Bring Me to The Past [part 2]

 

Main Cast       : Rae In, Rae Min

Other Cast       : Choi Minho (SHINee), Umma dan Appa Rae In &Rae Min

Author             : Rae Seok

Notes               : ini part keduanya sudah keluar. Jangan lupa kritik & saran akan sangat author tunggu. Akhir kata, HAPPY READING \(^_^)/

PART 2 …

“Umma.. Rae In mana ya? Kok dia belum  pulang juga sih? Ini kan sudah malam” kata Rae Min cemas pada Ummanya.

“sabarlah, lagi pula diakan sudah besar.” Kata Ummanya menenangkan.

“tapi Ummaa..” ucapannya terpotong saat pintu depan rumahnya terbuka.

“Appa pulang.” kata pria yang datang dari pintu masuk itu.

“ahhh.. aku kira Rae In, ternyata Appa” kata Rae Min kecewa.

“lho, memangnya kau tak senang Appa sudah pulang.” Kata Appanya.

“selamat datang” sambut Umma, Appa baru sadar kalau daritadi Umma ada disana.

“ah, yeobo. Kau sudah tiba. Maaf aku tak bisa menjemputmu. Rae In mana?” kata Appanya, sementara Umma membantu Appa untuk membawa tas Appa ke kamar lalu Appa ikut duduk diruang tengah.

“gwenchana. Saat baru tiba tadi dia pamit untuk pergi kesuatu tempat dan sampai sekarang masih belum pulang.” Jawab Umma saat telah kembali dari kamarnya.

“oh, pantas muka Rae Min cemberut begitu. Lalu, kenapa kau tak mencoba menelfonnya saja?” kata Appanya pada Rae Min, lalu seakan baru ingat kalau Rae In juga membawa handphone Rae Min pun langsung berlari ke kamarnya dan segera menekan tombol angka 2 sampai muncul nama Rae In di layar ponselnya. Seraya menunggu Rae In mengangkat telfonnya Rae Min kembali ke ruang duduk bersama Appa dan Ummanya yang sedang minum teh bersama.

Lalu, pintu ruang depan kembali terbuka.

“aku disini unni? Ada apa?” jawab Rae In dingin sambil berjalan ke ruang duduk.

“ah, akhirnya kau pulang juga. Kemana saja sih?” kata Rae Min menutup flap handphonenya, lalu memeluk erat yonsaengnya itu. Namun Rae In segera melepaskan pelukannya itu.

“annyeong Appa” sapanya pada Appa dan Umma yang sedang duduk sambil memperhatikan mereka.

“annyeong, kau darimana saja? Unni mu sampai khawatir begitu?”

“apa kau sudah makan? Mau ibu masakan sesuatu?” kata Appa dan Ummanya bergantian, tapi Rae In menggeleng dan berjalan pergi menuju kamarnya.

“ tidak usah aku sudah makan. Aku lelah ingin istirahat dulu, ngobrolnya besok saja ya” katanya sambil terus berjalan ke kamar. Rae Min mengikutinya dengan wajah cemberut.

“unni aku benar-benar lelah, besok saja bicaranya” katanya saat akan menutup pintu yang dihalangi oleh Rae Min. karena Rae Min tak mau beranjak juga, ia pun sedikit mendorong Rae Min dan menutup pintu serta menguncinya.

“sebenarnya Rae In kenapa sih? Dia terlihat berbeda.”Gerutunya pada Appa dan Umma

“berbeda bagaimana?” Tanya Appa heran

“yah berbeda saja, biasanya kalau sedang webcam denganku ia tak dingin seperti itu.”

“mungkin ia sedang benar-benar lelah. Sudahlah biarkan saja, besok juga biasa lagi.” Bujuk ibunya.

‘semoga saja itu benar’ kata Rae Min dalam hatinya.

“aku harus memperbaiki sikapku, aku tak boleh terus-terusan begini. Ya, Rae In itu anak yang periang dan ramah. Aku harus menjadi Rae In yang sempurna bagi mereka. Rae In-a aja aja Fighting!” ucapnya pada diri sendiri.

