Dandelion #2 (Why, Baby? Sequel Edition)

sebelumnya…

#1

 

Dandelion #2 (Why, Baby? Sequel Edition)

…I don’t know you, but I want you…

 

Aku berhenti, mempersilahkannya berjalan dulu agar tidak bertabrakan denganku. Aku tahu aku harus mengalah pada orang yang sedang mabuk jika tidak ingin menimbulkan masalah dengannya. Tetapi ketika dia sampai tepat di depanku, tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu dan membuatnya terjatuh.

Cup.

Andwae… Ciuman pertamaku…

“Yunho-ya!”

Namja bernama Yunho tersebut benar-benar berada di atasku, dan menciumku. Dia terlihat sedikit bingung dan terkejut. Dengan segera dia berdiri dan membantuku berdiri juga. “Eh, maaf. Aku benar-benar minta maaf.”

Aku hampir memarahinya jika temannya tidak segera menghampiri kami. “Maafkan teman kami, nona. Dia sedang mabuk.”

Aku mengusap bibirku dengan menggunakan tissue yang berada di dekat meja bar. “Gwaenchana!” teriakku marah. Kulemparkan tissue tersebut tepat di wajah namja yang merebut ciuman pertamaku itu, kemudian berjalan keluar melewati mereka.

“Yaish~ Benar-benar hari yang sial!”

***

“Jika f(x)=2x+3 dan g(x)=5x-1, maka fog(2) adalah…”

Aku mendengarkan penjelasan dari Yang sonsaengnim dengan seksama. Aku sangat menyukai pelajaran matematika. Ah, bukan. Sebenarnya bukan karena pelajarannya. Tetapi karena Yang sonsaengnim yang tidak pernah memberikan pekerjaan rumah. Teman sekelasku pun kebanyakan menyukai pelajaran ini karena hal yang sama. Berbeda dengan pelajaran sejarah. Aku hampir selalu membolos jika pelajaran sejarah.

“Sojung-ah…”

Aku menoleh. Sebuah pensil mengenai pipiku. “Ya!”

GO tersenyum. “Jangan terlalu serius!”

“Tidak lucu!” aku segera berbalik, kembali berkonsentrasi pada penjelasan Yang sonsaengnim. Baru sebentar aku berbalik, kepalaku dipukul oleh seseorang dari belakang.

“Sojung-ah aku punya berita bagus!”

Aku menoleh lagi. “Apa?”

GO mendekat. “Tempat kerja baru untukmu!”

***

“Toko buku?”

GO mengangguk senang. “Otte? Kau bisa menghabiskan waktumu dengan membaca dan mengerjakan tugas. Jadi kau tidak perlu mengerjakannya di sekolah sampai larut malam. Di sana kau juga bisa membaca buku gratis.”

Toko buku… Aku sedikit ragu. Selama ini sepulang sekolah, aku selalu mengerjakan tugas di kelas sampai malam, kemudian pergi ke bar untuk bekerja. Tetapi karena aku sudah kehilangan pekerjaan itu, beberapa hari ini aku berada di sekolah sampai larut malam bahkan sampai gerbang sekolah terkunci. “Kau yakin?”

“Kau meragukanku? Kau tidak akan dipecat karena bekerja di toko buku, Sojung-ah.”

GO benar. Tidak ada yang melarang pelajar SMU bekerja di toko buku. Dan membaca buku gratis… Bukankah sangat menyenangkan?

“Baiklah. Kapan aku bisa bekerja?”

“Nanti, sepulang sekolah.”

***

Hari itu, sepulang sekolah. Aku segera menuju ke toko buku bersama GO. Dan meskipun baru satu hari aku berkerja di sana, aku merasa hidupku akan segera berubah menjadi lebih baik.

