Cruelty of Love [part 4]

Cast : Cho Kyuhyun (super junior) , Seungri (bigbang), Yoon Seojin (oc)

Genre : Romance

Author : Chabikyu

Kepalaku semakin pusing ketika mengingat kata-kata Kyuhyun tadi, yah aku yakin sekali mana mungkin Seungri oppa melakukan itu semua, dia bukan pembunuh!

Aku telah mengenalnya lama, cukup lama dan menurutku dengan waktu selama itu aku telah mengerti bagaimana ia dan bagaimana karakternya, mustahil jika yang dikatakan Kyuhyun itu benar.

Lagi-lagi aku terlalu lelah, mataku sangat sulit untuk kupejamkan. Terlalu banyak bayangan-bayangan aneh yang membuat ku setres, kepalaku terlalu sakit memikirkan semua ini. Kenapa hidupku menjadi ikut-ikutan rumit? Aku mengutuk seseorang pria bodoh yang bernama Cho Kyuhyun itu, semenjak menikah dengannya aku slalu saja mendapatkan masalah yang mungkin tidak pernting namun cukup besar.

Dan lagi Seungri, saat ini dia juga penyebab hidupku menjadi rumit. Kenapa semua orang terlihat sungguh bodoh, aku lelah dan ingin keluar dari semua masalah ini. Ini bukan masalahku dan memang seharusnya aku tidak terlibat.

—————————-

“Jinki-ah, kau mengenal Cho Kyuhyun dengan baik kan? Walau mungkin secara tak langsung.”

Setahuku Jinki sangatlah terobsesi dengan Yoorin sehingga ia pasti tahu semua tentang gadis kecil itu beserta kakak laki-laki yang slalu menjaganya, haha lucu sekali.

Dia tipe seorang yang mudah penasaran, tidak jauh bedah denganku. Mungkin karena itu hanya dalam waktu beberapa minggu saja kami bisa langsung sedekatini.

“Mungkin, kenapa?”

“Kau tahu dia siapa?”

“Yah! Kemaren kan sudah kujelaskan siapa dia.”

“Bukan itu, aku yakin kau mengetahui hal yang lebih dalam lagi.”

“Maksudmu?” dia menatapku curiga, sedangkan aku malah melawan tatapannya, anak ini kenapa suka sekali basa-basi.

“Tentang ‘sisi gelab.” Kataku blak-blakan. Raut wajah Jinki langsung berubah, tubuhnya yang tadi tercondong kearahku langsung termundur ke belakang, tapi pandangan matanya tetap kearahku.

“Sebaiknya tidak disini.” Dia menarik tanganku keluar dari tempat ini, menuju ke taman kampus sepertinya. Tempat yang lumayan sepi.

—————-

Aku semakin tak mengerti dengan hidup, sejak kemunculanku 21 tahun yang lalu, aku sama sekali tidak pernah mengalami masalah yang terlalu besar.

Aku bersyukur menjadi gadis yang biasa dikalangan keluarga yang biasa. Sesuatu keuntungan sebenarnya bahwa aku dapat menikah dengan Cho Kyuhyun.

Tapi yang kutakutkan selama ini ternyata benar, sesuatu yang sempurnah memang seharusnya dijauhkan karena mereka adalah akar dari masalah.

Dan buktinya telah menjadi seperti ini. Aku mendapatkan masalah baru.

Kelihatannya aku harus segera pergi ke psikiater untuk mengecek apakah saat ini aku masih baik-baik saja atau sudah ada sistem sarafku yang rusak.

Bagaimana bisa aku tidak pusing setelah mendengar cerita-cerita yang dikatakan Jinki tadi terhadapku.

Cho Kyuhyun dan Lee Seunghyun, orang-orang menakuti dua nama itu, mereka berbahaya, mereka kejam, mereka jahat, mereka tak punya hati, mereka blablablabla.

Tapi Jinki juga menambahkan, jika mereka tidak diganggu maka kau akan aman-aman saja.

