Climb Up a Tree and Then Fallin Love with Me

Author : Wati

Main Cast : Kim Ryeowook (Super Junior), Song Sangin (OC)

Support Cast : Song Dongwoon (Beast)

Rating : PG-13

Genre : Romance

 

Ps : Fanfict ini aku buat dalam rangka ulang tahun temenku (Dhikae). Semoga fanfict ini cukup menghibur yaaaaa dan maaf kalo karyanya kurang memuaskan. Mian, lidermu ini masih amatir ke ke ^.^v Untuk reader yang lain happy reading ya, kritik dan saran selalu saya butuhkan J.

Disclaim : fanfict ini murni ideku, kalau ada kesamaan dengan fanfict yang lain itu murni kecelakaan.

 

Sangin POV

 

Aku baru saja pulang dari tempat kerjaku saat kulihat seekor kucing melintas tepat di depan kakiku. Aku mematung dan hanya bisa menatapnya dengan pandangan takut. Namun tidak sampai disitu, kucing tadi berhenti dan duduk. Ia mendongakkan kepalanya dan memperlihatkan mata kuning cerahnya. Ia mengeong dengan lembut ”Miaow”, namun eongannya terdengar bagaikan suara setan di telingaku. Disaat ia mengeong untuk yang kedua kalinya aku menatapnya histeris.

 

Kucing tadi hanya menatapku sambil menelengkan kepalanya, berusaha terlihat manis agar aku etrgerak untuk menggendongnya. Ia memajukan badannya dan berusaha untuk menggesekkan badannya di kakiku.Tetapi sebelum semua itu sempat terjadi, aku langsung berteriak histeris dan berlari masuk ke taman. Aku tak memperhatikan tindakanku sehngga tanpa sadar aku memanjat sebuah pohon yang berada di taman. Aku duduk di sebuah dahan yang cukup kuat dan melihat kucing itu duduk dii bawah pohon sambil mendongakkan kepalanya, melihatku untuk kesekian kalinya.

 

Aku yang sangat ketakutan hanya bisa menangis dalam diam. Karena kalau seperti ini keadaannya, aku tidak bisa segera pulang sampai ada orang yang menolongku. Aku melihat jam tanganku dan menyadari bahwa waktu sudah berjalan selama 2 jam sampai ada seseorang (yang aku tidak tahu namja atau yeoja karena ia memakai hoodie dan penerangan lampu taman yang remang-remang) yang menghampiri kucing tadi. Ya, kucing itu betah menungguiku sampai saat ini. Ia menggendong kucing tadi dan bermain dengannya.

 

Aku hanya bisa melihatnya dari atas. Aku tersihir oleh kelembutannya terhadap kucing tadi. Aku tersadar saat kucing yang berada di dalam gendongannya menatap ke arahku lagi. Aku segera meminta tolong kepada orang itu. ”Mmm, maaf. Apakah kau bisa menolongku?” Orang itu menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari suaraku. ”Maaf, tapi aku berada di atas.” Orang itu segera menoleh ke atas dan melihatku. ”Annyeong” aku melambaikan tanganku.

 

”Omo! Apa yang kau lakukan di atas sana?” Orang itu ternyata adalah seorang namja. Ia memperlihatkan tatapan bingungnya.

 

”Aku memanjat pohon ini karena kucing itu. Aku mempunyai trauma dengan kucing sehingga waktu kucing itu mendekatiku aku tanpa sadar memanjatt pohon ini.” ucapku dengan polosnya. Sementara itu namja tadi tertawa mendengar ceritaku.

 

”Hahaha, kau yeoja yangg lucu. Dimana-mana yang memanjat ke atas pohon adalah kucing, ini kenapa justru kau yang memanjat pohon?” namja tadi masih saja tertawa dengan gelinya. Aku hanya cemberut di atas pohon karena ditertawakan olehnya.

 

”Yak! Bukankah sekarang lebih baik kau menolongku?” aku berujar dari atas pohon. Namja tadi berhenti tertawa dan segera menurunkan kucing yang tadi.

 

”Arra arra, aku akan membantumu. Tapi bagaimana caranya?” tanya namja itu sambil menggaruk kepalanya. Aku juga bingung dengan jawabannya. Aku bis amemanjatt pohon ini karena tadi dalam keadaan terdesak, tapi bagaimana aku bisa turun?”Baiklah, bagaimana kalau kau melompat saja? Aku akan menangkapmu. Jangan ragu untuk melompat karena aku akan berada di bawah sini untuk menangkapmu. Percaya padaku.” ujarnya menemukan sebuah jalan agar aku bisa turun dari pohon ini.

 

Awalnya aku terbelalak karena ide gilanya tapi kata-kata terakhirnya membuatku langsung mempercayainya. Entah kenapa kata-kata itu bagaikan menyihirku dan tanpa aku sadari lagi, aku sudah berdiri di dahan pohon dan bersiap-siap untuk melompat turun. Aku melihatnya merentangkan kedua tangannya dan bersiap untuk menangkapku. Aku juga melihat sorot matanya yang meyakinkanku. Aku memejamkan mataku dan menenangkan hatiku. Aku segera melompat ke depan dan *bluk* aku telah berada di dekapannya. Aku membuka kedua mataku dan melihatnya tersenyum dengan sorot mata yang melembut. Sorot mata yang berbeda saat tadi meyakinkanku untuk melompat.

