Destiny [part 1]

Author : Vinny a.k.a Vn

Cast : Lee Joon (MBLAQ), Jiyeon (T-Ara)

Support Cast : GO (MBLAQ), Asisten KIM, Jiyeon’s Ahjussi, Joon and Go’s father

Rating : PG 15

Genre : Action Thriller

Warning! : yang ga tahan baca cerita bunuh-bunuhan mending jangan dibaca ya :p

PS : Please don’t be a silent reader! Read and comment! Okay? :D sudah pernah dipost di http://pinnipinot.blogspot.com TOLONG DENGAN SANGAT JANGAN PERNAH ME-COPY-PASTE FF INI TANPA IJIN. Makaciiiihh ^^ Gomawo buat yang mau baca.

 

 

Author POV

 

-Lee Joon-

 

 

Terdengar bunyi handphone yang terletak di atas meja kecil di samping tempat tidur. Joon segera menghampiri dan mengangkatnya, terdengar suara seorang pria di seberang telepon.

 

“Joon, datanglah sekarang.”

Ara..”

KLIK

Joon menutup telepon itu dan segera mengambil kunci mobil yang juga diletakkan di meja tadi.

 

 

 

 

Author POV

-Jiyeon-

 

 

Di tengah suasana bandara Incheon yang cukup ramai seperti biasanya, muncul sekumpulan pria yang memakai pakaian serba hitam, membuat semua pandangan tertuju pada mereka.Pria-pria itu membentuk barisan rapi dan tak lama kemudian muncul seorang gadis diikuti seorang pria di belakangnya.

 

Gadis itu berjalan menuju pintu keluar dengan diikuti para pengawalnya. Namun mendadak ia menghentikan langkahnya, kemudian berbalik, gadis itu melepas kacamata hitamnya.

 

“Nona?” tanya pria tadi.

“Asisten Kim..”

“Ya Nona?”

“Kalian pulang duluan saja, saya masih ada urusan.” Pinta Nona muda itu.

“Tapi Nona.. Tuan..”

“Tolong sampaikan pada Ahjussi, saya akan menghubunginya nanti.”

“Kalau begitu, biar saya yang menemani anda.”

“Ah! Andwae!” tolaknya.

“Nona. Terlalu bahaya bagi anda untuk berpergian sendiri. Bukankah Tuan sudah..”

Gadis itu segera memotong pembicaraan, “Justru akan lebih berbahaya bila berpergian dengan dikawali, kita akan jadi pusat perhatian!”

“Tapi Nona..”

“Sudahlah. Bye!” gadis itu pergi tanpa memperdulikan pengawalnya.

 

“Apa kita harus mengejar Nona?” tanya salah satu dari pria-pria berpakaian hitam itu.

“Biarkan saja. Saya yakin Nona Jiyeon bisa menjaga diri.”

 

 

 

 

 

_ _ _

 

 

 

 

Gadis bernama Jiyeon itu kini berdiri di depan sebuah toko bunga.

 

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya si penjual.

“Saya ingin 2 buket bunga tulip putih.” Ujar Jiyeon.

“Baiklah. Tunggu sebentar.”

Sambil menunggu, Jiyeon melihat sekeliling, pandangannya tertuju pada sebuah kalimat pada koran yang dipegang oleh seorang pria paruh baya yang duduk tak jauh dari tempatnya berada.

Ahjussi..” Jiyeon menghampiri pria itu, “Boleh saya pinjam koran itu sebentar?”

“Tentu.” Pria itu dengan ramah memberikan koran itu pada Jiyeon.

Gamsahamnida.” Jiyeon membaca kalimat pada halaman belakang koran.

“Ini dia!” serunya saat menemukan iklan yang menyewakan apartemen murah.

Jiyeon segera mengeluarkan sebuah notes kecil dan pena dari dalam tasnya, lalu dicatatnya nomor telepon dan alamat yang tertera pada koran itu. Kemudian Jiyeon mengembalikan koran itu pada pria tadi, “Gamsahamnida ahjussi.”

 

“Ini, dua buket bunga tulip putih anda.”

“Berapa?” Jiyeon membuka tasnya untuk mengambil dompet, namun tanpa sengaja tangannya menyiku seseorang di sampingnya, “Ah! Choesunghamnida!”

Pria itu mengambil dompetnya yang terjatuh, lalu berjalan ke dalam tanpa memperdulikan Jiyeon.

Jiyeon hanya menatapnya lekat.

