Mictophobia [part 1]

Title       : Mictophobia 1st Story *Our Story Begin With The Kiss*

Author : Sujuyongwonhie

Cast :

Yesung

Leeteuk

Dongho

Rating   : PG – 15

PS          : FF ini pernah dipublish di blog pribadi author sujuyongwonhie.wordpress.com

 

Shinyeong’s POV

Namaku  adalah Kim ShinYeong.  Terdaftar sebagai seorang mahasiswi di universitas terkenal di Korea bahkan mungkin di dunia, yah benar Seoul University. Beasiswa itu ternyata mengasikan, Aku merupakan salah satu siswa berprestasi di SMA-ku, tidak sulit bagiku untuk mendapatkan sebuah nilai sempurna, bahkan menjadi bintang kelas sejak di Sekolah Dasar rasanya aku menganggap itu sebagai hal biasa. Dan karena otakku yang cemerlang itu, aku bisa menjadi mahasiswi di Universitas yang masuk dalam 50 Universitas terbaik di dunia. Sebuah universitas yang menjadi impian setiap pelajar yang haus akan ilmu pengetahuan. Universitas yang bahkan hanya bisa dimasuki oleh orang-orang terpilih di Republik Korea ini. Bangganya aku bisa menjadi salah satu mahasiswa disana. Jurusan yang aku ambil adalah Hubungan Internasional. Yah impian besarku memang menjadi seorang diplomat. Sebenarnya ada tujuan lain aku memilih cita-cita itu. Aku ingin sekali pergi keluar negeri, terutama Kanada. Entah apa yang membuatnya menarik, tapi aku benar-benar ingin berkunjung ke Negara bagian amerika selatan tersebut. Pasti akan sangat menyenangkan jika aku bisa menjadi duta besar Korea  disana. Gila? Yah terserah kalian ingin mengatakan apa. Yang pasti, aku selalu yakin jika aku berusaha keras untuk mewujudkannya pasti semua akan berbuah manis.

Selain kuliah, aku juga mempunyai aktifitas lain yang tak kalah pentingnya, yah benar, Bekerja.  Meskipun pendidikanku sudah terjamin hingga aku mendapatkan gelar sarjana. Tapi beasiswa tidak menjami kehidupan sehari-hariku. Aku harus  makan untuk tetap hidup. Tinggal sendirian di tengah kota Seoul memang tidak mudah, apalagi aku seorang gadis yang bahkan belum genap berusia 20 tahun. Aku meninggalkan kampung halamanku di Daegu, untuk mengejar cita-citaku. Hem.. aku bukan seorang gadis dari keluarga kaya. Ayahku tidak mempunyai sebuah perusahaan besar dengan berbagai cabang yang tersebar di mana-mana. Ibuku juga bukan seorang Nyonya besar yang menghabiskan waktu di salon hanya untuk merawat kuku-kukunya. Sejak kecil, aku sudah terbiasa bekerja keras, aku selalu mencoba untuk bisa mandiri. Ayahku adalah seorang karyawan di salah satu bank swasta, sedangkan ibuku,  dia menjaga kedai jajangmyeon di rumah kami. Kedai kecil sederhana yang didirikan  untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga kami. Aku juga mempunyai seorang adik laki-laki yang masih duduk di tingat 2 SMP, namanya Kim Jisob.

Sebenarnya kedua orang tuaku sempat menentang ketika aku memutuskan untuk mengambil beasiswa di Seoul Universitiy, karna tentu saja aku harus pindah ke Seoul. Tapi aku meyakinkan mereka bahwa semua yang aku ambil adalah yang terbaik. Aku ingin belajar di Seoul dan menjadi seorang diplomat yang hebat, aku juga meyakinkan mereka kalau aku akan baik-baik saja di sini.

Setiap bulan, orang tuaku akan mengirimu uang untuk membayar sewa flat. Sedangkan untuk makan sehari-hari, aku menggunakan uangku sendiri, sebenarnya oema dan appa memberikan uang lebih untuk ku. Tapi aku menyimpan uang itu, dan berharap kelak setelah uangnya terkumpul banyak, aku bisa membuat kedai jajangmyeon yang lebih besar untuk ibuku.

Aku ini seorang gadis yang sangat cerdas, semua tau itu. tapi aku ini seorang pelupa, Pelupa akut.  Aku fikir mungkin aku terkena alzaimer di usia dini, karena sifat pelupaku ini memang sudah sejak Sekolah Dasar. Karena hal itulah aku sempat berkonsultasi dengan seorang dokter, tapi anehnya dia mengatakan tidak ada yang salah dengan otakku. Semuanya baik-baik saja. Mungkin aku harus berusaha memperhatikan setiap hal yang terjadi di sekitarku hingga aku bisa mengingatnya dengan baik.

Aku sangat suka  Mendengarkan Music, yah hanya merasa tenang ketika alunan nada-nada itu masuk ke dalam telingaku. Atau aku akan merasa lebih bersemangat ketika aku mendengarkan lagu dengan irama keras.  Hampir 10.000 lagu menjadi playlist di i-tunesku, semua genre musik aku sukai mulai dari klasik sampai rock, kupingku menerima semuanya dengan baik.

Aku memiliki seorang sahabat baik, dia adalah Song Jieun. Dia adalah sahabat terbaik diatara sahabat baikku. Aku kesulitan untuk mendapatkan seorang teman yang benar-benar berteman denganku. Kebanyakan dari mereka hanya memanfaatkanku untuk medapatkan nilai baik di ujiannya. Song Jieun adalah teman satu kamarku di flat yang kami sewa bersama. dia berasal dari Incheon, sama halnya dennganku, dia mendapatkan beasiswa di Seoul university hingga memperoleh gelar Arsitek. Dan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, kami berdua bekerja part time di salah satu restoran babtols di daerah Hongdae. Tidak jauh dari flat kami berada. Babtols restoran adalah sebuah perusahaan franchise yang sudah mempunyai 10 cabang di Korea. Sekarang restoran ini dikelola oleh putra pertama sang pemilik. Tapi parahnya, aku sama sekali tidak mengetahui bagaimana sosok si pemilik restorant yang  rekan kerjaku bilang, dia adalah seorang yang sangat dingin tetapi sangat tampan.