Seingatku, aku adalah pengganggu terbesar dalam hidup mereka berdua.

Apa artinya akhirnya aku akan mati? Aku sadar sedari aku mengetahui siapa Kyuhyun sebenarnya aku telah masuk kedalam sebuah lubang buaya dimana banyak buaya ganas yang siap menerkamku kapan saja. Banyak orang-orang yang mengancam keselamatanku sedangkan aku tidak memiliki satu orangpun yang akan melindungiku.

Kyuhyun? Dia mungkin lebih senang jika aku mati dan pergi dari hidupnya jadi untuk apa dia mau melindungiku. Walau lambat laun hal itu sudah tak menjadi masalah besar lagi bagiku.

Oke, tapi hal yang paling membuatku depresi sekarang adalah ketika aku tahu jika mereka berdua sama-sama berlomba untuk saling menghancurkan. Mungkin aku tak pernah mengenal Kyuhyun sebaik aku mengenal Seungri, tapi tetap saja dia suami sah ku, dia pernah mengisi hari-hariku dan dia telah membawaku kejurang masalah yang cukup berat.

Aku masih belum bisa percaya jika Seungri sama saja seperti Kyuhyun, seperti yang kubilang, aku telah mengenalnya cukup lama dan sama sekali tidak pernah tercium gelagat menyedihkan seperti ini.  Terkadang jika ia mungkin harus keluar kota, dia menggunakan alasan yang sangat masuk akal di benakku

aku menelusuri jalanan setapak dengan langkah lunglai, walau hari sudah malam tapi sama sekali tak terniat untukku agar bisa cepat-cepat sampai di apartemen.

Langkahku langsung terhenti ketika sebuah mobil sedan marcedes benz berhenti tepat didepanku dan tentu saja langsung membuatku terkejut, apa itu penculik? Aku mengambil ancang-ancang untuk segera berlari tapi niatku itu langsung terhapus ketika melihat siapa yang keluar dari dalam mobil itu.

Seungri oppa?

“Ikut aku.” katanya dingin lalu menarikku lembut kearah mobilnya, aku ragu untuk mau mengikutinya atau tidak. Aku telah mengetahui semuanya walau itu hanya desas-desus. Untuk pertama kalinya aku merasa takut

ketika berada didekatnya, aku merindukan Seungriku, bukannya seorang pembunuh seperti dia.

“Yah lepaskan aku.” kataku ketika dia membukakan pintu mobilnya. “Atau aku akan teriak.” Kataku mengancam.

Ia menghentikan langkahnya lalu berbalik, “Kumohon.” katanya sambil menatap dalam keujung mataku. tatapan itu terakhir kurasakan beberapa hari sebelum aku berpisah dengannya, tatapan yang sangat aku rindukan.

Aku tak bisa mengerti dengan jalan kerja tubuhku. Otakku sedari tadi sudah memerintahkannya agar jangan masuk ke mobil itu, tapi tubuhku malah masuk kesana seperti layaknya terhopnotis.

Kami berdiaman cukup lama. Kenapa dia membawaku kemari jika sedari tadi sama sekali tidak mengatakan apapun kepadaku?

“Jadi semua itu benar?” Ucapku memecahkan keheningan diantara kami. Aku berharap semoga selama ini aku hanya salah paham terhadapnya.

“Ne.” ketakutanku selama ini ternyata adalah kebenaran. Aku terdiam cukup lama, air mataku daritadi slalu kutahan agar tak tumpah. Aku dibohongi, selama ini aku telah mencintai seorang big liar dan pembunuh.

“Kau jahat. Kenapa kau membohongiku?”

Dadaku terasa sesak, seperti ada yang menusuk-nusuknya dengan pisau yang baru sudah diasa. Mataku terasa panas. AKu tak berani menatap kearahnya, disampingku.

