MY LOVELIFE

Author : Ocha Syamsuri

Cast : Kang MinRae

Lee Jinki / Onew

Han ChaeRi

Cho Kyuhyun

Genre : Romance, angst

Rating : BO (Bimbingan Orang Tua), PG-12

Disclaimer : semua cerita hanya karangan aku, hanya imajinasi aku sebagai fangirl yang cuma bisa ngayal aja. so, just for fun guys

****

“Semua kisah cinta mempunyai awal dan akhir cerita sendiri, entah itu bahagia atau terluka.” Ocha Syamsuri

****

MY LOVELIFE

****

Semua kisah cinta terkadang tak berakhir dengan bahagia. Kadang kala kisah cinta membawa luka yang sangat besar. Namun dari semua resiko yang diterima karena cinta, tak lantas membuat kita menjauh dari cinta. Cinta tak ubahnya bak candu kehidupan yang tak akan pernah lepas dari kehidupan manusia. Semua manusia membutuhkan cinta. Aku, kamu, dia, dan mereka, semua butuh cinta.

Entah itu berakhir bahagia atau malah berakhir dengan luka, semua butuh cinta. Di novel-novel picisan selalu menyebutkan jika cinta itu bak urat nadi manusia. Tak ada cinta tak ada kehidupan.

Di kehidupanku juga begitu. Aku membutuhkan cinta. Cinta yang hakiki yang tak luntur oleh jaman. Cinta yang bisa memberiku kehidupan di tengah kebahagiaan, bukannya memberi kebahagiaan di tengah kehidupan. Kebahagiaan seperti itu hanya berlangsung dalam kurun waktu tertentu, dan akan terkikis dengan adanya cinta yang baru.

Apa kisah cinta itu akan berakhir seperti kehidupan Romeo dan Juliet? Ataukah berakhir seperti kehidupan Cinderella?

Sebuah sumpah maupun janji tak akan menjamin cinta akan utuh seperti awal mula mengenal cinta. Cinta hanya butuh kepercayaan dan kesetiaan. Namun apakah dengan kepercayaan dan kesetiaan yang utuh lantas membuat cinta akan utuh selamanya? Begitulah cinta, cinta tidak akan bertahan jika kau menggenggamnya terlalu erat, dan cinta tak akan bertahan jika kau mendiamkannya begitu saja.

Lantas apa itu cinta? Bagaimana mempertahankannya? Bagaimana bisa mengakhiri kisah cinta dengan kisah dan akhir yang manis?

****

Aku memandangi sudut jalan kota Roma ini melalui jendela-jendela besar café tempatku menyendiri saat ini. Seharusnya di waktu seperti ini aku akan menemani di sisinya dan mendengarkan beberapa lelucon hambar yang ia lontarkan, dan terkadang aku tertawa kecil sekedar untuk merespon lelucon yang ia lontarkan. Aku meniup gelas cappuccino-ku dan uap yang dihasilkan dari panasnya cappuccino menyembul saat udara yang keluar dari mulutku berhembus. Kota Roma di musim ini sedang dalam musim penghujan. Akibat dari global warming yang semakin mengancam, menyebabkan musim di semua kota dan Negara di belahan dunia menjadi tak menentu. Contohnya saat ini, seharusnya aku menikmati hangatnya matahari yang menyentuh kulitku. Namun yang kudapatkan hanyalah hujan yang terus mengguyur seluruh kota Roma.

Aku menggosok tanganku dan menempelkannya di kedua sisi wajahku. Cukup hangat. Bell pintu café berbunyi, tampak sepasang suami istri yang memasuki café dan mengambil tempat duduk tak jauh dari tempat dudukku sekarang. Aku mengamati pasangan suami istri itu, mereka tampak bahagia. Menurut perkiraanku usia pernikahan mereka pasti di atas tiga puluh tahun, cukup awet jika dibandingkan banyaknya pasangan yang cerai di saat usia pernikahan mereka belum menginjak lima tahun. Pasangan itu tertawa renyah saat sang suami melontarkan lelucon garing mengenai tetangga baru mereka yang mempunyai hobi mengumpulkan botol-botol bekas. Dari jarak seperti ini aku masih cukup mampu mendengar percakapan mereka. Dari logat mereka, sepertinya mereka bukan warga asli sini.

Aku mengalihkan pandanganku dari pasangan suami istri tua itu dan melanjutkan aktifitasku yang semula, memperhatikan orang-orang melalui jendela-jendela besar. Aku sengaja mengambil tempat duduk di pinggir jendela, selain aku bisa memperhatikan orang-orang, aku bisa menikmati sisa-sisa rintik hujan yang mengguyur kota ini setengah jam yang lalu.

****

“Night princess,” Lelaki itu menyunggingkan senyumannya yang khas, sudut matanya meruncing, khas orang Korea. Aku mengambil buket bunga yang ia sodorkan dan menciumnya sejenak. Aku mengingat hari ini hari apa, lelaki ini selalu memberikanku bunga yang berbeda menurut hari. Dan hari ini ia memberikanku bunga Lila, seingatku hari ini adalah hari Selasa, waktunya ia memberiku bunga mawar putih yang berwangi khas.

