My Bodyguard, My Love part 4

My Bodyguard, My love (Part 4-End)

 

 

Hyesa’s POV

Kegelapan menutupi mataku. Entahlah aku tak tau sekarang aku dimana. Yang kurasakan hanyalah beberapa orang yang terus menyeretku. Mereka melemparkan aku hingga aku terguling di tanah. Kemudian ada seseorang yang melepaskan ikatan kain di mataku.

Seseorang menyambut pandanganku. Dia berdiri tepat dihadapanku dan mulai berjalan mendekatiku. Dia memutariku kemudian melepas ikatan di tanganku. Laki-laki itu. Laki-laki yang di rangkul oleh appaku di foto itu, Kim Heechul.

Dia menyeringai padaku. ”Ternyata kau tumbuh cantik sama seperti ibumu, tapi sayang kau mewarisi mata appamu yang brengsek itu” ucapnya sinis.

”Kau yang brengsek!!!!!” balasku.

”Wah ternyata mulutmu tajam juga,” ucapnya sembari menepuk-nepuk pelan pipiku.

Kutepis tangannya dengan kasar. ”Appaku sungguh sial bertemu orang sepertimu!!! Dan Bodohnya Appaku tetap menyimpan foto-foto memuakkan itu bahkan sampai di akhir hidupnya!!!!!” teriakku.

Kulihat dia sedikit terperangah mendengar ucapanku. ”Appaku begitu menyayangimu, meskipun kau amat sangat membencinya,” ucapku lirih.

”AKU TIDAK PEDULI!!!!!!” Teriaknya. Aku tau dia meringis menahan sakit. Sakit karna mengetahui appaku tak pernah membencinya.

”Kenapa kau lakukan ini pada appaku?? Kenapa kau lakukan ini pada keluargaku??? Apa belum puaskah dirimu??? Atau kau juga menginginkan nyawaku???” ucapku lantang.

Rasa takutku tertutupi dengan rasa sakitku ketika melihat wajahnya yang Mengingatkanku pada wajah yang tersenyum bahagia di foto itu.

Dia tertawa pelan mendengar ucapanku. ”Sebenarnya aku tak berniat menyakitimu karna kau begitu mirip dengan ibumu, tapi sayang matamu selalu membuatku ingin mencongkelnya hingga keluar. Tenanglah, Aku tak akan menyakitimu, tapi aku juga tak bisa melepaskanmu karna ada seseorang yang tanpa sengaja kau lukai dan aku tak bisa berbuat apa-apa,” jawabnya sembari mengangkat bahunya.

Tiba-tiba terdengar langkah seseorang yang semakin mendekat hingga akhirnya pintu gudang itu terbuka. Seorang pria berdiri di sana sembari menatapku tajam dan penuh kebencian.

“Ne, kau melukaiku,” ucapnya. Laki-laki itu berjalan mendekatiku kemudian menarik tanganku hingga tubuhku berdiri. “Kau merebutnya dariku. Kau merebut orang yang seharusnya selalu berada di sampingku,” ucapnya pelan tapi sarat dengan kebencian.

“Aku sengaja membuatmu membenci dia, dan kau tau siapa yang membantuku melakukan semua ini?? Dia juga membantuku membunuh appamu yang tercinta itu.” Lanjutnya lagi.

Seseorang muncul di hadapanku. Orang yang tak pernah kusangka akan menghianati appaku. Shindong Ahjusshi. Dia tak berani menatap mataku.

“Kau???” hardikku. “Kau menghianati appaku!!!!!!” teriakku.

Dia mulai mengangkat kepalanya dan memandang wajahku.

“Mianhae, Nona. Hidup penuh dengan pilihan. Dan semua orang akan memilih sesuatu yang lebih menguntungkan,” jawabnya.

Aku menatapnya jijik. “Tidak semua orang, tetapi hanyalah orang-orang PENGHIANAT SEPERTI DIRIMU!!!” Air mataku lagi-lagi mulai menetes. “Aku benar-benar ingin mencabik wajahmu saat ini!!!!!!!! LEPASKAN!!!”

Aku meronta mencoba melepaskan tanganku dari cengkeraman tangan pria busuk ini. Tapi sebuah tamparan mendarat mulus di pipiku. Kurasakan darah mulai merembes dari ujung bibirku.

”Sungmin, aku sudah datang,” ucap seseorang dengan nada datar.