Aku sangat terpesona sampai-sampai belum turun dari gendongannya. ”Benar kan bahwa aku bisa menangkapmu.” Ia berkata seperti itu dan membuatku tersadar sehingga segera turun dari gendongannya. Ia lagi-lagi tersenyum dengan lembutnya.

 

”Nde, kamsahamnida…… mmm, mianhamnida aku tidak tahu namamu.” aku berujar kepadanya. Ia kemudian mengulurkan tangannya dan menyebutkan namanya.

 

” Kim Ryeowook imnida.” Aku menyambut uluran tangannya dan menjabat tangannya dengan mantap. Saat tangan kami saling bertautan, aku dapat merasakan sebuah perasaan yang aneh. Sebuah perasaan yang aku tidak tahu apa. Perasaan yang membuatku merasa seperti berada di rumah. Perasaan yang bisa membuat hatiku terasa hangat. ”Mianhamnida, kau…..” setelah cukup lama menjabat tangannya tanpa memperkenalkan diri ia bertanya kepadaku.

 

”Ah, mianhamnida. Song Sangin imnida. Kamsahamnida Ryeowook-ssi, Jeongmal kamsahamnida.” Aku membungkuk dan berbalik untuk segera pulang. Namun aku mengingat sesuatu dan segera kembali lagi ke hadapannya. Disaat ia menatapku bingung, aku segera menginjak kakiknya dengan hak high heelsku dan berkata ”Itu tadi untuk menertawakanku” Aku segera pergi dari tempat itu. Aku berhenti di pintu masuk taman dan berbalik lagi menghadapnya. ”Sekali lagi kamsahamnida!!! Dan untuk kucingnya, kau bawa pulang saja daripada ia terlantar.”

 

***

 

Aku sedang berada di meja kerjaku saat seseorang mengetuk kubikelku. Aku menoleh dan mendapati seorang namja membawa sebuah map. ”Kau? Kim Ryeowook-ssi? Apa yang kau lakukan di sini?” Aku membelalakkan mataku tak percaya akan ini semua. .

 

”Tak disangka kita bertemu lagi ya Song agaessi.” ucapnya sambil tersenyum.

 

”Kalian sudah saling mengenal ya? Baguslah kalau begitu.” Direktur Lee menghampiri kami berdua. Aku segera berdiri dan membungkuk ke arahnya. ”Dia akan menjadi partnermu Sangin-ssi. Dia adalah kameramen barumu, tapi sayangnya dia belum bisa turun ke lapangan saat ini karena kakinya sedang terluka.” Setelah direktur Lee berkata seperti itu aku langsung melihat kakinya yang diperban.

 

”Iya Sangin-ssi. Kemarin kakiku terinjak oleh seorang yeoja. Jadi mianhamnida Sangin-ssi, aku baru bisa ikut turun ke lapangan 3 hari lagi.” ucap Ryeowook yang membuat wajahku memerah seperti buah apel.

 

”Ah, jangan terlalu resmi. Kalian ini kan partner, jadi mulailah mengakrabkan diri. Memang kita harus sopan, tapi jika terlalu formal juga tidak nyaman bukan? Benar kan Sangin-ssi?” direktur Lee menepuk pundakku. Aku kembali bereaksi setelah tadi hanya bisa menahan malu.

 

”Nde, anda benar.” ucapku sambil mengangguk.

 

”Hm, baiklah. Kalian berdua bekerja yang rajin ya. Cepatlah akrab.” direktur menepuk pundak kami berdua. ”Sangin-ssi, kau harus bisa membimbingnya karena ia baru di kantor kita.” ia menepuk pundakku lagi. ”Dan Ryeowook-ssi, semoga kau betah berada di kantor kami.” ia menepuk pundak Ryeowook kemudian berjalan masuk ke ruangannya. Aku segera menghadap Ryeowook dan melihatnya tersenyum, sepert sedang menjahiliku.

 

”Kau…..” ucapku sambil memicingkan mata.

 

”Ya….. Aku?” dia berkata sambil memajukan badannya ke arahku. ”Senang bertemu denganmu lagi Sangin-ssi. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik.”

 

***

 

Sudah seminggu aku dan Ryeowook mulai bekerja. Aku sebagai reporter dan Ryeowook sebagai kameramennya. Hari ini aku dan dia diberikan tugas untuk ke pengadilan negeri dan meliput kasus korupsi yang melibatkan pemerintah negara. Aku dan beberapa reporter yang sedang menunggu selesainya persidangan segera berlari menuju pintu depan ruang sidang saat aparat kepolisian membukanya. Di depan pintu muncullah tersangka utama Tuan Choi. Aku dan Ryeowook langsung mendekatinya. Kami berdesak-desakkan dengan reporter dan kameramen yang lain.

 

”Tuan Choi, bagaimana dengan hasil sidangnya?”

 

”Tuan, bagaimana anda bisa terseret di dalam kasus ini?”

 

”Bagaimana dengan perasaan keluarga anda?”

