Dandelion #4 (Why, Baby? Sequel Edition)

sebelumnya…

#1 #2 #3

Dandelion #4 (Why, Baby? Sequel Edition)

…sick…

 

Sejak saat itu, aku jarang bertemu dengannya lagi. Bahkan hampir tidak pernah. Hari itu saat aku bangun, Yunho oppa sudah tidak ada di sampingku. Dia hanya meninggalkan sebuah pesan berisi permintaan maaf dan menyuruhku untuk tinggal sementara di rumahnya. Dia meninggalkanku tanpa sempat berterimakasih dan mengatakan mengapa aku pergi dari rumah. Tentu saja karena dia harus pergi ke dorm untuk debutnya. Dan aku memakluminya.

Aku menjalani hari-hari dengan semangat yang baru sesudahnya. Aku benar-benar ingin membuktikan pada orangtuaku bahwa aku bukan aib yang akan memalukan keluarga. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjalani tes masuk SNU dan tinggal di rumah kecil milik Yunho oppa dengan uang hasil bekerjaku selama ini. Tanpa orangtua, GO, bahkan Yunho oppa.

Aku tidak mau mengganggunya. Tidak untuk saat ini. Baru saja dia debut, dia sudah mendapatkan banyak cinta dari fansnya. Banyak sekali, hingga aku bisa melihatnya setiap hari di televisi dalam acara yang berbeda. Penampilannya pun berubah. Jika dulu aku sempat mengatakan bahwa dia tidak begitu tampan, setelah debut dia terlihat tampan sekali. Dan tetap berwibawa, tentunya.

Dengan usaha dan doa, akhirnya aku berhasil masuk SNU jurusan hukum, sesuai apa yang aku inginkan. Orangtuaku akhirnya membelikanku sebuah apartemen dan mobil. Sebenarnya mereka menyuruhku pulang, tetapi aku tidak mau. Lebih baik aku tinggal di rumah kecil ini daripada melihat mereka bertengkar lagi. Cukup tiga tahun terakhir ini saja.

Aku hanya mengirimkan pesan singkat untuk memberitahu Yunho oppa bahwa aku berhasil, dan dia hanya membalasnya dengan kata ‘selamat!’ saja. Sedikit merasa kehilangan, tetapi setidaknya aku masih bisa melihatnya setiap hari di televisi, sebagai pengobat rindu.

Aku sudah mengatakan bahwa aku mencintainya, kan?

Dan aku merasa begitu kecil sekarang. Terlalu berharap. Naif dan bodoh, karena mencintai seorang idola seperti dia.

Tetapi suatu hari seseorang datang ke apartemenku pada malam hari, ketika aku terlelap. Dia memakai pakaian serba hitam, dan sebuah topi di kepala untuk melindungi wajahnya. Sedikit takut aku membukakan pintuku untuknya.

“Sojung-ah…” katanya sesaat setelah aku membukakan pintu.

“Oppa?” Sedikit terkejut melihat siapa yang datang itu. Seseorang yang dulu, dengan penampilan yang berbeda. Dia berada di depanku, orang yang biasa kulihat di layar kaca. Tapi, tunggu. Siapa yang memberitahunya alamat apartemenku? Seingatku aku tidak pernah memberitahukan alamatku padanya. Aku hanya mengatakan bahwa aku pindah dari rumahnya ke sebuah apartemen, dan dia hanya membalas dengan kata “Baiklah kalau begitu.”

Dia mendorongku masuk dengan sedikit kasar hingga aku hampir terjatuh. Apa yang sedang dilakukannya di apartemenku? Bukankah seharusnya dia berangkat ke Jepang untuk promosi single terbarunya?

“Aku tidak punya banyak waktu. Sojung-ah, berkencanlah denganku!”

***

“Tidak buruk juga. Analisisnya pas dan tidak bertele-tele. Pengolahan data dan fakta yang mudah dipahami.” Profesor Kim menaruh proposalku di atas mejanya, kemudian menandatanganinya. “Nona Hwang, bagaimana dengan tugasmu?”

