Another Side

 

Title                    : Another Side

Author               : Onyunita

Main Cast         : Choi Minho (SHINee), Jung Hyun Young (OC)

Support Cast   : Lee Taemin (SHINee)

Length                              : Oneshoot

Genre                 : Alternate Universe

Rating                : Teenager

Disclaimer       : Seperti biasa, hanya cerita dan plotnya saja yang milikku. Hahaha.. Sisanya punyanya masing-masing

 

(Normal POV)

Yeoja itu berjalan tertatih. Sendiri. Padahal saat ini sudah pukul 12 malam. Wajahnya tampak lusuh. Terlihat jelas kalau dia benar-benar lelah. Tiba-tiba lima orang namja menghentikan langkah kakinya. Beberapa membawa senjata tajam.

“Mau kemana nona?” tanya salah satu dari mereka.

“Apa pedulimu?” sahut yeoja itu.

“Sebenarnya aku tidak peduli apapun yang mau kamu lakukan. Aku hanya butuh uangmu.” katanya lagi.

“Mwo? Uang? Aku tidak punya.”

“Jangan bermain-main dengan kami. Kamu pikir kami bercanda?”

“Sudahlah. Jangan menggangguku. Aku sangat lelah hari ini.”

Yeoja itu kembali melangkah dengan santai. Salah satu namja itu menarik tangannya.

“Kamu benar-benar membuatku naik darah.”

Mereka menarik paksa tas yeoja itu. Karena terlalu lemah, dia tidak mampu menahannya hingga akhirnya ia jatuh terjerembab ke jalan. Dia meringis kesakitan.

“Sungguh. Aku tidak punya uang.” dia masih meringis bahkan hampir menangis saat ini.

“Tutup mulutmu.”

Namja itu mengayunkan tangannya, hendak memukul yeoja itu. Tepat ketika itu..

**********

(Hyun Young POV)

“Hentikan!” suara itu terdengar tepat ketika aku menutup mataku sewaktu namja gila itu hampir menamparku.

“Tapi hyung..” sahut namja itu.

“Kubilang hentikan!” katanya lagi.

“Ne hyung.”

“Kembalikan barangnya.”

Namja gila itu mengembalikan tasku yang sempat di rampasnya. Sementara itu namja yang mereka panggil hyung itu berjalan menghampiriku. Omo..dia sungguh tampan. Meskipun dengan kalung dan gelang rantai di sana sini. Meskipun wajahnya begitu garang, tapi ketampanannya tidak dapat ditutupi.

“Apa yang kalian tunggu? Pergilah!”

“Ne hyung..” mereka menjawab serempak dan pergi dengan sambil berlari. Aneh, mengapa mereka sangat patuh?

“Apa yang kamu lakukan? Mengapa ada yeoja yang begitu bodoh berjalan di tengah malam seperti ini sendiri. Kau cari mati ya?” katanya sambil membantuku berdiri.

“Morago? Siapa yang kau panggil bodoh? Aish, kamu begitu tidak sopan!”

“Lantas apa kalau bukan bodoh? Sedang apa kamu disini?”

“Bukan urusanmu, ahjusshi.”

“Mwo? Ahjusshi? Kamu menghinaku? Begini caramu berterimakasih padaku?”

“Sudahlah. Aku mau pulang.”

Aku mencoba berjalan. Tapi kakiku sakit. Kulihat ternyata berdarah. Namja bodoh itu mendorongku terlalu keras. Benar-benar menyebalkan. Aigo, sakit sekali.

“Kamu terluka.” katanya datar.

“Aku tahu.” Sahutku cuek.

Kupaksakan berjalan, tapi rasanya sungguh sakit. Luka goresannya cukup besar. Aku benar-benar sial. Eotteoke?

“Kamu mau kubantu, ahjumma?” tanyanya.

Aish, sikap namja ini tidak sebagus wajahnya. Kesal!! Aku benar-benar kesal.

“Tapi kamu harus membayar mahal akan bantuan yang kuberikan. Bagaimana, ahjumma?”

Morago? Bayar? Apa semua namja bodoh seperti mereka benar-benar tergantung pada uang? Benar-benar tidak berguna. Aku diam saja. Malas menanggapinya.

“Arasseoyo. Baiklah, aku pulang dulu.”

“Ya! Ahjussi! Chankaman.”

“Waeyo?”

“Ne. akan kubayar. Tolong bantu aku sekarang. Kau punya plesterkah? Obati lukaku. Aku harus cepat pulang!”