Hampir enam bulan, dan aku merasakan perubahan itu. Nilai-nilaiku menjadi lebih baik. Dulu aku sering membolos pelajaran sejarah, sekarang aku sangat menyukainya. Pelajaran sejarah memberikan banyak sekali pelajaran untuk kehidupanku. Aku tahu bagaimana cara menyelesaikan suatu masalah dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku menjadi sedikit kritis, sering berdebat dengan guru, dan sedikit terbuka dengan orang lain. Di toko buku aku sering membaca buku-buku historikal, dan beberapa buku tentang hukum.

Satu lagi perubahan yang kualami. Aku bisa mengontrol emosiku, dan tidak gampang menangis saat appa dan omma bertengkar. Berada di toko buku membuatku bisa mengontrol diriku karena sering bertemu dengan pelanggan yang beragam.

Aku tidak pernah menangis lagi. Dan sepertinya… Sedikit demi sedikit… Aku menjadi Hwang Sojung yang dulu. Sebelum semuanya berbalik memusuhiku.

Tetapi semua pasti ada baik dan buruknya, kan?

Aku tidak tahu mengapa, dan siapa yang memulai. Tetapi aku merasa, hubunganku dan GO sedikit renggang. Kami hanya bersama ketika jam istirahat. Saat pulang sekolah aku segera bekerja dan tidak ada waktu untuk mengirim pesan. Atau, karena terlalu asyik membaca buku, aku tidak meneleponnya. GO pun begitu. Entah apa yang dilakukannya, tetapi aku tidak pernah lagi menerima pesan darinya. GO tak pernah sekali pun mengunjungiku atau membawakan makanan untukku.

Hari ini, saat berada di sekolah pun, GO terlihat sedikit menjauhiku.

Aku merasa, sedikit kehilangannya…

***

“Apakah buku ini yang anda cari, tuan?”

“Oh. Benar. Akhirnya aku menemukannya. Aigo… Terimakasih, nona!”

Aku mengangguk. Setelah melihat pelanggan itu membayar di kasir, aku segera mendorong troli buku menuju rak berikutnya. Hari ini banyak buku baru yang datang dan aku harus segera meletakkannya di rak.

“Nona…”

Aku menoleh. “Ada yang bisa saya bantu?”

Seorang namja yang sepertinya sudah tidak asing lagi, berada di depanku.  Aku mengerutkan keningku, mengingat apakah aku pernah bertemu dengannya karena dia sangat familiar. Sebelum aku mengingatnya, dia dengan cepat berkata, “Omo! Kau?”

Aku ingat! Ciuman pertamaku!

“Kau bekerja di sini?” tanyanya.

Aku segera berbalik. Kudorong troli yang berisi buku-buku baru itu dengan sekuat tenaga. Mengapa kami bisa bertemu lagi?

“Tunggu! Mengapa menghindariku? Ya!” dia mengejarku. Aku menoleh, melihatnya yang semakin dekat denganku. Aku semakin cepat mendorong troli buku ini.

“Ya! Tunggu!” dia berhenti di depanku. Napasnya terengah-engah. Di belakangnya kulihat pemilik toko yang memandang kami dengan tatapan yang aneh. Omo! Apa yang sedang kulakukan? Berkejar-kejaran dengan pelanggan toko?

Aku segera menunduk, meminta maaf padanya. “Mianhae. Ada yang bisa ku bantu?”

Dia masih mengatur napasnya. “Hhh… Aku… Membutuhkan buku tentang dance. Dimana bisa kutemukan?”

Aku menunjuk ke sebuah rak. “Disana…”

“Disana?” tanyanya. Aku hanya mengangguk. Tiba-tiba dia menarik tanganku keras. “Tunjukkan yang benar dimana tempatnya…”

“Ya! Lepaskan!”

Dia masih menarik tanganku. “Dimana?”

Dengan sekuat tenaga ku kibaskan tanganku. “Lepaskan!” kami berhenti. Aku melihat bekas tangannya yang memerah di pergelangan tanganku. “Aku bisa menunjukkannya tanpa paksaan, tuan…” kataku, kemudian berjalan mendahuluinya. Sebenarnya aku ingin memarahinya. Tetapi aku tidak ingin kehilangan pekerjaan lagi, karena itu kuurungkan niatku untuk memarahinya.