“Pagi semua” sapa Rae Min yang baru keluar dari kamarnya, ia melihat Umma, yonsaeng dan pengurus rumah sedang menyiapkan sarapan didapur.

“pagi, kau baru bangun” balas Ummanya

“ne, mian kalau terlambat bangun. Kemarin aku tidur malam.” Rae In beralasan

“wae? Ada yang harus unni kerjakan?” tanya Rae In yang sedang menata meja makan

“ani, aku tidur malam gara-gara dirimu tahu” jawab Rae Min asal, mendengar itu Rae In langsung duduk di samping unninya dan memasang wajah aegyonya.

“miiiaannn… semalam aku benar-benar sangat lelah” katanya

“hahaha… gwenchana. Aku bercanda kok, semalam ada sedikit tugas kuliah yang belum ku selesaikan” kata Rae Min sembari menyubit pipi Rae In gemas.

“oo.. mau kubantu?”tanya Rae In

“tidak usah sudah selesai kok” tolak Rae Min

Selagi mereka sedang berbincang sarapan suda siap dan Appa mereka juga sudah bangun dan bergabung dengan mereka. Mereka pun sarapan bersama, tapi Rae In terlihat duduk agak jauh dari Appa nya dan hanya berbicara seperlunya saja. Mereka terlihat seperti bukan keluarga.

***

Siang ini rencananya Rae Min sekeluarga akan pergi ke pantai Incheon karena Rae Min sudah lama tidak ke pantai.

“aku ingin duduk bersama Umma disini” kata Rae Min sambil memeluk Ummanya dan duduk di jok belakang

“ya sudah aku dibelakang kalian saja” saat ra in hendak masuk Rae Min menutup jalannya

“ANDWE… kau harus duduk di depan bersama Appa”

“tapi..”

“sudah menurut saja” kata Rae Min sembari membukakan pintu depan mobilnya dan dengan terpaksa Rae In pun duduk dengan Appanya di depan.

Disepanjang perjalanan Umma dan Rae Min tak henti-hentinya tertawa, mereka bercanda dan saling berbagi cerita riang. Tak jarang Appanya pun ikut nimbrung mengobrol bersama mereka, sementara Rae In terus diam dan memandang kearah luar sambil mendengarkan lagu.

“Rae In-ah…Rae In-ah.. “ panggil Rae Min, tapi Rae In tidak bergeming. Akhirnya ia pun mengguncang tubuh Rae In.

“mwo?” kata Rae In sembari melepas sebelah headphonenya

“kenapa kau diam saja? ayo dong ceritakan kuliahmu” desak Rae Min

“aku sedang mendengarkan lagu, kuliahku? Ya begitulah, seperti kuliah pada umumnya. Tak ada yang istimewa” jawabnya

“bagaimana hasil ujianmu?” sekarang giliran Appanya yang bertanya tapi dengan nada basa-basi

“baik-baik saja kurasa.”Jawabnya singkat

“kau sendiri bagaimana hasil ujianmu kemarin Rae Min-ah?” tanya Appa pada Rae Min

“emmm… aku mendapat nilai tertinggi di kampusku, tapi sayang IP-ku sedikit turun menjadi 3.8 . padahal biasanya IP-ku 4.” Jawab Rae Min dengan wajah kecewa

“wah? Benarkah? Setahu ibu Rae In belum pernah mendapat IP diatas 3.6. kau benar-benar pintar”puji Ummanya

“Rae In, sebaiknya kau belajar dari unnimu agar mendapat yang bagus seperti dia” kata Umma pada Rae In, tapi Rae In sama sekali tidak mendengarkan, ia kembali hanyut dalam alunan music di iPod-nya.

“dasar, anak itu. Di nasihati malah cuek, dasar tidak sopan”gerutu ibunya saat melihat Rae In sama sekali acuh dengan perintahnya tadi.

‘terserahlah aku tidak peduli’ kata Rae In dalam hati.

Mereka pun tiba di pantai dan hari itu mereka semua bergembira bersama. Ini adalah kali pertama setelah 10 tahun lamanya mereka berlibur bersama. Walau ada sedikit ganjalan mengenai kenangan 10 tahun yang lalu tapi itu tak membuat liburan kali ini terganggu.

