U!

Title                 : U! *Lanjutan (Oneshoot) Bogoshippo?*

Author             : Chakyu19

Main Cast         : Park Minra (author) , Cho Kyuhyun (Super Junior)

Support Cast    : Son Dong Woon (Beast)

Rating              : 15++

Genre              : Romance

Ps                     : Cerita yang kubuat karena beberapa temanku menginginkan kelanjutannya. Semoga kaian suka ia chingu-a ^^. Tak lupa kuharapkan koment berupa kritik dan sarannya :)

 

 

# The Last Story

Park Minra benar-benar kesal. Bagaimana tidak, pacarnya tidak menghubunginya dalam jangka waktu yang cukup lama. Bayangkan saja 9 hari tanpa kabar sedikitpun dari pacarmu! Khawatir? Tentu. Rasanya kekhawatiran itu selalu menghantui pikirannya dan membuatnya kesal. Selang beberapa menit, datanglah sebuah sms dari namjachingunya itu. Kyuhyun mengajaknya bertemu. Senang? Tentu saja, tapi kesal. Bagaimana tidak, bayangkan isi smsnya berisi perintahCepat ke tempat biasa! Kutunggu 20 menit dari sekarang’. Aish, jinjja! Kekesalan itu bertambah dan semakin menyita seluruh pikirannya. Tapi tetap saja  diputuskannya untuk menemui namjachingunya itu. Ya, rasa rindunya tak bisa disembunyikan. Sebesar apapun rasa kesalnya terhadap kyu, rasa rindu akan selalu mengalahkanya. Secepat mungkin ia menuju tempat pertemuan.  Kecerobohannya tetap saja muncul tak mengenal waktu dan keadaan. Akhirnya ia menabrak seorang namja, tak ambil pusing dengan itu, ia tetap menuju tempat kyuhyun yang sudah menunggu.

*****

 

 # Park Minra POV

            Aku dan Kyuhyun berjalan menuju halte bus. Sesampainya di sana, kami berdua duduk berdampingan di sebuah kursi panjang yang terdapat di halte itu. Kyuhyun terus menggenggam erat tanganku seolah-olah sedetik saja ia melepaskannya aku akan menghilang. Aku melemparkan senyumku ke arahnya dan menyenderkan kepalaku di bahunya. Dari sudut mataku kulihat ia juga tersenyum dan mengelus pelan puncak kepalaku. Seorang namja melihat ke arahku dan Kyu dengan wajah yang bisa kubilang, aneh. Seakan terus mengawasi gerak-gerik kami berdua.  Aku mengacuhkannya, biarkan sajalah, toh aku sedang bahagia. Kupejamkan mataku. Tuhan, semoga kami tetap berdua, seperti ini. Selamanya. Beberapa menit kemudian, bis datang.

            “jagi-a, bus sudah datang”, ucapnya pelan. Aku menegakkan kepalaku, mengangukkannya kemudian menatapnya dengan senyuman. Ia juga tersenyum. “kajja”, tambahnya sambil menarik tanganku. Aku mengekor tepat di belakangnya. Di dalam bus, kami duduk berdampingan lagi. Ia tetap menggenggam erat tanganku. Beberapa menit kemudian ia menyenderkan kepalanya di bahuku. Sedikit terkejut, aku meliriknya. Ah, ternyata ia tertidur. Pasti ia lelah. Bagaimana tidak, karirnya sebagai salah satu personil boyband Super Junior pastinya akan menyita sebagian besar waktunya. Bukankah sebelum ini mereka baru saja mengunjungi Indonesia dan kabarnya sebentar lagi mereka akan mengadakan SM Town di Paris. Hah, tak bisa kubayangkan betapa lelahnya ia dan para oppadeul. Aku mengamatinya.  Tampangnya yang sedang tidur begitu lucu dan manis. Tunggu, dimana tampang evilnya itu? Astaga, ke-evilannya hilang tak berbekas di wajah tampannya ini. Kembali senyuman mengsiasi wajahku.

            “apakah aku sebegitu tampannya?”, tanyanya dengan mata yang tertutup. Aku terkejut, bukankah ia tadi tertidur. Aish, dia ini.

            “mwo-ya? Sudahlah, tidur saja. Bukankah kau lelah?”, jawabku lembut sambil diiringi senyuman maniskku. Ia semakin mengeratkan genggamannya kemudian ia kembali diam. Kyu kembali tertidur. 5 menit telah berlalu, 1 menit lagi bus yang kami tumpangi berhenti di tempat tujuan.