***

Kembali ku lirik arlojiku dengan  resah, aku bangkit dari posisiku dan mengarahkan pandangan ke ujung jalan. Kemudian kembali duduk sembari sesekali menghentakan tumitku dengan kesal. Ya Tuhan,  sudah hampir jam 3 dan bus yang aku tunggu belum juga datang.

Tepat jam 3 aku sudah harus  berada di restoran tempatku bekerja. Dan sekarang aku bahkan masih menunggu bus di shelter yang tepat berada depan kampusku. Restorant tempatku bekerja jaraknya memang lumayan jauh dari sini. Tapi mau bagaimana lagi hanya itulah satu-satunya tempat yang mau menerimaku sebagai pegawai yang ceroboh ini. Aku dan Jieun bahkan mati-matian memohon agar bisa diterima dan bekerja part time di restorant itu. karena jarang sekali ada restorant besar yang mau mempekerjakan pegawai part time sebagai pelayan.

Aku mengernyitkan mata, kemudian mengangkat tangan kananku,  meletakannya di dahi untuk menhalangi sinar matahari yang tepat mengenai wajahku. Matahari sudah bersiap menuju tempatnya menggelamkan diri dan sinarnya kini mengarah ke sebelah timur tempatku berdiri.

“Shinyeong-ah, apa ini milikmu?” suara seorang namja membuatku terlonjak kaget. Dia menatapku bingung sembari menyodorkan sebuah buku di tangan kanannya. Tepat di cover buku tersebut, tertulis besar namaku dengan tinta berwarna merah.  Aish, itu buku catatanku, kenapa ada di tangannya?

“YA!! DARIMANA KAU MENDAPATKANNYA!!” jeritku dengan suara yang beresonansi tinggi. Aku terperangah kaget ketika melihat benda berharga miliku itu ada di tangannya. Yah itu bukan buku catatan biasa, walaupun aku membawanya setiap hari untuk mencatat. Tetapi ada sesuatu di dalamnya, yah beberapa coretan mengenai perasaanku, dan sesuatu apapun yang sedang ada di pikiranku saat aku memegang buku itu. Park Jungso, nama itulah yang memenuhi setiap sudut buku catatanku.

“HYA aku berusaha mencarimu dan mengembalikannya padamu, kenapa kau malah marah-marah seperti ini! Dasar yeoja gila….” Ujarnya dengan penuh emosi, kemudian berlalu melewatiku. apa dia bilang? Yeoja gila?

“Kau bilang apa yeoja gila? Aish, ddo jeongmal….” aku menghembuskan nafas kesal sesaat “tapi walau bagaimanapun, terimakasih sudah mengembalikannya” ujarku, kemudian menepuk pelan pundaknya. Tapi apa dia membuka-buka halaman buku catatanku? Hem, apa dia melihat semuanya? aigoo apa yang harus aku lakukan jika dia melihat isi buku ini. Bisa mati aku jika dia memberitahunya pada teman-temanku yang lain. Hem tapi dia mengatakan apapun barusan, kurasa dia tidak membuka bukunya sama sekali.

Sebuah nama yang tertulis di beberapa buku catatanku. Dia adalah Park Jungso, seorang dosen muda yang menggantikan professor Lee untuk mengajar. Aku sangat senang ketika mengikuti mata kuliahnya, bukannya memperhatikan, aku malah sibuk memotretnya dengan berbagai ekspresi. Entah apa yang membuatnya menarik, tapi aku selalu merasa kalau dia menunjukan Kkrisma yang tidak dimiliki oleh pria lain. Bahkan aura disekitarnya terasa sangat lain, yah aura yang benar-benar menyenangkan. Walaupun dia seorang dosen, tetapi dia tidak pernah mau disebu sajangnim, atau sapaan hormat lainnya yang terlalu berlebihan. Kami mahasiswanya menyebutnya dengan sapaan Sunbae. Ya…. Jungso Sunbae, satu-satunya namja yang bisa membuatku tergila-gila sampai seperti ini.

TIIIIIIIIDDDTTT…. TIIIIIIIIDDDTTT…

Aku tersentak kaget ketika mendengar suara klakson yang membuat jantungku scot jump, Aah ternyata bus berwarna hijau itu sudah mendarat tepat di hadapanku.  Hampir satu jam aku menunggu, akhirnya datang juga.

Tanpa pikir panjang aku langsung melangkahkan kakiku menaiki bus tersebut. Didalamnya terasa begitu sesak karena banyaknya penumpang, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus tetap naik agar bisa segera sampai ke restoran. Tidak mungkin aku naik taksi dan menghabiskan uang jatah makanku.

“Chogeo..” seseorang menerobos masuk dan mendorongku dengan badannya. Aissh aku sebenarnya sangat membenci berdesak-desakan seperti ini terlebih ini adalah waktu dimana mereka kembali dari aktifitasnya. Bisa dibayangkan bagaimana bau yang ditimbulkan setelah seharian beraktifitas. Aku mencondongkan tubuhku sedikit ke depan menghindari berbagai macam bau yang mulai berdatangan, menerobos masuk begitu saja melalui lubah hidungku. Tapi dalam situasi seperti ini, tentu saja aku hanya bisa terombang-ambing kesana kemari.

Drrt drrt…

Aku merasakan ponsel di saku celana jinsku bergetar. Sedikit kesulitan untuk merogohnya karena ruang gerakku yang terbatas, tapi kemudian aku bisa mengambil ponsel itu setelah berusaha dengan susah payah. 1 pesan diterima

From : Eunna

Shin Yeong-ah hari ini Sajangnim akan mengunjungi restoran, Kau harus cepat datang dan bersiap-siap jika kau tidak ingin mendapatkan masalah.”

Aku mulai memainkan ibu jariku dengan lihai di keypad  ponsel yang sedang ku genggam. Tapi kemudian…

Bukk…..  

