risih. Yah, bagaimanapun ini bisa dibilang pertama kalinya mereka bertemu.

 

“Namaku Jongwoon,” ia memperkenalkan diri pada akhirnya sambil duduk di samping pemuda itu, “kau?”

Pemuda itu tampak ragu. Kemudian ia mengeluarkan sebuah buku saku dan pulpen. Ia menuliskan sesuatu di dalam buku itu sebelum kemudian memperlihatkannya pada Jongwoon.

Ryeowook, tulisan di buku itu.

 

Jongwoon tertegun. Berkali-kali ia melirik antara Ryeowook dan buku kecil itu. Ia baru menyadari bahwa anak laki-laki itu tidak mengeluarkan sepatah katapun dari tadi. Bisu?

 

“Ryeowook,” ucapnya pelan sebelum tersenyum lebar pada akhirnya, “senang berkenalan denganmu.”

 

Ryeowook artinya matahari. Dan senyum di wajah bocah itu memang seperti matahari. Hangat dan cerah.

 

***

 

Sekarang sudah jadi kebiasaan baru Jongwoon, tiap hari ia akan mampir ke rumah Ryeowook sepulang kuliah. Ia akan duduk di atas sofa sambil membaca buku teks fisika-teknik atau meng-sms pacarnya, sementara pemuda yang lebih muda empat tahun darinya itu bermain piano.

Dari sisi sini temboknya bewarna gading dan suara pianonya terdengar jauh lebih jelas. Tidak ada lagi musik teredam dari balik dinding. Dan Jongwoon menikmati tiap not yang dimainkan Ryeowook.

 

Saat Jongwoon bosan menghadapi hukum fisika dan jemari Ryeowook mulai lelah, mereka akan duduk berdampingan di atas sofa. Ryeowook akan bertanya bagaimana keseharian Jongwoon hari itu melalui buku sakunya yang mungil, dan yang ditanya akan menjawabnya dengan buku sakunya sendiri. Ia membelinya setelah capai harus berganti-gantian menulis di buku Ryeowook. Meskipun sebenarnya ia tidak perlu melakukannya karena Ryeowook bisa mendengar suaranya dengan jelas. Tapi ia menyukai cara berkomunikasi mereka ini.

Mereka tidak mengeluarkan sepatah katapun, namun tanpa suarapun mereka saling mengerti.

 

Hyung, kenapa gelembung sabun bisa bewarna-warni? Tanya Ryeowook suatu waktu, padahal air sabunnya bening.

Itu karena dia membiaskan cahaya, tulis Jongwoon dalam bukunya.

Membiaskan cahaya?

Ya, lapisannya membuat cahaya terurai dan menyebabkan ia seolah tampak bewarna.

Ryeowook tertawa dan Jongwoon mengerutkan dahinya. Ia tidak melihat ada yang lucu dari penjelasannya tadi. Oke, ia memang tidak bisa dibilang menguasai fisika gelombang elektro magnetik, tapi ia rasa penjalasannya tidak selucu itu. Tidak sesalah itu sampai bisa ditertawakan oleh bocah kecil begini.

 

Kenapa kau tertawa?

Ryeowook tersenyum semakin lebar.

Gelembungnya seperti aku.

Jongwoon mengangkat alisnya, tidak mengerti. Ada saat-saat di mana Ryeowook bisa sangat absurd dan random. Dan biasanya pada saat begitu Jongwoon merasa dibodoh-bodohi meskipun sebenarnya Ryeowook lebih muda.

Gelembungnya tidak bewarna, tapi ia menggunakan cahaya supaya bisa bewarna, jelas Ryeowook. Ada kebahagiaan yang terpancar darinya saat mengatakan itu dan Jongwoon, meskipun tidak mengerti apa maksudnya, merasakan senyum mulai merekah di bibirnya juga. Ia mengacak-acak rambut bocah itu, senang melihat bagaimana bocah itu memukul tangannya dan cemberut

 

Hening yang kemudian berada di antara mereka terasa nyaman. Jongwoon membolak-balik halaman buku teksnya sementara Ryeowook membaca ulang buku sakunya, terkadang tertawa ketika membaca tulisannya yang mengingatkannya pada humor yang mereka bagi sebelumnya.

Jongwoon merasa lengan bajunya ditarik dan mendapati Ryeowook menatapnya.

 

Hyung, Fisika-teknik, susah?  Tanya Ryeowook.

Susah, tapi apa boleh buat, jawab Jongwoon di atas bukunya, tersenyum sekilas, sudah cita-cita.

Cita-cita?

Ya, aku mau meneruskan jejak ayahku di perusahaan.

Oh…

Kau sendiri bagaimana, Ryeowook?

 

Aku ingin menjadi penyanyi, tulis Ryeowook tanpa ragu sedikit pun. Jongwoon tidak membalas, bingung harus menjawab bagaimana. Jadi ia hanya tersenyum sedikit. Ia tahu Ryeowook suka bernyanyi sampai suaranya hilang dua tahun yang lalu akibat kecelakaan di lab. Saat tanpa sengaja ia menelan asam klorida karena mengira itu air biasa.

 

Suaramu pasti bagus.

Jongwoon menulis dalam bukunya.

Aku harap aku bisa mendengarmu bernyanyi suatu saat.

 

***

 

Sejak Ryeowook mengungkapkan keinginannya untuk bernyanyi, Jongwoon seakan membuat keinginan bocah itu menjadi misinya. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai mahasiwa, ia mencari-cari cara untuk menyembuhkan kebisuan. Operasi cangkok pita suara terdengar paling menjanjikan. Tapi ia tahu biaya untuk melakukannya sangat mahal, belum lagi mencari pendonornya.

Bukan sesuatu yang bisa ia wujudkan dengan mudah.

