Our Journal [part 1]


Author : Flyingfishae

Main Cast : Lee Donghae, Park Sunghyo

Support Cast : Super Junior member and crew.

Genre : Love/Friend

Ps : anyeonghaseo~ haebun imnida.. aku adalah orang yang ngebuat ff berjudul Marry me, berhubung Marry me itu oneshoot dan banyak yang suka :p aku buat versi lengkapnya. Aku gatau ini akan sesukses Marry me, atau lebih jelek. Aku harap kalian suka. Enjoy it ^^

-Our Journal- (part1)

Udara dingin korea menyentuh kulit lembut Park Sunghyo dibalik jaket tebalnya. secangkir kopi yang ia pesan sepertinya tidak cukup hangat untuk melindungi tubuhnya dari serbuan angin yang sejak tadi tidak henti hentinya menyerang.

Sunghyo duduk di depan sebuah gedung tinggi, megah di tengah kota. Melirik kekanan dan kekiri, mencari hal menarik yang bisa menjadi penyelamat hidupnya.

Mobil van putih dengan kaca yang sangat gelap baru saja lewat di depan mata Sunghyo yang langsung bersemangat. dengan sigap ia meraih tas yang sedari tadi berada di sebelahnya.

Seorang pria dengan jaket coklat dan sepatu kets berwarna senada baru saja keluar dari mobil van yang lewat itu, pria itu keluar dengan santainya ditemani oleh dua orang pria lain yang jelas jelas adalah menejer atau stafnya.

Sunghyo berjalan perlahan memasuki gedung itu seiring dengan masuknya pria tadi. Sunghyo memasang muka sesantai mungkin yang ia bisa. perlahan tapi pasti, ia terus mengawasi pria tadi, setiap langkah kakinya ia perhatikan, raut wajahnya, bahkan jentikan jarinya selalu ia perhatikan. Kedua pria yang tadi menemaninya sudah pergi entah kemana, kini tinggal pria itu sendiri yang sedang sibuk dengan ponselnya. Mata Sunghyo terus mengawasi tanpa henti, Hingga pria itu berjalan menjauh dari pandangannya.

Sunghyo tidak pantang menyerah, diikutinya pria itu dari belakang, koridor demi koridor dilewatinya, pelan pelan ia terus mengikuti gerak gerik pria itu, sampai pada akhirnya pria itu memasuki sebuah ruangan di sebuah koridor. Kegiatan membuntuti seperti ini sangat melelahkan bagi Sunghyo. jantungnya sudah berdegup sangat kencang sejak tadi.

Samar samar Sunghyo mendengar suara tangisan seorang yeoja dari ruangan yang di masuki pria tadi. Raut muka Sunghyo berubah cemerlang seketika, diraihnya kamera kecil yang selama ini selalu menghiasi hari harinya, dengan meminimalisir suara, Sunghyo berjalan hingga depan pintu ruangan. Dijinjitkannya kedua kakinya tangannya di angkat tinggi tinggi hingga mencapai ventilasi, dalam tiga hitungan “cekrak cekrek” ia mendapatkan gambar yang cukup memuaskan. Ia tersenyum girang sambil menatap kameranya yang kini terisi oleh gambar gambar yang akan memperbaiki hidupnya untuk bulan ini.

kini dengan langkah cepat dan wajah yang girang. Sunghyo segera pergi menjauh dari ruangan itu, dan keluar dari gedung megah tersebut.

###

mobil yang setia menemani Donghae pergi kemanapun itu, melaju dengan cukup kencang di jalan tol. untuk membuang waktu senggang Donghae selalu bermain main dengan ipadnya, permainan Donghae terhenti saat ia menyadari bahwa menejer yang duduk di kursi depan, telah memutarkan tubuhnya dan kini menatap Donghae dengan serius.

“wae hyung?” tanya Donghae heran mendapati tingkah menejernya ini.