“Karena aku mencintaimu. Aku tak ingin kau pergi meninggalkanku ketika mengetahui semua ini walau sekarang kau dengan terang-terangan telah menjadi milik musuh terbesarku.”

“Tidak ada salahnya kau sedikit saja jujur padaku kan? Aku yakin kau juga berbohong tentang ini. Lalu apa tujuan awalmu mendekatiku, berbuat baik padaku dan……….” Aku tak mampu untuk melanjutkan kata-kata itu. Suaraku seperti tercegat ditenggorokan.

Dia kembali diam, kesunyianpun terjadi lagi diantara kami. Aku melihat kearahnya, pandangannya menerawang jauh kedepan, tatapannya kosong, benar-benar kosong. Matanya memerah lalu tak lama keluar cairan bening dari kedua sudut mata sayu itu.

Air mata buaya, aku tak yakin jika ia benar-benar menangis, paling itu hanya trik darinya untuk membohongiku lagi. Tapi ada rasa sesak didadaku, aku ingat sekali bagaimana ia menghapus airmataku ketika aku menangis, bagaimana ia menyemangatiku ketika aku sedang frustasi, bagaimana ia slalu datang padaku ketika aku membutuhkan, bagaimana ia meyakinkanku bahwa dialah cinta sejatiku, dan juga bagaimana Ia telah membohongiku terlalu jauh.

Semuanya terputar dengan jelas diotakku, ketika aku pertama kali bertemu dengannya, seorang lelaki sederhana yang merupakan tetanggaku dulunya, langsung membuatku tertarik dengan kelakuan aneh yang ia buat. Apapun yang dia lakukan slalu menarik perhatianku. Membuatku sedikit malu-malu jika bertemu ataupun setatapan langsung dengannya.

Cinta ? benar aku telah merakan cinta saat itu, layaknya seperti gadis remaja biasa yang tertarik dengan lawan jenisnya. Hal biasa bukan? Tapi menurutku itu luar biasa. Kau bisa bayangkan itu pertama kalinya aku jatuh cinta, pertama kalinya aku memiliki semangat hidup, dan pertama kalinya membuatku sadar bahwa dunia tak seburuk apa yang slalu kupikirkan.

Saat dia menyatakan bahwa ia mencintaiku, kau tahu? Aku benar-benar merasakan kebahagiaan saat itu, hatiku berdebar, pikiranku damai, dan jiwaku seperti benar-benar melayang ke surga. Dia menghubungiku setiap saat menanyakan kabarku dan aku sedang apa, walau terkesan terlalu berlebihan tapi aku cukup senang diperlukan seperti itu olehnya.

Aku tak pernah punya teman baik, aku tak diperhatikan dikeluargaku, tapi aku sudah merasa sangat sempurnah dengan adanya dia disisiku. Aku mempercayainya, sama sekali aku tak pernah ragu atas kata-kata manisnya. Dia sama sekali tidak pernah membuatku menangis sebelumnya, karena dia slalu ber kata padaku, jika aku menangis maka sama saja aku menyiksanya.

Sekalipun aku tak pernah mengeluh tentang kekuranganya, aku sama sekali tidak menemukan hal itu, dia terlalu sempurnah dan terlalu baik. Slalu ada hal-hal yang membuatku ingin slalu ada didekatnya karena dia adalah magnet hidupku.

Aku sangat merindukan usapan tangan lembutnya dikepalaku ketika aku menangis, merindukan kata-kata sayang yang ia ucapkannya, merindukan saat dimana aku merasa seperti tuan putri ketika berada didekatnya. Aku merindukan saat 5 tahun yang lalu.

Terlalu banyak kenangan indah yang  telah kami lewati berdua, namun saat ini itu semua terasa seperti cerita palsu dimataku. Pandanganku buram oleh airmata, aku baru sadar jika aku sudah menangis sedari tadi.