Ponsel yang kugenggam di tangan kanaku terlempar begitu saja karena ada seorang gadis yang menyenggol tanganku.

“Hya!!! PONSELKU” pekikku sekencang mungkin, membuat semua orang di dalam bus menoleh ke arahku. Aa

Aku mulai panik dan mencari-cari celah dimana aku bisa melihat keadaan dibawah. Tapi yang kulihat kanya beberapa pasang kaki dengan macam-macam sepatu yang dipakainya. Aissh gawat pasti ponselku akan hancur terinjak-injak sekarang, aigoo bagaimana ini?

“Ahjumma aku mohon tolong lihat di bawah tempat dudukmu, kurasa ponselnya tadi jatuh kesana” dengan susah payah aku menghampiri seorang ahjuma yang sedang duduk dengan tenang tanpa memperhatikan keadaan sekitar yang penuh sesak.

“Ah aku sudah tua jika kau menyuruhku untuk  menunduk, maka tulang punggungku bisa patah”

Ujarnya dengan wajah tanpa dosa yang membuatku tidak tega. Ya dia memang ahjumma berperawakan kecil dengan balutan kulit yang sudah koyak jika diterpa angin. Dan bagaimana aku bisa mengambilnya dalam keadaan seperti ini? Aku menggigit jari telunjuku dengan putus asa karena beberapa meter di depan sana adalah shelter bus yang tepat berada di depan restorant tempatku bekerja.

Yah benar…. Ponselku harus berakhir tragis. Dengan susah payah, aku berusaha keluar dari bus, tapi tetap saja aku tidak bisa bergerak dengan mudah dalam keadaan seperti ini. Aku tetap mengarahkan pandanganku ke tempat dimana ponselku jatuh. Kemudian menoleh kearah ahjuma yang duduk dengan damai di kursi itu. dia hanya membalas tatapanku dengan iba, kemudian mengalihkan pandangannya kearah jendela.

“YAK… aggaesi, tak bisakah kau melangkah lebih cepat?” Ujar salah seorang pria yang juga akan turun di shelter yang sama denganku. Akupun melangkahkan kakiku dengan gontai menuruni 2 tangga di pintu keluar dan terus menatap bus hijau itu hingga tak terlihat.

“Selamat tinggal ponselku” ujarku pelan sembari melambaikan tanganku dengan putus asa.

Aku menunduk lemas selama perjalanan menuju restoran, pikiranku sedang kacau  sekarang. ponselku yang sangat teramat berharga itu harus lenyap tak berbekas. Ponsel Flip orange yang di berikan Jungsoo Sunbae di hari ulang tahunku. Yah benar, dosen muda krarismatik itu. Aku memang dekat dengannya karena aku memang selalu aktif ketika mengikuti mata kuliahnya, walaupun aku sibuk memotret wajahnya dengan berbagai ekspresi tapi tetap saja aku terus mendengarkan penjelasannya dengan baik.

Hubungan kami semakin baik ketika dia membayarkan sewa flat ku bulan kemarin, ini semua karena oema telat mengirim uang. Saat itu aku dan Jieun hampir diusir, tapi dia mengetahui keadaan itu dari salah satu teman kelasku. Hingga akhirnya dia membayarkan sewa flat kami. Tapi tentu saja, setelah oema mengirimkan uangnya padaku, maka aku segera menggantikan uangnya yang terpakai, walaupun dia bersi keras menolak, tapi aku tetap memaksa untuk mengganti uangnya. Ponsel flip itu dia berikan ketika ulang tahunku yang ke 19 beberapa waktu lalu. Sebelumnya aku mempunyai sebuah ponsel yang sama tapi kemudian aku menghilangkannya, yah karena sifat pelupa ku itu. Aku meninggalkan benda berharga itu di toilet kampus, kemudian benda itu sudah lenyap ketika aku kembali untuk mencarinya. Sebagai gantinya, dia memberikan ponsel yang sama untuku. Walaupun aku menolaknya tapi dia bilang itu sebagai hadiah karena aku termasuk mahasiswa yang pintar. Dan sekarang ponsel itu lenyap. aaahh eotteokhae? Aku menengadahkan kepalaku memandang langit yang tak menandakan senyumnya padaku, apa dia senang melihatku  sengsara? Huh.. menyebalkan.

***

“Anyyeonghaseyo..” sapaku dengan intonasi rendah, hampir tidak terdengar. Yah, rasanya masih lemas karena kejadian yang menimpaku barusan. Aku melihat Jieun dengan setengah berlari menghampiriku.

“Yeongi-ah kenapa wajahmu lusuh sekali?” dia menangkupkan kedua tangannya di pipiku, dengan tatapan bingung.

“Aku menghilangkan ponselku..” jawabku dengan tak bersemangat.

“MWO????” Suara Jieun membuat telingaku berdengung. Aku meringis sembari mengusap-usap kupingku yang terasa pengang.  Aish, kencang sekali suaranya. “KAU ITU KENAPA CEROBOH SEKALI HAH!!” lanjutnya kemudian menjitakku gemas.

“Ini semua salahmu jika kau tidak mengirim pesan tadi maka ponselku tak akan mungkin berakhir tragis seperti ini” ujarku coba membela diri. Iya benar, kalau dia tidak mengirimiku pesan, maka aku tidak akan mengeluarkan ponsel itu dari saku celanaku.

“Keurom… kenapa kau tidak berusaha mencarinya hah?” ekspresi wajahnya mulai berubah menjadi lebih terlihat biasa. Dia kini mulai menatapku dengan iba. Yah, nasibku begitu naas hari ini.

“Terlalu penuh bahkan aku tak bisa melihat warna ponselku sedikitpun” aku coba menjelaskan, sambil merengut sebal. Jika tadi bukan ahjuma keriput itu yang duduk disana, aku pasti bisa meraih ponsel flip orange ku itu.