Aku menunjukkan rak tempat buku yang dicarinya. “Kau bisa menemukan bukumu di sini.”

Dia mengangguk. “ Gomawo.”

Aku tersenyum kecut. Terimakasih katanya? Lucu sekali.

“Chamkkan!”

Aku menarik napas panjang. “Ada apa lagi, tuan?” kutekankan kata tuan untuk memanggilnya meskipun aku tahu dia seorang siswa sama sepertiku.

Dia mendekat. “Mianhae. Aku tidak bermaksud menyakitimu.”

Aku mengangguk. “Gwaenchana… Aku di sini memang sebagai pelayan, kan?”

“Ani! Bukan itu maksudku! Aku hanya ingin meminta maaf tentang kejadian beberapa bulan yang lalu… Kau ingat… Itu…” katanya perlahan. Tangannya membuat tanda seperti dua orang yang sedang berciuman. “Aku benar-benar tidak sengaja…”

Aku mengangguk lagi. Bagaimana bisa aku melupakan kejadian memalukan itu? “Gwaenchanayo, tuan. Selamat membaca!”

***

Lagi-lagi aku memanjat sebuah tangga di sebelah rumah untuk masuk ke kamar tidurku. Meskipun omma sudah pernah memergokiku memanjat tangga ini, tetapi dia tidak pernah berusaha menyingkirkannya. Aku berterimakasih untuk itu. Karena jika mereka menyingkirkan tangga ini… Aku tidak akan bisa pulang larut malam lagi.

Tetapi sepertinya mereka tidak peduli? Mereka sudah memergokiku pulang malam juga. Setelah hari itu, mereka diam saja dan tidak pernah melarangku atau mengkhawatirkanku. Aku berterimakasih untuk itu juga. Karena jika mereka melarangku… Aku tidak akan bisa hidup lama-lama dalam ‘neraka’ ini.

Kau masih bertanya apakah aku membenci orangtuaku?

Ya. Aku masih sangat membenci mereka.

Tiba-tiba aku kehilangan keseimbangan. Kaki kiriku terpeleset, dan aku terjatuh. “Argh!”

Bug.

Eh? Mengapa empuk?

“Hwang Sojung… Argh… Kau… Berat…”

Aku membuka mataku perlahan. Tubuhku menindih tubuh seorang namja. “Omo! GO-ya!” Aku segera bangun. “Mianhae. Gwaenchana?” kuulurkan tanganku pada GO. “Untuk apa kau malam-malam berada di sini?”

GO bangun. “Argh… Ternyata kau berat juga, Sojung-ah.” GO membersihkan pakaiannya yang kotor karena debu. “Aku tidak bisa tidur.”

Aku melihat siku tangannya yang sedikit berdarah. “Omo! Ya! Aku akan mengambil obat P3K di kamar. Tunggu di sini!”

Baru saja aku naik ke sebuah anak tangga, GO menarik bajuku, membuatku turun lagi. “Tidak usah. Ayo kita duduk di ayunan saja.”

***

Angin malam yang menerpa wajahku lembut tidak bisa meredam emosiku yang semakin memuncak. “Jepang…” lirihku. “Jadi karena itu kau mengirimku ke toko buku, hah?”

GO ikut berdiri. “Ani! Bukan karena itu!”

“Lalu?”

GO diam. Aku tahu dia bingung akan menjawab bagaimana. “Tidak bisa menjawab, kan?” Kataku sebal. Aku segera berbalik, meninggalkan GO yang sedang memikirkan jawaban atas pertanyaanku itu.

Dia akan pergi. Satu lagi orang yang kusayangi akan pergi meninggalkanku.

