You’re Just Too Nice and I Hate It part 3

It’s me Kei and I’m back again.

And now, Hyori will be back with her original pair.

Hope you’ll like it. Don’t forget to comment n silent readers are welcome ^^

You’re Just Too Nice and I Hate It (part 3)

“Mana?”

“Itu. Yang memakai kemeja biru muda. Yang sedang duduk menghadap kearahku.” Tunjuk Siwon pada seorang laki-laki yang sedang mengobrol dengan seorang perempuan di pojok café sebelah dalam.

**

Hyori mengarahkan pandangannya searah dengan jari telunjuk Siwon yang sedang menunjuk ke sebuah meja yang berada di pojok dalam café.

Terlihat seorang laki-laki yang duduk menghadap ke arah Siwon menunduk karena sedang sibuk dengan ponselnya dan seorang perempuan yang duduk disebelahnya sedang menyodorkan sebuah potongan kecil kue padanya.

Sang perempuan dengan cekatan menyuapi sang laki-laki yang sedang disibukkan dengan ponselnya itu. Yang laki-laki dengan cueknya menyambut setiap potongan kue yang disodorkan oleh sang perempuan dan memakannya dengan lahap. Seperti seorang anak kecil yang sedang sibuk dengan mainan barunya dan disuapi oleh ibunya.

Hyori harus memincingkan matanya untuk mencari tahu kebenaran pernyataan Siwon. Dia kesulitan melihat wajah sang laki-laki karena menunduk. Baru setelah sang laki-laki selesai dengn ponselnya dan sedikit kehausan, dia bisa melihat wajah sang laki-laki dengan jelas. Iya, Siwon benar. Itu adalah Donghae, tunangan Hyori bersama mantan pacarnya, Haejin.

“Jadi itu yang namanya rapat?” Tanya Hyori sebal dan menghela nafasnya kasar. Dia mengambil gelas minumannya dengan kasar dan menghabiskan isinya dengan cepat.

Siwon yang melihat gerak-gerik sahabatnya itu hanya bisa tertawa kecil sambil bertanya, “Kau ini kenapa sih? Cemburu?”

“Menurutmu?”

“Hahahaha, kau itu seperti anak kecil saja.” Kata Siwon sambil menaruh iPodnya. “Eh, aku punya ide.”

“Apa?”

“Bagaimana kalau kita datangi saja mereka? Pura-pura saja kita bertemu dengan tidak sengaja? Bagaimana?” Tanya Siwon.

“Tidak mau. Aku akan terlihat seperti tunangan pencemburu nanti.”

“Atau kau mau membuat dia cemburu?”

“Cemburu? Dengan menggunakanmu sebagai wing man-ku? Tidak, buddy. Aku tidak mau menambahkan masalah baru.” Tolak Hyori yang sudah duduk dengan posisi melorot dari tempatnya awal.

“Daripada kau merana seperti ini. Lebih baik kita menunjukkan pada tunanganmu ini kalau kau itu juga perlu perhatian darinya.” Kata Siwon sambil tersenyum licik. Dia menarik tangan Hyori dan membuatnya berjalan ke meja Donghae.

“Sudah kukira. Aku benar kan Hyo. Itu memang Donghae-ssi.” Kata Siwon sedikit berteriak sehingga membuat Donghae dan beberapa orang menolehkan kepalanya.

Hyori hanya bisa tersenyum kecut menanggapi kelakuan Siwon yang membuat Donghae menatapnya dengan tatapan apa-yang-sedang-kau-lakukan-disini-bersamanya.

“Percayalah padaku dan ikuti permainanku.” Bisik Siwon sambil menarik tangan Hyori dan duduk di kursi yang ada di depan Donghae. “Hai Donghae-ssi. Kita bertemu lagi.”

“Hai, Siwon-ssi. Apa kabar?” Tanya Donghae sedikit kaku.

“Aku baik-baik saja. Tadi aku sedang bersama Hyo dan aku melihatmu bersama dengan ….” Kata Siwon mengambangkan kata-katanya.