            “kyu, kita sebentar lagi sampai”, ucapku pelan di telinganya. Sebenarnya aku tak tega membangunkannya, tapi mau bagaimana lagi. Tak lucu kan jika kutinggalkan ia di bus. Ia tersenyum tetapi matanya tetap terpejam. Begitu lelahkah ia?

            “ne, arraseo. Satu menit lagi. Aku ingin tetap begini”, ucapnya pelan. Aku tersenyum.

            “baiklah satu menit”, jawabku . Satu menit berikutnya ia terbangun. Bus sudah berhenti. Kami berdua turun dan menyebrang. Apartementku berada di sebrang halte bus ini. Kami berdua menaiki lift dan menekan tombol 8. Ia tetap memegang erat tanganku. Tingg, akhirnya kami sampai. Kami berjalan lurus dan berbelok ke arah kanan. Tepat di depan pintu bernomor 1903, segera kutekan beberapa tombol kombinasi. Pintu terbuka, aku mempersilakannya untuk masuk. Kulepas sepatuku dan menggantinya dengan sandal Hello kittyku. Kyu melakukan hal yang sama dan segera beranjak menuju sofa. Dihidupkannya TV dan menyenderkan kepalanya ke pungung sofa. Tak lama kemudian kudengar bunyi nafas teratur miliknya. Ia kembali tertidur. Aku tersenyum melihatnya. Baiklah, aku akan memasak selagi ia tertidur. Kuletakkan tas di atas meja kecil dalam kamar dan tak lupa ku ambil sebuah selimut berwarna biru langit dari dalam lemari. Aku berjalan menuju Kyu dan mulai menyelimutinya. Ia tersenyum, manisnya. Kupatahakan keinginanku untuk mencubit pipinya. Kulangkahkan kakiku menuju frezer.

            “baiklah, masak apa kita kali ini?”, Kuamati lekat-lekat apa yang ada di dalamnya. Daging dan beberapa sayur-sayuran. Kyu tak suka sayur jadi kuputuskan untuk membuat jjajangmyeon. Bukankah itu salah satu kesukaan kyu. Aku tersenyum dan segera kuambil beberapa bahan untuk membuatnya. Bawang merah cincang, zucchini dan daging merah. Kubuat terlebih dahulu pasta kacang kedelai (chunjang). Setelah semuanya siap, aku menatanya di meja makan.

“oke, done. Sekarang tinggal membangunkannya”, ucapku dan langsung melangkahkan kakiku ke arah sofa. Kyu masih tetap tertidur, kelihatannya ia begitu lelah. Aku jadi tak tega untuk membangunkannya. Tapi, bukankan ia lapar. Aish, mending aku bangunkan saja. Aku kan sudah capek memasak. Hhihi.

“kyu, ireona”, ucapku sambil menepuk pelan bahunya. Ia tetap tak bergeming. Tiga kali sudah aku melakukannya dan dia tetap saja tidak bergeming. Dasar kerbau, tidur sudah seperti orang pinsan saja. Pingsan? Apakah ia pingsan? Ani, pasti tidak. Segera kutepis pikiran-pikiran aneh yang melekat di otakku itu. Aish, jinjja. Kutarik nafas dalam-dalam dan…

“yaa, Cho Kyuhyun ireona!”, ucapku keras. Dengan segera ia terbangun. Matanya membundar dan terpampang dengan jelas muka polosnya. Atau bisa kubilang muka bodohnya? Hhihi~

“waeyo? Gempa bumi ? Kebakaran? Tsunami? ”, tanyanya cepat dan tanpa jeda. Aku terkekeh pelan. Dia ini ada-ada saja. Meskipun tindakannya itu benar, tapi tetap saja bagiku itu lucu. Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, menghindari tawa yang lebih kencang. Ditatapnya aku dengan sorot wajahnya yang bingung plus bodoh? Kuhentikan tawaku dan segera bersikap seperti biasa.

“yaa, ireona. Ppali”, kataku cepat.

“wae? Aku masih mengantuk”, ucapnya kesal sambil hendak merebahkan tubuhnya dan kembali terpejam. Dengan cepat aku menarik tangannya hingga ia berdiri.

“aish, jinjja..”, ucapnya kesal.

