Bring Me to The Past [part 3]

 

Main Cast       : Rae In, Rae Min, Choi Minho (SHINee),

Other Cast       : Umma dan Appa Rae In &Rae Min, Yesung (Super Junior), Yunho

Author             : Rae Seok

Notes               : ini part 3, hasil jerih payah sendiri ^^ . Jangan lupa kritik & saran akan sangat author tunggu. Akhir kata, SELAMAT MEMBACA (^_^)/

PART 3 …

“sekarang kau mau pergi kemana?”

“entahlah, kemana saja asalkan jauh dari rumah”

“tapi kita sudah lama berputar-putar disini dan sekarang sudah hampir tengah malam”

Memang saat itu mereka telah berjam-jam berkeliling di pusat kota Seoul dan kini waktu menunjukkan pukul 11 malam. Lalu saat mereka sedang menyusuri jalan rae in melihat sebuah super market yang masih terlihat penuh meski hari sudah larut.

“oppa, aku lapar. Bisakah kita berhenti dulu disana?”

“emm, keure. Aku juga lapar.” Minho sambil memarkirkan mobilnya.

“kau mau apa? Biar aku yang belikan”

“emm.. apa saja yang penting bisa membuatku kenyang.”

“emm…. Keure. Kau tunggu disini ya!” setelah berpikir beberapa saat

“Ne”

Minho pun berjalan masuk ke gedung super market itu dan disana ia memilih untuk membeli beberapa nasi kepal Jepang yang cukup terkenal di Korea sana dan 2 botol juice. Tapi minho harus menunggu beberapa lama untuk membayar karena super market itu sedang penuh oleh para mahasiswa yang sepertinya nge-kost di daerah sekitar situ. Setelah 15 menit menunggu akhirnya minho pun bisa membayar makanan yang ia beli dan kembali berjala menuju mobilnya.

“Rae in-ah mian aku lama tadi….” Ucapan minho terputus saat ia sadar kalau dimobilnya tidak ada siapa-siapa.

“RAE IN-AH..RAE IN-AH..” panggil minho saat mencari rae in, namun ia tak kunjung menemukannya. Minho sudah mencoba bertanya kebeberapa orang dan saat ia bertanya pada seorang ahjussi yang sedang menunggu bis dihalte depan super market ia tahu kalau rae in ternyata pergi.

“Oh, gadis yang membawa koper itu? Ya, tadi aku melihatnya menaiki bus, tapi aku tak sempat melihat kemana jurusan bus itu.”

“kapan kira-kira bus itu pergi?”

“sekitar 10 menit yang lalu”

Mendengar itu minho sangat bingung dan panic, ia tak tahu apa yang harus ia katakana jika nanti umma dan appa rae in bertanya padanya. Dengan perasaan menyesal ia pun kembali masuk ke mobilnya, disana ia baru sadar kalau ada sepucuk surat di kursi yang tadi ditempati oleh rae in.

***

“appa, mana rae in? kenapa ia tak pulang bersama kita?” tanya rae min pada appanya, tapi appanya hanya diam

“emm.. tadi rae in pulang bersama minho.” Jawab ummanya. Rae min pun mengangguk tanda mengerti dan kembali duduk diam di kursi belakang mobil appanya. Ia baru saja pulang dari gedung MBC setelah menjalani pemeriksaan dari dokter pribadi yang tadi datang kesana. Rae min terdiam sambil memandang keluar, ia jadi teringat pada apa yang tadi terjadi padanya.

Flashback

Saat semua terasa gelap baginya tiba-tiba ia terbangun di sebuah ruangan yang tak ia kenal dan disana ia melihat ummanya yang terlihat begitu khawatir lalu tak lama appanya datang dengan wajah tak kalah khawatir. Namun setelah itu appanya keluar bersama adiknya dan saat umma hendak pergi membeli makanan minho datang membawa makanan. Tapi minho tak lama berada disana dan segera pamit keluar dan ummanya pun keluar hendak mencari appa dan adiknya yang tak kunjung kembali.

