Destiny [part 2]

Author : Vinny a.k.a Vn

Cast : Lee Joon (MBLAQ), Jiyeon (T-Ara)

Support Cast : Kim So Eun, Asisten Kim, Jiyeon’s Ahjussi, Joon and Go’s father

Rating : PG 15

Genre : Action Thriller

Warning! : yang ga tahan baca cerita bunuh-bunuhan mending jangan dibaca ya :p

PS : Please don’t be a silent reader! Read and comment! Okay? :D sudah pernah dipost di http://pinnipinot.blogspot.com TOLONG DENGAN SANGAT JANGAN PERNAH ME-COPY-PASTE FF INI TANPA IJIN. Makaciiiihh ^^ Gomawo buat yang mau baca.

 

Jiyeon POV

 

Kuhentikan langkahku saat mendapati dua orang pengawal yang berdiri tepat di depanku. Tiba-tiba kedua tanganku tertangkap dari belakang. Dengan spontan kugigit jari-jari yang menangkap tanganku, sehingga menyebabkanku dapat lepas dari genggaman.

Begitu lepas dari genggaman mereka, aku segera berlari keluar dari supermarket, berusaha untuk kabur, hingga akhirnya aku hampir ditabrak oleh sebuah mobil. Kini aku terduduk di lantai, bukan karena tertabrak namun karena terkejut.

Mobil itu berhenti tepat didepanku. Seorang namja keluar dari mobil. Dia… namja di toko bunga waktu itu. Namja itu hanya menatapku dengan tatapan kosong.

Kulihat asisten Kim dan pengawal-pengawal itu semakin mendekat.

Jebal.. tolong aku.” Ucapku pada namja itu.

Namja itu melihat ke arah mereka yang mengejarku, lalu berkata, “Naik.”

Aku segera mengikuti pintanya dan naik ke dalam mobil.

Namja itu lalu menjalankan mobilnya meninggalkan asisten Kim dan pengawal lain yang terlihat kebingungan.

 

_ _ _

 

Choesunghamnida.” Aku menundukkan kepalaku pada namja itu, “Terima kasih atas pertolonganmu.”

Namja itu hanya diam dan menatap lurus ke depan. Kelihatannya dia bukan orang yang ramah.

Sesaat kemudian namja itu bertanya, “Mau turun di mana?”

Pertanyaannya membuatku sedikit kebingungan. Aku menoleh ke belakang memastikan tidak ada yang mengikuti lagi, “Di sini saja.”

Namja itu menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

Aku segera turun dari mobilnya lalu berkata, “Gamsahamnida.” sambil sedikit tersenyum.

Namja itu menoleh padaku, “Jangan terlalu mudah percaya pada orang.” ucapnya singkat lalu melaju pergi.

Aku tidak yakin benar apa maksud ucapannya, namun menurutku, dia bukan orang yang jahat.

 

 

 

 

 

Lee Joon POV

 

‘Joon. Temui aku sekarang.’

 

Kubaca pesan singkat itu kemudian kupercepat laju mobil yang kukendarai. Dari kejauhan tampak seorang yeoja yang lari tanpa memperhatikan jalan. Aku menginjak rem sesegera mungkin, sampai akhirnya mobilku berhenti tepat di depannya. Namun yeoja itu terjatuh.

Aku segera keluar dari mobil untuk memastikan keadaannya. Yeoja itu tidak tampak terluka, namun ia malah menatapku heran.

Kulihat beberapa pria berlari menuju kemari.

Dengan panik yeoja itu berkata, “Jebal.. Tolong aku.”

Tanpa pikir panjang kusuruh ia untuk naik ke dalam mobil.

 

_ _ _

“Di sini saja.” Ujar yeoja itu saat kutanya ingin turun di mana.

Kuhentikan mobilku di pinggir jalan dan yeoja itu segera turun.

Gamsahamnida.” ucapnya sambil tersenyum.

Yeoja bodoh, dengan gampangnya dia ikut mobil seseorang yang tidak ia kenal.

“Jangan terlalu mudah percaya pada orang.” Kataku singkat lalu kujalankan mobilku meninggalkan yeoja itu.