Dia tersenyum sinis padaku, kemudian menghampiriku. Namun ketika aku menatapnya beberapa saat, tiba-tiba semuanya gelap.

**********

(Normal POV)

“Dimana ini?” tanya yeoja itu.

“Dirumahku. Jangan berteriak. Suaramu membuatku pusing, ahjumma.”

Yeoja itu melihat jam tangannya.

“Astaga! Harabeoji! Aku hampir melupakannya. Aku harus pergi sekarang!”

Ketika yeoja itu mengemasi barangnya dan hendak pergi. Namja itu menarik tangannya.

“Ahjusshi, aku berjanji akan membayarmu. Tapi jangan sekarang ya. Aku buru-buru.”

“Sekarang hari libur. Bisakah kau bersantai sedikit?”

“Kumohon, ahjusshi. Kamu tidak mengerti keadaanku.”

“Makanlah dulu. Semalam kamu pingsan dan benar-benar merepotkanku.”

“Tapi…”

“Ppalli!”

**********

(Hyun Young POV)

Rumahnya begitu sederhana. Tidak besar dan tidak banyak barang di dalamnya. Juga tidak ada foto yang menempel di dinding? Apa namja ini tinggal sendiri? Aku berjalan menuju dapurnya. Ternyata dia sudah menyiapkan makanan untukku. Dia tidak seburuk yang kukira. Oia, apa benar semalam aku pingsan? Mungkin aku terlalu lelah menunggui harabeoji. Ah, aku teringat dia lagi. Bagaimana keadaannya sekarang? Kemarin dokter bilang keadaannya sudah semakin membaik. Semoga harabeoji sadar saat ini. Ya, lebih baik aku makan sekarang. Kalau aku pingsan di hadapannya, justru akan membuatnya khawatir padaku.

“Kapan kamu akan membayar semuanya?” tanyanya tepat ketika makanan di piringku habis.

“Jangan hari ini. Kumohon. Ada banyak hal yang harus kulakukan.”

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu bahwa kamu akan membayar lain waktu? Bisa saja kamu kabur kan?”

“Aku tidak sekotor itu. Percayalah.”

“Ani. Aku tidak percaya padamu.”

“Percayalah. Saat ini aku tidak punya uang sedikit pun. Kamu tidak mengerti keadaanku. Kamu mungkin mudah menggunakan teman-temanmu untuk memintai uang pada orang yang tidak berdaya. Tapi aku? Aku harus berusaha sendiri atas biaya hidupku! Kamu tidak tahu bagaimana hidupku kan? Menghidupi diri sulit apalagi saat orang terdekatmu sakit dan butuh biaya!”

Apa yang kulakukan? Mengapa aku menceritakan semuanya padanya? Padahal dia baru saja kukenal. Aigo, aku bodoh sekali. Hal tersebut tidak perlu kuungkapkan seharusnya. Dia hanya menatapku dengan heran dan tidak berbicara apapun

“Aish, sudahlah. Ini kutinggalkan tasku. Di dalamnya ada benda-benda penting milikku. Bahkan kartu pelajarku ada di dalamnya. Aku tidak mungkin tidak kembali kemari. Aku harus memeriksa hal yang penting. Aku kembali begitu keperluanku usai.”

“Baiklah. Aku mengerti.”

Aku berlari keluar dari rumah itu. Aku harus segera menemui harabeoji. Oh Tuhan, semoga ia baik-baik saja.

**********

(Normal POV)

Namja itu membuka tas yang ada di depannya. Dia melihat dompet gadis itu. Ya, memang benar kartu pelajarnya ada dalam dompet itu. Tiba-tiba dia tersenyum.

“Yeoja pabo. Jeongmal pabo.”

**********

(Hyun Young POV)

Aku lelah. Syukur sekali haraboeji sudah sadar hari ini. Semoga Tuhan membantunya untuk cepat keluar dari rumah sakit. Ah, aku senang sekali. Tapi aku harus kembali ke rumah namja itu. Untung saja hari ini aku diliburkan dari pekerjaanku. Penjual mie itu ingin liburan sehingga ia menyuruhku libur juga karena tokohnya juga akan tutup. Ya sudahlah, lebih baik aku kembali.

Aku berjalan menuju rumahnya tepat ketika itu aku melihatnya memukuli kawanan namja yang semalam menggangguku.

“Mian hyung. Kami berjanji tidak akan melakukannya lagi.” Katanya

Bug.. Dia menonjok pipi namja gila itu dengan keras hingga darah segar keluar dari mulutnya. Tidak hanya satu, tapi dia memukuli kelima namja itu hinga semuanya babak belur. Wajahnya sangat menyeramkan. Sungguh berbeda dengan ahjusshi yang kukenal. Aneh. Apa dia punya dua kepribadian?