“cepat bangun dan cuci muka jelekmu itu. Aku sudah membuatkanmu jjajangmyeon”, potongku cepat. Matanya tersenyum. Evil smile telah menghiasi wajah tampannya. Mwo? Dia marah? Aish, mulutku ini benaran tak bisa di kontrol. Aku tadi mengatakan dia apa? Muka jelek? Bagus, kau pintar Minra-a. Sekarang kyu marah!

“jinjja? Ah, gomawo jagi-ya”, ia memelukku. Raut wajahnya semakin tersenyum. Evil smile itu telah bergati dengan senyuman malaikat? Hey, kapan ia memiliki senyuman itu? Aku terkejut. Aish, jinjja. Kukira dia marah, ternyata. Aku tersenyum, ide jahil lagi-lagi memenuhi pikiranku.

“ya, cepat lepaskan! Kau bau”, seruku sambil menutup hidung dengan tangan kananku sedangkan tangan kiriku memegang selimut yang barusan ia pakai. Aku mengacuhkannya dan melipat selimut yang di pakainya tadi. Ia cemberut. Kutahan tawaku dan tetap memasang tampang sebal.

“bau? Tapi tetap tak sebau Eunhyuk kan”, katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.  Dilepaskannya pelukannya. Aku melongo. Kenapa jadi beralih ke Eunhyuk oppa. Aish, jinjja. Aku hendak marah, tapi dengan cepat ia berbicara kembali. “arraseo, aku cuci muka dulu. Dadahh”, tambahnya sambil mencubit pelan pipiku. Kembali ekspresi bodoh menghiasi wajahku. Beberapa detik kemudian aku tersadar.

“Dasar bocah”, umpatku pelan. Kuletakkan selimut di dalam lemari dan menganbil handuk kecil untuknya. Handuk berwarna pink.

“pink?”, ucapnya ketika kuserahkan handuk itu padanya. Ia mengernyitkan dahinya.

“ne, waeyo?”,  jawabku polos.

“hahh, selain Hyungku satu itu kau juga suka mengumpulkan warna pink”, ucapnya. Aku mengernyitkan dahiku. Sedetik kemudian aku tersadar. Ah dia membicarakan Sungmin oppa, hyungnya serta teman sekamarnya yang sangat menyukai warna pink.

“yaa, kalau tidak suka sini kembalikan”, kataku setengah berteriak dan hendak mengambil handuk itu dari tangannya. Ia menghindar dan segera mengeringkan wajahnya dengan handuk itu. Aish, jinjja.

“katanya tadi tidak suka”, umpatku pelan.

“bukannya tidak suka, bukankah warna favoritmu biru sama sepertiku”, aku sedikit terkejut. Ia mengetahuinya. Kukira ia tak tahu.

“aku memang suka biru, tapi tak selalu harus warna biru kan menghiasi apartemenku!” tukasku cepat. “ppali, nanti jjajangmyeonya dingin”, tambahku kemudian kulangkahkan kakiku menuju ruang makan. Ia mengekor di belakangku. Sesampainya di ruang makan, ia melongo melihat jjajangmyeon buatanku. Terlalu indahkah aku menghiasnya?

“yaa, apa ini?”, tanyanya dengan mata yang membundar sambil menunjuk piring berisi jjajangmyeon dengan kondisi yang lumayan, ehm parah? Bayangkan saja mie yang di beri saus hitam di atasnya dengan kondisi lumayan parah.

“ya jjajangmyeon lah. Cobalah”, jawabku mantap. Ia mengidikkan bahunya dan duduk di salah satu kursi. Aku duduk tepat di depannya. Kutuangkan air ke gelasnya.

“ini yang kau sebut jjajangmyeon? Bentuknya saja tak karuan begini!”, ucapnya sambil memainkan sumpit di depan wajahku. Emosiku kembali membara. Apa ini, dia mengejek masakanku bahkan sebelum ia mencobanya. Aish, jiinjja. Aku memang tak terlalu pintar dalam hal memasak, tapi bukankah ini keterlaluan. Kuhirup oksigen sebanyak-banyaknya dan..

“yaa, kau belum mencobanya saja sudah mengkritiknya. Kalau tidak mau ya sudah. Sini untukku saja”, bentakku sambil hendak mengambil piring yang berisi jjajangmyeon itu. Ia menarik piring yang berisi jjajangmyeon dan melahapnya. Dahinya berkerut. Jantungku berdegup kencang. Semoga tidak gagal, seruku pelan. Lagi-lagi ia memasang tampang evilnya.