“Marah saja jika kau ingin marah, Sojung-ah…” kata GO menghentikan langkahku. “Aku tidak mengirimmu ke toko buku karena itu. Oke, mungkin itu salah satunya. Tetapi alasan utamaku karena… Aku ingin kau kembali menjadi Hwang Sojung yang ceria sebelum aku pergi…”

Tsk~ Alasan macam apa itu? Katakan saja jika ingin meninggalkanku!

“Kau tahu, saat aboji mengatakan kami akan pindah ke Jepang, hal pertama yang kupikirkan adalah kau… Aku tidak bisa meninggalkanmu dengan keadaan seperti itu, Sojung-ah. Karena itu, sebelum aku pergi. Aku ingin kau kembali menjadi Sojung yang dulu… Dan usahaku berhasil, kan?”

Aku hanya bisa diam, mendengarkan semua penjelasan yang diberikannya.

“Kau pasti menyadari itu, setelah kau bekerja di sana…” GO berjalan mendekatiku. “Kau bisa sedikit membuka dirimu dengan orang lain… Kau beberapa kali tersenyum… Kau sudah jarang menangis… Kau tidak pernah melihatku dengan tatapan, GO-ya, aku harus bagaimana?

Benar. Aku sadar setelah bekerja di sana aku sudah berubah. Dan kalimat terakhirnya… Aku memang selalu menggantungkan diriku pada GO. Aku selalu bertanya aku harus bagaimana, apa yang harus kulakukan, aku harus minta pertolongan pada siapa, semua. Aku selalu bergantung pada GO.

Tiba-tiba aku merasakan pipiku basah. Sial. Aku tidak boleh menangis! “Kapan kau akan pergi?”

“Setelah ujian kenaikan kelas.”

Ujian kenaikan kelas? Bukankah itu satu minggu lagi?

“Kau tidak mengapa, kan?”

Kuusap airmataku perlahan. “Ini sudah malam. Aku harus segera pulang. Sampai jumpa besok!”

Selalu ada perpisahan, dan aku membencinya. Tetapi aku bisa apa? GO tidak mungkin berada di sampingku selamanya.

***

Ujian kenaikan kelas telah usai. Selama beberapa hari ini kuhabiskan waktuku bersama GO lebih lama mengingat sebentar lagi dia akan pindah ke Jepang.

“Sojung-ah!”

GO berlari mendekatiku. Ditangannya sudah ada dua botol soju dan sebuah bungkusan. Malam ini kami akan minum bersama untuk merayakan nilaiku yang baik, sekaligus pesta perpisahan kecil untuk GO.

“Aish… Lama sekali!”

“Aku harus berbohong pada aboji dulu. Mianhae.”

“Berbohong? Sejak kapan kau suka berbohong?”

“Sejak mengenalmu…” GO membuka botol soju. “Kita minum dulu. Kau kuat minum, kan?”

“Berani taruhan?”

“Apa?”

Aku tersenyum licik. “Siapa yang menghabiskan soju ini lebih lama, dia harus membelikan makanan di kedai itu!” tunjukku pada sebuah kedai di depan toko buku.

“Baiklah. Bersiap!” GO menyerahkan botol soju padaku. “Satu… Dua… Tiga!”

Aku segera meminum soju dengan cepat. Aku tidak mau membelikannya makanan karena belum mendapatkan gaji. GO meminum soju perlahan sambil memperhatikanku. Apa dia akan mengalah? Aku tidak peduli. Aku harus menang!

“Selesai!” teriakku.

GO berhenti meminum sojunya. “Aish… Baiklah, baiklah. Aku akan membelikanmu makanan!” rutuknya. Kemudian dia berdiri. “Tunggu di sini, Sojung-ah.”

Aku mengangguk. Kulihat GO berjalan menuju kedai makanan di seberang toko buku. Dia semakin jauh, meskipun aku masih bisa melihatnya. Besok, dia akan berjalan menjauh, da aku tak akan melihatnya lagi. Lagi-lagi airmataku menetes. “Besok dia pergi, oppa… Aku harus bagaimana?”