“Dia partner kerjaku Jung Haejin.” Kata Donghae menjelaskan.

“Ah, nona Jung Haejin. Karena Hyo bilang kalau tidak mungkin anda disini karena anda sedang rapat maka aku memberanikan diri untuk kesini dan memastikannya. Ternyata tebakanku benar.” Katanya bangga. “Lihat, Hyo. Penglihatanku itu masih bagus.”

“Iya.” Jawab Hyori sambil tersenyum dan memberikan tatapan apa-yang-sedang-kau-lakukan-ayo-kita-kembali-ke-meja-kita.

“Omong-omong apa yang kalian lakukan disini?”

“Kami.. kami sedang rapat. Tentu saja.” Jawab Donghae diplomatis.

“Rapat? Tapi hanya berdua? Wow…”

“Tentu saja tidak. Beberapa staff sudah pulang terlebih dahulu dan kamipun akan segera pulang juga. Benarkan, Haejin?” Tanya Donghae pada Haejin yang dijawab dengan anggukan dan senyuman.

“Oh, benarkah? Padahal kami berdua baru saja sampai. Bagaimana kalau kita pesan makan malam dahulu. Aku dengar masakan ayam disini sangat enak.”

“Siwon-ah, bagaimana kalau kita kembali ke meja kita. Mereka sedang rapat dan kita mengganggu.” Kata Hyori menekankan kata ‘rapat’ dan ‘mengganggu’.

“Oh iya. Kau benar, Hyo. Mereka sedang rapat dan kita mengganggu. Kalau begitu kami akan kembali ke meja kami.” Kata Siwon sambil menarik tangan Hyori (lagi) dan berjalan meninggalkan meja.

“Tunggu…” kata Donghae tiba-tiba. “Aku akan bergabung dengan kalian.”

Siwon yang menunggu reaksi tersebut menghentikan langkahnya dan tersenyum penuh kemenangan sebelum akhirnya memutar tubuhnya dan berkata, “Lalu bagaimana dengan nona Jung?”

“Dia akan segera pulang. Benarkan Haejin?” Tanya Donghae pada Haejin yang di jawab dengan wajah bingung Haejin.

“Hah?Ah, iya aku mau pulang.” Kata Haejin setelah menguasai dirinya sendiri. Dia mengambil tas dan beberapa buah dokumen lalu pergi meninggalkan meja tersebut.

Suasana di meja nomer lima itu terasa aneh. Perpaduan antara cemburu, balas dendam, muak, dan rasa-rasa tidak enak lainnya. Terlihat dari wajah ketiga orang yang mengitari meja tersebut. Siwon dengan senyum kemenangannya karena bisa memisahkan Donghae-Haejin dan membuat Donghae cemburu atas keberadaannya. Hyori dengan wajah marah pada Siwon karena membiarkan Donghae bergabung dan membuat suasana menjadi aneh dan wajah penuh tanya kepada Donghae tentang ‘rapat’nya dengan Haejin dan kelakuannya tadi yang tidak berkeberatan bermanja-manja pada mantan pacarnya. Donghae dengan tatapan apa-yang-kau-lakukan-dengan-tunanganku pada Siwon dan memberikan tatapan apa-yang-kau-lakukan-disini-dengan-laki-laki-itu pada Hyori.

“Apa yang kau lakukan disini, Hyo?” Tanya Donghae pada Hyori yang menyembunyikan kegelisahannya di balik layar laptopnya.

“Hah? Oh, tadi Siwon menelponku dan mengajakku keluar untuk makan malam.”

“Bukannya kau ada tugas dari kantor?”

“Iya memang. Tapi aku tidak bisa menolak permintaan temanku kan?” kata Hyori menekankan pada kata ‘menolak permintaan temanku’.

“Maksudmu?”