Aku menunduk. “Saat ini sedang dalam tahap finishing, profesor. Mungkin minggu depan sudah selesai.”

“Baguslah. Seminar tinggal dua minggu lagi. Kuharap tugasmu selesai sebelum seminar agar bisa dipakai untuk bahan. Banyak sekali pengacara terkenal yang akan menghadiri seminar tersebut. Kau bisa memanfaatkannya untuk promosi.”

Aku mengangguk. “Saya mengerti, profesor. Terimakasih.”

Senyuman tersungging dari bibirku ketika melangkahkan kaki keluar ruangan profesor Kim. Kerja kerasku selama ini tidak sia-sia. Program akselerasi yang kuambil membawaku pada gerbang karir yang selama ini kuidam-idamkan.

Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari seseorang yang sangat kurindukan.

Jagiya, aku sedang berada di Thailand. Kau ingin apa? Yunho~

Aku ingin kau! Oppa bogosippo~ Cepatlah pulang! Sojung~

Tunggu enam bulan lagi, oke? Yunho~

Aku hanya tersenyum, kemudian mengetik pesan balasan, mengatakan bahwa aku tetap menginginkan dirinya, tidak yang lain.

Dua tahun sudah aku menjalani statusku sebagai yojachingu Yunho oppa. Berbeda dengan pasangan kekasih lainnya, kami tidak pernah bertemu sama sekali. Bertelepon pun jarang. Dia sibuk dengan kegiatannya. Pergi ke Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, China, Taiwan, USA, dan negara-negara maju lainnya. Hari ini berada di satu acara, kemudian ke acara lainnya, kemudian pergi keluar negeri lagi. Syuting ini itu, promosi single, mendapatkan penghargaan, semuanya. Sedangkan aku duduk di sebuah ruangan, mendengarkan dosen memberikan perkuliahan, pergi ke perpustakaan, studi kasus di lapangan, dan sebagainya.

Kami pun menjalani hubungan ini dengan sembunyi-sembunyi, mengingat dia adalah seorang idola. Tidak ada yang melarang seorang idola menjalin sebuah hubungan, sebenarnya. Hanya saja kami menghindari kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Yunho oppa sedang berada di puncak kejayaannya, dan aku sedang bersiap untuk karirku sebagai pengacara.

Terkadang aku merasa sangat kesepian. Mempunyai kekasih, tetapi tidak pernah bertemu. Aku dan dia seperti terpisahkan sebuah dinding yang sangat tinggi tanpa ada usaha untuk memanjatnya. Setiap teman kuliahku mengajak pergi minum di sebuah bar dengan kekasih mereka masing-masing, aku hanya sendirian. Pada akhirnya aku yang akan menyetir mobil karena aku tidak mempunyai pasangan.

Meskipun sedikit tersiksa, aku tidak peduli. Aku mencintainya dan dia juga. Aku yakin suatu saat nanti sebuah tangga akan tersandar pada dinding tersebut, membantuku memanjatnya agar bisa bersatu dengan Yunho oppa.

***

Sesuatu yang menyiksa jika dibiarkan akan menjadi luka. Luka yang parah, membuatmu terkadang ingin mengakhiri hidupmu saja agar siksaan itu berakhir. Atau kadang kau mengobatinya secara terus menerus, padahal sebenarnya kau tahu luka tersebut tidak akan sembuh.

Dan ketika satu bagian dari tubuhmu terluka, satu saja. Kecil atau besar luka tersebut, semua bagian tubuh yang terluka pasti akan terasa ngilu. Kegiatanmu akan terganggu. Pekerjaanmu terbengkalai. Tidak bersemangat. Di saat seperti itulah kau butuh seseorang yang benar-benar tahu bagaimana cara memperlakukan dirimu yang sedang sekarat. Merawat lukamu, memberimu harapan untuk hidup.

