Gobaekhamnida [PRLOGUE]


Author: @syororo

Main Cast:

Lee Jonghyun (CNBLUE Guitarist)

Yoon Eunchae

Rating: PG-15 (untuk saat ini dan akan meningkat seiring part^^)

Genre: Romance

Ps:

Annyeong ^^ *bow* . Ini pertama kalinya aku memberanikan diri untuk nge-publish FF aku. Para reader yang budiman, kalau baca FF saya mohon kripik dan sarannya ya. Kalau banyak dapet dukungan dan motivasi kalian, tentunya FF ini akan aku lanjutkan ^^. Gomawo buat yang sudah mau baca. Kalau kalian ngerasa ini FF mirip atau jiplakan silahkan mention saya via twitter @syororo karena 100% ini murni alurnya dari otak saya walaupun untuk editingnya saya masih dibantu oleh rekan saya. Terima Kasih.

Disclaimer:

Di fanfiction ini aku pakai castnya Lee Jonghyun (gitarisnya CNBLUE). Nah, kalau itu yang pasti bukan milik author. Tapi main cast wanitanya yaitu Yoon Eunchae 100% murni ciptaan saya beserta support castnya. Untuk judul FF ini dan alur ceritanya, saya terinspirasi dari sedikit pengalaman pribadi dan lagunya FT Island dengan judul yang sama yaitu “Gobaekhamnida”.

Kekkekeekkke…mianhae…langsung aja dinikmati(?) FF karya saya. Tadaaaaaa

—————————————————————————————————————-

 

Seoul, 10.00 KST, Kediaman Keluarga Yoon

Author POV

MWO?,” serunya kaget.

“Aku harus memenuhi persyaratan itu supaya aku dapat menjadi pewaris abeoji?,” matanya terbelalak setelah mendengar surat wasiat dari ayahnya yang telah dibacakan oleh pengacara keluarganya. Ya, Ayahnya meninggal karena serangan jantung sekitar tiga minggu yang lalu.

Ne. Anda harus memenuhi persyaratan tersebut supaya anda dapat menjadi pewaris Yoon Sajangnim,” jawab pengacara tersebut sambil memasukkan surat wasiat itu kedalam amplopnya.

“Lalu, jika aku tidak memenuhinya maka seluruh harta keluargaku akan diberikan kepada Panti Asuhan dan Panti Jompo, begitu?,” tanyanya pada pengacara itu.

“Anda benar dan ingat, anda hanya diberikan waktu satu minggu untuk memikirkan hal tersebut, Nona. Dan saya yakin anda akan memberikan jawaban yang bijaksana,” pengacara tersebut tersenyum lembut. Setelah itu dia berdiri dan menundukkan kepalanya sedikit sebelum akhirnya keluar dari rumah tersebut.

Gadis itu berjalan menuju ruangan yang berada di pojok di lantai yang paling bawah dekat perapian. Dia berjalan dengan lemah sambil memikirkan isi surat wasiat yang telah dibacakan oleh pengacara keluarganya. Otaknya berputar-putar memikirkan seandainya pilihan pertama yang dia ambil serta akibat baik dan buruknya. Dia juga memikirkan hal yang terjadi jika pilihan kedua yang diambilnya. Dan disinilah dia berada. Di sudut ruangan. Di depan perapian.

Dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke sudut ruangan satunya, dimana photo ayahnya terpampang. Dia memandang lelaki yang ada dalam figura tersebut. Figura yang sangat mewah. Terpampang wajah Yoon Seungho, ayahnya, sedang tersenyum lembut memandang kearah depan. Dia hanya terdiam, tangannya mengepal hingga kukunya nyaris menusuk telapak tangannya yang pucat. Wajahnya memerah menahan tangisan. Namun sekuat apapun dia menahan air matanya, cairan bening itu jatuh juga. Dan seketika itu juga dia terduduk lemas di depan foto abeojinya.

“YA! Abeoji! Aku membencimu. Sangat membencimu. Abeoji pernah berjanji tidak akan meninggalkanku sendiri. Tapi kenapa Abeoji meninggalkanku sendirian sekarang?” jeritnya sambil terus menahan isakan tangisnya.

“Neo…. Kenapa kau memberikan aku pilihan yang sulit setelah kau meninggalkanku? Neomu apho… Hatiku sangat sakit, abeoji!” Tangannya memegangi dadanya dan kemudian dia menangis kembali dan menghentak-hentakkan tangannya ke lantai. Seketika tubuhnya terasa lemas. Matanya berkunang-kunang. Dan yang terakhir dilihatnya hanyalah teriakan para pelayannya.

