[Freelance] Gone With The Wind part 2

Cast:
Shim Na Eun
Ryeowook SuJu
Eunhyuk SuJu
Minor Cast: SM Town

“Kalau bukan kemarin, mungkin hari ini. Kalau bukan hari ini, maka suatu saat nanti. Pasti.”

********

Na Eun POV

“Permisi?” Aku mengetuk ruang teater tempat Wookie bekerja. 2 hari dia tidak pulang, tanpa kabar.

“Omo. Annyeong haseyo, nyonya Kim..” Salah satu murid teater itu membungkuk padaku.

“Bisa kita bicara?” Kataku sambil melirik ke sekitar teater, mencari Wookie.

“Oh ne…”

Kamipun pergi ke salah satu kelas di dalam teater yang sepi.

“Kau tau dimana Ryeowook? Dua hari dia tidak pulang ke rumah..” Tanyaku pada gadis itu. Dia menunduk dan menggeleng.

“Oppa juga tidak mengajar lagi sejak kemarin. Padahal kemarin dia masih mengajar piano..”

“Jinjja?”

“Ngg.”

“Dia pergi atau apa?” Kali ini dia tampak berpikir.

“Terakhir dia bertemu dengan seseorang kemudian menghilang begitu saja.”

“Ah? Siapa yang dia temui?”

“Menurut asistennya, oppa berteriak hyung berkali2 saat bertemu orang itu. Mungkin itu kakaknya?”

Kucerna informasi itu dengan perlahan.

Wookie… Tidak punya keluarga. Dia bilang sendiri, kalau dia cuma anak yatim piatu dan tinggal di jalanan.

Bagaimana ada hyung dalam hidupnya? Disini juga dia yang paling senior dan paling besar.
Siapa itu??

“Terima kasih infonya, Yun Gu. Aku akan kembali kalau sudah bertemu dengan Ryeowook..”
Aku bangkit dan membungkuk dengan tatapan kosong.

“Ne. Nyonya Kim…”

Kulangkahkan kakiku dengan diseret. Semua membuatku lemas.

Kemana Wookie?
Haruskah dia menghilang disaat aku begitu ingin bersamanya?
Tidak. Tuhan, Kau tidak boleh mempermainkanku seperti ini. Ini terlalu menyakitkan kalau tidak bertemu dengan Wookie.

Uri Wookie…

*****

Niiit.

Kutolehkan kepalaku ke arah telpon yang baru saja berbunyi.

“Na Eun, ini aku, Ryeowook.” Dalam hitungan detik aku berlari ke arah telpon itu. Kubaca tanggal penerimaan pesan, itu tiga jam yang lalu, saat aku pergi ke teater. Oh sial.

“… Jangan cari aku, dan jangan coba2 menelpon polisi. Aku tidak apa2, aku baik2 saja, tentu saja tanpamu. Kau terlalu memberatkan hidupku dengan menginginkan aku untuk terus bersamamu. Kau tau jiwaku, jiwa yang bebas. Kau membuatku jenuh, Na Eun.

Memang aku mencintaimu, tapi sudah cukup dan jangan ganggu aku lagi, bikin repot. Bye.”

Niiit……

Jantungku mau copot dan air mataku menetes perlahan ke lantai. Wookie yang membuatku meninggalkan segala hal yang indah, sekarang telah balik meninggalkanku.

Takdirku memang sendiri.

“Wookie…”

Dan dia meninggalkanku. Benar-benar tidak pernah kembali.
Wookie yang sangat, sangat aku cintai..
Dia pergi entah kemana dan terus saja menyiksa batinku.

*********

“Kau masih menginginkannya?” Eunhyuk bertanya dengan raut sangat iba.

“Masih.” Aku menatap lurus ke depan dengan posisi duduk kaku di bangku kampus. Sekarang kelas sudah sepi, hanya tersisa aku dan Eunhyuk.

“Na Eun… Dia bilang sendiri kalau dia tidak membutuhkanmu lagi. Kau taukan itu kata lain dari membenc..”