Aku tahu akan seperti ini akhirnya, dan tentu saja itu yang kuharapkan dari dulu. Tetapi tidak dengan cara seperti ini. Ini memalukan!

Tadi pagi di kantor pengacara tempat aku bekerja, seseorang datang mengaku dari kepolisian daerah Incheon. Dia mencari seseeorang bernama Hwang Sojung yang tidak lain adalah aku. Polisi mengatakan bahwa wanita paruh baya bernama Shin Chaerin tertangkap menggunakan narkoba di sebuah rumah. Saat ini, dia sedang berada di rumah sakit karena over dosis.

Dan wanita paruh baya bernama Shin Chaerin itu adalah ommaku.

“Omma…” kuusap tangannya yang seingatku lebih kurus daripada terakhir kami bertemu. Aku berusaha mengusapnya setenang mungkin meskipun aku sendiri belum sepenuhnya percaya bahwa dia, wanita paruh baya di depanku, yang terbaring lemah karena kasus narkoba itu, adalah omma.

“Pergi, nona Hwang.” Katanya datar. “Saya tidak membutuhkan pengacara untuk kasus saya.”

Aku terkejut. “Omma, mengapa berbicara seperti itu?” kuusap tangannya berkali-kali. “Aku datang kesini bukan sebagai pengacara, omma!”

Omma tersenyum tipis. “Nona Hwang. Jangan buang waktumu untuk berada di sini. Masih banyak kasus yang harus kau tangani.”

Aku bergeming.

“Pergi, nona Hwang. Saya butuh istirahat.”

Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Aku putrinya kan? Mengapa mengusirku? Apa dia tidak tahu, meskipun aku membencinya, aku masih sangat menyayanginya?

Kutinggalkan ommaku menuju ke kantor, seperti yang diinginkannya. Mungkin jika kubiarkan beberapa hari untuk sendiri, dia akan lebih tenang dan bisa kuajak bicara mengapa dia melakukan semua itu. Tetapi sepertinya, tanpa kutanya pun aku sudah tahu alasannya.

Dan tuan Hwang, aku tidak melihatnya sama sekali. Dimana dia? Apa tidak peduli istrinya terbaring lemah di rumah sakit dan terjerat kasus narkoba?

***

“Keadaan nyonya Shin sudah membaik, Sojung-ssi. Karena itu kasusnya akan segera ditindaklanjuti.”

“Apakah beliau akan dikenakan pasal berlapis?”

“Kami belum tahu. Untuk sementara dikenakan pasal menyalahgunaan dan kepemilikan saja.”

“Aku tahu. Terimakasih Min-ssi. Kuharap kau bisa membantu ibuku.”

“Jangan khawatir. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Kau bisa kembali bekerja.”

“Oh. Sampai jumpa di persidangan nanti.”

Kututup sambungan telepon dengan Min, salah satu rekan pengacaraku. Aku memintanya mendampingi omma karena omma tidak mau kudampingi. Benar-benar menyedihkan. Dia tidak menganggapku sama sekali.

Enam bulan sudah aku berada di situasi yang hampir membuatku gila. Aku merasa sangat tertekan. Bagaimana tidak? Aku berusaha sebaik mungkin untuk bekerja sebagai pengacara, tetapi ommaku sendiri terjerat kasus narkoba. Aku berusaha mendampinginya, tetapi dia tidak mau. Aku berusaha meluangkan waktuku untuk menjenguknya setiap hari, tetapi dia tidak ingin bertemu denganku.

Dan jangan tanyakan dimana appa. Kurasa dia benar-benar sudah melupakan omma.

Aku berbaring di sofa ruang tengah. Benar-benar merasa lelah. Ternyata jika kita sudah berada di sebuah lingkaran yang tanpa akhir, kita tidak akan benar-benar bisa terlepas. Kupikir dengan kepergianku dari rumah neraka itu aku sudah bisa hidup dengan tenang, tetapi aku salah.

Dan di saat-saat seperti ini aku membutuhkan kekasihku.