“yaa, ini..”,katanya keras. Ia menggantung kalimatnya. Jantungku kembali berdetak dengan kencang.

“enak. Sungguh”, ucapnya pelan sambil tersenyum. Ahh, lega. Kukira gagal. Mungkin aku membuatnya penuh dengan rasa cinta ya, sebab itulah ia tak gagal.

“kau pintar juga memasak”, ucapnya lagi. Aku tersenyum. Ia mengaduk-ngaduk jjajangmyeonnya. Matanya membundar menemukan sayuran hijau di balik jjajangmyeonnya.

“yaa, apa ini?”, ucapnya kesal.

“sayur”, jawabku singkat, padat dan jelas. Ia membundarkan matanya. Kulihat tampat tanduk tak kasat mata di kepalanya. Gawat dia marah? Lagian aku jahil sih, sudah tahu jika makhluk ini tak suka berbagai tumbuhan hijau itu tapi tetap saja memasukkannya ke dalam jjajangmyeon.

“yaa, kau tahu kan aku tak suka sayur. Kenapa kau masukkan ini kedalamnya! Aish, jinjja” ia berkata sambil menunjuk-nunjuk sayuran tak berdosa itu dengan sumpitnya.

“hey, sayur itu bagus untuk kesehatan. Kau harus mulai belajar memakannya. Lagian itu enak kok. Lihatlah wajahmu itu yang sudah seperti bulan. Berbagai bebatuan sudah bertengkreng manis di sana. Bukankah itu karena kau tak suka makan sayur”, ucapku panjang lebar sambil menampakkan wajah tak berdosaku. Ia mendengus.

“hah, ternyata kau lebih cerewet di bandingkan Ahra Noona”, ucapnya sambil menyingkirkan sayuran itu ke pingir piring dan mulai melahap lagi jjajangmyeonnya. Mwo-ya? Ia mengatakan aku cerewet? Aish, dasar bocah. Kuambil gelasnya dan kuteguk air di dalamnya dalam 3 ketukan. Ia melongo melihatku.

“yaa, kau itu wanita. Bersikaplah seperti wanita!”, serunya. Aku mengacuhkannya dan menuju sofa. Kupencet remote dengan kesal. Kuganti saluran TV dengan cepat. aku berhenti memencet remotenya di salah satu saluran yang menayangkan sebuah acara musik. Disana sedang menampilkan SHINee yang sedang menari dengan lincah. Hey, aku mengenali nada lagu ini. Ini Replay, lagu kesukaanku.

 

Noona neomu yeppeoseo

Namjadeuri gaman an dwo

Heundeulrineun geunyeoye mam

Sashil algo isseo..

            “kyaa.. bukankah itu SHINee?”, jeritku sambil menunjuk-nunjuk layar TV. Kyuhyun menghampiriku sambil tetap membawa piring berisi jjajangmyeonnya. Ia menautkan kedua alisnya dan menatapku dengan tatapan hey-biasa-saja-kali. Aku mengacuhkannya. Kugoyangkan kepalaku mengikuti irama. Tak lama muncul seseorang yang aku sukai. Onew oppa.

“kyaaaa.. Onew oppa. Kyeopta…”, teriakku lagi. Wajahku berseri-seri. Ia menaruh piring di atas meja dan kembali memandangku. Wajahnya tampak kesal.

“hey, bisakah kau tak berteriak-teriak? Telingaku sakit mendendengar suara cemprengmu itu”, serunya kesal. Aku menatapnya. Wajahnya benar-benar menampakkan kekesalan.

“hey, bilang saja kau cemburu”, tandasku dan kembali menikmati alunan musik.

“aku cemburu? Tentu saja tidak”, tukasnya cepat. mukanya memerah. Hhaha~ lucu sekali. Aku menatap piring yang berisi jjajangmyeon tadi. Masih ada separuh.

“hey, kenapa tak kau habiskan?”, tanyaku sambil memandangnya.

“sudah kenyang!”, jawabnya singkat dan menghindari pandanganku. Aku mengernyitkan dahiku.

“yasudah”, seruku. Kubesarkan volume TV dan menikmati nada-nadanya sambil sesekali meneriakkan nama Onew ketika namja imut itu muncul. Kyuhyun mendecak kesal, di rebutnya remote dari tanganku dan di matikannya TV.

