Janda Ketemu Duda Part I

hallo readers.. akhirnya, saya post ff lagi setelah sekian lama haha

aku coba nulis lagi, dan jadinya malah abal haha

sudahlah, selamat menikmati(?) ff abal saya XP

untuk The Baby Sitter nanti2 ya, file saya hilang soalnya
maaf kalo ada typo, males edit hehe

—–….—-

Hidup ini adalah pilihan. Itu terjadi disaat kau memulai harimu. Kau memilih untuk bangun atau tetap berdiam ditempat tidur. Kau memilih untuk sarapan atau tidak sarapan, dan hal kecil lainnya. Sampai kau diharuskan untuk memilih hal yang terbaik untuk hidupmu. Begitupun denganku. Aku diharuskan memilih untuk tetap berada disisi suamiku yang pemukul, arogan, dan penjahat wanita atau memilih untuk berpisah dengannya untuk kebaikanku dan membuat jabang bayi yang ada dikandunganku tidak memiliki seorang ayah.

Tapi sekali lagi, hidup itu adalah pilihan. Pada akhirnya, aku memilih untuk berpisah dari suamiku yang sama sekali tidak kucintai dan merawat calon bayiku seorang diri.

Aku, Nam Sunghyo, sebelumnya menikah dengan pria bernama Kim Junghwan. Seorang pemilik agensi model dan seorang penjahat wanita. Karena , ternyata dia selalu meniduri setiap model yang baru bergabung diperusahaannya dengan alasan agar karir si model tersebut lancar.

Aku menikah dengannya karena perjodohan yang diatur oleh kakek kami berdua. Aku menikah diusia yang sangat muda, dua puluh satu tahun. Tepat sebulan setelah aku lulus dari universitas. Awalnya ia bersikap baik, tapi lama kelamaan sifat buruknya itu terbongkar. Dia selalu mengancamku agar aku tidak memberitahukan kelakuannya yang bejat itu pada keluarganya. Dia juga kerap melakukan kekerasan padaku jika aku melakukan kesalahan.

tapi kini kurasa pilihanku untuk berpisah dengannya adalah pilihan yang tepat. Tak peduli pada saat itu aku sedang hamil tua. Dan tak lama setelah kami bercerai, dia ditangkap oleh pihak kepolisian karena salah satu model perusahaannya ada yang melapor. And now, he’s in the jail.

—-…—-

5 years later…

“eomma,” sesosok anak kecil memanggilku.

“kau bangun Jihyun-ah,” aku mengelus rambutnya lalu mengangkatnya kepangkuanku. Gadis kecil ini adalah anakku, Nam Jihyun. Usianya sudah lima tahun. Jihyun lahir sebulan setelah mantan suamiku masuk penjara

“eomma, haus,” ucapnya sambil mengucek matanya yang masih terpejam

“arraseo, “ aku berjalan ke dapur dan membuatkan susu serta satu tangkap roti untuknya

“eomma, hari ini kita pergi kemana?” tanyanya lalu meminum susu colkat kesukaannya

“memang Jihyun mau kemana sayang,” aku dan Jihyun memang selalu pergi refreshing. Biasanya kami akan pergi ke mall dan berbelanja atau pergi bertemu sahabat-sahabatku, atau juga pergi kerumah orangtuaku. Pernah juga beberapa kali aku mengajaknya kerumah keluarga Kim, orangtua mantan suamiku. Bagaimanpun juga, Jihyun juga cucu mereka

“kita pergi ke mall eomma, aku ingin barbie baru, ya eomma?” pintanya diikuti puppy eyesnya. Aku memang selalu memenuhi permintaannya selagi aku bisa. Tapi tentu saja tidak semudah itu, Jihyun harus melakukan sesuatu terlebih dahulu. Seperti, menurutiku dan sebagainya. Biar dia tahu, kalau menginginkan sesuatu tu harus berusaha terlebih dahulu

“oke, tapi Jihyun harus mau mengikuti les matematika ya?” aku mengelus pipinya

“na shirreo! Untuk apa aku ikut les? Aku rasa aku sudah cukup pintar,” Jihyun mengerucutkan bibirnya dan memalingkan mukanya