***

“Eunchae-ya… duduklah disini. Abeoji merindukanmu,” Eunchae membalikkan badannya. Dia melihat ayahnya sedang berdiri tak jauh darinya. Sangat tampan dengan baju putih yang dikenakannya. Seketika senyumnya mengembang.

“Abeoji….” dia berlari dan memeluk lelaki itu dengan erat. Dalam hatinya ada sejuta pertanyaan yang dia ingin tanyakan kepada lelaki itu.

“Eunchae-ya.. Abeoji sangat menyayangimu. Lakukanlah hal yang terbaik untuk dirimu dan masa depanmu,” lelaki itu berbicara padanya dengan lembut dan memeluknya sambil mengusap-usap kepalanya gadis itu.

“Abeoji.. Neo… Kenapa kau memberikanku pilihan seperti itu? Kenapa kau meninggalkanku?,” tanyanya sambil menatap kedua mata ayahnya.

“Abeoji tidak pernah meninggalkanmu karena abeoji akan selalu ada di hatimu. Jika kau menggunakan hati kecilmu, maka semua keputusan yang kau ambil dan kau lakukan akan menjadi mudah. Abeoji hanya ingin melihatmu bahagia, Eunchae-ya,” lelaki itu kemudian melepas pelukannya kemudian berdiri dan perlahan berjalan menjauh.

“Abeoji… Abeoji…. Bawa saja aku bersamamu…. ABEOJIII!!!!,” Dia berteriak sekencang-kencangnya. Dia ingin mengejar lelaki itu tapi entah mengapa kakinya tertahan dan tidak dapat digerakkan. Dia melihat ayahnya perlahan-lahan menghilang dan sebuah sinar putih muncul menyilaukan matanya.

“ABEOJIIIIIII!!!!!,” teriaknya dan nafasnya tersengal-sengal. Seketika itu juga dia tersentak bangun.

“Nona, gwenchana? Syukurlah jika Nona sudah sadar,” seorang wanita paruh baya yang berdiri di sebelahnya sambil mengusap kepala gadis itu.

“Ajumma,” dia menangis dan memeluk wanita yang berada di sebelahnya.

“Nona, Jaljinaeseosseo?” tanya wanita itu padanya dan mengelus-elus puncak kepala gadis yang dipeluknya.

“Ajumma, eotteokhae? Aku benar-benar tidak punya keluarga sekarang dan apa yang harus kulakukan? Haruskah aku melakukan hal itu? Aku tidak mau melakukannya, Ajumma…” isaknya dan mempererat pelukannya kepada wanita itu.

“Nona masih punya saya. Saya mengenal nona dari nona lahir. Nona tidak sendirian,” jawab wanita itu sambil mengusap kepala gadis itu dan menenangkannya.

“Ajumma… Apa yang harus aku pilih? Aku sangat bingung. Aku juga tidak mau kehilanganmu dan juga semua orang yang ada disini yang selalu membantuku dan menemaniku,” ujarnya sambil melepaskan pelukannya dan memandang pelayan-pelayannya yang menatap iba padanya.

“Nona, Anda sudah dewasa. Sudah saatnya Anda menentukan jalan kehidupan Anda. Pilihan Anda adalah masa depan Anda. Yoon Sajangnim juga memberikan pilhan itu agar Anda dapat memilih jalan kehidupan Anda. Entah Anda akan bertahan menjadi penerus dan pewaris keluarga Yoon atau melepaskannya. Itu semua pilihan Anda, Nona,” jawab wanita itu sambil menatap mata gadis itu lekat-lekat.

“Ne. Ajumma bisakah kau dan yang lainnya keluar dari kamarku. Aku ingin berpikir dan menenangkan pikiranku sejenak,” pintanya kepada wanita itu. Dan wanita yang dipanggil ajumma itu menundukkan kepalanya sedikit sebelum akhirnya keluar diikuti oleh pelayan-pelayan yang lain.

