Dandelion #5 (Why, Baby? Sequel Edition)

sebelumnya…

#1 #2 #3 #4

 

Dandelion #5 (Why, Baby? Sequel Edition)

…scandal…

 

“Aish~ Sinca!”

Di ruang ini hanya ada aku, Yunho oppa, manajer Park, dan seseorang bernama Changmin yang kuketahui merupakan maknae TVXQ!. Tetapi aku merasa seperti dihakimi oleh beribu mata sejak datang dan duduk di depan manajer Park bersama Yunho. Aku hanya bisa menunduk, seperti tidak diperbolehkan menjawab pertanyaan manajer Park oleh Yunho oppa.

“Mianata, hyungnim.” Lagi-lagi Yunho oppa meminta maaf kepada manajer Park.

“Berapa lama kalian bersama?”

“Baru saja. Tetapi kami sudah saling mengenal dua tahun yang lalu.”

Manajer Park berdiri. “Mwoya? Aigo~ Kepalaku… Bagaimana sekarang!” manajer Park memegangi kepalanya. “Berita sudah tersebar. Sebentar lagi presiden SM akan tahu! Changmin-ah! Katakan sejujurnya! Apa kau punya yojachingu juga?”

“Tidak, hyungnim.” Jawab Changmin tegas. Aku tidak tahu, tetapi aku merasa dia menatapku tajam sedari tadi, sejak aku datang. Mungkin dia juga marah karena aku? Karena aku, karir mereka menjadi tidak jelas.

“Hyungnim, aku…”

“Molla! Jelaskan sendiri pada presiden SM! Ah, kepalaku sakit sekali…”

 

***

Sejak saat itu, pemberitaan tentang kami tanpa henti menghiasi layar kaca dan beberapa halaman utama di media cetak. Dan sejak saat itu juga semua kegiatan TVXQ! dihentikan. Kami pun hanya berkomunikasi melalui ponsel, karena aku dan dia sedang dipenjara dari dunia luar. Tidak boleh saling bertemu, dan tidak boleh mengatakan sepatah kata pun.

Hari ini manajemen TVXQ! Akan mengadakan klarifikasi. Mereka sudah menyiapkan skrip yang harus kubaca, menyiapkan daftar hal apa yang harus kukatakan, yang harus kulakukan. Dan aku sudah menghapal semuanya.

Segera kurapikan dandananku. Mereka memintaku untuk tampil sebagai imej gadis baik-baik. Apakah selama ini aku bukan gadis baik-baik? Aku bukan gadis yang pantas untuk mendampingi Jung Yunho?

Tetapi terkadang aku pun berpikir seperti itu. Apakah aku pantas mendampinginya? Pemberitaan itu benar. Siapa itu Hwang Sojung? Yoja yang tidak tahu diri. Beraninya dia berkencan dengan Jung Yunho. Membuatnya kehilangan banyak fans karena tidak bisa menerima hubungan mereka. Dan tidak jarang juga fans yang tidak menerima hal tersebut mengirimkan bingkisan-bingkisan aneh yang mengerikan. Atau melempari yoja bernama Hwang Sojung itu dengan telur busuk. Seperti saat ini, ketika aku menunggu Yunho oppa menjemputku.

Puk.

“Aish~” ini sudah kali ketiga telur busuk itu mengenaiku. Dan paket-paket aneh sudah lima yang kudapat. Harus berapa lagi?

Kulihat Yunho oppa berlari dari kejauhan. Satu bulan tidak bertemu dengannya, sepertinya dia terlihat sedikit kurus. Pasti karena masalah ini.

“Gwaenchana?” tanyanya. Dia ikut membersihkan telur busuk itu dari tubuhku. “Pasti karena ulah fans. Mianhae, jagiya. Ini akan segera selesai.” lanjutnya, kemudian menyuruhku berganti pakaian lagi di apartemenku. Benar-benar mengulur waktu.

Kubersihkan tubuhku dengan cepat, agar tidak mengulur waktu lebih lama lagi. Setelah kembali berdandan dan berganti pakaian, aku segera menemui Yunho oppa di ruang tamu.

