Grave Diggers [3]

Grave Diggers [3] : Minhyuk

Main Character(s): CN Blue

Other character(s): SNSD (Seohyun, Jessica), Infinite (L, Woohyun, Sungjong)

Genre: friendship, angst, tragedy

Rating: R, untuk kekerasan, obat-obatan, kehidupan malam, dsb.

 

Inpired by CN Blue’s Intuition.

Masterlist

 

 

Malam itu seperti sebelum-sebelumnya, empat sosok muncul dari balik kegelapan. Suara deru motor memecah keheningan, mengintimidasi pejalan kaki yang cepat-cepat menyingkir dari jalanan. Empat motor berhenti di parkiran sebuah klub. Masing-masing membuka helm dan menatap target mereka malam ini.

 

“Ini tempatnya?”

Minhyuk mengangguk.

 

 

Mereka masuk ke dalam klub itu. Keempatnya menggunakan pakaian mahal yang membuat penjaga di pintu depan mengizinkan mereka masuk tanpa ragu. Segera mereka berpencar, Jonghyun ke lantai dua, Yonghwa ke bar, Jungshin ke bagian belakang klub, dan Minhyuk naik ke tempat DJ.

 

Minhyuk menyapa DJ yang sedang bertugas. Minta lagu yang lebih keras lagi, rikuesnya pada DJ itu, yang disanggupi dengan dua acungan jempol. Minhyuk tersenyum berterima kasih. Ia tetap berdiri di sana sebentar, memperhatikan bagaimana music yang awalnya sudah cukup keras kini semakin menjadi-jadi. Senyum terkembang di wajahnya.

 

Tangannya bergerak-gerak di dekat speaker, tersembunyi di tengah kegelapan dan hingar bingar klub. Setelah peledaknya terpasang, ia berjalan keluar dari klub untuk bergabung dengan yang lain.

 

 

 

***

 

 

“Yah, Minhyuk!”

Pemuda yang dipanggil menolehkan kepalanya, nyengir setan saat melihat siapa yang memanggilnya. Ia melambaikan tangannya dan mengangkat sebotol vodka. “Oi, Woohyun.”

“Di mana pacarmu? Biasanya dia menempel terus,” komentar orang yang dipanggil Woohyun sambil mengambil botol vodka dari tangan Minhyuk. Pemuda itu menenggak vodka sebelum merangkul temannya.

 

Minhyuk menggeser kursinya, memberikan tempat untuk pemuda yang baru datang itu. Ia merebut kembali botolnya dan ikut menenggak isinya. Matanya tertutup, tak peduli sudah berapa banyak alkohol masuk dalam pembuluh darahnya. Ia meletakan botolnya di atas meja bar dengan keras. “Ada pesta di rumah Menteri Jung.”

“Lalu kau sedang apa di sini? Mustahil kau tak diundang.”

“Orang tuaku ada di Seoul,” jawabnya singkat. Ia tahu bahwa temannya itu mengerti soal hubungannya yang buruk dengan orang tuanya sehingga ia tidak perlu menjelaskan lebih rinci.

“Oh, semoga mereka cepat pergi lagi.”

“Jadi maksudmu kau senang melihatku ditelantarkan kedua orang tuaku?”

Easy, Minhyuk, kau mabuk, ya?” tanya Woohyun dengan kening  berkerut, “Aku hanya berasumsi kau akan lebih senang kalau mereka tidak ada.”

“Aku akan senang kalau mereka pulang karena peduli padaku, bukan karena satu pesta tolol.”

Woohyun hanya bisa menepuk bahu temannya itu, bersimpati. Sudah bertahun-tahun dan tetap satu ini saja masalah Minhyuk. Memiliki dua orang tua yang lebih mengutamakan perusahaan dan posisi mereka di masyarakat dibandingkan darah daging mereka sendiri.
Minhyuk meneguk gelasnya dan berujar singkat untuk mengalihkan perhatian dari soal orang tuanya, “Mana Myungsoo? Dia berhutang satu botol padaku.”