“Maaf sayang, mawar putih di toko langgananku habis. Bunga Lila kurasa cukup bisa menyaingi wangi khas mawar putih-mu itu.” ujarnya seolah tahu apa yang ada di pikiranku.

Aku mengecup bibirnya sekilas lalu mengusap wajahnya, “Gwaenchana Lee Jinki, selain mawar putih aku juga menyukai wangi bunga Lila. Kalau kau tak keberatan, kau bisa memberikanku jenis bunga yang sama setiap harinya.”

“Kau cantik dengan gaun warna peach-mu itu.” Pujinya, ia mencium pipiku dan menaruh tangannya di pinggangku. Ia menuntunku keluar dari apartemen menuju ke bawah, tempat mobil Ferrari merah cabe-nya terparkir.

Sepanjang jalan menuju restoran tempat kami akan makan malam, lelaki ini terus berceloteh mengenai grup-nya. Ia juga kadang tertawa saat menceritakan kejadian lucu yang menimpa maknae-nya. Si Bayi -sebutan kami untuk Taemin, sang maknae- sedang jatuh cinta dengan seorang wanita yang lebih tua tiga tahun darinya. Semua anggota di grupnya sibuk mengajari sang Bayi agar bisa mendapatkan hati wanita itu.

“Aku tidak menyangka, sang bayi sudah mendapatkan wanita pujaan hatinya.”

“MinRae-ya, Taemin akan marah besar jika mendengar kau masih memanggilnya bayi lagi.”

“Tapi bagiku Taemin tetaplah seorang bayi.”

Jinki mengelus rambutku, dan ia tersenyum. “Restoran ini menyediakan makanan yang sangat enak, kau pasti akan menyukainya.”

“Benarkah? Kalau begitu aku pasti akan menghabiskan semua makanannya.”

“Aku berani bertaruh, kau pasti tak akan mampu menghabiskan piring kedua-mu.”

“Kau terlalu percaya diri Lee Jinki, siap-siap saja kau. Akan kupastikan uangmu pasti tidak akan cukup untuk membayar makananku.”

“Aku membawa kartu kredit Kang MinRae sayang.”

****

Aku membolak-balikkan tabloid murahan yang kubeli saat aku menuju ke apartemennya Lee Jinki. Berita yang di berikan oleh tabloid itu sungguh murahan dan tidak berkualitas. Tapi entah kenapa tabloid kacangan ini laku keras di saat mereka menyantumkan berita murahan yang tak jelas asal usul-nya. Aku memijat tengkukku dan melemparkan tabloid itu ke atas meja yang berada di depanku. Aku merebahkan badanku di sofa dan menaruh kepalaku di pinggiran sofa yang empuk.

Lee Jinki sedang membersihkan dirinya di bawah pancuran air di kamar mandi. Biasanya ia menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mandi, dan kurasa cukup  buatku untuk memejamkan mataku.

Dosen Statistik-ku memberikanku tugas tambahan seusai kelas Statistik. Ia menahanku selama dua jam untuk menyelesaikan tugas terkutuk itu. Aku memang sedikit lemah di pelajaranku, dan dosen itu memanfaatkan kelemahanku. Dari awal aku berkuliah di sana, dosen itu selalu mencari kelemahanku. Aku selalu menghindari masuk kelas dosen itu, tapi semester ini aku lumayan sial. Aku mengambil mata kuliah yang paling tidak bisa kukuasai, dan sialnya lagi dosen itu yang memegang mata kuliah itu. Tak perlu di lihat dan di pertanyakan lagi, sudah di pastikan aku akan mengulangi mata kuliah itu di libur musim panas nanti.

Aku mengerjapkan mataku saat mendengar suara kertas yang bergesek. Aku melihat Jinki sedang membaca tabloid murahan yang sempat kubaca sekilas tadi. Headline tabloid murahan itu dapat terbaca jelas olehku karena Jinki sedang membaca bagian tengah dari tabloid murahan itu.

‘SHINee Onew di ketahui sedang menjalin hubungan dengan salah satu artis, Siapakah wanita itu?’

Begitulah tulisan yang terpampang di bagian depan tabloid murahan itu. Kurasa bagian marketing dari tabloid itu sangat mengetahui dengan jelas jika tabloid murahan mereka dapat laku keras jika mereka mencantumkan headline yang membuat kontroversi banyak orang.

“Kau sudah bangun?” Jinki melipat tabloid itu lagi dan menaruhnya kembali. Wangi sabun dapat tercium olehku. Rambutnya yang masih basah membuat jantungku sedikit berdebar. Aku sangat menyukai wanginya.

Jinki mendekat dan duduk disampingku. Ia merenggangkan tubuhnya dan menaruh tangannya di pinggangku, menarik tubuhku untuk mendekat kearahnya. Aku menaruh kepalaku di bahunya. Wangi shampoo yang khas tercium olehku.

“Kau tidak terpengaruh oleh berita murahan itu kan?” Suaranya mengecil, aku dapat menangkapnya sebagai bisikan.