“eomma tahu Jihyun pintar, tapi apa salahnya menambah ilmu supaya Jihyun tambah pintar?” rayuku. Aku harus berhasil kali ini. Seringkali aku memintanya untuk mengikuti les tersebut, tetapu dia selalu menolak

“shirreo eomma,”

“ayolah Jihyun, Jihyun tahu kan eomma tidak bisa selalu membantu Jihyun belajar. Eomma kan bekerja sayang,” aku benar benar memohon kali ini

Memang setelah bercerai, aku memutuskan untuk bekerja. Karena sayang sekali jika ilmu yang sudah susah susah kudapat dibangku kuliah jika tidak digunakan. Dan sekarang aku bekerja sebagai editor majalah milik perusahaan keluargaku

“arraseo eomma,” ucap Jihyun lalu memelukku. Akhirnya…

—-…—-

Tok tok tok…

“masuk,”

“direktur Cho sudah datang, aggashi,” ucap Jinri, assistenku

“suruh beliau masuk Jinri-ya,” aku merapikan beberapa berkas dimejaku, dan sedikit merapikan penampilanku. Kau harus membuat first impression yang baik untuk rekan kerjamu

“annyeonghaseyo,” ucapku begitu melihat sosok pria yang kutafsirkan berumur dua puluh tujuh tahun itu masuk kedalam ruanganku

“anyyeonghaseyo,” ucapnya sembari tersenyum. Aku pikir direktur Cho itu berumur empat puluhan, ternyata masih muda. Aku rasa akan mudah bekerjasama denganya

“silahkan duduk, Cho Kyuhyun-ssi,” aku mempersilahkannya

“ne, gamsahamnida,” ia duduk di sofa dihadapanku

—-….—-

Aku memasuki apartmenetku sambil memijit pundakku yang sedikit pegal. Setelah berbincang dengan direktur Cho tadi siang, aku masih harus menandatangani berkas-berkas perusahaan dan menghadiri bebrapa meeting. Akhirnya sebentar lagi aku akan merasakan bagaimana nyamannya kasur.

Aku memang selalu pulang kerumah sebelum jam makan malam. Dan Jihyun selalu ditemani oleh nanny yang kusewa untuk menjaganya dirumah selama weekday

“eomma wasseo,” aku berjongkok dan memeluk Jihyun. Rasanya aku kangen sekali dengannya

“eo, Jihyun tadi pergi les kan?” hari ini jadwal Jihyun memulai les matematikanya

“iya dong eomma, aku kan udah janji sama eomma,” aku mencium pipinya gemas

“terimakasih sayang,” aku mengacak rambutnya pelan

“cheon eomma, ada halmeoni eomma,” ucapnya. Untuk apa eomma kesini? Biasanya beliau datang kesini pada saat weekend

“eomma, wasseo, tumben eomma datang kesini,” ucapku lalu mengambil minum kedapur untuk eommaku

“wae? Salah kalau eomma datang menemui anak eomma dan cucu eomma sendiri,” eomma mendudukkan Jihyun dalam pangkuannya. Aku menaruh lemon tea dan beberapa biskuit dimeja

“ani, keunyang, wae kabjagi?” aku duduk disamping eomma dan mengganti channel TV dari acara kartun menjadi TV series favoritku Cougar Town. TV series itu sangat menarik.

“Jihyun-ah, kau mau punya appa baru?” pertanyaan eomma membuatku yang sedang meminum lemon tea tersedak

“eomma, apa apaan sih?” aku menaruh cangkir teh yang kupegang

“Hyo-ah,” ucap eomma seraya menurunkan Jihyun dari pangkuannya lalu beralih menghadapku

“wae eomma?” kenapa suasananya jadi serius seperti ini?

“Jihyun-ah, mau nggak punya appa baru?” sekali lagi eomma bertanya pada Jihyun. Jihyun mengangguk. “emang halmeoni bisa kasih Jihyun appa baru?” tanya Jihyun polos

“bisa dong sayang, bahkan nanti Jihyun punya oppa, mau nggak?”