“L? Entahlah, ada urusan keluarga sepertinya, sih, Sungjong juga tidak ada,” jawab Woohyun sambil mengangkat bahu. Karena memang Myungsoo dan Sungjong adalah sepupu, Minhyuk tidak heran dengan alasan itu. Meskipun ia tetap tidak begitu suka melihat kedekatan mereka. Mungkin ia hanya iri karena tidak memiliki keluarga yang seperti itu. Mungkin hidupnya akan sedikit berbeda jika ia memiliki kakak atau adik.

Ia merasakan kepalanya bertambah ringan, meskipun belum cukup untuk membuatnya mabuk. Dua botol lagi dan akhirnya Minhyuk tumbang.

 

***

 
“Jagiya, kenapa kau tidak datang kemarin?”

Minhyuk menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, memijat kepalanya yang pening. Hangover adalah bagian terburuk dari pagi hari. Terutama ketika di atas dentuman dalam kepalanya, ia masih harus mendengarkan suara tinggi milik pacarnya. Ia menahan diri untuk tidak mengerang dan justru bicara pada teleoponnya, “Maaf, Seohyun, aku ada perlu kemarin.”

“Aku kecewa sekali, padahal aku ingin memamerkanmu pada orang-orang,” Minhyuk memijat pelipisnya, tatapannya yang tak fokus tertuju ke langit-langit kamar, “Ibu juga menyesal tidak bisa bertemu denganmu.”

“Maaf. Tolong sampaikan salamku padanya.”

“Aku juga bertemu orang tuamu tadi. Mereka juga tidak tahu kau ada di mana. Aku khawatir tahu.”

“Ah,” suara pemuda itu melembut, “maafkan aku, Seohyun.”

“Ya, sudahlah, apa boleh buat… Meskipun aku sedikit kesal, bukan padamu, tapi Jessica. Dia datang bersama pacar barunya, pewaris perusahaan Lee.”

“Dan kau kesal karena?”

“Aku hanya tidak suka melihat dia memperlakukan pacarnya seperti trophy begitu,” Minhyuk mengangkat alisnya mendengar kata-kata itu, “Kau tahu aku tidak akan melakukan itu padamu bukan?”

“Tentu saja, Seohyun,” ujar si pemuda, meskipun agak sangsi, lebih terdengar seperti usahanya untuk meyakinkan dirinya sendiri. Tapi tetap saja, ia merasa sedikit senang mendengar kata-kata perempuan itu. Setidaknya ia memiliki seseorang yang benar-benar membutuhkannya. Ia baru mau membuka mulut untuk mengajak gadis itu pergi ke restoran Italia favorit mereka, sebagai ganti karena ia tidak menemaninya ke pesta.

 

 

“Seohyun—“

“Ah, ada telepon dari Jessica. Kami mau belanja bersama malam mini. Ada midnight sale di COEX. Sampai nanti, oppa. Saranghae.”

 

Minhyuk mengedipkan matanya, kesulitan menerima informasi yang dituturkan sangat cepat oleh pacarnya itu. Ia hanya menjawab”Love ya’ too.” Otomatis sebelum nada diputus terdengar. Sepertinya memang begitu sifat perempuan kalau sudah menyangkut sale.

 

 

Ia melemparkan teleponnya asal dan membenamkan wajahnya dalam bantal. Entah kenapa semakin lama ia merasa semakin jauh dengan Seohyun. Ia menyukai gadis itu, siapa yang tidak? Cantik, pintar, perhatian, lembut, berasal dari keluarga terpandang, benar-benar calon istri yang diinginkan oleh kedua orang tuanya. Pertama kali ia bertemu dengan Seohyun di salah satu pesta, ia langsung tahu bahwa gadis itu sudah ditakdirkan untuknya.