“Kau kira kita ini baru berpacaran selama satu atau dua bulan huh? Kita sudah menjalin hubungan selama dua tahun, tuan Lee.” Aku mengelus lengannya.

“Syukurlah. Aku terkadang sedikit cemas kau akan terpengaruh oleh berita itu.”

“Aku yang seharusnya cemas jika suatu hari kau akan kembali ke kekasihmu yang lama.”

Tubuh Jinki menegang, itulah yang dapat kurasakan saat ini. “MinRae-ya, Han Chaeri itu adalah kisah lamaku. Saat ini ia sudah berbahagia dengan Kyuhyun hyung.” Jinki mengeratkan tangannya yang memeluk pinggangku. Ia berusaha untuk santai tapi tetap saja aku bisa merasakan tubuhnya yang menegang.

Han Chaeri adalah cinta dan pacar pertama dari Lee Jinki. Mereka berpacaran selama enam bulan, dan mereka putus di saat Jinki memulai debutnya dengan grup-nya. Karena peraturan dari perusahaan, itulah alasan mengapa mereka putus.

Dan aku sendiri mengenal Lee Jinki di saat aku liburan ke Korea. Aku bukan orang Korea asli. Appa-ku orang Korea, sementara mom adalah orang Itali. Dan alasanku untuk menetap di Korea saat ini adalah karena aku tidak ingin jauh darinya.

“Terkadang aku iri dengan Chaeri eonni yang telah mengisi hatimu untuk pertama kalinya. Andai saja aku yang lebih dulu mengenalmu.”

“Tidak ada yang pertama ataupun yang kedua. Tak peduli kau yang keberapa, bagiku kau adalah yang terakhir dan untuk selamanya.”

****

Cantik, berwujud bak malaikat. Itulah yang pas untuk menggambarkan bagaimana seorang Han Chaeri itu. Aku tak heran jika Lee Jinki sangat mencintai wanita itu. Selain berwajah cantik, wanita itu mempunyai beribu keahlian. Jika wanita itu tidak jatuh di pelukan Cho Kyuhyun, kurasa Lee Jinki akan tetap terus mengejar wanita itu.

“MinRae-ya, kau mencari si dubu itu ya?” Tanya Han Chaeri. Ahh, selain cantik ia juga menyandang gelar ratu evil. Ia selalu memanggil orang dengan semaunya sendiri. Dengan sifatnya sperti itu maka tak heran ia menjalin hubungan dengan Kyuhyun. Laki-laki yang sejenis dengannya.

Biarpun mereka di juluki ratu dan raja evil, mereka jarang sekali bertengkar. Malah terkesan romantis dan sering menunjukkan kemesraan mereka di depan umum.

“Si Dubu sedang berada di ruang latihannya, mereka lagi sibuk mengurusi si bayi pirang. Kata si mata belok, bayi pirang akan mengajak pacarnya untuk makan malam.”

Aku hanya tersenyum mendengar penuturan dari Chaeri eonni. Apa yang kubilang barusan? Ia menyebut nama orang sesuka hatinya sendiri kan?

“Eonni mau kemana?” Tanyaku.

Chaeri eonni menyunggingkan senyumannya. “Mau kencan dengan namja tertampan sedunia dong.” Ia terkekeh lalu melambaikan tangannya. Dasar! Ia menyebut nama orang lain semaunya sendiri, sementara ia memanggil nama pacarnya dengan sebutan namja tertampan. Cih, namja tertampan? Namja tercerewet juga iya.

Aku mengendikkan bahuku acuh lalu berbalik menuju ruang latihan SHINee, tempat Jinki dan anggota lainnya sedang berkumpul.

****

Jinki menyeka keringat yang menetes di dahinya. Didepan kami masih tersaji beberapa mangkuk makanan super pedas. Jinki memang tidak tahan dengan makanan pedas, ia akan mengeluarkan banyak keringat jika terlalu banyak mengonsumsi makanan pedas.

“Rae-ya, jika sehabis ini perutku melilit, kau yang harus bertanggung jawab.”

Aku tertawa, wajah Jinki yang penuh keringat membuatnya terlihat lucu.

“Tidak ada yang perlu ditertawakan Kang MinRae.”

Aku bangkit dari tempat duduk dan berjalan kearah pantry yang tak jauh dari tempatku dan Jinki tadi. Aku membuka lemari es dan mengambil sebotol air lemon. Rasa asam dan manis dari lemon akan menutralisir rasa pedas. Aku mendekati Jinki dan menyerahkan botol itu kepadanya. Jinki mengambil botol itu dan segera meneguknya sampai setengah.

Jinki mendesah lega dan menyeka keringatnya lagi. “Masakanmu barusan sangat cocok untuk membunuh penjahat Kang MinRae-ssi, dan jangan pernah memasak masakan seperti itu lagi untukku.”

“Arra, tuan Lee.”

Jinki bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju jendela besar yang terletak di samping sofa besar empuk. Biasanya setiap akhir pekan jika Jinki sedang senggang, kami akan menghabiskan waktu di sofa besar itu, sekedar untuk bercerita dan menonton televisi.

“Saljunya makin lebat, apa kau tak keberatan jika tinggal disini lebih lama lagi?”