“kau harus sangat berhati-hati sekarang” jawab menejer yang bernama Junghwa itu dengan serius.

“memang kenapa?” tanya Donghae penasaran. Ipad yang sedari tadi ia pegang kini ia letakan begitu saja di kursi mobil.

“kau belum membacanya?” jawab Junghwa sambil mengusap usap dahinya dan kembali keposisi awal duduknya. Donghae menggeleng.

“sepertinya SM sedang tidak aman belakangan ini” tambah Junghwa. Mata Donghae terbelalak kaget.

“mwo?! Maksudmu?” tanya Donghae masih penasaran.

“sudah sebulan ini 3 tellent dari SM terbongkar kejelekannya” Junghwa menghela napas panjang

Donghae terbelalak kaget, mulutnya terbuka lebar, ia tidak percaya bahwa ia tidak tau menauh soal itu. Ketinggalan jaman sekali!

“ya~ pagi ini saja ada yang ketahuan memeluk seorang gadis di ruang ganti” tambah Junghwa sambil terus mengutak atik iphone miliknya, Donghae terdiam dan serius mendengarkan.

“yang lebih seram lagi hae… Foto foto yang menjadi bukti ini, semua diambil dari gedung SM itu sendiri… Ya! Bagaimana bisa? Sebenarnya siapa yang menulis artikel artikel ini?” tambah Junghwa lagi sedikit kesal.

Donghae terdiam sejenak, matanya menerawang ke luar jendela. mungkin benar Donghae harus berhati-hati sekarang. orang misterius yang siap membongkar apapun yang terjadi di SM sedang berkeliaran di dalam gedung itu sendiri?! Orang seperti itu adalah orang yang kejam di mata Donghae. Bagaimana tidak? Untuk apa masalah pribadi seseorang harus diangkat ke depan publik? Itu sungguh tidak berkeprimanusiaan.

Setelah setengah jam melaju, akhirnya mobil tersebut sampai di depan gedung megah dan mewah di tengah kota. Donghae mengambil kacamata hitap dari sakunya dan memakainya sebelum ia keluar dari mobil.Mata Donghae tak henti hentinya melirik kanan dan kekiri, mencari sesuatu mencurigakan yang mungkin saja sekarang sedang mengintainya.

“aku ke kantor dulu. Hati-hati” bisik Junghwa sambil melewati Donghae dan pergi entah kemana. Donghae hanya mengangguk.

Donghae akhirnya duduk di salah satu kursi di loby gedung tersebut, ia kembali memainkan ipadnya. tiba-tiba sesuatu menyerangnya. Ia harus kekamar mandi sekarang.

Dengan cepat ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju toilet, ia berjalan dengan pasti, ia sudah terlalu hafal letak ruangan di gedung ini hingga ia tidak perlu menanyakan tempat toilet kepada siapapun.

Kakinya terus melangkah hingga ia melihat seorang gadis berambut ikal dan memakai mantel coklat sedang berjalan dengan cepat tanpa melihat kearah depan. langkah cepat gadis itu lama lama berubah, gadis itu kini berlari sambil terus menatap kearah kameranya, Donghae ingin menghindar, namun langkah gadis itu lebih cepat dari respon otak Donghae.

BRUUUK!

Gadis itu menubruk tubuh Donghae dengan keras, sukses membuat mereka jatuh kelantai.

Donghae mengerang kesakitan, ia memegangi punggungnya yang menyentuh lantai dengan ganas. di sisi lain, gadis itu mengelus elus tangannya yang juga sukses menghantam lantai gedung yang sudah pasti keras itu. Kamera gadis itu terpental cukup jauh dari tangannya dan menubruk tembok yang ada di kanan dan kirinya.

“aduuuuh” keluh gadis itu sambil terus mengelus tangannya yang sakit. Donghae tidak mempedulikannya ia masih sibuk menghilangkan rasa sakit di punggungnya.