 

_ _ _

 

“Joon, kau datang juga.” Ucap Aboji saat melihatku memasuki ruangannya. Sesungguhnya dia bukanlah Ayah kandungku. Dia adalah orang yang memungutku dari jalanan dan menghidupiku hingga sekarang. Pria keji ini menghidupi beberapa anak yatim piatu dan anak terlantar dengan darah hasil pembunuhan. Dia telah lama bergelut di bidang ini. Pembunuh bayaran. Dia menerima permintaan untuk membunuh dari beberapa orang kaya. Dia melatih semua anak asuhannya sebagai pembunuh bayaran yang kejam seperti dirinya.

 

#FLASHBACK

Umurku baru 13 tahun saat itu. Aboji datang kepadaku dan memberiku sebilah pisau tajam.

“Joon, ikutlah. Kamu akan menjalankan tugas pertamamu.”

Sejak itu, kehidupan penuh darah ini dimulai.

_ _ _

Dengan nafas terengah-engah, kutusukkan pisau yang kupegang pada perut pria yang tak kukenal itu. Darah dari perutnya bermuncratan mengenai wajah dan badanku. Pria itu kemudian jatuh dengan pisau yang masih tertancap di perutnya.

“Well done, Joon. Let’s go from here.” Ucap Aboji yang kemudian keluar dari ruangan dengan hyungku yang lain.

Pandanganku tertuju pada sebuah lemari di ujung kamar. Kuhampiri lemari itu lalu kubuka kedua pintunya. Seorang gadis kecil menatapku dengan wajah ketakutan.

Sesaat kemudian terdengar suara sirene polisi. Aku segera pergi dari ruangan itu, meninggalkan gadis kecil yang masih duduk di lemari dengan wajah pucatnya.

 

#FLASHBACK END

Sejak kecil kami dilatih untuk membunuh. Aku telah dilatih memegang pistol sejak umur 10 tahun.

‘Remember Joon. We don’t have heart.’Ucapan Aboji itu selalu terngiang di benakku.

Dia selalu mengajariku untuk menghabisi lawan tanpa perasaan simpati dan kasihan.

 

“Joon. Kau ingat tugas pertamamu?” tanya Aboji padaku, lalu ia menyodorkan sebilah pisau, “Adik dari pria yang kau bunuh dulu kini memegang alih perusahaan-perusahaan mereka. Tugasmu, kill him.”

Kuambil pisau itu lalu beranjak pergi.

“Joon. Kau habisi dia malam ini. Jangan ada jejak.” Ucapnya lagi.

 

_ _ _

 

Kutatap pisau dalam genggamanku.

Sampai kapan akan begini?

 

#FLASHBACK

 

“Joon. Berhentilah melakukan ini.” Ucapnya sambil tersenyum lalu perlahan ia menutup mata.

Aku hanya bisa menatap darah segar yang mengalir dari tubuhnya.

 

#FLASHBACK END

 

Kubuka dompetku dan kulihat foto yang kusimpan di dalamnya, yeoja manis di sampingku. Yeoja itu anak kandung Aboji. Dua tahun lalu ia pergi meninggalkan kami akibat terbunuh oleh salah satu musuh Aboji.

 

#FLASHBACK

 

“Joon. Shoot him.” Pinta Aboji, menyuruhku untuk menembak hyungku yang mencoba mengkhianati kami.

Dengan ragu kuangkat pistol di tanganku, dan…

Hyung terjatuh. Peluruku tepat mengenai kepalanya.

Semuanya kini meninggalkan ruangan. Tinggal aku dan hyung yang telah terbujur kaku.

So Eun memasuki ruangan dan menghampiriku, “Joon..”

Ia kemudian memelukku.

“I don’t have heart…” Ucapku pelan.

So Eun lalu meraih tanganku dan meletakkannya tepat di jantungnya sehingga aku bisa merasakan degup jantungnya itu.

“Your heart is here. With me.” Katanya sambil tersenyum.

 

#FLASHBACK END

 

 

Author POV

 

-Lee Joon-

 

Jam menunjukkan pukul 03:00 pagi. Joon kini menyelinap di rumah salah seorang pengusaha kaya, Park. Rumah pertama yang dulu ia kunjungi saat melakukan tugasnya.

 

Joon masuk ke dalam kamar. Dilihatnya seorang pria paruh baya yang sedang tidur lelap.

 

Joon mendekati pria itu lalu mengeluarkan pisaunya, belum sempat ia menusukkan pisau itu, pria itu bangun membuat Joon kaget.