Gadis itu berbaring dan memeluk boneka kelincinya dengan erat. Dia menatap langit-langit kamarnya yang terlukis replika awan-awan putih dengan langit berwarna biru muda. Hatinya sangat damai melihat langit-langit kamar itu. Rasanya ingin terbang dan menyentuh langit-langit itu. Tapi, tiba-tiba saja pikirannya mengenai surat wasiat ayahnya dan pilihan yang diberikan padanya itu datang kembali. Dia kembali berpikir tentang pilihan mana yang harus dia ambil, pilhan pertama atau pilihan kedua? Pilihan yang sulit baginya. Pilihan yang menentukan masa depannya. Bukan. Bukan masa depannya saja, tetapi masa depan perusahaannya dan  masa depan 10000 karyawan yang bekerja pada Yoon Group.

“Aigoo.. Coba seandainya aku memilih kuliah di jurusan manajemen atau administrasi bisnis. Mungkin tak begini jadinya. Kenapa waktu itu aku masih keras kepala memilih jurusan desain produksi?,” sesalnya sambil menatap langit-langit kamarnya.

***

Seoul, 10.00 KST, Incheon Airport

“Yeobosseo… Abeoji… aku sudah sampai di Korea. Iya aku masih berada di Incheon. Tunggulah aku di rumah. Ne.. sampaikan salamku pada Ibu,” KLIK. Dia menutup flip ponselnya.

Dia berjalan membawa tas kopernya dan menyandang sebuah tas yang berisi gitar. Rambutnya ikal dan sedikit kriting. Kulitnya putih, matanya tajam dan bibirnya tipis berwana kemerahan dihiasi lesung pipi dikedua pipinya yang mulus dan bersih. Pakaiannya sangat kelihatan tidak stylist untuk ukuran anak muda Korea jaman sekarang. Tetapi, tetap saja dia menjadi pusat perhatian gadis-gadis dan wanita yang berada di bandara Incheon saat itu. Mungkin karena wajahnya yang cukup terlihat tampan. Dia berdiri di dekat pintu keluar bandara dan menunggu bus sebentar. Di dalam bus, dia memasang Ipod nya dan mendengarkan lagu dari earphonenya. Dia memejamkan matanya namun di dalam hatinya ada sesuatu yang mengganjal.

“Sebenarnya ada apa sih abeoji cepat-cepat menyuruhku pulang ke Korea? Padahal aku sangat menyukai bekerja di Prancis. Aku ini orang yang beruntung, begitu lulus dari MBA (Master Business Administration) Oxford aku tidak perlu susah-susah mencari pekerjaan. Perusahaan sekelas Che^ron bahkan melamarku. Kalau begini aku kan jadi meminta izin untuk cuti,” gerutunya pelan.

Tak lama kemudian dia sudah turun dari bus dan berjalan menuju sebuah rumah yang sangat sederhana. Dia membuka pagar rumah bercat krem tersebut. Rumah ini masih sama seperti terakhir kali dia meninggalkannya. Bunga chrysantemum yang ditanam ibunya juga masih tetap terawat rapi.

“Hyun-ah, kau sudah datang? Ibu merindukanmu… CHAGIYA!! Jagoanmu sudah pulang ayo cepat kemarilah. Hyun-ah, ayo sini duduklah badanmu pasti pegal sekali,” Ibunya berteriak memanggil ayahnya dan menarik Jonghyun masuk lalu mendudukkannya dan memijat bahu Jonghyun.

“Eomma, mana abeoji? aku ingin bertemu dengannya,” tanyanya

“AIGOO! Jagoan abeoji sudah pulang!,” sambut abeojinya dari belakang dengan girang dan kemudian memeluknya dengan erat.

“OMO!!! Adikku sayang! Kau sudah pulang? Ahhh… Noona merindukanmu,” tiba-tiba seorang wanita muda yang hanya berbeda dua tahun darinya memeluknya dan menciumnya.

“AISHH! Mwo haneungoeyo? Jangan perlakukan aku begitu. Aku ini sudah dewasa. Dan kau, Nuna,” teriaknya melepaskan pelukan Nunanya dan menunjukkan jari telunjuknya kearah Nunanya “Kau kan sudah menikah. Masa kau masih suka mencium adikmu? Kau kan sudah punya suami yang bisa kau cium!,” teriaknya.

“Sudah, sudah… Kau jangan ganggu adikmu terus. Dia baru saja sampai. Biarkan dia istirahat dulu. Ayo kita duduk… uri Hyun baru saja pulang,” sahut abeojinya sambil menyuruh mereka semua duduk.

“Abeoji… ada yang ingin aku tanyakan. Aku sangat penasaran, aku tak peduli dengan badanku yang pegal ini. Sebelum aku ke kamarku, aku ingin tahu apa alasan Abeoji memaksaku pulang ke Korea?,” tanyanya kepada abeojinya. Pertanyaan inilah yang terus menghantuinya. Jangan bilang kalau alasan dia disuruh pulang kembali ke Korea hanya karena Abeoji, Eomma dan Nunanya merindukannya.

