Fortress

Fortress (Marionette Syndrome spin off)
Main Character(s): Lee Jonghyun (CN Blue), Hyoyeon (SNSD)
Other Character(s): Tiffany (SNSD), Kang Minhyuk (CN Blue), Gyuri (KARA)
Rating: G

[masterlist]

 

“Hyoyeon, berita besar! Berita besar!”

Agen wanita yang sedang menghadap komputernya menoleh pun tidak. Sore hari adalah saat tersibuk untuknya, ia harus menyelesaikan laporan untuk hari ini dan sama sekali tidak ada waktu untuk mendengarkan ocehan Tiffany. Hyoyeon berlagak tidak mendengar panggilan temannya itu dan tetap menekuni pekerjaannya.

“Kau tahu, Jonghyun mendapat partner baru!”

Ia menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Selalu, tiap ada kabar terbaru tentang Lee Jonghyun, Tiffany selalu tahu, entah lewat mana. Kabar tertidak penting sekalipun (seperti saat Jonghyun pindah meja) Tiffany merasa perlu untuk memberitahunya.

“Seorang agen wanita baru yang sangat, sangat cantik dan seksi!”

“…”

 

“Ah,” ujar Hyoyeon saat ia salah mengetikan kata. Ia menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi dan memutar kursi untuk menatap temannya itu. “Tiff, jangan berteriak di ruangan.”

Gadis yang dipanggil Tiffany mengibaskan rambutnya dengan wajah puas. Ia berkacak pinggang dan membungkukan tubuhnya agar pandangannya sejajar dengan Hyoyeon yang duduk. “Karena sifatmu yang cuek seperti ini, aku khawatir Jonghyun akan kabur dengan partnernya.”

“Siapa yang peduli?” Tanya Hyoyeon sarkastis sebelum memutar kembali kursinya menghadap komputer. Secantik apa partner Jonghyun, atau sebagus apa badannya, itu semua bukan urusan Kim Hyoyeon. Sama sekali bukan urusannya.

 

 

***

 

Tiap jam 7 malam, waktu pulang kerja Hyoyeon jika yang bersangkutan tidak lembur, Jonghyun selalu mengirimkan pesan singkat. Apa sudah selesai bekerja, mau dijemput, atau bagaimana jika makan malam bersama dulu. Kebiasaan yang bagi Hyoyeon sudah menjadi bagian dari ritual kesehariannya meskipun awalnya dia sempat merasa terganggu karena tidak suka kalau ia terlalu dikekang.

Bagian dari ritual kesehariannya.

 

Fakta yang perlu diperhatikan di sini adalah Hyoyeon seorang yang sangat teratur dan terjadwal. Satu hal kecil dalam rutinitasnya terlewat, entah itu secangkir kopi di pagi hari atau lupa menyiram tanaman pot di apartemennya, ia bisa marah-marah seharian. Jadi, ketika waktu menunjukan pukul tujuh lewat sepuluh dan lampu telepon genggamnya tidak bergeming…

 

“Hyoyeonnie, mau ikut makan?”

“Berisik. Kalian tidak lihat aku sedang sibuk begini?” Sentaknya keras, matanya menyipit menatap dua rekan kerjanya yang tidak bersalah. Mereka menggumamkan maaf tidak jelas dan segera pergi. Meninggalkan Hyoyeon yang mendesah keras. Ia melirik ke telepon genggamnya.

Playboy sialan itu…

 

Piip piiip.

Mata gadis itu melebar. Ia cepat-cepat meraih teleponnya, menahan nafas tanpa sadar.

 

‘Hei, agen spesial NIS Kim Hyoyeon. Sudah selesai? Mau makan di tempat biasa?

Aku menunggumu.
J.’

“Dasar seenaknya,” gumamnya. Hyoyeon membereskan dokumen-dokumen di atas meja dan mengambil tas kulit hitamnya. Ia bersenandung pelan saat keluar dari gedung.

 

***

 

“Oh, Hyoyeon!”

 

Gadis yang dipanggil menolehkan kepalanya. Restoran itu cukup ramai, tempat masakan meksiko yang sedang santer dibicarakan. Jonghyun adalah penggemar masakan meksiko, alasan utama kenapa ia selalu menyeret Hyoyeon ke tempat ini. Hyoyeon sendiri tidak suka pilih-pilih makanan jadi ia terima saja. Lagipula tempat itu cukup nyaman dengan suasana yang homey.

Agen itu merapikan blazer yang dipakainya dan berdeham. Ia berjalan ke arah suara yang memanggilnya tadi, ke arah meja mereka yang biasa. Ke arah Jonghyun yang… Duduk bersama seseorang.

 

“Hei, kuharap kau tidak keberatan Gyuri ikut, dia baru di sini dan belum tahu tempat-tempat makan yang enak.”