 

Semua orang sibuk bertanya, kamera video sibuk meliput, dan blitz kamera terus saja berkedip seiring dengan pencetan shutter para fotografer. Aku yang sedang sibuk mengulurkan microphone ke arah Tuan Choi tidak menyadari adanya dorongan dari sebelah kiriku. Akupun oleng dan hampir saja jatuh namun seseorang di sebelahku berhasil menahan diriku sebelum terjatuh. Ia melingkarkan sebelah tangannya di pinggangku tetapi sebelah tangannya lagi masih sibuk meliput gambar.

 

”Gomawo” bisikku yang dibalas dengan anggukan olehnya. Aku lalu kembali berdiri tegak dan fokus bekerja lagi.

 

***

 

”Sangin, kau ada acara malam ini?” Aku menggeleng karena sedang sibuk menatap layar komputerku. ”Bagaimana kalau kita makan malam hari ini?” Aku mengangguk, masih sambil melihat layar komputerku. ”Baiklah, aku akan memasak untukmu. Kita akan makan malam di apartemenku.” Aku mendongak dan menatap Ryeowook yang tersenyum dengan tulus kepadaku. Aku  hanya bisa melongo saat ia menambahkan ”Pukul 7 ya, bersiap-siaplah dan berdandan yang cantik.”  Apa maksud dari perkataannya?

 

***

 

Aku dan Ryeowook sampai di apartemennya. Setelah tadi sebelumnya kami berbelanja bahan makanan di sebuah swalayan. Ia segera mulai memasak di dapur kecilnya. Aku dipersilakan olehnya untuk menunggu di ruang keluarganya. Aku melihat sekeliling ruang apartemennya. Sebagai seorang namja, ia adalah namja yang rapih. Tidak ada baju kotor bertebaran, perabotan yang bersih, dan apartemennya wangi. Tidak seperti namja lainnya yang biasanya berantakan dan berbau apak. Aku sedang duduk di sofa berwarna biru tua di tengah ruangan saat aku melihat bahwa di ujung sofa satunya ada buntalan bulu berwarna putih bercak hitam bermata kuning sedang menatapku. Aku hanya bisa berteriak karenanya. ”AAAAAA!!!!”

 

Ryeowook segera keluar dari dapur dan menghampiriku. Ia keluar dari dapur masih dengan menggunakan celemek berwarna pnk dengan motif hati dan bunga-bunga, ”Ada apa Sangin-ah?” tanya Ryeowook. Aku hanya bersembunyi dibalik punggungnya dan menunjuk buntalan bulu tadi. ”Ah, kau bertemu dengan Sangin ya?” Aku menatapnya bingung.

 

”Sangin?” aku menunjuk diriku lalu buntalan bulu tadi. Ia mengambil buntalan bulu tadi dan memangkunya. Aku hanya melihatnya dengan geli.

 

”Ne, dia adalah Sangin.” ucapnya polos sambil mengelus-elusnya. Aku membelalakkan mataku. Apa?! Ia memberikan namaku untuk seekor kucing? Oh, ralat! Seekor anak kucing sialan yang membuatku memanjat pohon dan ditertawakan oleh seorang namja yang tak lain dan tak bukan adalah DIA?!

 

”Apa?! Kau menamainya Sangin?!” Aku sudah menaikkan suaraku 2 oktaf. Namun jawabannya membuatku kembali membungkam mulutku.

 

”Ne, dia kuberi nama sesuai dengan namamu karena kau menyuruhku untuk memungutnya. Dan supaya aku bisa terus mengingat saat kita pertama kali bertemu.” Ia kemudian tersenyum tulus ke arahku. ”Ah, aku masih harus menyelesaikan masakanku. Sangin, kau jangan nakal dan menggangguu Sangin-ah ya. Nanti kau akan kuberi makan. Tunggu sebentar ya.” Ia kemudian mengecup kepala anak kucing tadi. Wajahku memerah menahan malu. Aku sangat malu karena ia menamai kucing itu dengan namaku. Bukannya aku tidak mau, tapi saat dia memanjakan kucing itu sambil memanggil namanya, rasanya seperti aku yang dimanja dan dipanggil olehnya.

 

Aku memilih untuk duduk di meja makan sambil memperhatikan Ryeowook memasak. Dia kelihatan begitu handal memasak. Tangannya sangat cekatan memotong bahan-bahan masakan. Ia menoleh ke arahku dan tersenyum manis. Aku sedikit tersipu karena perlakuannya. Tak berapa lama Ryeowook menaruh masakan yang sudah jadi ke meja makan. ”Mianhae karena terburu-buru aku hanya sempat memasak spaghetti saja yang tidak merepotkan.” Ia kemudian duduk di seberang meja makan sehingga kami sekarang duduk berhadapan.

 

”Ani, sungguh tidak apa-apa Ryeowook-ah. Bahkan diundang makan malam di apartemenmu saja sudah merepotkan.” ucapku.

 

”Ah, tidak merepotkan sama sekali. Justru aku sangat berterima kasih kau sudah mau datang ke apartemenku. Ayo silahkan dinikmati.” Kami akhirnya mulai makan sambil mengobrol ringan. Walaupun bukan candle lit dinner, tetapi aku sungguh menikmati acara ini. Dan rasa itu kembali muncul. Rasa hangat dan nyaman karena aku merasa seperti berada di rumah.