“yaa, kau..”, ucapanku terpotong. Ia memegang kedua pipiku. Wajahnya sekarang berada tepat di depan wajahku. Aku hendak menunduk tapi ia menahannya. Raut kesal itu masih menghiasi wajahnya. Jantungku berdebar-debar. Aish, bisakah kau diam sedikit jantung?

“bisakah kau..”, ucapnya menggantung. Aku menatapnya dengan pandangan bertanya.

“bisakah kau tak memperhatikan dia?”, ucapnya pelan. Dia? Nugu? Aku mengernyitkan dahiku. Ah, mungkin dia yang dimaksud itu Onew?

“maksudmu Onew?”, tanyaku. Ia mengangguk. Aku tersenyum, Ia cemburu. Hah, kau begitu pemalu kyuhyun.

“kau cemburu?”, tanyaku lagi. Ia sedikit mendunduk dan mengangguk. Aku kembali tersenyum. Hahaha~ ternyata evilku ini bisa cemburu. Aku merasa senang atas kecemburuannya itu. bukankah itu membuktikan bahwa ia benar mencintaiku?

“hey, aku hanya mengaguminya. Onew oppa, kau tahu?”, kataku sambil tersenyum. Ia menegakan wajahnya dan kembali memandangku.

“jinjja?”, tanyanya. Aku mengangguk. Ia tersenyum dan memelukku sekilas. Semenit kemudian dia kembali memandangiku. Jantungku semakin berdebar-debar.

“saranghae..”, ucapnya pelan. Wajahnya serius. Sedikit terkejut, ia kan tak pernah bicara seperti ini sebelumnya.

“nado kyuhyun-a”, jawabku sambil diiringi senyuman manis. Ia mendekatkan wajahnya. Mwo-ya? Ia mau melakukan apa? Menciumku? Aku memejamkan mata dan… suara handphonenya berdering. Aku segera menjauhkan diri darinya. Aish, mukaku pasti merah. ia meraih handphonenya.

“yoboseo!”, ucapnya kasar. “ah, hyung. Waeyo?”, “aish, ne, 15 menit lagi aku sampai”, serunya sambil menutup flip handphonenya. Ia mendecak kesal.

“nugu?”, tanyaku.

“leeteuk. Dia memintaku untuk kembali ke Dorm. Katanya Sooman-ssi ingin segera menemui kami”, jawabnya kesal.

“ah begitu”, aku mengagguk-ngaggukan kepala. “kalau begitu cepatlah pulang”, tambahku. Ia menatapku seakan tak ingin meninggalkanku.

“aku akan kembali lagi besok”, ucapnya sambil mengambil jaketnya. Aku mengantarnya ke depan lift. Ia mengecup dahiku sekilas dan segera masuk ke dalam lift. Ia melambaikan tangannya padaku sebelum lift tertutup. Kulangkahkan kaki menuju apartementku. Sebuah suara mengagetkanku.

“park minra-ssi?”, aku mencari-cari asal suara itu dan membundarkan mata begitu menangkap sebuah sosok namja dibalut mantel hitam dan topi yang menutupi wajahnya sedang menyenderkan tubuhnya di dinding. Bukankah ia namja yang mengamatiku dan kyu di halte tadi. Ia tersenyum ke arahku. Tubuhku menegang ketika ia melepaskan topinya. Wajahnya terlihat dengan jelas.

“Do.. Dongwoon.. oppa..”, ucapku terbata-bata. Ia tersenyum.

 

~ TBC ~

11 thoughts on “U!

  1. Msh tbc toh?! Hokey…
    Beuh~ ada dongwoon oppa,, saingan kyu nih! Gaswat 45!
    Hohohoho~ kyu cemburu membabi butek! Wkwkwkwk~ ud onew, ud dongwoon,, kesian de kyu =9

  2. Saya baru disini kak :))
    meskipun belum baca part sebelumnya disini saya ngerti alurnya tpi yg saya ga gerti dongwoon itu siapa ??
    Hayah itu suara hp menganggu saja..
    Lanjut kak,keren ff nya

  3. mian baru nongol.. hehe~

    ne, ini masih tbc.. sambungannya masih di pikirin nihh..
    doain moga cepet mampir ya nih ide.. hhihi~
    gomawo buad yg udah baca + meninggalkan jejak..
    saranghaeyo readers :D

  4. ya msh tbc????
    kirain bkal oneshoot…

    tapi keren cerita….
    saya suka, di tunggu kelanjutannya y…
    jgn lama2 chingu…

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s