“Asal kau tak menerkamku, kurasa itu ide yang cukup baik.”

“Ya~ kau pikir aku ini semesum itu apa?”

“Hanya untuk mengantisipasi tuan Lee.”

Aku mendekatinya dan melingkarkan tanganku di perutnya. Aku menyenderkan kepalaku di punggungnya yang lebar. Rasanya hangat sekali.

“Apa kau ingat? Di musim seperti ini lah kita pertama kali bertemu. Dan aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, kau dengan hidungmu yang memerah karena cuaca yang sangat minim sungguh membuat dadaku bergejolak dan meletup seperti kembang api.”

Ya, aku masih ingat. Hari itu adalah hari keduaku menginjakkan kakiku di Korea. Kata appa, salju di Korea pada saat musim dingin sangatlah indah. Dan aku menyetujui saran appa untuk menghabiskan liburan musim dinginku di tanah kelahirannya, Korea. Aku bertemu dengan Jinki secara tidak sengaja di sebuah taman di daerah Kangnam. Aku jatuh hati padanya juga pada pandangan pertama.

‘Agasshi, jika kau tidak memakai penghangat wajah, kau akan mimisan. Ini pakailah punyaku.’

‘Tapi, kalau aku memakai punyamu, nanti kau yang akan mimisan tuan.’

‘Aku ini namja, agasshi. Aku tidak akan jatuh dengan mudah.’

‘Namaku Lee Jinki.’

‘Aku Kang MinRae. Yah, menurut appa-ku, begitulah nama Korea-ku.’

‘Kau bukan orang Korea asli?’

‘Ya, aku tinggal di Roma, Italia.’

‘Roma? Wahh, kau hebat agasshi.’

Jinki melepaskan tanganku yang memeluk perutnya dan menarikku berhadapan dengannya. Ia mengangkat tubuh mungilku dan mendudukkanku di batu pinggir jendela. Ia menaruh tangannya di pinggangku dan mendekatkan wajahnya perlahan. Aku memejamkan mataku saat kedua bibir kami bertemu. Aku melingkarkan tanganku di lehernya dan menaruh sikuku di bahu lebarnya. Aku juga melingkarkan kakiku di pinggulnya dan memeluknya erat saat Jinki mengangkat badanku menuju ke kamar.

****

Udara di dalam kamar cukup hangat dibandingkan udara di luar yang suhunya bisa mencapai minus sepuluh derajat. Aku meraba wajah polos Jinki yang tengah terlelap. Wajah Jinki jika berada di panggung sungguh berbeda dengan kehidupan nyatanya. Mungkin para penggemarnya mengenalnya sebagai pria yang polos, tapi sepolos-polosnya ia, ia tetaplah seorang namja yang memiliki hormon.

“Jinki-ya, irona. Bukankah kau ada jadwal malam ini?” Aku memencet hidungnya. Biasanya Jinki akan cepat terbangun jika hidungnya di pencet seperti itu.

Jinki menggerakkan matanya malas dan mengguletkan badannya. “Tapi rasanya aku ingin seperti ini terus.” Jinki memelukku dan menaruh hidungnya di sela-sela leherku.

“Ya~ bangunlah sebelum manajer-mu yang berbadan besar itu menyeretmu dari sini.”

“Aishh~ arra, arra.” Jinki melepaskan pelukannya dan menyeret badannya malas menuju ke kamar mandi. “Kau menginap disini saja ya, salju di luar sangat lebat. Sebelum jam satu aku sudah kembali.” Ujarnya sebelum menghilang ke dalam kamar mandi.

****

Aku mondar mandir di dalam rumah dengan perasaan cemas sekaligus gelisah. Jinki bilang jika ia akan pulang sebelum jam satu malam, namun ketika jarum jam menunjuk angka tiga, ia juga belum menunjuk batang hidungnya. Ponselnya sedari tadi tidak aktif, aku juga sudah menghubungi manajer-nya, namun manajer-nya bilang jika Jinki sudah pulang sejak dua jam yang lalu. Sebuah pertanyaan muncul di pikiranku, Jinki ada dimana saat ini?

Yang membuatku semakin cemas adalah ia yang tak kunjung menghubungiku, dan memberitahu ia ada dimana saat ini. Tidak biasanya Jinki menghilang tanpa kabar. Setidaknya ia akan mengirimiku pesan ketika ia tidak bisa pulang ataupun pulang terlambat. Tapi sekarang ia tidak ada kabar apapun.

Aku mengerjapkan mataku saat sinar matahari menerobos ruangan. Segera saja ku gerakkan tubuhku dari atas sofa dan mencari Jinki. Aku membuka pintu kamarnya dan mendesah lega saat mendapati Jinki sedang tertidur pulas di atas kasur. Aku menyingkap tirai agar cahaya matahari bisa leluasa menyinari ruangan ini. Ku buka sepatu Jinki yang masih melekat di kakinya lalu menaruhnya di bawah. Jinki tertidur dengan pakaian yang masih lengkap di tubuhnya. Aku menahan nafasku saat mencium bau alcohol di tubuhnya. Apa semalam Jinki mabuk berat?