Langkahku terhenti ketika melihat Yunho oppa menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu sambil menutup matanya. Tangannya terlipat, keningnya berkerut. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku berjalan perlahan mendekatinya. Bersimpuh di depannya, dan menyandarkan kepalaku di pangkuannya. “Oppa…” lirihku. Yunho berjengit, sedikit terkejut melihatku bersimpuh di kakinya. “Jika aku memberatkanmu, kita akhiri saja hubungan ini…”

“Jangan bicara itu! Jagiya, kau tidak memberatkanku! Tidak pernah! Berhenti menyalahkan dirimu sendiri! Kita akan melalui semua ini bersama! Meskipun fans tidak menyukainya, aku akan tetap bersamamu!”

Bulir bening menetes dari pelupuk mataku saat mendengar kata-katanya. Apakah ini mimpi? Atau dia sedang tidak waras? Aku tahu kejadian ini menyiksanya, menyiksaku, dan masih banyak lagi pihak yang tersakiti. Dia mengatakan itu semua seolah-olah tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.

Yunho menarikku agar aku berdiri. Diusapnya airmataku, kemudian memelukku erat. “Jangan tinggalkan aku, aku mohon. Menikahlah denganku saat aku keluar dari wamil.”

***

“Kejadian di rumah sakit tersebut, memang benar itu aku dan nona Hwang.” Blitz kamera segera menghujani kami tanpa ampun setelah Yunho oppa mengatakan hal tersebut. “Saat itu aku sedang melakukan pemeriksaan rutin, dan tanpa sengaja bertemu dengannya. Dan tentang ciuman itu, memang benar aku menciumnya. Karena dia yojachinguku. Aku mengenalnya sebelum debut. Aku belum menjadi siapa-siapa saat itu. Kemudian kami memutuskan untuk menjalin hubungan, dua tahun yang lalu.”

Lagi-lagi blitz kamera menghujani kami. Sepertinya mulai detik ini aku harus membiasakan diriku menghadapi wartawan dan layar kaca.

“Aku mohon maaf telah menyembunyikan ini kepada semuanya. Presiden, fans, manajer, member. Aku benar-benar mohon maaf. Aku memang tidak layak untuk mengatakan ini, tetapi terimakasih telah memberiku kesempatan untuk berkarir lagi. Aku berjanji akan berusaha dengan sungguh-sungguh. Untuk fans, mungkin ini menyakitkan. Tetapi tolong mengerti kami. Dukung kami dan tetap bersama kami sampai kapan pun. Terimakasih.”

Yunho berdiri, digenggamnya tanganku dan dia menarikku keluar dari tempat jumpa pers yang berjalan sangat lancar karena bantuan skrip dari manajemen Yunho oppa. Menyuruh Yunho mengatakan itu semua, kemudian menarikku pergi dari tempat itu. Semua sudah diatur, kami hanya melakukan sebaik mungkin.

Selesai. Hanya dengan beberapa jam saja, semuanya selesai. Aku tidak tahu apa yang dikatakan Yunho oppa pada manajemennya agar bisa merestui hubungan ini. Aku tidak tahu apa yang dijanjikan. Dia tidak mengatakannya padaku. Dia hanya memintaku untuk berada di sampingnya. Dia bilang semua akan baik-baik saja, dan aku mempercayainya.

Karena aku mencintai Jung Yunho.

***

Satu tahun kemudian…

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif…”

Lagi-lagi ponselnya tidak aktif. Apa-apaan, hah? Mengapa dia tidak mengaktifkan ponselnya selama satu minggu ini?

Kehidupanku berubah setelah jumpa pers satu tahun yang lalu. Benar-benar berubah. Manajer Park setiap satu minggu sekali datang menemuiku untuk memberikan buku-buku kepribadian. Mereka menyuruhku menjaga sikap dan perilaku. Aku benar-benar seperti bukan diriku sendiri. Setidaknya satu bulan sekali pun aku harus menemani Yunho syuting sebuah acara. Beberapa kali hal tersebut menyenangkan, beberapa kali tidak mengenakkan. Aku bukan orang yang suka tampil di layar kaca.

Terkadang aku harus menemaninya syuting drama, MV, atau CF dengan artis yang cantik. Aku harus menonton musikalnya ketika dia berakting dengan yoja yang cantik. Aku harus tersenyum ketika ditanya apakah aku cemburu melihat Yunho berciuman dengan lawan mainnya. Tentu saja aku cemburu! Seenaknya mereka menempelkan bibirnya di bibir kekasihku, siapa yang tidak cemburu? Tetapi karena manajemen memintaku tersenyum, aku pun hanya bisa tersenyum.