 

Pria itu mengambil pisau di balik bantalnya, dengan sigap ia mencoba menusuk Joon, namun Joon berusaha menghindar tetapi bahunya tergores cukup dalam. “Sesuai dugaanku, kalian akan kembali ke rumah ini.”

Darah mulai bercucuran dari bahu Joon.

“Siapa yang membayar kalian untuk ini semua?” tanya Pria itu.

Joon tidak menjawabnya malah menendang tangan pria itu sehingga pisaunya terjatuh, dan segera menikam pria itu tanpa ampun.

“To..long!” teriak pria itu terbata-bata.

Terdengar suara derap langkah kaki yang menuju ke kamar itu. Joon segera keluar dari jendela. Para pengawal sepertinya telah menyadari kehadirannya. Joon mencoba lari sekuat mungkin sambil menahan sakit di bahunya.

 

_ _ _

 

 

Lee Joon POV

 

Aku membuka mataku, kurasakan perih di bahuku. Kulihat sekeliling. Ini bukan ruangan yang kukenal. Aku segera bangkit dari tempatku berbaring sambil memegang bahuku yang masih sakit.

Tiba-tiba seorang yeoja membuka pintu. Sambil membawa secangkir minuman.

“Kamu sudah bangun?” tanyanya lalu menghampiriku, “Jangan sembarangan bergerak, jahitannya bisa terbuka.” Katanya sambil memperhatikan bahuku.

Kulihat bahuku kini terbalut perban dengan rapi.

Aku menoleh pada yeoja itu. Dia… yeoja kemarin.

“Kau..”

“Kamu ingat padaku?” katanya sambil tersenyum.

“Kau.. bagaimana aku bisa di sini..?”

“Aku menemukanmu tadi pagi di lorong tempat aku akan membuang sampah. Kulihat kamu terluka parah. Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu bisa terluka?” jelas yeoja itu.

Aku hanya diam.

“Minumlah. Lalu istirahat. Wajahmu terlihat pucat sekali. Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu.” katanya lalu pergi.

“Kenapa kamu menolongku?”

“Sebagai balas budi karena kamu telah menolongku.” Katanya sambil tersenyum, “Lagipula.. aku tidak mungkin membiarkan orang yang sedang terluka begitu saja.”

 

“Bodoh. Kau terlalu mudah percaya pada orang.”

Yeoja itu justru tertawa mendengar perkataanku.

“Menurutku, kamu bukan orang jahat. I think you’re a good guy.” Katanya sambil tersenyum.

“Kamu bahkan tidak tahu siapa aku.” Ucapku padanya.

So, what’s your name?” tanya yeoja itu, “Aku Jiyeon.”

“Joon. Lee Joon.” Jawabku singkat.

 

 

_ _ _

 

Jiyeon POV

 

Kutuangkan bubur yang baru kumasak ke dalam mangkok, lalu kuletakkan mangkok itu di nampan beserta segelas air putih.

Aku mengangkat nampan itu dan membawanya ke kamar. Namja itu, Joon, dia pasti lapar.

Namun saat kubuka pintu kamar, yang kulihat hanya jendela yang terbuka dang gorden yang tertiup angin. Kuletakkan nampan itu di atas meja, kemudian aku berjalan menghampiri jendela.

 

“Bagaimana ia bisa turun dari jendela? Ini kan lantai dua.”

 

Joon. Namja itu pergi dari jendela lantai dua apartemen ini, tanpa jejak.

 

 

DRRT..

 

Kurasakan vibrasi handphoneku. Layarnya menunjukkan nomor telepon rumahku. Pertama aku ragu untuk mengangkatnya, namun entah kenapa firasatku tidak enak.

“Yobosseyo.” Ucapku pada si penelepon.

“Nona.. pulanglah.” Terdengar suara yang tak asing.

“Asisten Kim? Ada apa?” tanyaku heran mendengar nada bicaranya yang berbeda.

“Tuan Besar.. terbunuh tadi malam.”

 

 

 

TO BE CONTINUED

 

Di comment yaa ^^

 

 

14 thoughts on “Destiny [part 2]

  1. cerita’a makin bikin penasaran nih XD
    sayang part yang ini pendek banget :( next chap lebih panjang terus tambh bikin penasran ya wkwk :)

  2. yaaaaah kok tbc?? padahal kan lagi seru2nya.
    penasaran, gimana reaksi jiyeon ya kalo tau joon ntu seorang pembunuh bayaran.
    pasti seru ne.

    lanjooooot…..

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s