“Umm… ada berita duka, Hyun-ah. Yoon Sajangnim meninggal dunia tiga minggu yang lalu,” jawab abeojinya.

“MWO? Yoon Sajangnim meninggal dunia? AIGOO! Aku begitu sibuk sehingga tidak membaca berita seperti ini. Jeongmal Mianhaeyo. Aku masih tidak bisa percaya. Sebulan yang lalu Yoon Sajangnim masih mengirimkanku post card,” dia tertunduk lemas setelah mendengar berita kematian Yoon Sajangnim.

Ya, Yoon Sajangnim adalah Direktur dari Yoon Group, perusahaan yang bergerak di bidang travel yang terbesar di Korea. Beliaulah yang membiayai biaya kuliah Jonghyun dari SMA hingga lulus dan menyandang gelar Master Business Administration. Ayah Jonghyun bekerja sebagai supir Yoon Sajangnim selama 30 tahun. Yoon Sajangnim memperlakukan dia seperti anaknya. Membiayai kuliahnya dan juga selalu memperhatikannya. Hal itu karena sebenarnya Yoon Sajangnim ingin memiliki anak laki-laki. Tapi sayangnya, Tuhan hanya memberikan satu anak kepada Yoon Sajangnim dan anak itu adalah seorang anak perempuan.

Dia mengingat-ingat semua kebaikan Yoon Sajangnim sambil berbaring di kasurnya. Dia berfikir, jika tidak ada Yoon Sajangnim mungkin hidupnya tidak akan seperti ini. Siapa dia? Hanya anak seorang supir tetapi bisa berkuliah hingga menyandang gelar MBA dan berkuliah di Oxford. Dia memang pintar, tidak hanya pintar dalam pelajaran tetapi juga pintar dalam hal lainnya seperti bermusik dan Judo. Benar-benar impian anak laki-laki yang ingin dimiliki Yoon Sajangnim.

Sore harinya, dia pergi ke makam Yoon Sajangnim. Komplek makam itu terlihat sangat rapi dan benar-benar sangat pribadi. Untuk memasukinya pun, dia harus scan sidik jari dan menyerahkan kartu identitas. Dia membawa bunga lily putih sebagai penghormatannya kepada Yoon Sajangnim, di depan makamnya dia berlutut dan menunduk.

“Sajangnim, ini aku. Maaf aku baru menemuimu sekarang, aku sungguh tidak percaya saat ini aku berbicara padamu dengan kondisi seperti ini. Sajangnim, sebagai rasa berbaktiku padamu, apa yang harus kulakukan? Aku akan melakukan apapun untukmu. Aku berjanji. Terima Kasih karena berkat bantuan Sajangnim aku dapat menjadi orang yang seperti sekarang ini. Jeongmal Kamsahamnida, Yoon Sajangnim,” dia meletakkan bunga Lily itu di dekat nisan dan menunduk sebanyak tiga kali sebagai tanda penghormatannya. Kemudian dia berjalan meninggalkan pemakaman itu.

“Umm… Tunggu sebentar, ini kartu identitas Anda,” seorang pria yang terlihat sebagai penjaga komplek pemakaman tersebut mencegatnya.

“Ne. Gomawoyo,” jawabnya.

“Umm.. Sebentar, Tuan… Apakah Anda baru saja menjenguk makam Tuan Yoon Seungho dan Anda yang bernama Lee Jonghyun?,” tanya pria itu

“Ne. Joneun Lee Jonghyun imnida. Ada apa?,” jawabnya sambil melihat secarik amplop yang dijulurkan pria itu.

“Tuan, saya menerima amplop ini dari pengacara Tuan Yoon Seungho dan saya ditugaskan untuk memberikan amplop ini kepada Tuan jika Tuan datang,” jawab pria itu sambil memberikan amplop tersebut padanya.

Dia mengambil amplop tersebut dan berencana membacanya ketika sampai dirumah. Ketika sampai dirumah dia segera membaca surat itu.

3 Januari 2005

Annyeong Hasimnikka

Jonghyun-ah, mungkin saat membaca surat ini, Aku sudah tiada. Jonghyun-ah, Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Kau memang sosok anak laki-laki yang kuinginkan. Aku begitu menyayangimu walaupun kau adalah anak sahabatku. Hanya ini yang bisa Aku lakukan sebagai bentuk balas budiku kepada Ayahmu.