Aku membuka mantel-nya dan pakaiannya lalu menganti pakaiannya dengan kaos warna putih. Ku tinggalkan Jinki yang masih saja terlelap di atas kasur.

****

Sudah empat hari Jinki terus-terusan menghindariku. Ia bahkan beralasan sibuk jika aku mengutarakan permintaanku untuk bertemu dengannya. Walaupun ada terbersit rasa curigaku, tapi aku berusaha untuk percaya padanya. Ia pasti sangat sibuk, makanya ia tidak bisa bertemu denganku.

Aku sedang merapikan pakaianku saat Jinki mengirimiku sebuah pesan.

                Temui aku di taman dekat apartemenmu lima menit lagi ^^

Segera saja kusambar mantelku dan menuju ke taman yang letaknya hanya sekitar lima menit dari apartemenku. Setiba disana aku melihat Jinki sedang duduk di ayunan dan mengayunkannya secara perlahan. Aku duduk di ayunan yang terletak di sampingnya dan mengayunkannya perlahan. Suasana canggung melingkupi kami saat ini.

“Apa kau tidak sibuk lagi?” Tanyaku membuka pembicaraan. Aku tak tahan jika terlalu lama diam-diaman dengannya.

“Mian.” Lirihnya.

Aku menoleh dan menatapnya bingung. Buat apa ia meminta maaf?

Jinki membalas tatapanku dan tersenyum lirih. “Apa kau lapar? Ayo kita cari makanan.” Jinki menarik tanganku.

Sungguh ada yang aneh di dalam diri Jinki. Sikapnya, cara bicaranya, dan semua yang ada didalam dirinya sangat aneh. Ia sepertinya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Saat makan tadi, ia juga tak henti-hentinya bersikap aneh. Ia yang biasanya akan mengoceh jika makanannya terlalu banyak bawang putih, maka tadi ia hanya diam saja dan terus menyantap makanannya. Ia hanya menjawab singkat jika kutanya dan diam lagi jika aku diam.

“Ayo kita ke sungai Han.” Ajak Jinki lagi. Aku hanya diam dan menurut saat ia menggenggam tanganku menuju ke tempat yang ia maksud.

Sudah lima menit kami berdiam diri sambil memandangi keindahan sungai Han. Jinki sedari tadi hanya diam dan menarik nafasnya dalam, seolah ada yang mengganjal di dalam hatinya.

“MinRae-ya, mianhae jika beberapa hari ini aku tidak bisa menghubungimu.”

“Gwaenchana. Tapi ada apa denganmu? Kau terlihat aneh.”

Jinki menggelengkan kepalanya pelan lalu menarik nafasnya dalam lagi. Jinki menoleh dan tersenyum. Ia menggenggam kedua tanganku. “MinRae-ya, tak peduli berapa lama kau sudah mengenalku, berapa banyak waktu yang kau habiskan denganku. Tapi yang kuminta hanyalah seberapa dalam kepercayaanmu kepadaku. Aku mohon percayalah denganku.”

“Aku akan selalu percaya denganmu Jinki-ya. Hajiman, waeire? Kau terlihat sungguh aneh.”

“Aniyo.” Ia mendesah. “Saat ini yang kubutuhkan hanyalah kepercayaanmu mengenai aku, dan mengenai hatiku.”

****

‘SHINee Onew terlihat sedang mabuk-mabukan dengan seorang wanita. Kabarnya wanita itu adalah mantan kekasihnya. Apa hubungan mereka sebenarnya? Apa Onew menjalin hubungan kembali dengan wanita itu?’

Jika hanya sebuah berita polos aku pasti akan menganggapnya hanyalah sebuah berita omong kosong seperti sebelumnya. Tapi berita yang kubaca saat ini dilengkapi dengan beberapa foto yang menunjukkan adanya kebenaran mengenai berita itu.

Jinki mabuk-mabukan dengan Chaeri eonni?

Di foto tersebut tampak Jinki yang sedang memapah Chaeri eonni keluar dari sebuah klub. Wajah Chaeri eonni memang kabur dan tidak terlihat jelas namun wajah Jinki terlihat jelas sekali. Pakaian yang ia kenakan di dalam foto itu sama dengan pakaian yang ia kenakan di hari itu, hari saat aku menunggunya semalaman di apartemennya. Hari itu Jinki memang pulang dalam keadaan mabuk dan tubuh yang penuh dengan bau alkohol.

Apa yang kutakutkan selama ini akhirnya akan muncul juga? Hari dimana Jinki akan kembali dengan kekasih lamanya?

Aku sangat memahami seberapa besar rasa cinta Jinki ke wanita itu. Dan kini apa yang harus aku lakukan jika Jinki ingin kembali lagi ke wanita itu? Aku bisa saja terus mempertahankan Jinki, tapi bagaimana dengan cintanya? Apa cintanya bisa kupertahankan juga?

Dengan tangan gemetar aku mengambil ponselku dan menekan rangkaian nomor yang sangat ku hapal.

“Appa, aku akan kembali lagi ke Roma.”

“….”

“Ani. Aku rasa Korea tidak cocok denganku.”

