Away #2

Away #2

Rumah sedang kosong. Tidak kutemukan satu orang pun di dalamnya. Setelah meletakkan komik di meja Mir, segera aku terbang menuju studio tempat MBLAQ biasa berlatih. Seungho pasti ada di sana bersama Cheondung dan Byunghee.

Kuintip ruang latihan MBLAQ, memastikan apakah aman masuk ke dalam sana. Masih ingat ‘tragedi kamar Seungho’ bukan? Aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Sebenarnya saat itu aku tidak melihat ‘itu’. Aku berani bersumpah. Yang kulihat saat itu hanya…

Ah! Lupakan saja!

Di sana, duduk di kursi sebuah piano. Sendirian, sambil sesekali melihat kertas di depannya. Sebuah nada sederhana mengalun merdu memenuhi ruangan yang kosong tanpa seorang pun kecuali dia. Melodi yang sangat indah.

Dia, Yang Seungho. Seseorang yang duduk di kursi sebuah piano tersebut.

Baru kali ini aku melihatnya bermain piano. Benar-benar seperti seorang pemain yang andal. Jari-jarinya menari di atas tuts berwarna hitam putih tersebut dengan lincah. Aura bintangnya terpancar. Seolah-olah dia ingin mengatakan bahwa dialah Leader MBLAQ, Yang Seungho.

Dan, dia sangat tampan dan keren.

Tanpa kusadari aku sudah berada di depannya. “Mosshita…” gumamku.

Seungho berhenti memainkan pianonya. “Saki? Bukankah kau sedang bersama Cheolyong?”

Aku tersadar. Segera aku duduk di sebelahnya, kemudian mengambil kertas partitur di depannya. “Dia sedang piket.” Kubaca sekilas kertas partitur tersebut. Sad Memories… Bukankah ini lagu yang dibuatnya beberapa hari yang lalu?

“Tidak membantunya?”

Aku menggeleng. “Ya! Seungho-ssi!” Aku mengembalikan kertas partitur tersebut. “Mengapa kau tidak mengatakan kau bisa bermain piano?”

Seungho tersenyum, kemudian mulai memainkan piano dari awal lagu. “Apakah itu penting?”

Aku menatapnya tajam. Selalu saja begitu. Beberapa bulan sudah aku menjadi dewa pelindungnya. Tetapi dia tetap seperti itu, tidak berubah sama sekali. Tidak pernah sepaham denganku, sedikit pun!

“Saki… Apakah kau dulu seorang manusia juga?”

“Tentu!”

“Lalu bagaimana bisa menjadi dewa pelindung?”

Aku menunduk, mengingat kejadian yang membuat hatiku sakit itu. “Aku meninggal saat menyelamatkan namjachinguku satu tahun yang lalu…” kataku pelan. “Hayashi Kenta… Kami sedang membolos sekolah saat itu. Bermain di sebuah taman, makan es krim, menonton pertunjukkan jalanan… Dan ketika Kenta mengambil pita rambutku yang terjatuh, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju Kenta. Beruntung aku melihat mobil tersebut. Akhirnya aku yang tertabrak, bukan Kenta…”

Seungho masih memainkan lagu tersebut sambil mendengarkan cerita tragisku.

“Sad Memories…” kataku lagi. “Mengapa lagumu pas sekali dengan kisahku, hah?”

Seungho tersenyum kecil. “Kau sudah menjadi dewa, apakah masih bisa jatuh cinta?”

“Tentu saja! Karena itu ada larangan untuk tidak jatuh cinta pada manusia, atau kami akan… Lenyap.”

Seungho mengangguk. “Lenyap? Menakutkan sekali.”

“Sebenarnya ada satu larangan lagi. Tetapi aku tidak akan ceroboh melakukannya.”

“Apa?”

Aku melihat ada seseorang di balik lubang pintu. Mengapa aku tidak menyadarinya? Sejak kapan dia berada di sana? Dia pasti melihat Seungho sedang berbicara padaku.

Karena aku tidak ingin dia menganggap Seungho gila karena bicara sendiri, aku segera berdiri, bersiap terbang meninggalkannya. “Berhenti bicara padaku, Seungho-ssi. Cheondung ada di balik pintu, mengintip…”

***

Puk.

