Clumsy Love [part 1]

Author                       :  yoonewook05

Main Cast                 :  Lee Jinki, Onew

Support Cast            :  Park Yoochun, SHINee, Kim kibum, Key, Lee Taemin, Choi Minho, Kim Jonghyun

Rating                                    :  Pg-13

Genre                         :  Romantic, comedy

Ps                                :  Annyeong readers! Ini ff pertamaku yang di publish, kalo misalnya gaje dan sulit dimengerti tolong dimaklumi yaa… Happy reading ^^ comments are lovely J

Yeonghan POV~

Matahari pagi mulai menggelitik pipiku lembut. Dengan malas aku lepaskan selimut yang masih menutupi tubuhku dengan cepat lalu turun dari tempat tidur. Rasa kantuk ini masih melanda diriku. Enggan bagiku sebenarnya untuk meninggalkan tempat tidur yang nyaman. Aku tersentak kaget saat melihat jam di kamarku menunjukkan pukul enam lebih dua puluh lima menit. Dengan cepat aku melesat pergi ke kamar mandi.

“ Ya! Unnie! Aku duluan… Ya! Ya! “ Yeongsoo berteriak kepadaku berebut kamar mandi.

“ Aku buru-buru.. Aku duluan ya! “ teriakku dari dalam kamar mandi.

“ Kenapa tidak di kamar mandimu saja hah? Aku sudah tidak tahan.. aaaaa… Unnie! “ Yeongsoo menggedor-gedor pintu kamar mandi.

“ Berisik! Di kamar mandiku tidak ada air Yeongsoo! “

“ Yasudahlah.. aaa.. aku ke kamar mandi eomma saja.. Lagian ngapain sih buru-buru sekarang kan hari minggu.. “

Aku tidak peduli apa yang dibicarakan Yeongsoo terakhir tadi. Suaranya tidak begitu jelas dan aku malas untuk memintanya mengulang. Lagi pula paling itu tidak penting. Aku menyalakan keran kamar mandi dan mengguyur tubuhku dengan cepat. Ketika aku ingin menggosok tubuhku, sabun di kamar mandi tinggal sedikit. Ah! Sial sekali aku ini! Tidak peduli dengan sabun yang sedikit ini, aku tidak mau membuang waktuku untuk menyuruh Yeongsoo menambilkan sabun. Kubasuh kembali tubuhku dengan air lalu menyikat gigi. Seusai semuanya selesai, sekarang tinggal mengeringkan tubuhku dengan handuk. Dengan cepat tanganku mengambil handuk yang tergantung di dinding kamar mandi. PRANG!

“ Yeonghan! Ada apa?!” teriak eommaku dari luar.

“ Ah, sial! “ umpatku pelan. “ Ani eomma~ Gantungan handuknya terlepas.. “

Tidak aku pedulikan gantungan handuk yang terlepas. Ini kan kamar mandi Yeongsoo, biar saja dia yang memperbaikinya. Segera kukenakan seragamku yang sudah kusiapkan. Dan kurang dari dua menit aku sudah selesai mengenakan seragamku.

“ Eomma~ Aku berangkat ya “

Aku berlari-lari kecil menuju pintu keluar sambil memakai sepatu. Aku tidak tau eomma ada di mana. Yang penting aku sudah bilang akan pergi kalau eomma tidak dengar yasudah.