Kemudian kulihat dia mengambil sebatang kayu. Kurasa aku tidak boleh diam saja.

“Hentikan!” kataku.

Dia menjatuhkan kayunya dan memandang kepadaku.

“Kau gila? Mereka manusia! Kamu tidak boleh memperlakukan manusia seperti itu.”

Tiba-tiba kelima namja itu berlutut di hadapanku.

“Noona, maafkan kesalahan kami semalam. Kami berjanji tidak akan mengulanginya. Bukan hanya kepadamu, tapi kepada siapapun.”

“Mwo? Oh, lupakanlah kejadian itu. Kalian pulanglah. Dan bersihkan luka kalian.”

“Tapi, kami.. Hyung…” mereka sepertinya masih takut pada ahjusshi.

“Hyungmu biar aku yang mengurus. Kalian pulanglah.”

Mereka berlari. Persis seperti semalam. Aku tersenyum.

“Ya! Apa maksudmu menyuruh mereka pulang?”

“Kamu bukan manusia! Dasar namja jahat!”

“Lupakan. Kamu mau membayar semuanya kan?”

“Tapi saat ini juga aku tidak mempunyai uang.”

“Sudahlah. Aku tidak butuh uangmu. Kamu jadi pembantuku saja.”

“Morago? Pembantu?”

“Ne. Kamu rapikan rumahku. Siapkan makananku. Hanya itu. Mudah bukan?”

“Kurasa kamu memang gila! Aku tidak mau!”

“Oh, ternyata benar kamu adalah yeoja yang tidak bisa menepati janji.”

“Bukan itu. Tapi…”

“Satu minggu. Dan kuanggap semuanya lunas.”

Aku sebenarnya mau menolak tapi kupikir tidak ada salahnya juga. Lagipula aku harus menepati janjiku.

“Tapi pagi hari aku harus sekolah hingga siang hari. Kemudian menjaga harabeoji hingga sore hari. Lalu bekerja hingga malam hari.”

“Kesibukanmu bukan urusanku. Kamu bisa datang pagi sekali untuk menyiapkan sarapan pagiku. Lalu malam harinya kamu merapikan rumahku. Atau…”

“Atau apa?”

“Kamu tinggal disini. Ya. Sepertinya lebih baik kamu tinggal disini.”

“Ani. Aku tidak mau.”

“Terserahmulah. Lagipula hanya seminggu. Apa sulitnya? Aku tidak akan menjamahmu! Kamu tidak perlu khawatir.”

Apa benar tindakanku jika menyetujuinya? Tinggal bersama orang yang baru saja kukenal sehari. Bahkan aku tidak tahu perangainya. Eotteoke?

“Baik. Aku setuju.”

Kurasa aku benar-benar sudah gila.

**********

(Normal POV)

Yeoja itu tengah menyapu di dalam rumah ketika dala suara teriakan dari luar rumah.

“Choi Minho! Keluar!”

**********

(Hyun Young POV)

Aku pulang lebih awal. Lagi-lagi bosku mengizinkan aku libur hari ini. Jadi, sepulang mengurus harabeoji aku bisa langsung pulang. Aku bisa memasak makan malam untuk ahjusshi. Ya, bahkan setelah tiga hari tinggal bersamanya aku masih belum tahu namanya. Kami pun jarang sekali ngobrol. Saat berangkat pagi, dia masih tertidur di kamarnya. Saat aku pulang, dia sudah tidur. Ya, sedikit sekali waktu kami untuk bicara. Tapi kemarin dia menungguiku di pintu, menanyai kenapa aku pulang terlambat. Bahkan dia sudah tahu jadwal pulangku. Lebih dari itu dia menanyai keadaan harabeoji. Aku sungguh tersentuh.

“Choi Minho! Keluar!” teriaknya lagi untuk kedua kali.

Aku penasaran. Aku berlari keluar. Omo, ada namja besar dengan wajah super seram bahkan lebih jelek dari Giant di film Doraemon.

“Waeyo?” tanyaku.

“Aigo, neomu yeppeo. Siapa kamu?”

Dia mencolek daguku. SUNG GUH KU RANG A JAR!

”Berhenti mengganggunya, besar!”

Ahjusshi sudah pulang dan berdiri di depan gerbang.

“Choi Minho! Kamu pulang akhirnya. Baguslah. Aku ingin membalas perbuatanmu memukul dongsaengku!”