Saat ia sedang sendirian dan merasa sangat lemah, seseorang datang keruangan itu.

“jeogiyo, boleh kuminta…” ucapan namja itu terhenti saat melihat rae min yang sedang berusaha duduk karena capek berbaring.

“ah.. silahkan saja. Aku hanya numpang istirahat sebentar”

“ehh.. ne, biar aku ambil sendiri minum untuk temanku.” Jawab namja itu agak terbata. Lalu ruangan pun menjadi sunyi seketika.

“emm.. kalau boleh ku tahu kau kenapa?” tanya namja itu kemudian.

“ahh.. gwenchana, hanya sedikit sesak akibat berdesakan di studio MuBank.”

“oh…” kata namja itu singkat, “apa kau juga salah satu fansku, ah maksudku salah satu ELF?” tanya namja itu lagi

“mian, tapi aku bukan fans siapa-siapa. Hanya ikut dengan teman saja.”

“emmm begitu…… oh iya, joneun Yesung imnida,aku salah satu member Super Junior” katanya memperkenalkan diri

“oh, joneun Rae Min imnida. Bangapseumnida. Aku melihatmu sedikit tadi, suaramu indah sekali” balas rae min

“Gamsahamnida. Euhh, aku permisi kurasa member yang lain sudah menungguku. Annyeong”

“Ne, annyeong”

Setelah namja itu pergi entah kenapa wajahnya terasa panas dan sepertinya pipinya memerah. Selain itu saat mendengar Yesung-ssi berbicara tadi ia merasa jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, rae min merasa aneh pada dirinya sendiri. ‘apa ini gara-gara sesak tadi? Atau kenapa ya? Kok rasanya aneh.’ Tanya rae min pada dirinya sendiri.

Flashback End

“Rae min…rae min..” seru ummanya

“Ah, ne. waekeure umma?” tanyanya saat sadar kalau dari tadi ummanya memanggil-manggil namanya.

“kenapa kau melamun sambil senyum-senyum begitu? kau baik-baik saja kan?”

“Ne, umma.”

“Oh, syukurlah. Ayo turun, kita sudah sampai! Apa perlu umma papah?”

“aniyo, aku bisa sendiri.”

Rae min beserta appa dan ummanya pun turun dari mobil dan segera masuk kedalam rumah karena ini memang sudah malam.

“Kami pulang”

“ah, selamat datang nona. Bagaimana keadaan nona?” tanya pengurus rumah

“gwenchana, ngomong-ngomong rae in sudah pulang?” tanyanya

“aniyo. Non rae in belum pulang sejak pergi bersama nona rae min. saya kira anda akan pulang bersama.”

“Mwo? Rae in belum pulang!!”

“Rae Min-ah, waekeure?”

“Appa… rae in belum pulang. Padahal ini kan sudah larut malam” kata rae min cemas, sementara appa hanya terdiam dan berjalan menuju kamarnya.

“Appaa…” panggil rae min

“Rae Min-ah, waekeure?” sekarang giliran ummanya yang bertanya

“umma… rae in belum pulang dan appa terlihat acuh. Ada apa sebenarnya? Apa terjadi sesuatu saat mereka berbicara bersama?”

“ah..a..an..aniyo. tidak terjadi apa-apa. Mungkin rae in sedang mengunjungi temannya.”

“ya ampun umma, masa ia sampai larut malam begini.”

“oh, iya tadi umma bilang ia bersama minho oppa kan?!” umma nya hanya mengangguk sementara rae min segera mengeluarkan ponselnya. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya terdengar sebuah suara yang sanagt ia kenal disebrang sana.

“yeobseo oppa, apa rae in ada bersamamu?”

“yeobseo rae min-ah, emm.. bagaimana keadaanmu sekarang?”

