Angel Bride part 2

“{Angel Bride} THANK GOD FOR SENDING ME THIS ANGEL”

CHAPTER 2

Author                 : Park Eun Ra

Main Cast            : Park JungSoo a.k.a Leeteuk leader Super junior

Song Hani

Support Cast       : member super junior, dll

Genre                   : Romance

Rate                      : PG-15

Length                 : chapter

Disclaimer          : FF ini 100% berasal dari author, dan ada sedikit tambahan ide dan beberapa saran dari teman.

Annyeong yeorobuen.. ini part 2 angel bride..

Seperti biasa, Habis baca jangan lupa komentnya ya (*kritik dan sarannya sekalian). don’t be a silent reader, please!!!

SELAMAT MEMBACA J

————–

“MINJU SHI, BISAKAH KAU DIAM?? KALAU KAU TAK MAU DIAM MAKA PISAU INI AKAN MEMOTONG LIDAHMU!!!”

Semua tersentak kaget, kata kata itu keluar dari mulut Hani. Dari sudut mataku dapat ku lihat ryewook beringsut kebelakang yesung mencari persembunyian, takut jika tiba tiba hani yang sedang memegang pisau itu mengamuk. Begitu juga dengan eunhyuk yang langsung memeluk donghae. Shindong yang bahkan badannya paling besar terlihat takut dan langsung gemetar. Sedangkan aku sendiri seperti tersambar petir mendengar perkataannya barusan.

Tanpa menghiraukan kami sedikitpun, Hani mendekatkan pisau yang di pegangnya ke leher wanita yang pingsan itu dan dalam hitungan detik, zrooottt… darah segar menyembur dari lobang kecil yang di iriskan Hani dilehernya, secepat kilat hani menancapkan sarang pulpen yang tadi dimintanya.

Untuk seperkian detik kami semua terdiam melihat aksinya.

“uhuk.. uhuk…” tiba tiba wanita yang pingsan itu terbatuk batuk dan sadar.

Pada saat yang bersamaan kami mendengar suara ambulance, dan beberapa petugas membawa tandu datang kemudian langsung menaikkan wanita itu ke tandu.

“terimakasih nona, tindakan anda sangat tepat, seandainya terlambat beberapa menit, dia bisa meninggal” ucap seorang berpakaian putih yang kurasa dokter. Hani tidak menjawab, dia masih mematung sambil memegang pisau yang sedikit berdarah.

“ne,.. “ jawabku mewakilkan hani.

Orang itu segera kembali ke ambulance dan segera pergi. Kami masih belum beranjak dari tempat itu. hani masih diam tak bergerak. Pelan ku ambil pisau ditangannya, ku berikan kepada staff yang tadi membawanya.

“hani-a.. Gwencana??” tanyaku khawatir. Kami masih memperhatikannya. Perlahan ku letakkan ujung jariku di dagunya dan mengangkat wajahnya sehingga sekarang aku dapat melihat matanya.

Aku diam, dia diam, semuanya diam.

“oppa, aku masih bisa.” ucapnya lirih.

Aku mengangguk, mengerti maksudnya. “ne yeobo, kau masih bisa.” jawabku lembut.

Kulihat matanya memerah dan mulai berkaca kaca, saat airmata itu mulai keluar buru buru Hani menghapusnya. Aku tahu dia tidak ingin orang lain melihatnya menangis. Ku genggam tangan Hani erat, seakan memberikan kekuatan agar dia bisa bertahan mengingat saat saat yang sangat menyiksa di hidupnya. Ku usap rambutnya dengan tanganku satu lagi, kemudian ku hapus airmatanya.

“kajja!” ucapku dan membantunya berdiri.

“oppa, aku mau ke kamar mandi dulu, aku mau membersihkan darah yang menempel di tanganku.” Katanya

“aku temani.” balasku cepat.

“andweee, aku sendirian saja.. oppa lanjutkan saja latihannya.” tanpa menunggu jawaban dariku, Hani langsung berlari meuju kamar mandi.

Aku paham, dia pasti sedang ingin sendirian.

Saat sedang di ruang latihan member menatapku dengan pandangan bertanya tanya.

“yaaa, kenapa menatapku seperti itu ha??” tanyaku sedikit tertawa, untuk mencairkan suasana. Kurasa mereka masih shock dengan kejadian tadi.

“hyung, Hani DAEBAK. tapi dari mana dia belajar hal itu??” tanya donghae kagum.

“ne, dia harus mempunyai keahlian khusus, kalau tidak hati hati bisa jadi dia membunuh staff tadi.” tambah eunhyuk.

“ne hyung. Dan kau tahu, aku sangat ngeri melihat hani berteriak marah tadi sambil menggenggam pisau, tatapannya jauh lebih menakutkan daripada tatapan Xaina saat marah padaku.” ucap kyuhyun menambahkan sambil mengingat ngingat tatapan kekasihnya itu kalau sedang bertengkar.

PLETAK, kali ini heechul menjitak jidat Kyuhyun.

“ya, jangan kau samakan ratu iblismu itu dengan Queen of Angel!!” sahutnya ganas.

Aku hanya tersenyum melihat kelakuan mereka.

“tapi hyung, kenapa kau hanya menggenggam tangannya?? Seharusnya kau itu segera memeluknya, mencium keningnya, kalau perlu langsung mencium bibirnya.” tukas donghae sambil berlutut seolah olah sedang melamar pacarnya. tapi anehnya kali ini semua member mengangguk setuju, tidak seperti biasanya yang akan langsung kesal dan merasa mual melihat donghae tiba tiba puitis dan mulai tebar pesona.

“hmmmm.. benar juga ya.. ?!” gumamku sambil menopang dagu dan mengangguk- ngangguk dengan tampang bodoh.

“hyung, kau meledekku!!” protes donghae kesal.

“tapi hyung, perasaan selama ini kuperhatikan aku tidak pernah melihatmu mencium hani.” ceplos shindong. “jangankan mencium, melihatmu memeluknya saja aku tidak pernah.” lanjutnya. Semua member langsung mengangguk setuju dan mengatakan hal yang sama.

