Love Will Find It Ways

HAPPY BIRTHDAY KIM KIBUMMMMMMMMMMMMM, MBUM-MBUM oppa~~

*lagi2 ngepost tidak sesuai tanggal XD

Pengen jadi yang pertama ngucapin, xixixi

Apakah kalian siap mendengar ini??

AKU MERINDUKAN MBUM & GENG OPPA~~~

I miss them so bad ><

untuk yg lagi puasa, please jangan menangis karena ini ya XP *Kidding

 

Love Will Find It Ways

“Tuhan, terimakasih telah memberikan hari yang cerah. Semoga semua berbahagia dan sehat selalu. Tidak ada pasien kanker lain yang datang hari ini, dan tidak ada yang pergi…”

***

Aku berjalan menuju ruang kerjaku dengan langkah perlahan. Tak lupa kusapa setiap pasien yang kutemui di lorong-lorong rumah sakit untuk memberikan kekuatan pada mereka. Sama seperti yang dilakukan para suster dan dokter yang lain di rumah sakit ini. Mengobati dan menyemangati mereka setiap hari.

Kulihat seseorang yang memakai jas berwarna putih baru saja keluar dari toilet. Aku tersenyum. Karena sudah tahu siapa dia, segera aku memanggilnya. “Dokter Kim!”

Seseorang yang kupanggil tersebut menoleh. “Oh, Dokter Jung!”

Aku berlari menuju ke arahnya. “Kudengar Hyesung sudah mendapatkan donor?” tanyaku pada dokter Kim Kibum, salah satu temanku di sebuah rumah sakit khusus penanganan kanker di daerah Incheon ini.

Kibum mengangguk. “Begitulah. Besok dia akan menjalani operasi. Bagaimana dengan Tuan Lee, dokter Jung? Apakah masih tidak mau minum obat?”

Aku hanya mengangguk. Sudah biasa aku menghadapi pasien yang tidak mau minum obat, dan menyerah karena kanker mereka. Bukan hanya satu dua saja.

Kami berjalan berdua menuju ruang kerja masing-masing, dan itu memang sudah biasa. Semua dokter dan suster di rumah sakit ini tahu bahwa aku dan Kibum adalah teman sejak kami SMU. Bahkan tidak jarang di antara mereka menyuruh kami segera menjalin hubungan saja. Kuakui, memang dulu aku sempat menyukainya, ketika kami masih SMU. Dia adalah namja populer di sekolah kami. Akan selalu membalas sapaanmu dengan senyuman mautnya meskipun dia tidak mengenalmu. Benar, dia memiliki senyuman maut yang bisa membuatmu terpesona. Tetapi seiring waktu berlalu aku merasa nyaman jika kami berteman saja.

“Dokter Jung, aku permisi dulu.” pamit Kibum sesampainya di depan ruang kerjanya. Aku mengangguk, dan segera berjalan meninggalkannya.

Tak berapa lama, aku menerima sebuah pesan singkat.

Hana-ya! Jika kau tidak sibuk. Nanti siang ayo pergi makan bersama!^^ Kibum~

OK^^ Hana~

“Babo!” Makiku padanya. Baru saja kami bertemu, mengapa tidak mengatakan secara langsung? Mengapa harus mengirimkan pesan singkat untuk mengajakku makan siang?

Ah, Kibum memang seperti itu. Tidak berubah sejak aku mengenalnya dulu. Sedikit pendiam dan tertutup. Tipe namja yang hanya berbicara jika diperlukan, tetapi tidak bisa mengatakannya secara langsung di depan orang tersebut. Berbeda denganku yang selalu mengatakan apa adanya secara langsung dan tanpa basa-basi.

Karena itulah aku lebih nyaman menjadi temannya. Karena kami berbeda.

***

“Arrrggghhhhhhh!!!!!!”

