Dandelion #3 (Why, Baby? Sequel Edition)

sebelumnya…

#1 #2

Dandelion #3 (Why, Baby? Sequel Edition)

…please don’t go far…

 

Sojung-ah. Sepulang latihan aku akan pergi ke toko buku. Kau ingin aku membawakan apa? Yunho~

Aku membaca sebuah pesan yang dikirimkan teman yang hampir satu tahun ini dekat denganku, Yunho oppa. Aku baru tahu bahwa dia satu tahun lebih tua dariku. Pantas saja dia terlihat dewasa daripada GO.

Tidak perlu, oppa. Kau akan datang pukul berapa? Sojung~

Sekitar pukul 10. Bagaimana jika kita makan bersama? Yunho~

Baiklah^^ Sojung~

Ku tutup flip ponselku, dan segera berkonsentrasi dengan buku sejarah di depanku. Sebentar lagi akan ada ujian kelulusan dan aku sudah memutuskan sesuatu.

Aku memutuskan meneruskan pendidikan ke SNU. Seoul National University, jurusan hukum.

Apakah aku terlalu percaya diri?

Benar. Aku harus percaya diri agar masuk ke SNU, dan pergi dari rumah ‘neraka’ itu.

***

“Sojung-ah. Kau suka warna apa?” tanya Yunho oppa. Malam ini seperti yang dijanjikannya padaku, dia mengajakku untuk makan bersama di sebuah kedai di dekat toko buku. Sebentar lagi Yunho oppa akan memulai debutnya sebagai seorang penyanyi dengan grup bernama TVXQ!, dan dia adalah leader dari grup tersebut. Aku sangat mendukungnya, tentu saja. Tetapi ada sedikit kekhawatiran juga jika dia meninggalkanku setelah menjadi debut. Aku khawatir dia akan meninggalkanku seperti oppaku dan GO.

Entah mengapa aku sangat tergantung padanya. Sehari saja tidak menghubunginya, aku merasa sesak napas. Aku sering menahan diri untuk tidak menghubunginya terlebih dahulu karena mungkin akan mengganggu jadwal latihannya, tetapi aku tidak bisa.

“Mmm… Putih.” Kuambil makanan terdekat denganku menggunakan sumpit.

“Wae?”

“Karena putih itu seperti cahaya. Bersih.”

Yunho oppa menyuapiku. “Tetapi putih itu terlalu lemah.” Katanya. “Dia akan kalah jika tercampur dengan warna lain.”

Aku hanya mengangguk sambil menerima suapannya. Benar-benar sepertiku kan, warna putih itu? Lemah, meskipun seperti cahaya.

“Kalau aku suka hitam.”

“Wae?”

Dia menggeleng. “Molla. Aku suka saja dengan warna tersebut.”

“Oppa hitam, aku putih. Jika tercampur akan menjadi warna abu-abu.”

“Abu-abu?” tanyanya memastikan. “Ah, benar. Seperti warna kesukaan Changmin.”

“Nuguya?”

Lagi-lagi Yunho oppa menyuapiku. Aku sempat menolak, tetapi dia tetap saja memberikannya padaku. “Maknae kami. Dia satu tahun lebih muda darimu. Suatu saat aku akan mengenalkannya padamu!”

***

Kubuka pintu rumahku perlahan. Sekarang aku tidak perlu repot-repot memanjat tangga sebelah rumah untuk masuk karena omma tidak ada di rumah. Omma pergi ke rumah nenek di Busan selama 2 bulan terakhir, entah sedang melakukan apa. Keadaan rumah lebih tenang jika omma dan appa tidak bertemu. Dan aku menyukainya. Semoga mereka berpisah saja, agar telingaku tidak bising mendengar mereka bertengkar setiap hari.

Aku melihat appa masih membaca buku di ruang keluarga. Karena itu aku segera menyapanya. “Aku pulang.”

“Duduk!”