“iya hyung aku juga tidak pernah.” tambah donghae lagi dan berdiri disampingku.

Aku tertawa melihatnya, kemudian kuletakkan tanganku di pundaknya sambil berkata pelan. “donghae-yaa.. kami tidak sepertimu dan heyrin. kami tidak suka mengumbar kemesraan di depan orang banyak.”

“waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….yuhuuuuuuuuuuu.. suiiittt suiiittttt …..” Tiba tiba semua member berteriak dan bertepuk tangan.  Eunhyuk langsung bersiul keras. Seketika ruangan langsung berisik.

Heechul menepuk pundakku kemudian memelukku dari samping. Sambil bergaya aegyo dia berkata, “oppa, ke kamar yuuukk.” yang langsung di sambut tawa dari member lainnya..

“aisshh, kenapa malah jadi seperti ini!!” umpatku sambil mengacak rambutku kesal, mungkin lebih tepatnya malu. Bisa kurasakan wajhku memanas.

“hyuung, wajahmu meraah”. Goda Siwon dan disambut gelak tawa dari semuanya.

Daripada aku jadi bahan bulan bulanan mereka, kuputuskan keluar dari ruangan latihan. Sesaat aku hanya berdiri di samping pintu sambil senyum senyum sendiri. Tapi detik selanjutnya aku sadar bahwa hani masih belum kembali dari kamar mandi. Kuputuskan untuk menyusulnya.

Sedikit tergesa gesa kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Langkahku terhenti saat menyadari ada sosok tubuh yang sangat ku kenal sedang berdiri di balkon. Kuperhatikan dia dari belakang. Awalnnya aku ingin langsung menghampirinya, tapi saat kulihat mesin penjual minuman kuurungkan niatku. Aku rasa dia pasti masih shock dengan peristiwa tadi. Ku beli 2 minuman kaleng. Setelah itu baru aku mendekatinya.

“kenapa berdiri sendirian?” tanyaku saat sudah berada tepat di belakangnya.

“aah, oppa.” Ucap Hani. sepertinya sedikit kaget. Kurasa hani tidak menyadari kedatanganku. “aniyo.. hanya ingin menghirup udara segar. Didalam pengap.” jawabnya singkat.

“ini” kataku sambil menyodorkan satu minuman kaleng padanya.

“gomapta.” ucapnya sambil menerima minuman itu, dan langsung membukanya, kemudian meneguknya beberapa tegukan. “aaaahh, masitgettaaa..” desahnya kemudian membersihkan minuman yang sedikit tersisa di sekitar mulutnya.

Aku terkekeh melihat tingkahnya dan langsung mengacak rambutnya. Dia tersenyum manis hingga nampak jelas eyesmilenya.

“ternyata ilmumu masih melekat kuat di otakmu.” kataku. Sejenak dia terdiam. Tapi aku yakin dia mengerti apa yang ku maksud.

“ne oppa. Aku juga tidak tau kenapa, tiba tiba naluri untuk menyelamatkan nyawa seseorang itu begitu kuat. Aku hanya mengikuti kata hatiku, karena hati itu tidak pernah salah, ne oppa??”

“ne…” jawabku. “sekarang kau sudah tenang?”

Hani mengangguk. Kemudian ku genggam tangannya. Dia membalas genggamanku.

Kutatap matanya. Entah berapa lama kami hanya saling menatap tanpa berkata apa apa. Membiarkan hati kami bicara. Merasakan kehangatan yang mengalir dari genggaman tangannya dan merasakan hembusan angin yang bertiup.

“kajja, ke ruangan latihan lagi, member pasti sedang mencariku.” Akhirnya kutarik tangannya dan berjalan bergandengan di lorong.

“oppa..” panggilnya.

“hmm..” gumamku.

“aku pulang ya, oppa teruslah latihan.”

“kau pulang sendirian, gwencana?” tanyaku.

“ne, gwencana..” jawab Hani meyakinkanku. “maukan oppa tolong mengambilkan barang barangku didalam?? Aku malu bertemu oppadeul, karena mereka pasti berfikir aku ini monster.” Ucap hani saat kami sampai di depan pintu ruangan latihan. Hani menunduk, pipinya memerah.

aku berpikir sebentar, apa maksudnya barusan?? Aaa, pasti gara gara dia menodongkan pisau tadi.

“gwencana hani-a.. mereka tidak mempermasalahkan itu kok. Masuklah.. lagian kau harus berpamitan juga dengan mereka kan?!” Ucapku berusaha membujuknya.

Awalnya dia diam saja, mungkin sedang berfikir. Kemudian diapun mengangguk dan dengan tangan yang masih bergandengan kamipun masuk ke ruang latihan.

“eng ing eng.. tararararaparappp.. pengantin baru memasuki aula..” teriak eunyuk yang menyadari kedatangan kami. Semuanya langsung bertepuk tangan. Berisik !!!!

Kulirik hani disampingku, dia salah tingkah dan seperti berusaha menyembunyikan tubuhnya dibelakang tubuhku.

Untunglah ada heechul sebagai penyelamat kami yang dengan ganas langsung berteriak “Yaa!!! kalian cepat latihan, kalau tidak ku jitak kepala kalian masing masing.!!” Ancam Heechul sambil memasang wajah evilnya.

Saat semua member sudah berpaling, heechul buru buru tersenyum manis kepada ku dan Hani. “hani-a.. tenanglah, oppa akan menjagamu dari mereka, mereka tak akan berani menggodamu lagi.” bisik heechul, dan kulihat hani tersenyum manis memperlihatkan eyesmilenya..

“aaaaa, kyoptaaaa…” ucap heechul gemas sambil mengacak rambut Hani.

“heechul-na.. gomapta.” bisikku lirih.

“ne.. Cheonmaneyo.” jawabnya sambil berlalu dari hadapan kami dan kembali bergabung dengan yang lain untuk latihan. Mungkin kalian heran kenapa heechul begitu melindungi dan sayang pada Hani, bahkan Heechul tak pernah menjahili hani seperti menjahili yang lainnya. Itulah Heechul. Hanya dia yang tau kondisi Hani.