Aku menjatuhkan ponselku tepat panggilan itu terputus. Aku terduduk dilantai dan tangisanku pecah seketika. Mungkin berita yang tercantum di tabloid itu tidak benar semuanya, hanya saja aku yang terlalu pengecut untuk mempertanyakannya langsung ke Jinki. Bagaimana jika Jinki mengamini semua berita yang tercantum di tabloid itu? Aku harus bagaimana setelah mendengar kebenaran itu?

****

Kisah cinta di kehidupanku memang berakhir seperti ini adanya. Aku tidak mengharapkan kisah cintaku berakhir seperti Cinderella ataupun seperti putri Jasmine. Kisah cinta tidak selalu berakhir dengan kebahagiaan, ada juga kisah cinta yang berakhir dengan tangisan dan keputusasaan. Jika kau mempertanyakan bagaimana akhir kisah cintaku? Kau tidak akan menemukannya seperti kisah cinta di novel-novel picisan karangan penulis terkenal.

Aku membayar dua gelas cappuccino dan sepiring muffin yang baru setengah kuhabiskan di kasir café ini. Aku mendorong pintu dan segera melesat keluar pintu. Hujan benar-benar berhenti mengguyur kota Roma. Aku bisa mencium bau aspal yang tersiram air hujan. Langkah kakiku terasa ringan sekali, sesekali aku menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya dengan sekali hembusan.

Pejalan kaki di Hedlin street sangat ramai sore ini, kebanyakan dari mereka adalah para pegawai kantoran ataupun karyawan yang baru pulang ataupun sekedar mencari kudapan untuk sore yang mendung ini. Hedlin street banyak menyediakan toko-toko kecil yang menjual berbagai makanan ringan dengan rasa yang fantastis. Makanya tak heran jika di sore hari banyak masyarakat Roma yang berkunjung kemari. Turis dari berbagai tempat sering menjadikan tempat ini sebagai wisata kuliner wajib mereka. Appa itu pecinta makanan dan kuliner dari seluruh dunia. Kurasa karena hobi dan minatnya itu pula yang membuatnya untuk tinggal di sini dibandingkan Negara kelahirannya.

Pohon-pohon ek berdiri dengan kokoh di sepanjang jalan menuju daerah tempat tinggalku. Dari trotoar tempatku berjalan saat ini aku bisa merasakan daun-daun berguguran, dan terkadang aku membersihkan rambutku dari daun yang berguguran.

Tetangga di sekitar rumahku sangat menghormati antar sesama tetangga. Mereka hanya akan menyapa jika bertemu dan selebihnya tidak akan pernah mau mencampuri urusan pribadi masing-masing.

Tetangga di sebelah rumahku adalah seorang pak tua pensiunan tentara. Saat aku kecil aku sering berkunjung di rumah sir Michael -begitulah aku memanggilnya- sekedar mendengar ceritanya semasa muda saat ia masih bertugas sebagai tentara. Dan istrinya yang keturunan Spanyol itu akan memanggangkan beberapa muffin sebagai peneman kami mendengarkan cerita sir Michael.

Pasangan suami istri itu tidak di karuniahi seorang anak. Namun hidup mereka tetap harmonis. Kisah cinta mereka seperti kisah cinta yang kebanyakan di ceritakan oleh novel-novel romantis itu. Kehidupan penuh cinta dan bahagia. Yeah, siapa yang tidak ingin mempunyai kisah cinta seperti itu?

Langkah kakiku terhenti otomatis. Seorang laki-laki bertubuh jangkung (?) berdiri menyender di pohon ek di depan rumahku. Ia menyunggingkan senyuman khasnya saat pandangan matanya bertemu dengan pandangan mataku. Ia melambaikan buket bunga yang berada di dalam genggamannya. Aku berlari-lari kecil mendekatinya. Aku segera menghambur dipelukannya. Dua bulan tidak bertemu, sangat membuatku merindukan aroma khas tubuhnya.

“Merindukanku princess?”

“Sangat. Jinki-ya kau sangat tampan hari ini.”

“Tentu saja MinRae sayang.”

Jinki melepaskan pelukannya dan mencium bibirku sekilas. “Saengil Chukae istriku.”

Beginilah kisah cintaku. Terkadang di awalnya berakhir dengan airmata, namun itu bukanlah akhir dari segalanya. Ada sesuatu yang istimewa di balik itu jika kita mau menunggu dan mencarinya. Kisah cinta tidak selalu berjalan dengan sempurna dan tanpa halangan. Justru dengan adanya halangan dan permasalahan kecil, membuat ikatan suatu hubungan itu semakin kuat dan tidak akan rapuh terkikis oleh waktu.

Jika kata orang kisah cinta tergantung oleh adanya jodoh. Kurasa tidak semuanya benar. Ada kalanya jodoh yang kita terima di saat setelah kisah cinta kita mengalami beberapa kali guncangan.

Kisah cinta aku, kau, dia, dan mereka, bukanlah seperti kisah cinta di berbagai novel romans picisan. Ketika kau ingin semuanya berakhir bahagia, maka akan berakhir dengan airmata. Kau siap jatuh cinta, maka kau harus siap dengan akhir yang penuh airmata.