“OMO!! Kameraku?” kata gadis itu kaget, setelah sadar kameranya sudah tidak berada di tangannya lagi. Matanya membelalak kemana mana mencari kamera kesayangannya itu, dan betapa kagetnya ia melihat kameranya telah tersungkur lemah dengan lensa yang retak dan bagian badan yang sudah setengah terbuka.

“astagaaa!! Kameraku!!” teriak gadis itu sambil merangkak cepat untuk mengambil kameranya yang bentuknya sudah menggenaskan.

Diambilnya kamera tersebut, di bolak balikannya kamera kesayangannya itu. Ia memencet tombol power berkali kali, tapi tetap saja tidak bisa menyala kembali. Ia lalu mencopot memori kamera tersebut, dan betapa sedihnya ia mengetahui bahwa memori kameranya telah terbelah menjadi dua bagian sama rata.

Ia menatapi kamera dan memorinya bergantian, dalam diam, di sebuah koridor sepi. Tak terasa air mata telah memenuhi bola matanya.

Setelah cukup lama merintih dalam diam, Donghae akhirnya bangun sambil terus memegangi punggungnya yang sakit. Dilihatnya gadis tadi tengah terduduk menghadap tembok dan memunggunginya. Dengan langkah gontai dan punggung yang sakit ia berjalan mendekati gadis yang terduduk itu

“Ya nona! Haish jangan berlari di dalam koridor seperti tadi, bahaya sekali!” bentak Donghae tidak terlalu keras, gadis itu tidak mengubah posisinya dan tidak mempedulikan perkataan Donghae tadi.

“ya nona! Kau dengar tidak??” tanya Donghae sambil menaikan sedikit nada suaranya

“arraso…” samar samar gadis itu menjawab.

“apa?” tanya Donghae karena suara gadis itu terlalu kecil.

“ARRASO!!” bentak gadis itu sembari bangkit dari duduknya,

Donghae kaget melihat penampilan gadis itu sekarang, matanya sembab dan merah, pipinya basah dan hidungnya juga memerah,ambutnya acak acakan. Ia menatap Donghae dengan lirih sambil menggengam erat kameranya

“ya~ kenapa kau mena…” Donghae hendak menanyakan keadaan gadis itu, namun gadis itu kembali terduduk dengan air mata yang keluar lebih deras dari sebelumnya. Membuat hati Donghae berdegup kencang karena paniknya.

“ya..ya..ya! Kenapa kau? Haish! Jinja!” tanya Donghae gelagapan sambil melihat kekanan dan kekiri, ia khawatir bahwa sekarang ini ia mungkin sedang diawasi oleh orang misterius yang selalu membuat berita aneh tentang kejadian kejadian di gedung ini.

“hei ayolah kenapa menangis di koridor begini? Cepat bangun” kata Donghae gemetar, ia masih terus was was memandang kekanan dan kekiri, tangisan gadis itu semakin pecah. Donghae semakin salah tingkah

“ya~ nona… Kalau kau terus menangis aku akan meninggalkanmu sendiri disini. Haish!” kata Donghae lagi kini dengan nada yang sedikit pelan, di tekuknya kedua lututnya hingga kini ia sejajar dengan gadis itu. Perlahan tapi pasti gadis itu mengangkat wajahnya dan mendapatkan wajah Donghae yang sedang cemas di depan matanya.

“kamera….” kata gadis itu pelan sambil terus terisak

“apa?” tanya Donghae ragu

“kamera….kamera…” gadis itu kembali menunduk

“haish kau sudah gi…”

“huwaaaa! Otthoke…hik? Ba..bagai..mana a..aku bisa makan besok!!” gadis itu kembali menangis dengan kencang.

Donghae semakin salah tingkah.