Kubantu Hani membereskan barang barang yang tadi dia bawa. Setelah semuanya beres, diapun bersiap siap pulang.

“oppadeul, aku permisi dulu.. Annyong-hi gyeseyo.” ucapnya seraya membungkuk kecil.

“nee, hani-aaa.. Annyeong-hi gaseyo.” jawab mereka serempak sambil melambaikan tangan.

“aa, hani-aa, gomapta untuk makan siangnya.. yang sering ya.” canda sungmin sambil tertawa kecil memperlihatkan tampang manisnya.

“ne hani-aa, gomaptaaa..”ucap mereka serempak.

“ne oppa, Cheonmaneyo.” jawabnya sambil membungkuk sedikit.

“hati hati dijalan Hani.” sahut ryewook sebelum hani keluar dari ruangan.

“ne, wookie oppa.” balasnya, kemudian ku antar dia keluar.

“oppa, tidak usah diantar. Kembalilah kedalam. Oppa harus latihan, sebentar lagi kan comeback stage, jadi oppa harus tampil bagus.” ucapnya menyemangati.

“hmmm.. tidak apa apa tidak kuantar?” tanyaku.

“ne.. gwencana. Sekarang oppa kembalilah kedalam, aku bisa pulang sendiri.” katanya sambil berusaha mndorongku.

“ne.. hati hati dijalan ya, sampai di rumah langsung kabari aku, araso??”

“ne, arasoo..”

Kuacak rambutnya, kemudian dia tersenyum simpul. Kulangkahkan kaki kembali menuju ruang latihan.

Baru beberapa langkah tiba tiba terdengar teriakan membahana sepanjang lorong,

“OPPA HWAITING !!” aku langsung membalikkan badanku dan melihat dia sedang mengacungkan tangannya menyemangatiku.

Tanpa mempedulikan kehadiran orang orang yang mulai mengintip karena mendengar teriakan hani kubalas teriakannya dengan sura tak kalah keras, “HWAITING !!” kemudian kami berduapun tertawa. Sejenak kemudian kami langsung membalikkan badan dan melanjutkan langkah masing masing.

jogeum duh gaggai sarang nuhwa nehga jigeum idehlo hangsang nuhleul jikyuhjoolgeh
ddehloneun jichyuhsuh apeugo himdeulmyun geujuh nun gidehmyun dweh
youngwonhi HAPPY TOGETHER

 

*(a little bit closer, love.. i’ll always protect you so we’re like how we are now
when you’re feeling exhausted and hurt and pained.. all you have to do is lean on me
always, HAPPY TOGETHER)

-Happy together-

***

*author POV*

Hani melangkah pelan keluar dari gedung SM dengan wajah berseri seri… dia terlihat sangat bahagia. Sambil berjalan terdengar dari mulutnya dia bersenandung kecil. Tak jelas memang dia sedang menyanyikan lagu apa. (~.~”)

Tik..tik.. tik.. teeeeessssssss…..

Tiba tiba hujan turun begitu deras, Hani segera berlari mencari tempat untuk berteduh, dia sudah cukup jauh dari gedung SM, jadi kalau balik juga nanggung. Akhirnya dia berlari ke arah jalan dan mencari halte bus terdekat. (emang di dekat gedung SM ada halte bus?? Mianhe, author sok tau.. alias ngarang bebas *bowing)

“aaahh, kenapa tiba tiba hujan, aku kan tidak bawa payung.” bisik hani pelan. Akhirnya dia menemukan tempat untuk berteduh. “klo begini aku naik bus saja, lagian sudah di halte bus ini.” gumamnya.

Tidak terlalu lama hani menunggu, bus pun datang. Segera dia naik dan mencari tempat duduk. “musim semi memang tidak bisa ditebak, bisa saja tadi cerah trus tiba tiba hujan.” lirihnya. “mudah mudahan sesampai diapartemen hujan sudah mulai reda.” harapnya.

Hani duduk di kursi dekat jendela. dipandanginya air hujan yang terus menitik.

TAARRR !!!!

Suara petir itu begitu tiba tiba dan sangat keras. Hani tersentak kaget. Dan entah kenapa disaat bersamaan dia merasakan perutnya sakit.

“aaaakkhhh, perutkuuu…” rintih Hani. diremasnya perutnya mencoba untuk menghilangkan rasa sakit yang menyerang. Tapi tetap saja apapun yang dilakukan Hani tidak membuat perutnya merasa nyaman. Keringat dingin sudah mulai bercucuran di keningnya.

Saat bus sampai dihalte dekat apartemennya, hani berusaha dengan sekuat tenaga untuk berjalan. Hani terus berjalan dibawah hujan mencoba terus bertahan sambil menahan sakit yang dia rasakan. Dia sudah basah kuyup.

“aaghh, perutku..” desisnya kesakitan. Diliriknya kedalam gedung, disana ada satpam dan resepsionis. “aaghhh… aku harus kuat, aku tidak ingin terlihat lemah.” katanya di depan pintu gedung apartemennya sambil terus meremas remas perutnya yang kesakitan.

“nona, anda pucat sekali, perlu aku bantu?” tanya satpam saat hani masuk ke dalam gedung.

“tidak usah ajhusi.. aku tidak apa apa kok, hanya sedikit kehujanan, aku lupa bawa payung.” Hani mencoba berbohong. Untunglah satpam itu percaya. Hani buru buru masuk ke dalam lift dan menekan no 13.

“aaaaaaaaakkhhhh….” Hani sedikit berteriak menahan sakit diperutnya. “ya tuhan, aku sudah tidak kuat.” desisnya sambil menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan rasa sakit.

Waktu terasa berjalan begitu lambat, Hani masih kesakitan di dalam lift..

TENG !!!