Perutku dari tadi hanya bisa marah-marah minta makan. Tidak peduli seberapa kuatnya mereka memintanya aku tidak peduli. Aku tidak sempat sarapan bahkan minum susupun tidak. Aku tidak ingin telat. Aku terus berlari-lari kecil menuju halte di mana bisanya aku menunggu bus. Aku lihat disekelilingku menatapku dengan pandangan aneh dan tidak jarang dari mereka juga tertawa. ‘ Memangnya ada yang aneh apa?’ Ku lihat penampilanku dari atas sampai bawah. Baik-baik saja. Rapih seperti biasanya. Sudahlah memperdulikan mereka juga tidak ada gunanya. Tanpa harus menunggu lama akhirnya bus yang biasa kutumpangi datang. Kuangkat kakiku menaikui bus itu dengan cepat. Saat melihat sekeliling mataku terbelalak kaget. Biasanya di hari sibuk bus ini pasti penuh dengan orang-orang yang akan pergi ke kantor, tapi hari ini hanya ada lima orang yang ada di bus ini. Dan beberapa dari mereka melihatku dengan tatapan aneh. Apa sih yang aneh? Kalau sekali lagi ada orang yang melihatku seperti itu akan kucolok mata mereka. Mereka pikir aku senang dilihat seperti itu? Membuatku merasa seperti orang bodoh saja. Mataku tertuju pada bangku kosong di pojok belakang bus. Jarang sekali aku bisa mendapat tempat dipojokan seperti ini. Bus ini melaju dengan kecepatan sedang sehingga aku bisa melihat kota Seoul dengan jelas. Sejauh yang kulihat dari tadi hanya ada mobil yang melintas. Mungkin orang-orang lebih memilih naik mobil pribadi atau bus dari pada membawa motor. Tubuhku tiba-tiba terdorong ke depan. Bus yang kutumpangi ini mengerem tiba-tiba. Ternyata bus ini sedang berhenti di halte. Mungkin si supir sedang melamun tadi sehingga hampir saja dia lupa berhenti tadi. Seseorang naik ke bus dan duduk tidak jauh dari tempat dari aku duduk. Sebelum dia duduk dia sempat melihatku sekilas lalu tersenyum tipis. Senyumnya manis sekali, sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana ?

“ Hah? Apa ? “ pria itu mengangkat teleponnya.

“ Aku tidak bisa.. Sekarang kan hari Minggu! Shirreo! “ lalu pria itu memutuskan teleponnya.

Hah? Hari minggu? Dengan cepat aku membuka tasku dan mengambil handphone untuk memastikannya.

“ Sial! “ umpatku agak keras.

Ternyata benar ini hari Minggu. Pantas saja dari tadi orang-orang melihatku dengan tatapan aneh bahkan ada yang tertawa. Kenapa sial sekali nasibku ini? Dan mungkinkah ini alasan kenapa pria tadi tersenyum. Benar-benar menyebalkan. Untung saja sebentar lagi bis ini akan berhenti di halte berikutnya. Seberhentinya bus ini, aku membungkukan tubuhku ke arah supir bus ini sebagai tanda terimakasih lalu segera turun. Memalukan.

Jinki POV~

Tidak ada kegiatan yang mengikatku hari ini. Kalau seharian hanya menghabiskan waktu di rumah rasanya akan sangat membosankan. Lebih baik berkeliling kota Seoul dengan bus. Walaupun Cuma melihat mobil-mobil yang berlalu-lalang tapi itu cukup menyenangkan.

Aku membuka lemari pakaian yang tidak jauh dari tempat tidur lalu memilih baju untuk dikenakan pagi ini. Lebih baik menggunakan baju yang santai saja. Setelah memilih baju, segera aku pergi ke kamar mandi. Seusai mandi dan berganti pakaian segera aku pergi ke meja makan.

“ Eomma! Tidak ada sarapankah ? “

“ Kau sudah bangun Jinki-ah ? Tumben sekali pagi-pagi sudah rapih. Mau kemana?”

“ Mau keliling-keliling saja.. Eomma belum buat sarapan ya ? “

“ Belum.. Mian.. Minum susu saja dulu di kulkas, nanti setelah kau pulang sarapan sudah siap.. “

“ Ne eomma.. “

Kubuka kulkas lalu mencari susu segar yang eomma simpan.  Kutuangkan kedalam gelas lalu aku meneguknya dengan cepat sampai ada susu yang tertumpah. Kubersihkan sisa susuku dengan tisu yang ada di dekatku lalu aku pergi.

“ Aku pergi ya eomma… “

“ Ne..”