“Dongsaengmu yang lebih dulu memukul dongsaengku!”

Ahjusshi itu bernama Choi Minho rupanya? Ah lupakan. Tidak penting siapa namanya. Tapi saat ini, wajahnya kembali terlihat garang. Aku heran melihat perubahan wajahnya itu. Benar-benar cepat.

Dia membanting tas yang dikenakannya. Namja besar itu memukul perutnya. Dia mengerang, namun ahjusshi mampu memukulnya tepat di pelipisnya. Memar besar pun tercipta. Tapi pertarungan ini memang tidak seimbang. Ahjusshi tersungkur dan tidak bergerak. Omo, apa dia mati? Aku sungguh khawatir. Parahnya namja besar itu menghampiriku.

“Kau! Berpacaranlah denganku. Aku menyukaimu.” katanya padaku.

Apa? Berpacaran katanya? Aku lebih menganggapnya karung yang bergerak. Dia sama sekali tidak menarik. Aku tidak mau! Menyentuhnya saja aku tidak ikhlas, apalagi berpacaran dengannya.

“Baik. Kamu boleh menolakku. Tapi sebagai gantinya, kamu harus menciumku.”

Mwo? Mencium katak sepuluh ribu kali lebih baik dibanding menciumnya. Aigo, apa yang harus kulakukan? Dia semakin mendekatiku. Tangannya mencengkram bahuku. Wajahnya yang besar semakin mendekati wajahku. Andwae! Ini tidak boleh terjadi. Somebody help me!

Aku memejamkan mataku karena takut. Tapi tiba-tiba aku mendengar suara benturan keras dan ketika kubuka mataku, dia sudah terjatuh. Ahjusshi ternyata masih hidup, dan dia memukul kepala namja besar dengan kayu. Akhirnya dia berhasil dilumpuhkan.

Ahjusshi kembali terkulai lemas dan terjatuh. Aku berlari menghampirinya. Wajahnya babak belur sekali. Darahnya mengucur banyak. Aku sungguh khawatir.

“Ya! Ahjusshi. Kamu tidak apa-apa?”

“Kamu buta? Aku mungkin mati sebentar lagi.”

Disaat seperti ini dia masih bisa bercanda denganku. Aku cepat merogoh sakunya. Aku mencari ponselnya. Aku harus meminta bantuan. Secepatnya. Dapat! Aku menemukan ponselnya. Tapi, ketika akan kupakai, tangan lemah ahjusshi menariknya.

“Lupakan. Mungkin sudah tidak sempat lagi.”

“Ya! Jangan bicara begitu.”

Dia meringis namun memaksakan diri untuk duduk.

“Maafkan aku. Mengganggumu sejak pertama bertemu. Bahkan hingga saat terakhir aku belum bisa memberikan penampilan terbaikku. Malah musuhku mengganggumu. Mian. Jeongmal mianhae, Hyun Young.”

Deg.. Dia memanggil namaku. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin dia tahu namaku?

Tiba-tiba dia kembali meringis dan terjatuh ke lantai.

“Ya! Ahjusshi. Bertahanlah.”

Dia kembali memaksa tubuhnya untuk duduk. Aku merampas ponselnya. Aku menelepon orang yang ada di kontak teratas. Entah siapa namanya. Begitu terangkat,

Yeoboseyo..’

‘Cepat datang kerumah’

‘Waeyo hyung?’

‘Ppalli!’

‘Ne hyung,’

Aku menutup ponselnya. Aku sungguh panik. Bagaimana kalau ahjusshi mati? Andwae! Dia tidak boleh mati. Aku menoleh ke arahnya kembali, dia kembali terbaring di lantai.

“Minho-a, bertahanlah. Sedikit lagi. Mana kegaranganmu selama ini?” entah kenapa aku berani memanggil namanya.

Dia membuka matanya perlahan, tersenyum, kemudian kembali mencoba berdiri. Dengan mata yang tidak mampu membuka seluruhnya, dia memandangiku.

“Sekali lagi..” katanya.

“Apa?”

“Panggil namaku.”

“Minho-a, kau jang….”

Aku tidak mampu bicara, ahjusshi menempelkan bibirnya pada bibirku. Dia menciumku! Omo, ini ciuman pertamaku dan rasanya seperti darah! Aigo, apa yang harus kulakukan?

Disaat aku terdiam, Minho melepaskan bibirnya dan terjatuh kembali. Kali ini tidak sama sekali tidak bergerak lagi. Aku menggoncangkan tubuhnya pun tidak ada respon. Aku menangis di sebelahnya. Menangis hingga namja yang kutelepon datang.