Dimana dia sekarang? Sedang berbuat apa? Bersama siapa? Dia bilang enam bulan lagi akan kembali. Tetapi nyatanya? Menghubungiku pun tidak!

Kuraih remote televisi, berharap menemukan sebuah acara yang sedang diikutinya sehingga aku bisa melihatnya. Karena kasus omma, aku hampir tidak pernah duduk di ruang tengah untuk sekadar melihatnya. Bahkan sering kali aku melupakan bahwa aku sudah mempunyai dia sebagai kekasihku.

Tetapi aku tidak menemukannya. Hampir 100 channel, dan dia tidak ada di salah satunya. Karena merasa bosan, akhirnya kumatikan televisiku dan segera pergi tidur.

Berharap besok dia mengetuk pintu apartemenku, memelukku… Mengatakan bahwa dia mencintaiku, mengatakan bahwa dia merindukanku…

***

Tuut… Tuut…

Aku terbangun. Kulihat layar ponselku, nomor tidak dikenal. Siapa malam-malam begini meneleponku? “Yeobseo?”

“Apa benar ini ponsel nona Hwang?”

“Ne…” suaraku sedikit serak karena bangun tidur. “Nuguseyo?”

“Ah, nona Hwang. Kami dari kepolisan. Nyonya Shin baru saja melakukan percobaan bunuh diri di rumah sakit.”

“Percobaan bunuh diri?”

***

Tubuhnya terbaring lemas di ruang ICU. Infus dan alat bantu pernapasan setia menemani tidurnya yang entah mengapa terlihat tidak benar-benar lelap. Mungkin dia masih trauma, atau takut untuk tertidur selamanya, aku tidak tahu. Pergelangan tangannya yang putih pucat terbalut perban dan berwarna sedikit merah.

Aku hanya bisa melihatnya dari luar, sambil menangis. Bukan karena menangisi keadaannya, tetapi karena tidak habis pikir dengan apa yang beberapa saat lalu dilakukannya. Mengapa melakukan itu? Bodoh! Dia bodoh mencoba bunuh diri. Dia bodoh menganggap semuanya bisa diakhiri dengan bunuh diri.

“Sojung-ssi…”

Aku mengusap airmataku. “Ah, Min-ssi.”

“Istirahatlah. Semalaman kau tidak pulang. Aku akan menjaga nyonya Shin, jadi kau bisa beristirahat terlebih dahulu.”

Aku tersenyum. “Gwaenchanayo, aku bisa menjaganya.”

“Jangan memaksakan dirimu. Aku akan menjaganya karena dia klienku.” Min menepuk pundakku perlahan. “Atau kau mau kuteleponkan namjachingumu?”

Aku mengejang. “Ah, tidak. Aku tidak mempunyai namjachingu.” Jawabku berbohong. Atau tidak berbohong? Apa masih bisa aku menyebut Yunho oppa namjachinguku? Aku tidak yakin. “Baiklah. Aku akan pergi ke kantin sebentar. Tolong jaga dia, Min-ssi.”

Min mengangguk. Kulihat lagi omma di dalam ruang ICU sesaat, kemudian pergi menuju kantin rumah sakit.

Aku berjalan perlahan menelusuri lorong rumah sakit. Sebenarnya aku sudah tidak mempunyai tenaga untuk berjalan. Aku merasa pening, lelah, penat… Semua. Tidak tahu harus berbuat apa untuk ommaku yang sedang sekarat itu.

Terlebih lagi, tidak ada seseorang yang bisa memberiku tempat bersandar.

“Aniyo, hyungnim.”

Aku berhenti. Sepertinya aku mengenal suara itu.

“Changmin? Ani.”

Changmin? sepertinya aku mengenal nama itu. Kucari asal suara yang membuatku sedikit mengejang ketika mendengarnya. Aku benar-benar yakin itu suaranya. Suara seseorang yang membuatku hampir gila karena merindukannya. Membuatku hampir gila karena mencintainya. Membuatku hampir gila karena ketika aku membutuhkannya, dia tidak berada di sampingku.