Rae Min dan Ummanya sedang bermain dengan ombak dipantai, mereka terlihat seperti anak kecil. Setiap kali ombak datang menghampiri, mereka berdua berlarian berusaha menghindari obmak, namun mereka selalu saja tersusul oleh deburan ombak dan alhasil baju mereka pun basah kuyuk semua.

Sementara itu, Rae In sama sekali terlihat tidak tertarik dan hanya diam sambil membaca buku yang waktu itu dibelinya bersama Tara di pondok yang ada di pinggir pantai sementara Appanya sibuk memotret Rae Min dan Ummanya.

“Rae In-ah, kenapa kau tidak ikut bergabung bersama Rae Min dan Ummamu?” tanya Appa pada Rae In

“aku tidak tertarik” jawab Rae In singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca.

“sayang sekali kau tumbuh menjadi gadis yang dingin. Belajarlah sedikit untuk bisa bersosialisasi seperti unnimu.” Nasihat Appanya, namun itu terdengar lebih seperti ejekan di telinga Rae In.

“ah, ya… belajarlah untuk sedikit sopan bila sedang berbicara dengan Umma atau unnimu. Perilakumu ini sungguh buruk” kata ayahnya lagi

“aku akan teruskan membaca dimobil. Kurasa itu akan lebih baik untuk Appa.” Katanya dingin sembari beranjak pergi. Tanpa memperdulikan Appanya.

Rae In pun berjalan menuju mobil dan saat hendak masuk ke mobil ia menyempatkan diri untuk melihat kea rah pantai. Disana ia melihat Appa Umma dan unninya sedang tertawa bahagia dan mereka tamapak lebih baik bila tanpa dirinya.

“oppa, kapan kau akan menjemputku? Aku kesepian tanpa dirimu.” Gumamnya saat telah duduk di dalam mobil.

1 minggu berlalu

Rae In dan Rae Min sedang duduk-duduk bersama di kamar Rae In. kamar itu bernuansa biru laut –warna favoritnya. Saat itu, Rae In sedang asyik membaca novel sementara Rae Min sedang tiduran sambil memluk boneka milik Rae In.

“Rae In-ah, aku bosan dirumah terus. Kita main yuk?” ajak Rae Min

“kemana?”

“kemana saja, asal jangan diam dirumah.”

“iya, tapi mau kemana?”

Saat mereka sedang berbincang, datang seorang namja yang cakeeeeeepppppnya bukan main dan penuh karisma. Minho.

“Ya, apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Minho pada kedua anak kembar itu

“Oppa…” seru Rae Min senang, sementara Rae In hanya melirik sebentar.

“tumben main kesini?” tanya Rae Min

“memangnya tidak boleh?” tanya Minho

“bukan begitu tapi….. ya sudahlah.” Balas Rae Min sambil tersenyum

“ada perlu apa?” sekarang Rae In yang bertanya dengan nada ketus.

“YA, Kang Rae In-ah, tidak bisakah kau ramah sedikit padaku?” protes Minho

“sudahlah oppa. Oh iya tumben bisa bedakan kami?” tanya Rae Min heran, memang sih biasanya Minho itu suka salah membedakan mana Rae In mana Rae Min.

“tentu saja, itu sangat mudah. Kau itu orangnya ceria sementara yonsaengmu itu sangat dingin dan ketus.” Jawab Minho enteng

“YA….” Seru Rae In seraya melemparkan buku yang ia pegang, namun Minho dengan sigap menghindari buku itu.

“hahaha.. mian mian.. aku hanya bercanda. Oh, iya tumben kalian hanya duduk-duduk didalam kamar?”

“itu dia oppa, kami ingin pergi ke suatu  tempat tapi tak tahu kemana”

“bagaimana kalau kita ke MBC saja? Sekalian nonton MuBank?”