Aku mengambil napas panjang. Perasaanku mengatakan bahwa appa akan membahas mengenai kuliahku lagi. “Appa. Jika ini mengenai dimana aku akan melanjutkan kuliah…”

“Omma sudah mengatur sekolahmu di Busan. Kau akan meneruskan di jurusan administrasi bisnis.”

Aku terkejut. Jadi omma pergi selama 2 bulan ini bukan tanpa sebab? Jadi mereka sudah bersama-sama merencanakan masa depanku tanpa meminta pendapatku?

“Appa!” teriakku. “Biarkan aku memutuskan masa depanku sendiri! Aku baru saja mendaftar di SNU!”

Appa menggebrak meja makan ruang tengah, membuatku sedikit terkejut. “SNU? Kau pikir kau sepintar itu? Tsk~ Kau bahkan tidak lebih pintar dari Taekyung, bocah sialan itu!”

Hatiku sakit. Aku sudah tidak tahan. Appa bahkan menyebut Taekyung oppa bocah sialan. Oppa pasti sangat sedih mendengarnya dari atas sana.

“Kau harus pergi ke Busan!”

***

Minam_GO     : Ya! Gwaenchana?

Kubaca sebuah pesan chatting dari GO untukku. Aku tersenyum. Kami memang tidak pernah bertemu, tetapi GO masih menepati janjinya untuk terus mengirimkan email.

SojungHwang : Punya indera keenam? Bagaimana bisa tahu aku sedang tidak baik-baik saja?

Minam_GO     : Ya! Seorang kakak tidak bisa dibohongi!  Aku bertemu seseorang di sini.

SojungHwang : Chukkae!

Minam_GO     : Bagaimana denganmu?

SojungHwang : Apanya?

Minam_GO     : Seseorang yang baik… Apakah kau sudah bertemu dengannya?

Seseorang yang baik… Ya, sepertinya aku sudah menemukannya…

SojungHwang : Aku belum yakin… Aku memang dekat dengannya, tetapi aku tidak yakin apakah dia orang yang tepat atau tidak…

Miinam_GO    : Chukkae!

Aku tersenyum. Tapi, tunggu. Apa aku membicarakan Yunho oppa? Orang yang baik itu? Jika tidak, siapa lagi yang kumaksud dengan seseorang itu? Bukankah tidak ada yang sedang dekat denganku selain Yunho oppa?

Tetapi sepertinya memang benar dia. Karena aku tidak bisa sedetik pun tidak memikirkannya. Seperti saat ini, ketika appa memarahiku lagi. Ingin rasanya menghubunginya, menceritakan semua padanya. Ini berbeda dengan ketika aku bersama GO, sangat berbeda. Hanya saja aku masih belum yakin dan tidak mau berharap banyak.

Yunho oppa adalah seorang murid training yang akan memulai debutnya beberapa hari lagi, sebagai seorang leader TVXQ!. Apa mungkin dia tetap bersamaku ketika mengetahui aku adalah seorang murid SMU biasa yang berasal dari keluarga yang berantakan?

Aku tidak tahu.

***

Tidak biasanya, pagi ini appa hanya diam dan tidak berkata apa pun. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres karena semalam kami bertengkar. Mungkin appa sudah ingin mengusirku dari rumah ini karena tidak menurutinya melanjutkan kuliah di Busan? Semoga.

“Selamat pagi.” Kataku datar. Appa hanya diam, tidak membalas salamku. Aku baru ingat bahwa ini hari Minggu. Pantas saja appa tidak pergi bekerja.

Tiba-tiba appa berdiri. Dia mengambil sesuatu di sebelah rak buku miliknya. Sebuah amplop berwarna cokelat. Diberikannya amplop tebal itu kepadaku. “Ini. Semua keperluan sudah kusiapkan. Ommamu juga sudah membelikan sebuah rumah di sana. Besok kau akan pergi.”

Aku terkejut. “Besok?” tanyaku memastikan. Apa-apaan ini? Mengapa mereka tidak mengerti aku?