“Aku mencintai Wookie, Hyuk. Aku menyayanginya. Setidaknya berikan aku satu kesempatan untuk memastikan dia benar-benar aman. Satu kesempatan saja, Hyuk….”
Kupalingkan wajahku yang merah ke arah jendela di samping bangkuku agar tidak dilihat Eunhyuk bahwa aku menangis.

Sudah enam bulan. Bukan waktu yang singkat kan?

Eunhyuk POV

“Jangan Na Eun. Dia pria jahat. Dia yang membuatmu menangis, dia yang membuat cintanya begitu merana. Itulah pria jahat. Jangan, Na Eun. Hentikan….”

Dan tiba-tiba Na Eun menangis sangat keras. Dia meraung dengan suara yang terdengar sangat, sangat sakit.

Aku bahkan tidak bisa mengelus rambutnya. Aku juga merasakan kesakitannya yang begitu mendalam dan membuatku sendiri tidak berkutik.

Benar. Hatiku sangat mengutuk pria yang membuat gadis ini menangis. Pria bernama Wookie itu, aku sangat ingin menghancurkannya. Andaikan aku bisa menghapuskan ingatan Na Eun.

Aku akan lakukan apapun untuk itu.

******

Sering bermimpi buruk.
Jarang makan.
Matanya kosong.
Jarang tertawa.
Senyumnya jadi sinis.
Banyak orang yang menjauhinya karena dia terlihat aneh.
2 tahun seperti itu. Terus seperti itu.
Na Eun sudah mati di hatinya.

******

*flashback: off*
-back to the train station-

Ryeowook POV
Akhirnya teriakan itu berhenti. Begitu juga dengan langkahku.
Na Eun… Sayangku…. Mianhae….

2 tahun aku meninggalkannya, semoga dia menjadi kupu2 yang bersinar. Aku menengok ke belakang untuk melihat Na Eun.

Tidak. Dia tidak bersinar.
Dia semakin kurus dan pipinya tidak chubby lagi. Lihat tangannya, tinggal tulangnya. kalau ditepuk sedikit saja tampaknya dia akan langsung pingsan.

Kalau aku egois, aku akan berlari ke tempatnya dan akan membawanya lari ke tempat lain. Tapi tentu saja, itu akan membuatnya terbunuh dengan statusku sebagai ketua mafia. Lucu memang menyebut hal yang hanya pantas terjadi di dalam film-film fantasi.

Sebaiknya aku jalan lagi, aku tidak boleh menyiksanya seperti ini. Lagipula targetku sudah dekat, kalau aku sibuk menangis seperti cowok cengeng, maka misiku kali ini akan gagal.

********

Na Eun POV

“Kau sudah pulang?” Tanya Eunhyuk yang sedang tiduran di sofa dengan kaus longgarnya.

“Kalau aku belum pulang, lalu aku siapa? Pertanyaan bodoh.” Kulempar sepatuku dengan asal dan duduk di lantai di depan sofa tempat Eunhyuk berada.

“Wah.. Apa yang terjadi? Kayaknya kau begitu kesal, tumben sekali. Ada apa chagi?”

Eunhyuk melompat duduk di sebelahku dan memperhatikan wajahku dari jarak yang amat dekat dengan tampang sangat bingung.
Oke, aku tidak bisa marah pada Eunhyuk. Selamanya dia akan begitu, hidup seenaknya sendiri. Panggil aku chagi dan segala macamnya. Tapi karena dia lucu, aku selalu jatuh hati padanya.
Lagian dia orang yang menemaniku selama Wookie tidak ada. Ya, Eunhyuk tampak seperti pengganti Wookie, tapi tidak. Dia tidak akan menggantikan Wookie, selama apapun dia menemaniku.

“Ahaha ani.. Hanya saja tadi ada yang menyebalkan di kantor..” Kemudian aku menoleh ke arah TV di hadapan kami, tidak mau melihat wajahnya dari dekat lagi. Karena jantungku selalu berdegup kencang dan wajahku akan menghasilkan warna merah yang berlebihan. Aku tidak mau merasakan hal itu saat bersama Eunhyuk. Aku harus menjaga perasaan itu untuk Wookie.