Hani hampir saja tersungkur saat keluar dari lift. Matanya mulai berkunang kunang, wajahnya pucat pasi, sedangkan perutnya bertambah sakit. Sekuat tenaga dia mencoba menggapai pintu apartemennya. cepat disentuhkannya jarinya ke tempat pendeteksi sidik jari. Untunglah pintunya otomatis jadi dia tidak perlu mencari cari kunci. Segera dia masuk ke dalam dan langsung menutup pintu. Saat baru beberapa langkah dari pintu hani akhirnya terjatuh dilantai, kakinya sudah tidak kuat untuk berdiri, perutnya sakit bukan main.

“oppaaaaaaa…”teriaknya. Tapi tidak ada yang mendengar. Dia hanya sendirian di sini. Dengan tenaga yang tersisa Hani mencoba mengambil handphonenya di dalam tas. Saat sudah ada ditangannya, langsung di tekannya no speed dial 1 ‘my angel’.

“Lo, kenapa tidak terdengar apa apa??” Bisik hani. “aakkhhhh, Handphonenya mati!!” dipandanginya Hp nya yg mati.

Hani berusaha bergerak, tapi setiap kali dia bergerak semakin sakit pula yang ia rasakan. Sekarang tidak hanya perut, bahkan seluruh tubuhnya ikut terasa sakit. Bahkan saat dia berteriak pun dia merasakan kesakitan.

Hani menggigit bibirnya menahan sakit. “ya tuhan, aku kenapa??” kali ini Hani mulai menangis. Wajah putihnya semakin pucat. Bibirnya seakan sudah tidak berwarna.

Hani merasakan celana dalamnya sedikit basah. Perlahan di ulurkannya tangan nya ke bagian rok belakang. Kemudian dilihatnya kembali telapak tangannya.

 “Darah.”

***

Sementara itu di gedung SM, semua member super junior masih berlatih dengan keras. Mereka tampak sangat serius mempersiapkan comeback stage. Tanpa mereka sadari diluar jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, diluarpun sudah gelap.

“huaaah, aku capek, sudah tidak kuat.” rungut Kyuhyun dan langsung berbaring di lantai. Bahunya naik turun karena ngos ngosan.

Shindong juga ikut berbaring dan diikuti member lainnya. Sejenak mereka menangkan tubuh mereka yang lelah dan berkeringat. Ryewook berjalan keluar ruangan. Taklama kemudian dia kembali membawa beberapa minuman kaleng. “diluar hujan deras.” ucapnya sambil membagikan minuman tersebut.

Leeteuk yang dari tadi diam rebahan di lantai sambil menutup mata langsung terbangun. Dia teringat sesuatu. Buru buru dia menghampiri tasnya disudut ruangan, dan mencari cari sesuatu, tapi tidak kunjung dia temukan.

“cari apa hyung?” tanya siwon yang melihat Leeteuk sedikit gelisah.

“hp ku, tadi aku meletakkannya di tas, tp tidak ketemu.” jawabnya sambil terus mengacak acak isi tasnya. “aaaahh, akhirnya ketemu.” Ucap Leeteuk dan memeriksa isi Handphonenya. “kenapa dia tidak mengabariku??” gumam leeteuk lagi pelan, tapi cukup keras untuk didengar siwon yang masih berdiri disampingnya.

“kenapa hyung??” tanya siwon kemudian.

“aniyo.” jawab Leeteuk singkat tanpa menoleh kearah siwon sedikitpun. Sekali lagi dibukanya daftar panggilan, tidak ada panggilan dari Hani. Dibukanya inbox juga tidak ada sms dari Hani. Tiba tiba leeteuk merasa gelisah. Buru buru di tekannya nomor hani.

“nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah bebera..” KLIK.

Leeteuk segera menutup panggilannya.

“Aiissshh, kenapa handphonenya mati.” Gerutu Leeteuk kesal. Kemudian kembali menekan beberapa angka di handphonenya..

“tuuuttt… tuuuutt… tuuutt…” setelah menunggu lama, tetap tidak ada jawaban.

“yaa, sampai telfon rumah juga tidak diangkat.” kali ini Leeteuk tampak mulai cemas.

“hyung, gwencana??” tanya siwon lagi yang memang dari tadi masih memperhatikan Leeteuk.

“aniyo.. hani belum memberi kabar sampai sekarang apakah dia sudah sampai atau belum. Ku telfon ke handphonenya tidak aktif, ku telfon ke apartemennya juga tidak di angkat.” jelas Leeteuk.

Siwon dapat melihat kekhawatiran terpancar di wajah leader nya itu.

“mungkin hani sudah tidur karena letih sehabis dari sini, jadi dia lupa memberi tahumu.” Ucap siwon mencoba menenangkan.

Leeteuk mengangguk mencoba meyakinkan dirinya dengan yang perkataan siwon. Tapi tetap saja perasaannya tak mau sependapat dengannya. Dia masih khawatir.

“siwon-ah, aku mandi dulu ya.” ucap Leeteuk dan langsung mengambil handuk, kemudian terburu buru kekamar mandi. Tapi selang beberapa menit kemudian, mungkin hanya sekitar 2 menit, Leeteuk sudah kembali dengan pakaian rapi.

“hyung, tidak jadi mandi?” tanya siwon heran. Dia saja masih belum berajak dari posisinya, sedangkan Leeteuk sudah kembali dengan pakaian rapi.

“sudah, tadi aku buru buru. Perasaanku tidak enak, aku harus ke apartemen hani sekarang.” Tukas Leeteuk sambil membereskan barang barangnya dan memasukkan kedalam tas.

Siwon dapat mencium wangi khas Leeteuk. Diapun mengangguk pelan.

“aku duluan, annyeooong.” ucap Leeteuk kepada semua member.

“hyung, aku nebeng.” sambar eunhyuk sebelum Leeteuk keluar dari ruangan.

“hyuki-ah, aku mau k apartemen hani dulu, baru pulang ke dorm, kau pulang bersama yang lain saja ya” jawab Leeteuk buru buru.

“ne.. Algessemnida” jawab eunhyuk lemas. Padahal tadi dia bermaksud ingin menikmati mobil baru Leeteuk. Ya mobil itu baru dibelinya beberapa hari lalu.