Kuhentikan aktivitasku membaca data perkembangan pasien ketika aku mendengar teriakan itu. Teriakan seperti itu sudah setiap hari kudengar, bahkan setiap detik. Tetapi teriakan kesakitan itu berbeda. Datangnya dari ruang gawat darurat. Menandakan bahwa ada seorang pasien kanker baru yang datang.

“Arrrgggghhhhhh!!!!!!”

Aku segera berlari menuju ruang gawat darurat. Di sana kulihat ada beberapa dokter yang sudah menangani pasien baru tersebut, termasuk Kibum. Segera aku berlari membantu mereka.

Pasien tersebut terus-terusan memegangi kepalanya, dan merintih kesakitan. Bibirnya berwarna pucat. Tubuhnya bergetar sangat hebat, menandakan bahwa dia menahan sakit yang amat sangat di kepalanya. Kemeja yang dipakainya hampir semua kancingnya terlepas, memperlihatkan tubuhnya yang sedikit kurus meskipun membentuk otot yang bagus di sana.

Dan aku sudah biasa melihat hal semacam itu.

Tak berapa lama setelah tim dokter menyuntikkan obat penenang, dia tertidur.

“Pasien barumu, dokter Kim?” tanyaku pada Kibum sesaat setelah pasien baru itu terlelap. Kibum hanya mengangguk. Dia sedang sibuk menulis data pasien baru tersebut. Kudekati dia dan membaca satu per satu data pasien baru itu dengan seksama. “Hangeng. Warga China. Kanker otak.” Lirihku pelan.

***

Entah apa yang terjadi padaku, setelah kubaca data pasien baru bernama Hangeng tadi malam. Ada sesuatu dalam diriku yang menyuruhku datang ke kamarnya pagi ini, meskipun aku tahu dia bukan pasienku. Aku mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Kibum beberapa saat yang lalu, meminta ijin kepadanya agar aku yang melakukan pemeriksaan pagi ini pada pasiennya.

Dan lihat apa yang kulakukan sekarang di kamarnya. Hanya memandanginya saja. Dengan form pemeriksaan yang masih berada di tangan kiriku. Memperhatikannya ketika dia belum terbangun. Melihat wajahnya yang damai, seperti tak ada kanker di kepalanya.

Ini masih terlalu pagi untuk melakukan pemeriksaan.

Tiba-tiba dia membuka matanya perlahan.

“Oh. Selamat pagi, Hangeng-ssi. Tidurmu nyenyak?” aku sedikit terkejut. Segera aku berjalan menuju ke arahnya, memberikan senyuman terbaikku. Seperti yang kulakukan pada pasien kanker lainnya.

Dia mengerutkan dahinya, sedikit bingung. “Dimana aku? Siapa kau?”

“Aku dokter Jung, dokter pengganti dokter Kim untuk sementara. Saat ini kau sedang berada di rumah sakit. Seorang pemuda membawamu kemari karena tiba-tiba kau kesakitan saat berada di tokonya untuk membeli bunga.”

Hangeng terlihat sedang berusaha mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Sebentar-sebentar dia mengerutkan dahinya, sebentar-sebentar menggeleng. Aku tetap tersenyum padanya, dan melaksanakan tugasku sebagai dokter untuk melakukan pemeriksaan pagi.

Kubuka perlahan bajunya, memeriksa bagian dalam organ tubuhnya. “Apakah masih sakit?” tanyaku. Dia hanya menggeleng pelan. Kemudian aku memeriksa infusnya.

“Dokter Jung…” panggilnya pelan.

“Ne?”

“Terimakasih… Untuk menyelamatkanku dari sakit di kepalaku ini…”

Aku tersenyum. Entah mengapa aku senang mendengarnya.

***

Sudah hampir sebulan aku meminta Kibum untuk melakukan pemeriksaan pagi pada Hangeng, pasien kanker otak itu. Aku pun masih belum tahu benar mengapa aku melakukan hal tersebut. Aku mengkhawatirkannya. Satu hari saja tidak memeriksa keadaannya, aku sangat khawatir. Karena sebenarnya, kondisinya semakin hari semakin memburuk…

Sore ini aku tidak menemukannya di kamarnya. Dia dimana?