***

Aku meneguk botol terakhir soju yang dibeli GO di kedai makanan. Dia kembali membawa dua botol soju lagi, bukan makanan seperti yang dijanjikan. Mungkin dia ingin membuatku mabuk? Tetapi beruntung aku tidak mabuk. Aku tidak tahu mengapa aku kuat sekali minum soju padahal ini pertama kali aku meminumnya.

“Berat sekali meninggalkanmu, Sojung-ah…”

Aku menoleh. GO terlihat baik-baik saja, tidak mabuk sedikit pun. “Kau terlalu menyayangiku?” tanyaku memastikan. Aku kurang yakin dengan perkataannya tadi. tidak biasanya dia berkata seperti itu.

“Benar. Terlalu menyayangimu…” Tiba-tiba GO menoleh, memandangku sejenak. Dia tersenyum. Tangannya mengacak poniku perlahan. “Jeongmal mianhae… Tetapi aku bisa meninggalkanmu dengan bahagia… Kau sudah berubah menjadi Hwang Sojung yang dulu…”

“Benarkah?”

GO mengangguk. “Kau pasti bisa, Sojung-ah. Nikmati hidupmu karena hidup ini indah…”

“Arasseo, oppa. Aku akan menikmati hidupku…”

Aku pernah kehilangan seseorang yang kusayangi. Rasanya lebih sakit daripada saat ini. Mengapa aku harus bersedih? Aku masih bisa bertemu dengan GO suatu hari nanti.

Sepertinya malam ini indah sekali, meskipun besok namja di sebelahku itu meninggalkanku. Dia meninggalkanku dengan semangat yang baru. Semangat untuk menjadi Hwang Sojung yang ceria, seperti dulu.

Aku merasa GO mengeser duduknya mendekatiku. Kulihat bibirnya semakin dekat dengan bibirku.

Cup.

Aku menutup mataku, merasakan ciuman GO yang lembut dan hangat di malam yang sedikit dingin ini. Seandainya beberapa bulan yang lalu namja bernama Yunho tidak merebut ciuman pertamaku, pasti ini adalah ciuman pertamaku.

Dan aku tidak bohong. Sebenarnya ciuman seperti ini yang kuinginkan.

Lembut, dan hangat.

GO melepas ciumannya. “Aku ingin memberikan ciuman pertamaku pada orang yang tepat sebelum pergi ke Jepang…” bisiknya. Dia masih belum beranjak dari depanku. Tiba-tiba dia menciumku lagi.

Cup.

“Dongsaeng-ah…” lirihnya. Tangannya lagi-lagi mengacak poni rambutku.

Aku tertawa kecil. “Tapi ini bukan ciuman pertamaku, oppa…” Kubenarkan poniku menggunakan jari.

“Mwoya? Kau sudah pernah berciuman?”

Aku menggeleng cepat. Bodoh! GO tidak boleh tahu tragedi di Candy bar! “Lupakan saja!”

GO menyipitkan matanya, memandangku penuh selidik. Aku segera mengalihkan pandanganku. “Lupakan, oppa…” lirihku.

“Gomawo, Sojung-ah. Meskipun sedikit kecewa ternyata itu bukan ciuman pertamamu juga… Aku menyayangimu. Aku akan sering mengirim e-mail.”

Aku mengulurkan kelingkingku. “Janji?”

“Janji.”

***

GO sudah pergi beberapa minggu yang lalu. Dia memberiku sebuah cincin berwarna putih. Aku memakainya sebagai liontin, karena aku terlalu ceroboh untuk memakai cincin.

Aku mulai terbiasa menjalani hari-hariku tanpa GO. Benar-benar berubah, dan menurutku lebih baik daripada GO berada di sampingku karena aku akan terus bergantung padanya. Setidaknya jika omma dan appa bertengkar, aku tidak menangis lagi. Aku lebih fokus pada pelajaran karena aku ada di tingkat akhir SMU.