“Lebih cepat lebih baik.” Appa melempar amplop cokelat di depanku sehingga membuatku sedikit tersentak. “Dan tentang SNU, jangan bermimpi! Kau akan gagal dan memalukan keluarga. Jadi lebih baik kau segera pergi ke Busan saja!” Appa mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, sebuah kartu kredit. “Ini.” katanya. Dilemparnya lagi kartu kredit tersebut di depanku. “Pakai ini untuk kebutuhanmu sehari-hari. Appa akan mengirimkan uang agar kau tidak bekerja. Di bar ataupun toko buku, tidak boleh. Kau tahu rekan bisnis appa banyak yang berasal dari Busan? Jadi jangan membuatku malu!”

Aku benar-benar sudah tidak tahan. Mereka boleh saja menyuruhku pergi. Mereka boleh saja menyebutku bodoh. Mereka boleh menyebutku memalukan keluarga. Tetapi tidak untuk meninggalkan Seoul. Tidak untuk melarangku masuk SNU.

Tidak untuk meninggalkan Yunho oppa!

“Appa. Aku tidak bisa menuruti appa untuk kali ini. Aku tidak bisa meninggalkan Seoul, dan aku sudah membulatkan tekadku untuk melanjutkan kuliah di SNU.” Aku berdiri. “Dan untuk Taekyung oppa. Sebaiknya appa minta maaf padanya. Selama ini appa sudah membesarkannya, itu sama saja dengan appa yang membuatnya menjadi sialan!”

Aku berlari menuju kamarku. Mengemasi semua barang yang bisa kukemasi dan membawanya pergi dari rumah. Suara appa terdengar seperti petir, entah sumpah serapah apa yang kali ini diucapkannya padaku. Aku sudah tidak peduli. Meskipun tidak tahu harus kemana, saat ini yang kubutuhkan hanya pergi dari rumah.

Sayup-sayup kudengar suara appa merutukku. “Kau akan menyesal telah meninggalkan rumah ini, Hwang Sojung!”

Aku akan lebih menyesal jika menuruti semua keinginanmu, appa… pikirku. Aku sudah dewasa, sudah saatnya aku menentukan kehidupanku sendiri.

Aku berjalan menuju sebuah halte bis dengan menahan tangis. Aku tidak boleh menangis! Bukankah aku sudah tahu saat ini akan tiba? Saat ketika aku keluar dari rumah itu, diusir, atau dengan ijin mereka. Tapi aku harus kemana? Menginap di sekolah? Toko buku? Candy bar? Aku belum mempersiapkan itu!

Ah! Yunho oppa!

“Yeobseo?”

Aku mengatur napasku agar terlihat tidak terjadi apa-apa. “Oppa… Kau dimana?”

“Aku? Sedang berada di dorm. Besok akan memulai debut dengan TVXQ!. Ya! Mengapa meneleponku?”

Aku menggeleng. “Eh? Tidak. Tidak ada apa-apa. Sampai jumpa!”

Klik.

Bodoh. Aku tidak boleh mengganggunya. Ini masalahku, dia tidak boleh tahu. Aku harus bisa memecahkan masalahku sendiri.

***

Suara petir dan gemuruh air hujan yang turun membasahi bumi membangunkanku. Kututup kedua telingaku dengan tanganku karena menurutku suara-suara itu mengganggu, padahal aku sudah menutup rapat-rapat jendela kamarku. Setelah aku merasa yakin tidak mendengar suara petir-petir itu, aku pun terlelap lagi.

Tetapi tidak begitu lama aku terlelap, sesuatu membasahi tubuhku. “Omo!” teriakku.

Tubuhku basah, mukaku basah. Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi di dekatku membuat air genangan di jalan raya beralih menggenangiku. Ternyata aku masih berada di halte bis sejak tadi dan tertidur di sini, bahkan belum menyentuh makanan sedikit pun.