“aku baik-baik saja. Oppa, apa rae in bersamamu sekarang?”

“emmm… tadi dia memang besamaku.”

“tadi? Lalu sekarang? Dia pergi kemana? Kenapa jam segini masih elum pulang juga? Kenapa oppa membiarkannya pergi ?” tanya rae min bertubi-tubi

“tenang dulu rae min, biar aku jelaskan semuanya”

“tapi oppa bagaimana aku bisa te…” saat rae min sedang marah-marah saking khawatirnya umma merebut telponnya dan menyuruh rae min untuk tenang sementara ummanya berbicara pada minho.

“yeobseo Minho-ya”

“ahh..yeobseo ahjumma.”

“Minho-ya bisa tolong beritahu ahjumma kemana rae in pergi?”

“emm.. begini ahjumma sebenarnya tadi rae in pergi bersama saya tapi saat saya sedang membeli makanan tiba-tiba saja ia menghilang dari dalam mobil.”

“mwo?? Lalu apa dia tak bilang akan pergi kemana?”

“aniyo ahjumma, tapi ia meninggalkan sebuah surat katanya ia hanya ingin sendiri dulu untuk beberapa lama karena ia masih shock dengan apa yang ia terima dari ahjussi tadi. Saya juga sudah mencoba menghubungi ponselnya tapi tidak aktif”

“oh, kau juga tahu itu?” tanya umma lemah dan terlihat sedih

“ne. mian karena saya tak bisa membawanya pulang, tapi saya sekarang masih mencari ke tempat-tempat yang mungkin rae in kunjungi.” Jawab minho

“oh, baiklah kalau begitu. jika kau sudah mendapat kabar hubungi ahjumma.”

“Keure.”

Umma pun menutup flap Handphone rae min dan disana rae min dengan wajah yang penasaran menunggu ummanya menjelaskan. Dan ummanya pun menjelaskan apa yang baru saja minho katakan kecuali bagian masalah rae in dan appanya. Ummanya tak ingin membuat keadaan rae min semakin buruk mendengar masalah appa dan adiknya itu. Akhirnya umma rae min mengarang cerita kalau rae in merasa sangat bersalah dan shock dengan apa yang terjadi pada rae min.

“kenapa ia harus pergi begitu sih? Aku kan tidak apa-apa” kata rae min kesal plus cemas

“mungkin ia shock karena kau tiba-tiba pingsan di dekatnya.” Jelas ibunya

“tapi kan ia tak perlu…” ucapan rae min dipotong oleh ummanya

“sudahlah, sekarang kita tunggu saja kabar dari minho” bujuk umma agar rae min tenang

“aniyo, aku akan ikut mencarinya sekarang.” Kata rae min sembari bangkit dan hendak pergi, namun ummanya segera melarangnya pergi.

“Andwe rae min-ah, kalau sekarang kau mencarinya dan kondisimu semaki memburuk rae in malah akan merasa makin bersalah.”

“tapi umma…” rae min hendak membantah tapi sudah keduluan oleh ummanya.

“sebaiknya sekarang kau istirahat saja. Jika sampai besok pagi rae in belum pulang juga, kita akan mencarinya bersama.”

“baiklah umma..” rae min menyerah dan memilih nurut pada ummanya.

***

Minho masih kebingungan, ia tak tahu harus mencari rae in kemana. Ini sudah kesekian kalinya ia mengitar tempat-tempat yang mungkin akan rae in datangi, tapi rae in tak ada dimana pun. Kini minho sudah sangat khawatir dan putus asa.

Minho memandang sedih kea rah surat yang tadi ditinggalkan oleh rae in. dan untuk kesekian kalinya ia pun membaca surat itu lagi.

Oppa…

Mian karena aku pergi tanpa pamit padamu. Bukannya aku tak percaya dengan kata-katamu siang tadi, hanya saja aku sedang ingin sendiri. Semua yang kualami hari ini sudah cukp membuatku hampir gila. Entah kita akan bertemu lagi atau tidak. Untuk sementara mungkin aku akan tinggal bersama oppaku.