Aku masih menyapu lantai toko buku ketika aku mendengar seseorang membuka pintu toko.

“Toko ini sudah tutup, tuan…”

“Hai.”

Aku menoleh. Tubuhnya tinggi tegap. Rambutnya yang sedikit basah karena berkeringat itu diikatnya ke belakang. Mungkin dia baru pulang berlatih. Seingatku dia adalah salah satu murid training. “Untuk apa datang kemari?”

“Aku… Hanya ingin bertemu denganmu.” Katanya lirih.

Aku mengerutkan keningku. “Aku?”

Tiba-tiba dia berjalan mendekat. “Mau berteman denganku?”

Berteman? Apa aku tidak salah dengar? Aku bahkan belum tahu siapa dia!

Dia mengulurkan tangannya. “Yunho.”

Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang baik yang akan terjadi jika kuulurkan tanganku, menerima tawaran berteman dengannya. Dia bahkan tidak tampan. Tetapi bukankah berteman bukan karena dia tampan? Aku pun belum mengenalnya. Aku belum tahu dimana rumahnya, siapa dia, berapa umurnya… Meskipun kami sudah pernah berciuman. Lantas, karena apa? Mengapa sesuatu yang baik itu menyuruhku mengulurkan tanganku? Seakan-akan, jika aku tidak membalasnya, aku tidak akan pernah bahagia selamanya.

“Sojung.”

Mungkin, dia bisa menggantikan GO sebagai oppaku?

Atau mungkin… Lebih dari sekadar oppa…

-I Don’t Know U Bt I Want U, END-

mohon dijawab yak…

misalnya L~ bikin kumpulan FF atau novel dengan harga MAKSIMAL 30ribu (belum tau berapa pastinya) format PDF (kayak eBook) kirim via eMail melalui attachment file jadi ngga ada biaya pengiriman, bulan september nanti, kira2 pada mau beli ngga??

12 thoughts on “Dandelion #2 (Why, Baby? Sequel Edition)

  1. wahhhh….author L,GO kasian bgt :(
    tu si sojung pasti kaget bgt kmana2 ada si yunho :D
    Hahahahaha
    yunho udah first sight tuh :D
    HAHAHHAHAHA

    tapi aku tertarik wktu yunho najak kenalan n udh temenan nieh :D
    Hiihihihi :D
    Memang perjalanan cinta yg panjang :D

    Oh ya,si GO awalnya d anggap sbg oppa,tp kek nya ad benih cinta ya :D *Sok tau XP

    MNRT AQ 20 rebu juga boleh tu, formatnya PDF,NGIRIM LEWAT EMAIL,gratiskan,cuma yg pasti hak cipta terjaga author L :)
    Keep writing n hwaiting :D

  2. Wah
    Oppa kok malah nyuri2 ciuman adeknya sih?
    Hahahahaha yuno aneh banget
    Pasti mau lah, onn, ff2 onn kan bagus2

  3. Aduh aduh,, aq ga suka matematika! Suami aq tuh yg ska *kyu* :)
    WAAAAH~ brp kali tuh GO poppo’a?! [o-0]
    lbh dr sekedar oppa itu mh! LANJUUTT~

    Uknow vs. GO

  4. GO sbnrnya suka sojung yah??
    knp bilang ke GO kalo itu bukan ciuman pertamanya?
    gak cerita demi bikin seneng sebentar harusnya gak papa kan.

    saeng, eon suka FF mu,
    gaya bahasanya mudah dimengerti soalnya.
    gak bikin eon harus baca ulang biar ngerti.
    kayaknya kalo gratis eonni lbh mau deh ama FF mu.
    ekekekeekek

  5. Baru baca, tapi mo nanya: L~ jadi ga jualan bukunya? Kumpulan Ff kan? Berarti ga berseri kan? Banyak cerita dalam 1 buku kan? Mauuuu.. Mauuu… Maksimal 30rb kan? Beneran deh mau. Jadi ga jualannya?

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s