“Ne, hyungnim. Aku akan segera kembali.”

Benar. Itu dia!

“Oppa…”

***

“Kau… Semakin cantik.”

Aku tersenyum tipis. Semakin cantik? Apa dia masih ingat wajahku?

“Sedang apa berada di sini?”

Aku mengambil napas dalam-dalam, bersiap menjelaskan padanya apa yang terjadi selama beberapa bulan ini. Tetapi ketika aku akan menceritakan semua padanya, ponselnya berbunyi.

“Oh. Mianhae. Aku angkat telepon dulu. Yeobseo? Oh. Changmin-ah! Wae?”

Astaga… Aku benar-benar diuji!

“Sebentar lagi. Aku masih ada urusan. Ne.” Yunho oppa memasukkan ponselnya ke dalam saku jas hitamnya. “Jagiya, aku harus…”

“Pergi?” tanyaku. Nada suaraku meninggi.

Yunho oppa menatapku sejenak. “Mianhae. Aku akan meneleponmu nanti.” Kemudian dia berdiri. “Jaga dirimu. Jika aku tidak sibuk aku akan mengunjungimu. Arasseo?” Yunho oppa mengusap kepalaku perlahan, dan bersiap untuk pergi meninggalkanku.

“Oppa tidak merindukanku?”

Dia berhenti. Berbalik ke arahku, menatapku bingung.

Aku tersenyum tipis. Benar-benar sudah jenuh. “Berapa tahun kita tidak bertemu, oppa tidak merindukanku? Mengatakan aku semakin cantik. Apa oppa ingat bagaimana aku terakhir kali kita bertemu, hah?”

“Jagiya, aku…”

“Aku tahu. Saat ini oppa bukan Jung Yunho yang dulu. Menjadi penyanyi terkenal, mendapatkan cinta dari banyak fans.” Aku merasa airmataku sudah menggenang di pelupuk mataku. “Tapi tidak adakah tempat untukku? Oppa tidak pernah bertanya bagaimana aku, apa yang sedang terjadi di kehidupanku. Siapa temanku, bagaimana keluargaku. Bahkan ketika oppa bertanya sedang apa aku di sini dan aku belum menjawabnya, oppa sudah akan pergi. Omma terkena kasus narkoba dan hampir bunuh diri!”

Yunho oppa terkejut. Dia berjalan mendekatiku sambil menatapku dengan tatapan yang sayu. “Jagiya… Aku…”

Aku berdiri. Kuusap perlahan airmata yang membasahi pipiku. Akhirnya aku menangis juga. Dan kali ini aku tidak menyesal telah menangis di depannya, agar dia tahu betapa tersiksanya aku tanpa dia. “Aku hampir gila karena di awal karirku sebagai pengacara, ommaku terkena kasus narkoba. Aku hampir gila karena ommaku sendiri tidak mau kudampingi. Aku hampir gila karena omma menolak bertemu denganku. Aku hampir gila karena appa tidak menjenguk omma sama sekali. Aku hampir gila karena omma melakukan percobaan bunuh diri. Dan aku hampir gila karena oppa tidak ada di sisiku saat aku menghadapi itu semua!”

Cup.

Tiba-tiba dia mendaratkan bibirnya di bibirku yang bergetar karena menangis, membuatku sedikit terkejut. Tangannya mengusap tengkukku perlahan, menenangkanku. Memberikanku kekuatan, dan meyakinkanku bahwa saat ini dia sudah ada di sisiku untuk menemaniku menghadapi kejadian beberapa waktu terakhir, tidak akan pergi lagi. Hangat dan nyaman. Ciumannya kali ini benar-benar lembut dan penuh perasaan. Berbeda dengan ciuman pertama kami yang lebih bisa dikatakan dengan tragedi.