 

Pemuda itu merenggangkan tangannya, mencari-cari telepon yang ia lempar tadi. Jarinya berkutat di atas keypad, berusaha menekan tombol yang benar dengan satu mata masih tertutup bantal.

 

“Yoboseyo?”

 

“Hei, Myungsoo,” sapa Minhyuk, menggulingkan tubuhnya hingga kini menatap langit-langit kamarnya, “kau sibuk malam ini?”

 

 

***

 

 

“Aku tersanjung bisa menemanimu sekarang, biasanya kau mengajak Woohyun-hyung duluan.”

 

Minyuk mengangkat bahu. Ekspresi di wajah Myungsoo itu, seperti biasa, selalu sulit ditebak. Ia tidak tahu apakah kalimat barusan bermaksud menyindir atau tulus. Ia meneguk tequila dari gelasnya dan mencari jawaban aman, “Kita sudah lama tak bertemu.”

 

“Hm…” biarpun ekspresi Myungsoo tidak berubah, ia langsung tahu bahwa jawabannya tidak memuaskan temannya itu.

 

“Oke, sejujurnya aku mengajakmu karena Woohyun tidak menjawab teleponku,” jawabnya jujur dengan pasrah. Mereka berdua sama-sama tahu walaupun mereka seumuran, Minhyuk lebih dekat dengan Woohyun sedangkan Myungsoo lebih dekat dengan Sungjong. Itu sebuah fakta yang tidak perlu ditutup-tutupi. Ia menambahkan dengan nada bercanda, “siapa yang sudi bertemu denganmu kalau ada pilihan lain?”

 

“Oh.”

 

“Bercanda L, kau salah satu sahabatku juga.”

 

“Aku tahu,” seringai percaya diri muncul di wajah Myungsoo, membuat Minhyuk memutar bola matanya. Ia seharusnya tahu bahwa orang seperti Myungsoo bukan tipe yang melankolis dan akan merasa sakit hati dengan candaan macam tadi.
Minhyuk berdeham, mengalihkan pembicaraan, “Bagaimana urusanmu dan Sungjong?”

“Begitu saja,” jawab pemuda berambut hitam itu sambil mengangkat bahu, “ada pertemuan keluarga besar sesuatu, kami berdua diminta jadi representatif.”

 

“Hm, kalian penting juga, ya.”

 

Myungsoo mengangkat bahu.

 

 

“Oh, kemana Seohyun?”

 

“Belanja dengan Jessica. Dasar perempuan,” jawab Minhyuk dengan senyum kecil dan gelengan kepala. Sekalipun ucapannya seperti itu, dia mengucapkannya dengan sayang. Bagaimanapun, ini Seohyun, pacarnya dua tahun terakhir, yang mereka bicarakan.

 

“Heh,” dengus Myungsoo sebelum menunjuk ke satu arah dengan dagunya, “perempuan di sana mirip Seohyun. Wajahnya pasaran juga, ya.”

 

“Apa, kau hanya cemburu karena tidak punya pacar,” kekeh Minhyuk, meninju pelan bahu Myungsoo.

 

 

“Kenapa aku harus cemburu?”

 

“Kenapa, ya… Karena memiliki pacar yang cantik dan bisa dibawa ke acara-acara itu menyenangkan?”

 

“Membawakan belanjaannya, mendengarkannya berceloteh tentang hal-hal tidak penting, harus menerima keluhannya untuk setiap kesalahan yang kau perbuat… Tidak terdengar menyenangkan.”

 

Minhyuk tersenyum kecut meskipun sedetik kemudian cengirannya yang biasa sudah muncul lagi di wajahnya, Ia menggoyangkan gelasnya di depan muka sahabatnya. “Lalu Minah bagaimana? Kudengar dia tergila-gila padamu. Dia cantik.”

 

“Dia berisik, suaranya bikin sakit telinga. Muka standar, Sungjong saja masih lebih cantik dari dia,” jawab Myungsoo ringan seperti mengomentari cuaca. Wajahnya datar seperti biasa, membuat Minhyuk bertanya-tanya bagaimana bisa ada orang sedingin ini.