Jonghyun-ah, kau tahu kan kalau Aku tidak memiliki saudara lagi, yang kumiliki hanyalah putriku. Aku mohon padamu untuk selalu menjaga putriku dengan baik seperti saat kau menjaganya sedari kecil. Aku titipkan putriku dan perusahaanku padamu. Aku yakin hanya kaulah yang bisa aku percaya, walaupun kita tidak ada hubungan darah apapun namun aku akan menyatukannya.

Terima Kasih,

Yoon Seungho

 

Setelah membacanya, Dia melipat surat itu dan dia berlari menuju ruangan Abeojinya.

“Abeoji, aku menerima surat ini tadi ketika aku menjenguk makam Yoon Sajangnim. Eotteokhae?,” tanyanya sambil menyerahkan surat itu kepada abeojinya.

“Ya.. Akhirnya kau menerima surat tersebut, jasa keluarga mereka terlalu banyak untuk kita Hyun-ah. Walaupun Abeoji hanya supir di keluarga mereka, tetapi mereka tidak pernah menganggap Abeoji sebagai supirnya. Ya, Yoon Sajangnim selalu menganggap abeojimu ini sebagai sahabatnya. Lihatlah dirimu, sekarang kau dapat menyandang gelar seperti ini,” jawabnya sambil menepuk-nepuk pundak anaknya.

“Ne.. aku tahu itu Abeoji, aku akan menuruti permintaan terakhir Yoon Sajangnim untuk menjaga putrinya. Haahh.. Sudah lama aku tak bertemu dengannya. Enam tahun ini aku tak bertemu dengannya. Aku akan menjaga dia seperti adikku dan aku akan berhenti bekerja di perusahaan Che^ron dan akan mengabdikan diriku sepenuhnya pada Yoon Group,” jawabnya mantap dan menatap kedua mata Abeojinya.

“Hyun-ah… Sepertinya kau perlu membaca surat milik Abeoji juga. Kau bukan hanya sekedar menjaganya. Tapi…. Bacalah ini,” abeojinya menyerahkan sebuah surat pada Jonghyun.

Jonghyun mengambilnya dan membacanya dengan teliti.

“MWO? A..a..a..a..Ku? Ya! Abeoji! Ini tidak mungkin. Aigoo! Aku bahkan tak bertemu dengannya selama enam tahun ini. Eotteokhae?,” jawab Jonghyun terbata-bata setelah membaca surat dari Yoon Sajangnim yang diberikan kepada Ayahnya.

“Kau sudah berjanji, nak. Tepatilah janjimu.”

 

TBC

16 thoughts on “Gobaekhamnida [PRLOGUE]

  1. waduh isi surat wasiat buat ayahnya jonghyun apa ya??? jangan2 dia disuruh nikah ma eunchae lagi.
    waaaaaaaaah kayanya bakal seru neh.

    ditunggu lanjutannya ya… ^^,

  2. @all : TT.TT *sroot….aku baru tau kalo FF aku sudah di post..btw..ini gga ada kripik pedas atau saran gitu ??? =,=a

    kekkekeke..ya…alhamdulillah kalo suka…..part 1 bakal aku lanjutin

    *terima kasih ya yg uda mau berkenan baca…

    pertama buat FF dan castnya lee jonghyun >,<
    *faveku bgt dah tuh namja..

    XD

  3. kyaa ~ seru ..
    di jodohin yh mrka ? aah lebih tepat.a di suruh nikahin anak gadis.a yh ? *halaah bahasa gua
    walaupun aku eg begitu kenal sama cast cowok.a tapi aku suka alur critany ..
    lanjut chingu ~ lanjut lanjut .. ? aah lebih tepat.a di suruh nikahin anak gadis.a yh ? *halaah bahasa gua
    walaupun aku eg begitu kenal sama cast cowok.a tapi aku suka alur critany ..
    lanjut chingu ~ lanjut lanjut ..

  4. walopun tema perjodohan gini udah sering tapi tetep bagus kok, tulisannya author enak buat dibaca ^,^
    apalagi main castnya jonghyun!!! hyaaaaa…namja favorit saya ituhhh !!! :D susah banget nyari ff yg main castnya jonghyun dan kali ini ketemu!! :D *jingkrak2hepi*
    lanjooooot thorrr…!! jonghyun cepet2 suruh nikah XD

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s