Kuhembuskan nafasku dan berusaha fokus pada acara televisi di depanku.
Ekor mataku menangkap Eunhyuk yang masih mengamatiku dengan jarak yang sama.
Aku menoleh padanya dengan alis bertaut bingung. Dan tiba-tiba Eunhyuk memelukku dengan tubuhnya yang hangat, menenggelamkanku di dalam dadanya yang bidang.

*******

Wookie POV
aku sampai di tempat ini. Na Eun ada di dalamnya.

Kusandarkan kepalaku di pintunya, mendengar setiap suara yang mungkin untuk kudengar. Aku sangat-sangat merindukannya sampai2 kakiku membawaku ke apartemennya.

“YA LEE HYUK JAE! Jangan peluk-peluk!!!”

“Ih~ Na Eun panggil aku dengan Eunhyuk! E-U-N and H to the Y to the U to the K, Eunhyuk!”

“Aish! Susah ah!”

Jariku meremas daun pintu.
Si-siapa itu Eunhyuk?

Kali ini kuku-ku ikut menggores pintunya.
Rasa marahku semakin meluap. Beraninya namja itu tinggal bersama Na Eun, menggantikan posisiku yang mencintainya?!!

Hh hh..

Nafasku terengah2 seiring hatiku dipenuhi kebencian.

“Na Eun…. Keluarlah….” Bisikku pelan dan mataku mulai terasa basah.

Kupejamkan mataku agar air mataku tidak keluar, dan akhirnya aku putuskan untuk berjalan pergi. Aku benci keadaan tidak berdaya ini.

Tapi… Aku sudah meninggalkan Na Eun dengan paksa dulu dan menyakiti hatinya, mungkin ini adalah balasannya. Wookie, ini adalah balasan untuk kejahatanmu.

Eunhyuk POV

“Aish! Susah ah!!” Na Eun menjitak keningku dan meronta keluar dari pelukanku. Hihi, karena tadi dia tampak Bad Mood, dia harus mendapatkan pelukanku!

Aku memandang Na Eun lagi tapi dengan sembunyi-sembunyi. Inginnya sih aku menciumnya, tapi dia bisa mencekikku.

Saat aku memandangnya seperti itu tiba-tiba Na Eun menoleh ke belakang, tempat pintu berada.
Dia memandangi pintu itu sangat lama dengan alisnya yang mengernyit.

“Ada apa Na Eun?” Tanyaku. Na Eun tidak menjawab, dia masih serius memandangi pintu itu.

Kemudian dia berkata, “Kau tidak mendengar seseorang memanggil namaku dari luar?”

Aku meliriknya bingung dan menggeleng. Dan Na Eun bengkit dari posisi bersilanya lalu menghampiri pintu. “Wookie…” Bisiknya sangat lembut.

Hh. Dia pikir suaminya yang jahat itu akan menengoknya setelah selama ini dia ditinggalkan?

Sebelum dia berimajinasi terlalu jauh, aku harus menghentikannya. Kuraih tangannya dan menariknya hingga tubuhnya menghadap ke arahku.

Aku memberikannya tatapan jangan-pergi-kesana dan menggeleng-geleng.
Na Eun yang awalnya tanpa ekspresi tiba-tiba merengut marah dan menarik tangannya dari genggamanku.

“Jangan larang aku. Kau bukan siapa-siapa.” Secepat kilat Na Eun pergi dariku dan berlari keluar entah kemana.

Melihat itu kuhembuskan nafasku dengan lelah dan menghempaskan tubuhku ke sofa. Kutekan kepalaku dengan jari telunjuk untuk menghentikan rasa pening karena perkataan Na Eun.

Kalimat “Kau bukan siapa-siapa” itu sangat membuat hatiku sedih.

Kusediakan waktuku untuknya selama ini dan dia masih tidak menganggapku bukan siapa-siapa.

Aku tertawa sinis sambil menutup mataku dengan erat. Aku… Tidak bisa terima.

Author POV
Na Eun terus berlari mengelilingi lorong-lorong apartemennya, mencari namja yang selama ini membuatnya gila. Walaupun nafasnya sudah hampir habis, tapi dia terus berlari. Tidak jelas apa yang dia inginkan ketika mencari Wookie seperti itu. Antara dia hanya ingin melihat Wookie, atau dia hanya ingin terlihat bodoh.