“Argh…” rintihku. Perutku terasa perih. Aku butuh makan, tentu saja. Karena itu aku segera bangun. Kurapikan pakaianku, dan segera berjalan menuju toko buku. Meskipun keadaan hujan, tetapi aku tidak peduli karena tubuhku sudah basah juga.

Aku berjalan menembus hujan menuju toko buku. Banyak sekali mata memperhatikanku, seorang gadis berjalan dalam hujan dengan membawa sebuah koper. Mungkin mereka pikir aku ini seorang gadis yang baru saja diusir oleh pemilik rumah kontrakan.

Sesampainya di sebuah belokan yang sedikit sepi, aku terduduk lemas. Tiba-tiba aku merasa tubuhku mati rasa, dan aku benar-benar pusing. Saat ini yang ada di pikiranku hanya Yunho oppa. Sedang apa dia? Apa dia tahu aku seperti ini sekarang?

Aku masih merintih kesakitan ketika seseorang datang padaku. “Sojung-ah?”

Aku mengenal suara itu! Apa aku berhalusinasi karena terlalu memikirkannya?

Kudongakkan kepalaku, dan menyadari bahwa aku tidak berhalusinasi. Dia ada di depanku, Yunho oppa. Dengan membawa sebuah payung untuk kami berdua. Aku tersenyum kecil. “Oppa…”

“Mengapa kau berada di luar, hah?”

Aku tersenyum lagi. “Oppa… Aku, pergi dari rumah…”

Yunho oppa terlihat sedikit terkejut. Dipegangnya tubuhku, membantuku berdiri. “Badanmu…” lirihnya. Tangannya beralih memegang keningku. “Kau demam!”

Sekarang aku yang terkejut. Demam? Tidak. Aku merasa kedinginan! Tidak demam!

“Kau sudah makan?”

Aku menggeleng. “Gwaenchana. Oppa cepatlah pulang. Bukankah besok oppa akan debut? Mengapa semalam ini berada di luar?”

Raut wajah Yunho oppa berubah. Dia menatapku marah. “Bagaimana bisa aku tidak mempedulikanmu, hah?” bentaknya. Dibuangnya payung yang sedari tadi melindunginya dari hujan, kemudian dia menunduk. “Naiklah! Cepat!”

***

Tubuhku terbaring lemas di atas sebuah ranjang yang tidak begitu empuk, tidak seperti tempat tidurku. Yunho oppa membawaku ke sebuah rumah kecil yang dikatakannya tadi adalah rumahnya dulu sebelum dia masuk dorm untuk debut. Dia sebenarnya akan membawaku ke rumah sakit, tetapi aku tidak mau. Besok dia akan mulai debut. Aku tidak mau sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi.

Yunho oppa memasakkan ramen untukku karena hanya itu yang ada di lemari makanannya. Dia menyuapiku perlahan. Sesekali disekanya kuah ramen yang menetes dari mulutku karena aku sangat tidak ingin dan tidak nafsu makan sekarang. Pusing dan kedinginan. Akhirnya Yunho oppa menyerah. Ditaruhnya mangkuk berisi ramen tersebut. “Sojung-ah. Kau harus makan!”

Aku menggeleng lemah. Dan kepalaku semakin terasa pening.

Yunho oppa mengambil ponselnya. “Yeobseo, hyungnim.” Sepertinya dia menelepon manajernya. “Aku tidak bisa kembali ke dorm malam ini. Ne? Aku ada di rumah. Tidak, aku tidak apa-apa. Aku tidak akan terlambat. Aku berjanji. Sungguh.” Sayup-sayup kulihat raut wajahnya khawatir. Tetapi kemudain dia tersenyum tipis. “Terimakasih, hyungnim.”

“Nnggh…” rintihku. Kurasa Yunho oppa benar bahwa aku demam, karena aku merasa sangat kedinginan meskipun pakaianku sudah kuganti dengan pakaian kering dan tubuhku sudah berada di bawah selimut tebal miliknya.