“memangnya siapa saja yang akan tampil?” tanya Rae In tertarik

“ada comebacknya Super Junior sunbae. Dan masih banyak lagi” kata Minho

“kedengarannya menarik” kata Rae Min semangat

“tapi…unni, tempat itu tak akan cocok untukmu. Disana akan ada banyak orang yang desak-desakan. Kau bisa…”

“pokoknya aku mau.” Kata Rae Min keukeuh

“unni…. Bagaimana kalau terjadi apa-apa denganmu?”

“sudahlah, percaya saja. Aku akan baik-baik saja.”

“sudah-sudah, tapi jika kau mulai merasa tidak nyaman kita langsung pulang.” Kata Minho

“keure”

“baiklah, nanti sore aku jemput kalian. Jangan terlambat ya!”

“Ne” jawab Rae In-Rae Min serempak, “baiklah kalau begitu aku pamit. Sampai jumpa sore nanti. Annyeong”

“annyeong”

***

Sore itu, suasana studio MBC penuh oleh para fans yang datang untuk melihat biasnya masing-masing. Mereka membawa berbagai pernik seperti lightstick, poster, dan merchandise yang identik dengan bias mereka. Rae In, Rae Min, dan Minho pun tak mau kalah, mereka membawa lightstick Super junior karena sore itu memang aka nada comeback dari boyband korea yang cukup ternama itu. Oh iya, Minho juga sedang ditraine di management tempat Super Junior bernaung, dan jika beruntung suatu saat Minho pun akan menjadi seorang penyanyi ternama seperti Super Junior.(hahahaha xP…)

Acara pun dimulai dan mereka bertiga berteriak riuh bersama para fans yang lain. Entah apa yang mereka teriakkan yang penting ikut memeriahkan acara. Ditengah-tengah acara saat sedang penampilan dari boyband yang ditunggu-tunggu –super junior, Rae Min merasa napasnya sesak, dan kepalanya sakit.

Ia berusaha memberitahu Minho dan Rae In namun mereka terlalu larut dalam suasana yang kian memanas itu. Dan pada puncaknya Rae Min merasa semuanya berubah menjadi gelap dan Rae Min pun terjatuh, Rae In yang menyadari keadaan unninya itu langsung panic dan dengan bantuan kenalan Minho mereka pun diperbolehkan menggunakan ruangan pantry yang tak jauh dari studio itu untuk menidurkan Rae Min. Rae In terlihat sangat panic dan khawatir sementara Minho berusaha menguhubungi Appa dan Umma Rae In.

“MWORAGO?? APA KAU SUNGGUH-SUNGGUH MINHO-YA?” seru Ahjussi tak percaya

“ne, Ahjussi. Saat ini kami berada di gedung MBC dan Rae Min sedang beristirahat di ruang pantry”

“kenapa ia bisa disana? Itukan tempat yang terlalu ramai untuknya?”

“kemarin saya dan Rae In hendak pergi berdua dan Rae Min meminta untuk ikut.”

“MWO? Rae In ada disana juga?! Baiklah sekarang Ahjussi akan langsung kesana”

Setelah menutup telponnya Minho segera kembali ke ruangan pantry, disana ia melihat Rae In yang sedang menunggui unninya. Tak lama Ahjumma datang, memang sebelum menelpon Ahjussi Minho terlebih dulu menelpon Ahjumma. Ia melihat Ahjumma memeluk Rae In yang masih terlihat shock dan menangis dipelukan Ummanya itu. Sementara Rae Min belum juga siuman. Minho tak masuk ke ruangan itu, ia hanya melihat dari balik pintu dan kemudian berinisiatip untuk pergi membeli makanan untuk Rae In, Ahjumma dan Ahjussi nanti.

***

“Umma….”

“Rae In, bagaimana unnimu?”

“unni masih belum sadar. Umma..aku takut terjadi apa-apa pada unni.”

“gwenchana, semua pasti akan baik-baik saja”

Karena Rae In terlihat sangat shock, Ummanya menyuruh ia untuk menunggu diluar saja untuk menenangkan diri. Sementara Rae Min dijaga oleh Ummanya. Tak beberapa lama kemudian tangan Rae Min bergerak dan matanya juga mulai terbuka.