###

Donghae menatap gadis didepannya dengan tatapan bingung, gadis ini sejak tadi tidak henti hentinya menundukan kepalanya. Setelah kejadian tadi, yang menyebabkan ia menangis. Donghae tidak bisa meninggalkan seorang gadis menangis sendirian di koridor gedung yang sangat luas itu, nalurinya sebagai laki-laki terus mendorongnya untuk tidak meninggalkan gadis itu sendiri, hingga akhirnya kini mereka sudah duduk kafetaria gedung tadi.

Gadis itu menatap minumannya dengan lemas, napasnya masih tersengal, sesekali air mata kembali menetes di pipinya.

“ya! Kau ini sebenarnya kenapa? Hanya jatuh begitu kau sudah menangis” tanya Donghae heran. Gadis itu mengangkat wajahnya

“aku kehilangan hidupku” jawab gadis itu lemas.

“haish!! Jangan mendramatisir sesuatu!” Donghae menyeruput minumannya

“aku tidak mendramatisirnya… Kini kameraku telah rusak… Memorinya juga telah terbelah menjadi dua… Aku.. Aku… Bagaimana ini…” gadis itu kembali menunduk, Donghae semakin bingung melihatnya

“YA! Awas kalau kau menangis lagi!! Haish!” kata Donghae tegas “apa kau tau? sekarang ini pasti ada yang sedang mengintai kita! Mungkin wajahmu besok ada diinternet atau majalah!” tambahnya, gadis itu kembali mengangkat wajahnya dan menatap Donghae dengan serius.

“aku tidak bercanda… Belakangan ini kantor kami terus diintai dengan orang-orang yang siap membuat berita yang tidak-tidak” Donghae menyenderkan tubuhnya kekursi, Gadis itu menelan ludahnya.

“bila wajahmu masuk berita… Kau siap siap saja!” tambah Donghae lagi. Gadis itu masih terdiam kaku, mencoba mencerna kata kata Donghae barusan.

“siapa namamu ngomong ngomong” tanya Donghae, gadis itu kembali menatap wajah Donghae yang penasaran.

“Sunghyo.. Park Sunghyo imnida” jawab gadis itu sambil sedikit menunduk.

“yaaaah~ Sunghyo… Lee Donghae imnida” kata Donghae sambil sedikit menundukan juga.

“kameramu itu memang sangat penting?” tanya Donghae sambil menatap kamera yang rusak diatas meja. Sunghyo mengangguk perlahan.

“ne… Dia hidupku” bisik Sunghyo, namun cukup untuk didengar oleh Donghae didepannya.

“berikan alamatmu” kata Donghae sambil memberikan secarik kartu nama bekas.

“mwo?” Sunghyo terbelalak kaget

“cepaaat! Kita tidak bisa lama seperti ini. Bisa-bisa pengintai itu melihat kita!” kata Donghae memaksa. Dengan ragu Sunghyo menari kartu nama bekas tadi, perlahan ia tulis alamat rumahnya disisi kartu nama yang kosong. Setelah ia selesai menulis, dengan cepat tangan Donghae menyambarnya.

“yah.. Baiklah! Aku harus pergi sekarang! Pulang dan makanlah yang baik” kata Donghae sembari berdiri dan pergi meninggalkan Sunghyo dengan cepat. Sunghyo hanya dapat terperanga melihat kejadian barusan.

Sunghyo berjalan dengan gontai menuju kantornya, bagaimana caranya ia mengatakan hal ini kepada bosnya? Kamera yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya kini telah rusak dan hancur, yang lebih parahnya lagi memori yang menyimpan semua foto dan bukti yang selama ini telah ia kumpulkan telah terbelah menjadi dua, dan itu sudah sama sekali tidak bisa diharapkan.

Sunghyo melewati meja demi meja rekan rekan seprofesinya dengan tampang yang sangat kusut. Dilihatnya satu persatu dari mereka sedang serius dengan pekerjaanya masing masing. Seharusnya sekarang ia juga sedang membuat artikel seperti yang teman temannya lakukan sekarang ini. Namun kini pikirannya kalut akan nasibnya selanjutnya, pikirannya terus melayang kemana mana saat Hyunwon teman satu rekannya berjalan menghampirinya. Hyunwon menepuk pundak Sunghyo hingga gadis itu menoleh lemas kearahnya.