Pagi ini entah apa yang membuatku begitu semangat untuk berjalan-jalan keluar. Biasanya kalau hari minggu seperti ini aku malas sekali untuk keluar rumah. Tidur adalah pilihan yang terbaik dari pada membuang-buang enegi untuk hal-hal yang tidak berguna. Setelah sampai di halte, aku duduk di kursi yang ada di sana lalu menyalakan ipodku dan memasangkan headset ke telingaku. Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya busnya datang. Seperti yang kuduga sebelumnya, pasti bus ini sepi. Orang-orang pasti masih tenggelam dalam dunia mimpinya masing-masing dan enggan bangun dari tempat tidur hanya untuk sekedar berkeliling tidak jelas seperti yang aku lakukan. Kakiku membawaku ke tempat favoritku. Dibelakang pojok. Tapi kursi itu sudah terisi oleh seorang gadis yang menggunakan seragam. Mataku terbelalak kaget melihat gadis itu. Dia Yeonghan. Lim Yeonghan. Jantungku berdebar-debar tidak karuan. Ah! Gadis itu kenapa di sini sih.’ Ini bukan kendaraan milikku dan setiap orang boleh menaikinya termasuk Yeonghan ‘ gumamku pelan. Tapi Yeonghan memakai seragam. Dia pikir sekarang hari sekolah? Hampir saja tawaku meledak saat menyadari dia memakai seragam. Tapi kukurungkan niatku itu dan hanya tersenyum tipis saat melihatnya memandangku. Kulihat wajahnya yang kaget saat aku tersenyum padanya. Aku lupa dia tidak mengenalku. Tanpa kuperdulikan wajahnya yang berubah aneh lalu duduk di kursi tepat di depannya. Ingin sekali aku bilang, ‘ Yeonghan-ah sekarang hari minggu.. Kenapa kau memakai seragam? ‘. Tapi tidak mungkin dia saja tidak mengenalku. Bisa-bisa aku dibilang sok kenal. Sebuah ide akhirnya melintas dalam pikiranku. Kutempelkan telingaku ke handphone.

“ Hah? Apa ? “

“ Aku tidak bisa.. Sekarang kan hari Minggu! Shirreo! “

Sebenarnya aku tidak menelpon siapa-siapa ataupun ditelpon seseorang. Aku harap Yeonghan dengar karena aku sengaja mengeraskan suaraku tadi. Kulihat beberapa orang melihat ke arahku mungkin karena suaraku terlalu keras tadi. Aku tidak peduli. Kudengar Yeonghan mengumpat di belakangku.

“ Sial! “

Akhirnya dia sadar juga. Bodoh sekali sih kau Yeonghan. Selalu saja ceroboh, kalau tidak ada aku bisa saja kau keterusan sampai sekolah. Sesampainya di halte berikutknya dia segera turun. Kuperhatikan wajahnya yang memerah karena malu. Dia membungkukan badannya ke arah supir lalu turun. Sopan sekali. Itu kesan yang kudapatkan. Tapi sayang dia sangat ceroboh.

Yeonghan POV~

Setelah turun dari halte aku segera menyebrang. Untung jalanan tidak begitu ramai. Setelah lampu merah menyala aku segera berjalan ke sebrang jalan. Tidak butuh waktu lama, akhirnya bis nya datang. Untung saja bis ini kosong. Jadi aku tidak akan dilihat orang dengan tatapan aneh lagi. Seperti sebelumnya aku duduk dibelakang pojok. Untung saja ada pria tadi. Sebenarnya dia siapa? Bahkan sempat tersenyum tadi sebenarnya maksud mengejek atau apa aku tidak mengerti. Tapi melihat senyumnya saja membuat otakku berhenti bekerja. Manis sekali. Belum pernah aku lihat senyum yang begitu manis. ‘Bahkan senyummu kalah menarik dengannya Yoochun-ssi’. Senyum licik tersungging di bibirku lalu kembali merenung lagi. Sepertinya aku mengenalnya. Siapa ya? Apa dia satu sekolahku denganku? Kalau iya mau taruh di mana wajahku ini? Bisa-bisa di menceritakkannya ke teman-temannya. Membayangkannya saja aku sudah ngeri. Tapi sepertinya tidak mungkin. Wajahnya tidak menunjukkan bahwa sifatnya seperti itu. Dia terlihat sangat baik dan bersahabat. Senyumnya yang begitu tulus dan matanya yang hanya segaris saat terseyum membuat setiap orang yang melihatnya senang.