“Um..mm..ma…” kata Rae Min terbata

“Ne, Umma disini sayang”

“Ini dimana?”

“kita ada di gedung MBC. Mungkin sebentar lagi Appamu datang” kata Umma, benar saja. Tak lama kemudian datang Appa dengan tergesa-gesa. Appa terlihat sangat khawatir dan saat ia melihat Rae Min yang tersenyum padanya, Appa mulai agak sedikit tenang. Rae In yang berada diuar terlihat lega melihat unninya yang sudah siuman.

“Rae Min-ah, gwenchana?”

“Gwenchanayo Appa” jawabnya lemah sembari memaksakan sebuah senyuman manis untuk Appanya. Appa mengelus kepala Rae Min lembut.

“kenapa kau datang ke tempat seperti ini, kau kan paling tidak bisa berada dikerumunan orang-orang?” tanya Appanya

“aku bosan dirumah, jadi aku memutuskan untuk ikut Minho oppa dan Rae In kesini” jawabnya lemah. Seolah baru ingat kalau Rae In juga ada disana, Appa pun memandang Rae In yang berada di ambang pintu sekilas lalu berbicara lagi pada Rae Min.

“Rae Min-ah, Appa keluar sebentar ya! Ada yang ingin Appa bicarakan dengan Rae In” kata Appanya dan Rae Min mengangguk.

“Umma juga akan keluar sebentar mencari makanan, kau pasti lapar.”

“keure”

Appa pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Rae In, ada sedikit perasaan tak enak dan takut di hati Rae In tapi ia tetap menurut untuk ikut bersama Appanya ke sebuah ruangan yang biasa digunakan rapat. Ruangan itu kedap suara dan ada sebuah meja panjang disana beserta deretan kursi yang berjajar rapi. Rae In memasuki ruangan itu dengan segan, ia hanya bisa melihat pundak Appanya  dari belakang. Lalu saat mereka sudah berada diruangan itu, tiba-tiba Appanya berhenti dan berbalik, dan…..

“PPLLLAAAAKKKK!!!!” sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Rae In. Rae In meringis kesakitan dan memegangi pipinya.

“WAE??? KENAPA KAU BAWA RAE MIN KE TEMPAT SEPERTI INI? KAU TAHU IA TAK BISA BERADA DITEMPAT YANG PENUH OLEH ORANG-ORANG” bentak Appa pada Rae In.

“Mian Appa… aku sudah mencoba melarangnya tapi…”

“SHIGAEREO. HARUSNYA KAU TERUS MELARANGNYA! Ah.. atau kau sengaja ya membawanya ke tempat seperti ini karena ingin membunuhnya. IYA???”

“Aniyo Appa..” bantah Rae In sambil berusaha menahan air matanya. Lalu Appanya tiba-tiba mendorongnya ke dinding dan mencengkram bahu Rae In.

“BELUM PUAS KAU BUNUH PUTRAKU? SEKARANG KAU INGIN MEMBUNUH RAE MIN JUGA HAH?? JAWAB?”

“APA YANG SEBENARNYA KAU INGINKAN??”

Rae In hanya bisa menangis mendengar kata-kata Appanya itu. Lalu Appanya melepaskan cengkramannya dan duduk disalah satu kursi yang ada disana.

“OH TUHAN.. KENAPA KAU BERIKAN AKU PUTRI SEPERTI DIA?! AKU MENYESAL TELAH MEMILIKI ANAK SEPERTIMU” mendengar itu Rae In sudah benar-benar sakit hati, ia berlari keluar sambil menangis dan memegangi pipi yang kini telah membengkak hasil tamparan Appanya.

Ditengah jalan ia bertabrakan dengan seorang namja, namun karena suasana hatinya sudah benar-benar buruk ia terus berlari dan tidak memperdulikan orang yang tadi ia tabrak. Pikiran Rae In sekarang sudah gelap, ia tak bisa berpikir dengan baik. Yang ia tahu sekarang adalah ia harus pergi dan keluar dari rumah itu segera. Rae In pun segera menaiki taksi yang ada di depan studio itu, setelah sampai ke rumahnya ia segera membereskan semua bajunya ke dalam koper. Dan ia pun hendak pergi, tapi saat di depan rumah ia melihat Minho.