“ada apa Sunghyo ah… Sepertinya hri ini kau lemas sekali” sapa Hyunwon, Sunghyo hanya tersenyum seadanya

“kau pasti mendapat berita yang fantastik lagi hari ini. Ayo ceritakan padaku” tambah Hyunwon. Sunghyo masih terdiam

“ani… Aku tidak mendapatkan apapun hari ini… Haaaah” Sunghyo menghela napas panjang sembari pergi meninggalkan Hyunwon sendiri.

“ya! Park Sunghyo!” teriak Hyunwon begitu ia sadar Sunghyo sudah pergi menjauh dari dirinya. Sunghyo tidak menghiraukan panggilan temannya itu. Yang ia pikirkan sekarang adalah kameranya. Kameranya yang sudah tidak bisa digunakan lagi.

“kau punya masalah ya?” Hyunwon kembali mengusik pikiran kalut Sunghyo.

“ne. Kenapa? Kau pasti senang” jawab Sunghyo kesal

“ani… Mana mungkin aku kesal. Tapi, apa kau ketahuan sedang meliput?” selidik Hyunwon. Sunghyo menatap rekannya itu dengan sinis

“mana mungkin aku ketahuan…” jawab Sunghyo datar.

“ne.. Kau benar. Itu mustahil. Lalu apa yang membuatmu begitu lemas?” selidik Hyunwon lagi.

“aku… tidak bisa menulis berita hari ini” jawab Sunghyo cepat, sambil membereskan barang-barangnya.

“MWO?! Bos pasti akan sangat kesal!” kata Hyunwon cepat. Sunghyo kembali menenteng tas kerjanya

“arraso. Aku cuti hari ini. Anyeong!” jawab Sunghyo lemas sambil berjalan keluar. Hyunwon tertegun melihat tingkah rekannya itu.

ramainya kota hari ini, membuat suasana hati Sunghyo makin kalut. Sejak tadi pikirannya tidak lepas dari kamera. Ia berjalan menuju apartemennya dengan gontai, lemas, dan tanpa semangat. Apartemen yang terletak di tengah kota itu menjulang begitu megahnya. Sunghyo menarik napas panjang sebelum akhirnya ia memasuki gedung tersebut. Diliriknya satpam yang setiap hari selalu berjaga di depan pintu sedang menatapnya.

“aah! Nona Sunghyo!” panggil satpam itu, Sunghyo menghentikan langkahnya dan menatap satpam itu penuh tanya.

“ne… Wae?” tanya Sunghyo. Satpam itu lalu pergi kedalam ruangan kecil di pojok gedung, lalu kembali sambil membawa kotak berukuran sedang di tangannya.

“itu apa?” tanya Sunghyo sambil menunjuk kotak di tangan satpam

“ini untukmu. Tadi ada yang mengantarkannya” jawab satpam itu sambil menyerahkan kotak tadi.

“untukku?… “tanya Sunghyo heran. Satpam itu hanya mengaguk “Ah ne gomawo” tambah Sunghyo lagi lalu pergi meninggalkan satpam tadi. Sunghyo berjalan sambil membawa kotak itu dengan penuh tanya. ia berjalan menuju lift yang akan membawanya ke apartemennya tersebut.

Sesampainya di dalam apartemen, Sunghyo langsung melemparkan tasnya ke kursi lalu duduk di kursi itu sambil memangku kotak yang diberikan satpam tadi. Tidak ada nama pengirimnya, yang ada hanyalah alamat tempat tinggalnya dan nama Sunghyo tertera disitu.