Seperti itu mereka membentukku. Karena mereka bilang Yunho adalah namja yang sempurna. Aku harus menjadi yoja yang sempurna juga. Lama kelamaan aku terbiasa, dan mereka sedikit demi sedikit mengurangi ‘penjagaan’ mereka.

Tetapi aku masih menjadi diriku sendiri ketika hanya berdua saja dengan Yunho di apartemenku. Aku memukulnya, memeluknya, menciumnya, aku menjadi diriku sendiri. Tertawa, marah, cemburu, bergurau, aku menjadi diriku sendiri. Hanya ketika kami berdua saja, tanpa ada kamera yang mengambil gambar kami.

Tetapi satu minggu ini Yunho tidak mengaktifkan ponselnya. Manajer Park pun tidak mengangkat teleponku. Changmin? Aku tidak begitu dekat dengannya. Aku bahkan tidak bisa menatap matanya sedetik saja, karena tatapannya padaku tajam sekali. Sulit diartikan mengapa dia menatapku seperti itu. Dia tidak banyak bicara juga ketika kami makan bersama.

Aku tidak tahu mengapa Yunho mematikan ponselnya. Tiba-tiba saja, tanpa memberitahuku apa yang terjadi. Dan aku merasa kehilangan dia. Aku membutuhkannya juga saat ini. Ketika semua masalah ini datang. Aku benar-benar membutuhkannya, ketika semua masalah yang selalu membuatku terlihat rapuh ini datang lagi.

Flashback~

“Berapa lama?”

“10 tahun. Sojung-ssi, mianhaeyo. Aku sudah berusaha semampuku.” Min menepuk pundakku perlahan. “Sekali lagi aku minta maaf.”

Aku tersenyum tipis. Tidak mudah memang menangani kasus omma. “Arasseo. Min-ssi, bagaimana keadaan kantor? Apakah ada kasus untukku?”

“Kau belum tahu?”

Aku mengerutkan keningku. “Tahu tentang apa?”

“Direktur menunda kasus untukmu karena nyonya Shin.”

“Mworago?” tanyaku terkejut. Menunda pekerjaan untukku karena kasus omma?

“Saat ini semua kasus diserahkan kepada Kang In, sampai kasus nyonya Shin selesai. Direktur ingin kau fokus pada nyonya Shin, Sojung-ssi.”

Jadi karena itu aku merasa seperti pengangguran beberapa bulan terakhir? Tidak ada kasus satu pun. Pantas saja direktur selalu menolak telepon dariku. Tetapi, apakah benar seperti itu? Atau direktur saja yang tidak ingin klien pergi setelah mengetahui kasus mereka akan ditangani pengacara yang orangtuanya terlibat kasus narkoba?

“Dan juga, banyak yang tidak mau kau tangani kasusnya karena kau berkencan dengan Jung Yunho. Mereka bilang kau hanya memanfaatkannya saja.” Lanjut Min.

Ah, aku tahu sekarang. Seperti itu mereka memandangku selama ini. Parasit untuk Jung Yunho, seorang leader TVXQ!.

End~

Kuteguk segelas alkohol terakhir di depanku. Ini kali pertama aku mabuk, setelah bertahun-tahun aku tidak merasakannya. Dan ini juga kali pertama aku mengunjungi tempat bersejarah ini, setelah bertahun-tahun aku tidak bekerja di sini lagi. Candy Bar.

Sepertinya segala sesuatu yang berhubungan dengan Yunho, aku selalau berada di sini.

Setelah membayar bil, aku berjalan gontai menuju mobilku. Semakin cepat aku sampai di mobil, semakin baik. Jangan sampai ada orang yang tahu aku sedang mabuk, bisa-bisa rusak imej seorang Jung Yunho yang sempurna.

Kupacu mobilku dengan kencang. Tetapi karena tergesa-gesa, aku tidak sengaja menginjak gas terlalu kencang ketika akan mengerem di sebuah lampu merah.

Bruak.

“Ya!” teriak seseorang.

Apakah aku menabrak mobil seseorang? Bagaimana jika dia mengetahui aku yojachingu Jung Yunho dan sedang mabuk? Jebal, semoga dia tidak mengenaliku!