Sekali lagi maaf,

Rae in.

“rae in-ah, kemana kau sebenarnya?” tanya minho pada surat itu (hahaha)

Karena sudah tak ada bayangan tempat yang akan dikunjungi oleh rae in minho pun menyandarkan kepalanya ke stir dan kembali mengingat semua yang pernah ia alami dengan 2 gadis kembar itu.

FlashBack

Minho jadi ingat saat ia pertama kali bertemu dengan rae min yang hanya pertemuan singkat itu. Saat itu oppa rae min menarik rae min pergi sambil membawa bunga pemberian dariny, saat itu minho kecil hanya bisa memandang sedih gadis yang baru saja ia kenal itu. Namun saat minho kecil sedang tertunduk diam di bangku taman itu sang gadis kecil kembali dengan terengah-engah.

“minho-ya… ah maksudku oppa. Maaf kita tak bisa ngobrol lama, soalnya appa, umma, unni dan oppaku sedang menunggu.” Kata gadis itu setelah mengatur napasnya yang tidak teratur karena berlari.

“ahh..euh.. gwenchana.” Jawab minho kecil polos

“tapi oppa, jika oppa ingin bertemu dengan ku lagi datanglah ke pantai di Gyeong Sang. Itu adalah tempat rahasiaku. Hanya aku, oppaku dan oppa yang tahu.”

“Geure.” Jawab minho kecil

“Janji?” kata gadis itu sambil tersenyum dan mengangkat jari kelingkingnya sebagai tanda janji mereka

“Janji” kata minho kecil sambil melingkarkan jail kelingkingnya.

“kalau begitu sampai jumpa lagi. Annyeong…” kata gadis itu sambil berjalan pergi sambil melambaikan tangannya

“Annyeong” balas minho seraya melambaikan tangannya juga.

FlashBack End

Minho jadi merasa sangat rindu masa kecilnya. ‘Andai aku bisa kembali ke masa lalu. Adakah yang mau membawaku ke masa lalu yang indah itu’ pikirnya dalam hati. Ya, itu memang kenangan yang sangat indah, setiap tahun di tanggal yang sama saat ia bertemu Rae min ia selalu pergi ke tempat rahasia mereka itu namun ia tak pernah sekali pun bertemu dengan rae min, hingga suatu hari saat hari kematian oppanya rae min akhirnya minho bisa bertemu lagi dengan rae min, namun rae min sama sekali lupa dengan kenangan mereka itu.

“Kenapa kau melupakan pertemuan kita itu dengan mudahnya? Bahkan kau mengingkari janji yang kau buat dulu.” Kata minho lemah pada dirinya sendiri.

“Padahal rae in saja tahu kejadian itu..” katanya lagi.

Lalu tiba-tiba tersirat sebuah pikiran yang menurutnya sedikit gila. Bagaimana kalau yang ia temui itu bukan rae min tapi rae in? bagaimana kalau sebenarnya cinta pertamanya itu adalah rae in dan bukan rae min? ada banyak pertanyaan gila yang mengahampiri pikiran minho namun ia segera menepis semua pikiran itu. (SAMPAI SINI)

“Tidak mungkin aku salah, aku yakin yang dulu kutemui itu adalah rae min dan bukan rae in. rae in juga bilang begitu.” katanya meyakinkan diri sendiri.

Setelah sekian lama melamun sendiri ia pun memutuskan untuk pulang karena hari juga sudah sangat larut bahkan bisa dibilang sekarang sudah menjelang pagi buta.

***

Pagi yang cerah dan suara deburan ombak yang lembut membuat pagi rae in terasa sangat tenang dan damai. Hari kemarin adalah hari yang cukup buruk untuknya, pertama harus melihat unninya roboh didekatnya, lalu harus menerima bentakan ayahnya, lalu pergi tanpa pamit pada minho yang sudah menemaninya hingga ia tenang. Lalu rae in juga ingat dengan tamparan yang ia terima dari AYAH KANDUNGnya sendiri, mengingat itu ia pun kembali meraba pipinya yang masih sedikit bengkak.