Kisah cinta bisa kau tentukan sendiri. Apa kau ingin berakhir seperti Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian, atau kau ingin berakhir seperti Cinderella yang berakhir dengan kebahagiaan.

Seperti apa akhir kisah cintaku?

Kalian bisa menebak dan melihatnya sendiri.

**END**

EPILOG

“Ya~ Dubu bodoh! Ayo temani aku minum.”

“Han Chaeri, kau sudah sangat mabuk. Kyuhyun hyung pasti akan sangat marah jika mengetahuimu mabuk-mabukkan seperti ini.”

“Kyuhyun? Cho Kyuhyun si bodoh dan menyebalkan itu maksudmu? YA! Jangan menyebut namanya lagi. Aku sangat membencinya! Kau tahu Jinki-ya, Kyuhyun bodoh itu berselingkuh dengan Victoria eonni di belakangku.”

“Victoria noona itu sahabatnya Kyuhyun hyung, Chaeri-ya. Ayo pulang, aku tidak mau di gergaji oleh Kyuhyun hyung jika melihatmu mabuk-mabukan seperti ini.”

“Aishh~ diamlah dubu bodoh.”

Jinki hanya pasrah dan menghempaskan dirinya disamping Chaeri. Mengingat hubungan di masa lalu mereka, Jinki memutuskan untuk menunggu Chaeri dan mendengarkan setiap racauan yang dilontarkan yeoja cantik itu. Bukannya Jinki masih menyimpan rasa cinta untuk yeoja itu, ia hanya merasa bertanggung jawab mengenai yeoja itu. Bagaimana jika ada pihak lain yang memanfaatkan ketidaksadaran yeoja itu?

Jinki sudah menghubungi Cho Kyuhyun, kekasih yeoja itu. Namun Kyuhyun mengatakan baru bisa kesana beberapa jam lagi. Kyuhyun sedang berada di Taiwan, dan ketika mendengar dari Jinki jika kekasihnya sedang dalam keadaan yang begitu kacau, ia segera memesan tiket pesawat dan pulang ke Korea.

Dan Jinki di minta oleh Kyuhyun untuk menjaga Chaeri beberapa saat sebelum ia tiba di Korea.

Ponsel Jinki bergetar, nama Kyuhyun tertera di layar itu.

“Yeoboseo hyung.”

“Jinki-ya, aku ada di luar klub. Aku tidak memakai pakaian samaranku. Apa kau bisa membawa Chaeri keluar dari klub? Mobil-ku tak jauh dari klub.”

“Ne, hyung.”

Jinki memasukkan ponselnya kedalam saku jeans-nya. Dan memapah mantan kekasihnya itu keluar klub. Jinki-ya segera menuju ke sebuah mobil sedan berwarna hitam yang tak jauh dari klub. Seorang namja tampan keluar dari mobil ketika Jinki dan Chaeri tiba di dekat mobil itu. Namja itu mengambil alih Chaeri dan mendekapnya kedalam pelukannya.

“Gomawo Jinki-ya kau sudah menjaga Chaeri-ku.”

“Tidak apa-apa hyung. Tapi kusarankan, kau harus menjaga jarak dengan Victoria noona. Chaeri sangat mencemburui kedekatanmu dengan Victoria noona.”

“Jinjja?” Mata Kyuhyun membesar dan sekejap ia tersenyum sendiri. “Sekali lagi terima kasih Jinki-ya.”

“Ne hyung.”

****

Aku melipat tanganku dan mendengarkan setiap kata yang meluncur dari mulut namja tampan yang berada didepanku ini. Aku sedikit ragu, apa aku harus mempercayai ucapannya atau malah harus menutup telingaku erat-erat?

“Terima kasih atas ceritamu Lee Jinki-ssi. Tapi maaf, aku harus segera pergi sebelum aku ketinggalan pesawatku.”

Aku bersiap pergi saat tangannya mencengkram erat tanganku dan menarikku kedalam pelukannya.

“Kau tidak boleh pergi kemana-mana Kang MinRae. Tidak tanpaku.”

“Beri aku satu alasan kenapa aku harus menetap di Korea.”

“Kuliahmu belum selesai.”

Aku mendengus, “Aku bisa melanjutkannya di Roma.”

“Apartemenmu akan kosong jika kau pergi ke Roma.”

“Itu bukan alasan yang bagus Lee Jinki-ssi.” Aku melepaskan pelukannya, menarik koperku dan berjalan menjauh darinya.

“Kalau begitu, jadilah istriku.”

Aku berhenti melangkah.

“Jadilah istriku MinRae-ya.”

Aku membalikkan badanku. “Apa maksud dari kata-katamu Jinki-ssi?”

“Aku mohon jadilah istriku. Menikah lah denganku. Aku rasa itu sudah cukup untuk dijadikan alasan agar kau tetap tinggal di sini, di sisiku.”

Aku tersenyum sumringah. “Tapi aku ingin pesta pernikahanku di adakan di Roma, Jinki-ya. Di tempatku lahir.”

