Away #1

selamat puasa~~~ selamat puasa~~~

mohon maaf jika L~ banyak salah~~~

happy reading, special for A+, love ya all ^^

Away #1

 

“Fujioka Saki. Sudah saatnya kau turun ke bumi untuk menjadi dewa pelindung…”

***

Bug.

Tubuhku terjatuh dekat pintu sebuah apartemen. Benar-benar pendaratan yang buruk. “Eh? Dimana ini?” Aku melihat sekelilingku. Di dekat pintu tersebut terdapat beberapa tulisan huruf berbentuk sedikit aneh. Aku mendekatinya untuk memastikan. “Hangul?”

“Ne, hyung…” kata seseorang di dalam sana. Tiba-tiba pintu dibuka. “Omo! Nuguseyo? Mengapa ada di depan dorm kami?”

Aku mematung. Terkejut karena orang tersebut bisa melihatku. “Kau bisa melihatku?”

Orang di depanku sedikit bingung. “Jogi… Aku tidak berbicara bahasa Jepang…”

Ternyata benar, aku memang berada di Korea. “Ah, maaf. Apakah kau bisa melihatku?” tanyaku. Kali ini aku berbicara dengan menggunakan bahasa Korea.

“Tentu saja!”

“Andwae…” lagi-lagi aku terkejut. Mengapa aku dikirim ke Korea? Bukankah sensei sudah berjanji untuk mengirimku kembali ke Osaka?

“Eh? Aneh sekali yoja ini… Sudahlah aku sudah terlambat ke sekolah.” Katanya, kemudian pergi meninggalkanku yang masih mematung.

“Nuguseyo?”

Aku menoleh. Kali ini seorang namja sedikit chubby sedang menatapku tajam. “Eh? Kau juga bisa melihatku?”

 

***

Aku terbang menuju sebuah taman bermain di dekat apartemen tempat dua orang namja tadi bisa melihatku. Aku duduk di sebuah ayunan yang tertiup angin pagi Korea Selatan, yang tidak pernah sekali pun kurasakan. Aku tidak pernah ke Korea saat masih hidup. Dan saat ini, ketika aku sudah menjadi dewa, aku dikirim ke Korea. Dan, dua orang namja. Jadi mereka yang akan kulindungi? Tetapi mengapa dua orang? Bukankah dewa pelindung bisa dilihat oleh yang dilindungi dan itu hanya seorang saja?

“Fujioka.”

Aku mendongak. “Sensei…”

Seseorang yang kusebut sensei itu sedang berada di langit dan memandangku lembut. “Karena saat kau hidup kau banyak melakukan dosa, kau dikirim ke Korea Selatan dan melindungi dua orang sekaligus.”

“Dua orang sekaligus hanya karena aku sering membolos sekolah dan menyontek saat ujian dan tertidur di kelas dan tidak melaksanakan piket kelas?”

Sensei tersenyum. “Yang Seungho dan Bang Cheolyong, anggota MBLAQ.”

“MBLAQ?”

“Fujioka, aku tahu kau ingin kembali ke Osaka dan melindungi Hayashi Kenta. Tetapi kau tidak bisa kembali bersama dia karena saat ini kau sudah menjadi dewa.”

“Tapi, sensei…”

“Fujioka…” potongnya. “Kau tidak boleh mencintai manusia. Ingat larangan itu dan laksanakan tugasmu dengan baik.”

***

Kau tidak boleh mencintai manusia…

Perkataan sensei tadi masih terngiang di pikiranku. Benar, aku bukan manusia lagi. Saat ini aku sudah menjadi dewa, tidak boleh mencintai manusia, Kenta sekalipun.

Aku menunggu orang yang bernama Bang Cheolyong di depan sekolahnya. Sudah lama aku tidak pergi ke sekolah manusia. Selama bersekolah di sekolah dewa, kami pada dewa tidak pernah bertemu sekali pun. Aku tidak mengenal dan tidak mengetahui siapa teman sekelasku, atau siapa guruku. Hanya Yamada sensei, dewa yang kutemui tadi, yang bisa kulihat. Yamada sensei adalah dewa pelindung tertinggi sekaligus kepala sekolah dewa pelindung.