Dan saat dia sampai di lorong terakhir tanpa Wookie dia temukan, Na Eun jatuh ke lantai dan mendesah sangat panjang. Dua tahun dia melakukan ini semua, mencari Wookie walaupun tidak akan bisa. Na Eun sangat lelah dengan hidupnya sendiri.

Dia marah dengan keadaannya ini, dia yang menyedihkan.

Na Eun menginginkan Wookie. Hanya itu. Sebatas orang yang dia cintai bisa dia lihat untuk yang terakhir kali, tak apa kalau dia harus menjual dirinya sekalipun.

*****

Na Eun POV

Aku harus tenangkan diriku. Tidak bisa seperti ini, aku harus menenangkan diriku.

Kalau aku kembali ke kamar, aku akan menangis di depan Eunhyuk dan aku tidak mau dikasihani olehnya.

Sebaiknya aku keluar saja. Mencari udara dingin untuk menjernihkan otakku.

Apa aku sudah mulai terserang sakit jiwa karena berhalusinasi seperti tadi? Tapi suara yang aku dengar…. Benar2 terasa nyata. Aku seperti terpanggil untuk keluar.

Hah… Kulangkahi setiap tangga yang membawaku pergi dari gedung apartemen ke jalanan Paris yang dingin di malam hari. Orang-orang sedang berlalu lalang dan terlihat sangat bahagia. Hampir semuanya sedang tersenyum.

Aku? Bahkan menggerakkan bibir saja tidak bisa, lebih baik aku masuk ke dalam sungai dan berdiam disana sampai sesak nafas.
Aish…

Kemudian aku melihat sebuah gang sempit dan aku tertarik untuk masuk ke situ sebentar saja. Daripada pura-pura bahagia seperti orang-orang tadi, lebih baik kutenangkan hatiku disini.

Aku duduk di lantainya dan menundukkan kepalaku ke dalam kaki-kakiku supaya hangat dan tidak ada yang melihatku.
Kupejamkan mataku dan berusaha untuk mengosongkan pikiran.

Baiklah, aku tidak akan mengharapkan Wookie lagi. Kalau itu yang dia mau. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan halusinasiku dan aku juga akan berjuang untuk… Membencinya.

Ya, aku akan melakukan hal terkejam untuk melupakan Wookie, namja tampan yang sangat baik, yang akan selalu merawatmu disaat kau bahkan tidak sakit sama sekali. Nae Wookie yang lembut dan rapuh hatinya…

Aku harus melupakanmu. Oke?

Kumasukkan lagi kepalaku ke dalam kehangatan kaki-kakiku.

“Lihat. Siapa disana?” Samar-samar terdengar seorang namja dari dalam gang yang aku duduki.

Mati aku. Bagaimana kalau itu geng namja-namja menakutkan yang suka menggoda itu? Aish. Aku memang tidak seharusnya pergi kesini!

“Itu seorang perempuan!” Teriak yang satu lagi. Perlahan aku bangkit dari dudukku dan berniat untuk kabur. Keringat dingin mulai mengalir deras dari tengkukku.

“Jangan bergerak!!!” Tiba-tiba aku merasa tanganku dicengkram dari dua arah dan sontak itu membuatku menjerit.

“Diam kau!!!” Namja yang ada di kanan memukul kepalaku, membuatku meringis sakit.

“Nona ini cantik kalau marah. Bagaimana? Apa kita bawa saja ke klab??” Kali ini namja yang dikiri membuatku bergidik.

“Aku mohon lepaskan aku…. Aku… Mau pulang…..” Rintihku pelan, terutama karena tangan mereka yang terlalu kuat mencengkram tanganku.

“Maaf ya, tapi apa yang sudah kami dapat, tidak bisa dikembalikan lagi. Mengerti? Sekarang kau harus ikut kami, cantik.”