“Kita ke rumah sakit saja? Aku tidak tahu harus berbuat apa, Sojung-ah. Kau tahu badanmu panas sekali?”

Aku menggeleng lagi. “Dingin…”

Setelah menatapku lama sekali, tiba-tiba Yunho oppa membuka kaosnya. “Aku hanya punya selimut ini… Mianhae, Sojung-ah.” katanya padaku.

Yunho oppa mulai membuka kancing bajuku. Aku tidak tahu dia akan berbuat apa, dan aku tidak menolak. Dia berbaring di sebelahku, kemudian mengangkatku ke atasnya. Dibaringkannya tubuh lemasku di atasnya, diletakkannya kepalaku di dadanya yang hangat, kemudian menutupi tubuh kami dengan selimut. Dipeluknya tubuhku yang kedinginan agar tidak kedinginan lagi. Benar-benar pintar. Dia tahu suhu tubuhnya bisa menghangatkanku.

“Sudah hangat?” tanyanya.

Aku mengangguk lemah.

Dia membelai kepalaku lembut, kemudian memelukku lagi. “Tidurlah.”

Hari ini, untuk yang pertama kalinya. Aku menemukan seseorang yang benar-benar peduli padaku. Di depannya aku tidak harus menjadi orang lain. Jika aku rapuh, aku tidak perlu berpura-pura kuat. Hanya di depannya, di depan Yunho oppa.

Dan kali ini, aku tahu mengapa aku menerima uluran tangannya. Alasan mengapa aku menerima pertemanannya meskipun aku tidak mengenalnya sama sekali. Yaitu, aku mencintainya.

Kuharap dia akan terus berada di dekatku seperti saat ini, meskipun besok dia akan memulai debutnya. Meskipun setelahnya dia akan menjadi superstar. Meskipun setelahnya akan banyak wanita yang mengidolakannya. Kuharap dia tidak meninggalkanku sedetik pun.

Karena aku mencintainya.

-Please Don’t Go Far, END-

sekali lagi, dibantu jawab yak…

misalnya L~ bikin kumpulan FF atau novel dengan harga MAKSIMAL 30ribu (belum tau berapa pastinya) format PDF (kayak eBook) kirim via eMail melalui attachment file jadi ngga ada biaya pengiriman, bulan september nanti, kira2 pada mau beli ngga??

11 thoughts on “Dandelion #3 (Why, Baby? Sequel Edition)

  1. akhirnya kptsan adalah prgi :D
    So romantic sojung ama yunho, mndptkan pengganti yg lbh dr pda GO :)
    prasaan yg beda dan lebih. aq pengen sekuel si yunho nikah ama sojung. gmana hambtnnya krna dia aeorng pnyanyi dan leader lg d groupbya :D

    sojung memang blajar mencintai dsinic benar2 blajar :)
    suka deh sikap yunhocwlaupun dsini dcrtakan dikit, krna dr sudut pndng sojungkan :)

    author L hwaiting ya :)
    soal buku kmplan ff, d part kmren aq udh comment :)

  2. Iya, changmin oppa nya kmn? Kn dy jg ikut nimbrung,, knp jd GO skrg?

    Yunho oppa COOL ^_~
    Aq jg Mencintaimu oppa :)
    LANJUUTT!

  3. yaampun ceritanya romantis banget.. masih ada lanjutannya kan??? aku nunggui dr kmaren2..
    udah baca dari awal n bikin merindin.. YUNHO OPPA romantis bgt and gentle

  4. heran kenapa sojung ga pergi dulu2 dari rumah sih? trus bukannya dia kerja di toko buku ya? harusnya kan punya tabungan biarpun dikit, sekedar buat nginep malem itu aja di motel kecil tempat para calon mahasiswa belajar itu loh.. ada kan di korea? yg kamarnya cuman ukuran 2×3 trus sewanya murah banget. biasa dipake sama yg pd mo ikut ujian perguruan tinggi.

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s