15

Away #2

Away #2

Rumah sedang kosong. Tidak kutemukan satu orang pun di dalamnya. Setelah meletakkan komik di meja Mir, segera aku terbang menuju studio tempat MBLAQ biasa berlatih. Seungho pasti ada di sana bersama Cheondung dan Byunghee.

Kuintip ruang latihan MBLAQ, memastikan apakah aman masuk ke dalam sana. Masih ingat ‘tragedi kamar Seungho’ bukan? Aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Sebenarnya saat itu aku tidak melihat ‘itu’. Aku berani bersumpah. Yang kulihat saat itu hanya…

Ah! Lupakan saja!

Di sana, duduk di kursi sebuah piano. Sendirian, sambil sesekali melihat kertas di depannya. Sebuah nada sederhana mengalun merdu memenuhi ruangan yang kosong tanpa seorang pun kecuali dia. Melodi yang sangat indah.

Dia, Yang Seungho. Seseorang yang duduk di kursi sebuah piano tersebut.

Baru kali ini aku melihatnya bermain piano. Benar-benar seperti seorang pemain yang andal. Jari-jarinya menari di atas tuts berwarna hitam putih tersebut dengan lincah. Aura bintangnya terpancar. Seolah-olah dia ingin mengatakan bahwa dialah Leader MBLAQ, Yang Seungho.

Dan, dia sangat tampan dan keren.

Tanpa kusadari aku sudah berada di depannya. “Mosshita…” gumamku.

Seungho berhenti memainkan pianonya. “Saki? Bukankah kau sedang bersama Cheolyong?”

Aku tersadar. Segera aku duduk di sebelahnya, kemudian mengambil kertas partitur di depannya. “Dia sedang piket.” Kubaca sekilas kertas partitur tersebut. Sad Memories… Bukankah ini lagu yang dibuatnya beberapa hari yang lalu?

“Tidak membantunya?”

Aku menggeleng. “Ya! Seungho-ssi!” Aku mengembalikan kertas partitur tersebut. “Mengapa kau tidak mengatakan kau bisa bermain piano?”

Seungho tersenyum, kemudian mulai memainkan piano dari awal lagu. “Apakah itu penting?”

Aku menatapnya tajam. Selalu saja begitu. Beberapa bulan sudah aku menjadi dewa pelindungnya. Tetapi dia tetap seperti itu, tidak berubah sama sekali. Tidak pernah sepaham denganku, sedikit pun!

“Saki… Apakah kau dulu seorang manusia juga?”

“Tentu!”

“Lalu bagaimana bisa menjadi dewa pelindung?”

Continue reading