Minho memutuskan untuk membeli bento dari toko makanan jepang yang ada di depan gedung MBC. Saat ia hendak kembali ke ruangan tempat Rae Min beristirahat ia melihat pintu ruang rapat yang setahu ia tak digunakan sedikit terbuka. Dengan didorong rasa penasarannya ia pun mengintip lewat celah itu dan disana ia melihat sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“PPLLLAAAAKKKK!!!!” sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Rae In. Rae In meringis kesakitan dan memegangi pipinya.

“WAE??? KENAPA KAU BAWA RAE MIN KE TEMPAT SEPERTI INI? KAU TAHU IA TAK BISA BERADA DITEMPAT YANG PENUH OLEH ORANG-ORANG” bentak Ahjussi pada Rae In.

“Mian Appa… aku sudah mencoba melarangnya tapi…”

“SHIGEURO. HARUSNYA KAU TERUS MELARANGNYA! Ah.. atau kau sengaja ya membawanya ke tempat seperti ini karena ingin membunuhnya. IYA???”

“Aniyo Appa..” bantah Rae In sambil berusaha menahan air matanya. Lalu Ahjussi tiba-tiba mendorongnya ke dinding dan mencengkram bahu Rae In.

“BELUM PUAS KAU BUNUH PUTRAKU? SEKARANG KAU INGIN MEMBUNUH RAE MIN JUGA HAH?? JAWAB?”

“APA YANG SEBENARNYA KAU INGINKAN??”

Minho benar-benar tidak pernah membayangkan akan melihat hal seperti ini. Dari celah itu ia bisa melihat Ahjussi terus menyalahkan Rae In dan Rae In hanya terlihat menahan air matanya dan memegangi pipinya yang terlihat mulai membengkak. Sejenak Minho bingung, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk mengantarkan bento dulu dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa di hadapan Rae Min. setelah memberikan bento itu ia segera pamit dan bermaksud untuk kembali ke ruangan dimana ia melihat Rae In namun saat ia hampir sampai ia melihat Rae In menangis sambil berlari pergi. Minho juga sempat melihat Rae In menabrak seseorang tapi terus berlari tanpa peduli pada orang yang ia tabrak.

“Wookie hyung. Gwenchana?” tanya Minho pada orang yang tadi sempat ditabrak oleh Rae In.

“Ah.. Minho-ya. Gwenchanayo” jawab wookie sambil tersenyum. Lalu Minho pun kembali berusaha mengejar Rae In hingga akhirnya ia sampai dirumah Rae In dan disana ia melihat Rae In membawa kopernya dan masih dengan pipi yang bengkak serta tangis diwajahnya. Rae In sempat kaget melihat Minho.

“Oppa…” seru Rae In pelan, Minho pun berjalan mendekati Rae In dan memeluknya.

“Menangislah, lepaskan semua bebanmu. Aku akan menemanimu disini. Bersandarlah padaku kapan pun kau merasa kesepian dan sedih” kata Minho lemah sambil mengelus kepala Rae In lembut. Lalu Rae In pun menangis dalam pelukan Minho.

To Be Continued

 

 

2 thoughts on “Bring Me to The Past [part 2]

  1. Ceritanya keren..tpii,klo ktku..kurang enak dibagian endingny….cba bkin reader jadii…hhmm,penasaran.
    Digantungin dibagian,
    ”Oppa……”
    Dah,bgian situ aja..maaf,sarannya abal” bangeett,ehhehehhehe~
    Hhhmmm..lanjutin yaaa…ditunggu buat authorr^^
    13th..cba bkin reader jadii…hhmm,penasaran.
    Digantungin dibagian,
    ”Oppa……”
    Dah,bgian situ aja..maaf,sarannya abal” bangeett,ehhehehhehe~
    Hhhmmm..lanjutin yaaa…ditunggu buat authorr^^
    13th

  2. sip makasih sarannya ntar deh dicoba ^^

    Admin mian yg part1nya belum ke publish yah ? :(m ke publish yah ? :(

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s