“hati hati hyung, diluar hujan deras.” pesan siwon.

“ne.. annyeooong” ucapnya dan segera keluar dari ruangan meuju tempat parkir.

Segera dia berlari menuju mobilnya. Begitu duduk di bangku driver buru buru dinyalakan mesin mobil. Dengan tergesa gesa langsung dijalankannya mobil keluar dari tempat parkir.

Sepanjang jalan Leeteuk tidak bisa tenang, hatinya benar benar gelisah. Dia masih memikirkan istrinya. Tidak biasanya istrinya seperti ini. Tidak mengabarinya. Biasanya justru istrinya yang cerewet menanyakan keadannya. Tapi hari ini, dia bahkan tidak mengirim sms sekalipun.  Diluar hujan masih turun dengan sangat deras.

Leeteuk masih sibuk dengan fikirannya, saat sebuah truk melaju kencang dari arah berlawanan, Leeteuk tidak melihatnya dan langsung berbelok ke arah apartemen, dan…

Ciiiiiiiiiiiittt….

“YAAA, AHJUSSI, KAU TIDAK BISA HATI HATI YA!!??” teriak Leeteuk dari dalam mobil. Tapi percuma saja, truk itu telah berlalu meninggalkannya..

Fiuuuwww.. Leeteuk menghembuskan nafas lega. untunglah dia sempat menginjak rem mobilnya saat menyadari ada truk yang melaju kencang didepannya. Kalau tidak?? Waahh,.. tiba tiba saja jantuknya berdetak kencang. Apa yang dia alami sekarang persis dengan yang pernah terjadi satu tahun lalu. dia segera menggeleng gelengkan kepalanya, dan memerintahkan dirinya untuk berhenti membayangkan hal yang tidak tidak. Buru buru dia masuk ke parkiran apartemen.

Dengan tergesa gesa dia lari menuju lift dan langsung masuk kemudian menekan no 13.

“aiiishh, kenapa liftnya lama sekali.” gerutu Leeteuk yang sudah tidak sabar. Begitu pintu lift terbuka, leeteuk langsung berlari ke arah pintu apartemen hani. Di letakkannya jempolnya di mesin sidik jari, dan pintu pun terbuka.

“gelap.” gumamnya pelan, sambil meraba raba dinding dan mencari tombol untuk menyalakan lampu.

“Haniii.. Hani-aaaa..” teriaknya sambil masih meraba raba dinding. Tak ada jawaban.

Akhirnya tangannya menyentuh benda yang dia cari, dan langsung menekannya.

“SONG HANI!!” pekik Leeteuk terkejut begitu lampu menyala. Dilihatnya tubuh Hani tergeletak tak jauh dari pintu tempat dia berdiri. Leeteuk bergegas mendekat, diangkatnya tubuh Hani sehingga posisi Hani sekarang setengah duduk.

“hani-a, kau kenapa??” tanya Leeteuk melihat Hani diantara sadar dan tidak sadar.

“oppa..” desis hani pelan, tapi cukup terdengar oleh Leeteuk.

Leeteuk melihat bagian bawah dress putih yang dipakai hani berwarna merah, merah darah.

“Yaa.. Song Hani, kau keguguran?”

Entah dapat kekuatan dari mana, hani menjitak kepala suaminya itu.

“babo!! bagaimana aku bisa keguguran, kalau berhubungan saja aku belum pernah. Itu tamu bulanan ku!” ketus Hani kesal. Tapi detik berikutnya rasa sakit yang amat sangat kembali menyerang tubuhnya. Hani ingin berteriak tapi dia sudah tidak punya kekuatan.

Leeteuk yang menyadari kalau hani kesakitan segera menggendongnya kekamar. Kemudian membaringkannya ketempat tidur. Kemudian di selimutinya tebal tebal. Leeteuk tidak berani membuka baju hani yang lembab.

Leeteuk segera ke kamar mandi dan mengambil handuk kecil kemudian kembali ke kamar hani. Di letakkannya handuk itu dibawah dress hani yang berdarah, agar darahnya tidak tembus ke kasur.

“oppa, sakiit.. ” desis hani lirih, sambil menggigit bibirnya.

Leeteuk mengenggam tangan hani mencoba menenangkan.

“Hani-a.. apa yang harus aku lakukan?” tanya Leeteuk bingung. Jujur baru kali ini dia menghadapi wanita yang kesakitan luar biasa karena kedatangan tamu bulanan.

Hani tidak menjawab, dia terus mengeluh kesakitan. Genggaman tangannya sangat erat, dan kadang membuat tangan Leeteuk sakit karna saking kerasnya. Leeteuk tidak tahan melihat hani kesakitan seperti itu.

Tanpa melepaskan genggaman tangan hani, Leeteuk langsung mengambil HP dikantong celananya dan menekan salah satu nomor.

“siwon-ah, bisakah kalian semua kesini sekarang? ke apartemen hani.. ajak pacar kalian. Palli..!!” perintah Leeteuk tergesa gesa, sedangkan matanya terus memandangi wajah hani yang kesakitan.

“sudah jangan banyak tanya, cepat kesini, aku butuh bantuan kalian. Palliii.!!” Leeteuk pun langsung memutuskan percakapan.

“oppa..” kali ini hani menggeliat dan berteriak tertahan. Tanpa disadarinya, airmata mengalir membasahi pipinya..

Sungguh, Leeteuk tidak tahan melihat keadaan istrinya yang tersiksa seperti itu. kalau bisa ditukar biarlah dia yang merasa kesakitan, daripada istrinya.

Leeteuk mengelus kening Hani lembut, “hani, aku disini jagi.. aku menemanimu.” ucap Leeteuk pelan mencoba menenangkan. Leeteuk benar benar tidak tau harus berbuat apa.

Hani terus saja mengerang kesakitan, dia memang tidak berteriak, dia hanya terus memanggil manggil suaminya “oppaa..” sedangkan airmata tak berhenti mengalir.