Seseorang tersebut mengetuk jendela mobilku dengan keras. “Kelu- eh? Sojung noona?”

***

Changmin memapahku masuk. Perlahan-lahan direbahkannya aku di sofa ruang tengah. “Noona, mengapa kau seperti ini? Katakan padaku…” tanyanya. Dia berlari menuju dapur untuk mencari sesuatu.

“Hiks… Mengapa aku harus mengatakan padamu, hah?”

“Karena aku peduli, noona! Cepat katakan mengapa kau seperti ini!”

Sayup-sayup kudengar jawabannya itu. Peduli? Benarkah seperti itu? Kurasa hanya dia yang mengatakan bahwa dia peduli padaku. Yunho tidak pernah mengatakannya sekali pun. “Apakah kau akan mengatakan semuanya padanya… Hiks… Jika aku mengatakan apa yang terjadi?”

Changmin terkejut. “Yunho hyung tidak tahu keadaanmu sekarang?”

“Bagaimana dia bisa tahu jika ponselnya saja tidak aktif? Hiks… Aku lelah, Changmin-ah. Kupikir semua akan berjalan dengan baik setelah hubungan kami diketahui publik. Tetapi aku salah. Mereka meremehkanku. Menganggapku benalu. Apakah salah aku berkencan dengannya, hah? Apakah salah seorang pengacara biasa yang keluarganya berantakan berkencan dengan penyanyi terkenal seperti kalian?”

Changmin terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Merasa kasihan padaku, mungkin. Karena melihat yojachingu leadernya yang benar-benar menyedihkan ini.

***

Sejak itu Changmin sering menghubungiku. Dia banyak menceritakan lelucon konyol yang membuatku tertawa. Persepsiku tentangnya dulu dan sekarang berubah total. Dulu, kupikir dia namja yang dingin dan tidak mempunyai selera humor tinggi. Tetapi ternyata dia adalah namja yang hangat. Bahkan menurutku, Yunho tidak sehangat Changmin.

Mereka berbeda, sangat berbeda ketika memperlakukanku.

“Sudah makan?” tanya Changmin. Saat ini TVXQ! sedang sibuk dengan album Jepangnya. Pantas saja dulu Yunho tidak mengaktifkan ponselnya. Yunho memang seperti itu, memintaku untuk tidak mengganggunya selama dia fokus dengan pekerjaannya. Dan aku menurut, aku memang selalu menurut padanya. Jika dia menyuruhku mati untuknya, aku pun akan menurut. Karena aku mencintainya.

“Baru saja. Kau?”

Changmin mendengus. “Aku tidak nafsu makan, noona…”

“Wae? Kau harus makan untuk menjaga kesehatanmu!”

“Aku ingin noona yang memasakkan untukku. Bagaimana?”

Aku tersenyum tipis. “Kalau begitu, datanglah ke apartemenku. Kau mau makan apa?”

***

Kupandangi Changmin yang sedang menikmati masakanku itu. “Enak?” tanyaku. Dia hanya mengangguk, masih menikmati makanannya. “Mengapa kau tidak mengajak Yunho?”

“Oh! Itu apa?” tunjuknya pada sebuah masakan di depanku.

“Kau mau?” tawarku. Kusodorkan masakan yang ditunjuknya itu. Changmin segera memakan masakan itu. Mengunyah sebentar, kemudian tersenyum. Manis sekali. Seperti anak kecil, menurutku.

“Noona. Kau tahu? Kau adalah tipeku.”

“Aku? Wae?”

“Kau bisa memasak, masakanmu enak!”

Aku tersenyum. Lagi-lagi dia mengajakku bergurau. “Ey… Kalau begitu semua yoja yang bisa memasak adalah tipemu!”

Mendengar perkataanku, tiba-tiba Changmin terdiam. Menatapku sejenak, entah mengapa sepertinya dia marah. Tetapi kemudian dia melanjutkan makannya. Tanpa sepatah kata pun.

***

Kupandangi berkas kasus yang baru saja kudapatkan di depanku itu. Meskipun hanya kasus kecil, tetapi aku senang sekali. Setelah hampir satu tahun aku menganggur –atau mereka yang membuatku menganggur?- ini adalah kasus pertama yang kutangani lagi. Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku harus merayakannya.