Kedua namja itu mulai menyeret ku. “A-andwae!! Aku tidak mau!! Lepaskan aku!!!!!” Aku menjerit super kencang, berharap ada orang di luar gang ini yang mendengarnya.

Ryeowook POV

“Lepaskan aku!!!!!” Kujatuhkan sepotong roti di tanganku yang baru saja mau aku makan.

Jeritan itu. Suara itu…

Kutatap gang sempit nan gelap di sisi jalan yang ada di seberangku. Aku mendengar suara itu dengan jelas. Tapi kenapa tidak ada satupun yang menolong atau bahkan menyadari suara itu?!

Apa yang terjadi pada gadis itu?! Tak lama terdengar lagi beberapa jeritan dan tangisan.

Aku… Harus menyelamatkannya!

Kurapatkan topi hitamku adar menutupi sebagian wajahku dan kusiapkan senapan pendek yang tergantung di sabukku dan berjalan menyeberangi jalan raya menuju gang itu dengan langkah yang besar-besar.

“Aku mohon~ lepaskan aku…..”

Gadis itu kini tengah memohon. Gila. Kenapa dia malah memohon?! Pabo. Dia seharusnya sudah mencekik dan mematahkan leher orang yang mengganggunya!

Aku memasuki gang gelap itu. Aku menyusup dengan langkah sangat perlahan hingga mungkin hanya kelelawar saja yang bisa mendengar.

“Ayo sayang….”

“Andwae!!! Lepaskan!!!!” Tapi kedua laki-laku yang tampak sangar malah membanting tubuh yeoja itu ke dinding dan dengan paksa membuka kancing jaket yeoja itu.

Aku tidak tahan lagi melihat semuanya, akan kuhabisi mereka!!!

DOR DOR DOR!!!!!

******

Nobody POV

# 2 Orang Terbunuh Ketika Akan Menyakiti Seorang Gadis, tidak diketahui identitas pembunuhnya#

#gadis tersebut adalah keturunan kerajaan Korea yang selama ini dijaga oleh Prancis. Korea mulai meragukan dan marah akan kebijakan Prancis yang tidak bisa melindungi sang putri#

#Ibu sang putri mulai menghubungi perdana menteri Prancis untuk penjelasan#

#Prancis mengatakan akan memindahkan Putri ke tempat yang sangat aman. Politikus bilang negara berusaha memperbaiki nama baik dari keteledorannya.#

Na Eun memindahkan channel-channel TV tapi yang ada adalah berita tentang dia, semua channel menayangkan hal yang sama.

Na Eun mendesah panjang dan melirik kopernya yang sudah tersusun rapi di sisinya.

“Aku tidak bisa jauh nih darimu.” Eunhyuk di samping Na Eun yang menyadari kesedihannya, menghibur dengan pelukan andalannya.

“Jangan lupa telpon aku yah~ aku tidak mau kehilanganmu….” Mendengar nada sedih Eunhyuk, Na Eun semakin menyusup ke dalam pelukannya sementara Eunhyuk terus menepuk bahu Na Eun.

“Aku ingin waktu berhenti saja…” Ujar Eunhyuk. Sekarang dia sudah melepaskan pelukannya dan mencubit pipi Na Eun dengan gemas.

“Jaga dirimu…”

“Ngg..” Eunhyuk tersenyum lemah dengan jawaban kecil Na Eun yang terakhir. Gadis periang itu sudah menjadi redup.

“Aku pergi yah..” Na Eun berdiri dan menarik kopernya, mulai berjalan keluar apartemennya.

“Na Eun saranghae!” Eunhyuk menjerit saat Na Eun sudah menghilang di balik pintu.

Na Eun tidak mendengarnya, Eunhyuk terlambat lagi.

*******

Ryeowook POV
Kupandang pantulan wajahku di jendela ruangan kerjaku. Pantulan dari wajah seorang manusia bodoh yang menyelamatkan seseorang yang seharusnya bahkan tidak boleh kulihat sama sekali.
Walaupun aku tidak akan tau bagaimana nasib Na Eun sekarang kalau aku tidak menyelamatkannya.