Mataku langsung mencari sosok pria itu. Kulihat Kyu Oppa berdiri beberapa langkah dariku. Dia menatapku dengan sedih.

”Oppa,” ucapku lirih.

Lelaki yang bernama Sungmin itu semakin menguatkan cengkeramannya di tanganku, dan tangannya yang satu lagi langsung membungkam mulutku.

 

*****

Sungmin’s POV.

”Sungmin, aku sudah datang,” ucapnya dengan nada datar.

Dia menatap gadis ini dengan tatapan sedih. Aku semakin mengeratkan cengkeramanku pada tangan gadis ini, dan kubungkam mulutnya yang mulai memanggil namanya.

”Akhirnya kau datang juga,” ucap appaku *Anggap aja nama Sungmin di sini jadi Kim Sungmin—à Author Maksa*. ”Penghianat,” lanjutnya lagi.

”Appa,” ucapku tak terima.

”Arasseo,” balas appaku.

Aku memandangnya tapi dia mengalihkan pandangannya ke Appaku.

”Tuan Kim, lepaskan dia,” kali ini kudapati nada amarah dari ucapannya.

”Apakah kau sedang memaksaku???” tanya Appa santai.

Begitu pentingkah gadis bodoh ini baginya??? Bahkan dia tak mau menatapku.

Tak ada jawaban apapun darinya.

“Apakah begitu penting gadis ini bagimu???” ucapku yang membuatnya menatapku. ”Aku membantumu terbebas dari tugasmu itu, karna aku tau kau takkan sanggup melakukannya, hatimu terlalu bersih untuk melakukan hal yang seperti itu. Dan karna setelah semua itu berakhir kau bisa kembali padaku. Apa kau tak bisa menghargainya sedikitpun???” lanjutku.

Tapi lagi-lagi tak ada jawaban sedikitpun yang keluar dari mulutnya.

”Aku benci gadis bodoh ini. Dia merebutmu dariku. Dia merebut satu-satunya teman yang ku miliki. Sahabat yang seharusnya selalu berada di dekatku seperti saat-saat sebelum kau mengenalnya. Dia merubahmu. Dia mengambilmu dariku!!!! Dia membuatku selalu merasa kesepian,” Teriakku.

”Dia tak merubah apapun. Dia tak merubahku sama sekali. Dia tak mengambil apapun,” balasnya tetap dengan nada datarnya.

Aku terperangah mendengar ucapannya, bahkan sampai detik ini pun dia terus membela gadis bodoh ini.

Kulepaskan bungkamanku di mulutnya kemudian kualihkan ke rambutnya.

 

*****

Hyesa’s POV

”Akhhhhhh” teriakku, ketika Sungmin menjambak rambutku.

”Lepaskan, Sungmin!!!!!!” Bentak Kyu oppa.

”Mwo???” ucap Sungmin lirih di telingaku. “Bahkan kau membentakku, karna gadis ini!!!!!!!” ucapnya mulai tak terkendali. ”Aku tak akan melepaskannya!!!!!!!”

”Oppa!!!!!” Teriakku.

Mendengar teriakanku Sungmin langsung membungkam mulutku kembali. ”DIAM!!!!” Bentaknya tepat di telingaku. ”Dengar Cho Kyuhyun, Aku tak akan membiarkan siapapun mengambilmu dariku. Aku akan menghabisi siapapun orang yang berani mengambilmu dariku!!!! Dan Sekarang aku akan mengirimnya bertemu langsung dengan Appanya itu!!!!!!!! Dan dengan begitu dendam appaku juga akan tuntas!!!!!” Teriaknya lagi.

Mata Kyu Oppa membesar mendengarnya. Dengan sisa-sisa keberanianku, kugigit tangannya yang masih membungkam mulutku dan kuinjak kakinya yang membuatnya melepaskan cengkeramannya dari tanganku.

Dengan cepat aku berlari ke arah Kyu oppa. Sekilas kulihat Sungmin mengeluarkan Pisau lipatnya dan mengejarku. Dia berhasil menangkap bahuku dan siap menusukkan pisau itu ketika seseorang menarik tanganku dan membuat tubuhku terlindungi dari balik tubuhnya.

Dan….

*****

Sungmin’s POV

Gadis itu berhasil melepaskan diri dari cengkeramanku. Aku mengeluarkan pisau lipatku kemudian mengejarnya. Aku berhasil menangkap bahunya dan membuatnya kembali menghadapku. Aku siap menusukkan pisauku tepat di jantungnya, ketika seseorang menariknya dan melindungi gadis itu.