Tapi rae in tak ingin terus-terusan bersedih, ia menganggap kemarin hanyalah kenangan yang harus bisa ia lupakan meski akan sulit. Setelah membereskan kamar yang bernuansa biru dan outih dengan dekorasi berbau pantai itu, rae in pun melangkah keluar menuju balkon depan. Disana ada dua buah kursi kayu rotan yang masih terawat dan sebuah beja kecil diantara dua kursi itu, balkon itu juga di pasangi pagar dengan ukiran bunga-bunga yang indah.

Setelah mandi dan berganti pakaian rae in memutuskan untuk pergi keluar dan berjalan-jalan di pantai berpasir putih yang indah itu. Tanpa sadar ia sampai di sebuah rumah yang berwarna putih dengan desain yang sangat indah. Di teras depannya di pasangi pagar dengan ukiran yang tak kalah indah.

Rae in berjalan pelan menuju pagar teras depan rumah putih itu dan menyentuh ukiran yang ada dibagian atas, tangannya terhenti disebuah tulisan yang di ukir indah bertuliskan “My Little Angel Rae In” dan tulisan satunya yang bertuliskan “My Guardian Angel …… oppa”. Bagian nama diukiran yang kedua itu sudah tak bisa terbaca dengan jelas lagi, itu karena kejadian 6 tahun lalu yang sangat memilukan bagi rae in.

FlashBack

ini adalah kejadian tepat setahun setelah oppa pergi. Rae in kecil memutuskan untuk pergi ketempat yang ia dan oppanya jadikan sebuah tempat rahasia. Namun tanpa disadari rae in kecil yang minta diantarkan oleh supir keluarganya itu diikuti oleh mobil hitam lain dibelakangnya. Sesampainya ditempat itu rae in segera berlari masuk dan mencari oppanya, saat itu rae in kecil memang belum bisa menerima kepergian oppa kesayangannya itu dan terus menyusuri rumah putih di pinggir pantai itu sambil terus memanggil-manggil oppanya.

“Oppa…oppa…oppa dimana? Ini Rae in, aku pulang oppa!” seru rae in kecil berulang-ulang. Sambil menyusuri tiap sudut rumah itu.

Dan saat ia kembali ke teras depan rumah putih itu, disana sudah ada dua orang pria bertubuh besar dengan pakaian yang serba hitam dan mereka juga menggunakan kacamata hitam. Dari penampilannya saja, rae in kecil tahu kalau itu adalah suruhan orangtuanya.

Kedua pria itu berusaha menarik rae in kecil untuk pergi bersama mereka namun rae in menolak dan menangis.

“Aniyo… aku tidak akan pulang. bagaimana jika nanti oppa pulang kesini dan tidak menemukanku? Pokoknya aku tidak mau pergi….” Kata rae in kecil berontak.

“sudahlah nona kecil, jangan membantah dan ikut saja bersama kami. Tuan muda tidak akan pernah kembali kemari karena tuan muda sudah MATI.” Bentak salah seorang pria itu

“Aniyo.. oppa tidak mati. Ia takkan meninggalkanku sendiri, bahkan oppa sudah mengukirkan nama kami berdua disini sebagai janji kalau oppa akan terus bersamaku.” Kata rae in keukeuh sambil menunjukkan ukiran “My Little Angel Rae In” dan “My Guardian Angel Yunho oppa”. Setelah menunjukkan ukiran itu salah satu pria yang dari tadi memegangi tangan rae in dengan sengaja merusak ukiran di bagian nama “Yunho” dengan pisau hingga tak bisa terbaca lagi. Melihat itu rae in kecil mengamuk dan menangis dengan sejadi-jadinya hingga tak sengaja pergelangan tangannya terluka dan mengeluarkan banyak darah.”