Krieeeeet

“Tuan Kim, kami telah membekap mulut para saksi mata. Jadi posisi kita masih aman.” Ujar yeoja bernama Yoona yang dulu dikenal sebagai asisten hyung yang membawaku ke rumah besar ini.

“Hh. Terima kasih.”

“Ngg.. Tuan, ini teh madu. Para pelayan membuatnya karena melihat anda tampak stress.” Yoona meletakkan segelas teh madu yang kusukai di mejaku, kemudian membungkuk dan berjalan keluar.

“Nona Im?” Aku memanggilnya saat Yoona sudah di ambang pintu keluar.

“Ne?”

“Siapkan kudaku, aku mau jalan-jalan sebentar.”

“Baik, tuan Kim..”

 

******

 

Na Eun POV

Apanya yang dirawat negara?

Aku harus pergi sendiri ke rumah perlindungan. Harusnya supaya lebih aman aku diantar dengan mobil tentara gitu kan? Yah… bukannya apa-apa sih, aku cuma mau lihat seperti apa kaca mobil anti peluru itu.

 

Uh. Apa ini? Bukit?

Aigoo.. harusnya aku tidak pakai sepatu hak tinggi tadi, kalau tau harus naik bukit segala.

Akupun menarik koperku dan naik dengan perlahan ke atas. Benar nih, rumahnya di atas bukit seindah ini? Ah… senang juga jadinya…..

 

Nobody POV

Tanpa disadari oleh Na Eun, sebuah mobil mata-mata mengawasi dia. Mobil itu diisi oleh dua orang mata-mata mengawasi dia. Mobil itu diisi oleh dua orang mata-mata Rusia, yang merupakan musuh bebuyutan kelompok mafia Ryeowook.

Mata-mata itu mengetahui dari info yang mereka kumpulkan selama bertahun-tahun bahwa Shim Na Eun adalah isteri Ryeowook.

 

Bila mereka berhasil menculik Na Eun, maka mereka bisa memancing Ryeowook keluar dengan lebih mudah.

Benar-benar kesempatan emas.

 

******

 

Author POV

“kau lelah, Diamond?” Ryeowook mengusap kuda hitamnya dengan lembut di bagian surainya. Kuda itu mengikik dan mengangguk-angguk.

 

Ryeowook pun turun dari kudanya dan mengantarkan Diamond ke padang rumput dekat rumahnya. Sampai dia menyadari ada seseorang yang berjalan menaiki bukit, menuju rumahnya. Seorang yeoja.

 

“apakah itu mata-mata? Sedang apa seorang yeoja masuk ke kawasan tertutup dan asing ini?” Ryeowook berbisik pada dirinya sendiri.

Dia mengamati yeoja itu dengan seksama, mencari kejanggalan yang terdapat dalam dirinya.

 

Tapi bukannya kejanggalan yang dia temukan tapi… Shim Na Eun. Itu gadisnya!

 

Dengan kecepatan penuh Ryeowook berusaha menghentikan Na Eun.

Dia tidak ingin Na En memasuki kawasan berbahaya alias rumahnya tempat berbagai peluru nyasar bisa berterbangan.

 

“NEO!! Geumanhae!!!! YAK, SHIM NA EUN!!!!” Dari kaki bukit Ryeowook memanggil Na Eun yang berjalan semakin dekat ke arah rumah ‘perlindungan’.

 

Mendengar namanya dipanggil, Na Eun langsung berbalik dengan cepat.

 

“ah?? Nuga?” dan baik Na Eun maupun Ryeowook, keduanya hampir jatuh lemas saat melihat diri mereka masing-masing.

 

===========

 

“jackpot.” Salah satu mata-mata berbisik senang ketika melihat target mereka yang sesungguhnya ada di depan matanya.

 

“….. dan Skakmat.” Senapan laras panjang itu diarahkan oleh mata-mata itu dengan pasti, ke dada Ryeowook.

 

=========

 

“Wookie?? I-itu kau?!!!” Na Eun menjatuhkan kopernya dengan syok.

 

“Kim Ryeowook. Ryeowook yang itu. Benar itu kau Wookie?!!!” jerit Na Eun. Perasaannya tidak terbendung lagi.