Tanganku tak bisa menahan tusukanku lagi dan akhirnya pisauku tepat menghujam jantung orang itu dan darahnya muncrat ke wajahku ketika kutarik kembali pisau itu. Aku terperangah melihatnya. Bau amis menyengat di hidungku. Tanganku basah oleh darahnya.

Orang itu berlutut tak berdaya di hadapanku hingga akhirnya tubuhnya menghantam tanah.

”Oppa!!!!!!” teriak seseorang di sela-sela bunyi tembakan yang memenuhi ruangan ini dan membuatku tersadar kembali.

Gadis itu langsung berlutut mengangkat kepala orang itu ke pangkuannya. Kyuhyun??? Aku membunuh Kyuhyun???

Kakiku tak mampu menopang tubuhku sendiri. Aku berlutut di samping Kyuhyun yang terkulai lemas. Darah segar terus saja membasahi bajunya. Apa yang sudah aku lakukan??? Aku merasa mati rasa saat ini. Aku menusuk sahabatku sendiri.

 

*****

Hyesa’s POV.

Kyu Oppa terkulai lemas di pangkuanku. Dia menatapku lemah. Air mata ini mengalir begitu derasnya. Kyu Oppa mengangkat tangannya yang berlumur darah dan menghapus air mataku. Bau amis darahnya menyusup masuk ke setiap rongga tubuhku. Kuraih tangannya dan kugenggam erat-erat.

”Ja.. ja.. jangan.. me..mena..ngis. A.. ku.. i..ngin.. lihat.. ka..kau.. ba..baha..gia,, Hye.. Hyesa” ucapnya terbata-bata.

Aku menggelengkan kepalaku pelan. “Oppa bertahanlah,” ucapku lirih di sela isak tangisku dan dia hanya membalasku dengan senyumannya.

Dia memandang Sungmin yang masih terpaku di sampingnya. Tatapannya kosong memandang Kyu Oppa.

”Su..sung..Min..te..te..tap..lah..ja..jadi..sssa..ha..bat..ku..”

Air mata Sungmin keluar dari pelupuk matanya. Kyu Oppa mengangkat tangannya yang bebas ke arah Sungmin. Tapi tiba-tiba tangannya terkulai dan genggamannya di tanganku semakin mengendur. Hingga akhirnya, matanya tertutup rapat selamanya.

”ANDWAE!!!!!!!!!!!!!!!” Teriak Sungmin frustasi sedangkan aku, aku membenamkan wajahku di dada Siwon Ahjusshi yang entah sejak kapan sudah ada di sampingku.

Kenapa saat pertama kali aku mendengarnya menyebut namaku sekaligus menjadi terakhir kalinya aku mendengarnya???

 

*****

 

Hari ini adalah hari pemakaman Kyu Oppa, mungkin juga hari pemakaman Kim Heechul. Kata Siwon Ahjusshi, Tembakan polisi semalam tak sengaja menembus jantungnya. Akhirnya dendam ini berakhir.

Tapi aku hanya mengurung diriku di kamar. Aku tak sanggup melihat Kyu Oppa terkubur di dalam tanah. Aku mengutuk diriku sendiri kenapa waktu itu aku menyumpahinya. Dan sekarang dia benar-benar pergi dari  hidupku. Lagi-lagi aku kehilangan orang yang kucintai.

Oppa maafkan aku, aku tak sanggup menghadiri pemakamanmu. Aku tak ingin mengantarmu dengan air mataku.

Aku mendengar pintu kamarku di ketuk dan kulihat Siwon Ahjusshi muncul di baliknya. Siwon Ahjusshi menghampiriku dan menyodorkan sebuah amplop padaku. Kupandangi amplop itu dan matanya secara bergantian.

”Ini dari Kyuhyun, Nona,” ucap Siwon Ahjusshi yang mengerti kebingunganku. Mendengar namanya membuat air mataku kembali menetes.

”Sebelum dia pergi ke gudang itu, dia menitipkan surat ini untuk Nona. Sepertinya dia sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi, dia takut tak sempat mengucapkan kata maaf dan semua hal yang ingin dia katakan pada Nona.”

Siwon Ahjusshi menyerahkan surat itu di tanganku dan pergi berlalu dariku. Kubuka pelan-pelan amplop itu.