FlashBack End

Kenangan itu sungguh sangat menyakitkan hati, dan luka yang dulu pernah dibuat tanpa sengaja oleh para pengawal orangtuanya itu masih membekas hingga kini. Sejak kecil dulu hingga kini salah satu pergelangan tangan rae in selalu tertutup oleh Hand band atau bandana, dibalik hand band atau bandana itu terukir bekas luka yang dulu. Tak ada yang tahu mengenai hal ini, bahkan orang tuanya sendiri.

Setelah kembali mengingat kenangan-kenangan masa lalu bersama oppanya rae in pun memutuskan untuk pergi ke pasar yang berjarak sekitar 15 menit ditempuh dengan bis. Di pasar itu rae in membeli seikat bunga mawar putih yang indah serta membeli makanan dan minuman kesukaan oppanya. Setelah semua yang ia butuhkan terbeli rae in pun memutuskan untuk mengunjungi makam oppanya untuk meletakkan bungan dan semua yang ia beli dipasar tadi.

Rae in membersihkan makam oppanya dengan sigap dan meletakkan makanan serta minuman yang tadi ia beli, tak lupa juga ia meletakkan bunga yang tadi ia beli. Lalu rae in berdo’a sambil menutup matanya dan sebulir air mata jatuh dari mata rae in.

“oppa…. Aku datang untuk memberimu bunga yang indah ini. Bagaimana kabar oppa disana? Maaf baru bisa mengunjungimu setelah 7 tahun ini.” Rae in terdiam sebentar seperti menikmati kesunyian yang ada disananya dan seolah sedang mendengar jawaban dari oppanya.

“Oppa…. Hari-hariku selalu diikuti bayangan kelam kepergianmu. Setelah kau pergi tak ada lagi orang yang bisa menemaniku disini. Oppa aku sangat kesepian.” Rae in terdiam lagi

“apa kau juga kesepian disana?!” Kata rae in lagi. Tak lama dari itu rae in pergi tapi sebelumnya rae in mengikatkan bandana yang hari itu ia pakai untuk mengikat salah satu pergelangan tangannya.

***

“Oh, Oppa kau datang. Bagaimana? Apa kau sudah menemukan dimana rae in berada? Semalam ia tak pulang?” tanya rae min bertubi-tubi karena cemas

“mian, semalaman kemarin aku sudah mencoba mencarinya tapi..”

“Mwo?? Ahh… Ottokhae? Kemana rae in sebenarnya pergi?” kata rae min lagi sembari berjalan bolak-balik

“Tenanglah rae min” seru ummanya menenangkan

“Tapi umma, bagaimana aku bisa tenang sementara rae in semalaman gak pulang tanpa sebab. Sebenarnya apa yang terjadi kemarin?” tanya rae in kepada ummanya

“tidak ada yang terjadi, sudah umma bilang kan?!”

“jika tidak ada, mana mungkin ia pergi tanpa kabar begini!!” serunya

“Rae min-ah, tak baik kau berbicara kasar pada ummamu. Tenanglah! Oh, iya apa kau tahu tempat yang mungkin akan ia kunjungi?” tanya minho sambil menenagkan rae min

“Mollayo oppa, aku sama sekali tidak berpikir saat ini. Selain itu, perasaanku tidak enak soal rae in. Ah.. andai Yunho oppa ada disini… ia selalu tahu kemana rae in pergi.” Katanya sedih, rae min pun duduk di sofa ruang tamunya itu diikuti oleh minho sementara ummanya telah duduk dari tadi. Lalu tak beberapa lama seakan baru sadar dengan apa yang ia katakana rae min bangkit secara tiba-tiba dan berseru riang.

“Yunho oppa…Ya pasti kesana. Kajja oppa! Aku tahu rae in pergi kemana.” Kata rae min tiba-tiba sambil menarik minho untuk segera pergi.