“mau! mau! mau!” ujarnya senang “yea! Aku punya appa dan oppa! Jadi nanti teman temanku nggak akan ada yang ngejek lagi eomma,” ucapnya dengan mata berbinar dan memelukku. Jadi, selama ini Jihyun diejek teman temannya karena tidak memiliki ayah?

Kurasakan tangan eomma menyentuh tanganku. “Hyo-ah, eomma tahu kau pasti mengerti maksud eomma. Kau sudah terlalu lama sendiri untuk mengurus Jihyun Hyo-ah,” ucap eomma masih dengan nadanya yang serius

“na gwenchana eomma. Aku bisa mengurus diriku dan Jihyun sendiri,” aku memalingkan muka

“eomma tahu selama ini kau sanggup merawat Jihyun sendirian, tapi eomma juga tahu kalau sebenarnya kau itu kesepian Hyo-ah, dan kau lampiaskan itu dengan bekerja,” eomma membalikkan wajahku kembali menghadapnya

“coba dulu ya sayang,” pintanya lalu mengelus pipiku

“eomma, aku nggak mau lagi dengan asal menerima perjodohan yang dibuat keluarga kita, aku nggak mau kaya dulu lagi eomma,” aku menitikkan air mata mengingat pengalaman pahitku dengan pernikahan. Aku hanya tidak ingin hal seperti dulu terulang lagi

“mianhae sayang, bukan maksud eomma untuk mengingatkanmu akan masa lalumu. Kali ini eomma yakin kalau pilihan eomma ini tepat,”

“tapi eomma…” ucapanku terputus, aku bingung harus bicara apa. Tapi aku juga memikirkan Jihyun yang selama ini diejek teman temanya, dan Jihyun yang sudah terlanjur senang karena akan mempunyai appa dan oppa baru. Eh? Oppa?

“apa maksud eomma dengan Jihyun akan punya oppa baru?”

“pria itu duda sayang, dia memiliki satu anak lelaki. Dia satu tahun diatas Jihyun. Istrinya meninggal saat melahirkan anaknya enam tahun yang lalu,” semua penjelasan eomma seakan menjawab pertanyaanku

“mau ya sayang, kau dan pria itu sama sama single parent, pasti dia juga mengerti perasaanmu. Mau ya? Demi Jihyun Hyo-ah,” aku hanya diam. Entah harus menerima atau menolah permintaan eomma kali ini. Kalau aku menolak, aku pasti akan membuat Jihyun yang sudah teranjur bahagia menjadi sedih. Tetapi kalau aku menerima ini, aku takut kejadian seperti dulu terulang lagi.

Tapi hidup itu adalah pilihan. Dan aku harus memilih. Aku mengangguk “ne eomma,” jawabku. Semoga pilihanku ini tepat untukku dan juga untuk Jihyun…

28 thoughts on “Janda Ketemu Duda Part I

  1. Janda ketemu duda. Seruuuu!!
    Lanjut lanjut lanjut!!
    Apakah duda itu cho kyuhyun (?)
    *gaya mikir :D

    Yup, setuju sama author. Hidup itu memang pilihan! :)

  2. Daebak !
    feeling wktu bca ni ff ky’y duda itu si Kyu deh, cast’y jg Kyu! Seru nih,, lnjutan’y jgn lama2 !!!

  3. aduhh akhirnya si kyu jadi Duda keren lagi di ff
    wkwkwkwk.. entah knp jujur aku suka bgt klau kyu hyun jadi duda wkwkwkk *don’t kill me,please !! hahaha..*
    jgn lama-lama updatenya thor

  4. waaaaaaaaaaaah kayanya seru neh.
    aih ga sabar baca lanjutannya, kayanya tebakan semua sama deh, dudanya ntu kyu. aihhh jadi duda keren nih si kyu.

    lanjoooooottt…..

  5. judulnya bikin penasaran, Janda ketemu Duda :D
    setelah dibuka, ceritanya bagus. jarang2 main castnya janda sama duda, hahaa…
    ini dudanya pasti kyuhyun nih XD
    lanjut baca ke part 2 dulu ^^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s