 

Apakah Tuan Choi sudah menyerahkan surat ini padamu??? Jika iya, itu berarti aku sudah tak ada di dunia lagi. Nona apa kau baik-baik saja??? Kuharap kau tak langsung membuang suratku.

 

Aku menghela napasku sejenak kemudian membaca surat itu kembali.

 

            Nona, bisakah kau mempercayaiku lagi? Aku tau itu permintaan yang sulit. Tapi kali ini aku ingin mengatakan semuanya padamu. Pertemuan awal kita bukanlah sesuatu yang di sengaja. Aku sungguh tak tau siapa dirimu sampai akhirnya aku melihat wajah Tuan Han.

            Aku memang berencana membunuh Tuan Han. Tapi kulakukan itu semua karena terpaksa. Appaku bekerja pada Tuan Kim, bahkan di helaan napas terakhirnya dia tetap setia pada Tuan Kim. Aku terpaksa menerima tawaran Tuan Kim, karna nyawa adikku ada di tanganku pada saat itu. Seperti yang aku katakan padamu saat itu, Aku tak punya uang sedangkan adikku mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Tuan Kim bersedia menanggung semua biaya pengobatan adikku dengan syarat aku harus bekerja dengannya dan tugas pertamaku adalah membunuh appamu.

            Aku sadar hidup memang penuh pilihan. Tapi kenapa pilihan hidupku amat sangat berat??? Di satu sisi aku harus mempertahankan nyawa adikku, tapi di sisi lain aku harus menghilangkan nyawa seseorang yang amat sangat di cintai oleh orang yang sangat penting bagiku. Itu pilihan sulit bagiku. Tapi apapun jalan yang aku pilih, aku tak pernah menyesalinya.

            Aku tau kau sangat membenciku dan tak akan pernah memaafkanku tapi izinkan aku mengucapkan kata maaf untuk terakhir kalinya. Nona, sungguh bukan aku yang membunuh Tuan Han. Aku tak sanggup membunuh orang yang begitu baik padaku, pada keluargaku. Apa kau ingat?? Aku pernah bilang padamu, adikku mendapat Beasiswa. Tapi ternyata aku salah. Aku baru tau, ternyata Tuan Han lah yang membiayai kuliah adikku dan sudah melunasinya hingga tamat.

             Nona, Tuan Han begitu baik padaku. Mungkin satu-satunya cara untukku membalas semua kebaikkannya adalah dengan selalu menjaga dan melindungimu seperti yang ia bisikan sesaat sebelum kematiannya. Aku hanya bisa membalasnya dengan nyawaku. Dan sekarang aku tak ragu lagi menemui Tuan Han, aku sudah menepati janjiku padanya. Janji bahwa aku akan selalu melindungimu sampai aku mati.

            Aku yakin pasti air matamu kini sedang mengalir deras bahkan mengalahkan derasnya air terjun Niagara. Nona jangan menangis lagi. Jangan buat aku dan Tuan Han khawatir dari sini. Tersenyumlah. Aku suka melihat wajahmu yang tersenyum bahagia.

            Mulai sekarang jangan takut. Meskipun Tuan Han dan aku tak ada untuk melindungimu lagi, kami akan selalu mengawasimu dari sini. Dan Yakinlah kau akan menemukan sosok diriku pada kepribadian yang lain.

 

SARANGHAE HAN HYESA

 

Kubekap surat yang telah basah karna air mataku ini. Kemudian kulihat sesuatu tergeletak di dalam amplop itu. Ku ambil kalung berliontin Kunci perak itu dan ku genggam erat-erat. Na do Saranghae Oppa.

 

*****

8 tahun Kemudian, 19 september

Aku berjalan menyusuri Bandara Incheon yang ramai akan manusia. Akhhh akhirnya aku bisa menghirup segarnya udara Seoul kembali. Kutolehkan kepalaku mencari sosok yang aku rindukan selama 7 tahun ini.

”Noona!!!!” Teriak seseorang yang berusia sekitar 17 tahun dan langsung berlari memelukku. Dia menggendong tubuhku dan berputar-putar.

”Akhhh!!!” teriakku.

”Noona akhirnya kau pulang juga, aku sangat merindukanmu,” ucapnya lagi.