Kau tahu? Ini adalah ciuman kedua kami. Dan kami melakukannya lagi-lagi di tempat umum.

“Tenangkan dirimu, jagiya. Aku sudah berada di sini…” katanya sesaat setelah melepas ciumannya. Dibenamkannya kepalaku di dadanya yang hangat, dan memelukku erat.

***

Setelah mengirimkan pesan singkat kepada manajer Park, Yunho oppa mengantarkanku pulang menggunakan mobil merahnya. Mungkin sudah banyak uang yang didapatnya hingga bisa membeli mobil mewah ini. Penampilannya pun berubah. Jika tadi dia tidak berbicara dengan seseorang di telepon, mungkin aku tidak akan mengenalinya karena dia menggunakan pakaian hitam dan kacamata hitam.

Dalam perjalanan kami hanya diam. Aku tidak tahu harus berkata apa, dan sepertinya dia juga. Terlalu banyak hal yang ingin kukatakan membuatku bingung harus mengatakan yang mana. Dia pun sesekali mengusap kepalaku lembut, dan aku membalasnya dengan sebuah senyuman.

Setibanya di apartemen, dia segera menyuruhku berbaring di tempat tidur. Dia mengambilkan segelas air dan menyelimutiku. Diusapnya pipiku perlahan dan mengecupnya. “Tidurlah…”

“Oppa kajima.” Pintaku. Entah mengapa aku takut dia tidak akan kembali lagi setelah melangkahkan kakinya keluar dari apartemenku.

“Jagiya, aku masih ada acara…”

Ku genggam erat tangannya, memintanya tidak pergi. “Jebal.”

Yunho oppa tersenyum. “Mianhae. Besok pagi aku akan datang. Aku janji. Berapa kode apartemenmu?”

***

Pagi itu, ketika aku membuka mataku. Tidak ada Yunho oppa di apartemenku. Apa dia berbohong? Tidak. Dia tidak akan berbohong pada kekasihnya. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa dia pasti akan datang. Dia hanya sedikit terlambat.

Atau mungkin, dia tidak ingin bertemu denganku lagi setelah mengetahui bahwa yoja yang dicintainya berasal dari keluarga yang berantakan, yang akan membuat image-nya menjadi buruk?

Kulangkahkan kakiku menuju ruang makan. Seperti biasa, sebelum sarapan pagi aku akan mengambil koran pagi di pintu apartemenku. Kubaca judul yang menarik perhatianku karena terletak di tengah halaman depan koran langgananku itu.

Jung Yunho TVXQ! mencium seorang wanita di rumah sakit!

Aku terkejut. Perasaanku tidak enak. “Ige mwoya?”

Wanita tersebut bernama Hwang Sojung, seorang pengacara yang baru saja lulus dari SNU. Orangtuanya bercerai, kakak lelakinya meninggal karena tawuran antar-geng. Saat ini ommanya dirawat di rumah sakit karena terlibat kasus narkoba dan melakukan percobaan bunuh diri. Mereka terlihat bertengkar ketika Yunho akan meninggalkannya. Wanita tersebut menangis, kemudian Yunho menciumnya dan memeluknya erat. Seperti sepasang kekasih.
Apakah dia memang benar kekasih Jung Yunho?

Andwae…

Tuut… Tuut…

“Yeobseo?”

“Nona Hwang Sojung?” tanya seseorang bersuara berat dari sana.

Aku mengejang. Jantungku berdebar cepat sekali. “Ne, nuguseyo?”

“Manajer Park, manajer TVXQ!. Aku membaca sebuah artikel hari ini, mengenai kau dan Yunho. Ada yang ingin kubicarakan. Apakah kita bisa bertemu?”