Annyeong,” ujar gadis berambut pirang itu. Wajah blasteran dan bibir yang tersenyum itu; Hyoyeon merasakan aura jahat keluar darinya. Ia tidak suka perempuan itu.

Ia melirik sekilas kemudian menoleh ke arah Jonghyun, tidak menggubris gadis itu. “Aku lapar.”

“Ya pesan saja, aku dan Gyuri sudah memesan duluan tadi.”

 

Kerutan di dahi Hyoyeon semakin jelas. Ia duduk di salah satu kursi, menariknya dengan kasar. Tanpa perlu melihat menu gadis itu sudah mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pelayan restoran.

“Tacos, burittos sapi, torteilla, dan nachos.”

“Kau makan semua itu?” Tanya perempuan di sebelah Jonghyun dengan takjub. “Aku iri, aku íngin makan sebanyak itu, tapi sayangnya jika aku ingin mempertahankan tubuhku yang seperti ini…”

Hyoyeon menjatuhkan tasnya (yang berisi tumpukan dokumen) hingga jatuh berdebam. Ia membungkuk untuk mengambil tasnya itu, menarik nafas tiga kali untuk menenangkan emosinya yang entah kenapa bergejolak.

 

***

 

“Aaaw, kau cemburu Hyoyeonie? Lucu sekali…!”

“Aku tidak cemburu.”

 

“Terus saja bilang begitu. Kelihatan jelas kok kalau kau cemburu.”

“Aku TIDAK cemburu.”

“Ya, ya, terserah apa katamu saja, Hyoyeonie…” Ujar Minhyuk dengan nada iseng yang membuat Hyoyeon melemparkan tempat pensilnya ke wajah agen laki-laki itu. Ia tahu ia seharusnya tidak menceritakan apa-apa kepada seorang Kang Minhyuk. Beginilah akibatnya, partnernya itu jadi berpikir yang tidak-tidak meskipun Hyoyeon tahu pasti kalau dia tidak cemburu. Buat apa dia cemburu pada seorang perempuan seperti Gyuri yang cantik, pintar, seksi, sukses…

 

 

“Berisik,” gerutu gadis itu.

“Akui sajalah, kau marah-marah terus sejak makan bersama hyung dan Gyuri noona.”

“Dia bilang begitu padamu?” Gadis itu berhenti sesaat, sebelum alisnya berkerut, “dan kenapa kau memanggilnya noona? Kau tidak pernah memanggilku begitu.”

“Kau tidak pernah bertingkah dewasa, sih,” ujar Minhyuk menahan tawa, semakin kesulitan ketika mendengar Hyoyeon menggerutu sesuatu yang terdengar seperti ‘dasar bocah’. Ia menggelengkan kepalanya, terpana melihat kekeraskepalaan partnernya. Siapa sebenarnya yang bertingkah seperti bocah yang tidak mau mengaku salah.

 

“Omong-omong… Malam ini kau pergi dengan hyung tidak? Besok kan libur.”

“Lalu kenapa kalau besok libur?”

“Biasanya waktu begini dihabiskan dengan pasangan kan? Bukannya minggu kemarin kau dan hyung nonton film bersama? Wajarkan kalau aku berpikir kalian akan pergi lagi.”

“Berisik. Urus Sunny saja sana.”

“Kami memang berencana untuk pergi makan malam.”

“Wow,” ujar Hyoyeon datar.

“Iri? Hehehe,”

“Kenapa aku harus iri?”

 

“Hyoyeonie, caramu berkelit dengan balas bertanya itu sudah basi. Aku sudah bisa menebak bagaimana perasaanmu yang sebenarnya.”

“Tidak usah sok tahu. Kembali bekerja, bocah. File-file itu tidak akan selesai dengan sendirinya.”

“Ya, ya…” Ujar Minhyuk dengan nada malas. Ia kembali duduk di kursinya sendiri. Meskipun ia masih sempat melirik ke arah partnernya untuk yang terakhir kali, “kau harus jujur pada perasaanmu sendiri, kalau kau begini terus entah sampai kapan hyung akan tahan denganmu.”

Lalu kenapa memangnya, dari awal yang mendekatinya duluan kan Lee Jonghyun itu. Justru bagus kalau ia tidak diganggu lagi, ia jadi bisa fokus pada pekerjaannya. Tidak akan ada lagi pesan mendadak di tengah rapat, atau panggilan di tengah pengintaian, atau ajakan pergi makan malam…

Tidak, ia tidak khawatir.

 

***

 

Minggu pagi, ketika ia mendapatkan hari libur yang langka, saat ia menyantap pancake dengan madu ditemani segelas kopi panas, perasaannya sudah jauh lebih baik daripada hari-hari belakangan ini. Mungkin ia hanya sedang PMS. Bukan masalah besar, sekarang ia sudah siap menghadapi hari kerja besok.