 

“…antara kau terlalu jujur atau terlalu jahat.”

 

“Biasa saja, Aku hanya mengatakan fakta.”

 

“Terserah deh, kamu homo-an saja dengan Sungjong sana.”

 

Myungsoo menatap hyung-nya dengan tatapan yang seolah mengatakan ‘apa kau gila?’ sebelum akhirnya dia menggelengkan kepalanya dan menyerah. Reaksi yang sedikit membuat Minhyuk kecewa meskipun ia tahu begitulah sifat Myungsoo. Di saat-saat beginilah ia merindukan Woohyun yang jauh lebih ekspresif dan menyenangkan dibandingkan Myungsoo.

 

 

“Tapi perempuan di sana benar-benar mirip dengan Seohyun…” ujar Myungsoo lagi, kali ini dahinya mengerut. Perasaannya tidak enak, “dia benar-benar sedang belanja?”

 

Minhyuk mendengus, ia mengangkat kepalanya dan menatap sahabatnya itu dengan wajah mulai kesal, “Tentu saja, untuk apa dia bohong padaku?”

 

“Untuk—itu.”

 

 

Minhyuk akhirnya menolehkan kepalanya ke salah satu sudut bar yang ditunjuk oleh Myungsoo. Awalnya ia tidak dapat menemukan siapa yang dimaksud temannya itu. Kemudian—ia mati. Di sana ia melihat gadis yang disayanginya itu mencium lelaki lain. Ia merasa lemas. Tidak mungkin.

 

Ia berusaha untuk berdiri, melangkah ragu-ragu ke arah pasangan itu.

 

 

“Seohyun, aku—jangan lakukan ini, bagaimana dengan Minhyuk?” ujar yang laki-laki, berusaha mendorong bahu perempuan itu meskipun tanpa hasil. Seohyun mengalungkan lengannya di leher laki-laki itu, menariknya mendekat.

 

“Woohyun,” ujar gadis itu dengan wajah sedikit sebal, “kau kan tahu aku hanya berpacaran dengannya karena ia pewaris perusahaan Kang.”

 

“Bukan itu masalahnya, dia temanku!”

 

“Ya, ya, pertama kali kita berciuman berbulan-bulan lalu juga kau bilang begitu. Setelah itu sudah berapa kali?” tanya Seohyun sinis.

 

“…Seohyun,” desah pemuda itu. Ia masih tampak bersalah meskipun ia akhirnya membalas ciuman gadis itu. Ia meletakan kedua tangannya di pinggul gadis itu, menariknya mendekat.

 

“Hm… Lagipula kau juga berteman dengannya hanya karena ia kaya,” gumam Seohyun

 

 

Minhyuk merasakan lengan melingkari bahunya tepat di saat kakinya lemas dan ia hampir jatuh. Adegan tadi terus berulang di kepalanya. Ia terhuyung-huyung, hanya bisa berdiri karena bantuan lengan Myungsoo. Pada akhirnya ia tidak punya siapapun untuk dipercaya.

 

 

 

***

 

“Oi, kau tidak apa-apa?”

 

Mata pemuda itu berkedip. Kilasan memori yang berkelebat di dalam kepalanya mendadak buyar. Minhyuk menatap sekelilingnya, suara ledakan keras dan kobaran api dari salah satu bangunan mengingatkannya tentang apa yang sedang ia lakukan. Ia menolehkan kepalanya ke arah temannya yang memanggil tadi.

 

“Superb!” jawab Minhyuk cengengesan sambil memberikan hormat kepada Jungshin. Ia melompat berdiri dan menarik tangan laki-laki yang lebih muda darinya beberapa bulan itu ke arah teman-temannya yang lain. Tempat di mana ia seharusnya berada: CN Blue.