“Aku memang tak pernah pantas untukmu, seharusnya dari dulu aku sadar bahwa orang sepertiku tidak mungkin bisa mendapatkan wanita sepertimu. Seharusnya aku tak perlu mendekatimu, aku tak perlu mencari tahu

tentangmu dan berusaha dari dulu untuk tidak pernah mencintamu.” Katanya dengan suara sedikit bergetar.

Aku tidak menjawab perkataannya, terlalu sulit untuk berbicara dalam keadaan seperti ini.

“Aku memang berbohong tentang identitasku padamu, tapi aku sama sekali tak pernah berbohong tentang cintaku.”

Aku tak tahu kenapa, tiba-tiba aku langsung memeluknya erat. Yah, sampai kapanpun aku memang tidak bisa untuk tidak mempercayai kata-katanya, aku memang tak bisa melupakannya walaupun seberat apapun aku mencoba melakukannya, dan aku memang takkan pernah bisa untuk membencinya.

Aku merasakan dia memelukku balik dan membelai puncak kepalaku.

“Kumohon jangan menangis lagi, a…aku……”

“Kau menyuruhku seperti itu padahal kau sendiri masih menangis.”

“Seojin-ah maafkan aku, aku memang jahat.” Aku semakin erat memeluknya dan malah semakin terisak, pikiranku kacau, benar-benar kacau. Aku tak harus membencinya kan?

“Kenapa kau bisa seperti itu, oppa?” akhirnya aku melepaskan pelukanku, kembali berjarak seperti tadi terhadapnya.

“Aku telah seperti ini jauh sebelum kau mengenalku.”

“Ke…kenapa bisa?”

“Seperti inilah aku Seojin-ah, ayahku seorang gangster dan otomatis aku yang wajib untuk melanjutkan keturunannya. Walau semenjak mengenal mu aku pernah berpikir untuk berhenti dari ini semua, tapi jika mengingat bagaimana ibuku aku dengan terpaksa harus melanjutkannya.”

“Lalu, kenapa kau membohongiku?”

“Jika aku berkata yang sesungguhnya, apakah kau masih mau berhubungan denganku? Dan juga cukup bahaya jika salah satu dari musuhku berhasil melacakmu, untungnya kau selama ini bukan tinggal di Seoul.” Aku sedikit lega mendengar semua jawaban-jawabannya, dia memang slalu bisa membuatku terbang dan melayang ke surga,

“Jadi, maksudmu tadi ibumu yang menyuruhmu untuk tetap menjadi seperti ini?” dia diam sejenak seperti tak berniat menjawab pertanyaanku, apakah aku menanyakan hal yang salah padanya? Errrr, jangan bilang jika ia kesal dan berniat untuk menembakku saat ini juga.

“Mungkin.” Jawabnya datar seperti tak senang.

————–

Seungri Pov

“Jadi, maksudmu tadi ibumu yang menyuruhmu untuk tetap menjadi seperti ini?”

Aku diam sejenak memikirkan apa yang harus aku jawab padanya, jujur selama ini aku slalu sensitive kepada siapapun jika mereka telah menyinggung tentang ibuku, yang Seojin tahu hanyalah ibuku meninggal ketika aku masih sangat kecil. AKu tak pernah menjelaskan tentang kematiannya.

Bukan maksudku untuk tidak mempercayai Seojin, hanya saja jika aku menceritakan hal itu aku takut ia akan mencurigaiku dulunya.

“Mungkin.” Jawabku asal. Maafkan aku Seojin-ah, lagi-lagi aku harus membohongimu.

Pikiranku menerawang kebeberapa tahun lalu. Dimana terbayang dengan jelas seorang anak laki-laki berumur 8 tahunan sedang bermain sekaligus bercerita dengan ibunya, sangat keliatan dimata kedua orang itu jika mereka saling menyayangimu.

“Ibu, jika sudah besar nanti aku ingin seperti ayah, ia disegani oleh orang-orang dan menghasilkan uang yang banyak.” Cerita anak lelaki itu kepada ibunya. Wanita itu langsung mengusap kepala anak itu lembut lalu tersenyum kearahnya.