 

***

 

Ryeowook POV

 

Setelah selesai makan, aku segera membereskan meja makan. Sangin memaksa untuk membantuku mencuci piring, jadi saat dia mencuci piring aku memberi makan Sangin si kucing. Aku kembali memikirkan makan malam tadi. Sangin terlihat cantik dan menawan walaupun masih menggunakan seragam kerja, sama sepertiku. Ia terlihat senang meskipun kami tidak makan malam di restoran mewah. Ia bahkan memuji masakanku yang menurutnya lebih enak dari semua makanan yang pernah dimakannya. Aku hanya bisa tersipu saat dipuji seperti itu. Entah kenapa jika berada di dekatnya aku selalu merasa bahagia, serta tidak bisa menyembunyikan senyumku. Jadi saat mata kami bertemu, bibirku akan terangkat secara otomatis membentuk sebuah senyuman. Hatiku seperti tergelitik saat pertama kali bertemu dengannya. Bukan karena ia terjebak di atas pohon, tapi entah kenapa hatiku seperti disentuh oleh sebuah tangan yang membuatnya tergelitik namun juga memberikan rasa hangat.

 

Aku melihat Sangin sedang makan dengan lahap dari mangkuknya. Aku mengelus kepalanya ”Gomawo, karenamu aku bisa bertemu dengannya.” aku berkata seperti itu tepat disaat Sangin menghampiriku (yah, tidak terlalu dekat karena dia trauma dengan kucing).

 

”Ryeowook-ah, aku sudah selesai mencuci piring. Aku harus pulang sekarang karena nanti appa dan eomma mencariku.” Ucap Sangin sambil melepaskan celemekku yang tadi ia gunakan saat mencuci piring. Aku segera bangkit dan menghampirinya. Aku rasa aku harus mengatarkannya. Aku baru saja mengambil jaket di gantungannya ketika ponsel Sangin berbunyi dari dalam tasnya. Sangin merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Setelah itu ia menjawabnya.

 

”Yoboseyo oppa? …… nde, aku baru saja akan pulang …… oh, oppa akan menjemputku? …… oke, aku tunggu oppa di halte timur ya …. nde, aku akan berhati-hati anyyeong oppa.” Aku bukannya mencuri dengar pembicaraan Sangin dengan ’oppa’nya, tetapi karena kami hanya berdua….. oke, bertiga di apartemen ini (dengan Sangin kucing tentunya) maka dari itu suaranya terdengar cukup jelas. Aku tiba-tiba merasakan perasaan kosong di dadaku, seperti ada lubang di dalamnya. Bahkan tidak hanya perasaan kosong. Ada lagi perasaan lain yang menyusup. Perasaan seolah-olah lubang di dadaku menyerap paksa semua sisa energi di hatiku sehingga aku merasa lemah tak berdaya. Aku memegangi dadaku, merasakan sakit yang teramat sangat. Sangin berbalik ”Ah, tadi oppaku telpon. Katanya ia ingin menjemputku, jadi kau tidak usah mengatarku.” Ia kemudian melihat posisi tangaku dan wajahku ang seperti menahan sakit. ”Ryeowook-ah, gwaenchana?” Ia berjalan mendekatiku. Mengulurkan tangannya untuk memegang tempat lukaku.

 

”Ani, gwaencahana. Aku tadi hanya merasa sedikit sesak, tapi sekarang sudah sembuh kok. Ayo, kuantar kau sampai halte timur.” ucapku melepaskan genggamanku di dadaku, namun rasa sakit itu belum membaik. Sangin melihatku dengan pandangan simpati.

 

”Jangan, kau harus beristirahat agar cepat sembuh. Lagipula oppaku akan segera datang kurasa. Kau berbaring saja dan beristirahat.” ucapnya sambil mendudukanku di sofa. Rasa sakit itu menghilang dengan sendirinya. Aku tidak mengerti mengapa aku bereaksi seperti ini terhadap Sangin. Pertama kali bertemu dengannya aku merasa ada yang menggetarkan hatiku, pertemuan selanjutnya aku merasakan perasaan bahagia yang teramat sangat, dan saat ia memanggil namja lain dengan ’oppa’ aku merasa sedih dan dadaku sangat sakit. ”Baiklah, aku pamit ya Ryeowook-ah. Cepat sembuh, besok kita bertemu lagi. Annyeong” ia berkata sambil memakai high heelsnya. Ia kemudian tersenyum sangat manis dan melambaikan tangannya. Setelah ia keluar dari apartemenku, aku bukannya beristirahat. Aku segera mengambil jaketku yang tadi tidak jadi dipakai dan aku segera menyusul Sangin. Aku penasaran dengan ’oppa’nya.

 

Aku berlari menuju halte timur dan melihat Sangin sedang bersama ’oppa’nya. Aku semakin sedih karena Sangin terlihat dekat dengan ’oppa’nya. Ia bahkan sampai memeluk ’oppa’nya dengan erat saat menaiki boncengan motor milik ’oppa’nya. Aku menekan lagi dadaku yang mulai terasa sakit lagi. Aku merasa sesak dan sangat perih. Aku sudah bisa merasakan air mata yang mulai menggenang. Yang kutahu pasti, semua rasa sini berasal darinya. Aku telah jatuh cinta kepada Song Sangin dan sukses patah hati sebelum menyatakan perasaanku. Aku kalah sebelum berperang.