Kuambil ponselku, mencari sebuah nama di sana. Sesaat aku terhenti pada kontak bernama ‘uKnow ur Boy’, nomor telepon Yunho. Tetapi dia melarangku meneleponnya terlebih dahulu. Dia tidak akan mengangkat teleponku, dan aku memahaminya. Aku memahaminya karena aku mencintainya.

Segera kupencet lagi tombol untuk menuju kontak yang lain. Seseorang yang tidak akan menolak teleponku, meski aku meneleponnya tengah malam.

“Yeobseo?”

“Changmin-ah, odiya?” tanyaku setelah mendengar jawabannya.

“Di dorm, sedang melaksanakan piket.”

“Kau tidak rekaman album Jepangmu bersama Yunho oppa?”

“Aku sudah melakukannya. Setelah piket akan berlatih koreografi sampai malam bersama Yunho hyung. Wae?”

“Aku mendapatkan kasus baru. Kita harus merayakannya. Kutunggu di apartemenku, jangan terlambat!”

***

Malam yang indah, sangat indah. Setidaknya ada Changmin yang menemaniku merayakannya. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, Yunho sedang sibuk. Changmin bilang dia sedang berdiskusi bersama stylish untuk membicarakan konsep kostum mereka. Sedangkan Changmin? Dia juga sibuk. Sibuk mengunyah makanan yang kumasakkan untuknya.

Seperti biasa juga, Changmin makan dengan  lahap sekali. Mengapa dia sangat-sangat menyukai makan? Pantas saja dia tumbuh menjadi namja yang tinggi dan manis. Terlalu banyak makan gula sih…

“Mereka sudah tidak meragukanmu lagi, noona?” tanya Changmin di sela-sela kegiatan mengunyahnya.

“Kuharap begitu. Kasus ini adalah kasus pertama yang kutangani setelah hampir satu tahun vakum. Jika aku memenangkan kasus ini, karirku akan membaik.”

“Bersemangatlah, noona! Aku tahu kau adalah orang yang kuat!”

Aku tersenyum. Sudah lama aku tidak mendengar kata tersebut. Hwang Sojung yang kuat. “Kau berbicara begitu seolah-olah sudah mengenalku lama…”

“Sudah kubilang kau itu tipeku! Aku tidak sembarangan menentukan standar!”

“Kau selalu mengatakan aku tipemu, Tsk~” Mudah sekali dia mengatakan bahwa aku ini tipenya. Kami baru saja dekat akhir-akhir ini, kan? Meskipun sudah mengenalnya melalui Yunho jauh sebelum kami bertemu secara langsung.

Tetapi, meskipun kami baru saja dekat akhir-akhir ini. Aku merasa sangat-sangat nyaman ketika bersamanya. Benar bahwa aku sering berdebar ketika bersamanya, apalagi melihatnya makan dengan lahap, kemudian tersenyum dan mengatakan makananku enak. Dan mendengar bahwa aku adalah tipenya, aku pun sedikit merasa senang. Ada apa denganku?

Changmin berhenti makan. Dia mengambil segelas jus dan segera meminumnya sampai habis. “Oh… Kenyang!”

Aku melihat sebutir nasi di pipinya. “Chamkanman.” Kuulurkan tanganku untuk mengambil sebutir nasi tersebut.

Tiba-tiba Changmin menarik tanganku. “Noona…” lirihnya. Suaranya lembut, seperti sedang mengharapkan sesuatu. “Bisakah kau memberiku satu kesempatan untuk… Melindungimu?”

-scandal, END-

11 thoughts on “Dandelion #5 (Why, Baby? Sequel Edition)

  1. Aigoo aigoo
    Changmin-ah, wae? Kenapa harus sojung, hah? Bandel banget sih. Kakak ipar sendiri dicomot juga.
    Kok dikit ya? Hehe
    Tetep kutunggu terus next partnya, onnie

  2. ahhhhh sojung selingkuh ama changmin.. kasian ama yunho. tapi salah yunho juga sihh gak perhatian ama sojung. kan si sojung punya masalah dan butuh dukungan.. lanjutannya di tunggu yahh..

  3. Jahat ih ampe d lempar busuk egg! Ga sgtu’a jg kaleee~ *esmoci bgt*
    Soo care pisun lh changminie-kyu terkasih ^_~
    Ini saat2 yg menegangkan!

    Leader vs. MAGNAE [o-0] Sadaapp……..
    LANJUUT!!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s