“ Ajusshi.. Ajusshi.. berhenti berhenti!”

Aku berteriak dari belakang bis lalu berjalan ke depan mendekat ke supur bis ini.

“ Tidak bisa agasshi.. Kalau kau mau kau berhenti di halte selanjutnya! “

Gara-gara melamunkan pria tadi aku jadi terlewat halte dimana seharusnya aku berhenti. Benar-benar membuat otakku berhenti bekerja. Kuenyahkan semua pikiran tentang pria tadi dan turun di halte berikutnya.

“ Kamsahamnida ajusshi.. “

Kulangkahkan kakiku dengan cepat. Rasanya ingin sekali membaringkan tubuh di atas kasurku yang empuk lalu kembali tidur. Aku berjalan tanpa memperhatikan sekelilingku. Tiba-tiba bruk! Aku merintih pelan lalu kembali berdiri. Aku tidak melihat ada turunan. Mengalir darah segar dari kakiku.Beruntung rumahku sudah tidak begitu jauh. Dengan langkah pincang kupaksakan kakiku ini terus melangkah.

“ Unnie! Sekarang hari minggu kenapa kau pakai seragam ? “ Yeongsoo tertawa sangat keras dengan tampang prihatin sesekali.

“ Aku sendiri tidak tau! “ jawabku sedikit ketus.

“ Yeonghan-ah ? Kau abis dari mana? Kok pakai seragam ? “

“ Di culik alien eomma! “

Kudengar Yeongsoo tertawa semakin keras. Kulepaskan sepatuku dan melemparnya ke Yeongsoo. Dan tepat sasaran. Kusunggingkan senyum penuh kemenangan sementara dia meringis kesakitan

“ Yeonghan! Kakimu kenapa ? “

“ Jatuh tadi eomma “

“ Anak ini.. ckck.. yasudah cepat ganti pakaianmu. Biar eomma ambilkan obat  . “

Author POV~

Yeonghan tidur lebih awal karena dia tidak mau datang terlambat ke sekolah. Setelah membereskan buku-bukunya untuk pelajaran esok hari, Yeonghan segera melesat pergi ke kamar mandi untuk membasuk wajahnya dan menyikat gigi. Lalu Yeonghan tertidur.

Paginya, tanpa Yeonghan duga sebelumnya dia bangun sangat pagi sekali. Pukul empat pagi. Saat melihat jam sebenarnya Yeonghan ingin sekali tidur lagi, tapi dia takut resikonya. Lanjutkan tidur dan terlambat. Membayangkan hal itu saja sudah membuat Yeonghan menggelidik ngeri. Setelah berpikir sebentar, Yeonghan segera merapikan tempat tudurnya lalu segera mandi. Terlalu pagi bagi Yeonghan untuk mandi, tapi dia tidak peduli. Setelah selesai mandi, dia segera membuka lemarinya dan mengambil seragamnya. Setelah semua selesai, Yeonghan segera pergi ke studio musik di rumahnya. Ada sebuah piano dan beberapa alat musik lainnya. Karena ruangan ini kedap suara, Yeonghan tidak akan mengganggu eomma atau appanya yang sedang tidur. Tanpa terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Dengan langkah sedikit pincang karena lukanya kemarin, Yeonghan segera duduk di meja makan dan melahap roti yang sudah di buatkan eommanya.

“ Yeonghan-ah.. Ini minum susumu.. “

“ Gomawo eomma.. “ dengan cepat Yeonghan meneguk susu itu sampai habis tanpa sisa sedikutpun.

“ Eomma aku berangkat.. Annyeonghi Kasseyo.. “ Yeonghan membungkuk ke arah eommanya lalu berangkat.