“N… Ne…”

-Sick, END-

selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin~~

L~ minta maaf kalo punya salah yaa… dimaafin nggak?? XD

stay terus di sini utk update DANDELION, part 10 selesai dan siap publish semua XD

LOVE YA~~~

20 thoughts on “Dandelion #4 (Why, Baby? Sequel Edition)

  1. aye ayeee siap publish semua!
    keren kak~ aku penasaran pas sojung ntr ketemu sm manajernya
    apa di caci maki dulu trus ntr yunho dateng… ah pokoknya penasaran lah~
    updatenya jgn lama2 ya kak :D

  2. Oiya, info aja..

    Dulu ada yg nanya ya, kapan Changminnya? Trus kenapa cm HoMin? JYJ nya mana? Kan DBSK..
    Tenang sodara2 sebangsa setanah air, HoMin+JYJ bakal menghiasi layar kompyutaa atw ponsel anda *plaks
    lengkap kok FF ini, DBSK kan 5^^
    jadi, tunggu aja ya.. Sabar..

    L~ jg pantau trus kok komen2nya, meskipun tak ada satu pun yg dibalas krn keterbatasan media T.T
    L~ ttp baca kok.. Tp Kalo mo ngobrol2 bs add fb (klik name L~) atw mention @__10hyun

    thx!

  3. Hhhhh galau banget nih sojung
    Perasaannya sojung nyampe banget, kerasa nyeseknya
    Daebakkk!
    Aku selalu siap nungguin kapan ff ini publish hehe

  4. asikk dandelion udah keluar… ‘loncat”* sampe lumutan aku nungguinnya onnie. btw onnie udah bikin sampe 10 part ? gak sabar nunggu publishnya hehe. kasian bgt sojung bnyak masalah trus di cuekin pacarnya lagi . gak sabar baca lanjutannya… ditungggu loh onnie..

  5. author, keluarin yunho POV nya juga dong.. aku pengen tau sbnrnya ap yg di pikirin yunho waktu itu, knp dulu dia ngajak sojung temenan, kenapa dia dtg buat sojung sehari sblm debut, gmn diatau apartemen sojung, gmn bisa ktm sojung d RS, ap perasaan dia waktu sojung muntahin perasaannya, dll

  6. Kependekan thor,
    trus ini sojung belum ketemu ama changmin ya?
    Bukannya disaat sojung lagi down banget dia ketemu changmin?

  7. Minal aidzin chingudeul :)

    Aish~ yunho oppa asa sering ninggalin deh :(
    Gosip sdh melebar (?), smoga sojung baik2 sajah!! AMIN!
    Trs knp ga jd dtg k aprtement’a?!
    Byk pnasaran! LANJUUTT!! ╭(′▽`)╯

  8. sejauh ini ceritanya bagus, dan gaya bahasamu tetap terjaga saeng.

    btw kasian tuh si sojung, udah kyk LDR aja ampe bertahun2 gak ketemu.
    ckckckckckck

    ehm…buat contoh berita tentang yunho cium cewek.
    menurut eonni, itu terlalu blak-blakan.
    meski ini cuma FF, lbh baik dibuat lebih halus beritanya kalo bisa.
    hehehehehe
    mian yah *naluri journalist keluar*
    ekekekekek

  9. waduhh psti si sojung d suruh putus XP
    aduh kasian bngt kl emang bgtu.. :(
    lanjutt authorr.. penasaran jd ny gmn :)

  10. wuih, panjang!
    aku suka cara kamu menyingkat waktu. ngeloncat, tapi smooth. Kalo di balet itu, bisa lompat tinggi sampe kaya melayang tp pas mendarat bisa anggun & pelan seolah tanpa bunyi. *ini ga tau apa deh*

    jadi Sojung teh tetep tinggal pake uang orang tuanya? Eh, request dong, kalo udah selese, bikinin elaborasi hubungan orang tuanya Sojung… dari sudut pandang Yunho. Mudeng ga? Hehehe, banyak minta nih gw. Udah telat juga bacanya. Tapi seriusan, aku nunggu sampe part 10 aja deh lanjut bacanya. Soalnya biar ga lupa ama ceritanya. Kalo baca serial yg kepotong2 suka lupa & feelnya jadi ga dpt.

    :)

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s