”Aku juga sangat merindukanmu. Hoahhh Choi Minho, Kau tumbuh menjadi pria yang tampan, padahal waktu terakhir aku melihatmu kau pendek sekali, kenapa sekarang kau bisa setinggi ini???” ledekku.

Dia cemberut mendengar ucapanku. ”Tentu saja, masa aku akan pendek terus,” balasnya.

”Ara.. ara.. Tapi kau benar-benar tampan. Jika saja kau bukan adikku, pasti kau akan kujadikan pacarku.” Ya dia sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri.

Dia tersenyum mengejek kepadaku. ”Meskipun Noona bukan kakakku aku tetap tak akan mau menjadi pacar Noona. Noona memang cantik, tapi aku tak berminat pada ahjuma-ahjuma atau daun tua,” balasnya.

”Mwo???” ucapku bersiap menjitak kepalanya.

Tapi Suara seseorang menghentikanku.

”Ya, kalian baru saja bertemu kenapa sudah bertengkar.” Kulihat Siwon ahjusshi merangkul seorang wanita cantik sembari berjalan menghampiriku, Choi Ahjumma.

Ya, aku menyerahkan perusahaan appa padanya. Aku yakin dia adalah orang yang tepat untuk melanjutkan perjuangan appa. Dia sudah kuanggap seperti appaku sendiri. Dan sejak aku menyerahkan perusahaan padanya, aku tak pernah mengizinkannya memanggilku dengan sebutan Nona.

”Ahjusshi,” ucapku. Kemudian langsung berlari kepelukannya. ”Aku sangat merindukanmu.”

”Aku juga merindukanmu,” balasnya. ”Saengil chukae,” bisiknya di telingaku.

”Gomawo ahjusshi.”

”Apa hanya ahjusshimu saja yang kau rindukan, bagaimana denganku???” ucap seseorang yang ada di sampingku.

Aku langsung melepaskan pelukan Siwon Ahjusshi kemudian memandang wanita cantik itu. ”Ahjumma, tentu saja aku meridukanmu,” ucapku dan memeluknya.

Dia membalas pelukanku. ” Kalau kau merindukan kami, kenapa kau tak pernah mengunjungi kami selama 7 tahun ini??” ucapnya.

Aku melepaskan pelukanku. ”Ahjumma kan tau, jika aku kembali ke Korea maka aku tak akan bisa meninggalkan Korea kembali, lalu bagaimana dengan kuliahku,” jawabku.

”Ara.. ara.. Yang penting sekarang kau sudah kembali ke Korea dan menjadi seorang Dokter yang cantik,” ucapnya lagi.

”Eomma, appa, sampai kapan kita akan berada di sini,” Ujar Minho.

”Ne, kita pulang sekarang,” jawab Siwon ahjusshi dan berjalan sembari merangkulku.

 

*****

            Kupandangi setiap sudut rumahku. Semuanya masih tetap sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Foto Appa dan Eomma yang menggendongku bahagia sewaktu kecil masih terpajang di tempatnya semula. Tak ada yang berubah sedikitpun.

Aku berlari ke kamar Appa. Kamar Appa sangat bersih dan rapi seperti tak pernah di tempati. Foto Appa dan Tuan Kim juga masih bertahta di tempatnya semula. Aku menoleh ke arah Siwon ahjusshi dan dia tersenyum padaku.

”Tak ada yang menempati kamar ini???” tanyaku tak percaya.

Siwon ahjusshi menggelengkan kepalanya dan berdiri di sampingku. Dia memandang foto Appa dan tersenyum. ”Tak ada yang pantas menempati kamar ini selain Tuan Han,” jawabnya.

Aku mengikuti pandangan Siwon ahjusshi dan melihat foto Appa yang tersenyum pada kami.

Kemudian aku langsung berlari ke kamarku, kamar yang selalu kurindukan. Kubuka pintu kamarku, dan sama seperti ruangan lainnya, tak ada yang berubah sedikitpun dari kamarku. Aku takjub melihat semua ini. Siwon ahjusshi membiarkan semuanya tetap seperti semula meskipun aku telah memberikan hak kepadanya atas rumah ini.

Siwon ahjusshi mengacak rambutku pelan. ”Kamarmu masih seperti yang dulu. Tenanglah tak ada yang berubah sedikitpun dari istanamu ini. Aku tak ingin merubah sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Rumah ini terlalu banyak kenangan indah, Aku tak ingin menghapus kenangan itu,” ucapnya yang membuatku terharu.