 

 

 

 

 

_ _ _

 

Eomma, Aboji. Aku kembali mengunjungi kalian. Bagaimana kabar kalian di sana?” Jiyeon menatap dua batu nisan tempat Ayah dan Ibunya berbaring.

 

“Aku.. telah memutuskan untuk hidup dengan caraku sendiri. Aku tidak ingin kembali ke rumah itu. Mian. Aku ingin meninggalkan semuanya, dan memulai hidup baru. Semua ini sudah cukup. Sudah cukup bagiku untuk terus hidup bersembunyi dari orang-orang.”

 

 

_ _ _

 

 

Seorang gadis kecil bersembunyi di balik lemari, dapat ia lihat dari sela-sela lemari, perbuatan keji pembunuh-pembunuh itu. Salah seorang pria menarik pelatuk pistolnya dan mendaratkan sebuah tembakan tepat di kepala Ibunya, pria yang lain terus-terusan menikam pengawal yang mencoba melindungi, dan ayahnya, telah terbaring kaku akibat pisau yang kini masih tertancap di perutnya.

Beberapa saat kemudian, para pembunuh itu meninggalkan ruangan setelah yakin semua telah terbunuh. Namun tidak semuanya pergi, dilihatnya seseorang menghampiri lemari tempatnya bersembunyi, gadis kecil itu hanya mampu menggigil ketakutan. Kemudian seseorang membuka pintu lemari itu, salah satu dari para pembunuh, namun ia tampak lebih muda dari mereka.

Gadis kecil itu hanya dapat memikirkan kemungkinan nasibnya seperti kedua orang tuanya, namun lelaki tadi hanya menatapnya lekat.

Tiba-tiba terdengar bunyi sirene mobil polisi, dan lelaki itu segera beranjak pergi, tanpa melakukan apapun pada gadis kecil itu.

 

Jiyeon terbangun dari tidurnya, mimpi yang sama selama bertahun-tahun, sejak kematian orang tuanya.

 

Drrrrrt Drrrrrt

 

Suara vibrasi handphone Jiyeon, ia lalu mengangkatnya.

Yobosseyo.”

“Jiyeon a, di mana kamu?”

Ahjussi. Choesunghamnida. Saya tidak akan kembali ke rumah itu lagi.”

“Apa maksud perkataanmu Jiyeon?!”

“Aku telah memutuskan untuk hidup sendiri. Memulai kehidupan yang baru.”

“Kamu tidak akan bisa hidup sendiri Jiyeon.”

“Lebih baik daripada terus-menerus hidup dengan bersembunyi.”

“Jiyeon, bukankah kami telah menjelaskan padamu? Apa kamu tidak ingat kejadian sepuluh tahun yang lalu?”

“Aku mengerti Ahjussi. Para pembunuh itu sudah tertangkap namun mungkin masih ada komplotan mereka yang menyimpan dendam di luar sana, dan keberadaanku tidak boleh diketahui mereka. Karena itulah, bila aku hidup sebagai orang lain, mereka tidak akan pernah tahu dan akan berhenti memburu keluarga kita. Aku tahu itu semua demi kebaikanku.”

“Direktur, ada yang ingin saya….,” Samar-samar terdengar suara berisik dari telepon, “Jiyeon, kita bicarakan lagi nanti.”

KLIK

Telepon itu ditutup.

 

Jiyeon hanya bisa menghela nafas.

 

 

 

Author POV

 

-Lee Joon-

 

 

 

“Habisi dia.” Ucap suara dari earphone di telinga Joon.

 

Joon menatap dengan teliti melalui teropong untuk memastikan sasarannya, lalu.. DOR!

 

Sebuah tembakan tepat mengenai pria sasarannya.

 

“Sekali lagi.”

 

Joon kembali menarik pelatuk dan DOR!

 

Tembakan kembali didaratkan pada pria yang sama. Menyebabkan pria itu terjatuh.

 

 

Well done Joon. Temui aku sekarang.” Ucap suara yang sama dari earphone.

 

 

 

_ _ _

 

 

Joon kini berada di sebuah ruangan. Di depannya telah duduk dua orang pria, salah satunya tampak seumuran dengannya.

 

I’m really proud of you. Both of you!” seru pria yang lebih tua, “Go, Joon. Kalian adalah anak yang paling kuandalkan.”

“Kau dengar itu Joon? Ayah memuji kita!” seru Go.

“Dia bukan ayahku.” Ucap Joon dingin.

Suasana tiba-tiba menjadi hening.