“Mir… Ireona…” bisikku. Kutepuk pipinya perlahan untuk membangunkannya. Tadi malam member MBLAQ sedang mempersiapkan comeback mereka hingga larut. Tidak heran jika sampai pukul 8 dia belum bangun.

Mir membuka matanya perlahan. “Ah, Saki… Apakah sudah pagi?”

Aku mengangguk. “Cepat mandi dan bersiap menuju studio!”

Setelah Mir bangun dan menuju ke kamar mandi, aku segera terbang menuju kamar Seungho untuk membangunkannya. Dia tidur seperti bayi, benar-benar terlihat polos dan tanpa dosa.

“Seungho-ssi, ireona…” kugoyangkan tubuhnya perlahan. Aku tidak berani menyentuh pipinya seperti membangunkan Mir. Dia akan sangat marah.

“Ya~ Jika tidak segera bangun kalian akan terlambat!”

Tiba-tiba aku merasakan tangan Seungho menarikku. Dalam beberapa detik, aku sudah berada di pelukannya yang masih memejamkan mata. “10 menit lagi, Saki… Tetaplah seperti ini 10 menit saja…”

***

Aku tidak berhenti berdecak kagum memandang salah satu studio penyiaran di Korea ini. baru sekali dalam seumur hidupku, ah, bukan. Aku sudah tidak hidup lagi. Yang pasti, ini adalah kali pertama aku memasuki studio penyiaran. Ini karena MBLAQ.

Hari ini mereka comeback. Seperti biasa, karena bertugas sebagai dewa pelindung Seungho dan Mir, aku harus mengikuti kemana pun mereka pergi. tetapi jika mereka sedang mandi atau melakukan sesuatu di kamar mandi, aku tidak mengikutinya! Sungguh! Karena aku bukan tipe yoja seperti itu…

“Max Changmin!” tunjukku pada Max Changmin. Hari ini dia memakai pakaian berwarna metalik. Dia baru saja keluar dari ruang tunggu untuk melakukan rekaman. “Tampan sekali~ Ini kali pertama aku melihatnya secara langsung… Mengapa aku baru bertemu dengannya ketika sudah menjadi dewa? Aku kan ingin tanda tangannya…”

Seungho tersenyum datar. “Bodoh! Seharusnya kau bersyukur bisa bertemu dengannya meskipun sudah menjadi dewa!”

Aku merengut. Meskipun apa yang dikatakan Seungho benar, tetapi aku menyesal karena bertemu dengannya ketika aku sudah menjadi dewa. Aku mengidolakannya. Dari semua member Tohosinki, atau yang biasa disebut DongBangShinKi oleh masyarakat Korea Selatan, aku sangat mengidolakan Max Changmin. Benar-benar seperti dewa, sangat tampan dan tinggi. Tidak seperti seseorang di sebelahku ini, Yang Seungho. Yang tingginya hanya beberapa saja…

Tetapi, tunggu. Meskipun Seungho tidak setampan Max, mengapa aku merasa sedikit berdebar ketika melihatnya? Dan melihatnya bermain piano, aku pun berdebar-debar. Tidak. Aku tidak boleh menyukai manusia!

Tiba saatnya MBLAQ melakukan rekaman. Aku berdiri di dekat panggung tempat MBLAQ melakukan rekaman untuk comeback mereka. Dengan mata yang tidak berhenti melihat sekitar, karena ini kali pertama aku mengikuti kesibukan seperti ini. Benar-benar teratur dan sangat disiplin. Para kru dan artis pun bekerja sama untuk memberikan penampilan terbaiknya. Aku sangat bersyukur kepada sensei karena mengirimku untuk melindungi dua orang artis sehingga dapat melihat semua yang benar-benar belum pernah kulihat seperti ini.

Pandanganku mengarah ke sebuah lampu tepat di atas Seungho. Lampu itu bergoyang ke kiri ke kanan mengikuti alunan musik MBLAQ. Aku tersenyum. Kupikir para kru benar-benar kreatif karena bisa membuat lampu tersebut menari sesuai irama.