“Tunangan cantikmu ini juga butuh makan tuan Lee. Itulah kenapa aku membawanya keluar untuk makan malam. Lihatlah, dia mengerjakan tugasnya selagi kami mengobrol tadi.” Kata Siwon menenangkan suasana yang sudah memanas itu. “Hyori bilang kau sedang membangun hotel di Gangwon ya tuan Lee?”

“Iya, Siwon-ssi. Jung Haejin tadi adalah interior designer untuk hotel baru kami.”

“Oh, karena anda sibuk sekali akhir-akhir ini. Hyori sering mengeluh bahwa anda sering kali membatalkan janji karenanya. Jadi saya yang sering menggantikan anda.”

“Oh, jadi apa saja yang sudah diceritakan tunanganku ini padamu Siwon-ssi?” Tanya Donghae sambil memandang tajam Hyori.

“Tidak banyak Donghae-ssi. Dia hanya menceritakan bahwa tunangannya sedang sibuk dengan projectnya sering membatalkan janji kencan.” Kata Siwon sambil mengambil gelas minumannya. “Hyori itu gampang kesepian Donghae-ssi. Itulah kenapa aku sedih kalau kau membatalkan janji kencan. Untung aku sedang tidak ada kerjaan setiap kali dia menelponku.”

“Wow, kau teman yang sangat baik sekali tuan Choi.” Sindir Donghae.

“Tentu saja. Kalau tidak, tidak mungkin kami bisa berteman selama ini. Sudah berapa tahun ya, babe? Enam atau tujuh?” Tanya Siwon pada Hyori sambil menepuk bahu Hyori ringan.

“Ah, makanan datang.” Kata Hyori lega saat pelayan membawakan pesanan mereka.

“Wah, kau selalu mengingat detil makananku. Terima kasih, cantik.” Kata Siwon melihat piring pesanannya. “Kau tahu Donghae-ssi. Aku selalu suka makan bersama Hyo karena dia selalu mengetahui apa yang ku suka dan hal yang tidak ku suka. Seperti saat ini. Aku suka steak yang setengah matang tanpa buncis dan lihat apa yang aku dapat. Perfecto.”

“Dia juga mengingat detil makanan favoritku.” Jawab Donghae tidak mau kalah. “Bahkan kau tahu tuan Choi, spaghetti buatannya adalah makanan favoritku.”

“Spagetti? Iya, aku juga sangat menyukai spaghetti buatannya. Apalagi pancake-nya. So yummy. Buatkan untukku lagi donk.” Pinta Siwon manja.

“Baiklah.” Jawab Hyori sambil tersenyum seringan mungkin dan memasukkan brokoli ke mulutnya.

**

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Hyori saat menemukan Donghae duduk dengan laptop di meja favorit mereka.

“Aku sedang bosan bekerja di kantor. Kau sendiri?”

“Tidak ada. Hanya ingin mampir kemari.”

“Benarkah? Kau tidak janjian dengan Siwon?” Tanya Donghae menyindir.

“Kau sendiri tidak ada janji dengan Haejin?” balas Hyori sambil melemparkan pandangan curiga.

Mereka berdua duduk dalam diam dengan pikirannya masing-masing. Donghae hanya menatap layarnya tanpa bisa melanjutkan pekerjaannya dan Hyori hanya bisa menatap gelas minuman Donghae yang isinya hampir habis.

“Aku..” kata Donghae dan Hyori bersamaan.

“Kau..” lagi mereka berkata bersamaan.

“Kau duluan.” Kata Hyori cepat.

“Aku tidak suka kalau kau bersama Siwon. Dia menyimpan perasaan suka padamu.” Katanya sambil menegakkan punggungnya.

“Aku dan Siwon?” Tanya Hyori tidak percaya. “Oh, ayolah. Aku kan sudah pernah membicarakannya denganmu. Kami itu bersahabat and that’s it.”

“Kau tidak melihat pancaran sinar matanya. Kalau kau tersenyum ataupun tertawa karenanya, matanya berbinar-binar dan aku tidak suka ada laki-laki lain melihatmu seperti itu.”