 

Ryeowook tidak menjawab, dia memandang nanar pada Na Eun. Dia berdoa dalam hatinya supaya Na Eun tidak mendekat lagi. Karena jika Na Eun menyentuh Wookie sejengkal saja, Ryeowook tidak akan bisa melepaskannya lagi.

 

Tapi benar saja, Na Eun dengan sangat bahagia berlari menerjang Ryeowook dan memeluknya dengan sangat erat… DAAAR!!!!

Terhenti, semuanya seakan dipaused.

 

Na Eun POV

 

DAAARR!!!!

 

“awas!” tiba-tiba aku merasa tubuhku terbanting dan lagi-lagi dua bunyi pistol yang memekakan telinga terdengar kembali.

 

Kemarin juga, hari ini lagi. Ada apa sebenarnya dengan kehidupanku? Kenapa jadi banyak baku tembak begini?!!

Dari belakang kulihat dengan jelas, nae Wookie. Dia yang menembak seseorang di balik semak-semak dengan pistolnya.

Ke-kenapa bisa? Wookie yang lembut itu kenapa tiba-tiba berani saja menembak seseorang?!

 

“uh…” bisikku tiba-tiba. Ada sesuatu yang sakit di lenganku dan sekarang terasa menusuk-nusuk! Apa ini?!

Omo. Peluru yang pertama tadi, itu mengenai lenganku! Ah.. sakit dan darahnya… sangat mengerikan!

 

“Wo-wookie…..” Panggilku sambil menarik ujung lengan jaket Wookie. Seluruh tubuhku bergetar hebat karena sangat ngeri dengan lukaku.

 

“untuk apa kau kesini?” Tanya Wookie tanpa berpaling dari semak-semak di depannya.

Nadanya jadi sangat dingin, padahal suaranya harusnya tidak seperti itu.

 

“wookie, aku…..”

 

“aku sudah bilang untuk tidak mengganggu hidupku lagi. Kau tuli?”

Kupandangi Wookie di hadapanku dengan tidak percaya. Wookie jahat sekali!

 

“Wookie!”

 

“berhenti panggil aku Wookie!!!”

 

Dalam sekejap Wookie menarik kerah kemejaku dan mendekatkan wajahnya padaku. Bibirnya berbisik di telingaku.

 

“katakan dalam 5 detik, bagaimana kau menemukanku dan dalam rangka apa kau kesini. Lebih dari 5 detik, aku akan melemparmu ke hutan.”

 

Nadanya semakin mengerikan. Apa yang terjadi padanya sampai berubah 180 derajat begini?!

 

“A-aku disuruh kesini, katanya a-aku harus ke rumah perlindungan di atas bukit itu… semua gara-gara aku diisengi oleh dua orang di jalanan dan tiba-tiba ada yang menembak mereka….” suaraku terdengar bergetar saking takutnya aku dengan Wookie yang ini.

 

“hh. Kau pikir rumahku adalah rumah perlindungan?!”

 

“A-ani… aku disuruh kesini! Ini, aku diberikan alamatnya!” kuserahkan sepucuk suraty dengan cap kenegaraan Prancis yang menyuruhku pindah ke tempat yanglebih aman.

 

Wookie membaca surat itu dengan seksama kemudian melirikku dengan marah.

Uh. Seiring dia melirik begtu, lenganku semakin sakit!

 

“Wookie…”

 

“sekarang kau ikut aku!” Tiba-tiba Wookie menarikku ke arah seekor kuda yang sedari tadi mwnonton kami. Tapi Wookie mengambil lenganku yang luka!

 

Kutahan saja sakitnya. Kalau aku mengeluh, bisa-bisa Wookie mencabik-cabik aku saking marahnya.

 

“kau bisa kan naik kuda? Naiklah ke atas, ikuti saja kuda ini! Cepat!” Wookie menepuk si kuda dan dengan kecepatan penuh aku melesat ke depan.

 

Di atas kuda ini aku mulai merintih dan mengeluarkan tangisanku.

Karena lukaku begitu sakit…. dan tentu saja Wookie yang sangat jahat. Kenapa sih dia itu??