“Riri-ah, kau anak yang baik, sebaiknya kau mencari perkerjaan lain yang aman untukmu dan juga untuk anak istrimu kelak.” Kata wanita yang telah berumur sekitar 30 tahunan itu. “Ibu ingin kau nanti menjadi seorang dokter yang sukses, ibu yakin kau pasti bisa menjadi seperti itu, sayang.” Lanjut ibunya, anak itu mengangguk mantap lalu meletakkan tangan ibunya kedadanya.

“Baiklah jika itu mau ibu, suatu saat nanti ibu pasti akan melihatku menjadi seorang dokter yang sukses.”

Kedua orang itu saling berpelukan hangat, seperti hanya kali itu kesempatan terakhir mereka untuk saling berpelukan.

Ia beserta ibunya langsung terkejut ketika mendengar suara keributan menghampiri mereka, saat ini mereka sedang berada ditaman belakang rumah mereka yang terlihat sangat sepi, karna para pelayan disana sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

“Ibu, suara apa itu?”

“Ibu juga tak tahu nak.” Kata ibunya berusaha setenang mungkin walau terlihat jelas kepanikan yang tertanda diwajahnya.

‘Dorrr’ semuanya terjadi begitu cepat, anak lelaki itu belum bisa sepenuhnya sadar atas apa yang baru saja terjadi pada ibunya. Yang ia tahu saat ini Ibunya memeluknya erat, tapi ia merasakan jika badan ibunya  melemah dan hampir terjatuh.

“Ibu…” katanya, lalu tak lama raga wanita itupun terjatuh ketanah. Anak itu melihat kondisi tangannya. Pikirannya kacau, cairan merah pekat tertempel cukup banyak di telapak tangan mungilnya. “Ibu.” Panggilnya lagi sambil mendudukan badannya agar dapat lebih dekat dengan ibunya yang sedang tergolek ditanah. Tapi wanita yang berada dihadapannya itu tetap diam membisu. Bibirnya yang biasa berwarna kemerahan sekarang berubah menjadi kebiruan, kulit putih susunya berubah menjadi putih pasih, mata yang slalu menyilaukan kebahagiaan itu tertutup rapat-rapat “Ibu bangunlah.” Anak itu mengguncang-guncang badan ibunya, berharap jika ibunya hanya sedang bermain-main dengannya.

“Sudahlah tak usah menangis, seharusnya kau yang seperti itu, bukanlah ibumu. Sampaikan pada ayahmu untuk tak usah bermacam-macam dengan tuan. Cho, hanya itu pesanku selamat tinggal.” Orang asing itu berlalu meninggalkan seorang anak lelaki yang masih berusaha membangunkan ibunya, ia terlalu kecil untuk memahami ini semua, terlalu kecil untuk mengerti apa yang sedang terjadi dan terlalu kecil untuk menyaksikan langsung kepergian ibunya tepat didepan matanya.

“Seungri oppa, kau tak apakan?”

“Ehhh?” aku tersadar kembali ke dunia nyataku.

Masa lalu yang menyeramkan, terkadang bayangan itu sering kali menggangguku dan membuatku sakit.

Aku lemah ketika melihat semuanya.

Bisa kau bayangkan, pria kecil tadi adalah aku. Hal itu semua yang merupakan alasan sesungguhnya kenapa aku tetap menjadi seperti ini. Seperti yang Seojin tahu, aku adalah seorang mahasiswa jurusan kedokteran, dan itu memang benar walau kemungkinannya sangat kecil jika aku bisa menjadi seorang dokter sungguhnya. Aku tetap mematuhi amanat ibuku, bukan?

Aku sungguh menyayangi ibuku, tapi aku harus secepat itu kehilangannya. Dia terbunuh, seharusnya aku lah yang mati saat itu, tapi ibuku malah melindungiku dan mengorbankan nyawanya demi aku.