Aku tersenyum padanya kemudian pandanganku tertuju pada meja belajarku. Kusentuh benda mati itu. Benda mati yang membuatku teringat padanya. Lagi-lagi mataku tak sengaja memandang taman belakang rumahku yang tepat berada di belakang kamarku. Tempat dimana pertama kali aku melihatnya tertawa lepas. Benar kata Siwon Ahjusshi, rumah ini begitu banyak kenangan indah.

”Ahjusshi, aku harus pergi ke rumah sakit sekarang. Ini hari pertama kerjaku,” ucapku.

Keningnya berkerut mendengar ucapanku. ”Kau kan baru saja pulang,” balasnya. Aku tersenyum mendengarnya. ”Ara.. Ara..” ujarnya lagi. ”Apa perlu kuantar???”

Aku menggelengkan kepalaku. ”Tidak perlu ahjusshi, sebelum ke rumah sakit, aku ingin mengunjunginya dulu,” jawabku.

Ekspresi Siwon ahjusshi langsung berubah kaku ketika mendengar ucapanku, tapi sesaat kemudian dia kembali tersenyum dan mengusap kepalaku pelan. ”Ne, berhati-hatilah,” ucapnya.

Aku menganggukkan kepalaku.

Aku berjalan menuju tempat dimana dia menungguku sekarang. Tempat peristirahatannya. Dan akhirnya aku menemukannya diantara bunga-bunga melati yang masih segar di atas tempat peristirahatan terakhirnya.

Aku menyapu namanya yang indah itu dengan tanganku. Kemudian meletakkan bunga lily yang kubawa di dekat namanya.

”Oppa, aku datang. Apa kau merindukanku???” Ucapku sembari tersenyum. ”Bogoshipoyo oppa. Mianhae aku baru mengunjungimu, karena selama 7 tahun ini aku tak di Korea. Setelah menyelesaikan sekolahku, Aku melanjutkan Kuliahku di Amerika dan juga karna baru sekarang aku siap menemuimu dengan senyum mengembang di bibirku. Butuh waktu yang cukup lama untukku mempersiapkan semua ini.”

Kupegang liontin kalungku yang melingkar di leherku kemudian menciumnya.. Kalung yang pernah dia berikan padaku dulu.

”Oppa apa kau lihat pakaian yang kukenakan sekarang?? Aku sudah menjadi Dokter Oppa. Aku tau kau pasti heran kenapa aku lebih memilih Dokter. Itu karena aku tak tertarik dengan dunia bisnis dan alasan utamanya karena kau. Kau ingat, kau pernah mengatakan kalau aku cocok juga menjadi seorang Dokter. Meskipun aku tak bisa mengurus diriku sendiri tapi aku cukup telaten merawat orang lain. Entah ucapanmu itu hanya bercanda atau tidak, tapi sejak mendengar kau bicara seperti itu aku sudah memutuskan, aku akan menjadi seorang Dokter dan aku berhasil mengejar cita-citaku itu. Sekarang aku bekerja di rumah sakit Seoul. Apa kau bangga padaku???”

Aku tau semua pertanyaan yang kulontarkan adalah pertanyaan bodoh yang tak akan pernah di jawab olehnya.

”Oppa apa kau ingat??? Hari ini special untukku. Karna hari ini hari ulang tahunku dan hari dimana aku bertemu untuk pertama kalinya dengan pahlawanku yang bernama Cho Kyuhyun. Pria itu menyelamatkan hartaku yang paling berharga waktu itu.”

”Ehmmm, aku tau oppa ingin tau bagaimana keadaan Sungmin kan??? Oppa tenanglah, dia baik-baik saja. Meskipun dia begitu depresi setelah kematianmu dan di rawat di rumah sakit jiwa, tapi yang kudengar 3 tahun yang lalu dia sudah sembuh bahkan dia sempat menitipkan surat untukku pada Siwon ahjusshi. Dia meminta maaf padaku.”

Aku menghela napasku dan kemudian memandang langit yang membentang di atas kepalaku.

”Oppa, aku menepati janjiku padamu. Aku selalu tersenyum. Itu kan yang ingin kau lihat??? Tenanglah Oppa, aku akan berusaha menjadi Hyesa yang kuat, tegar dan selalu tersenyum agar kau dan Appa juga tersenyum dari sana tanpa mengkhawatirkan hidupku.”