 

Aku menangis dengan sangat kencang seiring bunyi sepatu kuda menyembunyikan suaraku. Ini bahkan lebih sakit daripada saat Wookie menghilang dari kehidupanku…

Karena ketika kami akhirnya bisa bertemu, dia sangat berubah… itu yang selama ini sangat aku takutkan, ketika salah satu dari kami berubah…

 

Ryeowook POV

 

Benar ini alamatku. Menyebalkan sekali. Apa maunya negara ini hingga menyembunyikan seorang putri di markas mafia?! Apa mereka bodoh?!!

 

Tapi siapa yang tadi mau menembakku?

 

Kulangkahkan kakiku ke dalam semak-semak, tapi sayangnya kosong. Yang ada cuma jejak ban mobil yang ternyata bersembunyi di balik semak-semka besar ini.

 

Tapi tadikan mereka menembakku, kenapa aku tidak merasa sakit?

 

Kutundukkan kepalaku dan memeriksa seluruh bagian tubuhku, gak ada peluru yang menembus badanku. Lalu apa mereka gagal menembak?

Kemudian aku merasakan sesuatu yang basah di telapak tanganku. Segera kubuka tanganku. Omo. Darah! Ini darah!!

 

Segera kuperiksa tanganku tapi sama sekali gak ada luka. Apa mungkin…. Na Eun? Na Eun yang kena tembakan?

Dan teringat tadi, Na Eun begitu sering memanggilku dengan lemah tapi aku terus memotong kata-katanya. Jangan bilang dia yang terkena tembakan!

 

Dengan cepat kuambil hp-ku dan menelpon teman baikku.

 

“Taemin, jemput wanita di depan rumah kita, itu tamuku. Bawa dia ke kamarku dan suruh pelayan-pelayan merawatnya. Cari luka tembak diseluruh tubuhnya, arraso?” ujarku pada Taemin di seberang telpon, dia bawahanku, salah satu penembak jitu yang bertugas di dalam rumah yang berteman baik denganku.

 

Na Eun POV

 

Kuda hitam yang gagah ini berhenti di depan sebuah pagar besi yang tinggi. Beberapa orang berdiri di ujungnya­, terlihat seram dengan senjata tergantung di bahunya. Apa sebenarnya si Ryeowook itu? Kenapa dia punya orang-orang beringas begitu di rumahnya?

 

Aku pun segera membersihkan wajahku dari air mata dan berusaha turun dari kuda tinggi itu. Tapi badanku sungguh lemas, kulirik lenganku. Darah yang keluar memang sudah sangat, sangat banyak. Bahkan sekarang sudah menetes ke tanah.

 

Aku meringis menahan sakitnya dan berusaha berjalan tapi aku sangat tidak kuat. Rasanya pening….. aku terlalu lemas…..

 

–        –  – – –

Ah? Aku tidak jatuh? Biasanya orang-orang yang selemas inbi jatuh ke tanah kan?

 

Lalu aku sadar, sebuah tangan memapah badanku dengan tangannya. Kutengokkan kepalaku padanya. Omo. Seorang namja! Namja ganteng!

 

Rasanya mau pingsan saat merasakan jemarinya mencengkram erat pinggangku sementara tangan yang satu lagi membelai wajahku yang penuh keringat dingin.

 

“Aggassi. Neo gwaenchana?” tanya namja berambut merah itu dengan sangat takut.

 

“nuga?”

 

“na Lee Taemin, bawahan tuan Kim Ryeowook…”

 

“Lee Taemin??! Namanya ba…..”

Dan gelap.

 

TBC

5 thoughts on “[Freelance] Gone With The Wind part 2

  1. aigoo~
    itu Wookie sejak kapan lidahnya jadi tajambegitu??
    akusuka ceritanya..
    jarang2kan Wookie di buat karakternya begini…
    lanjutannya jangan lama2 ya…
    ditunggu…
    gomawo~

  2. ohh,tidak..wookie bicaramu setajam acara selbritas show ‘silet’..
    tp keren,kan biasanya bawaanya imuzt ajj..duhh.lanjut dahh..image wookie brubah total nihh..hehehe ..

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s