Yeonghan POV~

Kedua lututku sekarang masih dalam balutan perban, langkahku pincang kurang sial apa lagi hidupku ini? Untung saja jarak rumahku dengan halte bus. Aku tidak akan membiarkanmu kesakitan kaki kecilku. Sudah sepuluh menit aku menunggu. Bosan sekali. Kurogoh tasku lalu mengambil ipod kesayangku. Tiga menit kemudian busnya datang. Ketika pintunya terbuka. Oh dear! Semua kursi telah terisi. Berdiri? Bukannya aku tidak ingin berdiri, tapi kakiku? Kulihat kakiku dengan tatapan prihatin. Dan kuharap ada seseorang yang turun, segera! Kupaksakan kakiku ini menopang tubuhku sementara bus ini berjalan. Dan kakiku harus menahan sakit ketika bus ini berhenti di halte berikutnya. Ingin sekali aku berteriak kepada supir bus ini untuk tidak berhenti lagi di halte manapun, kakiku sudah cukup kesakitan. Tapi apa daya? Aku hanya penumpang dan bukan pemilik bus ini. Setelah menunggu sebentar, bus ini segera berangkat. Baru saja bus akan menutup pintu, seseorang berlari dari belakang dan sedikit berteriak agar bus ini berhenti sebentar. Lagi-lagi bus ini berhenti mendadak. Ingin sekali aku melempar sepatuku ini ke arah orang yang tadi. Tidak taukah kakiku ini seberapa menderitanya harus berada di bawah kepemilikkanku? Sudah cukup aku membuatnya menderita dengan luka ini. Orang itu segera naik dan dengan cepat aku melemparkan tatapan sinisku kepadanya. Eh? Dia? Segera aku membuang wajahku ke arah lain. Aaa! Dia melilrikku sesaat lalu beralih melihat kakiku. Dia melihatku seolah bertanya tentang kakiku.

“ Ajjuma.. Dimana kau turun? “ Kulihat dia sedang berbincang-bincang dengan seorang ajjuma.

“ Sebentar lagi aku akan turun.. Ada apa ? Ah kau tampan sekali anak muda. “ kulihat ajjuma itu menyubit pipi pria itu. Kenapa aku begitu sering sekali bertemu ajjuma yang begitu genit dengan seorang namja muda. Menjijikan. Kulihat wajah pria itu menggelidik ngeri. Tapi dia berusaha tersenyum kembali. Senyum itu. Lagi-lagi senyum itu membuat rasa sakit pada kakiku hilang.

“ Anak anda ini, bisakah anda pangku sebentar ajjuma. Aku mohon. Yeoja itu kakinya sedang sakit. Maaf aku tidak sopan. “ Pria itu menunjuk ke arahku dan membungkukan tubuhnya Sembilan puluh derajat. Ajjuma itu melirikku, lebih tepatnya ke arah kakiku yang malang ini. Dengan cepat dia memangku anaknya dan kulihat seulas senyum tersungging di bibirnya. Senyum apalagi itu? Tiba-tiba pria itu manarikku tanganku dan membiarkanku duduk.

“ Ah~ Appo “

“ Mianhe.. “

Pria itu tetap berdiri di depanku. Jantungku berdebar tidak karuan. Apa-apaan ini? Dia memangnya kenal denganku? Kenapa begitu baik? Satu hal yang baru aku sadari. Dia memakai seragam yang sama denganku. Dia Sunbaeku kah? Atau dia seumuran denganku? Tanpa aku sadari dia sempat melirik ke arahku tadi. Dan dia tersenyum. Tersenyum. Senyum itu membuat kendali diriku sendiri tidak dapat terkontrol. Kepribadian baik dan sopan. Tapi aku belum melihat wajahnya dengan jelas. Sepertinya tampan. Tapi aku tidak peduli dia tampan atau tidak, aku tidak pernah peduli akan ketampanan sesorang.

“ Ayo turun.. “ Pria tadi menepuk bahuku dan membantuku berdiri. Aku sendiri tidak sadar kalau ini sudah dekat dengan sekolah.