“oke..oke.. tapi kita mau pergi kemana?”

“ikut saja, nanti juga tahu. Palli…” kata rae min tak sabar.

Setelah pamit pada ummanya ia dan minho pun segera berangkat. Tempat yang mereka tuju adlah makam Yunho oppa. Rae min baru ingat kalau sejak kematian oppanya itu rae in berubah menjadi sangat pendiam dan dingin. Ia tak pernah menceritakan masalahnya kepada orang lain, jika rae in merasa sedih atau bahagia sekalipun ia pasti akan pergi ke makam Yunho.

Saat mereka tiba disana, pemakaman itu sepi dan tak ada seorang pun disana. Tanpa piker panjang rae min langsung berlari kearah makam oppanya dan disana ia menemukan makam oppanya dalam keadaan bersih dan disana ada berbagai makanan dan minuman kesukaan oppanya serta seikat bunga mawar putih. Tak jauh dari bunga itu rae min menemukan bandana yang biasa rae in pakai.

“ini bandana yang sering rae in pakai di pergelangan tangannya. Tadi pasti ia datang kemari, semua ini masih baru” kata rae min saat minho sampai di makam itu.

“Iya, tapi kenapa ia meninggalkannya disini? Bukankah kau bilang ia tak pernah melepaskannya meski tidur sekalipu?” tanya minho

“Molla, tapi aku punya firasat buruk dengan ini.” Kata rae min, lalu saat rae min menggenggam erat bandana Yeonsaengnya itu ia merasakan butiran pasir.

“Oppa.. bukankah ini pasir pantai?” tanya rae min pada minho

“iya, ini pasir pantai. Tapi pantai dimana? Kenapa rae in pergi ke pantai?” tanya miho balik

“didekat sini ada pantai yang dulu sering dikunjungi Yunho oppa dan rae in. kurasa ia ada disana, Kajja oppa!” ajak rae min pda minho untuk segera pergi ke pantai itu.

Sesampainya dipantai mereka agak bingung karena pantai itu sungguh luas dan rae min tak tahu tepatnya dimana rae in dan oppanya biasa bermain. Akhirnya mereka memutuskan untuk berpencar, Rae min menyusuri pantai kearah Barat semantara Minho kearah Timur.

Setelah sekian lama mencari, rae min tak kunjung menemukan rae in. rae min terus berlarian sambil menyerukan nama yeonsaengnya itu dan karena kelelahan menyusuri garis pantai itu rae min jatuh terduduk dan menangis.

“Rae in-ah…. Kau dimana?? Ayo pulang bersama! Jangan pernah tinggalkan aku sendiri, aku tak mau kehilangan satu lagi orang yang berarti bagiku. Merelakan kepergian oppa saja masih belum sepenuhnya bisa kulakukan, jangan kau pergi menyusulnya… hiks..hiks…” seru rae min sambil menangis.

Sementara itu setelah berjalan sekian lama garis pantai yang minho susuri terpotong oleh sebuah tebing batu yang terbuat dari karang laut dan saat minho memandang keatas ia melihat seorang gadis berdiri diujung tebing dimana dibawah tebing itu penuh dengan batuan karang dan ombak besar dan tinggi seolah berlomba menggapai gadis itu. Setelah beberapa lama memperhatikan minho baru sadar kalau gadis itu adalah rae in. tanpa pikir panjang minho segera berlari dan memanjat tebing itu.

“Rae in-ah..Rae in-ahh..” panggilnya saat telah mencapai puncak dari tebing itu. Rae in yang sedang berdiri diujung tebing berbalik menoleh kearah minho.

Saat itu minho baru sadar kalau rae in sedang menangis. Minho pun dengan perlahan berusaha menggapai rae in. tapi langkahnya terhenti karena ucapan rae in.