Betapa baiknya ia telah merelakan nyawanya hanya demi seorang anak ingusan yang tak berbakti ini?

Ini semua terjadi karena ayah,  andai saja jika dia bukanlah anggota golongan hitam, andai saja jika dia tak pernah berurusan dengan keluarga Cho, andai saja jika ia tak pernah membunuh Cho Ahra, cucu kesayangan Cho Jinyoung(?). Pasti saat ini ibuku masih berada didekatku, masih menyemangatiku untuk segera meraih gelar Dokterku. Tapi tetap saja akar dari semua ini adalah keluarga Cho, maka dari itu aku selama ini aku slalu berusaha untuk merenggut kebahagiaannya.

Tapi lagi-lagi dia lah yang merebut kebahagiaanku, andai saja waktu itu aku tahu jika orang yang akan menikahi Seojin adalah Kyuhyun aku pasti takkan pernah sedikitpun melepasnya. Aku tak berharap hal ini terjadi, yang kutahu pria yang akan menjadi suami Seojin jauh lebih baik dariku dan tidak akan pernah membawa bahaya padanya.

Saat di party waktu itu, awalnya aku memang sengaja untuk mendekati istri Kyuhyun dan mencoba melakukan hal yang sama seperti apa yang kulakukan terhadap Han Haerin dulunya, tapi kau bisa menebak bagaimana aku ketika menyadari jika istri Kyuhyun adalah kekasihku.

“Oppa, kau dengar aku kan?”

“Mianhe Seojin-ah, sebaiknya sekarang kau kuantar pulang.”

Aku mengantarnya ke apartemen Kyuhyun, ntahlah aku merasa tidak enak untuk meninggalkannya tinggal bersama pria bajingan seperti Kyuhyun.

————-

Aku menatap gadis didepanku nanar.

“Makanlah. Kau pasti lapar.” Kataku dan kembali mencoba menyendokkan sesuap makanan untuknya.

Akan tetapi bibir pucatnya tetap terkatup rapat. Dia terus menatap sebuah foto yang tak jauh dari jangkauan tangan mungilnya. Tapi sama sekali tak bisa ia sentuh. .

Anak buahku bilang, seharian ini dia sama sekali tak mau makan apapun. Aku miris melihat kondisinya yang seperti ini. Ia begitu rapuh. Aku sangat takut untuk memeluknya bahkan menyentuhnya.

Aku merasakan ini sebuah kesalahan besar karena tetap membutnya hidup dalam kesengsaraan.

Tapi disatu sisi aku percaya suatu saat akan membutuhkannya kembali.

Aishh kenapa kau harus bernasib semalang ini? Padahal kau manis…… Dan aku yakin kau juga memiliki hati seperti malaikat.

Aku menatapnya lekat. Maafkan aku. Kau seperti ini karena aku..

Ingin sekali aku melepas pasungan yang ada ditangan dan kakinya. Jujur aku sama sekali tak tega, walau ini semua aku yang melakukan.

Aku mengangkat tangan kiriku lalu mengelus pipinya lembut. Hatiku perih melihatnya tersiksa seperti ini. Tak lama ia seperti reflek menghadap kearahku.

“Kyuhyun…..” Igaunya lemas.

Nama itu. Lagi-lagi suara yang ia perdengarkan menyatakan ke sebuah nama yang begitu ku benci.

‘Plakkk.’ Tanganku reflek menampar wajahnya. Ntahlah aku tak mengerti kenapa aku menjadi seperti ini, padahal ia merupakan seorang wanita Tapi bukannya seharusnya aku memang terlahir sebagai pria yang tega ?

Jika bukan karna keluarga Kyuhyun mungkin sekarang ibuku masih hidup, masih berada didekatku dan masih tersenyum mendukungku.

Aku benar-benar benci jika ia menyebut nama itu. Hatiku seperti disayat-sayat ketika mendengarnya.