 

 

“Kenapa kau?” tanya Yonghwa ketika Minhyuk mendekat, mengacak-acak rambut pemuda yang lebih muda dua tahun darinya.

 

“Tidak ada apa-apa,” jawab Minhyuk menyunggingkan senyum lebar, menyampirkan lengannya di bahu Jonghyun, “Hyuuung~”

 

Jonghyun memutar bola matanya namun tidak bergerak untuk menyingkirkan rangkulan di bahunya. Senyum di wajah Minhyuk melebar dan ia melepaskan rangkulannya pada Jonghyun, melesat ke samping Jungshin dan berjinjit sedikit agar bisa menyampirkan lengannya di bahu sang magnae kemudian mengguncang-guncangnya sampai Jungshin harus berseru ‘hei!’ dan Yonghwa terbahak melihat ekspresinya.

 

 

“Kurasa lain kali kita harus memakai peledak yang lebih heboh lagi. Sekalian kembang api.”

 

 

“Kau mau meledakan bangunan atau menonton festival, Minhyuk?”

 

 

 ______________

Sorry for the super late update. Mungkin udah banyak yang lupa sama cerita ini, tapi well, Grave Diggers [3] akhirnya muncul. Dan, berhubung udah lama nggak update cerita lagi, sekalian aja langsung post tiga cerita. Selain GD[3] ini ada Fortress (oneshot Jonghyun/Hyoyeon dari Marionette Syndrome) dan Path to Valhalla (Khuntoria). Klik link (masterlist) di atas aja :D


12 thoughts on “Grave Diggers [3]

  1. saya suka gaya penulisan author…

    Susah dideskripsikan, tapi langsung nancep ke hati…

    Beneran deh, saya suuukaaa gaya bahasanya…

  2. Kurang panjaaaaaaang. Gak diceritain akhirnya minhyuk abis nge gap seohyun kaya gmn hhu part selanjutnya jgn lama2 yaaaaaah :)

  3. WESDAN~ keren!!
    143 Yonghwa-pa & Jonghyun-pa :)
    Daebak! Sadaaap [o-0]

    Knp sih pst k club trs?! Hrs’a k mesjid oppa tarawehan!! =]
    Macoooss lah poko e @_@
    LANJUUTTT!!

  4. Ya ampuuuun author kejaaam aku menanti bertahun tahun thor *lebaaaay* hahaha akhirnya keluaaar!!
    Jadi gara2 ga ada orang yg sayang sama dia sma gara2 dihianati pacarnya ya minhyuk jd gitu hmm..
    Next jungshin!! Jangn lama2 plissss huhuhuu
    Smangat ya authoor aku selalu menanti karyamu, keren! Suka tema yg diambil soalnya daebak! xD

  5. Eh……ini tumben si seo gak di pairing ma yonghwa(aku blom tw pairing dsni)
    wlopun singkat bgt,tp ttp keren…daebak!:)

  6. heeei,lama rasanya q nunggu ini ff -___-
    tapi keren deh,tapi myungsoo aslinya nggak jahat kan?
    Minhyuk kasian deh .___.
    akhirnya dia kerja di klub juga ta?
    perasaan doang ato emang ni rada kependekan ya? #readercerewet
    nggak sabar buat chapter lainnya :)

  7. akhirnya FF yang aku tunggu dari kemarin-kemarin muncul juga! Kangen nih sama ni FF.
    Masih bagus seperti biasa, tapi pendek bangeet:( terus agak gantung dibagian seohyun ketahuan selingkuh.
    Next part jangan lama-lama yah :))

  8. author, part jungshin manaa…? *kaya’ penagih hutang
    ah~ kenapa aku ga bosen-bosen baca fanfic ini…….. fanfic author bagus!

  9. CNBlue, mereka disini adalah tokoh yang kuat! mereka semua tersakiti tapi bisa bangkit :) aku suka semuanya dari cerita ini :) dari segi kepenulisannya sampe ke ide ceritanya :) ^^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s