Ia bersenandung pelan, menggigit sepotong pancake sambil mengubah saluran televisi. Ia meletakan remote saat mendapatkan saluran televisi yang memutar acara kartun anak-anak. Tepat pada saat itu bel apartemennya berbunyi. Jam segini memang biasanya tukang susu datang.

Hyoyeon beranjak dari sofanya dan meletakan piring pancakenya di atas meja. Ia menguncir satu rambutnya dan berjalan ke pintu. Ketika ia membuka pintu, butuh beberapa detik untuknya menyadari siapa yang baru saja menekan bel. Gadis itu langsung membanting daun pintu di depan wajah Jonghyun.

 

“Hei! Aku jauh-jauh datang ke sini dan ini sambutanmu?”

“Siapa yang menyuruhmu datang?” balas Hyoyeon keras, “pergi!”

“Hyoyeon!”

“Apa?!”

“Izinkan aku masuk? Please?

 

Hyoyeon menggigit bibirnya, ia sendiri tidak mengerti kenapa melihat Jonghyun membuatnya kesal setengah mati. Padahal sudah lebih dari seminggu mereka tidak bertemu (karena sepertinya Jonghyun sibuk ‘mengurus’ partner barunya yang cantik). Ia mengerucutkan bibirnya mengingat Park Gyuri yang itu, yang bahkan di NIS pun menjadi bahan gunjingan baru.

“Hyoyeon?”

Suara Jonghyun terdengar lebih lembut dan Hyoyeon merasakan pertahanannya runtuh. Ia menghela nafas dan membuka pintu apartemennya, memberikan isyarat kepada Jonghyun untuk masuk. Matanya menyipit dan ia melipat tangannya di depan dada.

 

“Jadi, apa maumu?”

“Bertemu denganmu tentu saja,” ujar Jonghyun enteng, dengan seringai menyebalkannya yang biasa.

“Pfft, pergi saja dengan Gyuri sana.”

Hyoyeon menahan diri untuk tidak menendang benda terdekat dan memusatkan pandangannya pada titik di antara dua mata Jonghyun, membayangkan ia meninju pipi laki-laki itu sekeras-kerasnya. Atau mendorongnya dari balkon lantai 12-nya. Pilihan yang menggoda.

 

Ia sudah siap untuk mendengar protes dari laki-laki itu, atau ejekan lain. Tapi ia jelas tidak siap melihat senyuman di wajahnya. Ia juga sama sekali tidak siap merasakan kecupan kilat mendarat di bibirnya.

“Kau manis sekali kalau sedang cemburu.”

“Siapa yang cemburu!?” Hardik Hyoyeon, berusaha menghapus rona merah di pipinya. Meskipun tampaknya gagal karena senyuman diwajah Jonghyun semakin lebar. Ia menggigit bibirnya dan memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa lagi. Karena tampaknya, apapun argumennya tidak valid di hadapan Jonghyun. Ia menolak untuk membuat cengiran itu semakin lebar.

“Gyuri sudah punya orang yang dia sukai,” ujar pemuda itu sambil mengelus puncak kepala Hyoyeon, “dan aku juga sudah memiliki orang yang kusukai, kalau kau lupa.”

 

Hyoyeon menundukan kepala, meskipun dari rasa hangat di pipinya, ia yakin wajahnya lebih merah daripada sebelumnya.

“Ah, kau benar-benar manis saat seperti ini. Sering-sering cemburu, ya?”

 

 

 

“Tunggu! Siapa yang cemburu?! Aku tidak cemburu!”

 

17 thoughts on “Fortress

  1. beneran sukaaaa sama author lah…

    Ini simple dan manis, ngebuat yang baca ga terasa dan tiba2 habis aja,,,

    kerenkerenkeren

  2. Kaia’a tiffany anak ki jjongbabo mka’a bsa tw ^_^v
    Sabar u hyo pny tmn kaia tiff =_=’
    ISH~ ada gyuri ganggu aje (-.-)

    Gengsian amat sih hyo, ckckckck weleh weleh *-*
    LANJUUUTT! Fighting jonghyun-pa, akyu padamu :)

  3. Kaia’a tiffany anak ki jjongbabo mka’a bsa tw ^_^v
    Sabar y hyo pny tmn kaia tiff =_=’
    ISH~ ada gyuri ganggu aje (-.-)

    Gengsian amat sih hyo, ckckckck weleh weleh *-*
    LANJUUUTT! Fighting jonghyun-pa, akyu padamu :)

  4. hyoyeon lucu bangeeeet bayangin dia gitu gemes sendiri xD
    Kurang panjaaaang aku suka couple ini deh ahaha minhyu-sunny juga boleh dibikinin side story kayak gini thor :p

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s