“Belum puas selama ini kau menyiksaku?” Dia menangis. Suaranya begitu datar namun tetap terdengar isakan menyedihkannya.

Aku kembali memukul wajahnya. Hatiku tak ingin tapi otakku terlalu keras kepala dan memaksaku untuk melakukannya.

“Jangan bicara lagi!.”

“Aku yakin kau akan dapat balasannya.” Lanjutnya lagi. Setan dalam tubuhku sepertinya akan sepenuhnya menguasaiku jasadku. Aku benar-benar panas dan kesal terhadapnya.

Sialan. Kenapa kau mengatakan itu? Kau membuatku ingin menyiksamu lebih sadis lagi.

Aku mengeluarkan pisau disaku celanaku lalu kusentuhkan sedikit kekulit wajahnya. Ini balasannya jika kau berani melawanku. Masih untung dia dulu sempat kuselamatkan.

“Kyuhyun dia pasti akan datang. Dan Tuhan akan membalasmu lewat Kyuhyun.”

Deg! Pisau yang tadi kupegang erat terjatuh kelantai. Ada apa dengan tanganku? Kenapa bisa takut hanya karena kata-kata itu?

Aku merasakan sesuatu yang sesak didadaku. Apa benar Tuhan akan membalasku ?

Tuhan slalu bersamaku kan ? Aku bukan pendosa. Aku hanya butuh ketenangan.

Tidakk.. Tuhan tak boleh membalasku.

Dengan sisa tenagaku, lagi-lagi aku melayangkan tanganku kewajah nya.

‘Plaaakk.’

Tak ada suara lagi. Badannya juga terlihat lemas dan tertunduk. Gadis itu telah pingsan sekarang.

Aku bukan orang jahatkan? Tidak bukan aku. Kyuhyun lah yang jahat. Arghht aku takkan mendapatkan karma itu. Karena aku sama sekali tidak….. salah.

———————-

Back to Seojin Pov

“Aku pulang.” Teriakku antara niat dan tidak, tapi keliahatannya dirumah sedang tak ada orang, terlalu pagi untuk Kyuhyun jika pulang pada jam 11 di malam sabtu seperti ini.

Aku beranjak kekamar mandi lalu mandi dan mengganti pakainku, setelahnya aku berpikiran untuk keruang TV karna sedang tidak mood untuk cepat-cepat tidur malam ini, errrr sebenarnya aku sekalian menunggu Kyuhyun, jika tidak pulang biasanya dia akan menghubungiku terlebih dahulu, tapi tak ada satupun pesan ataupun panggilan darinya di hpku.

‘Tokk.tok.tok.’ aku tertidur diruang TV, sudah jam satu sepertinya, dan itu pasti Kyuhyun. Aku bergegas untuk membukakan pintu, tapi ketika knop pintu kubuka tiba-tiba saja seorang pria terjatuh kepelukanku.

“Kyuhyun-ah kau kenapa?” tanyaku sedikit aneh padanya, terasa suhu tubuh yang lumayan dingin tertempel dikulitku dan tercium sedikit aroma alcohol dari pria ini. Aku berusaha mengangkat kepalanya dengan tangan kiriku, sedangkan tangan kananku masih menahan badannya agar tak terjatuh.

“Ya Tuhan, wajahmu pucat sekali.” Aku menempelkan tanganku ke keningnya dan suhu disana panas sekali. Dengan segera aku membopong tubuhnya masuk kedalam rumah dan membawanya ke kamar tidurnya, keadaan Kyuhyun saat ini diantara sadar dan tak sadar. Aku tak menyangka orang seperti dia bisa sakit seperti ini juga.

Aku beranjak ke belakang mengambil handuk kecil dan air hangat lalu kembali kekamar dan mengompres keningnya. Kulit putihnya semakin terlihat lebih putih, namun pucat. Ada rasa takjub dalam diriku, ternyata kulit Kyuhyun jauh lebih putih dibanding aku.