 

“Cangkok apa—pita suara?” tanya perempuan di sebelahnya heran. Mereka berdua sedang makan siang di kantin saat mendadak Jongwoon memulai topik itu. Gyuri, pacarnya, menatapnya dengan agak bingung.

“Iya, pita suara,” jawab Jongwoon kalem.

“Itu operasi yang sulit kan?” Gyuri berkata lambat-lambat, sudah terbiasa dengan kebiasaan Jongwoon memulai topik yang random, “kudengar bahkan di Amerika pun operasi itu baru dilakukan dua atau tiga kali.”

“Mustahil melakukannya di sini, ya?”

Jongwoon melirik gadis di sebelahnya yang mengangkat bahu. Ia tahu itu hal yang mustahil, tapi tidak ada salahnya sedikit berharap kan?

 

“Aku tahu apa arti ekspresimu,” ujar Gyuri dengan desahan pelan, “ada hal-hal yang tak bisa dipaksakan,  Jongwoonie. Kadang kau harus tahu kapan waktunya untuk menyerah.”

 

Pemuda itu tidak mendengarkan. Ia menghubungi semua rumah sakit besar yang ada, bertanya apakah mungkin melakukan cangkok pita suara. Bagaimana prosedurnya. Berapa harganya. Apa yang harus ia lakukan untuk melaksanakannya. Namun semua memberikan jawaban yang sama: mustahil.

Pada akhirnya ia terpaksa menyerah. Karena meskipun ia ingin menjadi superman yang bisa mewujudkan semua impian bocah di sebelah rumahnya, ia tidak bisa.

Pada akhirnya ia hanya manusia biasa, tanpa kekuatan super.

 

***

 

Maaf, tulis Jongwoon.

 

Ryeowook baru saja menghentikan permainan pianonya untuk duduk di sebelah Jongwoon yang sedang mengerjakan tugasnya. Ia menatap laki-laki yang lebih tua darinya itu dengan heran.

Untuk apa, hyung?

 

Aku tidak bisa mengembalikan suaramu, tulis Jongwoon dengan ekspresi menyesal, maaf.

 

Ia menundukan kepalanya, tidak ingin menatap Ryeowook setelah kegagalannya mencari suara untuk pemuda itu. Mau tidak mau ia jadi teringat cerita Puteri Duyung Disney. Seandainya saja ia bisa mencuri suara dari orang lain untuk memberikannya pada Ryeowook. Ia tidak keberatan melakukan dosa asalkan ia bisa memberikan Ryeowook suaranya kembali.

Jongwoon mengangkat kepalanya saat merasakan tarikan di lengannya. Ryeowook tersenyum ke arahnya, menyodorkan bukunya sendiri, memperlihatkan halaman terakhir yang baru diisinya.

 

Aku punya suara, kok, hyung.

 

Jongwoon menatap empat kata yang tertulis di sana. Ia tidak mengerti apa maksud dari bocah itu, tapi ekspresi Ryeowook yang terlihat senang membuatnya tertegun.

Dengarkan, ya!

 

Ryeowook melompat dari sofa dan duduk di atas kursi pianonya. Sesaat Jongwoon mengerutkan dahinya, masih tidak mengerti apa yang dimaksud oleh bocah itu. Namun ketika jarinya mulai menari di atas tuts piano, memainkan Nocturne op. 2, Jongwoon mengerti apa maksudnya. Nada-nada lembut dari lagu itu membuatnya menutup mata, mengubur kemampuan inderanya yang lain kecuali telinga.

Ada kekuatan yang terpancar dari cara Ryeowook memainkan lagu itu. Seakan lagu itu menggambarkan sang bocah, yang mungkin terlihat lemah, rapuh, namun ia sebenarnya tegar. Meskipun impiannya mustahil dan ia lebih cacat dari kebanyakan orang, namun ia jauh lebih sempurna dari kebanyakan orang.

 

Seperti gelembung, aku mungkin bening, tapi bukan berarti aku tak bewarna. Terima kasih untuk perhatian kakak  :)

 

a/n: awalnya ini cerpen bertema iCare untuk nulisBuku. Tapi yah, jadinya begini :|

12 thoughts on “Gelembung Sabun

  1. DAEBAK…….

    Alurnya tu enak banget, ceritanya juga bagus…

    karakter wookie sama yesung disini beda banget sama kenyataannya… d^^b

  2. Komen apa ya *garuk2* yg pasti bagus dan cara penyampaiannya as usual keren banget. Walau RW gabisa bersuara tapi suara dia diwakilin lewat dentingan piano. Ah~ jeongmal daebak! Aku selalu suka hasil karyamu! suka penggunaan kata2 dan pemilihan jalan cerita yg ga biasa :D good job! :D

  3. hastagaa~ ddanghobak sshi~ senantiasa bikin saya sapichless di setiap ffmu~ wkwkwkw
    kebayag banget wookie jadi bocah! aigoo >< keren kereb daebaaak!!

  4. gamdongissoyo~

    aku ga dengerin debussy waktu bacanya. Atau Nocturne Op.2. Cuma dengerin Ibadi-Geurium. That’s just it. Sesuatu kalo kata yg ngaku2 namanya Syahrini mah…

  5. wah ceritanya simple bnget..
    ga bnyak konflik tp bagus..
    wlpn suara wookie ga bsa dikmbaliin.
    seengknya jong woon tau sisi lain yg lbih dri seorg wookie yg bisu..
    yah pkonya keren dehh.
    keep writeing ^^

  6. Ini keren sekali…! :) aku kira jongwoon bakal ‘kasih’ suaranya buat ryeowook, tp yahh, dialah si gelembung sabun.. :)
    Tiap org pny kelebihan dan kekurangan masing2 ya.. Bersyukur buat diri kita sendiri. :)

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s