Leeteuk terus berusaha menenangkan hani, mengelus keningnya sambil menggenggam tangannya. Leeteuk sudah mulai panik saat detik berikutnya terdengar suara bel. Leeteuk pun buru buru membukankan pintu.

“yaa!! kenapa lama sekali??” bentaknya sedikit kesal begitu melihat semua dongsaengnya didepan pintu. Belum sempat mereka menjawab, Leeteuk buru buru melanjutkan, “sudahlah, pallii.. semuanya masuk!!”

“hyung wae?? Sepertinya cemas sekali. Hani mana??” tanya donghae begitu mereka semua sudah masuk kedalam ruang tamu.

“hani didalam kamar, dia kesakitan.” jawab Leeteuk cepat.

“yaa, hyung, kau bertindak kasar pada hani?? Harusnya kau itu melakukannya dengan lembut” bisik eunhyuk yang langsung di sambut jitakan keras dari Leeteuk. Sepertinya sangat keras karna eunhyuk tampak meringis kesakitan.

“YA!! LEE HYUK JAE, difikiranmu itu tidak ada yang lain selain yadong haaa..?!” bentak Leeteuk, kali ini terlihat di wajahnya dia benar benar marah.

Siwon yang melihat kemarahan dimata hyungnya itu langsung mengambil alih suara.

“hyung, sebenarnya kenapa? Kenapa kami tiba tiba harus kesini dengan pacar pacar kami. dan hani??Hani kenapa? Kenapa dia bisa kesakitan?” tanya siwon mencoba memahami situasi.

“itu, aku mohon bantuan kalian para yeoja, hani mengeluh kesakitan karena tamu bulanannya, dia bahkan tidak bisa bergerak, dari tadi dia hanya menangis, aku tidak tahan melihatnya. Aku tidak paham masalah ini. Aku mohon bantuan kalian.” jelas Leeteuk dengan nada cemas.

Sebenarnya mereka semua ingin tertawa geli mendengar keterangan Leeteuk, karena awalnya mereka berpikir terjadi suatu yang serius dengan hani. Tapi keinginan itu langsung berganti dengan mimik cemas sekaligus kaget begitu tiba tiba mereka mendengar terikan Hani dari dalam kamar.

Leeteuk segera berlari kedalam kamar, disana Hani tampak semakin kesakitan dan seluruh wajahnya basah oleh keringat bercampur airmata. Bibirnya pucat.

“hani-aa.. aku disini.” bisik Leeteuk sambil menggenggam tangan hani erat.

Leeteuk merasa kesakitan karena genggaman hani semakin kuat. Leeteuk paham kalau itu mengisyaratkan bahwa sakit yang hani rasakan juga semakin bertambah.

“oppa, kenapa bajunya dibiarkan basah??” tanya park heyrin, yoja chingunya donghae.

“aaaa, terus sekarang bagaimana heyrin-ah..?” tanya Leeteuk kalut.

“sekarang ganti dulu bajunya biar dia tidak masuk angin.” jawab heyrin, seraya beranjak menuju pintu.

“camkaman… Bisa kalian bantu aku mengganti bajunya.. aku tidak bisa malakukannya, aku terlalu panik, aku mohon bantu aku, aku tidak tahan melihatnya kesakitan seperti itu.” ucap Leeteuk memelas.

Para yeoja cingu itu sejenak heran, tapi segera mengiyakan, karena mereka kasihan melihat hani kesakitan dan kedinginan seperti itu.

Segera Leeteuk keluar dari kamar, dan menutup pintu.

“oppa, tolong ambilkan kotak obat.” ucap Xaina tak lama kemudian. Dia berdiri di depan pintu kamar yang setengah tertutup. para namja yang sedang duduk di sofa segera menoleh kearahnya.

Leeteuk langsung berdiri dan mencari kotak obat di ruangan santainya. Kemudian diserahkannya kotak itu kepada Xaina yang masih berdiri di depan pintu. Sebelum Xaina masuk buru buru Leeteuk bertanya, “bagaimana keadaan Hani, Xaina-ya?”

“masih belum ada perubahan.” jawab Xaina singkat langsung masuk kekamar dan menutup pintu.

Leeteuk semakin cemas, dia mondar mandir di ruang tamu.

“hyung, cobalah tenang. Duduklah dulu.” ucap sungmin sambil memegang pundak Leeteuk.

“bagaimana aku bisa tenang? Hani didalam sana merintih kesakitan.” ucap Leeteuk dengan mimik cemas. “aku tidak bisa berdiri saja disini, aku sudah tidak tahan, aku harus melihatnya.” Leeteuk langsung masuk ke kamar.

Semua yang ada dikamar langsung menoleh ke arah Leeteuk dan memberi jalan agar Leeteuk bisa mendekati Hani. Leeteuk berjongkok disamping kasur Hani.

“oppa, otokhe?? sakitnya tidak mau hilang. Kami sudah memberinya obat, dan memijit mijit perutnya, tapi tetap saja Hani kesakitan.” Jelas Neul Rin, yeoja chingu Eunhyuk. Dia tampak sedikit cemas.

“apa sebaiknya Hani dibawa ke rumah sakit saja?” tanya Yeon Na (Yeoja cingu Siwon) menyarankan.

“tidak!!” jawab Leeteuk cepat. “kita tidak bisa membawa Hani ke rumah sakit. Justru keadaannya akan bertambah parah.”

Para yeoja cingu itu bingung, kenapa Leeteuk menjawab seperti itu.

“bukannya kalau kita bawa Hani ke rumah sakit dokter bisa menanganinya hyung?” tanya yesung yang tiba tiba sudah berada didalam kamar.

Kamar itu terasa sedikit sesak karena mereka semua berkumpul disana.

“tidak, Hani tidak bisa mendekat ke rumah sakit.” jawab Leeteuk pelan. Matanya masih menatap wajah Hani yang memucat.

“mwegureo?” tanya mereka heran.

Leeteuk diam, seolah olah tidak memperdulikan reaksi mereka.