 

***

 

Aku tidak sanggup berhadapan dengan Sangin keesokan harinya. Aku bahkan berpikir untuk tidak masuk kerja karena hari ini aku harus bertugas bersama Sangin. Aku tidak sanggup lagi melihat ia menyebut ’oppa’nya lagi. Ya, mungkin aku akan dianggap banci jika seperti ini. Tapi memang beginilah aku, terlalu sentimentil jika mengenai perasaan. Aku berjalan dengan gontai ke kubikel Sangin. Aku melipat tanganku di atas kubikelnya dan menopangkan daguku di atasnya. ”Sangin-ah ayo kita bertugas.” ucapku dengan tidak semangat.

 

”Nde….” Sangin menjawab sambil melihat layar komputernya lalu meraih tasnya dan menatapku. ”Ryeowook-ah, kau kenapa? Matamu terlihat lelah dan wajahmu terlihat pucat. Apa kau masih sakit?” Sangin terlihat panik dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh mataku. Namun aku segera menepisnya sebelum itu terjadi. Aku pun terkejut dengan tindakanku. Sangin terlihat terkejut dengan perlakuanku. Ia membelalakkan matanya tidak percaya dan aku dapat melihat perasaan terluka di matanya. Aku langsung meminta maaf padanya.

 

”Mianhae, jeongmal mianhae. Aku hanya terlalu lelah.” ucapku padanya. Ya, aku terlalu lelah. Terlalu lelah dengannya. Dia sudah memasuki hatiku tanpa ijin dan berhasil mencurinya sedikit demi sedikit. Sangin menundukkan wajahnya, menghalangikuu untuk menatapnya.

 

”Gwaenchana. Aku ke toilet dulu ya. Kau tunggu saja di pintu depan Ryeowook-ssi.” ucapnya kemudian berlari membawa tas tangannya ke toilet. Aku kembali merasakan sakit itu saat ia memanggilku dengan ’Ryeowook-ssi’, tiodak seperti biasanya ’Ryeowook-ah’. Ia menrik diri dariku. Ia menggambar sebuah garis yang aku tahu bahwa aku tidak akan bisa melewatinya lagi. Aku tahu itu semua salahku. Ryeowook ppabo!!!!

 

***

 

Sangin POV

 

Aku terkejut saat Ryeowook tadi menepis tanganku. Aku merasakan sebuah penolakan yang sangat besar dari dirinya. Memangnya apa salahnya kalau aku mengkhawatirkannya? Mengkhawatirkan orang yang diam-diam sudah mengisi mimpi-mimpi malamku? Aku menangis di dalam bilik kamar mandi dan tidak berani keluar. Aku menumpahkan semua air mataku hingga tuntas. Aku tidak ingin membawa perasaan pribadi ke dalam pekerjaan. Aku harus professional, jadi aku kembali bangkit dan merapikan make-upku lalu langsung bergegas menyelesaikan tugasku. Namun baru saja melihat wajahnya, aku kembali merasakan air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku berusaha menahannya. Ayo semangat Sangin! Hanya sampai tugas lapangan berakhir dan kau bisa jauh darinya.

 

Ponselku bergetar dan aku segera mengangkatnya. ”Yobosaeyo? Oppa?” ternyata yang menelpon adalah oppaku. ”Nde…. aku sedang menuju lokasi peliputan…. nde, aku tidak akan lupa makan…. nde, aku akan segera pulang…. oke, anyyeong oppa. Jaga dirimu juga” aku mengakhiri pembicaraan singkat kami. Aku menoleh ke arah Ryeowook untuk segera mengajaknya berangkat ke lokasi peliputan. Namun setelah aku ditelpon oleh oppaku, aku melihat ekspresi wajahnya menjadi gelap dan terlihat sorot kesedihan di matanya. Ia kemudian berjalan mendahuluiku ke mobil sebelum aku sempat mengajaknya.

 

***

 

Saat aku sampai di rumah aku menemukan sebuah note yang ditempel di kulkas.

 

’Dongwoon, Sangin

 Appa dan eomma pergi ke Busan selama 3 hari

 karena ada urusan bisnis

 kalian jangan lupa makan dan saling menjaga ya

 -appa&eomma-’

 

Aku hanya mendesah karena memang beginilah keluargaku. Aku dan oppa terbiasa ditinggal oleh appa dan eomma karena tuntutan pekerjaan. Tapi jangan kira hubungan kami tidak sedekat keluarga lain, justru kami sangat dekat satu sama lain. Seperti contohnya oppaku yang walaupun jahil tapi sangat menjagaku. Aku sedang merilekskan diri di sofa saat oppa turun dari lantai 2. Ia melihatku dan ikut duduk di sebelahku. Aku menatapnya sambil lalu. Ia kemudian mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk yang terdapat di lehernya. Ternyata ia baru selesai mandi.

 

”Bagaimana harimu?” oppa bertanya kepadaku.

 

”Hm hm” aku hanya menjawab dengan gumaman sambl mengangguk. Oppa langsung menengok ke arahku dengan tatapan bertanya.