Aku berlari mencarinya, mencari sosok tinggi tegap yang rapuh itu di setiap sudut rumah sakit. Sapaan selamat pagi yang diberikan pasien padaku hanya kubalas ala kadarnya saja. Aku benar-benar khawatir pada keadaannya. Setiap hari setelah melakukan pemeriksaan pagi, aku berusaha tersenyum dan mengatakan bahwa kesehatannya semakin membaik meskipun pada laporan pemeriksaan tersebut tidak ada satu pun catatan yang mengatakan begitu. Aku tidak siap kehilangan dia.

Dan aku tidak tahu mengapa aku tidak siap kehilangan dia.

Setelah hampir 30 menit mencarinya, aku menemukan dia di taman rumah sakit. Dia duduk sendirian di sebuah kursi taman. Memandangi pasien anak yang sedang bermain dengan sesama pasien anak yang lain.

Aku mengatur napasku. Beruntung aku menemukan dia baik-baik saja. Segera kuhampiri dia. “Oh? Hangeng-ssi? Sedang apa berada di sini?” tanyaku. Aku pun duduk di sebelahnya.

Dia menoleh. “Oh. Dokter Jung…” dia tersenyum. “Aku sedang menikmati detik-detik terakhir hidupku…”

Senyuman yang menyedihkan. Jauh dari arti senyum itu sendiri.

Hangeng menatap pasien anak tersebut tanpa fokus. “Aku tahu aku tidak akan lama lagi hidup di dunia ini. Aku mendengar percakapan antara dokter Min dan dokter Kim tadi pagi ketika berada di kamarku. Berapa hari? Satu bulan?”

Aku terkejut. Kibum mengatakan hal tersebut di depannya? Apa dia bodoh?

Tiba-tiba Hangeng menyandarkan kepalanya pada bahuku. “Aku ingin menikmati hari-hari terakhirku, dokter…”

Hatiku sakit mendengar apa yang baru saja dikatakannya. Menikmati hari-hari terakhir… Mengapa aku ingin menangis ketika dia bicara seperti itu dari bibir pucatnya sendiri?

Kuusap perlahan kepala Hangeng di bahuku, berusaha menyembuhkan kanker yang berada di dalamnya. Atau paling tidak, aku bisa memberikan bujukan halus pada kanker itu agar membuat pasien di sebelahku bertahan lebih lama. “Jangan bersedih, Hangeng-ssi. Kau pasti bisa…” kataku, sedikit menahan tangis.

Aku menyadari sesuatu saat ini. Hatiku. Dan tanganku. Dan tubuhku. Aliran darah yang mengalir lebih cepat. Debaran jantung yang berdetak lebih cepat. Ingin sekali kurengkuh dia, memeluk tubuh lemahnya. Ingin kukecup dia, mencium bibir pucatnya. Semua itu kurasakan ketika dia menyandarkan kepalanya.

Apakah aku menyukainya? Aku jatuh cinta pada seorang pasien kanker otak?

Aku ini gila, atau apa?

***

“Dokter Kim, bisa kita bicara?”

Kibum menoleh. Sedikit terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba. Tanpa mengetuk pintu ruangannya, dan terlihat meredam amarah. Dia mengangguk saja.

Aku berjalan mendekatinya. “Ya!” teriakku. “Kau gila? Mengapa ceroboh mengatakan hal tersebut di dalam kamar pasien, hah?”

Kibum menatapku bingung. “Aku tidak mengerti, Hana-ya…”

“Hangeng! Mengapa kau mengatakan dia tidak akan bertahan lebih lama lagi? Mengapa mengatakan di kamarnya?”

“Mianhae.” Jawabnya singkat. Sepertinya Kibum tahu apa yang sedang kubicarakan. Setelah mendengar nama Hangeng, dia kembali melanjutkan aktivitasnya. Tidak mempedulikanku yang menatapnya dengan kesal.