Dia masih memperhatikan hani lekat lekat. Tubuh Hani memang tidak menggeliat lagi seperti tadi, tapi kedua tangannya mencengkram selimut dan kasur dengan keras. Matanya tertutup tapi airmatanya tak kunjung berhenti. Leeteuk seakan bisa merasakan betapa sakitnya Hani sekarang. Saking sakitnya dia tidak bisa berteriak. Jangankan berteriak, untuk bersuara saja dia tidak sanggup.

“maafkan aku.” desisnya pelan sambil berdiri. Kemudian naik ke tempat tidur dan duduk disamping tubuh Hani kemudian membuka jaketnya yang masih dipakainya.

Semua memperhatikan gerak gerik Leeteuk, penasaran dengan apa yang akan dia lakukan.

“Hyung, apa yang akan kau lakukan?” tanya shindong penasaran.

Leeteuk lagi lagi tidak menjawab.

Tiba tiba saja Leeteuk menindih tubuh Hani yang tertutup selimut, melingkarkan tangannya ditubuh gadis itu dan memeluknya. sekarang setengah tubuh Leeteuk berada diatas tubuh Hani.

Semua yang ada didalam ruangan kaget. Saking kagetnya mereka bahkan tidak sempat berbuat apa apa, hanya mematung melihat apa yang dilakukan Leeteuk.

“maafkan aku, maafkan aku melakukan ini, aku tidak tahan melihatmu kesakitan.” ucap Leeteuk ditelinga hani, sedikit terisak. sepertinya dia sudah menangis. “cengkramlah tubuhku, pukul aku, jambak rambutku, lakukanlah apapun agar rasa sakitmu hilang.”

Semua member dan yeoja terharu melihat kejadian itu. mereka sadar kalau Leeteuk melakukan itu bukan karena nafsu, tapi Leeteuk melakukannya karena berusaha memberikan kenyamanan pada hani. Perlahan mereka pun keluar dan beranjak ke ruang tamu kemudian menutup pintu kamar. Membiarkan Leeteuk tinggal berdua dengan Hani di kamar.

Hani yang sadar kalau Leeteuk memeluk tubuhnya merasa sedikit terkejut tapi tetap tidak membuka matanya. Perlahan diangkatnya tangannya kemudian di lingkarkan ke punggung Leeteuk. Tapi seperkian detik kemudian jari jari hani langsung mencengkram pundak Leeteuk keras dan menariknya kewajahnya. “oppa, Sakit.” bisiknya pelan masih merintih kesakitan.

Leeteuk mulai merasakan pundaknya basah karena airmata Hani. Tak hanya pundak bahkan punggung Leeteuk pun berkali kali dicengkram Hani. Leeteuk merasa sakit, tapi dia diam, membiarkan Hani melakukannya. Dia berpikir paling tidak dengan cara ini dia bisa merasakan sedikit rasa sakit yang Hani rasakan.

“tenanglah yeobo, aku disini, menemanimu. Lakukan apapun yang bisa kau lakukan agar rasa sakit itu hilang.” bisik Leeteuk ditelinga Hani, tanpa melepaskan pelukannya.

Hani terus saja mencengkram pundak Leeteuk sambil menahan sakit. Airmatanya terus mengalir. Leeteuk bisa merasakan tubuh hani gemetar karena sakit, bahunya naik turun karena terisak.

Perlahan tangan Hani pindah kepunggung Leeteuk, tapi kali ini bukan mencakar ataupun mencengkramnya, melainkan membalas pelukan Leeteuk. Tapi tetap saja masih terasa keras olehnya. Leeteuk tidak beranjak dari posisinya, dia terus memeluk Hani sambil sesekali berbisik mencoba menenangkan. Kadang sambil mengusap kepala Hani.

Entah berapa lama itu semua berlangsung. Perlahan Leeteuk merasakan hani mulai tenang. Nafasnya pun sudah mulai teratur, dan isakannya juga sudah mulai berhenti.

Dengan hati hati Leeteuk mengangkat kepalanya sehingga dapat melihat wajah Hani. Dipandanginya wajah Hani yang basah karena keringat dan air mata. Di usapnya wajah itu lembut.

“kau sudah tidur.” bisik Leeteuk pelan, takut membangunkan Hani. Pelan dipindahkannya tangan Hani dari punggungnya, kemudian ditariknya tangannya dari bawah tubuh Hani.

Hani menggeliat kecil, Leeteuk langsung menepuk nepuk tubuh Hani menenangkan. Leeteuk pun merubah posisinya sehingga sekarang ia bebaring disamping Hani. Di miringkannya tubuhnya menghadap hani, dan menopang kepalanya dengan tangannya. Ditatapnya wajah Hani, dibelainya wajah itu lembut.

“tidurlah bidadariku, tidurlah yang nyenyak. Aku disini menjagamu.” Gumam leeteuk pelan, kemudian mengecup kening Hani lembut. leeteuk menatap wajah istrinya itu dalam dalam dan lembut. Dengan matanya ditelusuri wajah hani yang terlihat pucat. Jarinya bergerak merapikan poni Hani yang basah karena keringat. Leeteuk sedikit tersenyum lega melihat Hani yang sedang tertidur pulas.

‘Sepertinya sakitnya sudah hilang.’ Batin leeteuk. Setelah yakin Hani belum akan bangun, Perlahan Leeteuk pun turun dari kasur dan keluar dari kamar tanpa membuat suara.

“kalian masih disini?” tanya Leeteuk yang menyadari semua member masih duduk di ruang tamu. Beberapa yeoja cinghu mereka ada yang sudah tertidur dipangkuan mereka masing masing.

“hyung bagaimana keadaan Hani?” tanya donghae sambil mengucek matanya yang mengantuk.

“entahlah, aku juga tidak tau. Yang penting sekarang hani sudah mulai tenang. Sekarang dia sedang tidur.” Jawab Leeteuk lemas. Kemudian terduduk di bangku sofa yang kosong.

“oppa, minumlah dulu. Ini kubuatkan coklat hangat.” ucap Xaina tiba tiba, sambil menyodorkan segelas minuman kepada Leeteuk.