Dari kejauhan kulihat Bang Cheolyong berjalan keluar gerbang sekolahnya. Aku segera terbang menghampirinya. Tetapi beberapa saat kemudian aku berhenti. Jika aku menghampirinya dengan terbang, maka dia akan ketakutan. Jadi kuputuskan untuk berjalan saja. Lagipula sudah lama aku tidak berjalan seperti manusia.

“Eh? Bukankah kau yoja yang tadi pagi?” tanyanya ketika aku menepuk pundaknya.

Di atas kepalanya aku melihat sebuah tulisan yang berbunyi tingkat kecerobohan : ceroboh sekali. Aku tersenyum padanya. “Bang Mir…” kataku, kemudian menariknya menuju tempat yang agak sepi.

“Ya! Apa yang kau lakukan!”

“Aish~ Kau berat sekali!” gerutuku. “Dengar. Aku Fujioka Saki. Aku malaikat pelindungmu.”

“Kau…”

“Chamkkanman!” Potongku. Mir hanya menatapku dengan tatapan tidak percaya. “Aku baru saja lulus dari sekolah dewa pelindung. Biasanya dewa pelindung hanya akan melindungi satu orang saja. Tetapi aku juga harus melindungi Yang Seungho. Jadi kecuali kalian berdua, tidak ada yang bisa melihatku.”

Mir tersenyum. “Hhh… Jangan bercanda!”

Aku melihat sekeliling. “Lihatlah ke arah kaca itu!” kataku sambil menunjuk kaca di sebuah pertokoan.

Mir melihat kaca tersebut. Di kaca itu hanya ada dia, tanpa aku. Dia berbalik menatapku, kemudian menatap kaca itu lagi. Menatapku lagi, kemudian kaca itu lagi. “Omo…”

Tiba-tiba tangan Mir memegang payudaraku, membuatku terkejut. “Ya!” teriakku. Dengan segera Mir menarik tangannya dari dadaku. “Apa yang kau pegang!”

Mir menunduk, mungkin sedikit malu karena ternyata dia berhasil memegang ‘aset’ku itu. “Ku pikir aku tidak bisa menyentuhmu…”

Plak!

Aku memukul kepalanya yang masih menunduk itu dengan keras. “Sinca! Mengapa sensei mengirimku untuk melindungi orang sepertimu? Ayo pulang! Dan jangan berbicara padaku jika sedang berada di keramaian. Atau kau akan dianggap gila…”

***

Mir orang yang sangat ceria dan menyenangkan. Baru sebentar saja kami berkenalan, aku sudah bisa akrab dengannya meskipun dia sedikit kekanak-kanakkan. Setelah mengantarnya pulang, aku segera terbang menemui Seungho yang sedang berbelanja.

Aku melihat tulisan di atas kepalanya yang berbunyi tingkat kecerobohan : Kurang beruntung karena awan mendung selalu mengikutinya. Dan benar saja, setelah tulisan tersebut selesai kubaca, tiba-tiba awan mendung yang entah darimana datangnya segera berada di atas kepalanya, mengikutinya kemana pun dia pergi.

Aku tersenyum. Mudah sekali melindungi Seungho. Hanya dengan meniup awan mendung yang selalu mengikutinya itu agar pergi dari kepalanya, selesai.

“Seungho-ssi…” sapaku. Kali ini aku menemuinya dengan terbang.

“Eh? Kau lagi?”

“Aku Fujioka Saki.” Kataku. Kulihat dia akan bertanya mengapa aku terbang, karena itu aku segera berkata lagi. “Dengar. Aku hanya akan mengatakan ini satu kali saja karena kau lebih pintar dari Mir. Percaya atau tidak, aku adalah dewa pelindungmu. Ah, dan dewa pelindung Mir. Kecuali kalian berdua, orang lain tidak akan bisa melihatku.”

Seungho menatapku tidak percaya. “Dewa pelindung? Apakah dewa pelindung itu ada?”