“Oh, ayolah Hae. Kau tahu aku. Aku bukan orang yang sensitif seperti itu. Aku tipe orang yang mengatakan ganjalan hatinya bukannya memberikan signal-signal agar orang lain menyadarinya.” Jelas Hyori. “Dan sudah kuceritakan padamu kalau persahabatan kami beyond of it.”

“Bisakah aku mempercayainya?”

“Oh, ayolah Lee Donghae. Berhentilah menjadi seseorang yang menyebalkan. Lihat dirimu sendiri. Apa-apaan kemarin itu? Kau bermanja-manja pada Haejin. Perempuan menyebalkan itu.” Kata Hyori frustasi. “Aku juga tidak suka.”

“Tapi itu beda. Dia rekan kerjaku dan aku tidak bermanja-manja padanya.” Bela Doghae.

“Kau diam saja sewaktu di suapi olehnya lalu waktu itu juga, kau lebih memilih makan siang dengannya daripada dengan ku. Atau sewaktu dia mabuk dan kau menjemputnya di bar.”

“Kau sendiri? Kau menghabiskan waktu dengan Siwon. Berpegangan tangan bahkan mungkin kalian berpelukan dan yang lainnya.”

“KAU!!!” teriak Hyori frustasi. “Bisa-bisanya kau menuduhku berselingkuh dengan Siwon.”

“Siapa yang menuduhmu berselingkuh?” Tanya Donghae emosi. “Kau yang menuduhku berselingkuh.”

“KAU….” Kata-kata Hyori berhenti mendadak karena bingung menemukan kata yang pas untuk mengungkapkan isi hatinya. Dia menatap Donghae tajam, mengambil tasnya, dan pergi dari café tersebut.

**

Hyori mengacak asal rambutnya di depan TV. Dia terlihat frustasi. Bubble bath dan lemon tea favoritnya tidak bisa menenangkan dirinya yang sedang frustasi. Dia masih kesal dengan kejadian tadi sore. Tugas kantornya yang sudah cukup membuatnya pusing ternyata tidak cukup menghancurkan moodnya. Sikap kekanak-kanakan tunangannya itu ternyata menjadi pelengkap hari buruknya.

“Haruskah aku cerita pada Siwon dan meminta nasehatnya?” Tanya Hyori monolog. Dia mengambil ponselnya dan memencet beberapa tombol. Dia berhenti sebelum menekan tombol hijau. Dia masih berpikir haruskah dia menelpon sahabatnya itu untuk curhat.

“Tidak. Siwon sibuk dan aku juga tidak harus melibatkannya. Sudah cukup keterlibatannya.” Katanya lagi sambil melempar ponselnya ke arah sofa.

Terngiang lagi kata-kata beberapa temannya. Mereka bilang bahwa Hyori yang harus sabar dan tetap mempercayai Donghae. Bahwa ini semua hanya sebuah kerikil sebelum mereka menikah. Bahwa Hyori harus maklum dengan perempuan-perempuan yang berusaha mendekati Donghae karena bagaimanapun Donghae itu terbilang hot bachelor in Korea.

“Bullshit with that!!!” kata Hyori dalam hati. Dia bukan tipe perempuan yang bisa sabar dengan segala cobaan yang dihadapinya. Hyori juga punya insting perempuan dan instingnya menyuruhnya untuk menghawatirkan kedekatan Donghae-Haejin. Gila memang kalau terlalu mempercayai insting, tapi insting Hyori selalu benar dan menyelamatkannya dari hal-hal buruk yang mungkin saja menimpanya.

Hyori jadi teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat Donghae lebih memperhatikan Haejin daripada dia. Saat itu mereka sedang menghabiskan waktu di club.

*Flash back*

“Oh, Donghae-ya.” Sapa Haejin pad Donghae di meja bar.

“Hei, Haejin-ah.” Kata Donghae sambil tersenyum. “Datang dengan siapa?”