“Yasudah kau harus menabung lagi untuk membelinya, jangan bilang pasa Jungsoo oppa kalau kau menghilangkannya. Sekarang cepat ganti bajumu, sebentar lagi Sajangnim  datang..” dia menepuk bahuku pelan, mencoba menenangkanku yang terlihat sangat frustasi.

Aku hanya mengangguk pelan kemudian menyeret langkahku menuju kamar ganti.  Ini adalah restoran yang lumayan mewah jujur sebulan aku bekerja disini tapi aku belum pernah melihat siapa pemilik dari sebuah tempat megah seperti ini. Para pegawai bilang kalau pemiliknya adalah seorang Namja yang memiliki wajah tampan bahkan ada sebagian yeoja yang begitu memuja-muja orang itu. Tapi ada satu hal yang membuat wanita penasaran dengan sikapnya. Yah Mereka bilang orang ini bersikap dingin. Dia bisa merubah espresinya dalam waktu tak kurang dari satu detik. kalau tidak salah namanya adalah Kim Jong Woon, pengusaha muda sekaligus pemilik tempat ini. Dia adalah putra pertama dari salah satu staf kementrian Republik Korea.

***

Setelah selesai bersiap-siap aku mulai bercermin dengan senyum mengembang, entah kenapa aku begitu menyukai seragam kerjaku ini, kemeja putih polos dipadu dengan rok hitam selutut kemudian dibalut dengan rompi berwarna merah dengan logo restoran di punggungnya. Kami semua pelayan wanita, harus menggulung rambut kami ke belakang, sedangkan pelayan pria menggunakan topi berwarna merah dengan logo restorant di depannya.

Aku bergerak menuju loker tempat menyimpan barang-barang milik pegawai. Ku buka loker milikku dan.. sebuah amplop jatuh di atas sepatu cats yang ku kenakan.

“Ige mwoya?” aku membungkukan badanku untuk meraih sebuah amplop surat berwarna biru muda itu. hem surat lagi? Kurasa minggu ini aku hampir mendapatkan 15 surat di lokerku.

“The secret admire?” bisik Dongho yang tiba-tiba berdiri di belakangku, membuatku sedikit merinding merasakan udara yang keluar dari mulutnya menyapu tengkuk leherku .

“Dongho-ah….” Aku menoleh ke belakang melihatnya, dan dibalas dengan senyuman yang membuat matanya menghilang dan hanya menunjukan satu garis lurus. “Kau baru datang?” ujarku kemudian. Shin Dongho, dia adalah dongsaengku yang juga seorang pelayan di restorant ini. Dongho terdaftar sebagai mahasiswa tingkat satu di Inha University. Jujur aku sangat salut padanya, dia bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri dan tidak bergantung pada orang tua. Dia berasal dari keluarga yang lumayan berada. Ayahnya adalah seorang arsitek dan ibunya adalah seorang dokter. Tapi dia selalu ingin mencoba hidup mandiri, kembali bekerja di restorant ini sebagai pelayan. Aku tidak tahu, untuk apa uang yang akan dia dapatkan. Kalau aku tentu saja aku bekerja karena benar-benar membutuhkan uang untuk hidup. Terkadang aku merasa iri, namja semuda dia bisa melakukan semua itu sendiri terlebih dia juga mengikuti sistem akselerasi untuk menjadi mahasiswa di  inha university. Seharusnya sekarang dia masih duduk di tingkat 3 High School, tapi karena kecerdasannya, dia langsung bisa menjadi seorang mahasiswa seperti sekarang. Kemampuan berkomunikasinya sangat baik, sehingga ketika dia ingin masuk sebagai pegawai part time di restorant ini, maka dengan mudah dia diterima.

“Ne.., tadi aku harus mengikuti mata kuliah tambahan dari dosen mengerikan itu. dan tentu saja aku tidak bisa menolak” jawabnya singkat. Dia menjulurkan tangan kanan untuk membuka loker miliknya, kemudian mengambil topi berwarna merah yang memang harus dikenakan oleh seorang pegawai pria.

“Nuna-ya name tage mu mana?” dia menoleh ke arahku sembari membetulkan letak topinya yang sedikit miring.

“Enghh…” aku menundukan kepalaku, memeriksa keberadaan name tage yang seharusnya melekat di dadaku. Yah benar tidak ada. Untung saja dia memberitahuku. Jika tidak, pasti aku akan kena omelan, apalagi sekarang ada kunjungan restorant yang akan dilakukan oleh Sajangnim

“Ah iya, aku lupa menggunakannya. Terimakasih sudah mengingatkan” aku menepuk bahunya pelan kemudian kembali membuka loker, menjulurkan tangan kanankku untuk meraih name tage yang aku simpan di dalamnya.

“Nuna, aku pergi duluan” ujar Dongho sebelum dia pergi melanagkahkan kakinya dari ruang ganti. Yah ruang ganti pria dan wanita tentu saja terpisah. Tapi loker kami disatukan dalam ruang yang sama.

Kuletakan surat tadi ke dalam tasku, setelah itu kembali ku tutup loker dan memasangkan Name tage di atas dada sebelah kiriku. Oke aku sudah siap bekerja untuk  6 jam ke depan, mungkin akan sedikit melelahkan tapi aku sudah terbiasa melakukan semuanya. Kim Shinyeong Hwaiting!!

***

Semua pegawai sudah berjajar rapi membentuk sebuah garis lurus, mereka sudah mulai membuat kesan serius terhadap kedatangan Sjangnim, aku langsung ikut mengambil bagian dengan menyelinap di tengah mereka kemudian mengambil posisi  berdiri tepat di sebelah  Jieun.

“Katanya Dia sangat mementingkan kerapihan” bisik Jieun dengan nada serius, dan kubalas dengan anggukan kecil.

“Apa dia itu semacam pelatih militer sehingga kita harus berbaris seperti ini?” tanyaku dengan tampang polos sembari merapihkan gulungan rambutku yang sedikit berantakan.

“Mollayo” Jieun mengangkat bahunya ringan, degan ekspresi tidak tahu yang benar-benar meyakinkan. Tapi kemudian dia mengalihkan pandangannya pada pintu utama restorant. Dia membulatkan matanya dengan mulut yang menganga lebar.