“Haaaerin.” Deg. Tiba-tiba pria di hadapanku ini mengeluarkan suaranya, tetapi matanya tetap saja tertutup rapat, seperti  sedang mengigau.

“Kyuhyun, kau sadar?” Tanyaku setenang mungkin. Tak ada respon darinya, Lalu tak lama keluar tetes demi tetes cairan dari sudut mata yang sedang tertutup itu. Dia menangis? Seorang Cho Kyuhyun menangis? Wow hal ini sungguh langka!

Tapi siapa Haerin? Siapapun gadis itu aku merasa salut dan iri padanya, dia telah membuat seorang Kyuhyun menangis bahkan menyebutkan nama nya ketika ia dalam keadaan tak sadar, pasti dia adalah pacar Kyuhyun yang ia ceritakan waktu itu.

“Haerin, aku yakin kau masih hidup, bajingan itu tak benar-benar membunuhmu kan?” raungnya lagi, seperti sangat sulit untuk menyatakan kata-kata itu. Dan aku baru menyadari sesuatu, ‘bajingan itu’ pasti dia, Seungri. Jadi benar Haerin telah mati dan Seungri adalah pembunuhnya? Arrrggtt aku depresi kembali jika mengingat ini semua. “Kau tenanglah, aku pasti akan berhasil membalaskan dendamku padanya.”

Seperti petir yang menyambarku tiba-tiba, jika Kyuhyun mengetahui aku adalah kekasih Seungri pasti ia tak segan-segan akan segera membunuhku, terlihat jelas bahwa ia sangat menyayangi Haerin dan dengan sifat

Kyuhyun yang terkadang terlihat tak punya hati pasti sangat mudah untuknya agar bisa membunuhku. Dan yeah, bukannya selama ini dia memang sudah membenciku, itu artinya dia akan semakin membenciku dan…………………………….. sudah terbayang bagaimana nantinya aku.

Jleb. Tanganku terasa ditarik oleh sesuatu. “Kyuhyun, kau telah ssadar?” tanyaku sedikit terkejut. Dia tak menjawab pertanyaanku, malah langsung terduduk sambil menatapku serius. Cengkramannya ditanganku semakin kuat, membuatku sedikit bergidik takut karenanya.

ia menarik tanganku sehingga aku ikut terjatuh ketempat tidurnya, lalu ia langsung menindih tubuhku walau tak sepenuh badannya menindiku.

“Kyuhyun, lepaskan. Kau mau apa?” tanyaku sambil berusaha agar bisa terbebas dari himpitannya.

“Aku menginginkan mu.” Jawabnya dan hal itu langsung membuatku semakin bergidik. Tak lama aku merasakan sesuatu yang dingin tertempel di bibirku. Aku masih tetap berusaha meronta. Bagaimana bisa, bukannya tadi ia sedang sakit sedangkan suhu badannya tetap tinggi. Kyuhyun kau telah melanggar janjimu.

————-

tbc

43 thoughts on “Cruelty of Love [part 4]

    • lanjutan nya mana kok gk ada udah lama nunggu lanjutan ny
      Cerita nya gantung bikin penasaran,,,
      Kasih tau dong lanjutan nya pleaseeee,,,

  1. lanjutin apa min . . . ceritanya seru min jangan di bikin gantung dong . . . lagi juga aku bru nemuin crita sekeren ini

  2. aku kesel bacanya, kaya gak nyambung, 1 sampai 3 masih ngerti tapi pas 4 aku bingung gak ngerti, padahal awalnya bagus, ada rasa gak puas pas baca part 4 nya, maaf tapi aku bingung nyambungin ceritanya seperti ada yang kelewat.

  3. maaf chingu, ternyata aku baca ff yang sama judulnya, sama cast nya,alurnya, tapi alur yang aku baca agak lambat, pas mau ke part 4 aku salah buka ke ff yang sama ini makanya aku bingung alurnya lebih cepet jadi gak nyambung. Sekali lagi maaf chingu.

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s