“Oh, ayolah. Aku sudah di depanmu tetapi kau tidak mempercayainya?” aku menjawabnya sambil terbang mengelilinginya, agar dia percaya. Tetapi Seungho menggeleng. Dia masih belum percaya. “Aish… Ah, satu lagi. Kau bisa menyentuhku, jadi jangan coba-coba berbuat kurang ajar padaku, seperti Mir itu…”

Tiba-tiba Seungho menarikku, memelukku. Posisiku yang lebih tinggi daripada Seungho karena sedang terbang, membuat kepalanya bersandar pada dadaku. “Ya! Apa yang kau lakukan?” teriakku sambil melepaskan diri dari pelukan Seungho. Dua kali dalam satu hari ada yang menyentuh ‘aset’ku itu.

Seungho melepaskan pelukannya. “Memastikan apakah kau nyata atau tidak…” katanya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Aish~ sinca! Kalian berdua sama saja! Tapi sepertinya Mir lebih membutuhkanku, jadi aku akan lebih sering bersamanya. Jika kau membutuhkanku, panggil saja namaku.”

***

Sudah hampir satu bulan aku menjadi dewa pelindung dua orang anggota MBLAQ sekaligus. Aku lebih sering bersama Mir daripada bersama Seungho. Tetapi kadang ketika aku harus mengawasi si maknae, awan mendung milik Seungho muncul lagi dan aku harus mengusirnya.

Malam ini aku melihat Mir sedang belajar seperti biasa. Aku tersenyum, kemudian terbang menuju rak buku yang dimilikinya. Aku melihat koleksi-koleksi komiknya, dan mengambil satu untuk ku baca.

“Saki… Aku ingin menanyakan sesuatu…”

Aku menoleh. Mir sedang menatapku dengan tatapan aneh. “Apa?”

“Dewa pelindung itu… Pintar… Bisa menguasai berbagai bahasa, matematika, semua… Dari komik Jepang yang kubaca… Mereka selalu menuruti semua permintaan yang dilindungi… Dan mereka tidak boleh menolak…” kata Mir perlahan.

Aku menarik napas panjang, kemudian kembali melanjutkan membaca komik Mir. “Katakan saja kau ingin minta apa… Jangan berbelit-belit seperti itu…”

Tiba-tiba Mir mendekat. “Besok aku ada ujian bahasa Inggris…”

Plak.

Aku memukul kepalanya dengan komik yang kubaca. “Shiro! Dewa pelindung tidak boleh melakukan itu!”

“Tapi aku kesulitan, Saki…” katanya. “Aku tidak bisa bahasa Inggris…”

“Itu masalahmu, Mir! Kau tahu? Dewa pelindung pun butuh belajar untuk bisa pintar!”

Mir cemberut. Dia menggembungkan pipinya, seperti seorang anak kecil.

“Sepertinya kau butuh waktu untuk belajar? Baiklah… Aku akan pergi ke kamar Seungho. Tapi ingat, aku tahu semua gerakanmu, Mir…”

“Ne, sonsaengnim…”

***

“Seungho-ssi, anny…” kata-kataku terhenti ketika melihat sesuatu di depanku. Sesuatu yang seharusnya tidak dilihat oleh seorang yoja sepertiku. “Omo…”

“Ya!” teriak Seungho. Diambilnya selimut di atas tempat tidurnya dan segera menutup bagian bawah tubuhnya. “Kau tidak boleh masuk tanpa mengetuk pintu dulu!”

Wajahku memerah. Dengan malu aku berbalik. “Mianhae. Tetapi aku kan tidak bisa mengetuk pintu.”

“Aish… Kau bilang dewa pelindung. Tetapi aku merasa tidak terlindungi kali ini!”

Aku menunduk. Baru kali ini aku merasa gagal menjadi dewa pelindung. “Sudah selesai belum?” tanyaku perlahan.

“Sudah!”

Aku berbalik lagi. Kulihat dia sudah berpakaian lengkap kali ini, dan sudah berbaring di tempat tidur dengan kertas ditangannya. “Kau sedang apa?” tanyaku.

“Membuat lagu untuk album baru kami.”

“Butuh bantuan?”

Dia berhenti menulis. “Tidak.” Katanya tegas. “Aku tidak biasa dibantu!”

***

Ting… Tong… Ting… Tong…

Aku menutup komik milik Mir sesaat setelah mendengar bel istirahat sekolah Mir. Hari ini Mir sedang ujian. Karena itu aku menunggunya di luar kelas. Biasanya aku akan ikut masuk ke dalam kelas Mir dan membangunkannya ketika dia mengantuk. Mir selalu tidur di kelas karena MBLAQ akan mengeluarkan album baru beberapa bulan lagi.