”Oppa, apa aku terlalu banyak bicara??? Baiklah, aku harus pergi ke rumah sakit, mungkin pasien pertamaku sudah menantikan kedatanganku. Istirahatlah yang tenang Oppa,” ucapku kemudian menyapu namanya lagi.

 

*****

            Nuansa putih ini membuatku takjub. Di sinilah aku akan mengabdikan hidupku. Berjuang untuk nyawa orang lain.

Aku terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Aroma khas rumah sakit sudah menusuk hidungku. Aku melangkahkan kakiku menuju ruang kerjaku yang berada di ujung Koridor ini. Begitu banyak manusia yang hilir mudik di sampingku.

Tiba-tiba mataku tertuju pada seseorang yang berjalan berlawanan arah denganku. Aku terperangah melihatnya. Dia tak memandangku sedikitpun. Aku terpaku di tempatku berpijak saat ini. Orang itu terus berbincang dengan seorang suster hingga akhirnya dia berlalu di sampingku tanpa menoleh sedikitpun.

Merasakan angin menerpa tubuhku ketika dia melewatiku membuatku tersadar. Aku langsung membalikkan tubuhku dan kulihat punggungnya semakin menjauhiku. Tanpa perintahpun kaki  ku berlari mengejarnya. Aku mencengkeram lengannya dan kutarik hingga wajahnya tepat berada di hadapanku.

Orang itu menatapku bingung. Sedangkan aku, lidahku kaku. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Tanganku masih mencengkeram lengannya.

Wajah ini??? Wajah yang selalu aku rindukan. Hidungnya, Bibirnya, matanya yang meskipun dilapisi dengan bingkai kaca mata tetap memperlihatkan keindahannya, sama seperti terakhir kali aku melihatnya.

”Oppa,” panggilku lirih. ”Kyu Oppa.” Aku sungguh takjub dengan apa yang kulihat. Apa Kyu Oppa masih hidup???

”Ah,” ucap pria itu seakan mengerti apa yang kupikirkan. ”Aku bukan Kyu,” lanjutnya yang membuatku langsung melepas cengkeramanku.

Aku menatapnya shock. Apa aku sedang bermimpi???

Pria itu tersenyum padaku. ”Aku bukan Kyuhyun,” Ulangnya lagi. ”Aku Marcus, adik kembarnya.”

Aku merasa di sambar petir. Apa??? Adik kembar??? Mataku teralih pada kalung yang melingkar di lehernya. Kalung berliontin kunci perak sama persis dengan yang melingkar di leherku. Jadi adik yang diceritakannya selama ini adalah saudara kembarnya??

”Ne, aku adik kembar Kyuhyun. Apa kau Han Hyesa???”

 

*****

THE END

 

Mian y kl Endingny jd ngaco gini ^_^

 

 

By : dongHAEGAeul

 

 

Tags : Kyuhyun, Heechul, Siwon, Sungmin, Super Junior

9 thoughts on “My Bodyguard, My Love part 4

  1. Aaaaaaaah aku masih penasaran. Buatin epilog nya dong authoooor hhu aku udh berkaca2 pas kyu mati (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

  2. haaa …

    masihh penasarand beratt nih author ..

    buatind sequel ato nggagh, buatt.in epilognya biarr jelass ..
    adeghnya kyu kokk tau hyesa …

  3. hwaaaa…!!!
    sumpah ni ff dah sukses bwt mata q banjir bandang(?)
    bwt sequelnya dong,,msih penasaran bgt!!

  4. sequel..sequel..sequel..sequel… *teriak2 sambil nari bonamana* #apasih????

    ou..tidak bisa…….. ga bisa cuma sampe sini doank ceritanya…..

    ini harus ada sequelnya… plissssssssss….. *puppy eyes*

  5. Huwaahhh, sngguh kreeenn!! Bkin.in epilog.a dumz? Dramatis bngt crita.a, mpe q trharu, hiks hiks ‘_’- *alay deh

  6. Aq ga rela de sumpah umin tega sejahat itu cma krn slh pngertian,
    Aq ga terima kyu terbunuh :'(
    mn pas d jantung lh! 0-0
    Pleaseee, bwt sequel’a antara marcus ma hyesa y pliiisss :)

  7. aq ampe nangis… T.T

    G’ trima Kyu Meninggal…

    ayO,o Author kasih squel.a gmna hubungan Marcus ma’ Hyesa…

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s