“gomawo Xaina-ya..” Leeteuk menerima minuman itu, dan meminumnya sedikit. Kemudian dia diam.

Matanya menatap meja di depannya, tapi sebenarnya pandangan itu kosong.

“Hyung, kau baik baik saja?” tanya kyuhyun kemudian.

Leeteuk tidak menjawab.

“oppa, kenapa Hani tidak kita bawa kerumah sakit. Aku takut terjadi apa apa padanya.” ucap Sung Yong (Yeoja chingu ryewook) cemas. Yang lain mengangguk setuju.

“tidak, hani tidak bisa mendekat kerumah sakit.” jawab Leeteuk pelan.

Semua yang ada disana merasa penasaran, apa maksud perkataan Leeteuk.

“iya, aku ingat.” Celetuk Sungmin tiba tiba. “waktu itu Leeteuk hyung pernah meminta aku dan Kyu menjemput hani, karena jalan macet kami ambil jalan pintas melewati rumah sakit, saat sudah dekat dengan rumah sakit tiba tiba hani berteriak ketakutan. Kami segera ngebut ke dorm, dan Leeteuk hyung langsung menenangkannya.” ucap sungmin mengingat peristiwa beberapa minggu lalu.

-FLASHBACK-

3minggu yang lalu.

Saat itu Hani berteriak teriak ketakutan saat mobil mereka melintas didepan rumah sakit. Kyu dan Sangmin cemas dan segera ngebut ke dorm. Sesampai di parkiran apatemen dorm mereka Hani tetap saja berteriak ketakutan. Dia mendekap kedua lututnya erat. Leeteuk yang sudah berdiri diparkiran menunggu kedatangan mereka buru buru membuka pintu belakang dan berusaha menenangkan Hani. Hani terus menunduk dan mempererat dekapannya.

Leeteuk tau hanya dia yang bisa menenangkan Hani. Leeteuk meletakkan kedua telapak tangannya di wajah istrinya. di angkatnya wajah Hani, di tutupnya telinga hani dengan kedua telapak tangannya.

“Hani-aa.. ini aku, leeteuk, leader super junior yang anggotanya 13orang.” Ucap Leeteuk pelan, Tapi cukup keras untuk didengar Hani.

Perlahan Hani membuka matanya. Dilihatnya sosok yang berada didepannya. Iya itu Leeteuk, pikir hani.

Leeteukpun tersenyum padanya. “ini aku yeobo, aku tidak akan menyakitimu”.

-FLASHBACK END-

“maksudmu apa hyung? Apa Hani punya fobia rumah sakit?” kali ini donghae yang bertanya.

Leeteuk menarik nafas dalam, “lebih parah dari itu.” jawabnya yang membuat semuanya semakin penasaran.

“hyung, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Hani tidak bisa mendekat ke rumah sakit?” tanya sungmin.

“dan kenapa juga oppa harus minta maaf saat memeluk Hani? Dan bahkan oppa tidak berani mengganti baju Hani yang jelas jelas Hani adalah istri oppa?” berondong heyrin tak kalah penasaran sekaligus aneh dengan sikap Leeteuk tadi.

Leeteuk diam. Di minumnya coklat hangat yang ada di tangannya. Diteguknya sampai habis. Kemudian diletakkannya gelas itu dimeja.

“aku belum pernah menyentuhnya.” ucap Leeteuk tiba tiba.

Semua mata menatap leeteuk heran, tak mengerti dengan maksud apa yang barusan saja dia katakan.

Leeteuk menghela nafas panjang.

“ya, aku belum pernah menyentuhnya. dia memang istriku, bahkan pernikahan kami sudah hampir memasuki usia 1 tahun tapi aku belum pernah sekalipun menyentuhnya.”

“maksud hyung, hyung belum pernah tidur dengan Hani?” tanya donghae mencoba mencari kejelasan.

“jangankan tidur dengan hani, bahkan tadi itu adalah pelukan pertamaku dengannya semenjak menikah.”jawab Leeteuk sambil kembali menghembuskan nafasnya berat.

Semua yang mendengar kata kata Leeteuk langsung terkejut. Mereka tidak percaya apa yang dikatakan Leeteuk barusan.

“tapi kenapa begitu oppa?? Apa Hani tidak mau melayanimu yang sudah menjadi suaminya?” tanya hee hyo (yeoja chingu hee chul).

“bukan hani yang tidak mau, tapi aku yang terlalu takut menyentuhnya.” jawab Leeteuk yang membuat semuanya semakin tidak jelas.

“hyung, kau impotent?” tanya kyuhyun lugu.

PLETAK, kali justru Xaina, yeoja chingunya sendiri yang menjitak kepalanya.

“rasa cinta dan sayangku terlalu besar padanya.” tukas leeteuk kemudian.

“maksudmu apa hyung?? Aku tidak mengerti.” tanya shindong semakin penasaran dengan perkataan Leeteuk.

“iya hyung, aku juga tidak mengerti. Kau mencintai Hani, sangat mencintainya. Tapi kau bahkan belum pernah menyentuhnya. Apa hani tidak mencitaimu?” tanya donghae meminta kejelasan.

Leeteuk tetap diam. Semua mata tertuju padanya. Para yeoja gelisah.

Ada apa sebenarnya??

Apa maksud Leeteuk??

Michidorog neol wonhago isseoh, yeah
Dan haroorado neo eopshi andweneun neo Oh baby
I hold you in my arms ojik keu saranghae shimjangi ddweneun geol
Nan jomjom somi makhyowa ireodaga jookeseo I want you baby

 

*(I want you like crazy I can’t go a day without you, oh baby
I hold you in my arms My heart still beats for that love
I’m suffocating more and more I think I’ll die like this I want you, baby)

-Sorry sorry answer-

***

-TBC-

Ayo, kenapa?? Kenapa?? Penasaran ga??

Tunggu kelanjutannya ya..

Jangan lupa commentnya, kritik dan saran..

Gomawoo… *bowing

6 thoughts on “Angel Bride part 2

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s