“ Kamsamida agassi.. Maaf, apa kau sunbaeku ? “ tanyaku sedikit gugup.

“ Hmm.. Ne, aku Jinki. Lee Jinki. Maaf tidak memperkenalkan diriku sebelumnya dan membuatmu bingung.” Dia menunjukan nama yang tercantum di seragamnya dan menyunggingkan senyumnya yang mematikan. Setidaknya untukku. Wajahnya benar-benar tampan. Aigoo, eomma anakmu akan jatuh pingsan sekarang !

“ Ah~ Gwenchana.. eh? Apa kau yang kemarin bertemu denganku di bus? “

“ Ne~ Kenapa kau memakai seragam kemarin? “

Kurasa pipiku mulai merah. “ Aku kira kemarin hari Senin. “

“ Lalu, kakimu kenapa? “ Matanya beralih melihat kakiku.

Perhatian sekali dia. “ Kemarin terjatuh sunbaenim.. “

“ Ceroboh sekali. Lain kali lebih berhati-hatilah. “

“ Ah~ ne sunbaenim, “ aku menyunggingkan senyumku.

“ Perlu aku mengantarmu ke kelas ? “

“ Eh? Mwo?! Tidak usah sunbaenim. Kamsahamnida.” Kubungkukan tubuhku lalu berjalan menuju ke kelasku. Mimpi aku bisa bertemu namja seperti dia. Bahkan Chunnie oppa kalah tampannya.

Jinki POV~

Aku masih memandangi gadis itu sampai bayangan tubuhnya sudah tidak terlihat lagi. Aku sedikit menyesalkan perbuatanku tadi. Terlalu berlebihan. Dia belum mengenalku! Apa yang akan dia pikirkan nanti, pria genit? Sok perhatian? Tapi jujur saja aku memang khawatir dengan keadaan kakinya. Kondisi kakinya bisa saja lebih parah kalo harus dibiarkan berdiri untuk waktu yang lama. Untung saja dia tidak bertanya yang aneh-aneh karena tindakanku tadi. Bel berbunyi. Sudah saatnya masuk kelas dan pelajaran pertama adalah Matematika.

Author POV~

Jam istirahat pun tiba. Beberapa siswa berhamburan keluar pergi ke kantin untuk makan siang. Tapi tidak dengan Yeonghan. Dia hanya duduk di kursinya, rasa sakit pada kakinya cukup menyiksanya.

“ Unnie-ah.. “ Yeonghan memanggil Micha.

“ Waeoyo? Ke kantin yuk.. “ Micha menarik tangan Yeonghan. Yeonghan hanya diam. “ Eh? “

“ Unnie, appo.. “ Yeonghan menunjuk kakinya yang masih terbalut perban.

“ Mianhe aku lupa.. Yasudah aku saja yang ke kantin. Kau mau apa? “

“ Aku tidak lapar unnie. Gomawo. “

“ Ah, ne. Aku ke kantin dulu ya. “

Yeonghan sebenarnya sedikit lapar. Tapi dia benar-benar tidak memiliki napsu untuk makan. Yeonghan hanya memasangkan headset ke telinganya, melipat tangannya di meja lalu meletakkan kepalanya di atas tangannya. Tiba-tiba saja Yeonghan mengingat Yoochun. Park Yoochun. Cinta pertamanya. Mood Yeonghan akan berubah seratus delapan puluh derajat hanya dengan mengingat pria yang satu itu. Yeonghan merogoh isi tasnya dan mengambil handphonenya. Dibukanya kotak pesan dan mencari pesan dari Yoochun. Tidak ada untuk hari ini. Tidak sengaja Yeonghan membuka folder pesan tersimpan. Disana masih tersimpan jelas isi pesan dari Yoochun.

Yeonghan-ah aku rindu padamu!