Perlahan Sunghyo membuka kotak tersebut, dan OMO! Sunghyo menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua tangannya. Di dalam kotak tersebut terdapat kamera profesional yang selama ini ia inginkan. Ia mencubit pipinya berkali kali, berharap ia tidak sedang bermimpi saat ini.

“omona! Siapa yang…” mata Sungyo tertegun ketika melihat sebuah amplop kecil disamping kamera itu. Diambilnya amplop tadi, dan dibacanya surat didalam amplop tersebut

Anyeonghaseo nona Sunghyo. Ini aku Lee Donghae yang tidak sengaja menabrakmu tadi pagi. Aku merasa bersalah atas kameramu. Sebagai lelaki aku harus melakukan sesuatu yang berarti, jadi aku kirimkan kamera baru untukmu, jadi hidupmu tidak jadi hancur sekarang. Semoga harimu menyenangkan.

-Lee Donghae-

Sunghyo makin tertegun membacanya, ia baru sadar bahwa tadi ia memang menabrak seseorang. Sunghyo merasa bodoh sekali, ia baru menyadari bahwa yang ia tabrak adalah Lee Donghae… Lee Donghae super junior? Bahkan mereka sempat minum bersama kan? Sunghyo benar benar baru sadar bahwa yang di tabraknya adalah Lee Donghae yang itu. Lee Donghae yang terkenal itu. Ini adalah keuntungan besar baginya. Akses masuk kedalam gadung SM pasti akan lebih mudah bila ia mengenal orang dalamnya. Sunghyo langsung memutar otaknya yang cerdas.

###

Gedung SM terasa Lengang pagi ini. Donghae sudah berada di dalam gedung ini sejak subuh, ia bermalam di gedung ini setelah selesai rapat dengan para produser.

Sunghyo berjalan riang di dalam gedung SM, ia merasakan aura kemenangan di setiap langkahnya. Ia melirik kekanan dan kekiri, dan yap dia mendapati sosok Donghae sedang terduduk tenang di kursi loby, dengan semangat Sunghyo berjalan mendekati Donghae, namun. Langkah Sunghyo terhenti saat melihat sosok seorang artis tenar lewat dari ujung matanya. Sunghyo langsung memutarkan kakinya dan mengurungkan niat berterimakasih pada Donghae.

sudah setengah jam lewat Donghae menunggu di loby gedung, menejer yang selalu sibuk dengan ponselnya itu tidak kunjung datang. Betapa geramnya Donghae menunggu begitu lama. dengan kesal ia bangkit dari duduknya dan hendak pergi membeli sebuah minuman, ia berjalan sambil menggerutu tidak jelas. kini mesin penjual minuman sudah nampak didepan matanya, ia lantas mengambil domper di saku celananya, disaat yang bersamaan, seorang gadis sedang berlari terengah engah dengan wajah yang sangat panik, Donghae kaget bukan main melihat gadis itu. Gadis itu tercengang melihat Donghae, Donghae semakin kaget. Gadis itu berhenti berlari saat mereka tepat berpapasan, kaki gadis itu masih menghentak hentak dilantai. Donghae memperhatikan dalam bingung.

“ini! ini aku.. Ah… Aku…titip… Kamsha!” kata gadis itu terburu buru, dan menyerahkan sebuah kamera lalu kembari berlari dengan kencang. Donghae masih keheranan dengan kejadian tersebut saat seorang satpam datang sambil berlari dan membawa tongkat.

“YA!! YA!! YA!! NONA!! YA!!” satpam itu berteriak sangat kencang dan melewati Donghae begitu saja, Donghae hampir terkena serangan jantung.

Tiba tiba gadis yang berlari tadi muncul lagi dari sisi koridor yang berbeda. Donghae kembali keheranan.

“ya.. Satpam itu sudah pergikah?” tanya gadis tadi. Donghae mengangguk bingung. Gadis itu kemudian menghela napas panjang dan berjalan menghampiri Donghae.