“Kau tidak boleh mengatakan hal tersebut! Kau seharusnya menyemangati pasienmu meskipun umurnya tidak lama lagi! Mengapa kau ceroboh sekali, KIM KIBUM!” kutekankan nada suaraku pada namanya. Dia pasti tahu jika aku sudah memanggil nama lengkapnya seperti itu, aku sedang marah.

Aku memang marah padanya. Tidak seharusnya dia mengatakan hal yang sangat sensitif itu di depan pasiennya. Bagaimana jika pasien tersebut adalah orang lain? Yang telah menyerah? Seorang dokter tidak boleh seperti itu!

Kibum hanya diam. Dia memang benar Kim Kibum, yang tidak pernah bisa mengatakan apa yang dirasakannya pada orang lain. Dia memang benar Kim Kibum, yang tidak pernah mengeluarkan sepatah kata pun jika dirasa tak perlu dikatakan. Tetapi dia bukanlah Kim Kibum, jika dengan ceroboh membicarakan hal sensitif di dalam kamar pasien.

Setelah melihat tidak ada reaksi pada Kibum –yang memang aku sudah tahu dia tidak akan bereaksi sedikit pun, aku berlari menuju kamar Hangeng. Kubuka pintunya dengan sedikit kasar.

“Hangeng-ssi. Mau jalan-jalan?”

***

Kupapah tubuh rapuhnya berjalan menelusuri jalanan kota Incheon. Sebenarnya aku meminta dia duduk di kursi roda saja, tetapi dia tidak mau. Dia ingin berjalan dengan kedua kakinya, menikmati kota indah ini dengan tubuhnya sendiri yang mungkin tidak akan lama lagi bisa dia nikmati.

Aku melihat sebuah kursi di dekat kios bubur. Segera kuajak dia duduk di sana, dan membelikannya sebuah bubur.

“Bagaimana? Oppa senang?” tanyaku padanya. Dia sedang menikmati buburnya dengan lahap.

Hangeng tersenyum. Kali ini senyumannya tulus, tidak seperti tadi pagi terkesan menertawakan dirinya sendiri. “Hana-ya… Mengapa kau tiba-tiba mengajakku jalan-jalan?”

Aku terkejut. Aku harus menjawab bagaimana? Sebenarnya aku pun tidak tahu mengapa aku berlari ke kamarnya dan mengajaknya jalan-jalan. “Aku hanya bosan berada di rumah sakit terus menerus. Pagi hingga malam aku berada di sana. Oppa tidak bosan?”

“Bosan, sedikit.” Dia tersenyum. “Kau tidak mengajakku karena kasihan padaku, kan?”

“Mengapa oppa berpikir seperti itu?”

Hangeng menarik napas dalam-dalam. “Aku hanya tidak mau dikasihani, Hana-ya. Aku tahu aku memang tidak mempunyai banyak waktu. Aku sudah bisa merasakan wangi surga…”

Aku terdiam. Jika Hangeng melihatku saat ini, mungkin dia akan menyadari bahwa ada setitik airmata yang jatuh ketika mendengarnya mengatakan hal yang menyakitkan itu. Hal menyakitkan yang semakin menyakitkan karena itu adalah kenyataan.

“Tetapi, jika kau memang melakukan ini semua karena kasihan padaku…” lanjutnya. “Aku berterimakasih untuk itu. Aku berterimakasih sekali, di akhir hidupku masih ada orang yang perhatian padaku…”

Oppa… Tolong jangan mengatakan hal itu lagi… Kau membuatku semakin ingin menangis…

***

“Darimana saja?” Kibum duduk di atas meja kerjaku. Dia memandangku yang baru saja pulang dari jalan-jalan bersama Hangeng dengan tatapan tajamnya.

“Jalan-jalan.” Jawabku ketus. Aku masih marah padanya.