“Noona, hyung kenapa?”

“Tolong dia. Ppalli!”

Namja itu menggotong dengan cepat ke mobilnya, untunglah dia berhasil menyetop sebuah mobil sebelum masuk menjemput kami. Ternyata di dalam mobil juga ada keempat namja lainnya. Aku hanya menangis. Melihat ahjusshi berbaring di pangkuanku.

“Tenanglah, noona.” kata namja itu.

 

Taemin, begitu nama namja yang menjemput kami. Dia banyak bercerita dengan Minho padaku. Dia selalu menuruti Minho karena Minho adalah kakak yang selalu menolongnya di semua keadaan tanpa minta balasan. Minho juga selalu membantu biaya sekolahnya-karena Taemin tidak punya orangtua lagi begitu juga dengan keempat namja lainnya. Minho bekerja keras sepanjang hari untuk mereka, karena itulah mereka menurutinya dan karena itu pula Minho memukuli mereka ketika mereka memalak aku. Minho juga hidup sebatang kara, karena itulah perangainya juga buruk, bagaimanapun dia besar tanpa perhatian orang tua.

**********

(Normal POV)

“Noona, pulanglah. Jangan pernah kembali kemari. Jangan pula temui kami.”

“Waeyo?”

“Ini akan membahayakanmu, noona. Kamu tidak cocok berada di komunitas kami.”

“Ani. Aku tidak mau.”

“Ini pesan hyung. Dia yang menyuruhku, noona. Lakukanlah, noona. Kami hanya ingin melindungimu.”

**********

(Hyun Young POV)

Ya. Aku beraktivitas seperti biasa lagi. Harabeoji sudah sehat. Aku tidak perlu kerja terlalu keras. Aku hanya perlu bersekolah dengan lebih baik. Tapi ada sesuatu yang hilang saat ini. Tidak ada lagi ahjusshi. Ani, Minho maksudku. Aah, aku merindukannya.

Aku berjalan gontai di koridor sekolah ketika aku melihat di papan itu. Papan pengumuman itu yang bertuliskan dengan huruf yang sangat besar, SELAMAT KEPADA MURID TERBAIK TAHUN INI, CHOI MINHO.

Fotonya pun terpampang jelas. Tidak mungkin aku salah orang.

Choi Minho! Dia satu sekolah denganku? Bagaimana bisa aku tidak tahu? Oia, dia selalu melarangku membuka lemari pakaiannya. Mungkin karena ada seragamnya disana. Dia juga selalu berangkat dan pulang lebih akhir. Mungkin dia tidak mau kulihat dengan seragamnya. Tapi mengapa dia jadi murid terbaik? Bukankah dia napeun namja? Tapi? Astaga! Aku terlalu banyak berpikir hingga tidak sadar kalau dia masih hidup! Choi Minho selamat dari kejadian kemarin! Tapi, sebaiknya aku menuruti Taemin untuk tidak mengganggunya. Lupakan saja semuaya.

Ketika aku melamun, aku mendengar suara di belakangku.

**********

(Normal POV)

“Minho oppa, kenapa kamu selalu menolak wanita di sekitarmu?”

“Karena hanya satu yeoja yang kusukai. Hanya satu pula yeoja yang akan kulindungi, meski dengan nyawaku.”

**********

(Hyun Young POV)

Aku menoleh ke belakang.

“Ya! Ahjusshi!”

Dia tersenyum dan menghampiriku.

“Kamu merindukanmu, ahjumma?”

Aku sangat merindukannya. Begitu rindu hingga tidak terasa aku menangis. Dia mengusap air mataku. Dan merangkulku.

“Aku sangat rindu padamu, Hyun Young.”

“Nado, Minho.”

“Harabeoji sehat?”

“Ne. Chankaman, ada pertanyaan yang sangat ingin kutanyakan.”

“Apa?”

“Kamu. Yang mana yang asli? Yang galak dengan kekerasan di setiap langkahmu atau dirimu yang sekarang, lembut dan cerdas? Mengapa kamu punya sisi yang sangat berbeda?”

“Kamu suka yang mana?”

“Ahjusshi! Seriuslah sedikit.”

“Keduanya diriku, Hyung Young.”

**********

 

PS : Gaje banget pasti. Hahaha. Maaf yaa..

Oia, ini udah dimuat di blog aku. Berkunjung yaa J

http://shineeisthereason.wordpress.com/

3 thoughts on “Another Side

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s