“Stop oppa.. jangan datang kemari. Jika kau maju selangkah lagi maka aku akan melompat sekarang juga dihadapanmu” cegah rae in

“Rae in-ah… apa yang kau lakukan? Kenapa kau begini? Kasihan unni dan ummamu yang mengkhawatirkanmu” kata minho sedih

“STOP.. jangan bicara apa-apa lagi” kata rae in sambil menutup kedua telinganya.

“Cukup, aku tak ingin mendengarkan apa-apa lagi. Sudah cukup semua kebohongan yang kudengar selama ini. Tak ada yang menginginkanku hidup didunia ini lagi”

“apa maksudmu? Bukankah kau sudah berjanji untuk menceritakan semua masalahmu padaku? Kenapa kau memilih jalan pintas seperti ini?”

“Mian oppa.. tapi ini sudah tak bisa ku tahan lagi dan takkan ada jalan keluar untuk masalahku ini. Aku sudah terlalu terluka, sekali lagi mian oppa”

“Rae in-ahh… aku takkan pernah membiarkanmu pergi sendiri. Kita sudah berjanji. Jika kau melompat aku juga akan ikut bersamamu”

“Andwe oppa, jangan lakukan itu. Jika kau melakukannya itu hanya akan membuatku semakin merasa bersalah” pinta rae in, tapi seolah tak mendengar Minho berjalan mendekati rae in sementara rae in terus mundur.

Akhirnya minho bisa memegang salah satu tangan rae in tapi rae in berontak dan berusaha melepaskan tangan minho dari tangannya.

“Oppa lepaskan aku, kumohon biarkan aku menjemput kebahagianku”

“KEBAHAGIAN APA? LOMPAT DARI ATAS SINI BUKAN SOLUSI UNTUK MASALAHMU” bentak minho.

Tapi rae in tetap berontak dan saat itu minho baru sadar kalau tangan yang ia genggam adalah tangan yang biasa rae in tutupi dengan bandananya. Disana minho melihat banyak bekas sayatan dan ada satu luka yang lebih besar dari luka yang lain. Minho terdiam melihat pergelangan tangan rae in itu, begitu pun rae in yang hanya menangis.

“apa ini rae in??” tanya minho, tapi rae in tak menjawab dan saat minho memandang rae in orang yang ia pandang itu menundukkan kepala dan terus menangis.

Lalu dengan satu hentakan kasar rae in bisa melepaskan tangannya dari genggaman minho dan berlari menuju ujung tebing tapi minho langsung respon dengan mengejarnya dan saat mereka sama-sama berada diujung minho hendak menarik rae in agar tidak melompat tapi ternyata tebing itu rapuh dan tempat yang mereka pijak itu belah dan terjatuh ke laut otomatis rae in dan Minho pun ikut terjatuh.

“RAE IN-AH….” Teriak minho sambil berusaha menggapai tangan rae in, namun….

***

Rae min masih terduduk di pinggir pantai dan menangis, lalu tiba-tiba perasaan aneh menyergap dirinya. Ia merasa sesak dan dadanya terasa sakit. Ia tahu ini bukan sakit yang biasa, ia merasa telah terjadi sesuatu pada adik kembarnya. Tapi rae min tak bisa melakukan apa-apa, rasa sakit dan sesak ini kian menjadi. Ia menangis sambil terus meyakinkan diri dan hatinya kalau rae in baik-baik saja.

To be Continued…

One thought on “Bring Me to The Past [part 3]

  1. Kyaa….
    Kenapa bgtu:'(
    22nya jatuh yaa?jaaangaann………
    Aaahh..gk relaa…
    Pkokny,hrus happy ending …. Minho sama rae minnya..
    Oh iyaa,kykny td ada yg slh dehh,shrsnya rae min yg nny mlah tertulis ‘rae in’disitu.kan gk lucu rae in nanyain rae in#plaaakk
    Maaf bawel..hehehe,ditunggu kelanjutannyaaa….*big hug and kiss*

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s