Kibum berdiri. “Bersama Hangeng? Kau tahu membawa pasien pergi tanpa seijin dokter itu salah? Kau tahu itu, hah?”

Ini kali pertama aku mendengar Kibum membentakku. Tetapi aku tidak peduli. Aku berjalan menuju lemariku, mengambil sebuah pakaian seragam dan jas berwarna putih. Tiba-tiba Kibum menarikku. Dilemparnya pakaian dan jas putih dari kedua tanganku. “Jawab aku, Jung Hana!” teriaknya geram.

“Itu semua karena kau!”

Kibum menatapku tajam. Kharisma yang dimilikinya sebagai orang yang pendiam dan tertutup itu hilang. “Aku? Hana-ya… Mengapa kau perhatian sekali padanya? Kau memperlakukannya lebih dari pasienmu sendiri! Dia itu pasienku!”

“Aku menyukainya!” teriakku tidak sengaja. “Kau puas? Aku menyukai pasienmu!”

Ini gila! Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Aku bahkan belum sempat mencari tahu apakah aku benar menyukai Hangeng atau tidak, tetapi aku dengan sangat percara diri mengatakan bahwa aku menyukainya.

Kibum semakin marah mendengar jawabanku tersebut. Tiba-tiba didorongnya tubuhku keras merapat ke lemari. Dia memiringkan kepalaku secara paksa, dan mendaratkan bibir dinginnya di bibirku secara paksa juga.

“Mmph…”

Ini lebih gila! Kibum menciumku! Teman yang selama ini sangat dekat denganku menciumku di ruang kerjaku sendiri!

Aku tersudut. Kepalaku terasa pening karena menahan benturan dengan lemari dan penolakan atas ciuman Kibum secara bersamaan. Kudorong dia menjauh, tetapi dia semakin menekan bibirku lebih dalam. Menghisapnya kasar sehingga membuatku hampir tidak bisa bernapas. Tangannya menarik tanganku yang berusaha mendorongnya, dan menguncinya rapat-rapat agar tidak berontak.

“Dokter Jung!” Tiba-tiba suster Yoo, asisten pribadiku, masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. “Oh, maaf.”

Segera Kibum melepaskan ciumannya. Dia merapikan jas putihnya dan berdiri membelakangi suster Yoo.

“A– ada apa… Suster Yoo?” tanyaku. Sedikit menahan malu karena dia melihat kami berciuman.

“Tuan Lee…”

***

“Kesehatannya semakin memburuk?”

Aku mengangguk. Kulihat Tuan Lee di depanku yang masih saja tidak mau meminum obatnya. Tubuh tuanya semakin rapuh. Rambut di kepalanya juga semakiin menipis. Bahkan hampir tidak ada lagi. Keluarganya pun tidak henti-hentinya menangis. Pasienku itu memang sudah menyerah. “Mungkin akan berada di USA selama satu bulan.”

“Semoga kesehatan tuan Lee membaik di sana.”

Aku menghela napas dalam. Enggan sekali meninggalkan Korea, yang artinya meninggalkan Hangeng. Tetapi bagaiamana pun juga Tuan Lee lebih membutuhkanku, karena dia pasienku. Hangeng, dia juga membutuhkanku. Tetapi aku bukan dokter yang menanganinya. “Dokter Kim…”

Kibum menoleh. “Mm?”

Apakah aku harus mengatakan ini pada Kibum, setelah kejadian yang menimpa kami berdua? Ah, tidak. Aku harus melupakan kejadian tadi. Lupakan bahwa Kibum menciumku.

“Bisakah kau menjaga Hangeng untukku?”

Kibum diam. Lama sekali. Aku menjadi semakin merasa tidak enak. Hubungan kami sedikit aneh setelah kejadian tersebut.

“Apa kau benar menyukainya, Hana-ya?”