“Dengan teman-temanku. Kau mau gabung, tampan?” Tanya Haejin menggoda. Hyori yang menyadari kedatangan perempuan itu langsung berdeham dengan keras berharap Haejin menyadari kehadirannya.

I would love to but I can’t.” jawab Donghae dengan wajah kecewanya.

“Aku yakin dia tidak akan keberatan kalau kau bergabung dengan kami.” Kata Haejin sambil melirik ke arah Hyori. “Iya kan Hyori-ssi?”

“Terserah.” Jawab Hyori datar sambil meneguk minumannya kasar.

“Ayo.” Ajak Haejin sambil menarik tangan Donghae dan mengajaknya ke lantai atas.

“Aku tidak akan lama.” Bisik Donghae di telinga Hyori sebelum akhirnya dia beranjak ke lantai atas dan bergabung dengan Haejin.

Yeah, right.” Jawab Hyori sebal. Dia gusar setelah ditinggalkan oleh Donghae. Dia hanya seolah-olah menikmati suasana club dengan melihat-lihat tingkah orang-orang yang berada disana sambil sesekali melirik ke arah Donghae.

Sebuah pesan datang di ponsel Donghae. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan membacanya. Ternyata dari Hyori.

Aku mau pulang. Aku lelah.

Dia melirik bar dimana Hyori duduk. Hyori terlihat membayar minumannya dan bersiap untuk pulang. Donghae pun dengan segera berpamitan dan menghampiri Hyori.

“Tumben kau sudah ingin pulang jam segini?” Tanya Donghae diballik kemudinya.

“Aku lelah lagipula kan aku ingin hang out denganmu bukan sendirian seperti tadi.” Jawab Hyori tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.

“Maafkan aku, jagi. Kau tahu tadi teman-teman Haejin itu adalah rekan-rekan bisnis potensialku. Lumayan kan aku bisa melakukan unofficial approachment.” Katanya ringan.

Yeah, right.”

“Hey, aku lapar. Kau mau tteokpokki? Aku sudah lama tidak makan itu.”

“Tidak mau. Aku mau pulang saja.”

“Hei, tatap aku.” Kata Donghae setelah dia menepikan mobilnya dan menggegam tangan Hyori.

“Apa?”

“Aku memang bersalah malam ini dengan meninggalkanmu sendirian. Jadi jangan marah lagi padaku ya?” katanya memelas dengan puppy eyes-nya.

Great puppy eyes. Batinku dalam hati.

“Tapi janji jangan melakukannya lagi.” Kata Hyori mengalah dan tersenyum.

Donghae tersenyum dan mengecup punggung tangan Hyori. Dia kembali menjalankan mobilnya sambil menggegam tangan Hyori. “Kita makan tteokpokki dulu ya.”

Tiba-tiba ponsel Donghae berbunyi, karena sedang menyetir Donghae meminta tolong pada Hyori untuk menjawabnya.

“Halo? Iya, iya, iya, mabuk? Tidak ada orang lain? Tapi kami bukan keluarganya.” Kata Hyori tidak sabaran.

“Kenapa?” Tanya Donghae.

“Haejin dan teman-temannya mabuk. Tidak ada yang bisa dihubungi kecuali kau. Kita disuruh kembali kesana.”

**

Maaf lama updatenya

Mood nulisnya tiba-tiba hilang

Hope u enjoy it J

Tags: Choi Siwon, Lee Donghae

8 thoughts on “You’re Just Too Nice and I Hate It part 3

  1. baru inget sama ff ini setelah berkunjung….
    donghae terlalu baik sih jadi ngak terlalu peka klo mantan y masi suka n cari2 kesempatan buat deket2 lg….
    kasian tunangan y harus berbesar hati….
    Lanjutah……

  2. Yap, that’s rite~ Donghae are too nice
    Gk sanggup dh klo pny tunangan kya hae
    Ɨƚε ‎​ټ Ɨƚε ‎​ټ Ɨƚε Ɨƚε ‎​ټ
    Enakan ama siwon(?) ㅋㅋㅋ

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s