 

”Apanya yang ’hm hm’?” aku menoleh ke arah oppa yang sekarang sudah duduk menghadapku. Aku melihat ekspresi khawatirnya dan entah kenapa air mataku jatuh. Aku menangis sementara oppa kebingungan. ”Yak! Sangin-ah! Wae gurae?” oppa terus bertanya sementara aku terus menangis. Aku memeluk oppa dan meminta dukungannya. Ia mengertii bahwa aku sedang butuh dukungan, bukan pertanyaan. Jadi dia mengusap punggungku dengan penuh perasaan, membiarkanku menuntaskan dulu semua air mataku. ”Kau boleh saja menangis tapi nanti cerita pada oppa ya….” ucapnya masih sambil menusap punggungku.

 

***

 

Setelah tangisku mereda, aku langsung menceritakan semuanya pada oppa. Pertemuan pertama kami, undangan makan malamnya, Sangin si kucing, bahkan sampai perlakuannya tadi yang membuatnya terluka. Oppa hanya mengangguk-angguk dan serius mendengarkan ceritaku.

 

”Kurasa namja bernama Ryeowook ini sudah berhasil membuatmu jatuh cinta ya?” Aku menatap oppa dan hanya bisa membenarkan ucapannya.

 

”Nde, hanya dia yang bisa membuatku merasakan perasaan ini. Apa yang harus kuperbuat oppa? Ottokhae?” Aku menatap oppa bingung. Ia juga tampak berpikir keras.

 

”Mollayo~” ucapnya yang sukses membuatku kesal. Lalu aku melempar bantal yang berada di sofa dengan sekuat tenaga ke wajahnya. Lemparanku telak mengenai wajahnya. ”Appheu….” rintihnya sambil memegangi hidungnya.

 

”Rasakan. Mehrong~” ucapku kemudian meninggalkan oppa ke lantai 2.

 

”Baiklah akan oppa bantu agar kau bisa berbaikan lagi dengannya.” ucap oppa dari lantai bawah.

 

”Terserahmu sajalah oppa” aku balas meneriakinya dari dalam kamar. Paling tidak hatiku sudah terasa lebih enteng.

 

***

 

Hubunganku dan Ryeowook belum membaik. Kami justru semakin menjauh seolah-olah ada dinding pembatas tak nampak di antara kami. Tidak ada lagi panggilan akrab diantara kami, yang ada hanyalah panggilan formal sesama rekan kerja. Motto perusahaan kami yang menjunjung tinggi ’kekeluargaan’ seolah tidak mempengaruhi interaksi kami. Aku semakin sedih dengan ini semua, tidak ada lagi penyemangatku untuk pergi bekerja. Biasanya aku sangat bersemangat karena di kantor aku akan bertemu dengan Ryeowook, namun semuanya telah berubah. Tanpa aku sadari, aku bahkan merindukan Sangin si kucing. Ya, aku. Yang trauma dengan kucing kini merindukannya? Kurasa aku merindukannya karena ia adalah malaikat yang mempertemukan kami berdua. Aku sungguh merindukan ’kami’ yang dulu. Hatiku terasa hampa tanpa kehadiran dirinya.

 

***

 

Ryeowook POV

 

Aku sedang bermain dengan Sangin di dapur. ”Sangin, apakah kau tahu bahwa aku merindukanmu? Aku sangat ingin berbicara dengan normal lagi seperti dulu. Aku tahu aku yang salah, tapi…… aku menyesalinya. Aku sungguh-sungguh tidak bermaksud seperti itu.” Aku berbicara dengan Sangin seolah-olah dia adalah Sangin yang asli. Aku terlalu sibuk dengan acara mangungkapkan perasaanku sampai tidak menyadari kealpaanku.

 

”Kalau kau adalah seorang namja sejati, bicaralah di depannya. Jangan pendam semuanya. Kau harus bisa berterus terang dengan perasaanmu.” Aku menoleh dan mendapatii seorang namja di dalam apartemenku.

 

”Kau siapa? Apa yang kau lakukan di dalam apartemenku? Bagaimana kau bisa masuk ke sini?” Aku memberondongnya dengan pertanyaan.

 

Ia mendengus ”Aku Song Dongwoon, oppanya Sangin. Jadi, Sangin-ku jatuh cinta kepada namja sepertimu ya? Namja pengecut yang tidak berai berhadapan langsung dengannya?” ia kemudian menunjuk pintu apartemenku. ”Dan lain kali jangan ceroboh dengan meninggalkan pintu apartemenmu terbuka lebar. Aku bisa masuk karena pintu apartemenmu tidak tertutup namja ppabo.” ucapnya kembali menyudutkanku. Aku yang terdorong emosi segera mendorongnya ke dinding dapur. Aku terlalu emosi setelah mendengar ia memanggil Sangin dengan ’Sangin-ku’. Jadi dia adalah ’oppa’nya Sangin?

 

”Jadi kau oppanya? Jadi kau yang ia sayangi sepenuh hati? Bukan aku yang bahkan sudah kalah sebelum berperang?” aku masihh menahannya dengan kurungan tanganku.

 

”Ya, aku adalah oppanya yang dia sayangi. Aku adalah oppanya yang juga menyayanginya, bukan kau yang hanya bisa menyembunyikan perasaanmu. Heh, kenapa Sangin bisa jatuh cinta kepada namja payah sepertimu ya? Aku tak mengerti jalan pikirannya.” Aku tak kuat lagi menahan emosiku. Aku memukul wajahnya hingga sudut bibir dari ’oppa’nya Sangin mengeluarkan darah. Ia hanya terkekeh pelan setelah kupukul wajahnya. ”Heh, lain kali coba dulu kau maju berperang walaupun hanya bermodal sebilah kapak. Siapa tahu kaulah yang akan memenangi peperangan itu, bukan lawanmu yang menggunakan sebuah revolver.” ucapnya lalu pergi dari apartemenku.