-Park Yoochun-

‘ Rindu apa? Hah?! ‘ umpat Yeonghan dalam hati. Hatinya terasa makin sakit. Itu pesan yang Yoochun kirimkan kepada Yeonghan. Setelah itu tidak ada lagi kabar. Yeonghan sudah berkali-kali menghubunginya. Tapi sia-sia saja. Nomornya tidak aktif.

*             *          *

Suasana kantin cukup ramai. Setelah Jinki membeli makanannya dia segera mencari tempat duduk bersama temannya. Seperti biasanya Jinki akan memesan pasta. Makanan kesukaannya.

“ Yang kau pesan hanya pasta, tak ada yang lain kah? “ tanya temannya.

Jinki menatap temannya dengan tatapan tajam. Seolah-olah dengan tatapannya itu dia ingin mengatakan ‘ Jangan ganggu aku!’. Temannya itu hanya menggelidik ngeri melihat tatapan Jinki. Sesekali dia melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan kantin. Jinki tidak melihatnya hari ini di kantin. Biasanya dia akan duduk bersama temannya di meja tak jauh dari tempat yang Jinki duduki. Tapi kali ini dia hanya melihat teman-temannya. Kemana gadis itu?

“ Jinki kau sedang melihat siapa? “ tanya temannya sambil melihat ke arah yang di lihat jinki.

“ Aniyo.. “ kata Jinki dingin lalu melanjutkan makannya.

“ Aku duluan ya.. “ setelah Jinki selesai dengan makan siangnya dia segera beranjak ke kelasnya.

“ Jinki-ssi kau dipanggil kepala sekolah.. “ seseorang memanggil Jinki saat dia sedang berjalan menuju kelasnya.

“ Oh.. ne.. “

Jinki melangkahkan kakinya menuju ruang kepala sekolah. Ke ruang kepala sekolah berarti melewati kelas gadis itu. Kebetulan sekali Jinki ingin melihat gadis itu. Langkah Jinki terhenti saat melewati kelas Yeonghan. Dia sedang menundukan kepalanya di atas tangannya yang terlipat. Jinki terlonjak kaget saat gadis itu tiba-tiba mengangkat kepalanya dan matanya mengarah tepat kepadanya. Kerutan samar terukis di kening Jinki. Yeonghan terlihat lesu dan pucat. Apa dia sakit? Tapi tadi pagi saat bertemu dengannya dia terlihat sehat walaupun kakinya masih terbalut perban. Apa ada sesuatu yang menggangunya? Gadis itu tiba-tiba berjalan keluar kelas. Dari caranya berjalan, sepertinya rasa sakit di kakinya masih terasa.

“ Annyeong Jinki sunbae “ Yeonghan sedikit membungkuk lalu segera melangkahkan kakinya pergi.

Jinki belum sempat bertanya pada Yeonghan. Mata Jinki terus melihat Yeonghan sampai bayangannya pun hilang. Sesaat dia baru teringat. Dia dipanggil kepala sekolah. Dengan cepat  Jinki berjalan menuju ruang kepala sekolah.

*       *          *

Sesampainya di kamar mandi Yeonghan segera membasuh wajahnya dengan air. Perutnya dari tadi mengerang minta diisi. Tapi Yeonghan sendiri tidak ada niat untuk mengisinya. Napsu makannya benar-benar sudah hilang. Sebenarnya dia tidak boleh seperti ini. Selalu saja menunggu pria itu. Pria itu sendiri tidak jelas ada dimana. Tapi Yeonghan terus menunggunya. Yeonghan ingin sekali melupakan pria itu. Sangat. Tapi dia tidak bisa. Bagaimana pun juga Yeonghan akan tetap berusaha. Dia tidak ingin terus terikat dengan perasaan seperti ini.

“ Yeonghan! Gwenchana? “ Micha menepuk punggung Yeonghan.

“ Ah~ ne.. “

“ Wajahmu pucat. Kau benar tidak apa-apa? “ tanya Micha sekali lagi memastikan.