Bi sonsaengnim keluar dari ruang kelas Mir, diikuti beberapa siswa. Mir keluar dengan wajah kusut, seperti seorang zombie.

Aku tersenyum padanya, tetapi dia tidak membalas senyumanku dan segera duduk di bangku depan kelas. Merasa tidak dipedulikan, segera kutepuk pundaknya keras-keras. “Ya! Bagaimana ujianmu?”

“Ah, molla…” jawabnya lemas. Sepertinya dia sedang tidak dalam mood yang baik. Biasanya Mir akan mengomel, berteriak sekeras-kerasnya ketika aku menepuk pundaknya.

Binggo. Beberapa saat kemudian sebuah tulisan berwarna merah muncul di atas kepalanya. Ujian bahasa Inggris : gagal.

Kulihat dua orang yoja teman sekelas Mir berjalan mendekati Mir. Tiba-tiba tulisan merah tadi berubah menjadi Sebentar lagi akan dimarahi karena tidak piket kelas.

“Cheolyong-ah! Bukankah saat ini kau piket kelas?”

Mir segera melihat ke arah yoja yang memakai bandana biru. “Aku?”

“Ya! Jangan beralasan karena MBLAQ lagi! Piket kelas adalah kewajiban!”

“Ani! Aku tidak piket sekarang!” elak Mir.

Aku tersenyum sinis. “Mir… Kau bohong…”

“Diam kau Saki!” teriak Mir. Aku sedikit terkejut. Mengapa dia membentakku di depan teman-temannya? Mereka tidak bisa melihatku!

“Saki? Siapa Saki?”

Mir tersadar, dan segera mengelak lagi. “Tidak! Aku tidak…”

Bug.

Sebuah sapu melayang mengenai pantat Mir. “Ya! Cepat kerjakan piketmu!”

Aku tertawa. “Sampai jumpa di rumah!” kataku, kemudian terbang meninggalkan Mir yang sedang mendapatkan hukuman dari teman satu kelasnya itu.

“Ya! Sudah kubilang aku tidak piket sekarang! Ya! Saki! Kau mau kemana? Bantu aku! Ya!”

***

Rumah sedang kosong. Tidak kutemukan satu orang pun di dalamnya. Setelah meletakkan komik di meja Mir, segera aku terbang menuju studio tempat MBLAQ biasa berlatih. Seungho pasti ada di sana bersama Cheondung dan Byunghee.

Kuintip ruang latihan MBLAQ, memastikan apakah aman masuk ke dalam sana. Masih ingat ‘tragedi kamar Seungho’ bukan? Aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Sebenarnya saat itu aku tidak melihat ‘itu’. Aku berani bersumpah. Yang kulihat saat itu hanya…

-TBC to Away #2-

13 thoughts on “Away #1

  1. Lucu jg dewi pelindung.a agk geje n konyol….
    mir org.a ceroboh n pemalas….
    hehee….
    lanjutan.a jgn lama2 yah….

  2. annyeong, aku sider yg mu tobat -mu bulan ramadhan- /plakk

    wah~ apa yg dliat sama si saki? smoga gak yadong /plakk
    hehe~ pendek.. humor,
    si mir selebseleb tetep aja ya gak bisa lolos dari tugas piket

  3. annyeong haseyo~ aku reader baru di sini . dian imnida , bangapseumnida :)

    entah kenapa aku langsung tertarik sama fanfict ini .
    eh ternyata bener ! fanfict-nya bagus . ceritanya unik , tentang dewa -atau dewi? pelindung . dan , orang jepang ? kenapa harus orang jepang author ?

    lanjut lanjut lanjut !
    penasaran , apa ya yang sebenernya diliat Saki di kamar Seungho ?

  4. annyeong aku reader baru nih bangapseumnida :D *bow~
    nyahahaha enak banget jadi saki, bisa ngelindungin my mir wkwk #plak

  5. Mblaq~ ^^ seneng deh baca nya, thor. Seungho, mir punya dewa pelindung! Huaa~ saki dipeluk ssong, aku juga mau! ._.v good job thor (y) nice ff!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s