Tunggu. Ada sesuatu yang tidak beres di sini. Jika kru memang kreatif, seharusnya tidak hanya satu lampu saja yang bergerak, tetapi semua!

Tiba-tiba lampu tersebut jatuh. Aku terkejut. Di bawahnya ada Seungho yang sedang bernyanyi. Jika dia tidak segera menghindar, lampu tersebut akan menimpanya. Dengan sekuat tenaga aku berteriak, “Seungho-ssi! Awas!” dan segera berlari menuju Seungho di atas panggung untuk menyelamatkannya. Ku dorong dia agar menjauh dari lampu tersebut, dan aku pun terjatuh di sudut panggung.

Prang!

Hampir saja. Jika aku tidak segera berlari mungkin lampu tersebut sudah menimpa Seungho. Aku memandang Seungho lega. Tetapi, aku merasa sesuatu yang tidak beres lagi di sini. Semua orang melihatku. Ya, mereka melihatku. Aku menoleh, melihat Mir. Dia pun memandangku sedikit terkejut. Aku masih tidak mengerti situasi yang terjadi saat ini, jika salah satu kru tidak mengulurkan tangannya dan bertanya, “Nona, apakah anda baik-baik saja?”

***

Aku tertunduk lemas di atas sebuah batu. Ku pijit bagian kakiku yang terkilir karena mendorong Seungho, dan menangis. Bagaimana bisa ini terjadi padaku? Mengapa aku berubah menjadi seorang manusia? Aku hanya menyelamatkannya! Aku hanya menunaikan tugasku sebagai seorang dewa pelindung!

“Fujioka…”

Suara penuh wibawa memanggilku dari atas sana. Aku tahu, itu adalah suara sensei. Karena itu aku segera mengusap airmataku. “Sensei…”

Sensei menampakkan dirinya di depanku. Aku segera menunduk, memberikan hormat kepadanya. “Kau ingat hal apa yang tidak boleh kulakukan?” tanyanya.

“Tidak boleh mencintai manusia, sensei.” Jawabku. Suaraku terdengar parau karena menangis dan menahan sakit di kakiku.

“Benar. Tetapi sepertinya kau melupakan satu hal lagi, Fujioka Saki.” Sensei tersenyum. “Kau mencintai manusia yang sedang kau lindungi. Karena itu kau akan menjadi manusia.”

Aku terkejut. Jadi aku mencintai Seungho? Dan, tunggu. Sepertinya aku ingat larangan tersebut. Larangan yang ditakuti para dewa pelindung. “Itu artinya aku akan lenyap, sensei?”

Sensei mengangguk. “Aku sudah mengingatkan padamu, Fujioka. Dewa tidak boleh mencintai manusia. Dan kau sudah melanggar larangan tersebut. Tidak akan lama lagi kau akan akan lenyap.” Katanya, kemudian sensei menghilang dari hadapanku.

Tidak! Aku tidak mau lenyap! Apakah aku benar-benar harus hilang dari dunia ini? aku sudah tidak lagi manusia, dan sekarang aku akan menjadi ‘mantan’ dewa pelindung? Tidak!

“Saki!”

Aku menoleh. Seungho dan Mir sedang berlari ke arahku. Di tangan Mir kulihat sebuah kotak P3K untukku. “Kau… Berubah menjadi manusia?” tanya Mir. “Bagaimana bisa?”

Aku tidak mempedulikan pertanyaan Mir. Saat ini yang ada di pikiranku hanya Seungho. Dia sepertinya akan melontarkan pertanyaan yang sama, tetapi Mir lebih dulu menanyakannya padaku. Karena itu dia segera mengambil kotak P3K dari tangan Mir dan mulai memberikan pertolongan pertama padaku.

“Ya! Bagaimana bisa kau berubah menjadi manusia, hah? Sekarang kau bukan dewa pelindung lagi, begitu?”

Aku masih memperhatikan Seungho yang saat ini sedang mengobati kakiku. Dia hanya diam, tetapi wajahnya sedikit khawatir. Sebenarnya aku tahu dia ingin menanyakan banyak hal padaku, tetapi dia tidak bisa mengungkapkannya. Atau mungkin tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya? Karena Seungho yang kukenal adalah Seungho yang sangat-sangat kaku dan tidak begitu terbuka.