Jinki mendekatiku dan memelukku erat.

“Apapun itu, aku mohon MinRae-ya. Jangan menjauh dan pergi dariku. Tetaplah berada di dekatku dan menjadi sumber tenagaku. Aku mencintaimu MinRae-ya. Aku sangat mencintaimu Kang MinRae.”

“Nado. Aku juga sangat mencintaimu Lee Jinki.”

******

END~~~~

30 thoughts on “MY LOVELIFE

  1. aduh aq g pntr ksh komen:(hehe.
    thor,crtany bgs lho.yg aq sk tuh,d ff ini aq bs ngrasain perasaan tokoh2ny,dr seneng,malu2 smp sedih..
    Goodjob

  2. onew romantis bgt sie,, aq jg mo deh d kasih bunga yang beda2 tiap hari.. hehe…
    aq suka bgt deh ma cerita’y,, so sweet… ^^
    gag ngangka mereka tau2’y pas d akhir dah nikah aq qra onew nyamperin bwt ngajak balikan eh t’nyata… hehe..
    aq suka deh ma bahasa’y,, penggambaran tempat’y juga detail bgt jd serasa kayak baca novel.. ^^

  3. woww..klo dikehidupan nyata ada cowok kyk gini..
    aku suka kata2nya onew yg ini “Tidak ada yang pertama ataupun yang kedua. Tak peduli kau yang keberapa, bagiku kau adalah yang terakhir dan untuk selamanya.”

    kereeennnn… (^^)b

    aku stuju dgn yg dibilang sm Niebum..penulisannya kaya di novel2, dan deskripsi tiap tempat cukup mendetail, jd kita sbagai pembaca bisa mengimajinasikan critanya di otak kita hehe..

  4. sk bgt ma nii ff,,
    jinki oppa.a romantis bgt..

    Pengen da sequel.a,,
    tp klw gg jg gpp qw..
    =psk bgt ma nii ff,,
    jinki oppa.a romantis bgt..

    Pengen da sequel.a,,
    tp klw gg jg gpp qw..
    =p

  5. Waduhhh,, ne kereen sumpah.. Kta2’y ngena bnget dah,, byk skinship jg.. Hehe

    Itu pas jinki ma minrae kisseu di pinggir jndela en ke kamer, mrka nglakuin ya?? Knpa ga di critain author?? #plaaakk *yadong kumat*

    sangtaeku,, i love u lah..

  6. mbak ocha……. sory, aq mo nanya…. untuk FF i love your dad ada part selanjutnya ga?? penasaran bgt ma critanya…. lanjutin donk….. *mujuk author pake puppy eyes…

  7. Keren cerita.a….
    romantis n mesra bgt,,, untung heppy ending….
    thor ada NC version.a g neh???otak yadong…

  8. Aigoooo yaaaa,, romantiiiissss banget lee jinki nyaaa .. Mupeng deh beneran xD
    bahasa.a jg baguuss, bahasa novel *apadah :D
    suka banget ni ff :)

  9. Huwaaa….daebak….
    Pemilihan katanya bagus.
    Sempet sebel sebelum baca epilog..kesannya gantung..eh trnyata dijelasin pnyelesaian konfliknya ada di epilog.
    Pokoknya aku suka….
    Dubu…so sweet banget nglamarnya.gue juga mau kalo nglamarnya gitu..hehe

  10. huaaaa……romantisnya
    neomu daebakkk thor,
    coba aja di khdpan nyata ada cowo’ kaya’ gini, psti keren banget deh.

    lanjutkan karyamu thor,,,,!
    hehehe ^^

  11. Ocha unni, DAEBAK syelalu :)
    Aq slalu suka ama2 kata kiasan yg dpke ^-^ Manis!!
    So sweet pisan lah poko e juragan ayam,, suamikyu jg ga kalah unyu koq ^_~
    LANJUUTT!!
    Aq pgn sequel dr mreka hooneymoon ampe pny anak 5 ajj =]
    Aq jg mw donk “Kyuhyun Version” nya… Ongkeh :)

    LANJUUTT & Fighting~

  12. Bagus thor! Jalan ceritanya gak ketebak. Dan filosofi tentang cintanya juga bagus :D
    Ditunggu FF selanjutnya ^^

  13. kyaaaaaaa….sweet bnget jinki oppa..aigoooo….
    Huft..min rae lelah dg semua.x..mka.x dya mo balik k.roma..

    Hyaaaa…cra jinki oppa mnahan kpergian min rae..kereeeennn..
    Ngajak menikah?? Untunglah min rae mau..

    Chukkaeyoo atas pernikahan.x
    n saengil chukkaeyooo minrae..lol

  14. makasih thor buat ceritanya :-D
    suka bgt sma ceritanya :-) tp kesel sma Jinki :-( knapa dya smpet jauhin Minrae dngan alasan sibuk .. knapa nggak jujur aja sma minrae .. untung aja minrae pengertian & cinta sma jinki jadi weh nggak jdi putus hehehe
    salut juga sma minrae yg milih tnggal di korea dr pda di roma demi Jinki :-D awas aja kalau jinki oppa selingkuh ~

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s