Aku mengangkat bahuku. “Molla. Antara menyukai, atau mengasihani. Aku merasa aku harus bersamanya di sisa waktunya. Tetapi aku pun berdebar ketika di dekatnya. Melihatnya tersenyum. Ingin memeluknya ketika dia terus mengatakan bahwa waktunya tidak banyak. Seharusnya aku tidak perlu seperti itu kan jika hanya mengasihinya?”

“Baiklah. Aku akan menjaganya untukmu.”

Aku tersenyum. “Gomawo, Kibum-ah.”

***

Satu bulan telah berlalu. Kini aku sudah berada di Incheon lagi, di rumah sakit kanker lagi. Keadaan Tuan Lee selama di USA bisa dibilang membaik. Dia sudah tidak lagi menolak meminum obat dan melakukan pengobatan dari rumah sakit.

Aku berjalan tergesa-gesa menuju sebuah kamar di rumah sakit ini. Kamar milik seseorang yang selama satu bulan ini tidak kutemui di USA. Tidak bisa menelepon, memeriksa, mengajak jalan-jalan, mengusap kepalanya. Orang yang satu bulan lalu membuat hubungan pertemananku dengan Kibum sedikit renggang. Orang yang membuatku gila.

“Oppa! Aku da…”

Kata-kataku terhenti. Kamar tersebut sudah kosong. Tempat tidurnya sudah tertata rapi. Bahkan tidak ada sesuatu apa pun di atas meja. Dimana Hangeng? Apakah dia sudah keluar dari rumah sakit? Atau… Ah, tidak. Tidak mungkin. Dia tidak boleh meninggalkanku tanpa pamit!

Mengetahui kamar Hangeng sudah kosong, aku segera berlari menuju ruang Kibum. Dia adalah dokter yang menangani Hangeng, pasti tahu ada dimana dia saat ini.

“Dokter Kim!”

Kibum menoleh. Diletakkannya pena yang dipakai untuk mengerjakan laporan, kemudian berdiri. “Hana-ya!” dia tersenyum. “Baik-baik saja?”

“Oh.” Aku membalas senyumannya. “Dokter Kim, dimana Hangeng? Tadi aku pergi ke kamarnya tetapi dia sudah tidak ada. Apakah dia sudah keluar dari rumah sakit? Atau dipindahkan ke ruang lain?”

Kibum diam sejenak. Dia menunduk, tidak memandangku. “Dia…”

***

Untuk : Dokter Jung
Kau sudah datang? Baik-baik saja, kan? Seperti yang kau lihat, aku juga baik-baik saja saat ini, di surga.
Aku sudah berada di surga^^
Selama kau tidak ada di sini, aku merasa sedikit kesepian. Tetapi dokter Kim memperlakukanku dengan sangat baik, membuatku merasa senang.
Bukankah dokter Kim itu namja yang tampan?^^
Hana-ya –aku boleh memanggilmu seperti itu, kan?- maafkan aku karena aku pasien yang buruk. Aku tahu kau sangat khawatir padaku, sehingga menyuruh dokter Kim memperlakukanku dengan baik. Tetapi tanpa itu semua, pun aku sudah tahu akan berakhir seperti ini. Dan ini yang kuinginkan sejak dulu.
Hana-ya, terimakasih karena mengkhawatirkanku. Terimakasih sudah mengajakku berjalan-jalan. Merawatku setiap hari. Tersenyum padaku meski aku tahu kau menyembunyikan keadaanku yang sebenarnya. Dan kuakui kau sangat cantik dan baik hati. Pantas saja dokter Kim menyukaimu.
Ya, dia menyukaimu^^
Aku senang mengenalmu di akhir hidupku. Berjanjilah untuk hidup bahagia selalu, oke?
Hangeng~

Kuremas surat bertuliskan tinta merah dari Hangeng tersebut. Menyedihkan? Aku tahu. Dia pergi ke surga? Aku tahu. Dan aku berusaha untuk menahan airmataku, karena aku tahu ini akan terjadi –cepat atau lambat. Hanya saja aku tidak menyangka dia akan pergi tanpa meminta ijin dariku! Meminta ijin, atau sekadar berpamitan pada seorang dokter yang menyukai pasien kanker otak, yang bahkan baru dikenalnya kurang dari satu tahun!