“Apa yang kau katakan Joon? Dasar bodoh!” kata Go lalu menoleh pada pria di hadapan mereka.

Pria itu hanya tersenyum kecil.

“Bukankah Ayah yang telah membesarkan kita? Tanpanya, kau hanya sampah!”

“Dia memberikanku hidup yang tidak kuinginkan. Sampah bahkan lebih beruntung dari padaku.” Ucap Joon dengan memandang lurus pada pria itu.

Go yang mulai naik darah beranjak dari kursinya, “Are you insane?!” ucap Go sambil mengarahkan pistolnya pada Joon.

 

“Go, cukup.” Ucap pria itu.

“Joon, kamu menyesali kehidupanmu?” lanjutnya.

 

“Aku dibesarkan dari darah orang-orang yang dibunuh. Aku tidak menginginkan hidup seperti ini.”

 

Pria itu tertawa,  lalu beranjak dan berjalan menuju Joon, “Joon, since whenyou have a heart? Bukankah aku telah menyuruhmu untuk membuangnya?”

 

“Kita pembunuh bayaran! We don’t have heart! Sejak kapan kamu jadi sentimentil dan peduli dengan kehidupan seperti ini?” teriak Go.

 

Pria itu memberi isyarat pada Go untuk diam, “Joon, kamu ingin lepas dari kehidupan ini?”

 

Joon hanya diam.

 

“Pulanglah. Kau butuh istirahat.” Pinta Pria itu.

 

Joon segera pergi diikuti Go.

 

 

“Joon!” Go menghampiri Joon, lalu membisikkan, “Watch your step, Joon. You go from here, it means…  BANG! You’re dead.”

 

Go lalu berjalan pergi. Joon hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.

 

 

 

 

 

Author POV

 

-Jiyeon-

 

Jiyeon sedang berbelanja di supermarket yang tak jauh dari apartemen tempat ia tinggal, hingga beberapa pria berjas hitam menghampirinya.

 

Jiyeon menghela nafas panjang, “Pulanglah. Aku tidak akan ikut dengan kalian.”

Lalu muncul Asisten Jiyeon, yang biasa dipanggilnya asisten Kim.

“Choesunghamnida. Tapi Nona, Paman anda…”

“Berhenti memaksaku!” Jiyeon beranjak pergi tanpa menghiraukan mereka.

“Tangkap.” Pinta Asisten Kim pada para pengawal.

Salah seorang pengawal mencoba memegang Jiyeon namun melemparnya dengan sayuran yang ia beli. Jiyeon segera lari, dan sesampainya di depan pintu masuk supermarket, dua orang pengawal telah menunggu. Jiyeon terhenti. Lalu dari belakang, pengawal segera menangkap kedua tangannya.

 

 

 

TO BE CONTINUED

 

 

 

 

Ditunggu kritik dan sarannya ^^

10 thoughts on “Destiny [part 1]

  1. huaa, bagus! aku suka sama FF ttg pembunuhan begini, apalagi kalau ada detektif2an juga :p
    kalo udh ada lanjutannya, mention aku donk @jacil_96 ..
    penasaran soalnya, takut ketinggalan part selanjutnya, wkwk ^^

  2. waaaaa kayanya seru neh. jangan2 ntar joon yang nyelametin si jiyeon. trus mereka saling suka deh.#plak# sotoynya diriku* hehehe ^^,

    penasaran ma lanjutannya. ditunggu ya… ^^,

  3. akhirnya… my haney Bunny nongol juga di FF…

    waaaahhh… knp Joon jadi assasin…
    tp berhati lembuuuttt… LOVE you deh…

    lanjut , ya

  4. annyeong………… aku reader baru di blog ini. kerreeennnn aku sukka ff ini… main casrnya ji yeon ma joon lagii……….. suka suka suka :)

  5. bagus banget chingu,,,
    huft jd ngiri nich ama bakat nulis chingu…
    chingu gak niat buat novel aja?
    pasti laku berat dech…
    hehehe…

    shi suka banget ceritanya,hebat banget bisa terfikir sampe sebegini bagus ceritanya…

    shi akan jadi pelanggan setia chingu nich,,,
    ditunggu fanfic lainnya ya?
    and kalo bisa cast nya Si Won Oppa, Yoona, Kim Tae Hee, Ji Yeon,
    pokoke mereka semua dech dibuatin fanfic 1 per 1…
    hihihi…

    Gamsahamnida chingu… ^^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s