 

Aku merosot ke lantai dan mencerna perkataannya. Aku berpikir semalaman sampai tidak bisa tidur. Aku hanya memikirkan satu  hal. Apakah aku pantas mencoba untuk berperang?

 

***

 

Sangin POV

 

Aku sedang menonton televisi saat oppa pulang dengan lebam di wajah bagian kanannya. ”Oppa! Apa yang terjadi?” aku mendekatinya yang sedang mengambil es batu di lemari es. ”Oppa, kau kenapa?” aku menyentuh lukanya dan ia hanya meringis.

 

”Gwaenchana Sangin-ah, tadi oppa hanya membantumu dengan namja ppabo itu.” ucap oppa yang membuatku mengerutkan keningku bingung. Aku langsung mengerti arah pembicaraan oppa.

 

”Maksud oppa Ryeowook? Apa yang oppa lakukan hingga kau dipukul olehnya? Apa kalian bertengkar?”

 

”Hanya pembicaraan sesama namja, Sangin-ah. Sudahlah kau tak perlu khawatir denganku. Kau justru akan berterima kasih kepadaku. Sekarang oppa ke kamar dulu ya.” ucap oppa kemudian ia berdiri dan menepuk puncak kepalaku sebelum naik ke lantai 2 dan masuk ke kamarnya.

”Oppa!! Jelaskan padaku!” teriakku.

 

”Jangan lupa berterima kasih kepadaku!!” jawaban oppa justru membuatku bingung.

 

***

 

Esok harinya aku yang tidak terima dengan perlakuan Ryeowook kepada oppa segera menghampirinnya di ruang edit. Aku memasuki ruangan yang sedang kosong itu. Aku menggebrak mejanya dengan penuh emosi. ”Ryeowook-ssi, apa yang kau lakukan terhadap oppaku?” Ia memalingkan wajahnya ke arahku. Matanya terkejut melihatku. ”Apa yang kau lakukan, hah? Kau melukai oppaku?” Aku semakin emosi dengan aksi diamnya.

 

”Aku….. aku tak bisa menjelaskannya Sangin-ah.” ucapnya sambil memperhatikan layar televisi yang menampakkan sebuah video peliputan kami.

 

”Apanya yang tak bisa dijelaskan?” Aku memaksanya untuk berbicara, ”Kau telah melukai oppaku tanpa alasan Ryeowook-ssi!! Aku bisa melaporkanmu jika aku mau, tapi oppaku justru membiarkannya begitu saja. Ia justru menyuruhku berterima kasih kepadanya! Apa yang terjadi diantara kalian berdua?” Aku menggaruk kepalaku dengan frustasi. Ryeowook tiba-tiba berdiri dari kursinya. Ia meraih tanganku dan meletakkannya di dadanya.

 

”Ini yang tak bisa kujelaskan.” Aku merasakan jantungnya berdebar begitu cepat, bagaikan ada seekor kuda….. tidak, sepuluh ekor kuda berlarian di dalamnya. ”Debaran ini yang tak bisa kujelaskan. Aku selalu seperti ini jika berada di dekatmu.” Aku juga melakukan gerakan yang sama terhadapnya. Kuraih tangannya dan kuletakkan tepat dimana debaran jantungku juga terasa.

 

”Aku juga merasakan hal yang sama. Aku selalu seperti ini jika bersamamu.” Aku melihat wajahnya terkejut. Ia kemudian menarik tangannya dan melepas tanganku dari dadanya. Ia kemudian menggeleng-geleng.

 

”Tidak, ini salah Sangin-ah. Ini salah. Aku tidakk bisa membiarkan ini berlnjut walaupun kau juga memiliki debaran yang sama denganku.” Aku menatapnya bingung.

 

”Wae? Apa yang salah? Tidak ada yang salah kan Ryeowook-ah?”

 

”Ini semua salah Sangin-ah. Aku memukul oppamu karena aku cemburu dengannya. Aku cemburu karena dia bisa berssama denganmu sementara aku tidak akan mungkin bisa.”

 

”Mengapa tidak bisa? Memang benar oppa bisa bersama terus denganku, tapi jika oppa atau aku sudah menikah dengan pasangan masing-masing nanti kami akan berpisah juga.”

 

”Apa? Kau atau oppamu menikah dengan pasangan masing-masing?”

 

”Iya, aku tidak mungkin selamanya bersama oppa saat dia sudah memiliki keluarga kan? Atau tidak mungkin aku meninggalkan keluargaku demi oppaku kan?”

 

”Tunggu, yang kau maksud dengan ’oppa’ adalah oppa? Bukan namjachingumu?” Wajah Ryeowook sekarang terlihat cerah. ”Jadi…. jadi aku…..”

 

”Nde? Jadi kau bisa apa, oppa?” Aku menggodanya dengan memanggilnya ’oppa’.