Aku terperangah  kaget saat melihat sebuah mobil berhenti dengan mulus di depan Restoran, mobilnya yang  sangat mengkilat dan mewah tentunya. Seseorang berperawakan tinggi dengan setelan jas hitam membukakan pintu untuk tuannya. Namja yang membuat yeoja pegawai ditempat ini histeris, dia mulai menurunkan kaki kiri dengan sepatu yang tak kalah mengkilat. Kurasa jika air metes ke permukannya maka akan tergelincir dengan mulus.  Aku hanya memiringkan kepalaku dengan pandangan lurus ke tempat dia berada. Tak sabar ingin melihat seperti apa tampang pria dingin yang digilai banyak wanita itu. Akhirnya namja itu menampakkan seluruh tubuhnya, dia memakai setelah jas berwarna hitam  dengan kemeja putih dan dasi berwarna merah, dilengkapi dengan  kaca mata hitam yang melingkar sempurna. Dia mengibaskan jas elegannya sembari tersenyum pada para pegawai senior yang berada di barisan depan. Dua orang bodyguard membukakan pintu transparan yang terbuat dari kaca dan bodyguard yang lain berjalan beriringan di belakangnya.

“Neomu Areumdawo?” ujarku dengan mata yang masih tak berkedip menatap sebuah mobil impian terparkir tepat di depan restoran

“Ne.. dia sangat sempurna, whoa lihat cara berjalannya! kenapa begitu indah..”

“Sangat indah..” balasku masih dengan pandangan lurus ke depan, terfokus pada mobil mengkilat itu.

“Relief dengan pahatan sempurna anugerah dari Tuhan” Ujar Jieun dengan nada berlebih.

“Aniyo  lebih tepatnya dari mesin yang dibuat tangan manusia ciptaan Tuhan” ujarku dengan cengiran lebar. Aku benar-benar terpesona dengan mobil mengkilat itu.

“Mwo? Apa kau pikir dia korban plastic surgery? Sudah jelas-jelas wajahnya begitu asli kenapa kau berpendapat seperti itu hah?” Aku tersadar ketika Jieun menepuk pundaku dengan kencang. Membuatku meringis sembari mengelus pundaku. Aish… Plastic surgery, apa maksudnya? Memangnya ada plastic surgery untuk mobil?

“Hemh? Apa sekarang ada sistem semacam itu? Plastic surgery untuk merombak mobil? Aku baru mendengarnya” aku memiringkan kepalaku menatapnya dengan tanpang innocent,

“Pletak!!” sebuah jitakan lumayan keras kini menadarat di kepalaku

“Hya Waeyo?” tanyaku yang tak terima mendapat dua kali pukulan darinya.

“BABO..  Kita semua disini sedang terpukai dengan Sajangnim dan kau malah memperhatikan mobilnya” ujarnya dengan suara kesal, membuatku terkekeh pelan mendengarnya.

Aku melihat semua orang malah beralih menoleh kearah kami yang sedang ribut berdua. Yah seperti inilah kegiatanku yang lain, hem…. membuat masalah.

“Eh?” aku tersentak kaget ketika tiba-tiba seseorang menghampiriku. Sajangnim menghampiriku, dia berdiri tepat di hadapanku dan membuat Jieun di sampingku menjadi salah tingkah. Apa ada yang salah denganku? Kenapa tiba-tiba dia berhenti tepat di hadapanku? Oke aku akan menunduk untuk menjaga image-ku di depannya. Jangan sampai aku kembali mendapatkan masalah di restoran ini dan harus memohon-mohon agar aku tidak tipecat kareta tingkah tidak sopanku pada seseorang dengan jabatan tertinggi yang kini berdiri tepat di hadapanku.

“Jung… Nam… Gil…” Ucapnya dengan suara yang cukup kencang. Dia menundukan kepalanya, kemudian menjulurkan tangan kanannya untuk membetulkan name tage-ku yang miring. Aish, apa yang dia lakukan?  Dia menyentuh name tageku dan itu ada di atas dadaku, walaupun tangannya tidak mengenainya tapi setidaknya apa dia tidak memiliki sopan santun hah? Aku ini seorang wanita. Mana boleh menyentuh sembarangan seperti itu.

“Apa kau Transgender?” ujarnya masih dengan suara yang cukup keras. Membuat semua yang ada di dalam ruangan ini menoleh ke arahku kemudian terkekeh geli sambil menutupi mulut mereka mencoba menyembunyikannya. Bahkan aku melihat 2 body guard dibelakangnya juga ikut menahan tawa hingga membuat wajah seramnya berubah jadi terlihat aneh. Jieun yang sedang berdiri disebelahku bahkan sampai terbungkuk-bungkuk menahan tawa. Aku merasakan dadaku mulai panas terbakar emosi. Bagaimana mungkin dia berkata seperti itu? tidak sopan.

“Bwosunsuriya?” aku mendongakan kepaku penuh emosi, sehingga membuah orang-orang disekitarku terperangah kaget. Mereka tidak menyangka aku berani bersikap seperti ini pada seorang pria yang mempunyai jabatan tertinggi dan disegani oleh setiap orang.

“ AA.. GAE .. SHI..” dia mengeja setiap kata yang keluar dari mulutnya.   “apa kau tidak lihat papan namamu? Bukankah itu terlihat lucu? Atau memang kau lupa ganti nama? Wah kau benar-benar unik” dia mendekatkan wajahnya ke hadapanku, membuatku memundurkan kepalaku untuk menghindarinya. Aku mengepalkan kedua tanganku bersiap untuk meninjunya, sebelum itu Kulirik papan nama yang melekat di dada sebelah kiriku.

“Eh..Mwoya?” Huwaa memalukan bagaimana bisa aku memasang name tage orang lain di seragamku. Kim Shinyeing, kau berhasil memepermalukan dirimu sendiri di depan semuanya. bagus, kurasa setelah ini aku akan menghanyutkan diriku ke sungai Han.