Kau tahu, Seungho-ssi? Mengapa aku berubah menjadi manusia? Kau tahu tidak? Dan sebentar lagi aku tidak akan ada lagi di dunia ini. Sebagai seorang manusia, ataupun dewa. Sakit sekali memikirkan hal tersebut. Benar-benar seperti diusir secara paksa. Baru saja aku menyadari bahwa aku mencintai Seungho, tetapi sebentar lagi aku akan lenyap dan tidak akan melihatnya lagi.

Tiba-tiba tangan Seungho yang sedang mengoleskan sesuatu di kakiku yang aku tidak tahu apa itu, perlahan-lahan menembus tubuhku. Dari dalam tubuhku pun sedikit demi sedikit mengeluarkan cahaya yang sangat terang, membuat Mir dan Seungho memejamkan matanya karena merasa silau. Airmataku menetes. Sepertinya saatnya sudah tiba.

“Saki!” teriak Seungho.

Aku berusaha tersenyum. “Ingat satu hal yang akan membuatku lenyap yang belum kuceritakan padamu?” tanyaku padanya. Perlahan-lahan kakiku sudah tidak ada. “Mencintai manusia… Manusia yang kulindungi.”

Mir terkejut. Begitu pula Seungho.

“Kurasa waktuku tidak banyak lagi. Aku hanya akan mengatakan ini sekali saja, Seungho-ssi. Jadi dengarkan baik-baik. Aku mencintaimu. Aku tidak tahu sejak kapan, dan bagaimana. Tetapi sensei bisa merasakannya, dan saat aku menyelamatkanmu, adalah saat dimana aku menyelamatkanmu dengan rasa cinta, bukan rasa ingin melaksanakan tugas sebagai dewa. Aku tahu itu tidak benar, tetapi aku sendiri tidak bisa mengendalikan perasaanku karena aku tidak menyadarinya.

Seungho-ssi. Jadilah leader yang baik. Berlatihlah lebih keras dan lindungi para member. Terbukalah pada mereka. Dan kau Mir, jadilah maknae yang baik! Jangan pernah menghindar dari tugas!” Separuh tubuhku mulai menghilang, membuatku tersenyum lagi. “Kalian berdua, terimakasih telah memberikan sesuatu yang indah untukku sebelum aku lenyap. Benar-benar artis yang hebat. Aku yakin kalian akan menjadi artis yang besar. Semoga suatu saat nanti kita bertemu lagi.”

Aku memandang Seungho untuk yang terakhir kalinya. Setidaknya kali ini aku masih bisa melihatnya, tidak seperti saat aku meninggal dan tidak bisa melihat Kenta. Ini terakhir kalinya, aku tidak akan melihatnya lagi padahal baru saja kusadari aku mencintainya.

“Selamat tinggal. Aku mencintaimu…”

***

Tokyo… December, 2101.

“Takashi-san! Bagaimana dengan ini?” Aku memberikan sebuah mantel berwarna hitam untuk Takashi, teman satu kelasku. Saat ini kami sedang berada di pusat perbelanjaan di daerah Tokyo.

Takasih tersenyum. “Tidak buruk juga. Tunggu di sini. Aku akan mencobanya.” Katanya sambil berlari menuju kamar ganti.

Aku memandangnya sejenak, kemudian kembali memilihkan mantel untuknya.

Bug.

Aku menoleh. Seseorang berpakaian serba hitam terjatuh tepat di depanku. Aku segera membantunya berdiri. “Tuan. Apakah anda baik-baik saja?” tanyaku.

Dia mengangguk. “Terimakasih.” Ucapnya menggunakan bahasa korea. Kemudian dia membuka kacamata hitamnya perlahan. “Nona tahu dimana tempat ini? Aku tersesat.”

Aku terkejut. Sepertinya aku mengenal orang ini. Siapa dia?