“ Ne, unnie-ah.. Eh, bel sudah berbunyi.. Ayo ke kelas.. “

“ Kkaja~ “

Yeonghan dan Micha keluar dari kamar mandi dan kembali ke kelasnya. Pelajaran selanjutnya adalah Sains. Yeonghan tidak dapat duduk dengan tenang di tempat duduknya. Perutnya semakin sakit. Mungkin ini efek tidak makan siang tadi. Yeonghan sebenarnya sudah tau resiko apa yang akan terjadi jika dia melalaikan makan siangnya dan mengundur-undur waktu. Tapi dia tidak menyangka kalau akan sesakit ini. Wajah Yeonghan menjadi benar-benar pucat. Keringatnya bercucuran. Yeonghan meletakan kepalanya di atas meja.

“ Yeonghan ssi.. Gwenchana ? “ Mrs.Choi memanggil Yeonghan.

Yeonghan mengangkat kepalanya. Dia sadar seisi kelas sekarang sedang memperhatikannya.

“ Gwen-cha-na.. Cho-i Son-saeng-nim.. “ jawab Yeonghan sedikit terbata-terbata karena menahan rasa sakitnya.

“ Kau terlihat pucat Yeonghan ssi.. Micha ssi, antarkan Yeonghan ke ruang kesehatan setelah itu kau kembali biar dia beristirahat.. “

“ Ne sonsaengnim.. “ jawab Micha.

“ Kau kan punya penyakit maag kenapa tadi tidak makan? “ tanya Micha saat mengantar Yeonghan ke ruang kesehatan.

“ Aku tidak napsu.. “

“ Wae? Apa karena dia lagi? “

Yeonghan melirik ke arah Micha sedikit terkejut. Dia sering lupa bahwa temannya yang satu itu memang pintar sekali membaca perasaan dan pikiran seseorang. Yeonghan hanya mengangguk pelan.

“ Yeonghan-ah, aku sudah bilang kepadamu ratusan bahkan ribuan kali kepadamu.. Jangan terus biarkan perasaanmu terikat seperti ini. Apa dia akan memikirkanmu seperti kau sekarang? Lihat keadaanmu. Sampai seperti ini. Ini berlebihan Yeonghan. “

“ Aku ingin unnie. Sangat. Tapi tidak bisa. “

“ Sudahlah. Sekarang kau istirahat dulu saja di sini. Aku kembali ke kelas dulu ya.. “

“ Ne.. unnie.. “

Yeonghan membaringkan dirinya di tempat tidur yang ada di ruang kesehatan sekolah. Rasa sakit pada perutnya semakin menyiksanya. Seperti ada yang sedang memukul perutnya dan itu sangat sakit. Yeonghan segera bangkit dari tempat tidurnya dan mencari obat pengurang rasa sakit. Beberapa obat terjatuh. Yeonghan terlalu lemah sehingga tubuhnya tidak seimbang dan berkoordinasi dengan baik. Tiba-tiba seseorang masuk ke ruang kesehatan tersebut dan membuat Yeonghan sedikit tersentak.

“ Jinki sunbae.. “

*       *          *

Jinki tidak pernah dimintai kepala sekolah untuk menjaga ruang kesehatan sebelumnya. Sebenarnya dia sedikit kesal karena pasti dia akan ketinggalan beberapa materi pelajaran hari ini. Tapi rasa kesal itu hilang saat dia ingat pelajaran seusai ini adalah olahraga. Dengan langkah santai Jinki menuju ruang kesehatan. Terlihat siluet seorang wanita di dalam ruangan. Saat melihatnya, Jinki segera membuka pintu

Dan mendapatkan sesorang sedang mencari sesuatu di kotak obat dan dia menjatuhkan beberapa obat dari kotak tersebut. Seorang gadis terlihat terkejut dengan kedatangan Jinki.

“ Jinki sunbae.. “ gadis itu menyapanya dengan suara yang sangat pelan.

* tbc *

Gimana? Gimana? Aneh ga? Terlalu banyak basa-basinya ya? Huu, mian *bow* Comment yaaa! Jangan jadi silent readers J gomawo udah bacaaa ^^

6 thoughts on “Clumsy Love [part 1]

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s