“Heh…?” dia menyunggingkan bibirnya dan berlalu begitu saja, apa dia puas membuatku malu hah? Transgender? Apa pula itu.. aiisshh

***

“Ah aku rasa name tage ini tertukar ketika aku bertabrakan dengan Namgil kemarin. Bodoh sekali, aku bahkan tidak menyadarinya” Jelasku pada Jieun yang masih terus tertawa. Kali ini kami sudah kembali berkumpul di dalam restorant, dan bersiap untuk bekerja. Kulirik arlojiku, tepat pukul 17.00. hem seharusnya aku sedang bersantai sekarang.

“Ne arasseo.. . aku tau kau ini memang benar-benar ceroboh.  Seharusnya kau bisa menukar itu dengan Namgil. Tapi sayangnya hari ini dia tidak masuk. Kurasa dia juga tidak menyadari kalau papan nama kalian tertukar. Buktinya dia tidak menghubungimu sama sekali kan?” ujar jieun kemudian kembali melakukan aktifitasnya yang sedang mengelap meja dan menata bunga hidup yang diletakan di atasnya.

“Hem, bodoh. Kenapa aku selalu ceroboh seperti ini” aku menghembuskan nafas dengan tak bersemangat, sembari terus saja menggosok-gosokan lap yang sedang kupegang ke permukaan meja di depanku.

“Jieun-ah, tolong antarkan ini ke ruangan sajangnim” tiba-tiba PD-Nim datang menghampiri kami. Dia menyerahkan sebuah amplop coklat. Yang entah apa isinya.

“Ne? aku. Hem baiklah” ujar Jieun dengan penuh semangat, yah kurasa dia suka sekali pergi menemui boss kurangajar itu “Tapi PD-Nim. Aku harus ke toilet sebentar” lanjut Jieun sembari memegangi perutnya. Dasar gadis aneh.

“Aish, yasudah lebih baik kau Kim Shinyeong.” PD-nim melempar pandangannya ke arahku “antarkan ini ke ruangan Sajangnim. Sebenarnya aku bisa menyuruh pegawai lain, tapi semuanya sedang sibuk” lajutnya dengan nada memaksa yang membuatku hanya bisa mengangguk pasrah. aish, menyebalkan.

***

Jongwon’s POV

Aku memasuki ruang kerjaku di lantai 5 bangunan ini. hem oke, kurasa suasananya bagus. Sesuai dengan apa yang aku inginkan. Ruangan ini dilengkapi dengan lampu besar yang selalu menyala. Dan kaca jendelanya sama sekali tidak ditutupi oleh tirai sehingga sinar matahari langsung masuk ke dalam menyinari ruanganku. Jika tidak seperti ini maka aku tidak bisa bekerja dengan baik. Yah benar, mulai hari aku berpusat di kantor ini. Sebelumnya aku menempati kantor di pusat kota Seoul. tapi kemudian aku memutuskan untuk pindah ke Hongdae ini karena dari 10 cabang yang tersebar di Korea, cabang Hongdae ini lah yang mengalami sedikit kendala. Beda dengan restorant lainnya yang berkembang dengan baik.  Omset yang didapat dari cabang ini agak sedikit berbeda. Dan mulai sekarang aku harus bekerja keras untuk membuatnya lebih baik.

***

Aku merogoh saku jasku, mengambil sebuah kotak berwarna hitam. Aku membukanya perlahan dan kembali menatap benda itu dengan putus asa. Sebuah cincin perak dengan batu permata diatasnya. Seharusnya cincin ini sudah melingkar dengan manis di jari seseorang. Yah benar, seseorang yang sangat aku cintai Min Hyorin. Dia adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku tidak berhenti tersenyum memikirkannya. Sosok wanita yang sangat cerdas dan anggun. Banyak sekali pria yang berlutut dihadapannya dan meintanya untuk menjadi pasangan mereka. Tapi semua itu tidak menarik baginya. Karena sekarang dia sudah bertunangan dengan seorang pria yang juga sangat luar biasa. Dia adalah kakak sepupuku, yang sudah aku anggap sebagai kakaku sendiri. Hyorin nuna, aku memanggilnya seperti itu karena umurnya 2 tahun diatasku. Seorang wanita berumur 30 tahun, tetapi dia masih terlihat begitu menarik dimataku. Entahlah apa yang membuatku seperti ini, hanya saja pesonanya tidak dapat aku tolak begitu saja. Dia adalah seniorku sejak di universitas, kemudian menjadi konsultan keuangan di perusahaanku. Semua perasaanku padanya makin bertambah dalam hingga aku merasa aku benar-benar tergila-gila. Namun kejadian tragis itu menimpaku. Tepat saat malam dimana aku akan mengungkapkan perasaanku padanya, ketika aku akan menyerahkan cincin ini padanya. Dia malah melukai hatiku, membuatnya hancur menjadi berkeping-keping sampai aku merasa bahwaa hidupku akan berakhir begitu saja. Dia mengatakan padaku kalau dia sudah dilamar oleh seorang pria, beberapa jam sebelum dia menemuiku di restorant yang kami janjikan. Dia bahkan menunjukan sebuah cincin berlian dengan motif yang sangat mewah telah melingkar sempurna di jari manisnya. Dan yang paling membuatku sakit adalah ketika mengetahui bahwa yang melamarnya ternyata Jinwon Hyung, kakak sepupuku. Sialnya ketika itu, aku sudah menggenggam kotak hitam ini di tanganku dan bersiap untuk memberikan padanya, hingga akhirnya aku mengelak dengan mengatakan bahwa aku hanya ingin meminta sarannya mengenai cincin ini, apakah seorang gadis yang aku cintai akan menyukainya. Dan ketika dia melihatnya dia mengatakan

“Jongwon-ah, semua gadis pasti akan bersedia menerimanya dengan senang hati, karna kau adalah pria yang luar biasa. Berikan cincin itu pada gadis yang kau cintai. Dan jangan lupa kenalkan dia padaku”

Taukah bagaimana perasaanku saat dia mengatakan hal itu? hem, perasaanku benar-benar kacau. Bagaimana mungkin aku bisa memberikan cincin ini pada gadis lain, sedangkan hanya dia wanita yang biasa membuatku tertarik.