 

”Jadi aku bisa melakukan ini…..” ucapannya terputus karena ia menciumku saat itu juga. Ia menempelkan bibirnya dengan lembut di atas bibirku, memagutnya dengan penuh cinta. Ia terus melakukannya tanpa henti dan membiarkan aku juga ikut larut dalam euphorianya. Aku mengaitkan kedua tanganku di lehernya sementara ia memeluk pinggangku. Kami tenggelam dalam ciuman yang memabukkan itu, tak ingin membiarkan semua waktu yang terlewat tersia-siakan.

 

Ia melepas ciumannya. ”Bagaimana ini? Apakah oppamu akan marah padaku? Aku telah memukulnya dengan seenaknya” ucap Ryeowook-ah ditengah-tengah buruan napasnya. Aku menyentuhkan jari telunjukku di bibirnya dan mengusapnya lembut. Aku tersenyum dan menatap matanya.

 

”Dia tidak akan marah. Dia hanya butuh terima kasih dari kita berdua.” Aku menjawabnya laluu Ryeowook kembali mencium bibirku lembut. Aku merasakan ia tertawa disela-sela ciumannya. Ia kemudian melepaskan ciumannya lagi.

 

”Kurasa kau telah menemukan sebuah cara yang tak akan terpikirkan oleh orang lain untuk membuatku jatuh cinta.”

 

”Oh ya? Apa itu oppa?” tanyaku dengan sedikit menelengkan kepalaku ke kanan.

 

”Panjatlah sebuah pohon lalu jatuh cintalah kepadaku.” Kami tertawa kecil mengenang kejadian itu. Ia kemudian tersenyum lagi, menatapku lama dan kembali mendekatkan wajahnya ke wajahku. ”Jeongmal jeongmal saranghae.”

 

”Na do saranghae.” Aku kemudian memberikan sebuah kecupan kilat di bibirnya dan melepaskan tautan tanganku dari lehernya. ”Sekarang ayo kita berterima kasih pada oppa.” aku kemudian mengulurkan tanganku yang segera disambut olehnya.

 

Fin

 

 

Note: Aaaaaaa akhirnya selesai juga ff kilat ini. Maaf kalo ada typosnya, maaf kalo ceritanya gaje, maaf kalo reader kurang puas hehehe banyak maafnya dulu ya. Abis itu makasih yang udah baca, kalo pake komen makasih banyak, kalo pake ngelike makasih banyak banyak, pokoknya makasih banget udah mengapresiasi karya saya. Buat birthday girl Dhikae, mianhae ya lider ga bisa berbuat banyak hehe, semoga puas J. Pokoknya terima kasih banyak semuanyaaaaaaaa :D

18 thoughts on “Climb Up a Tree and Then Fallin Love with Me

  1. Kyaaaaa lider
    thanks ya…
    Ffnyaaaaa kereeeeen xD
    i’m first kah? Huehehe xD
    makasih ya liderku hahaha xD
    aaaaaaaaaaaaaaaaaa enyeeeeeee

  2. @dhikae maaf ya kadonya cuma ini hehe :) iya kamu first. Makasih udah apresiasi karya lider :D seperti biasa, enye udah jadi trademark leder hehe :* cupcupmuahmuah
    @hilma haha boleh boleh dipersilahkan manjat pohon, nanti aku panggilin kyu deh hehe gomawo udah baca dan komen ya :D

  3. @dhikae maaf ya kadonya cuma ini hehe :) iya kamu first. Makasih udah apresiasi karya lider :D seperti biasa, enye udah jadi trademark lider hehe :* cupcupmuahmuah
    @hilma haha boleh boleh dipersilahkan manjat pohon, nanti aku panggilin kyu deh hehe gomawo udah baca dan komen ya :D

  4. Sukkaaaaaaa^^
    bgus bgt ff’y,, aku suka wktu adegan Wookie mltkkn tgn Sangin di dada’y.. Romantisss, hhe

    • aw gomawo ya udah baca dan suka ffku. ehehehe ffku emang rata-rata enye menye begini sih. Sekali lagi gomawo :)

  5. dewee~
    kawin yok? soale wookie udah ama sangin, gw patah jantung neh!#plaak

    ide ceritanya keren! suka deh cerita kayak gini! co cwit!
    kisseunya hot! #plaak

    • ahahaha gomawo ya udah baca dan suka ffku :) ah, itu kisseunya masih normal. ada yang lebih parah lagi LOL gomawo sekali lagi

  6. aku mau tu manjat pohon trus di tolong ama Woonwoon XD abis tu diajakin kawin ^^ *dreaming
    kkekekeke..
    ah si wookie masa segitu pabbonya si? ;D
    hehhey..

    nice FF chingu !! :D
    lanjutkaaaan!!!

    • gomawo udah baca ffku ya chingu :) yah, wookie kan kadang suka ngadat emang, perlu dipoles dikit (lho?) hah? lanjutkan apanya? sampai sini aja ya udah haha. Tunggu ff lainnya aja dari aku hehe

  7. waaaaaaah so sweet….
    senengnya. tadi sempet ikut sebel ma ryeowook, bisnya dia gak jujur ma prasaannya sendiri si. masa mundur sebelum berjuang?*saking menghayati jalan cerita. hehehe ^^.

    pokoknya kereeen deh, karna bisa bikin terbawa suasana. ^^,

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s