“Nona?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng lemah. “Tuan, saya tidak mengerti bahasa Korea…”

Dia mengerutkan keningnya, tetapi kemudian tersenyum. “Ah! Pasti anda tidak mengerti perkataanku! Kalau begitu, terimakasih!” kemudian dia menunduk, dan segera meninggalkanku.

Aku masih memperhatikannya meskipun dia sudah menghilang dari pandanganku. Tuan itu… Siapa dia? Aku merasa sangat mengenalnya…

Korea, ya. dia orang Korea. Tetapi ada apa dengan Korea? Aku merasa sangat dekat dengan Korea…

“Shizuka-san!”

Aku menoleh. Takasih keluar dengan mengenakan mantel yang kupilihkan. “Bagaimana? Bagus tidak?”

Aku tersenyum. “Pantas sekali.”

“Baiklah, aku akan membelinya!” Takasih mengeluarkan dompet dari celananya. “Tunggu di sini!” kemudian dia pergi menuju kasir.

Aku sebuah kertas yang terjatuh dari saku celana Takasih ketika dia mengambil dompetnya tadi. Aku segera berjalan mengambilnya. “Apa ini?” Kubuka perlahan sebuah kertas tadi. Kertas yang hanya bertuliskan dua kata, tidak ada yang lain. “Seungho MBLAQ…”

Tiba-tiba pikiranku menuju pada pria Korea tadi. Mengapa aku merasa seperti ada sesuatu di antara pria tadi, aku, Seungho MBLAQ, dan Korea? Siapa itu Seungho MBLAQ?

Aku berusaha mencari tahu ke seluruh file di ingatanku yang berhubungan dengan Korea, Seungho MBLAQ, pria tadi, dan aku. Tetapi semakin lama aku mencari, semakin aku yakin bahwa aku tidak mempunyai file berhubungan dengan itu. Selama 16 tahun aku hidup, aku tidak pernah sekali pun mengenal hal tersebut. Bahkan aku tidak pernah pergi ke Korea sama sekali!

Apa karena kehidupan sebelum aku?

Reinkarnasi… Mungkin kehidupan sebelumku mengenalnya…

Tetapi apakah reinkarnasi itu ada?

Lalu, apa lagi jika bukan reinkarnasi?

Karena aku merasa, meskipun aku sudah menelusuri semua hal yang kualami selama 16 tahun aku hidup di dunia ini, aku menemukan sesuatu yang jauh di dalam sana, jauh sekali dalam ingatanku. Aku mengenal nama Seungho MBLAQ itu…

-END-

15 thoughts on “Away #2

  1. Malang bgt nasib dewi saki,, hrs lenyap krn dy mncntai manusia….
    eh itu tahun 2101 brrt shizuka reinkarnasi saki…
    seungho mblaq ttp jd seungho mblaq….

  2. aduh,gak ad yg bs nolak yang chopin kl dy udh main piano :)

    tp aq bingung sm ending(atw epilog y?) itu thn 2101,gak mgkin dong seungho msh idup,kec dy ber reinkarnasi jg kyk saki..

    Mdh2an ff ini brlnjt thor,aq msh penasaran

  3. whoaa, seungho >//<
    ih bikin afstor nya ato gk another story ttg mereka berduanya sih thor…. pweaseeee…bagus bgt soalnya T^T

  4. aa~
    kaya’a yg anak laki itu turunan seungho deh, seungho itu kakek’a ato siapa, terus cerita soal saki.. si kturunan itu pgn tau trus pegi k’jpg
    jadi kisah cinta’a dlanjut d’masa slanjutnya
    *reades SOK tau*
    mian..
    cerita’a bagus >,<
    kirain pas jadi manusia itu dkasi waktu gt brapa lama buat bareng2 ma seungho, tau'a langsung ngilang

  5. yahh ko ending? pdhal udh ngarep mreka bertemu kembali,, hhuhu TT
    pinginnya mereka bareng lagi sihh,, ya tapi apa boleh buat, wktu telah memisahkan mreka (?)

  6. Admin kok abiss sih.. pdhal pengen lagii.. mnurut aku critanya keren, bagus, dan mudah di phami dan satu lagi gag bikin bosen.. :D

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s