Seminggu setelah kejadian memalukan itu, aku kembali bertemu dengannya. Dan yang pertama kali dia tanyakan adalah mengenai gadis yang akan menerima cincinku. Jujur aku mengatakan padanya bahwa aku belum memberikan cincin ini pada gadis yang aku sukai, hingga akhirnya dia sering sekali mengejekku dan mengatakan bahwa aku lelaki yang tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya pada seorang gadis. Yah memang benar semua yang dia katakannya, aku adalah seorang pria yang tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada wanita yang benar-benar dicintainya, sampai-sampai wanita itu sudah berpindah ke pelukan pria lain. Dan dalam kasus ini, pria lain itu adalah kakak sepupuku sendiri. Aku menyadari, mencintai seorang wanita yang lebih tua mungkin akan mendapat banyak cemoohan. Tapi aku tidak peduli dengan semuanya, rasa cinta itu datang begitu saja, dan smeuanya adalah anugrah dari Tuhan, aku hanya bsia menenrimanya dengan senang hati dan membiarkannya mengalir dalam kehidupanku, dan aku yakin Tuhan pasti mempunya jalan lain mengenai kehidupan percintaanku. Dan semoga saja itu akan menjadi cerita indah yang menyenangkan.

Sekarang Hyorin nuna akan datang ke sini, dia mengatakan bahwa dia ingin berkunjung dan melihat kantor baruku. Walau bagaimanapun, aku dan dia masih berteman baik sampai sekarang. Hem, apa dia masih akan menanyakan mengenai wanita yang kucintai itu? ah aku rasa aku benar-benar harus mencari seorang wanita yang mau aku jadikan pacar untuk menutupi semuanya.  Tapi sama sekali tidak ada wanita yang bisa menarik perhatianku seperti Hyorin nuna. Aigoo aku benar-benar bingung sekarang.

“Sajangnim, ada lagi yang bisa dibantu” Seungho yang datang secara tiba-tiba membuatku sadar dari segala fikiran yang berkecamuk di otaku. Dia adalah asisten pribadiku Lee Seungho, umurnya 3 tahun dibawahku.

“Aniyeo. Sekarang suruh semua body guard dan supirku pulang. Aku akan mengendari mobilku sendiri sepulang kantor” balasaku dengan wajah serius. Aku bosan jika setiap pergi aku harus ditemani oleh mereka, memangnya aku ini seorang balita yang harus selalu dijaga. Semua servis berlebihan itu adalah ide gila ayahku. Dia adalah salah satu staf kementrian Negara di bidang perdanganan. Restorant ini juga didirikan olehnya, namun sekarang semuanya dialihkan kepadaku sebagai putra tertuanya. Ayahku selalu mengatakan jika keamannan adalah nomor saru. Dia itu orang politik, dan tentu saja seluruh lingkungannya selalu berada dalam ancama. Tidak semua golongan setuju dengan ide dan gagasannya, dan yang tidak setuju itu kadang akan berbuat nekat untuk mengungkapkan ketidak sukaannya pada ayahku.

“Ini barang yang anda pesan” dia melatakan sepasang batu baterai di meja kerjaku. Yah benar, aku selalu membawa batu batrai cadangan untuk mengantisipasi senterku mati tiba-tiba. Karena aku adalah pengidap mictophobia, maka aku tidak akan pernah bisa bertahan dalam keadaan gelap. Oleh karena itu aku selalu membawa senter dimanapun aku berada, senter itu selalu ada di kamar, di mobil, bahkan di dalam tas kerjaku.

“Em, kamsahamnida. Oh iya, pastikan senter itu juga ada di dalam mobilku” lajutku kemudian meraih sebuah bungkusan itu dan memasukannya ke dalam laci.

“Oh…,Ne…, jika tidak ada lagi yang anda butuhkan. Saya keluar sekarang Sajangnim” Seungho membungkukan badannya singkat dan kubalas dengan senyuman. Dia berjalan keluar dan kembali menutup pintu ruanganku.

Ah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Hyorin nuna bilang akan tiba tepat jam 5 tapi sekarang sudah lebih 10 menit.

Tok … tok… tok…

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruang kerjaku, mebuatku sedikit terkejut. Mungkinkah itu Hyorin Nuna?

“masuk” ujarku dengan setengah berteriak. Dia mendorong pintu itu hingga terbuka, kemudian masuk setelah menutupnya kembali. Dapat kulihat dari ekspresinya yang terlihat kesal. em, sepertinya aku mengenal gadis ini? oh iya benar, gadis transgender.

“kau?  ada apa?” aku bangikit dari posisiku, kemudian berdiri tepat dihadapannya. Seharusnya dia menunduk ketika aku menatap wajahnya, tapi ini sama sekali tidak. Dia malah mendongakan wajahnya balas melihatku yang memang lebih tinggi darinya. Gadis yang menarik. Kurasa dia berbeda dari gadis kebanyakan.

“PD-nim menyuruhku menyerah kan ini pada anda” dia menyodorkan seuah amplop berwarna coklat, sembari menatapku dengan tajam.

“em, terimakasih, A… GAE… SHI…”aku segera mengambil amplop itu dari tanggannya dan meletakannya begitu saja di atas meja. Dia memicingkan matanya setelah aku mengeja kalimat terakhirku.

“Jangan pernah berfikir kalau aku  transgender. Aku ini terlahir sebagai seorang wanita” ujarnya masih dengan wajah serius. Dia sedikit menarik sudut bibirnya dengan kesal. Aish, bagaimana mungkin dia berani bersikap seperti itu padaku. Apa dia sama sekali tidak merasa tertarik padaku seperti gadis-gadis lainnya. Aku ini kaya dan tampan. Yah walaupun aku ini termasuk pria golongan AB. Seseorang dengan golongan AB dikenal memiliki kepribadian yang unik dan berbeda, atau mungkin condong ke aneh, tapi aku sama sekali tidak seperti itu. aku adalah pria AB yang nyaris sempurna. Haha.