“ah! Kamshamida” kata gadis itu sambil mengambil kamera dari tangan Donghae.

“ya! Kau gadis yang kemarin!” kata Donghae begitu menyadari gadis itu adalah gadis yang menabraknya kemarin.

“ah ne… kau masih ingat rupanya” jawab gadis bernama Sunghyo dengan napas yang masih sedikit tersengal

“kenapa kau suka sekali berlari di koridor sih?” Donghae bertanya dengan heran, Sunghyo malah tertawa kecil.

“molla…” jawab Sunghyo singkat “ah! Ne… Anu kamera ini… Ehm benarkah kau yang memberikannya” Sunghyo menyelidik, Donghae menyeritkan dahi dan tersenyum

“ne! Kau benar” jawab Donghae singkat, Sunghyo menunduk berkali kali

“aaah! Kamshamida!! Jeongmal kamshamida!!” kata Sunghyo masih terus menunduk

“tapi… Kenapa?” tanya Sunghyo kemudian

“aku hanya kasiahan dengan raut wajahmu saat kameramu rusak, jangan salah paham!” jawab Donghae tegas, Sunghyo mengangguk angguk kecil.

“ngomong ngomong… Kenapa satpam itu bisa mengejarmu?” tanya Donghae penasaran. Sunghyo memutarkan bola matanya.

“a.. a.. Itu aku tidak sengaja menjatuhkan barang! Jadi dia mengejarku. Ya begitu” jawab Sunghyo berbohong, Donghae mengangguk angguk kecil, Sunghyo menghela napas panjang.

“mau minum?” tanya Donghae kemudian. Sunghyo menggeleng cepat.

“tidak.. aku kesini hanya ingin berterimakasih atas kamera ini. Ini terlalu berlebihan!” jawab Sunghyo cepat. Donghae tersenyum kecil

“lupakan saja…” jawab Donghae enteng. Sunghyo keheranan, kenapa artis seperti dia bisa bisanya memberikan kamera ini dengan percuma. Untuk popularitas kah?

“a… Baiklah, sekali lagi terimakasih!” kata Sunghyo lagi sambil menundukan badan lalu berjalan menjauhi Donghae.

Donghae memperhatikannya dari jauh lalu kembali terfokus kepada dompetnya tadi. Sunghyo menerawang kejadian berusan dan kembali ke kantornya.

Di kantor seperti biasa Sunghyo melewati meja kerja Hyunwon dengan semangat.

“kenapa kau begitu bersemangat hari ini? Kemarin kau lemas sekali” kata Hyunwon cepat begitu Sunghyo lewat didepannya. Sunghyo tersenyum penuh kemenangan

“aku.. Hidupku, kembali” jawab Sunghyo mantab lalu berjalan menuju meja kerjanya. Hyunwon menggerutu sendirian.

-con-

Mianhe kalo jelek, dan sebagainya :D semoga kalian terhibur! Kamshamida~

11 thoughts on “Our Journal [part 1]

  1. ya ampun hae, yang pengintai itukan sunghyo.. Gimana ya kalau hae tau kalau pengintai tu sunghyo? Apalagi hae nggak suka..
    Terus sunghyo malah manfaatin hae lagi.. Hae bertanggung jawab.

    Penasaran thor
    ditunggu lanjutannya ya thor :)

  2. Ampun…,c’Sunghyo nya licik amat ya,?!
    bkanNya tobat malah semakin menjadi2…,
    Kasian Bang Donge,kebaikan dbalas keburukan ><
    Lanjut….,nice epep ^^

  3. hohohohoho…
    Donghae, kenapa kau lugu sekali…
    Dia adalah orang yang kau anggap jahat, yang membeberkan kehidupan pribadi orang.
    Hmhmhm kau ini polos sekali si…
    Gatau deh gimana sikapmu setelah tau kalo tu cewek seorang paparazzi.

    Ayo ayooo lanjutannya jangan lama2 ya… ^^,

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s