Kibum di sebelahku hanya sesekali mengelus pundakku, menguatkanku. Setelah kutanya dimana Hangeng, dia segera memberikan surat tersebut dan mengatakan bahwa ini adalah titipan terakhir darinya untukku. Aku sempat tidak mempercayai apa yang dikatakannya. Karena itulah dia membawaku ke sini. Di depan nisan pasien yang dicintai sahabatnya.

Tanah pekuburan itu masih basah. Seseorang di dalamnya baru saja menghuni pekuburan itu tiga hari yang lalu. Tiga hari sebelum aku datang dari USA. Mungkin dia sudah lelah berjuang melawan kanker otaknya, sehingga dia memilih untuk tidur selamanya dalam keabadian, tanpa berpamitan padaku.

“Kau menyukaiku?” tanyaku pada Kibum. Aku masih melihat tanah pekuburan di depanku itu dengan tatapan kosong.

Kibum mengangguk. “Sejak dulu.”

Mendengar jawaban tersebut, tiba-tiba aku merasa setitik airmata perlahan-lahan keluar dari kelopak mataku. Mengapa aku merasa hatiku sakit? Aku menyuruh Kibum menjaga orang yang aku suka, padahal dia sendiri mencintaiku. Mengapa aku bodoh sekali karena tidak menyadarinya? Mengapa harus ada Hangeng dulu baru aku menyadari bahwa Kibum menyukaiku?

Kibum tiba-tiba memelukku. Disandarkannya kepalaku pada dadanya yang hangat. Tangannya mengusap kepalaku perlahan. “Menangislah…” katanya. “Jangan kau paksakan untuk tersenyum saat kau terluka, Hana-ya. Karena aku akan merasa sakit juga.

“Tidak perlu meminta maaf kepadaku karena kau tidak bisa menerimaku. Aku tahu itu. Aku hanya butuh kau berlari padaku saat kau rapuh. Aku hanya butuh kau tertawa di depanku saat kau bahagia. Itu saja…”

…Cinta akan menemukan jalannya masing-masing…

…Tak peduli berliku atau berbatu…

…Meninggalkan, atau ditinggalkan…

-END-

15 thoughts on “Love Will Find It Ways

  1. huua i missed them so much T.T
    Saengil chukkhae kibum oppa,
    i’ll be waiting for your comeback

    ahh kasian geng oppanya meninggal,
    bum oppa juga blm jelas,
    yaah thor coba ampe bum oppanya ma hana, hehehe
    nice ff ^^b

  2. Huaa daleeem T_T Hangengnya gimanaa? Hangeng suka sama Hana ngga? Kibum jago bgt nyimpen perasaan.. Tapi kasiaaann… >< Akhirnya ngegantung, ya? Coba ada lanjutannya sedikiiit lagi ehehehe ^^v

    Nice FF, ceritanya keren dan kata-katanya simpel dan enak dibaca.. Good job author ^^

  3. sedihh… sya ampir nangis baca kata2 trakhir kibum oppa..
    kereeen ff na thor..

    and of course miss them so much.. :)

  4. Bener2 menguras air mata :(

    Aih~ knp ga ngmg lgsg ajj? Dsor bum-pa shy bot @_@
    Knp hrs han gege?! ='(
    Aq bca ff ini mna lgu yg aq dnger sdih smw lg, mn lg ada mslh drmh,, tambah ajj nangis :(

    I love this story!! Very like it so much ^-^

  5. pengen nangis jadinya…

    Kibum terlalu menahan perasaanya sendiri.
    aku suka sama karakternya Hana!
    mestinya Hangeng nunggu Hana pulang dari Amrik baru ‘pergi’..

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s