“Jeongmalyo? Sayangnya kedua orangtuamu salah memberi nama. Mana mungkin seorang wanita mereka beri nama JUNG NAM GIL” ujarku dengan nada mencemooh, membuat dia menggembungkan pipinya dengan kesal. Aku terpesona sesaat ketika melihat ekspresinya seperti itu. Terlihat sangat manis. Tapi tentu saja aku segera menyingkirknan pikiran gila itu dari otaku.

“namaku Kim Shin Yeong. Dan Jung Nam Gil itu bukan namaku” dia menatapku tajam sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat, kurasa gadis ini sudah mulai terpancing emosinya. Haha menyenangkan sekali membuat dia kesal seperti ini.

Tok… tok… tok…

Aku kembali mendengar seseorang mengetuk pintu ruang kerjaku.

“Jongwon-ah, ini aku” aku mendengar suara seseorang yang sudah sangat kukenal, yah benar Hyorin Nuna. Kurasa dia sudah datang. Aigoo, apa yang harus aku lakukan sekarang, bagaimana jika dia masih menanyakan mengenai gadis yang aku sukai itu.

“Oh nuna.. masuklah” ujarku dengan setengah berteriak. Aku melihat kenop pintu itu memutar secara perlahan.

“Baiklah, tuan Kim. Sebaiknya aku segera keluar kurasa tamu yang lain sudah datang. Permisi…” gadis itu membungkuk singkat kemudian membalikan badannya bersiap untuk keluar dari ruanganku, namun dengan sigap aku meraih tangan kanannya dan menariknya kedalam pelukanku. Aku melingkarkan tangan kiriku di pingganya, dan merapatkannya dengan tubuhku, sedangkan tangan kiriku mencengram erat tengkuknya, membuat dia sama sekali tidak bisa melawan. Saat itu juga aku menyapu bibirnya dengan bibirku, membuat dia membeku karena kaget dengan perlakuanku. Aku melihat Hyorin nuna yang sedang berdiri di depan pintu, dia terbelalak kaget sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan teriakan yang mungkin akan keluar dari mulutnya. Saat itulah aku mulai menggila dan melumat bibir  gadis dihadapanku ini dengan penuh perasaan. Emosi lebih tepatnya. Beberapa saat kemudian dia mendorong tubuhku dengan sekuat tenaga, dia menatap tajam mataku sembari menyeka mulutnya dengan punggung tangannya, dapat kulihat bibirnya yang cukup memerah karena perlakuanku barusan. Detik itu juga dia segera berlari dari ruanganku, tapi sebelumnya dapat aku lihat cairan bening itu menetes dari matanya. Yah benar, seprtinya dia menangis.

“Maaf aku menggagu kalian” ucapan Hyorin Nuna mulai menyadarkanku setelah beberapa saat hanya terdiam, mencoba mengumpulkan semua akal sehatku. Apa yang baru saja aku lakukan? Ya Tuhan itu adalah hal tergila dalam hidupku.

“Apa itu pacarmu? Sepertinya dia pegawai disini. Aku melihat seragamnya” Hyorin Nuna berjalan menghampiriku kemudian tersenyum ringan.

“Ah… ya dia pacarku” bagus Kim Jongwon, belum selesai masalahmu dengan gadis transgener itu, sekarang kamu malah membuat masalah baru dengan megatakan kalau gadis itu adalah pacarmu. BABO…. Kurasa kau akan membuat hidupmu kacau mulai hari ini. Oke, kita lihat saja, kejutan apa yang akan terjadi pada hidupku selanjutnya.

***

To Be Continue…

***

FF gaje ini tercipta begitu saja setelah memikirkan nama-nama penyakit dan shindroum aneh yang membuat kita bisa bermiajinasi banyak.  Maka dari itu karena keancuran Big Project ini, kita mengharapkan komentar dari reader semua, untuk kesempurnaan tulisan kita selanjutnya. Jadi mohon ya tulis komentar kalian setelah baca fanfiction ini. kami berdua butuh dukungan buat nerusin. Ga susah kan nulis coment, oke oke. Terimakasih yang uda mau baca plus coment *bungkuk sampe tanah*

23 thoughts on “Mictophobia [part 1]

  1. Akhirnya dipublish juga.
    makasih yah admin uda bersedia publish FF ancur dan gajelas ini. hoho. *chu admin*

    maaf ini masih banyak typo. soalnya ga di edit lagi. ralat masalah Kanada itu bukan di Amerika Selatan, tapi di Amerika Utara, haha *athor ketauan begonya*

  2. waaahh,,aku suka
    ceritanya beda.
    omigot!!gadis transgener,,memalukan..
    hahahah,,
    wajib dilanjut thor.
    aku suka

  3. Ya!! Lanjut ya thor!! Aku pgn tau reaksinya shinyeong gimana hahah
    Dsara jongwoon bilang cewek transgendernya didepan bnyk org lagi-_-
    Nice ff^o^

  4. DAEBAAAAAAAAAAAKKKK, kyaaaaaaaaa kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa yaALLAH bener2 nganga lebar pas baca bagian Yesungie oppa nge’kissu’ Shinyeong><

    Mantap, nih ff! Bener tuh, jarang2 nemu ff maincastnya Yesungie oppa==a

    Penasaraaaann._. cepat lanjutkan yah, author ;3 *plak*

  5. ceritanya seruuu, menarik bangettt, chingu di tunggu ya lanjutanyya, penasaran banget sama lanjutanyya..hihihihihhii

  6. aq suka …akhir2 ini banyak yang suka nulis ttg Yesung…

    oohhh… mulai terlihat …..pesonaya…

    hhmmm/…… lucu juga…. bakala seru nih

  7. pas baca yang bagian “itu”…
    langsung nganga sambil senyum2 sendiri…perut mules… T.O.P dah imajinasinya author
    DAEBAK^^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s